• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV ANALISIS TERHADAP KONTRAK PENGADAAN BARANG

A. Kontrak Pengadaan Barang dan Jasa di Dinas Tenaga Kerja dan

Industri Medan telah memenuhi Perpres No. 70 Tahun 2012

Jenis kontrak pengadaan barang dan jasa di Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi unit Balai Besar Latihan Kerja Inustri Medan dapat digolongkan dalam beberapa jenis sesuai dengan peraturan presiden R.I nomor 70 tahun 2012 pada pasal 50 yang menggolongkan jenis kontrak pengadaan barang dan jasa pemerintah berdasarkan:

a. Cara pembayaran;

b. Pembebanan tahun anggaran; c. Sumber pendanaan; dan d. Jenis pekerjaan

Berdasarkan cara pembayaran, kontrak dikelompokkan dalam 5 (lima) jenis kontrak yaitu:

1) Kontrak Lump sum;

Kontrak Lump sum diuraikan dalam pasal 51 ayat (1) Perpres 70 yaitu kontrak pengadaan barang/jasa atas penyelesaian seluruh pekerjaan dalam batas waktu tertentu sebagaimana ditetapkan dalam kontrak, dengan ketentuan sebagai berikut:

a. Jumlah harga pasti dan tetap serta tidak dimungkinkan penyesuaian harga;

b. Semua risiko sepenuhnya ditanggung oleh penyedia barang/jasa c. Pembayaran didasarkan pada tahapan produk/keluaran yang

dihasilkan sesuai dengan isi kontrak;

d. Sifat pekerjaan berorientasi pada keluaran (output based); e. Total harga penawaran bersifat mengikat;

f. Tidak diperbolehkan adanya pekerjaan tambah/kurang 2) Kontrak Harga Satuan;

Kontrak harga satuan diuraikan dalam pasal 51 ayat (2) Perpres 70 yaitu kontrak pengadaan barang/jasa atas penyelesaian seluruh pekerjaan dalam batas waktu tertentu yang telah ditetapkan dengan ketentuan sebagai berikut:

a. Harga satuan pasti dan tetap untuk setiap satuan atau unsur pekerjaan dengan spesifikasi teknis tertentu;

b. Volume atau kuantitas pekerjaan masih bersifat perkiraan pada saat kontrak ditandatangani;

c. Pembayarannya didasarkan pada hasil pengukuran bersama atas volume pekerjaan yang benar-benar telah dilaksanakan oleh penyedia barang/jasa; dan

d. Dimungkingkan adanya pekerjaan tambah kurang berdasarkan hasil pengukuran bersama atas pekerjaan yang diperlukan

Kontrak gabungan lump sum dan harga satuan diuraikan dalam pasal 51 ayat (3) Perpres 70 yaitu kontrak yang merupakan gabungan lump sum dan harga satuan dalam 1 (satu) pekerjaan yang diperjanjikan.

4) Kontrak Persentase

Kontrak persentase diuraikan dalam pasal 51 ayat (4) Perpres 70 yaitu merupakan kontrak pengadaan konsultansi/jasa lainnya, dengan ketentuan sebagai berikut:

a. Penyedia jasa konsultansi/jasa lainnya menerima imbalan berdasarkan persentase dari nilai pekerjaan tertentu; dan

b. Pembayarannya didasarkan pada tahapan produk/keluaran yang dihasilkan sesuai dengan isi kontrak

5) Kontrak Terima Jadi (turnkey contract)

Kontrak terima jadi diuraikan dalam pasal 51 ayat (5) Perpres 70 merupakan kontrak pengadaan barang/pekerjaan konstruksi/jasa lainnya atas penyelesaian seluruh pekerjaan dalam batas waktu tertentu dengan ketentuan sebagai berikut:

a. Jumlah harga pasti dan tetap sampai seluruh pekerjaan selesai dilaksanakan; dan

b. Pembayaran dilakukan berdasarkan hasil penilaian bersama yang menunjukkan bahwa pekerjaan telah dilaksanakan sesuai dengan kriteria kinerja yang ditetapkan.

