• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 5 HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1.4. Kontribusi dan Karateristik KUMKM

(1) Kontribusi KUMKM

Kontribusi KUMKM di kawasan perbatasan perlu dilihat untuk mengetahui gambaran seberapa besar peran KUMKM dalam pengembangan ekonomi masyarakat. Semakin besar peran KUMKM maka semakin besar pula aktivitas perekonomian masyarakat kawasan perbatasan tumbuh dan berkembang melalui dukungan KUMKM. Selain itu, menunjukkan pula bahwa berkembangnya KUMKM berarti kehidupan perekonomian masyarakat berlangsung cukup dinamis. Indikator yang digunakan untuk mengetahui seberapa besar potensi KUMKM dalam perekonomian masyarakat kawasan perbatasan adalah melalui share KUMKM kecamatan perbatasan terhadap KUMKM kabupaten baik itu di Kabupaten Belu maupun Kabupaten Sanggau. Gambaran tentang hal tersebut dapat dilihat pada grafik dibawah ini :

Grafik 5.7. Share KUMKM pada 2 kecamatan Kawasan Perbatasan

Share KUMKM Kecamatan Tasifeto Timur Terhadap Tabupaten Belu

Berdasarkan data pada grafik diatas dapat dilihat bahwa share KUMKM di Kecamatan Tasifeto Timur terhadap Kabupaten Belu masih dibawah 5%, dan Kecamatan Entikong terhadap Kabupaten Sanggau masih berada dibawah 6%. Peran KUMKM di kawasan perbatasan ternyata masih sangat kecil terutama peran koperasi., sedangkan kedua daerah tersebut merupakan pintu lintas batas ke negara tetangga dimana pergerakan barang dan jasa cukup tinggi. Sebenarnya kedua daerah memiliki potensi yang baik untuk ditangani KUMKM dan pemberdayaan masyarakat kedua kawasan perbatasan tersebut cukup signifikan untuk dikembangkan melalui peningkatan peran KUMKM. Berkembangnya KUMKM berarti masyarakat secara langsung memberikan kontribusi dalam pembangunan kawasan perbatasan dan pada sisi lain secara langsung akan memberikan dampak bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat kawasan perbatasan, serta memberikan kontribusi terhadap peningkatan PAD masing-masing daerah..Pada sisi lain perlu pula dilihat kontribusi KUMKM dalam menangani sektor potensial/unggulan daerah di masing masing lokasi. KUMKM yang bergerak menangani potensi potensial/unggulan merupakan salah satu nilai tambah bahwa sektor unggulan didukung oleh eksistensi KUMKM di lokasi kajian. Untuk mengetahui kontribusi KUMKM pada pengembangan potensi ekonomi di lokasi kajian dapat dijelaskan sebagai berikut :

(1.1) Ketersediaan Koperasi Pendukung di Kabupaten Belu dan Kabupaten Sanggau

Ketersediaan Koperasi pendukung di Kabupaten Belu dan Kabupaten Sanggau merupakan salah satu indikator yang dapat dilihat terkait dengan eksistensi usaha yang akan dikembangkan. Pendapat responden dari dinas terkait, ekspert dan pelaku usaha dikemukakan pada grafik berikut :

Pada grafik diatas, 76 % responden menyatakan bahwa di Kabupaten Belu terdapat Koperasi pendukung yang mengelola usaha anggota yang bergerak menangani sektor peternakan dan pertanian khususnya untuk peternakan Sapi dan tanaman Jagung, hanya 24 % responden yang menyatakan bahwa koperasi pendukung belum ada untuk kedua komoditi tersebut. Sedangkan di Kabupaten Sanggau 65% responden menyatakan belum terdapat Koperasi pendukung yang menaungi petani dalam budidaya tanaman Lada dan Kakao, sedangkan 35% responden menyatakan sudah ada koperasi yang membantu petani dalam aktivitas pertanian tanaman Lada dan Kakao. Responden yang menyatakan ada mungkin melihat adanya aktivitas kelompok tani yang dibantu oleh Dinas Pertanian setempat dalam bentuk kredit dan PNPM Mandiri dari Dinas Sosial.

