BAB 5 HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1.2. Potensi Daerah Potensial Kawasan Perbatasan
Potensi ekonomi yang dimaksud dalam kajian ini, terkait dengan produk potensial untuk dikembangkan KUMKM dalam suatu kawasan (desa atau kecamatan) dengan memanfaatkan sumberdaya alam dan sumberdaya manusia setempat, serta mendatangkan pendapatan bagi masyarakat sebagai pelaku usaha dan pemerintah, dimana produknya memiliki daya saing, berorientasi pasar dan ramah lingkungan, sehingga mempunyai keunggulan kompetitif dan bisa bersaing di pasar global. Komoditi potensial bisa juga disebut dengan produk unggulan kawasan perbatasan yang bisa dikembangkan masyarakat setempat dan mempunyai prosfek pasar yang bagus. Upaya pemberdayaan tentunya difokuskan pada pengoptimalan pengusahaan produk terutama yang banyak melibatkan stakeholder masyarakat. Untuk itu, perlu dilakukan inventarisasi dan deskripsi produk potensial khususnya di daerah sentra produksinya.
Dalam kajian ini penentuan produk potensial/unggulan dilakukan dengan 4 (empat) langkah yaitu : 1). berdasarkan persepsi stakeholder; 2). kalkulasi LQ melalui perbandingan PDRB masing-masing kabupaten dengan subsektor dominannya; 3) analisis AHP; dan 4) diuji melalui forum FGD. Langkah awal dilakukan terlebih dahulu pemilihan sejumlah komoditas yang volume/skala produksi aktualnya tertinggi (data sekunder). Tahap berikutnya mengidentifikasi produk unggulan daerah berdasarkan kontribusinya bagi pendapatan daerah. Alat ukur utama adalah dengan memperhatikan PDRB dan subsektor dominannya. Setelah teridentifikasi sebagai agregat dari produk potensial daerah maka bahan informasi ini kemudian didiskusi dengan stakeholder setempat melalui kegiatan FGD. Stakeholder daerah akan menyebutkan berbagai produk yang dianggap sebagai unggulan. Persepsi dan preferensi masing-masing.stakeholder juga dapat diminta untuk membandingkan keunggulan masing-masing produk tersebut. Menggunakan metode analisis lalu dirumuskan urutan produk unggulan daerah berdasarkan persepsi keunggulan stakeholder setempat. Karakteristik khas kawasan pedesaan seperti, keterbatasan infrastruktur, perilaku ekonomi lintas daerah, interaksi sosial lintas daerah, diperkirakan juga akan .mempengaruhi pola atau konsep pengembangan produk potensial/unggulan daerah.
(1) Potensi Daerah Kabupaten Belu
Sebagaimana telah disebutkan di atas bahwa penentuan potensi potensial atau potensi unggulan daerah dilakukan secara metodologi mengikuti 3 langkah dan terakhir diuji dan dilengkapi
berdasarkan diskusi terbatas pada lokasi kajian. Hasil dari pengujian berdasarkan langkah dimaksud dapat dikemukakan sebagai berikut :
(1.1) Penentuan Berdasarkan Persepsi Stakeholder
Persepsi stakeholder dilihat dari pendapat .dinas terkait, pelaku usaha, dan expert sebagai sampel. Sampel diambil dari kepala dinas yang mengetahui persis tentang kondisi daerah, pelaku usaha yang menggeluti bidang usaha potensial dan expert sebagai pengamat perkembangan ekonomi, pembangunan daerah dan pemuka masyarakat setempat. Pendapat stakeholder tentang potensi daerah Kabupaten Belu dapat dilihat pada grafik 5.3
Grafik 5.3. Potensi Daerah Potensial Kabupaten Belu berdasarkan persepsi stakeholders
Dari grafik diatas dapat dilihat bahwa potensi yang dianggap potensial untuk dikembangkan KUMKM berdasarkan persepsi stakeholders adalah peternakan dan pertanian. Hal ini dinyatakan oleh 50% jawaban responden untuk sektor peternakan, 43% untuk sektor pertanian dan 7% untuk sektor perdagangan umum.
