BAB IV TANGGUNG JAWAB PARA PIHAK APABILA
B. Pertanggung Jawaban Yang Dilakukan Antara PT. Pelindo
Tanggung jawab hukum dalam hukum perdata berupa tanggung jawab seseorang terhadap akibat perbuatanya yang menimbulkan kerugian bagi pihak lain. Untuk melindungi dan memberikan ganti rugi kepada pihak yang dirugikan bukan karena kesalahannya maka ada ketentuan tentang perbuatan melawan hukum yang diatur dalam pasal 1367 KUHPerdata.128
Kewajiban akan melahirkan tanggung jawab yang harus dipenuhi sesuai dengan kewajiban yang ada, sedangkan tanggung jawab lahir karena adanya suatu kerugian yang dialami masing- masing pihak. Ini juga akan melahirkan sebuah tanggung jawab pada masing- masing pihak jika terjadi kerugian . Oleh karena itu prinsip tanggung jawab sanat penting dalam hal memenuhi hak dari suatu pihak yang dirugikan.
Secara umum, prinsip-prinsip tanggung jawab dalam hukum dapat di bedakan sebagai berikut :129
1. Kesalahan (lability based on fault)
Prinsip tanggung jawab berdasarkan unsur kesalahan (fault liability atau liability based on fault) adalah prinsip yang cukup umum berlaku dalam hukum pidana dan perdata. Dalam kitab undang- undang hukum perdata, khususnya Pasal 1365, 1366, dan 1367, prinsip ini dipegang secara teguh.
Pasal 1365 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata yang lazim dikenal sebagai Pasal tentang perbuatan melawan hukum, mengharuskan terpenuhinya
128 Ahmadi Miru dan Sakka Pati, Hukum Perikatan (penjelasan Makna 1233-1456 Bw), (Jakarta : Rajawali Pers, 2011), hal. 97
129 Ibid., hal. 98
empat unsur pokok, yaitu:
a. adanya perbuatan;
b. adanya unsur kesalahan;
c. adanya kerugian yang diderita;
d. adanya hubungan kausalitas antara kesalahan dan kerugian.
Selanjutnya dalam Pasal 1366 mengatur bahwa:
“Setiap orang bertanggung jawab yang tidak disebabkan karena perbuatannya, tetapi juga untuk kerugian yang disebabkan karena kelalaian atau kurang hati- hatinya.”
Pasal ini menunjukkan luasnya tanggung jawab bagi orang yang melakukan perbuatan melawan hukum sehingga dia tidak hanya bertanggung jawab atas kerugian terhadap akibat yang ditimbulkan dari suatu perbuatan yang secara aktif dilakukannya, tetapi juga bertanggung jawab atas kerugian akibat kelalaian atau kurang hati- hatinya.29
Tanggung jawab yang diatur dalam Pasal ini adalah tanggung jawab atas kesalahan orang lain yang ada dibawah tanggung jawabnya. Jadi sebenarnya dalam Pasal ini dapat dikatakan menganut tanggung jawab risiko, atau tanggung jawab tanpa kesalahan, walaupun tanggung jawab risiko tersebut dibatasi hanya jika yang melakukan kesalahan yang mengakibatkan kerugian tersebut adalah orang di bawah tanggung jawabnya.
2. Praduga selalu bertanggung jawab (presumption of liability)
Prinsip ini mengatur, tergugat selalu dianggap bertanggung jawab (presumption of liability principle), sampai ia dapat membuktikan bahwa ia tidak bersalah, jadi beban pembuktian ada pada si penggugat. Prinsip ini mengatur
bahwa tergugat selalu dianggap bertanggung jawab (presumption of liability principle), sampai ia dapat membuktikan bahwa ia tidak bersalah.