Dari kondisi di atas, dapat disimpulkan bahwa pada Kabupaten Belu ternyata Koperasi telah berperan dalam mendukung aktivitas perekonomian masyarakat setempat yang didasarkan pada potensi ekonomi daerah, sedangkan di Kabupaten Sanggau keberadaan Koperasi dalam membantu petani belum begitu kelihatan. Koperasi disini lebih cenderung bergerak pada sektor perdagangan dan jasa, hanya terdapat satu Koperasi yang mendukung sektor pertanian dan perkebunan di Kecamatan Entikong yaitu koperasi yang mengumpulkan hasil perkebunan kakao masyarakat.

(1.2) Ketersediaan UMKM Pendukung di Kabupaten Belu dan Kabupaten Sanggau

Ketersediaan UMKM juga merupakan indikator yang cukup penting untuk mengetahui potensi berkembang tidaknya UMKM dalam menangani produk potensial/unggulan daerah di kawasan perbatasan baik yang sudah berlangsung maupun kepentingan dimasa yang akan datang Adapun ketersediaan UMKM pendukung dapat dilihat pada grafik berikut :

Grafik 5.9. Ketersediaan UMKM pendukung di Kabupaten Belu dan Kabupaten Sanggau

Tidak ada barrier to entry pada aktivitas bisnis UKM, baik dari aspek teknologi, investasi, manajemen, dan perlindungan hak intelektual, maka sangat mudah bagi masyarakat untuk masuk ke dalam berbagai industri sebagai UMKM. Untuk usaha mikro lebih dari 50% responden menyatakan kelompok ini memainkan peranan yang cukup signifikan di masing masing kabupaten baik Belu maupun Sanggau mereka adalah kelompok petani dan peternak. Sayangnya mereka melakukan usaha hanya sebatas untuk kebutuhan hidup tanpa sentuhan teknologi dan pola pertanian dan perternakan yang maju. Untuk kelompok usaha kecil masih sangat terbatas apalagi untuk usaha menengah, walaupun banyak yang ingin masuk sebagai pelaku bisnis UKM dalam sektor dan kegiatan bisnis tertentu, namun kendala permodalan dan pasar sulit untuk mereka atasi, pada satu sisi kebanyakan UKM hanya sebagai produsen yang menghadapi kekuatan monopsonis.

(2). Karakteristik Hubungan UMKM

Karakteristik hubungan Usaha Mikro Kecil dan Menengah merupakan gambaran mengenai bagaimana UMKM di lokasi kajian memanfaatkan jaringan yang dimiliki. Adanya jaringan hubungan antara pelaku usaha dapat mempermudah penyusunan model pengembangan UMKM di lokasi kajian. Untuk mengetahui gambaran karakteristik hubungan UMKM di lokasi kajian dapat dikemukakan sebagai berikut :

(2.1) Karakteristik Hubungan UMKM di Kabupaten Belu

Pada Kabupaten Belu terdapat usaha mikro, kecil dan menengah, sebagai penggerak ekonomi masyarakat, yang memberi kontribusi cukup signifikan bagi pendapatan daerah dan memegang peranan penting dalam pertumbuhan perekonomian dan penyerapan tenaga kerja. Adapun jenis usaha yang menggerakan perekonomian Kabupaten Belu dapat dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 5-3. Perusahaan/Usaha dan Tenaga Kerja menurut Skala Usaha di Kabupaten Belu

