• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kontribusi Jasa pada Ekspor Barang indonesia

Dalam dokumen Pentingnya Jasa dalam Perdagangan Indonesia (Halaman 32-46)

Indonesia

Munculnya rantai nilai global telah mengubah cara kita berpikir dan berbicara tentang perdagangan internasional. Seperti disampaikan dalam Bab 1, meskipun ekspor barang masih mendominasi gambaran perdagangan Indonesia, jasa memainkan peran yang jauh lebih penting dalam ekspor Indonesia daripada yang ditunjukkan oleh statistik konvensional. Bagian jasa dalam ekspor Indonesia lebih dari dua kali lipat saat ukuran nilai tambah perdagangan digunakan. Bab ini membawa analisis itu selangkah lebih maju dan menguraikan kontribusi yang diberikan jasa pada ekspor barang Indonesia, dengan dasar pemikiran bahwa nilai jasa yang terkandung dalam ekspor barang cukup besar dan kebanyakan diabaikan. Sayangnya, ekspor barang Indonesia mengandung porsi jasa yang di bawah rata-rata dibandingkan dengan ekspor beberapa negara sejawat. Temuan ini berlaku untuk semua ekspor barang utama Indonesia.

Bagaimana Jasa Terkandung dalam Ekspor Barang?

Jasa berperan dalam membuat dan mendukung barang di sepanjang proses produksi di setiap tahap:

pengembangan, pengolahan, distribusi, dan penjualan/purnajual. (Lihat Ekshibit 3.) Sebagian besar ekspor barang tidak dapat dilakukan jika tidak didukung oleh kegiatan jasa. Misalnya, dalam pembuatan pakaian di industri garmen Indonesia, kita dapat melihat bahwa aktivitas jasa terlibat mulai dari awal sampai akhir rantai produksi. Pada tahap awal, riset dilakukan mengenai preferensi konsumen dan desain kemudian dikembangkan. Pada tahap selanjutnya, layanan pembelian dapat digunakan untuk membeli kain dan barang input lainnya, dan aktivitas seperti menjahit dan membuat pakaian mungkin dialihdayakan. Di tahap distribusi, jasa yang terlibat meliputi pergudangan dan transportasi dari lokasi produksi ke gerai.

Layanan yang terlibat dalam tahap akhir meliputi pemasaran dan layanan pelanggan.

EKSHIBIT 3: BEBERAPA CARA JASA TERKANDUNG DALAM BARANG

PENJUALAN DISTRIBUSI

PENGOLAHAN PENGEMBANGAN

Jasa penyokong dan pendukung: manajemen proses, telekomunikasi, teknologi informasi, akuntansi, pembiayaan, logistik, legal, real estat, sewa.

Litbang

Hak atas kekayaan intelektual

Desain

Pembelian

Transportasi dan penyimpanan

Sumber: The Conference Board of Canada, diadaptasi dari National Board of Trade, Servisifikasi Manufaktur Swedia.

Pentingnya Jasa dalam Perdagangan Indonesia 29 Oleh karena itu, tidak mengherankan jika jasa sering disebut “lem” yang merekatkan GVC dan memungkinkannya beroperasi secara efisien. Jasa dapat membuat barang lebih kompetitif dan perusahaan yang memproduksi barang tersebut lebih menguntungkan dengan beberapa cara. (Lihat Ekshibit 4.) Misalnya, produsen kopi di Sumatera yang menciptakan paket merek yang unik membedakan dan meningkatkan kopinya dari produk negara pesaing. Contoh lain adalah produsen komponen Indonesia yang memasukkan layanan purnajual—perawatan dan perbaikan—dalam harga barangnya.

Fitur tambahan ini tidak hanya memungkinkan perusahaan untuk tetap berhubungan dengan pelanggan, tetapi juga menempatkan perusahaan pada urutan pertama saat komponen tersebut perlu diganti atau ditingkatkan versinya. Sebuah laporan oleh Deloitte Research mencatat bahwa, bagi banyak produsen terbesar di dunia, layanan purnajual lebih menguntungkan daripada barang itu sendiri.14

EKSHIBIT 4: BAGAIMANA JASA DAPAT MEMBUAT BARANG LEBIH KOMPETITIF DAN MENGUNTUNGKAN PELAYANAN JASA DAPAT MEMBERI NILAI TAMBAH TERHADAP BARANG MELALUI...