Berdasarkan pembebanan tahun anggaran, kontrak digolongkan dalam 2 (dua) jenis kontrak yaitu:

2) Kontrak tahun tunggal

Kontrak tahun tunggal diuraikan dalam pasal 52 ayat (1) Perpres 70 yaitu merupakan kontrak yang pelaksanaan pekerjaannya mengikat dana anggaran selama 1 (satu) tahun anggaran.

3) Kontrak tahun jamak

Kontrak tahun jamak diuraikan dalam pasal 52 ayat (2) Perpres 70 merupakan kontrak yang pelaksanaan pekerjaannya untuk masa lebih dari 1 (satu) tahun anggaran atas beban anggaran, yang dilakukan setelah mendapat persetujuan:

a. Menteri Keuangan untuk kegiatan yang nilainya di atas Rp10.000.000.000,- (sepuluh miliar rupiah);

b. Menteri/Pimpinan lembaga yang bersangkutan untuk kegiatan yang nilai kontraknya sampai dengan Rp10.000.000.000,- (sepuluh miliar rupiah) bagi kegiatan: penanaman bibit dan pengadaan obat di rumah sakit, makanan untuk narapidana di Lembaga Pemasyarakatan, pengadaan pita cukai, layanan pembuangan sampah, dan pengadaan jasa cleaning service. Khusus untuk kontrak tahun jamak pada pemerintah daerah menurut pasal 52 ayat (3) harus disetujui oleh Kepala Daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Berdasarkan sumber pendanaan, kontrak digolongkan dalam 3 (tiga) jenis kontrak yaitu:

Kontrak pengadaan tunggal diuraikan dalam pasal 53 ayat (1) Perpres 70 yaitu merupakan kontrak yang dibuat oleh 1 (satu) PPK dengan 1 (satu) penyedia barang/jasa tertentu untuk menyelesaikan pekerjaan tertentu dalam waktu tertentu.

2) Kontrak pengadaan bersama

Kontrak pengadaan bersama diuraikan dalam pasal 53 ayat (2) Perpres 70 yaitu merupakan kontrak antara beberapa PPK dengan 1 (satu) penyedia barang/jasa untuk menyelesaikan pekerjaan tertentu dalam waktu tertentu sesuai dengan kebutuhan masing-masing PPK yang menandatangani kontrak. 3) Kontrak payung (Framework contract)

Kontrak payung (Framework contract) diuraikan dalam pasal 53 ayat (3) Perpres 70 merupakan kontrak harga satuan antara pemerintah dengan penyedia barang/jasa yang dapat dimanfaatkan oleh Kementerian/Lembaga/ Pemerintah Daerah/Institusi dengan ketentuan sebagai berikut:

a. Diadakan untuk menjamin harga barang/jasa yang lebih efisien, ketersediaan barang/jasa terjamin dan sifatnya dibutuhkan secara berulang dengan volume atau kuantitas pekerjaan yang belum dapat ditentukan pada saat kontrak ditandatangani; dan

b. Pembayarannya dilakukan oleh setiap PPK/satuan kerja yang didasarkan pada hasil penilaian/pengukuran bersama terhadap volume/kuantitas pekerjaan yang telah dilaksanakan oleh penyedia barang/jasa secara nyata.

Berdasarkan jenis pekerjaan, kontrak digolongkan dalam 2 (dua) jenis kontrak yaitu:

1. kontrak pengadaan pekerjaan tunggal

Kontrak pengadaan pekerjaan tunggal diuraikan dalam pasal 54 ayat (1) Perpres 70 yaitu kontrak pengadaan barang/jasa yang hanya terdiri dari 1 (satu) pekerjaan perencanaan, pelaksanaan atau pengawasan

2. kontrak pengadaan pekerjaan terintegrasi

Kontrak pengadaan pekerjaan terintegrasi diuraikan dalam pasal 54 ayat (2) Perpres 70 merupakan kontrak pengadaan pekerjaan konstruksi yang bersifat kompleks dengan menggabungkan kegiatan perencanaan, pelaksanaan dan/atau pengawasan

Pihak PPK diharuskan untuk memilih jenis kontrak yang tepat untuk digunakan. Jenis kontrak yang akan digunakan harus sesuai dengan kegiatan pengadaan barang/jasa yang akan dilaksanakan. Jenis kontrak tersebut harus dicantumkan oleh Pokja ULP dalam dokumen pemilihan penyedia barang/jasa dan harus dijelaskan kepada peserta lelang dalam acara penjelasan dokumen lelang (aanwijzing) serta dijadikan salah satu acuan dalam menetapkan pemenang lelang. Proses pemilihan penyedia barang/jasa Pokja ULP dan peserta lelang harus memiliki persepsi yang sama terhadap jenis kontrak yang digunakan karena perbedaan jenis kontrak akan mempengaruhi proses evaluasi dokumen penawaran.