Dalam prinsip ini, beban pembuktiannya ada pada si tergugat. Dalam hal ini tampak beban pembuktian terbalik (omkering van bewijslast). Hal ini tentu bertentangan dengan asas hukum praduga tidak bersalah (presumption of innocence). Namun jika diterapkan dalam kasus konsumen akan tampak asas demikian cukup relevan. Dalam UUPK ditegaskan pada Pasal 19, 22, dan 23. Jika digunakan teori ini, maka yang berkewajiban untuk membuktikan kesalahan itu ada pada pihak pelaku usaha yang digugat. Tergugat harus menghadirkan bukti-bukti bahwa dirinya tidak bersalah. Tentu saja konsumen tidak dapat sekehendak hati mengajukan gugatan. Posisi konsumen sebagai penggugat selalu terbuka untuk digugat balik oleh pelaku usaha, jika ia gagal menunjukkan kesalahan tergugat.
3. Praduga selalu tidak bertanggung jawab ( presumption of nonliability)
Prinsip ini adalah kebalikan dari prinsip yang kedua, prinsip praduga untuk tidak selalu bertanggung jawab (presumption nonliability principle) hanya dikenal dalam lingkup transaksi konsumen yang sangat terbatas. Contoh dari penerapan prinsip ini adalah pada hukum pengangkutan. Kehilangan atau kerusakan pada bagasi kabin atau bagasi tangan, yang biasanya dibawa dan diawasi oleh penumpang (konsumen) adalah tanggung jawab dari penumpang. Dalam hal ini pengangkut (pelaku usaha) tidak dapat dimintakan pertanggungjawabannya.
4. Tanggung jawab mutlak (strict liability)
Prinsip tanggung jawab mutlak (strict liability) sering diidentikkan dengan prinsip tanggung jawab absolut (absolute liability). Kendati demikian ada pula para ahli yang membedakan kedua terminologi di atas. Ada pendapat yang mengatur, strict liability adalah prinsip tanggung jawab yang menetapkan kesalahan tidak sebagai faktor yang menentukan. Namun ada pengecualian-pengecualian yang memungkinkan untuk dibebaskan dari tanggung jawab, misalnya pada keadaan force majeure. Sebaliknya absolute liability adalah prinsip tanggung jawab tanpa kesalahan dan tidak ada pengecualiannya.
Menurut R.C, Hoeber et.al., biasanya prinsip tanggung jawab mutlak ini diterapkan karena (1) konsumen tidak dalam posisi menguntungkan untuk membuktikan adanya kesalahan dalam suatu proses produksi dan distribusi yang kompleks; (2) diasumsikan produsen lebih dapat mengantisipasi jika sewaktu- waktu ada gugatan atas kesalahannya misalnya dengan asuransi atau dengan menambahan komponen biaya tertentu pada harga produknya; (3) asas ini dapat memaksa produsen lebih hati- hati.
5. Pembatasan tanggung jawab (limitation of liability)
Prinsip tanggung jawab dengan pembatasan (limitation of liability principle) ini sangat disenangi oleh pelaku usaha untuk dicantumkan sebagai klausula eksonerasi dalam perjanjian standar yang dibuatnya. Prinsip tanggung jawab ini sangat merugikan konsumen bila ditetapkan secara sepihak oleh pelaku usaha. Dalam UU No. 8 Tahun 1999 seharusnya pelaku usaha tidak boleh secara sepihak menetukan klausula yang merugikan konsumen, termasuk membatasi
maksimal tanggung jawabnya. Jika ada pembatas mutlak harus berdasarkan pada peraturan perundang- undangan yang jelas.
6. Tanggung jawab renteng (Vicarious Liability)
Tanggung Renteng adalah joint and several liability yaitu tanggung jawab para debitur baik bersama-sama, perseorangan, maupun khusus salah seorang di antara mereka untuk menanggung pembayaran seluruh utang pembayaran salah seorang debitur mengakibatkan debitur yang lain terbebas dari kewajiban membayar utang.130
Bentuk perjanjian kerjasama adalah PT. PIL menyediakan peralatan reach stacker untuk melayani kegiatan lift on/lift off peti kemas dari kegiatan bongkar muat dari dan ke kapal serta kegiatan lift on/lift off peti kemas dari dalam atau dari luar terminal BICT ke Container Yard. Peralatan merupakan milik dari PT.
PIL yang dioperasikan oleh PT. PIL dan atas pengoperasian reach stacker yang dilaksanakan oleh PT. PIL tersebut BICT membayar tarif yang disepakati atas pengoperasian reach stacker berdasarkan hitungan per box peti kemas. PT. PIL menanggung semua biaya yang dibutuhkan dalam pengoperasian reach stacker.