(1.2) Penentuan Berdasarkan Perhitungan LO
Penghitungan LQ dalam analisis ini didasarkan atas data PDRB Kabupaten Belu dan Provinsi NTT Tahun 2008 atas dasar harga berlaku tahun 2000. Berikut ini. disajikan hasil penghitungan LQ untuk masing-masing sektor dalam perekonomian di Kabupaten Belu
Tabel 5-1. Penentuan potensi berdasarkan penghitungan LQ di Kabupaten Belu
SEKTOR KABUPATEN BELU HIT LQ
1. PERTANIAN / AGRICULTURE 1.38
a. Tanaman bahan makanan / farm food crops 1.89
b. Tanaman perkebunan / farm non food crops 0.37
c. Peternakan & hasil-hasilnya / livestock & products 1.24
d. Kehutanan / forestry 0.25
e. Perikanan / fishery 0.44
2. PERTAMBANGAN & PENGGALIAN 0.58
3. INDUSTRI PENGOLAHAN 0.56
4. LISTRIK, GAS,&AIR BERSIH 0.44
a. listrik / electricity 0.51
b. gas / gas
c. air bersih / water supply 0.23
5. BANGUNAN / CONSTRUCTIONS 0.61
6. PERDAGANGAN, RESTORAN, & HOTEL 0.67
1. Perdagangan besar & eceran / wholesail & retail trade 0.67
2. Perhotelan / hotels 0.17
3. Restoran, rumah makan / restaurants 0.95
7. PENGANGKUTAN & KOMUNIKASI 0.87
a. angkutan / transportation 0.89
1. Angkutan rel
2. Pengangkutan jalan raya / land transport 1.17
3. Pengangkutan laut / sea transport 0.42 4. Pengangkutan sungai, danau / inland water transport
5. Pengangkutan udara / air transport 0.23 6. Jasa penunjang angkutan /service allied to transport 0.63
b. komunikasi / communications 0.41
8. KEUANGAN, PERSEWAAN & JASA PERUSAHAAN 0.99
a. bank / bank 1.29
b. lembaga keuangan non bank 0.73 c. jasa penunjang keuangan
d. sewa bangunan /building rental 0.77 e. jasa perusahaan / bussines service 0.27
9. JASA - JASA / SERVICE 0.86
a. pemerintahan umum / government 0.87
SEKTOR KABUPATEN BELU HIT LQ
1. sosial kemasyarakatan / social & community services 0.62 2. hiburan & rekreasi / amusement & recreation services 1.51 3. perorangan & RT / personal & household services 0.98
Dari hasil perhitungan, tampak hanya ada tiga sektor kegiatan pembangunan yang memiliki nilai Iebih besar dari 1 (satu) yaitu sektor pertanian (1.38), sektor pengangkutan dan komunikasi (1.17), serta sektor keuangan dan perbankan (1.29). Artinya masing-masing sektor tersebut selain mampu memenuhi kebutuhan masyarakat di Kabupaten Belu juga memiliki peluang untuk memenuhi kebutuhan wilayah lainnya.
(1.3) Penentuan potensi berdasarkan Analisis AHP
Penghitungan potensi unggulan dengan menggunakan analisis AHP didasarkan pada hasil hitungan LQ yang didasarkan pada persepsi stakeholder daerah mulai dari dinas terkait, pelaku usaha, tokoh masyarakat dan expert. Untuk skema penghitungan AHP dapat digambarkan sebagai berikut :
Gambar 5.1. Skema penghitungan AHP di Kabupaten Belu
Pada gambar 5.1. di atas menunjukkan stuktur hirarki dari kasus permasalahan yang ingin diteliti yakni pemilihan alternative potensi potensial/unggulan daerah dengan menggunakan kriteria bahan baku, pangsa pasar, SDM, pelaku usaha, pelayanan, dan nilai ekonomis. Kriteria tersebut merupakan dasar pertimbangan dalam penentuan alternative potensi potensial/unggulan daerah
yang bisa dikembangkan KUMKM. Penetapan kriteria yang berpengaruh didasarkan atas berbagai studi sebelumnya. Garis-garis yang menghubungkan kotak-kotak antar level merupakan hubungan yang perlu diukur dengan perbandingan berpasangan dengan arah ke level yang lebih tinggi. Adapun penghitungan analisis AHP dengan menggunakan bantuan software expert choicedapat dilihat pada gambar berikut :
Grafik 5.4. Penghitungan Potensi unggulan menggunakan Expert Choice di Kabupaten Belu
Pada grafik 5.4 dapat dilihat bahwa berdasarkan justifikasi Tim terhadap potensi unggulan di Kabupaten Belu dapat disimpulkan bahwa potensi peternakan yaitu Sapi merupakan potensi yang dianggap prioritas dan unggulan dengan nilai 43.2 %, sedangkan alternative kedua yaitu potensi jagung merupakan potensi pertanian yang juga diunggulkan dengan nilai sebesar 30.3%, sedangkan sisanya adalah angkutan darat dengan bobot nilai 14.4%, jasa perbankan dengan bobot nilai 12%. Kesemuanya diproses berdasarkan pada criteria bahan baku, pangsa pasar, SDM, pelaku usaha, pelayanan, dan nilai ekonomis. Dalam hal ini dapat disimpulkan bahwa potensi prioritas atau unggulan untuk dikelola masyarakat atau KUMKM di Kabupaten
Belu adalah sapi dan jagung. Kedua komoditi tersebut merupakan potensi potensial yang harus diperhatikan untuk dikembangkan KUMKM.
