BAB III ASAS KESEIMBANGAN DALAM PENGATURAN
B. Asas Keseimbangan Dalam Pengaturan Hukum Perdata
Istilaah “perjanjian” dalam hukum perjanjian merupakan kesepadanan dari kata “ovreenkomst” . Kalau seseorang berjanji melaksanakan sesuatu hal, janji ini dalam hukum pada hakekatnya ditunjukan kepada orang lain. Berhubungan dengan ini dapat dikatakan, bahwa sifat hukum dari perjanjian ialah bahwa hukum ini seula mengatur perhubungan hukum antara orang-orang, jadi semula tidak antara orang dan suatu benda.104
Berbagai kajian akademis, perbincangan mengenai eksistensi perjanjian (hukum perjanjian) dalam hubungannya dengan para pihak sering kali dikaitkan dengan keseimbangan dalam berkontrak. Kebebasan berkontrak yang merupakan
„ruh‟dan „nafas‟ sebuah kontrak atau perjanjian, secara implisit memberikan panduan bahwa dalam berkontrak pihak-pihak diasumsikan mempunyai kedudukan yang seimbang. Dengan demikian diharapkan akan muncul kontrak yang adil dan seimbang bagi para pihak. Namun demikian dalam praktik masih
104 Wirjono Prodjodikoro, Op.Cit, Hal. 7
banyak ditemukan model kontrak standar (kontrak baku) yang cenderung dianggap berat sebelah, tidak seimbang, dan tidak adil.
Dalam pembentukan kontrak harus berpegang pada kepercayaan yang mengandung pengertian bahwa setiap orang akan mengadakan kontrak akan memenuhi setiap prestasi yang diadakan/disepakati diantara para pihak, antara lain:
1. Kepercayaan
2. Adanya Persamaan Hukum
Persamaan hukum adalah bahwa subyek hukum mengadakan kontrak mempunyai kedudukan, hak, dan kewajiban yang sama dalam hukum. Dan tidak dibeda-bedakan antara satu sama lain, walaupun subjek hukum itu berbeda warna kulit, agama, dan ras.
3. Adanya keseimbangan
Asas keseimbangan adalah suatu asas yang menghendaki kedua belah pihak memenuhi dan melaksanakan kontrak. Kreditur mempunyai kekuatan untuk menuntut prestasi dan jika diperlukan dapat menuntut prestasi debitur, namun debitur memikul pula kewajiban untuk melaksanakan kontrak itu dengan itikad baik.
4. Kepastian hukum
Kontrak sebagai figur hukum harus mengandung kepastian hukum.
Kepastian ini terungkap dari kekuatan mengikatnya kontrak, yaitu sebagai Undang-undang bagi yang membuatnya.
5. Bermoral
Bermoral ini terikat dalam kontrak wajar, di mana suatu perbuatan sukarela dari seseorang tidak dapat menuntut hak baginya untuk menggugat prestasi dari pihak debitur. Di mana seseorang melakukan perbuatan dengan sukarela (moral). Yang bersangkutan mempunyai kewajiban hukum untuk meneruskan dan menyelesaikan perbuatannya. Faktor-faktor yang memberikan motivasi pada yang bersangkutan melakukan perbuatan hukum itu berdasarkan pada kesusilaan (moral) sebagai panggilan hati nuraninya.