Skala Usaha Perusahaan/Usaha Tenaga Kerja

01. Mikro 28 461 51 174

02. Kecil 1 452 6 583

03. Menengah 67 686

04. Besar 16 244

05. Tidak dapat diklasifikasikan 6 24 J u m l a h 30 002 58 711

Sumber : Sensus Ekonomi 2006, BPS

Dari tabel di atas menunjukkan bahwa usaha mikro dan usaha kecil sangat dominan, disamping usaha menengah dan besar dalam perekonomian Kabupaten Belu. Bagaimana karakteristik hubungan UMKM di Kabupaten Belu akan dilihat dari sisi hubungan usaha mikro dengan UKM dan hubungan UMKM dengan berbagai instansi Pembina. Berdasarkan data yang ditunjukkan Tabel 5-3, dapat diidentifikasi bahwa usaha mikro dalam hal ini kelompok petani dan petani lainnya, serta kelompok peternak dan peternak lainnya sudah barang tentu memiliki hubungan dengan UKM yang bergerak dibidang pertanian dan peternakan. Adapun

karakteristik hubungan kelompok tani/peternak dengan UKM dapat dilihat pada gambar dibawah ini :

Gambar 5.3. Karakteristik UMKM di sektor pertanian dan peternakan

Dari gambar diatas dapat dilihat bahwa untuk UKM yang bergerak di sektor peternakan memperoleh pasokan dari peternak masyarakat Kabupaten Belu. Masyarakat merupakan supply hasil ternak yaitu sapi yang di distribusikan ke Surabaya, Kalimantan, NTT, Sulawesi, Timor Leste dan Jakarta. Untuk UKM yang bergerak dalam usaha komoditi Jagung dan dalam hal ini bertindaj sebagai pengumpul, agen dan distrubutur juga memperoleh pasokan dari

petani Jagung, kemudian mereka distribusikan ke Surabaya, Kalimantan, NTT, Sulawesi, Timor Leste dan Jakarta. Dalam konteks ini bias dikatakan bahwa petani dan peternak sudah memiliki pangsa pasar dan infrastruktur pendukung yang jelas.

Selain jejaringan dengan pemasok dan konsumen yang telah tercipta, UMKM juga membina jejaring dengan berbagai instansi terkait. Dari observasi yang telah dilakukan, ternyata UMKM sebagian besar pernah memiliki dan membina jejaring dengan Perguruan Tinggi, dan instansi-instansi pemerintah seperti Departemen dan/atau Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi, dan/atau dengan berbagai asosiasi UMKM, dengan perbankan, dan juga pernah behubungan dengan BUMN seperti : PLN dan Jasa Raharja. Selain itu, UMKM juga mempuyai jejaringan dengan biro perjalanan, hotel, atau restoran yang terkait dengan aktivitas kepariwisataan.

Manfaat yang diperoleh dari jejaring tersebut lebih banyak dirasakan UMKM seperti : Bank dan BUMN memberikan manfaat dalam permodalan atau memberikan bantuan dalam mendukung permodalan UMKM. Pemerintah dan LSM yang memberikan manfaat berupa informasi, publikasi, keikutsertaan dalam pameran, pemasaran, dan pelatihan. Perguruan Tinggi memberikan manfaat berupa pelatihan dalam rangka peningkatan mutu dan managemen usaha dan manfaat tidak langsung lainnya dari berbagai kegiatan mahasiswa seperti Kuliah Lapang, dan praktek-praktek sehubungan dengan kegiatan ekstra kulikuler yang melibatkan UMKM. Selain itu, kelompok Asosiasi UMKM memberikan manfaat seperti berbagai informasi pasar dan peningkatan kapasitas produksi untuk merespon order melalui sub-kontrak dan sharing persediaan bahan baku. Adapun karakteristik hubungan UMKM yang bergerak dalam bidang usaha peternakan Sapi dan pertanian Jagung dengan instansi terkait di Kabupaten Belu berdasasrkan hasil obserpasi terhadap UMKM dapat dilihat pada grafik.

Grafik 5.10. Karakteristik hubungan UMKM dengan instansi terkait di Kabupaten Belu

Memperhatikan grafik di atas, dapat diketahui bahwa 45% dari UMKM telah pernah berhubungan dengan instansi pemerintah, 37 % dengan asosiasi UMKM, 12 % dengan Bank dan 5 % dengan BUMN seperti PLN dan Jasa Raharja.