Sumber: Palladini.

Pada tahun 2011, tahun terbaru data TiVA, jasa yang terkandung dalam barang menyumbangkan 14%

dari ekspor barang Indonesia. (Lihat Bagan 31.) Angka ini lebih rendah daripada tahun 2000 dan terutama disebabkan oleh lambatnya pertumbuhan jasa yang terkandung dalam tiga sektor manufaktur: bahan kimia dan produk kimia; peralatan komputer, elektronik, dan optik; serta kokas, produk minyak bumi murni, dan bahan bakar nuklir.

14 Koudal, The Service Revolution, 5.

BAGAN 31: PORSI INDONESIA UNTUK JASA YANG TERKANDUNG DALAM EKSPOR BARANG TELAH MENURUN

(jasa bernilai tambah, persen)

Sumber: Basis data OECD-WTO TiVA.

Walaupun kontribusi jasa pada ekspor barang Indonesia sedikit meningkat di tahun 2011, porsi ini jauh lebih rendah daripada negara-negara sejawat. (Lihat Bagan 32.) Singapura, sebesar 43%, memiliki porsi tertinggi, diikuti oleh Kamboja dan India. Negara sejawat terdekat dengan Indonesia adalah Vietnam, tetapi porsinya untuk jasa yang terkandung dalam ekspor barang hampir dua kali lipat dari Indonesia.

BAGAN 32: PORSI INDONESIA UNTUK JASA YANG TERKANDUNG DALAM EKSPOR BARANG LEBIH RENDAH DARIPADA NEGARA-NEGARA SEJAWATNYA

(jasa bernilai tambah yang terkandung dalam ekspor bruto menurut asal, 2011, persen)

Singapura Kamboja India Tiongkok Malaysia Thailand Filipina Vietnam Indonesia 50

40 30 20 10

Sumber: Basis data OECD-WTO TiVA.

Apakah Indonesia Memanfaatkan Rantai Pasok Global dalam Jasa?

Untuk lebih memahami kinerja Indonesia dibandingkan dengan negara-negara sejawat, porsi jasa yang terkandung dalam ekspor barang yang ditunjukkan pada Bagan 32 dibagi menjadi dua komponen pada Bagan 33. Komponen pertama adalah porsi jasa domestik yang terkandung dalam ekspor barang.

Contohnya adalah produsen tekstil Indonesia yang membeli desain kain dari perusahaan desain Indonesia.

Komponen kedua adalah porsi jasa asing yang terkandung dalam ekspor barang di sepanjang rantai pasok global. Contohnya adalah produsen tekstil Indonesia yang membeli desain kain dari perusahaan desain Jerman. Contoh sederhana ini menggambarkan fakta bahwa penyedia jasa di setiap negara menghadapi persaingan dari perusahaan asing yang juga dapat memasok jasa tersebut.

 19,0 2000

 17,3 2005

 14,7 2008

 13,9 2009

 13,8 2010

 14,0 2011 2000 2005 2008 2009 2010 2011

Pentingnya Jasa dalam Perdagangan Indonesia 31 BAGAN 33: EKSPOR BARANG INDONESIA MENGANDUNG JASA DOMESTIK DAN ASING

(porsi jasa bernilai tambah domestik dan asing yang terkandung dalam ekspor barang, 2011, persen)

Singapura Kamboja India Tiongkok Malaysia Thailand Filipina Vietnam Indonesia

 Dalam Negeri

 Asing 50

40 30 20 10

Sumber: Basis data OECD-WTO TiVA.

Melihat porsi asing yang terkandung dalam ekspor barang sebagai hal yang “buruk” dan porsi domestik sebagai sesuatu yang “baik” terbukti sudah usang. Jasa impor dapat membantu meningkatkan daya saing ekspor suatu negara. Kesimpulan ini didasarkan pada teori rantai pasok global di mana negara mengimpor barang atau jasa yang tidak memiliki keunggulan komparatif. Memanfaatkan input jasa yang paling efisien dan hemat biaya, tidak peduli di mana mereka berada, merupakan hal yang masuk akal secara bisnis.