6. Adanya kepatutan
Hal ini tertuang dalam Pasal 1338 KUHPerdata. Ini berkaitan dengan ketentuan mengenai isi kontrak yang pada hakekatnya memberi kebebasan kepada para pihak untuk membuat atau tidak membuat (1) perjanjian, atau kontrak, (2) mengadakan perjanjian atau kontrak dengan siapapun, (3) menentukan isi perjanjian atau kontrak, pelaksanaan dan persyaratannya, dan (4) menentukan bentuknya perjanjian atau kontrak, yaitu tertulis atau lisan.105
Fungsi dan tujuan hukum kontrak tidak lepas dari tujuan hukum pada umumnya, yaitu : keadilan, kemanfaatan, dan kepastian hukum. Pembentukan suatu perjanjian harus dilandasi dengan keadilan. Keadilan adalah suatu hal yang sangat penting dalam kehidupan manusia sesuai dengan Pancasila, yaitu : sila kedua dan sila kelima, Pembukaan UUD 1945 alinea ke empat dan Pasal 28 D
105 Salim HS., Perancangan Kontrak dan Memorandum of Understanding (MoU), (Jakarta : Sinar Grafika, 2006) , hal. 100
ayat 1 UUD 1945. Berbicara tentang keadilan berarti adanya keseimbangan dan terjadinya kesamaan hak dan kewajiban.106
Untuk tercapainya keadilan, dalam suatu perjanjian harus ada keselarasan dari seluruh asas-asas hukum perjanjian antara lain : asas kebebasan berkontrak, asas konsensualisme, asas kepastian hukum (pacta sunt servanda), asas itikad baik, asas keprinbadian, asas kepercayaan, asas persamaan hukum, asas keseimbangan, asas moral, asas kepatutan, dan asas perlindungan. Keseluruhan asas ini saling berkaitan satu sama lainnya, tidak dapat dipisahkan, diterapkan secara bersamaan, berlangsung secara proporsional dan adil, dan dijadikan bingkai mengikat isi perjanjian tersebut.107
Asas hukum pada intinya merupakan landasan fundamental dari keberlakuan norma-norma hukum, yang menurut Satjpto Raharjo adalah suatu prinsip mendasar yang merupakan jantungnya suatu peraturan hukum, dikarenakan asas hukum adalah merupakan landasan paling luas bagi lahirnya suatu norma hukum, selain juga sebagai ratio legis bagi terlaksananya peraturan hukum tersebut.108
Dalam praktiknya, pembuatan dan pelaksanaan perjanjian sering tidak mencerminkan keadilan sehingga sering menimbulkan masalah hukum. Dalam merumuskan isi perjanjian haruslah memperhatikan kepentingan kedua belah pihak dan tidak merugikan satu sama lain. Apabila terjadi sengketa maka penegak hukum harus mengutamakan prinsip keadilan. Adil dalam hal ini bukanlah 1 : 1,
106 Niru Anita Sinaga, Keselarasan Asas-asas Hukum Perjanjian Untuk Mewujudkan Keadilan Bagi Para Pihak Dalam Suatu Perjanjian, Jurnal Volume 7 No. 1, 84-89, hal. 84
107 R. Setiawan, Op.Cit., hal. 46
108 Satjipto Raharjo, Op.Cit., hal. 45
namun harus sesuai dengan proporsi dari masing-masing pihak berdasarkan kepentingannya.
Karakteristik kontrak komersial menempatkan posisi para pihak pada kesetaraan, sehingga tujuan para kontrakan yang berorientasi pada keuntungan bisnis akan terwujud apabila terdapat pertukaran hak dan kewajiban yang fair (proporsional).109 Makna asas proporsionalitas dalam suatu perjanjian harus dicari dengan beranjak dari makna filosofis keadilan. Hal ini dapat ditelusuri dalam berbagai pendapat serta pemikiran para filsof dan sarjana. Aristoteles misalnya menyatakan bahwa “justice consist in treating equals uqually and unequally, in proportion to their inequality” (bahwa prinsip yang sama diperlakukan secara sama dan yang tidak sama diperlakukan tidak sama secara proporsional).110
Pada dasarnya asas proporsionalitas merupakan perwujudan doktrin
“keadilan berkontrak” yang mengoreksi dominasi asas kebebasan berkontrak yang dalam beberapa hal justru menimbulkan ketidakadilan. Perwujudan keadilan berkontrak ditentukan melalui dua pendekatan. Pertama pendekatan prosedural , pendekatan ini menitikberatkan pada persoalan kebebasan berkontrak dalam suatu kontrak. Pendekatan kedua yaitu pendekatan substantif yang menekankan kandungan atau substansi serta pelaksanaan kontrak. Dalam pendekatan substantif perlu diperhatikan adanya kepentingan yang berbeda.