(2.2) Karakteristik Hubungan UMKM di Kabupaten Sanggau

Sama dengan pembahasan sebelumnya maka karakteristik hubungan UMKM di Kabupaten Sanggau juga akan dilihat dari sudut pandang : hubungan usaha mikro dengan UKM dan hubungan UMKM dengan berbagai instansi terkait.: Melalui gambar berikut dapat diidentifikasi bahwa UMKM yang bergerak di sektor pertanian dan perkebunan yaitu Lada dan Kakao memiliki karakteristik hubungan yang saling mengkait diantara mereka.mulai dari tingkat produsen (petani) sampai pada pemasaran hasil pertanian/perkebunan. Adapun bentuk dan karakteristik hubungan antara UMKM tersebut dapat dilihat pada gambar dibawah ini :

Gambar 5.4. Karakteristik UMKM sektor Pertanian dan Perkebunan di Kabupaten Sanggau

Gambar diatas menunjukkan UKM yang bergerak di sektor pertanian dan perkebunan memperoleh pasokan dari petani atau usaha mikro di masing masing lokasi. Masyarakat atau petani merupakan supply hasil pertanian dari perkebunan (Kakao dan Lada) yang di dipasarkan ke Sanggau, Malaysia dan daerah lainnya di Indonesia. Petani dan UKM di sini telah memiliki pangsa pasar yang jelas dan dengan dukungan infrastrukturnya, namun dalam kondisi ini yang banyak memperoleh manfaat dari alur distribusi yang telah tercipta adalah UKM karena mereka merupakan pedagang pengumpul, agan dan distriburor, sedangkan petani tetap memperoleh nilai tambah yang kecil.

Karakteristik hubungan UMKM dengan berbagai Instansi di Kabupaten Sanggau dapat dilihat dari jejaringan yang telah dibina selama ini dengan dinas-dinas terkait yang ada seperti : Kementrian atau Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi, dan/atau dengan berbagai asosiasi UMKM, lembaga perbankan, dan BUMN. Selain itu, UMKM Lada dan Kakao juga pernah berhubungan dengan Perguruan Tinggi dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Hubungan jejaringan yang telah dirintis baik atas inisiatif para petani sendiri maupun berdasarkan inisiatif instansi terkait telah memberikan manfaat antara lain: bantuan permodalan, pelatihan, magang, pendampingan, pameran, dan pemasaran. Aktivitas yang

dilakukan berbagai instansi dan LSM umumnya dimaksudkan untuk peningkatan efisiensi usaha dan peningkatan mutu produk dari kegiatan usaha yang dilakukan UMKM. Sayangnya fasilitasi yang dilakukan banyak yang tidak tuntas, misalnya masalah permodalan tidak mencukupi kebutuhan petani, pemasaran produk tidak dikordinir untuk ditindak lanjuti, berbagai bentuk pelatihan dalam peningkatan mutu dan efisiensi produk program tindak lanjut pasca pelatihan tidak dipikirkan, sehingga berbagai bentuk fasilitasi instansi terkait menjadi banyak yang mubazir. Bagaimana gambaran karateristik hubungan UMKM dengan instansi terkait di Kabupaten Sanggau digambarkan pada grafik berikut :

Grafik 5.11. Karakteristik hubungan UMKM dengan instansi terkait di Kabupaten Belu

Dari data diatas dapat diketahui bahwa instansi pemerintah (69%) masih merupakan institusi yang paling dominan dalam mendukung perkembangan UMKM di Kabupaten Sanggau. Pembinaan, pelatihan, bantuan perkuatan baik dalam bentuk phisik maupun pendanaan sangat dirasakan UKMK. Berbagai dinas terkait seperti pertanian, perternakan, koperasi dan UKM, perdagangan, perindustrian dan dinas-dinas lainnya setiap tahun mengalokasikan pendanaan dan melakukan pembinaan serta berbagai pelatihan dalam rangka pemberdayaan UKMK. Menurut pendapat UKMK peran lembaga perbankan (16 %) sudah mulai menunjukkan keberadaannya yang semakin baik dalam mendukung UKMK, diikuti asosiasi UMKM (12 %) dan BUMN (3%)

5.2. RANCANGAN MODEL PENINGKATAN PERAN KUMKM KAWASAN

Dokumen terkait