(2) Potensi Daerah Kabupaten Sanggau
Sebagaimana pengujian yang dilakukan di Kabupaten Belu, maka untuk melihat potensi potensial di Kabupaten Sanggau dilakukan dengan langkah yang sama. Pertama dilakukan berdasarkan persepsi stakeholder, bardasarkan perhitungan/kalkulasi LQ, berdasarkan analisis AHP dan kemudian diuji dan dilengkapi berdasarkan diskusi terbatas pada lokasi kajian. Hasil dari pengujian yang telah dilakukan dapat dikemukakan sebagai berikut :
(2.1) Penentuan Berdasarkan Persepsi Stakeholder
Penentuan potensi potensial atau unggulan Kabupaten Sanggau yang dilakukan dengan pendapat stakeholders daerah, dapat dilihat pada grafik berikut :
Grafik 5.5. Penentuan Potensi Unggulan Kabupaten Sanggau berdasarkan persepsi stakeholders
Dari grafik diatas dapat dilihat bahwa potensi yang dianggap unggulan berdasarkan persepsi stakeholders adalah peternakan dan pertanian, hal ini dinyatakan 46% responden (dinas terkait, pelaku usaha, expert ), pada sisi lain 46% responden juga menyatakan bahwa potensi potensial/unggulan di Kabupaten Sanggau adalah perdagangan umum dan hanya 7 %
potensi potensial/unggulan tersebut dapat dilihat bahwa potensi UMKM pertanian dan UMKM perdagangan di Kabupaten Sanggau dinilai responden berimbang sebagai potensi potensial yang bisa dikembangkan KUMKM mengingat kedua sektor tersebut .pada lokasi kawasan perbatasan sudah terbentuk pola usaha yang mulai berkembang yang selama ini telah digeluti masyarakat setempat.
(2.2) Penentuan Potensi Berdasarkan Penghitungan LQ
Dalam menentukan potensi potensial/unggulan Kabupaten Sanggau yang dilakukan dengan menggunakan penghitungan LQ hasilnya dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 5-2. Penentuan potensi berdasarkan penghitungan LQ di KabupatenSanggau
SEKTOR KABUPATEN SANGGAU HIT LQ
1. PERTANIAN / AGRICULTURE 1.41
a. tanaman bahan makanan / farm food crops 0.77 b. tanaman perkebunan / farm non food crops 2.63 c. peternakan & hasil-hasilnya / livestock & products 0.79
d. kehutanan / forestry 1.24
e. perikanan / fishery 0.29
2. PERTAMBANGAN & PENGGALIAN 0.82 a. Minyak dan gas bumi
b. pertambangan tanpa migas 1.19
c. penggalian 0.58
3. INDUSTRI PENGOLAHAN 1.40
4. LISTRIK, GAS,&AIR BERSIH 0.71
a. listrik / electricity 0.82
b. gas / gas
c. air bersih / water supply 0.45
5. BANGUNAN / CONSTRUCTIONS 0.54
6. PERDAGANGAN, RESTORAN, & HOTEL 0.82 a. perdagangan besar & eceran / wholesail & retail trade 0.83
b. perhotelan / hotels 0.64
c. restoran, rumah makan / restaurants 0.59 7. PENGANGKUTAN & KOMUNIKASI 0.31
SEKTOR KABUPATEN SANGGAU HIT LQ
1. angkutan rel2. pengangkutan jalan raya / land transport 0.89
3. pengangkutan laut / sea transport N/A
4. pengangkutan sungai, danau / inland water transport
5. pengangkutan udara / air transport N/A
6. Jasa penunjang angkutan /service allied to transport 0.07 b. komunikasi / communications 0.29 8. KEUANGAN, PERSEWAAN & JASA PERUSAHAAN 0.59
a. bank / bank 0.29