Berdasarkan pertimbangan tersebut, maka asas proporsionalitas bermakna sebagai “asas yang melandasi atau mendasari pertukaran hak dan kewajiban para pihak sesuai proporsi atau bagiannya dalam seluruh proses kontraktual.” Asas
109 Agus Yudha Hernoko, Op.Cit, hal. 84
110 Ibid,.
proporsionalitas mengandaikan pembagian hak dan kewajiban diwujudkan dalam seluruh proses hubungan kontraktual, baik pada fase prakontraktual, pembentukan kontrak maupun pelaksanaan kontrak (pre-contractual, contractual, post contractual). Asas proporsional sangat berorientasi pada konteks hubungan dan kepentingan para pihak.111
Untuk itu dalam kajian ini, diajukan suatu kriteria yang dapat dijadikan pedoman untuk menemukan asas proporsionalitas dalam kontrak, sebagai berikut : a. Kontrak yang bersubstansi asas proporsional adalah kontrak yang memberikan pengakuan terhadap hak, peluang dan kesempatan yang sama terhadap para pihak untuk menentukan pertukaran yang adil bagi mereka. Kesamaan bukan berarti “kesamaan hasil” melainkan pada posisi para pihak mengandaikan “kesetaraan kedudukan dan hak”
(equitability) (prinsip kesamaan hak/kesetaraan hak).
b. Berlandaskan pada kesamaan dan kesetaraan hak tersebut, maka kontrak yang bersubstansi asas proporsional adalah kontrak yang dilandasi oleh kebebasan para kontraktan untuk menentukan substansi apa yang adi dan apa yang tidak adil bagi mereka (prinsip kebebasan).
c. Kontrak yang bersubstansi asas proporsional adalah kontrak yang mampu menjamin pelaksanaan hak dan sekaligus mendistribusikan kewajiban secara proporsional bagi para pihak. Perlu digarisbawahi bahwa keadilan tidak selalu berarti semua orang harus selalu mendapatkan sesuatu dalam jumlah yang sama, dalam konteks ini dimungkinkan adanya hasil akhir yang berbeda. Dalam hal ini, maka prinsip distribusi-proporsional terhadap hak dan kewajiban para pihak harus mengacu pada pertukaran yang fair (prinsip distribusi-proporsional).
d. Dalam hal terjadinya sengketa kontrak, maka beban pembuktian, berat ringan kadar kesalahan maupun hal-hal lain terkait harus diukur berdasarkan asas proporsionalitas untuk memperoleh hasil penyelesaian yang elegan dan win-win solution.112
Ukuran proporsionalitas pertukaran hak dan kewajiban didasarkan pada nilai-nilai kesetaraan (equitability), kebebasan, distribusi-proporsional, tentunya juga tidak dapat dilepaskan dari asas atau prinsip kecermatan (zorgvuldigheid),
111 Ibid,.
112 Ibid,.
kelayakan (redelijkheid; reasonableness) dan kepatutan (billijkheid; equity). Asas proporsionalitas tidak mempermasalahkan keseimbangan (kesamaan) hasil secara matematis, namun lebih menekankan proporsi pembagian hak dan kewajiban di antara para pihak yang berlangsung secara layak dan patut.113
Fungsi asas proporsionalitas baik dalam proses pembentukan maupun pelaksanaan kontrak komersial adalah :
a. Dalam tahap pra-kontrak, asas proporsionalitas membuka peluang negosiasi bagi para pihak untuk melakukan pertukaran hak dan kewajiban secara fair. Oleh karena itu, tidak proporsional dan harus ditolak proses negosiasi dengan itikad buruk.
b. Dalam pembentukan kontrak, asas proporsional menjamin kesetaraan hak serta kebebasan dalam menentukan/mengatur proporsi hak dan kewajiban para pihak berlangsung secara fair.
c. Dalam pelaksanaan kontrak, asas proporsional menjamin terwujudnya distribusi pertukaran hak dan kewajiban menurut proporsi yang disepakati/dibebankan pada para pihak.
d. Dalam hal terjadi kegagalan dalam pelaksanaan kontrak, maka harus dinilai secara proporsional apakah kegagalan tersebut bersifat fundamental (fundamental breach) sehingga mengganggu pelaksanaan sebagian besar kontrak atau sekedar hal-hal sederhana /kesalahan kecil (minor important). Oleh karena itu, pengujian melalui asas proporsionalitas sangat menentukan dalil kegagalan pelaksanaan kontrak, agar jangan sampai terjadi penyalahgunaan oleh salah satu pihak dalam memanfaatkan klausul kegagalan pelaksanaan kontrak, semata-mata demi keuntungan salah satu pihak dengan merugikan pihak lain.