Jika dalam perjanjian kerjasama antara PT. Pelindo I BICT dengan PT. Prima Indonesia Logistik, dalam hal ini PT. Pelindo I BICT sebagai pihak pertama adalah pihak yang menggunakan jasa dan PT. Prima Indonesia Logistik sebagai pihak kedua yang menyediakan jasa pengoperasian peralatan reach sttacker untuk melayani lift on/lift off peti kemas dari kegiatan bongkar/muat, tidak melakukan kewajiban-kewajiban dalam perjanjian yang telah disepakati atau apabila pihak
130 Ibid.,
yang menyediakan jasa melanggar perjanjian atau melakukan wanprestasi, dan sebaliknya juga maka para pihak dapat melakukan suatu tindakan hukum sesuai dengan isi perjanjian kerjasama tersebut.131
Suatu perjanjian dalam pelaksanaannya ada kemungkinan tidak sesuai dengan yang diperjanjikan atau mungkin dapat dilaksanakan karena adanya hambatan-hambatan dalam pelaksanaannya. Hambatan-hambatan tersebut dapat terjadi berupa wanprestasi dan keadaan memaksa.
Salah satu klausul dalam perjanjian kerjasama mengenai kewajiban pihak kedua yang sering terjadi wanprestasi dalam prakteknya adalah mengenai
“menyediakan alat pengganti apabila terjadi kerusakan yang dapat mengakibatkan terhentinya pelayanan lift on/lift off, selambat-lambatnya 1 x 24 jam (satu kali dua puluh empat jam) atau 1 (satu) hari setelah alat rusak dan seluruh biaya menjadi tanggung jawab pihak kedua”. Tetapi jika terjadi kerusakan alat pengoperasian reach stacker sering sekali perbaikannya tidak siap dalam 1x24 jam dan tidak ada ketersediaan alat pengganti, sehingga tidak dapat melayani kegiatan receiving/delivery serta membuat peti kemas menjadi menumpuk di terminal BICT.132
Bentuk pertanggungjawaban dalam hal terjadinya wanprestasi yang disebutkan di atas adalah PT. Prima Indonesia Logistik memberikan ganti kerugian dengan cara tarif yang dibayarkan oleh PT. Pelindo I BICT hanya berdasarkan pada produksi box peti kemas yang di handle oleh reach stacker tersebut. Apabila reach stacker tidak berproduksi maka pembayaran yang
131 Wawancara dengan T. Irfansyah, tanggal 14 November 2018 di Kantor BICT
132 Wawancara dengan Aprilla Dwison, tanggal 13 November 2018 di Kantor PT. Prima Indonesia Logistik
dilakukan oleh BICT hanya sejumlah produksi peti kemas dari reach stacker.
Selanjutnya setiap yang tidak melakukan kewajibannya oleh para pihak, maka yang akan dilakukan adalah berdasarkan Pasal 9 tentang perselisihan yaitu segala bentuk perselisihan yang timbul dari dan atau ada hubungannya dengan perjanjian ini akan diupayakan penyelesaiannya secara musyawarah oleh kedua belah pihak.