PPK harus memilih jenis kontrak yang sesuai dengan jenis pekerjaannya. Dilihat dari pembebanan tahun anggaran, sumber pendanaan, dan jenis pekerjaan,

pada umumnya kontrak yang dipilih adalah kontrak tahun tunggal, kontrak pengadaan tunggal, dan kontrak pekerjaan tunggal. Konsekuensi dari perbedaan jenis kontrak berdasarkan pembebanan tahun anggaran, sumber pendanaan, dan jenis pekerjaan tidak terlalu besar pengaruhnya terhadap jalannya proses lelang. Karena semua jenis kontrak tersebut dapat digunakan untuk hampir setiap jenis pekerjaan. Pengaruh dari pemilihan jenis kontrak lainnya yaitu kontrak tahun jamak, kontrak pekerjaan bersama, kontrak payung, dan kontrak pekerjaan terintegrasi akan terjadi pada tahapan setelah proses lelang sebagai berikut:

Kontrak tahun jamak mengharuskan penandatangan kontrak dilakukan setelah mendapat persetujuan dari:

a. Menteri/Pimpinan Lembaga untuk kontrak yang bernilai sampai dengan Rp10.000.000.000 (sepuluh miliar rupiah)

b. Menteri Keuangan untuk kegiatan yang nilainya di atas Rp10.000.000.000 (sepuluh miliar rupiah) yang tidak termasuk dalam kriteria kegiatan tersebut pada huruf a di atas.

c. Kepala daerah untuk kontrak tahun jamak pada pemerintah daerah.

Kontrak pekerjaan bersama ditandatangani oleh lebih dari satu PPK dan satu penyedia barang/jasa. Kontrak payung dilakukan antara pihak yang mewakili pemerintah dengan penyedia barang/jasa untuk digunakan sebagai acuan Kementerian/Lembaga/Pemerintah Daerah/Insitusi dalam melaksanakan barang/ jasa. Kontrak payung menetapkan item barang serta harga setiap item barang namun tidak membebankan pelaksanaan kontrak kepada salah satu DIPA atau

instansi tertentu. Karena itu kontrak payung dapat dimanfaatkan oleh semua Kementerian/Lembaga/ Pemerintah Daerah/Insitusi.

Penyesuaian jenis pekerjaan dengan jenis kontrak perlu dilakukan terhadap jenis kontrak yang dibedakan berdasarkan cara pembayaran (kontrak lump sum, kontrak harga satuan, kontrak gabungan, kontrak persentase, dan kontrak terima jadi).

Pada umumnya setiap surat penawaran peserta lelang disertai dengan lampiran berupa daftar kuantitas dan harga yang memuat semua item barang, jumlah unit setiap item barang, harga satuan masing unit barang, jumlah harga setiap item barang, serta total harga seluruh item barang, untuk mengetahui kebenaran dari penawaran lelang tersebut pihak Pokja ULP pada Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi unit Balai BesarLatihan Kerja Industri Medan harus melakukan koreksi aritmatika. Koreksi aritmatik adalah koreksi terhadap hitungan-hitungan seperti perkalian, pembagian, dan penjumlahan yang terdapat dalam Daftar Kuantitas dan Harga. Pelaksanaan koreksi aritmatik memiliki keterkaitan dengan jenis kontrak karena perbedaan jenis kontrak menyebabkan perbedaan perlakuan terhadap hasil koreksi aritmatik sebagai berikut:

1. Jika terdapat perbedaan harga penawaran yang tertulis dengan angka dengan nilai penawaran yang tertulis dengan huruf, maka perlakuannya adalah:

• Jika kontrak yang digunakan adalah kontrak lump sum maka yang berlaku adalah nilai yang tertulis dengan huruf. Nilai penawaran tersebut diberlakukan sebagai dasar penentuan urutan pemenang.