b. lembaga keuangan non bank 0.19
c. jasa penunjang keuangan
d. sewa bangunan /building rental 1.01
e. jasa perusahaan / bussines service 0.12
9. JASA - JASA / SERVICE 0.74
a. pemerintahan umum / government 0.74
1. adm pemerintahan dan pertahanan 0.95
2. jasa pemerintahan 0.17
b. swasta / private 0.61
1. sosial kemasyarakatan / social & community services 1.30
2. hiburan & rekreasi / amusement & recreation services 0.36 3. perorangan & RT / personal & household services 0.24
Berdasarkan hasil perhitungan yang telah dilakukan terdapat beberapa sektor kegiatan pembangunan yang perlu mendapat perhatian dan pengembangan yaitu sektor pertanian, (1.41) pertambangan, sektor keuangan dan perbankan memiliki nilai Iebih besar dari 1 (satu) yang berarti bahwa masing-masing sektor tersebut selain mampu memenuhi kebutuhan masyarakat di Kabupaten Sanggau Juga memiliki peluang untuk memenuhi kebutuhan wilayah lainnya.
(2.3) Penentuan Potensi Berdasarkan Analisis AHP
Penghitungan potensi potensial/unggulan Kabupaten Sanggau dengan menggunakan analisis AHP dilakukan berdasarkan hasil perhitungan LQ, persepsi stakeholder daerah mulai dari dinas
terkait, pelaku usaha dan expert. Skema penghitungan AHP dapat dilihat pada gambar dibawah ini :
Gambar 5.2. Skema penghitungan AHP di Kabupaten Sanggau
Gambar 5.2. menunjukkan stuktur hirarki dari kasus permasalahan yang ingin diteliti yakni pemilihan alternative potensi potensial/unggulan dengan menggunakan kriteria bahan baku, pangsa pasar, SDM, pelaku usaha, pelayanan, dan nilai ekonomis. Kriteria tersebut menjadi dasar pertimbangan dalam penentuan alternative potensi potensial/unggulan di Kabupaten Sanggau. Penetapan faktor-faktor yang berpengaruh juga didasarkan atas berbagai studi sebelumnya. Garis-garis yang menghubungkan kotak-kotak antar level merupakan hubungan yang perlu diukur dengan perbandingan berpasangan dengan arah ke level yang lebih tinggi. Adapun penghitungan analisis AHP dengan menggunakan bantuan software expert choicedapat dilihat pada gambar :
Grafik 5.6. Penghitungan Potensi unggulan Kabupaten Sanggau menggunakan Expert Choice
Pada grafik 5.6 hasil perhitungan menunjukkan potensi potensial/unggulan di Kabupaten Sanggau yang perlu mendapat prioritas untuk ditangani adalah komoditi lada dengan nilai 38.5 %, sedangkan alternative kedua adalah komoditi kakao dengan nilai exper choice sebesar 30.3%, berikutnya pertambangan tanpa migas dengan bobot nilai 12%, sewa bangunan dengan bobot nilai 9.7% dan jasa sosial kemasyarakatan dengan bobot nilai sebesar 9.5 %.
Dalam hal ini justifikasi Tim menyimpulkan bahwa potensi prioritas/unggulan untuk ditangani KUMKM dalam pemberdayaan pembangunan masyarakat kawasan perbatasan Kabupaten Sanggau adalah Lada dan Kakao. Kedua komoditi tersebut merupakan potensi yang harus diperhatikan pemangku kepentingan dan pihak-pihak terkait untuk dikembangkan dalam rangka pemberdayaan masyarakat Kabupaten Sanggau.