Musyawarah tersebut adalah kedua belah pihak sepakat untuk membicarakan baik-baik agar menemukan kata sepakat dan nantinya tidak ada pihak yang dirugikan. Selanjutnya akan melakukan peninjauan kembali terhadap perjanjian kerjasama tersebut.133
133 Wawancara dengan Aprilla Dwison, tanggal 13 November 2018 di Kantor PT. Prima Indonesia Logistik
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan yang telah diuraikan pada bab-bab sebelumnya, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1. Perjanjian kerjasama antara PT. Pelindo I Belawan International Container Terminal (BICT) dengan PT. Prima Indonesia Logistik tentang Kerjasama Pengelolaan dan Pengoperasian Peralatan Reach Stacker di terminal BICT sudah sesuai dengan kaidah menuruh hukum perdata yaitu dibuat berdasarkan negosiasi. Dalam hal terjadinya kesepakatan antara para pihak untuk melakukan perjanjian kerjasama ini harus sesuai dengan persyaratan perjanjian sebagaimana yang diisyaratkan dalam Pasal 1320 KUHPerdata yaitu: kesepakatan yang dilakukan sesuai pernyataan kehendak para pihak yang mana kesepakatan tersebut pihak PIL menyediakan pengoperasian peralatan reach stacker dan pihak BICT membayara tarif sesuai pengoperasian peralatan reach stacker, kecakapan dalam perjanjian kerjasama ini adalah pihak badan hukum yang berupa PT. Pelindo I BICT dengan PT. Prima Indonesia Logistik, objek tertentu dari perjanjian kerjasama ini adalah pengoperasian alat reach stacker, dan suatu sebab yang halal adalah perjanjian kerjasama ini tidak bertentangan dengan undang-undang, kesusilaan dan ketertiban umum. Perjanjian kerjasama antara PT. Pelindo I BICT dengan PT. Prima Indonesia Logistik yang dibuat berdasarkan tahapan
negosiasi antara para pihak menghasilkan 12 pasal yang telah sesuai dengan faktor perancangan kontrak.
2. Pelaksanaan perjanjian Kerjasama antara antara PT. Pelindo I BICT dengan PT. Prima Indonesia Logistik masih belum memberikan keseimbangan antara hak dan kewajiban karena pengaturan perihal hak dan kewajiban dalam perjanjian kerjasama tersebut tidak adil. Dikarenakan hak yang ada pada pihak pertama lebih banyak dibandingkan hak yang ada pada pihak kedua.
Sedangkan kewajiban yang ada pada pihak pertama lebih sedikit dibandingkan hak yang ada pada pihak kedua. Pada perjanjian kerjasama tersebut juga tidak ada pengaturan mengenai masalah asuransi jika terjadinya kecelakaan kerja bagi para pekerjanya dan perihal pengaturan sanksi yang belum tegas juga tidak diatur di dalam klausul perjanjian tersebut.
3. Salah satu klausul dalam perjanjian kerjasama mengenai kewajiban pihak kedua yang sering terjadi wanprestasi dalam prakteknya adalah mengenai
“menyediakan alat pengganti apabila terjadi kerusakan yang dapat mengakibatkan terhentinya pelayanan lift on/lift off, selambat-lambatnya 1 x 24 jam (satu kali dua puluh empat jam) atau 1 (satu) hari setelah alat rusak dan seluruh biaya menjadi tanggung jawab pihak kedua”. Tetapi jika terjadi kerusakan alat pengoperasian reach stacker sering sekali perbaikannya tidak siap dalam 1x24 jam dan tidak ada ketersediaan alat pengganti, sehingga tidak dapat melayani kegiatan receiving/delivery. Bentuk pertanggungjawaban dalam hal terjadinya wanprestasi di atas adalah PT.
Prima Indonesia Logistik memberikan ganti kerugian dengan cara tarif yang
dibayarkan oleh PT. Pelindo I BICT hanya berdasarkan pada produksi box peti kemas yang di handle oleh reach stacker tersebut. Apabila reach stacker tidak berproduksi maka pembayaran yang dilakukan oleh BICT hanya sejumlah produksi peti kemas dari reach stacker.
B. Saran
1. Sebaiknya sebelum pembuatan perjanjian kerjasama para pihak sudah menguasai mengenai teknik-teknik pembuatan kontrak sekaligus kondisi pada saat pelaksanaan kontrak sehingga kehendak masing-masing pihak dapat dicantumkan lebih spesifik dan terarah ke dalam pasal-pasal untuk menghindari penafsiran, memperkecil tingkat kesalahan yang dapat menimbulkan kerugian pada saat pelaksaanan fungsi hak dan kewajiban masing-masing pihak.
2. Para pihak didalam perjanjian kerjasama PT. Pelindo I BICT dengan PT.
Prima Indonesia Logistik haruslah menjalankan hak dan kewajiban masing-masing seperti yang kita ketahui bahwa kita harus melaksanakan kewajiban terlebih dulu baru mendapatkan hak. Kedua belah pihak harus melakukan secara professional agar terjalin kerjasama yang saling menguntungkan. Dan ada baiknya para pihak memiliki pemahaman yang sama terkait prinsip dan faktor-faktor yang menentukan agar perjanjian kerjasama berjalan dengan baik, sesuai dengan isi yang telah disepakati dalam perjanjian tersebut dan dapat meninjau ulang kembali perjanjian kerjasama.