Sebuah penelitian gabungan yang baru-baru ini dilakukan OECD, WTO, dan Bank Dunia menyatakan bahwa GVC sangat penting untuk meningkatkan daya saing negara-negara berkembang:

GVC sangat penting bagi negara berkembang, dan metafora terbaik yang seharusnya digunakan bukan rantai melainkan tangga. Pemisahan produksi ke tahap terpisah memungkinkan perusahaan untuk tidak hanya menemukan tempatnya di tangga itu, tetapi juga menaiki anak tangga seiring meningkatnya kemampuan. GVC mendorong kemajuan tersebut dengan memberikan penghargaan untuk keterampilan, pembelajaran, dan inovasi. Mengatasi hambatan untuk partisipasi GVC dapat memberikan manfaat besar; negara berkembang dengan pertumbuhan partisipasi GVC tercepat memiliki tingkat pertumbuhan PDB per kapita 2% di atas rata-rata.15

Selain itu, diperlukan sikap terbuka bagi penyedia jasa asing agar Indonesia dapat membuat jasa terkandung dalam ekspor barang negara lain. Pada tahun 2011, barang yang diekspor dari negara lain mengandung jasa bernilai tambah sebesar US$13 miliar dari Indonesia. Tiongkok adalah pengguna jasa Indonesia yang terbesar, diikuti oleh Korea dan Malaysia. (Lihat Bagan 34.) Sebanyak 22% dari total jasa Indonesia yang terkandung dalam ekspor barang asing ada di dalam ekspor Tiongkok, 12% terkandung dalam ekspor Korea, dan 10% dalam ekspor Malaysia.

15 OECD, WTO, dan World Bank Group, Global Value Chains, 18.

BAGAN 34: NEGARA-NEGARA LAIN MEMUAT JASA INDONESIA DALAM EKSPOR BARANG MEREKA (porsi jasa Indonesia yang terkandung dalam ekspor barang asing, 2011, persen)

Sumber: Basis data OECD-WTO TiVA.

Dibandingkan dengan negara-negara sejawat, porsi jasa domestik Indonesia yang terkandung dalam ekspor barangnya lebih rendah daripada semua negara, kecuali Kamboja dan Vietnam. Porsi terbesar dimiliki India, di mana hampir 20% dari nilai tambah ekspor barang dipasok oleh penyedia jasa domestik.

Sebaliknya, hanya 9% dari nilai tambah ekspor barang Indonesia yang dipasok oleh penyedia jasa Indonesia.

Di antara negara-negara sejawat, Indonesia sejauh ini memiliki porsi terkecil untuk jasa asing yang terkandung dalam ekspor barang—hanya 4,8%. Kamboja, dengan 27% jasa asing yang terkandung dalam ekspor barangnya, memiliki porsi terbesar. Sebagian besar jasa asing mencerminkan tingginya integrasi dalam rantai nilai global atau regional. Porsi jasa asing dalam ekspor barang biasanya lebih besar di negara-negara berpenghasilan tinggi. Di enam negara-negara sejawat, porsi jasa asing dalam ekspor barang lebih besar daripada porsi jasa domestik. Indonesia, India, dan Filipina adalah tiga negara sejawat di mana porsi jasa asing dalam ekspor barang lebih kecil daripada porsi jasa domestik.

Salah satu penjelasan untuk rendahnya porsi jasa asing dalam ekspor barang Indonesia adalah karena negara-negara dengan pangsa ekspor komoditas primer yang besar cenderung memiliki kandungan jasa asing yang lebih rendah dalam ekspor mereka. Dengan 44% ekspornya berasal dari sektor pertambangan dan 28% dari pertanian, perburuan, kehutanan, dan perikanan,16 ekspor Indonesia sebagian besar berbasis sumber daya. Hanya 1,4% jasa asing yang terkandung dalam ekspor dari sektor pertambangan Indonesia dan 2,4% dari sektor pertanian Indonesia. (Lihat Bagan 35.)