Hasil koreksi aritmatik tidak dapat merubah nilai penawaran, meskipun ternyata terdapat kesalahan hitungan aritmatik dalam daftar kuantitas dan harga yang jika dikoreksi menyebabkan perubahan nilai total yang terdapat dalam daftar kuantitas dan harga tersebut.

• Jika kontrak yang digunakan adalah kontrak harga satuan maka yang berlaku adalah hasil koreksi aritmatik. Hasil koreksi aritmatik dapat menyebabkan perubahan urutan peserta berdasarkan harga penawaran.

2. Jika terdapat harga satuan barang yang lebih dari 110% harga satuan dalam HPS, maka perlakuannya adalah:

• Jika kontrak yang digunakan adalah kontrak lump sum hal tersebut tidak perlu diklarifikasi.

• Jika kontrak yang digunakan adalah kontrak harga satuan, harga satuan yang lebih dari 110% HPS tersebut disebut harga timpang. Jika peserta dengan penawaran tersebut akhirnya ditunjuk sebagai pemenang lelang terhadap harga timpang tersebut harus dilakukan klarifikasi. Kontrak antara PPK dengan Penyedia untuk item barang yang harganya timpang tersebut hanya sebanyak unit yang tercantum dalam HPS. Dalam hal terjadi perubahan kontrak dengan penambahan unit barang maka untuk tambahan barang yang harganya timpang tersebut harganya harus menggunakan harga satuan dalam HPS.

3. Jika jumlah unit barang yang ditawarkan dalam daftar kuantitas dan harga berbeda dengan jumlah unit barang yang diinginkan/dicantumkan dalam dokumen pemilihan maka perlakuannya adalah:

• Jika kontrak yang digunakan adalah kontrak lump sum maka dalam koreksi aritmatik Pokja ULP hanya memperbaiki jumlah unit barang tersebut sesuai dengan yang tercantum dalam dokumen lelang tanpa merubah jumlah harga barang yang merupakan hasil perkalian antara jumlah unit barang dengan harga satuan barang. Total harga penawaran dalam daftar kuantitas dan harga tidak perlu dikoreksi.

• Jika kontrak yang digunakan adalah kontrak harga satuan maka apabila jumlah barang yang tercantum dalam daftar kuantitas dan harga melebihi yang diinginkan/tercantum dalam dokumen lelang, maka jumlah barang tersebut diganti sesuai dengan yang diinginkan dan jumlah harga barang tersebut dikoreksi berdasarkan jumlah unit barang dikali dengan harga satuan yang ditawarkan oleh penyedia dalam daftar kuantitas dan harga. Hasil koreksi aritmatik tersebut dapat merubah urutan peserta berdasarkan harga penawaran.15

Apabila pada saat dilakukan koreksi aritmatika oleh Pokja ULP terdapat perbedaan terhadap harga penawaran pelelangan barang/jasa dengan harga yang dianggarkan pada kontrak pemborongan pekerjaan di Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi unit Balai Besar Latihan Kerja Industri Medan maka dapat dilakukan perubahan kontrak. Hal ini didukung dengan adanya ketentuan tentang

15

perubahan kontrak diatur dalam pasal 87 Perpres nomor 70 tahun 2012. Keterkaitan antara perbedaan jenis kontrak dengan ketentuan tentang perubahan kontrak adalah :

a. untuk kontrak harga satuan dapat dilakukan perubahan.

b. untuk kontrak gabungan lump sum dan harga satuan dapat dilakukan perubahan, pada bagian kontrak yang menggunakan harga satuan, sedangkan bagian kontrak yang menggunakan kontrak lump sum tidak boleh dilakukan perubahan.

c. untuk lump sum tidak boleh dilakukan perubahan, kecuali perubahan yang disebabkan oleh masalah administrasi.