e. Bahkan dalam hal ini terjadi sengketa kontrak, asas proporsionalitas menekankan bahwa proporsi beban pembuktian kepada para pihak harus dibagi menurut pertimbangan yang fair.114
Agus Yudha Hernoko mengilustrasikan asas keseimbangan yang proporsional adalah sebagai berikut :
113 Ibid,.
114 Ibid,.
a. Asas yang melandasi atau mendasari pertukaran hak dan kewajiban para pihak sesuai dengan proporsi atau bagiannya dalam seluruh proses kontraktual.
b. Asas yang berorientasi pada konteks hubungan dan kepentingan para pihak, yakni menjaga kelangsungan hubungan agar berlangsung kondusif dan fair.
c. Asas yang didasari oleh nilai-nilai kesetaraan, kebebasan, distribusi, proporsional, kecermatan, kelayakan, dan kepatutan.
d. Asas ini tidak mempersoalkan keseimbangan hasil secara matematis, namun lebih menekankan proporsi pembagian hak dan kewajiban diantara para yang berlangsung secara layak dan patut.115
Kejujuran dalam pelaksanaan persetujuan harus diperbedakan daripada kejujuran pada waktu mulai berlakunya perhubungan hukum. Kejujuran terletak pada keadaan jiwa manusia, dalam melaksanakan tindakan inilah kejujuran harus berjalan dalam hati sanubari seorang manusia berupa selalu mengingat, bahwa manusia itu sebagai anggota masyarakat harus jauh dari sifat menipukan pihak lain dengan mempergunakan membabi buta kata-kata yang dipakai pada waktu kedua belah pihak membentuk suatu persetujuan.116
Dalam suatu tata hukum pada hakekatnya tidak diperbolehkan bahwa kepentingan seorang dipenuhi seluruhnya dengan akibat, bahwa keepentingan orang lain sama sekali didesak atau dibaikan. Masyarakat harus merupakan suatu neraca yang berdiri tegak dalam keadaan seimbang (evenwicht).117 Oleh karenanya dalam suatu perjanjian, kenikmatan dan beban tanggung jawab harus seimbang antar kedua pihak secara adil.
Perjanjian kerjasama antara PT. Pelindo I BICT dengan PT. Prima Indonesia Logistik tentang Kerjasama Pengelolaan dan Pengoperasian Peralatan
115 Ibid., hal. 87
116 Wirjono Prodjodikoro, Op.Cit, Hal. 104
117 Ibid, Hal 105.
Reach Stacker di Terminal BICT telah mengatur mengenai hak dan kewajiban para pihak sebagaimana ditentukan dalam Pasal 6.
Hak dari PT. Pelindo I BICT sebagai pihak pertama, dan hak PT. Prima Indonesia Logistik sebagai pihak kedua yaitu :
1. Hak Pihak Pertama :
a. Merencanakan dan menetapkan pengoperasian serta pengusahaan seluruh peralatan bongkar/muat peti kemas untuk proses pelaksanaan jasa pelayanan peti kemas maupun non peti kemas;
b. Mengatur setiap blok di lapangan penumpukan baik muatan maupun bongkaran berdasarkan pemilik container atau shipping line.
2. Hak Pihak Kedua, yaitu :
Menerima pembayaran dari pihak pertama atas pengoperasian peralatan bongkar/muat peti kemas sebagaimana dimaksud Pasal 6 atar (2) butir d perjanjian ini.
Perwujudan asas keseimbangan dalam perjanjian kerjasama antara PT.
Pelindo I BICT dengan PT. Prima Indonesia Logistik tentang Kerjasama Pengelolaan dan Pengoperasian Peralatan Reach Stacker di Terminal BICT sangat diperlukan untuk mewujudkan perjanjian yang saling menguntungkan satu sama lain. Dikatakan seimbang adalah terpenuhinya hak pihak lain secara sempurna.