16 Sektor pertanian, perburuan, kehutanan, dan perikanan akan disebut pertanian untuk singkatnya.

 22 Tiongkok

 12 Korea

 10 Malaysia

 7 Jepang

 6 Thailand

 6 Tiongkok Taipei

 5 Singapura

 4 AS

 3 India

 25 Negara-negara lain di dunia

Pentingnya Jasa dalam Perdagangan Indonesia 33 BAGAN 35: PORSI INDONESIA UNTUK JASA YANG TERKANDUNG DALAM EKSPOR PALING

RENDAH DALAM PERTAMBANGAN

(jasa bernilai tambah yang terkandung dalam ekspor sektoral, 2011, persen)

13,5 7,2

Pertanian, berburu, kehutanan, dan perikanan Pertambangan

Sumber: Basis data OECD-WTO TiVA.

Sementara porsi jasa yang terkandung dalam ekspor manufaktur Indonesia (20,7%) lebih besar daripada porsi di bidang pertanian (8%) dan pertambangan (4,6%), porsinya lebih kecil daripada porsi masing-masing dari negara sejawatnya. (Lihat Bagan 36.)

BAGAN 36: PORSI INDONESIA UNTUK JASA YANG TERKANDUNG DALAM EKSPOR MANUFAKTUR TERENDAH DI ANTARA NEGARA-NEGARA SEJAWATNYA

(jasa bernilai tambah yang terkandung dalam ekspor manufaktur, 2011, persen)

Singapura Kamboja India Malaysia Tiongkok Thailand Vietnam Filipina Indonesia

 Dalam Negeri

Sumber: Basis data OECD-WTO TiVA.

Selain itu, dibandingkan dengan negara-negara berpenghasilan tinggi, porsi jasa di sebagian besar negara sejawat rendah. Sebuah penelitian yang baru-baru ini dilakukan oleh Lanz dan Maurer untuk WTO mencapai kesimpulan serupa—pertambahan nilai jasa menyumbangkan hampir 33% ekspor manufaktur di negara maju, tetapi hanya 26% di negara-negara berkembang. Selain itu, porsi tersebut meningkat seiring berjalannya waktu di negara maju, tetapi tetap stabil atau menurun di negara-negara berkembang.17 Salah satu alasannya adalah, di Indonesia dan negara berkembang lainnya, sektor manufaktur didominasi oleh industri padat karya dengan rantai pasok yang relatif pendek. Akibatnya, penciptaan nilai tambah juga tergolong kecil dan tidak terlalu mengandalkan jasa.

17 Lanz dan Maurer, Services and Global Value Chains, 9.

Subindustri Manufaktur Indonesia Mana yang Mengandung Jasa Paling Banyak?

Memecah keseluruhan data manufaktur menjadi 16 subindustri manufaktur menunjukkan bahwa porsi jasa yang terkandung dalam ekspor sangat bervariasi. (Lihat Bagan 37.) Porsi ini paling tinggi pada komputer dan elektronik, dan paling endah pada kokas, minyak bumi murni, dan bahan bakar nuklir. Tidak mengherankan, subindustri manufaktur yang terkait dengan pertambangan memiliki porsi yang rendah untuk jasa yang terkandung dalam ekspornya. Porsi asing untuk jasa dalam ekspor paling tinggi ada di subsektor mesin dan peralatan (tidak diklasifikasikan dalam pos lain), diikuti oleh komputer dan subindustri elektronik.

BAGAN 37: PORSI INDONESIA UNTUK JASA YANG TERKANDUNG DALAM EKSPOR BARANG BERVARIASI MENURUT SUBINDUSTRI MANUFAKTUR

(jasa bernilai tambah yang terkandung dalam ekspor manufaktur, 2011, persen)

4,0 1,9

Sumber: Basis data OECD-WTO TiVA.

 Asing

 Dalam Negeri

Logam dasar Produk mineral non-logam lainnya Produk makanan, minuman, dan tembakau Bahan kimia dan produk kimia Alat transportasi lainnya Kayu dan produk kayu serta gabus Kendaraan bermotor, trailer, dan semi-trailer Produk logam olahan Manufaktur yang belum tercakup dalam pos lainny

(nec); daur ulang Pulp, kertas, produk kertas, percetakan, dan penerbitan

Tekstil, produk tekstil, kulit, dan alas kaki Mesin dan aparatus listrik, nec Produk karet dan plastik Mesin dan peralatan, nec Komputer, peralatan elektronik dan optik Kokas, produk minyak bumi murni, dan bahan bakar

nuklir

Pentingnya Jasa dalam Perdagangan Indonesia 35

Apakah Indonesia Bisa Tetap Bersaing dengan Negara-Negara Sejawat dalam Sektor Ekspor Manufaktur Utama?