Hal-hal yang dapat dijadikan alasan perubahan kontrak adalah perbedaan kondisi lapangan pada saat pelaksanaan kontrak dengan gambar dan/atau spesifikasi teknis yang ditentukan dalam dokumen kontrak. Sedangkan bentuk perubahan kontrak sebagaimana diatur dalam pasal 87 ayat (1) meliputi:

a. Menambah atau mengurangi volume pekerjaan yang tercantum dalam kontrak; b. Menambah dan/atau mengurangi jenis pekerjaan;

c. Mengubah spesifikasi teknis pekerjaan sesuai dengan kebutuhan lapangan; d. Mengubah jadwal pelaksanaan.

Ditinjau dari jenis kontrak berdasarkan cara pembayarannya, kontrak pengadaan barang dan jasa di Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi unit Balai Besar Latihan Kerja Industri Medan yang penulis lampirkan pada skripsi ini yaitu kontrak pengadaan alat tulis kantor senilai Rp, 144.000.000,- (seratus empat puluh empat juta rupiah) digolongkan ke dalam jenis kontrak harga satuan, karena pada

saat kontrak ditandatangani oleh para pihak kuantitas dan harga barang masih merupakan perkiraan berdasarkan harga yang sering terjadi dipasaran, sehingga pembayaran dilakukan setelah pengukuran bersama hasil pekerjaan.

Ditinjau dari jenis Kontrak berdasarkan pembebanan tahun anggaran berdasarkan pasal 52 peraturan presiden nomor 70 tahun 2012 kontrak pengadaan barang dan jasa di dinas tenaga kerja dan transmigrasi BBLKI Medan dalam hal ini tergolong dalam kontrak tahun tunggal yang merupakan kontrak yang pelaksanaan pekerjaannya mengikat dana anggaran selama masa 1 (satu) tahun anggaran, dalam kontrak ini tahun anggarannya adalah tahun anggaran 2012.

Ditinjau dari jenis kontrak berdasarkan sumber pendanaannya menurut pasal 53 peraturan presiden nomor 70 tahun 2012 kontrak ini tergolong dalam Kontrak Pengadaan Tunggal merupakan Kontrak yang dibuat oleh 1 (satu) PPK dengan 1 (satu) Penyedia Barang/Jasa tertentu untuk menyelesaikan pekerjaan tertentu dalam waktu tertentu, dalam kontrak ini yang menjadi PPK adalah Dinas tenaga kerja dan transmigrasi BBLKI Medan, dan yang menjadi pihak penyedia adalah CV.Mentari Persada.

Ditinjau dari jenis kontrak berdasarkan jenis pekerjaannya berdasarkan pasal 54 peraturan presiden nomor 70 tahun 2012 kontrak ini tergolong dalam kontrak pengadaan pekerjaan tunggal karna dalam hal ini kontrak pengadaan barang/jasa hanya terdiri dari 1 (satu) pekerjaan perencanaan, pelaksanaan atau pengawasan, dan jenis pekerjaannya bukan tergolong dalam pekerjaan kontruksi.

Proses pengadaan barang dan jasa di Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi unit Balai Besar Latihan Kerja Industri terdapat serangkaian kegiatan yang harus

dilakukan terlebih dahulu sebelum proyek-proyek direalisasikan. Kegiatan-kegiatan tersebut merupakan fase yang mendahului terjadinya perjanjian atau fase prakontraktual.

Penyedia barang dan jasa yang akan mengikuti kegiatan pengadaan barang dan jasa harus memenuhi persyaratan, antara lain sebagai berikut :16

a. Memenuhi persyaratan perundang-undangan terkait untuk menjalankan usaha/kegiatan sebagai penyedia;

b. Memiliki keahlian, pengalaman, kemampuan tehnis dan menajerial untuk menyediakan barang dan jasa;

c. Tidak dalam pengawasan pengadilan, tidak palit, kegiatan usahanya tidak sedang dihentikan, dan/atau direksi yang bertindak untuk dan atas nama perusahaan tidak sedang menjalani sanksi pidana;

d. Secara hukum mempunyai kapasitas menandatangani kontrak;

e. Sebagai wajib pajak sudah memenuhi perpajakan tahun terakhir dibuktikan dengan melampirkan fotocopy bukti tanda terima penyampaian surat pajak tahun (SPT) Pajak Penghasilan (PPh) tahun terakhir, dan fotocopy surat seteron pajak (SSP) PPh

f. Memiliki/mampu menyediakan sumber daya manusia, modal, peralatan, dan fasilitas lain yang diperlukan dalam pengadaan;

g. Tidak termasuk dalam daftar hitam di lingkungan perusahaan/PT PLN (Persero), yaitu daftar yang berisi nama perusahaan/perorangan yang