3. PT. Prima Indonesia Logistik selaku penyedia jasa harus benar-benar melaksanakan ketentuan-ketentuan dalam kontrak secara profesional dengan
melakukan koordinasi kepada pihak-pihak terkait seperti PT. Pelindo untuk menghindari terjadinya wanprestasi. Oleh karena itu penguasaan yang baik terhadap masalah-masalah operasional dan cepat tanggap terhadap permasalahan yang timbul dilapangan berikut dengan antisipasinya sangat diperlukan untuk menunjang keberhasilan pemenuhan kewajibannya.
Demikian pula segala produk hukum yang terkait dengan bongkar muat tersusun dengan baik dan perlu diperhatikan tatanan kepelabuhanan dalam rangka mewujudkan kelancaran, ketertiban, keamanan, dan mendorong profesionalisme serta mengakomodasi pelayanan untuk kepentingan umum.
DAFTAR PUSTAKA A. Buku-Buku
Adonara, Firman Floranta, 2014, Aspek-aspek Hukum Perikatan, Bandung, Mandar Maju.
Amiruddin, 2006, Pengantar Metode Penelitian Hukum, Jakarta, Raja Grafindo Persada.
Ali, Zainuddin, 2009, Metode Penelitian Hukum, Jakarta, Sinar Grafika.
Ali, Chaidir dan Mashudi, 2001, Pengertian-pengertian Elementer Hukum Perjanjian Perdata, Bandung,Mandar Maju.
Asikin, Zainal, 2012, Pengantar Ilmu Hukum, Jakarta, Raja Grafindo Persada.
Badrulzaman, Mariam Darus, Hukum Perikatan dalam KUH Perdata, 2015, Bandung , Citra Aditya Bakti.
Badrulzaman, Mariam Darus , dkk., 2001, Kompilasi Hukum Perikatan, Bandung, Citra Aditya Bakti.
Chaidir Ali, Mashudi, 2001, Pengertian-pengertian Elementer Hukum Perjanjian Perdata, Bandung Mandar Maju.
Dewata, Mukti Fajar Nur dan Yulianto Achmad, 2010, Dualisme Penelitian Hukum Normatif dan Empiris, Yogyakarta, Pustaka Pelajar.
Fuadi, Munir, 2007, Hukum Kontrak (Dari Sudut Pandang Hukum Bisnis), Bandung, Citra Aditya Bakti.
Hariri, Wawan Muhwan, 2011, Hukum Perikatan Dilengkapi Hukum Perikatan dalam Islam, Bandung, Pustaka Setia.
Hernoko, Agus Yudha, 2010, Hukum Perjanjian Asas Proporsionalitas Dalam Kontrak Komersial, Jakarta, Kencana.
HS, Salim, 2006, Perancangan Kontrak dan Memorandum of Understanding (MoU), Jakarta, Sinar Grafika.
---, 2011, Hukum Kontrak Teori dan Teknik Penyusunan Kontrak, Jakarta, Sinar Grafika.
Hutagalung, Sophar Maru, 2013, Hukum Kontrak di ASEAN Pengaruh Sistem Hukum Common Law dan Civil Law, Jakarta, Sinar Grafika.
Ibrahim, Johny, 2008, Teori & Metodologi Penelitian Hukum Normatif, Malang, Bayu Media Publishing.
Irawan, Ade Didik, 2010, Hukum Kontrak Perancang Kontrak, Jakarta, Rajagrafindo Persada.
Kansil, CST, Pengantar Ilmu Hukum dan, Tata Hukum Indonesia, 2002, Jakarta, Balai Pustaka.
Khaidandy, Ridwan, 2003, Itikad Baik dalam Kebebasan Berkontrak, Jakarta Program Pascasarjana Fakultas Hukum Universitas Indonesia.