Tidak semua dari ke-16 subindustri manufaktur Indonesia yang ditunjukkan di Bagan 37 merupakan eksportir besar. Untuk mengevaluasi bagaimana perbandingan Indonesia dengan negara-negara sejawat di subindustri ekspor utama, data nilai tambah dari basis dataTiVA digunakan untuk menentukan peringkat subindustri tersebut. Lima subindustri ekspor manufaktur Indonesia teratas pada tahun 2011 adalah:

1. produk makanan, minuman, dan tembakau;

2. logam dasar;

3. bahan kimia dan produk kimia;

4. tekstil, produk tekstil, kulit, dan alas kaki;

5. komputer, elektronik, dan peralatan optik.

Di empat dari lima subindustri, porsi jasa Indonesia yang terkandung dalam ekspor merupakan yang terendah atau terendah kedua, dibandingkan dengan negara-negara sejawat. Dalam kasus subindustri komputer dan elektronik, Indonesia berada di posisi ketiga terendah. (Lihat Bagan 38 sampai 42.) Dari sisi kontribusi jasa asing, Indonesia juga memiliki porsi terendah atau terendah kedua di lima subindustri.

Temuan ini menunjukkan bahwa, dibandingkan dengan negara-negara sejawat, industri ekspor manufaktur terbesar di Indonesia relatif terisolasi dari rantai pasok jasa global.

BAGAN 38: PORSI INDONESIA UNTUK JASA ASING YANG TERKANDUNG DALAM EKSPOR INDUSTRI MAKANAN RENDAH

(jasa bernilai tambah yang terkandung dalam ekspor industri makanan, 2011, persen)

Singapura India Malaysia Tiongkok Thailand Vietnam Filipina Indonesia Kamboja

 Dalam Negeri

 Asing 50

40 30 20 10

Sumber: Basis data OECD-WTO TiVA.

BAGAN 39: PORSI INDONESIA UNTUK JASA YANG TERKANDUNG DALAM EKSPOR INDUSTRI LOGAM DASAR TERENDAH DI ANTARA NEGARA-NEGARA SEJAWAT

(jasa bernilai tambah yang terkandung dalam ekspor industri logam dasar, 2011, persen)

Malaysia Thailand Vietnam Singapura India Tiongkok Kamboja Filipina Indonesia

 Dalam Negeri

 Asing 30

25 20 15 10 5 0

Sumber: Basis data OECD-WTO TiVA.

BAGAN 40: PORSI INDONESIA UNTUK JASA YANG TERKANDUNG DALAM EKSPOR INDUSTRI BAHAN KIMIA TERENDAH DI ANTARA NEGARA-NEGARA SEJAWAT

(jasa bernilai tambah yang terkandung dalam ekspor industri bahan kimia, 2011, persen)

Singapura Kamboja India Tiongkok Vietnam Malaysia Thailand Filipina Indonesia

 Dalam Negeri

 Asing 50

40 30 20 10

Sumber: Basis data OECD-WTO TiVA.

Pentingnya Jasa dalam Perdagangan Indonesia 37 BAGAN 41: PORSI INDONESIA UNTUK JASA YANG TERKANDUNG DALAM EKSPOR INDUSTRI

TEKSTIL DAN ALAS KAKI RENDAH

(porsi jasa bernilai tambah yang terkandung dalam ekspor industri tekstil dan alas kaki, 2011, persen)

Singapura India Malaysia Kamboja Vietnam Tiongkok Thailand Indonesia Filipina

 Dalam Negeri

Sumber: Basis data OECD-WTO TiVA.

BAGAN 42: PORSI INDONESIA UNTUK JASA YANG TERKANDUNG DALAM EKSPOR INDUSTRI KOMPUTER DAN ELEKTRONIK RENDAH

(porsi jasa bernilai tambah yang terkandung dalam ekspor industri komputer dan elektronik, 2011, persen)

Singapura Thailand India Malaysia Vietnam Tiongkok Indonesia Filipina Kamboja

 Dalam Negeri

Sumber: Basis data OECD-WTO TiVA.

Apa Sektor Jasa Terbesar yang Terkandung dalam Ekspor Manufaktur?