16

sedang menerima sanksi karena melakukan pelanggaran peraturan dan ketentuan pengadaan barang dan jasa di lingkungan perusahaan;

h. Memiliki alamat tetap dan jelas serta dapat dijangkau dengan pos;

i. Penyedia akan terlebih dahulu dinilai kualifikasinya melalui proses prakualifikasi/pascakualifikasi;

j. Tidak memiliki pertentangan kepentingan (conflict of interest);

k. Bagi penyedia yang berbentuk konsorsium/joint operation, maka kualifikasi yang dipersyaratkan boleh dipenuhi secara bersama oleh konsorsium/joint operation tersebut. Selanjutnya konsorsium/joint operation harus menetapkan pimpinan dari konsorsium/joint operation, yang dipilih atas dasar kesepakatan perusahaan yang tergabung dalam konsorsium/joint operation untuk bertindak sebagai wakil dalam berhubungan dengan pemberi kerja.

Pihak kontraktor-kontraktor yang telah memenuhi persyaratan tersebut di atas dapat mengikuti proses atau sistem selanjutnya pada pelaksanaan pengadaan jasa pemborongan.

Penelitian ini melampirkan kontrak pengadaan barang dan jasa dengan nominal senilai Rp. 144.000.000,- (seratus empat puluh empat juta rupiah). Pengadaan barang dan jasa di bawah Rp.200.000.000 dapat dilakukan dengan cara pengadaan langsung, sehingga pihak penyedia barang atau jasa tidak perlu memenuhi syarat-syarat prakontraktual, hal ini didukung dengan adanya perpres nomor 70 tahun 2012.

Sistem pengadaan barang/jasa Pemerintah dengan cara pengadaan langsung dilakukan oleh Pejabat Pengadaan dengan cara membeli barang atau membayar jasa secara langsung kepada penyedia barang/jasa, tanpa melalui proses lelang atau seleksi. Pengadaan langsung pada hakikatnya merupakan jual beli biasa dimana antara penyedia yang memiliki barang/jasa untuk dijual dan Pejabat Pengadaan yang membutuhkan barang/jasa terdapat kesepakatan untuk melakukan transaksi jual-beli barang/jasa dengan harga yang tertentu

Sistem pengadaan barang dan jasa yang dilakukan dengan cara pengadaan langsung dengan cara yang lebih sederharna sebagai berikut :

a. Untuk pengadaan barang/ jasa lainnya dengan nilai sampai dengan

Rp5.000.000.000,- (lima miliar rupiah) dibolehkan dengan sistem Pelelangan Sederhana;

b. Untuk pekerjaan konstruksi dengan nilai sampai dengan Rp5.000.000.000,- (lima miliar rupiah) dibolehkan dengan sistem Pemilihan Langsung.

c. Untuk pengadaan barang/pekerjaan konstruksi/jasa lainnya dengan nilai sampai dengan Rp200.000.000,- (dua ratus juta rupiah) dibolehkan decara Pengadaan Langsung.

Pelaksanaan pengadaan dengan cara Lelang Sederhana dan Pemilihan Langsung dilaksanakan oleh Pokja ULP melalui proses lelang dengan cara pascakualifikasi. Dengan cara tersebut diharapkan pemenang lelang sudah dapat ditetapkan dalam waktu yang relatif singkat. Pelaksanaan pengadaan dengan cara Pengadaan Langsung dilaksanakan oleh Pejabat Pengadaan tanpa melalui proses lelang. Cara Pengadaan Langsung ini membolehkan Pejabat Pengadaan memilih

sendiri penyedia barang/jasa tanpa melakukan pengumuman dan dan tanpa proses persaingan di antara sesama penyedia barang/jasa. Bahkan untuk pengadaan barang dan pengadaan jasa lainnya Pejabat Pengadaan tidak diwajibkan melakukan penilaian terhadap penyedia barang/jasa. Dalam hal ini Pejabat Pengadaan cukup melihat barang/jasa yang akan dibelinya jika barang/jasa tersebut sesuai dengan kebutuhan maka Pejabat Pengadaan dibolehkan membeli barang/jasa tersebut, tanpa harus melihat apakah penyedianya memenuhi syarat sebagai penyedia barang/jasa pemerintah.