Lubis, M. Solly 2007, Diktat Teori Hukum, Medan, USU, 2007
Marzuki, Peter Mahmud, 2008, Pengantar Ilmu Hukum, Jakarta, Kencana Persada Media Group.
Muhammmad, Abdul Kadir, 1990, Hukum Perikatan, Bandung, Citra Aditya Bakti.
Naja, Daeng, 2006, Contract Drafting: Seri Keterampilan Merancang Kontrak Bisnis, Cet.2, Bandung, Citra Aditya Bakti.
Niewenhuis, J.H., 1985, Pokok-Pokok Hukum Perikatan, (Terjemahan Djasadin Saragih), Surabaya.
Pati, Ahmadi Miru dan Sakka , Hukum Perikatan (penjelasan Makna 1233-1456 Bw), 2011, Jakarta Rajawali Pers.
Patrik, Purwahid, 1994, Dasar-dasar Hukum Perikatan, Bandung, Mandar Maju.
Philips Dillah, Suratman, 2013, Metode Penelitian Hukum, Bandung, Alfabeta.
Poerwadarminta,W.J.S.,1985, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta, Balai Pustaka.
Pragoyo, Soesilo, 2007, Kamus Lengkap Hukum International-Indonesia, Surabaya, Wacana Intelektual.
Prodjodikoro, Wirjono, 2011, Asas-asas Hukum Perjanjian, Mandar Maju, Bandung.
Purba, Hasim, 2005, Hukum Pengangkutan di Laut, Medan, Pustaka Bangsa Press.
---, 2006, Suatu Pedoman Memahami Ilmu Hukum, Medan, Cahaya Ilmu.
Raharjo, Handri, 2009, Hukum perjanjian di Indonesia, Yogyakarta, Penerbit Pustaka Yustisia.
Raharjo, Satjipto, 1996, Ilmu Hukum, Bandung, Citra Aditya Bakti.
---, 2006,Ilmu Hukum Cetakaan Keenam 2006, Bandung, Citra Aditya Bakti
Salim, H.A. Abbas, 2008 Manajemen Transportasi, Jakarta, Raja Grafindo Persada
Salman, H. R. Otje dan Anton F. Susanto, 2005, Teori Hukum, Bandung, Refika Aditama.
Santiago, Faisal, 2012, Pengantar Hukum Bisnis, Jakarta, Mitra Wacana Media.
Santoso, Lukman, 2012, Hukum Perjanjian Kontrak : Panduan Memahami Hukum Perikatan & Penerapan Surat Perjanjian Kontrak, Jakarta, Cakrawala.
Satrio, J., 1999, Hukum Perikatan-Perikatan Pada Umumnya, Bandung, Alumni.
Setiawan, I Ketut Oka, 2016, Hukum Perikatan, Jakarta, Sinar Grafika.
Simanjuntak, Ricardo, 2006, Teknik Perancangan Kontrak Bisnis, Jakarta, Gramedia.
Sinaga, Niru Anita, Keselarasan Asas-asas Hukum Perjanjian Untuk Mewujudkan Keadilan Bagi Para Pihak Dalam Suatu Perjanjian, Jurnal Volume 7 No.
1, 84-89.
Siregar, Tampil Anshari, 2005, Metodologi Penelitian Hukum Penulisan Skripsi, Medan, Pustaka Bangsa Press.
Soedjono, Wiwoho, 1983, Pengangkutan Laut Dalam Hubungannya Dengan Wawasan Nusantara, Jakarta, Bina Aksara.
Soekanto, Soerjono, 1986, Pengantar Penelitian Hukum, Jakarta, UI Press.
---, 2007, Pengantar Penelitian Hukum, Jakarta, UI Pers.
Sunggono, Bambang, Metode Penelitian Hukum, 2003, Jakarta, Rajagrafindo Persada.
Suranto, 2011, Manajemen Operasional Angkutan Laut dan Terminal Peti Kemas Pasca UU No. 17 Tahun 2008 Tentang Pelayaran, Medan, Gema Ind.
---, 2004, Manajemen Operasional Angkutan Laut dan Kepelabuhanan Serta Prosedur Impor Barang, 2004, Jakarta, Gramedia Pustaka Utama
Suryabrata, Sumadi, 1998, Metodologi Penelitian, Jakarta, Raja Grafindo Persada.