Bagan 2.5 menunjukkan bahwa hampir 21% dari nilai ekspor manufaktur Indonesia dapat dikaitkan dengan jasa yang terkandung dalam barang-barang manufaktur tersebut. Banyak jenis jasa yang menyumbangkan kontribusi pada nilai 21% tersebut. Dua jasa terbesar yang terkandung dalam ekspor manufaktur terkait dengan distribusi: grosir dan ritel (9%) serta transportasi dan penyimpanan (3%). (Lihat Bagan 43.) Jasa keuangan menyumbangkan 2% dan 12 jasa lainnya bersama-sama menyumbangkan 7% dari total nilai ekspor barang-barang manufaktur.

BAGAN 43: BANYAK JENIS JASA YANG TERKANDUNG DALAM EKSPOR MANUFAKTUR (porsi jasa bernilai tambah yang terkandung dalam ekspor industri barang manufaktur, 2011, persen)

 79 Barang

 21 Jasa

Sumber: Basis data OECD-WTO TiVA.

Pentingnya jasa distribusi tidaklah mengherankan, mengingat ukuran geografis negara ini. Indonesia adalah negara kepulauan yang memiliki lebih dari 13.000 pulau, membentang sejauh 5.120 km dari timur ke barat dan 1.760 km dari utara ke selatan.

Meskipun umumnya memiliki aktivitas bernilai tambah lebih rendah dibandingkan dengan kegiatan lain di sepanjang rantai produksi (lihat “kurva senyum” di Bab 1), jasa distribusi masih memiliki arti penting bagi daya saing ekspor Indonesia. Bila dilakukan dengan efisien, jasa grosir dan transportasi dapat menurunkan keseluruhan biaya bagi eksportir Indonesia dan membuat ekspor barang Indonesia lebih diminati dan bersaing bagi pembeli asing.

Bagaimana Perbandingan Indonesia dengan Negara-Negara Sejawat untuk Jasa Bernilai Tinggi?

Jasa bernilai tinggi penting untuk daya saing suatu negara.18 Sayangnya, ekspor manufaktur Indonesia mengandung porsi yang lebih kecil dari jasa bernilai tinggi dibanding ekspor dari negara-negara sejawat.

(Lihat Bagan 44.) Jasa bernilai tinggi mewakili kurang dari 2% dari nilai tambah Indonesia dalam ekspor manufaktur.

18 Dengan menggunakan database TiVA, jasa bernilai tinggi ditetapkan sebagai: 1) komputer dan kegiatan terkait, serta 2) litbang dan kegiatan usaha lainnya.

 9 Grosir dan ritel

 3 Transportasi

 2 Keuangan

 7 Jasa lainnya

Pentingnya Jasa dalam Perdagangan Indonesia 39 BAGAN 44: INDONESIA MEMILIKI PORSI TERENDAH UNTUK JASA BERNILAI TINGGI YANG

TERKANDUNG DALAM EKSPOR MANUFAKTUR DI ANTARA NEGARA-NEGARA SEJAWAT (2011, persen)

Singapura Tiongkok Malaysia India Thailand Vietnam Kamboja Filipina Indonesia 10

8 6 4 2

Sumber: Basis data OECD-WTO TiVA.

Indonesia memiliki porsi terendah untuk jasa bernilai tinggi yang terkandung dalam ekspor manufaktur di semua subindustri manufaktur. Perusahaan-perusahaan di Indonesia tertinggal jauh dari rata-rata rekan sejawatnya di industri pulp, kertas, produk kertas, percetakan, dan subindustri penerbitan dan paling dekat dengan rata-rata rekan sejawatnya di subindustri produk logam olahan. (Lihat Tabel 1.)