Terpenuhi secara sempurna adalah apabila kewajiban itu dilaksanakan sebagaimana mestinya, sehingga pihak lain memperoleh haknya sebagaimana mestinya dan tidak dirugikan. Namun kenyataannya, hak yang tertuang di dalam perjanjian kerjasama tersebut tidak seimbang. Dikatakan tidak berimbang, karena
hak yang ada pada pihak pertama lebih banyak dibandingkan hak yang terdapat pada pihak kedua. Perbandingan hak yang tertuang dalam perjanjian kerjasama tersebut adalah 2:1. Jika tidak ada keseimbangan di antara para pihak mengenai haknya, maka akan berpengaruh terhadap keseimbangan posisi para pihak. Pada dasarnya keseimbangan posisi para pihak hanya dapat dicapai pada kondisi yang sama.
Sedangkan Kewajiban dari PT. Pelindo I BICT sebagai pihak pertama, dan hak PT. Prima Indonesia Logistik sebagai pihak kedua yaitu :
1. Kewajiban pihak pertama :
a. Menyediakan lapangan penumpukan yang dimiliki dan menyediakan blok untuk peti kemas bongkaran dan peti kemas muatan di Container Yard (CY);
b. Melaksanakan pengawasan dan pengendalian operasi seluruh peralatan bongkar/muat peti kemas milik pihak kedua;
c. Menyediakan tenaga supervisi di dalam proses pengoperasian dan pengawasan seluruh peralatan bongkar/muat peti kemas tersebut;
d. Membayar kepada pihak kedua perbulannya dengan besaran tarif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (2) perjanjian ini berdasarkan realisasi jumlah produksi pemakaian peralatan reach stacker ;
e. Pembayaran sebagaimana dimaksud ayat (2) butir d, pasal ini sekurang-kurangnya melampirkan :
1) Berita acara pencocokan dan penelitian terhadap dokumen-dokumen realisasi jumlah produksi pemakaian peralatan reach stacker yang ditandatangani oleh para pihak;
2) Kuitansi pembayaran.
2. Kewajiban Pihak Kedua, yaitu :
a. Menyediakan atau mempersiapkan peralatan reach stacker dan berikut supervisi/penanggungjawab kesiapan alat, tenaga operator, tally serta mekanik yang terdidik dan terlatih agar senantiasa dalam keadaan siap operasi apabila sewaktu-waktu akan digunakan;
b. Mengasuransikan seluruh peralatan yang dioperasikan mencakup kerugian pihak ketiga termasuk asuransi operator alat;
c. Menjamin tingkat kesiapan alat minimal 90% (sembilan puluh persen);
d. Menjamin waktu perbaikan alat apabila mengalami kerusakan paling lambat 2 (dua) minggu untuk kerusakan mesin;
e. Berkordinasi dengan pihak pertama untuk pelaksanaan perawatan peralatan bongkar/muat yang dilakukan secara berkala;
f. Membuat dan menyampaikan laporan harian/bulanan kesiapan alat bongkar/muat;
g. Menyediakan alat pengganti apabila terjadi kerusakan yang dapat mengakibatkan terhentinya pelayanan lift on/off, selambat-lambatnya 1 x 24 jam (satu kali dua puluh empat jam) atau 1 (satu) hari setelah alat rusak dan seluruh biaya menjadi tanggung jawab pihak kedua;
h. Setiap terjadi kerusakan alat dan setelah selesai perbaikan alat, membuat berita acara kerusakan alat yang ditandatangani para pihak;
i. Memasang logo perusahaan pihak pertama pada peralatan reach stacker yang dioperasikan;
j. Bertanggung jawab terhadap segala resiko yang timbul dari dan akibat pengoperasian peralatan reach stacker milik atau yang dikuasai pihak kedua kecuali akibat force majeure;
k. Mematuhi seluruh peraturan dan ketentuan yang berlaku di terminal peti kemas BICT antara lain peraturan Dinas Tenaga Kerja setempat, Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Sistem Manajemen Lingkungan dan peraturan yang berlaku secara umum lainnya.
Makna asas keseimbangan dalam kontrak harus beranjak dari makna filosofis keadilan dimana kontrak yang ideal seharusnya mampu mewadahi pertukaran kepentingan para pihak secara fair pada setiap fase tahapan kontrak.
Namun dalam kenyataannya, dalam kewajiban bagi para pihak juga tidak terlihat seimbang. Kewajiban yang ada pada pihak pertama terdiri dari 5 (lima) poin, sedangkan kewajiban yang ada pada pihak kedua terdapat 11 (sebelas) poin.