Suryono, R.P., 2007 Shipping : Pengangkutan Intermodal Ekspor Impor Melalui Laut, Jakarta, Percetakan Argya Putra.
Syahrani, Riduan, 2004, Seluk Beluk dan Asas-Asas Hukum Perdata, Bandung , Alumni.
Utary, Siti, 1993, Pengangkutan Laut, Jakarta, Balai Pustaka.
Van Apeldoorn, L. J, 2004, Pengantar Ilmu Hukum, Jakarta, Pradnya Paramita.
Widjaya, I.G. Rai Widjaya, 2008 Merancang suatu kontrak 9 (Contract Drafting), Jakarta, Kesaint Blanc.
B. Jurnal dan Makalah
Baharaja, 2017, Akta Jaminan Fidusia Yang Dibuat Notaris Sebagai Bentuk Perjanjian Baku (Adhesion Contract, Medan, Universitas Sumatera Utara.
Jelly Leviza, Perancangan dan Analisis Kontrak, Materi disampaikan dalam Pendidikan Khusus Profesi Advokat (PKPA) 2015 di Fakultas Hukum UISU Medan.
C. Internet
Adi Mujianto, Doni Mujianto, Ivan Nugroho Ardi Fakultas Hukum UNS Surakarta Pelaksanaan Pemborongan pekerjaan atau outcourcing dalam perjanjian kerjasama antara PT. Export Leaf Indonesia dengan Koperasi Lamnina berdasarkan undang-undang No. 13 Tahun 2003 Tentang Ketengakerjaaan
https://media.neliti.com/media/publications/23083-ID-pelaksanaan- pemborongan-pekerjaan-atau-outsourcing-dalam-perjanjian-kerjasama-an.pdf diakses pada Tanggal 23 November 2018 pada pukul 15.30 WIB
Budi Seno, Persaingan Usaha ITF: Upaya Monopoli akan Membentuk Kartel, Poskotanews.com diunduh tanggal 16 April 2018.
Fasilitas BICT bict.pelindo1.co.id, diakses Pada Tanggal 27 Juli 2018 Pukul 15.40 WIB
Pelabuhan Indonesia I, Anak Perusahaan,
https://www.pelindo1.co.id/id/profil/Pages/Anak-Perusahaan.aspx, diakses tanggal 18 Januari 2019 pada pukul 20.08 WIB
Pelabuhan Indonesia I, Sejarah Perusahaan
https://www.pelindo1.co.id/id/profil/Pages/Sejarah-Perusahaan.aspx, diakses tanggal 13 Februari 2019 pukul 9.30 WIB
Pelabuhan Indonesia I, Terminal Peti Kemas Belawan, http://bict.pelindo1.co.id, diakses tanggal 31 oktober 2018 pada pulul 19.45 WIB
Pelabuhan Indonesia I, Visi Misi Pelindo I
https://www.pelindo1.co.id/id/Default.aspx diakses tanggal 18 Januari 2019 pada pukul 21.00 WIB
Prima Indonesia Logistik, Halaman Utama, www.primaindonesialogistik.com, diakses pada tanggal 8 Juli 2018. 19.39 WIB
Reach Stacker, Gambar Reach St acker https://www.google.co.ig/search=reach stacker, Diakses pada tanggal 12 Oktober 2018, 15.24 WIB
Suhaidi, Percancaangan Kontrak, https://Suhaidiusu.com, diakses tanggal 14 Februari 2019 pada pukul 15.41 WIB
D. Undang – Undang
Kitab Undang-undang Hukum Perdata.
Perjanjian Kerjasama Antara PT. Pelindo I BICT dengan PT.Prima Indonesia Logistik tentang Kerjasama Pengelolaan dan Pengoperasian Peralatan Reach stacker Di Terminal BICT Nomor UM.57/13/16/BICT-16 dan Nomor US.16/7/24/PIL-16, Pasal 2.
Undang-undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran.
Standar Operasional Prosedur Pelayanan dan Pembongkaran Peti kemas di BICT berdasarkanDokumen No.PM-OP-06