Kontrak Pengadaan barang dan jasa di dinas tenaga kerja dan transmigrasi BBLKI Medan telah sesuai dengan peraturan presiden nomor 70 tahun 2012, karena isinya telah memuat syarat-syarat umum kontrak dan syarat-syarat khusus kontrak. Syarat umum kontrak berisikan tentang peristilahan yang digunakan; hak, kewajiban dan tanggung jawab, penyelesaian perselisihan dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Syarat khusus kontrak merupakan tambahan data-data dari syarat umum kontrak yang disebabkan oleh karena keadaan atau ada hal-hal yang perlu disesuaikan. Syarat khusus yang terdapat pada kontrak pengadaan barang dan jasa di dinas tenaga kerja dan transmigrasi BBLKI Medan berisikan hal-hal berikut :

1. Nama pengguna jasa pemborong/barang/jasa lainnya dan direksi pekerjaan 2. Nomor kontrak

3. Besarnya pekerjaan utama 4. Daftar tenaga kerja utama 5. Rencana penyelesaian pekerjaan

6. Penyelesaian harga (ekalasi) 7. Denda

8. Bonus 9. Uang muka

10.Bentuk standar jaminan pelaksanaan

11.Presentase untuk nilai pekerjaan yang belum selesai.

Kontrak pengadaan barang dan jasa di Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Unit Balai Besar Latihan Kerja Industri Medan ditinjau dari aspek hukum perdata telah memenuhi syarat – syarat sahnya suatu perjanjian karena telah sesuai dengan pasal 1320 KUHPerdata, ditentukan bahwa:

Untuk sahnya suatu perjanjian diperlukan empat syarat:17 1. Sepakat mereka yang mengikatkan dirinya

R. Subekti mengemukakan pendapatnya mengenai teori saat terjadinya sepakat sebagai berikut :

Menurut ajaran yang lazim dianut sekarang, perjanjian harus dianggap dilahirkanpada saat di mana pihak yang melakukan penawaran (ojferte) menerima yang termaktub dalam surat tersebut, sebab detik itulah dapat dianggap sebagai detik lahirnya kesepakatan. Bahwasanya mungkin ia tidak membaca sarat itu, hal itu men.jadi tanggungjawabnya sendiri ia dianggap sepantasnya membaca surat-surat yang diterimanya dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.18

Tulisan di atas menunjukkan bahwa R. Subekti menganut

ontvangstheori yaitu sepakat terjadi pada saat pihak yang menawarkan menerima surat penerimaan atau pada saat surat penerimaan sampai di alamat pihak yang menawarkan itu.

17

R Subekti dan R Tjitrosudibyo, KHUP Perdata Pradnya Paramitra Jakarta 1995 hal 339 18

Pihak pejabat pembuat komitmen yaitu Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Unit Balai Besar Latihan Kerja Industri Medan dan pihak penyedia yaitu CV. Mentari Persada sepakat untuk mengikatkan diri terhadap kontrak pengadaan barang dan jasa tanpa adanya kekhilafan atau paksaan. Kontrak tersebut di tanda tangani oleh para pihak sebagai bukti dari kesepakatan.

2. Kecakapan untuk membuat suatu perikatan

Tak cakap untuk membuat suatu perjanjian adalah: a) Orang-orang yang belum dewasa;

b) Mereka yang ditaruh dibawah pengampuan;

c) Orang-orang perempuan, dalam hal-hal yang ditetapkan oleh Undang – undang.19

Khususnya mengenai perempuan yang telah kawin, dikatakan oleh Mariam Darus Badrulzaman bahwa:

KUH Perdata juga memandang bahwa seorang wanita yang telah

Dokumen terkait