Kewajiban yang ada pada pihak pertama lebih sedikit dibandingkan kewajiban yang ada pada pihak kedua. Selanjutnya di dalam poin kewajiban pada pihak kedua hanya memuat mengenai pengaturan mengasuransikan seluruh peralatan yang dioperasikan mencakup kerugian pihak ketiga, tetapi di dalam perjanjian kerjasama ini tidak terlihat adanya pemberian asuransi bagi para pekerja reach stacker nya. Seharusnya para pekerja pengoperasian reach stacker juga di
asuransikan. Kemudian dikatakan tidak seimbang juga dikarenakan apabila terjadinya wanprestasi, maka tidak ada sanksi yang tegas yang dimuat di dalam klausul perjanjian kerjasama tersebut. Dalam pembuatan perjanjian tersebut dapat dilihat juga, bahwa perjanjian kerjasama tersebut belum mencerminkan keadilan bagi para pihak. Seharusnya dalam merumuskan dan melaksanakan isi substansi perjanjian harus memperhatikan kepentingan semua pihak untuk semata-mata dilindungi.118
118 Wawancara dengan Aprilla Dwison, tanggal 13 November 2018 di Kantor PT. Prima Indonesia Logistik
BAB IV
TANGGUNG JAWAB PARA PIHAK APABILA TERJADINYA WANPRESTASI DALAM PERJANJIAN KERJASAMA ANTARA
PT. PELINDO I BELAWAN INTERNATIONAL CONTAINER TERMINAL (BICT) DENGAN PT. PRIMA INDONESIA LOGISTIK TENTANG KERJASAMA PENGELOLAAN
DAN PENGOPERASIAN PERALATAN REACH STACKER DI TERMINAL BICT
A. Akibat Hukum yang Ditimbulkan dalam Perjanjian Kerjasama antara PT. Pelindo I (Persero) Belawan International Container Terminal dengan PT. Prima Indonesia Logistik jika terjadi wanprestasi.
“Semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku bagi undang-undang bagi mereka yang membuatnya”. Ketentuan tersebut diatur dalam Pasal 1338 KUHPerdata. Dari ketentuan tersebut dapat diketahui bahwa dalam perjanjian terkandung suatu asas mengikat. Terikatnya para pihak pada perjanjian itu tidak semata-mata terbatas pada apa yang diperjanjikan akan tetapi juga terhadap beberapa unsur lain sepanjang dikehendaki oleh kebiasaan dan kepatutan serta moral. Demikianlah sehingga asas-asas moral, kepatutan, dan kebiasaan yang mengikat para pihak.119 Sesuai dengan ketentuan Pasal 1339 KUHPerdata yaitu :
“Suatu perjanjian tidak hanya mengikat untuk hal-hal yang dengan tegas dinyatakan di dalamnya, tetapi juga untuk segala sesuatu yang menurut sifat perjanjian, diharuskan oleh kepatutan, kebiasaan, atau undang-undang”.
Hak dan kewajiban yang timbul dari kontrak ditentukan oleh apa yang saling diperjanjikan (dipertukarkan) oleh para pihak melalui pernyataan-pernyataan mereka, makna pernyataan-pernyataan tersebut, yang ditetapkan melalui
119 Mariam Darus Badrulzaman, dkk., Op.Cit., hal. 88
interprestasi merupakan faktor otonom yang menentukan hak dan kewajiban para pihak.120
Kontrak sebagai instrumen pertukaran hak dan kewajiban diharapkan dapat berlangsung dengan baik, fair dan proporsional sesuai kesepakatan para pihak. Terutama pada kontrak komersial, baik pada tahap pra kontraktual, pembentukan kontrak maupun pelaksanaannya, asas proporsionalitas mempunyai daya kerja menciptakan aturan main pertukaran hak dan kewajiban. Aturan main pertukaran ini menjadi ranah para pihak, kecuali dalam batas-batas tertentu muncul intervensi, baik dari undang-undang yang bersifat memaksa, maupun dari otoritas tertentu (hakim). Namun sifat intervensi ini, lebih ditujukan untuk menjaga proses pertukaran hak dan kewajiban berlangsung secara fair.121
Dasar perjanjian adalah kesepakatan para pihak yang akan menimbulkan prestasi, apabila salah satu pihak tidak memenuhi prestasi dalam perjanjian, maka akan timbul suatu kondisi yang dinamakan wanprestasi (ingkar janji). Kata wanprestasi berasal dari bahasa Belanda yang berarti keadaan buruk atau suatu keadaan yang menunjukkan debitur tidak berprestasi (tidak melaksanakan kewajibannya) dan dia dapat dipersalahkan.122
Menurut Salim HS, wanprestasi adalah tidak memenuhi atau lalai melaksanakan kewajiban sebagaimana yang ditentukan dalam perjanjian yang dibuat antara kreditur dengan debitur. Sementara menurut Prof. Subekti, wanprestasi adalah suatu tindakan dimana si berutang (debitur) tidak melakukan
120 J.H. Niewenhuis, Pokok-Pokok Hukum Perikatan, (Terjemahan Djasadin Saragih), (Surabaya, 1985), hal. 38
121 Ibid,.
122 Muhammad Syaifuddin, Hukum Kontrak, (Bandung : Mandar Maju, 2012), hal 338.
apa yang dijanjikannya dalam perjanjian atau melanggar perjanjian dengan melakukan apa yang tidak boleh dilakukannya atau bisa dikatakan bahwa si debitur alpa, lalai, atau ingkar janji.
Tidak terpenuhinya kewajiban melaksanakan prestasi (wanprestasi) dapat disebabkan oleh 2 (dua) kemungkinan yakni:
1. Karena kesalahan debitur sendiri baik dengan sengaja maupun karena kelalaian
Wanprestasi yang disebabkan adanya kesalahan debitur itu sendiri, dimaksudkan debitur tidak melaksanakan kewajiban bukan dikarenakan oleh hal-hal yang diluar kemampuannya, melainkan karena perbuatan yang disengaja atau karena kelalaian. Debitur dianggap lalai ketika ia tidak memenuhi prestasi, maka untuk menyatakan seorang debitur melakukan wanprestasi, diperlukan surat peringatan tertulis dari kreditur yang diberikan kepada debitur. Surat perintah tersebut disebut dengan somasi. Surat somasi tersebut dapat dijadikan sebagai bukti bahwa debitur telah wanprestasi, yang diatur dalam Pasal 1238 KUHPerdata.
2. Karena keadaan memaksa/force majeure yang terjadi diluar kemampuan debitur
Wanprestasi yang terjadi karena keadaan memaksa (overmacht)/force majeure, yang mana debitur tidak dapat memenuhi prestasinya kepada kreditur, yang disebabkan oleh keadaan yang berada diluar kemampuan debitur itu sendiri dan keadaan yang timbul itu juga berupa suatu keadaan yang tidak dapat diketahui pada waktu perjanjian dibuat. Atau dengan kata lain force majeure terjadi bukan
atas kehendak debitur. Untuk membuktikan bahwa telah terjadi wanprestasi, terdapat 2 (dua) cara yang bisa digunakan untuk membuktikannya, seperti yang tercantum dalam Pasal 1238 KUHPerdata, yaitu wanprestasi yang akan ditentukan secara hukum dan wanprestasi yang ditentukan berdasarkan perjanjian.
Dalam hal ini, Pasal 1238 KUH Perdata memberikan keleluasaan bagi para pihak yang mengikatkan dirinya dalam kontrak untuk menyepakati tata cara penentuan wanprestasi yang mana yang akan diterapkan. Meskipun mendapat kebebasan, tetapi penentuan wanprestasi yang dilakukan secara hukum berlaku sebagai lex generalis terhadap penentuan wanprestasi yang dengan tegas disepakati dalam kontrak sebagai suatu hukum yang bersifat lex specialis.
Paling mudah untuk menetapkan seorang melakukan wanprestasi ialah dalam perjanjian yang bertujuan untu tidak melakukan suatu perbuatan. Apabila orang itu melakukannya berarti ia melanggar perjanjian, ia dapat dikatakan
Paling mudah untuk menetapkan seorang melakukan wanprestasi ialah dalam perjanjian yang bertujuan untu tidak melakukan suatu perbuatan. Apabila orang itu melakukannya berarti ia melanggar perjanjian, ia dapat dikatakan