TABEL 1: PORSI JASA BERNILAI TINGGI YANG TERKANDUNG DALAM EKSPOR MANUFAKTUR DI INDONESIA

(Indonesia dibandingkan rata-rata tertimbang negara sejawat, 2011, persen) SUBINDUSTRI

Produk logam olahan 2,8 3,9 -1,1

Kayu dan produk kayu serta gabus

1,3 2,6 -1,2

Komputer, peralatan elektronik dan optik

4,3 5,7 -1,5

Mesin dan aparatus listrik , nec 3,7 5,3 -1,6 Produk makanan, minuman,

dan tembakau

0,9 2,6 -1,7

Tekstil, produk tekstil, kulit, dan alas kaki

1,6 3,3 -1,7

Produk mineral non-logam lainnya

1,2 3,0 -1,8

Manufaktur nec; daur ulang 1,7 3,6 -1,9

Alat transportasi lainnya 3,0 4,9 -1,9

Mesin dan peralatan, nec 3,2 5,2 -2,0

Logam dasar 1,2 3,2 -2,1

Kendaraan bermotor, trailer, dan semi-trailer

2,6 4,7 -2,1

Kokas, produk minyak bumi murni, dan bahan bakar nuklir

0,3 2,4 -2,1

Produk karet dan plastik 1,6 4,0 -2,4

Bahan kimia dan produk kimia 1,3 4,4 -3,2

Terjauh dari Rata-Rata Sejawat

Pulp, kertas, produk kertas, percetakan, dan penerbitan

1,9 5,6 -3,7

Sumber: Basis data OECD-WTO TiVA.

Sebagian besar negara sejawat juga memiliki porsi yang relatif rendah untuk jasa bernilai tinggi jika dibandingkan dengan negara-negara berpenghasilan tinggi. Misalnya, porsi rata-rata jasa bernilai tinggi di bidang manufaktur di negara-negara UE15 adalah 11,5%. Sebuah penelitian tahun 2013 oleh OECD menjelaskan bahwa tingkat pembangunan suatu negara akan memengaruhi ukuran porsi jasa bernilai

Pentingnya Jasa dalam Perdagangan Indonesia 41 tinggi yang terkandung dalam ekspor.19 Negara dengan industri teknologi tinggi besar cenderung memiliki porsi lebih besar. Namun, jasa bernilai tinggi dapat berperan dalam membantu negara menapak naik dalam rantai nilai dengan membedakan produk mereka dari pesaing dan memungkinkan mereka mengenakan harga yang lebih tinggi.

Apa Implikasi Temuan yang Ada?

Barang dan jasa terkait secara integral

Statistik konvensional memandang jasa sebagai sesuatu yang berbeda dari barang. Namun, analisis dalam bab ini menunjukkan bahwa serangkaian jasa terintegrasi ke dalam ekspor barang Indonesia. Jasa menyumbang 14% dari nilai tambah ekspor barang pada tahun 2011. Perusahaan-perusahaan Indonesia dan instansi pemerintah harus mengintegrasikan realitas baru ini ke pemikiran mereka.

Indonesia tertinggal dari negara-negara sejawat dalam hal jasa yang terkandung dalam ekspor barang Dibanding negara-negara sejawat, pada umumnya Indonesia memiliki porsi yang lebih rendah untuk jasa yang terkandung dalam ekspor barang, dan temuan ini berlaku di sebagian besar subindustri barang.

Diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui mengapa hal itu bisa terjadi.

Jasa bernilai rendah merupakan bagian terbesar dari jasa yang terkandung dalam ekspor barang Dua jasa terbesar yang terkandung dalam ekspor manufaktur terkait dengan distribusi: grosir dan ritel serta transportasi dan penyimpanan. Meski tidak bernilai tinggi, membuat jasa ini lebih efisien dan efektif akan meningkatkan daya saing ekspor Indonesia.

Mengurangi pembatasan perdagangan jasa akan mendongkrak daya saing ekspor barang Indonesia Mengingat bagaimana jasa terkandung dalam ekspor barang, OECD berpendapat bahwa “distorsi kebijakan di pasar jasa meluas ke pasar ekspor manufaktur.”20 Studi OECD mengemukakan rekomendasi berikut ini:

Penurunan tarif, liberalisasi Investasi Langsung Asing [Foreign Direct Investment atau “FDI”], penegakan kontrak yang lebih baik dan pengurangan waktu untuk ekspor dan impor adalah hal-hal yang mudah dicapai oleh negara berpenghasilan rendah dan menengah ke bawah. Reformasi semacam itu tidak memerlukan investasi atau kapasitas pemerintah yang memberatkan dan sumber daya yang langka, namun akan membuat dampak yang relatif besar sebagai langkah awal rantai nilai.21

Penelitian bersama OECD, WTO, dan Bank Dunia menyepakati rekomendasi ini, yang menyatakan bahwa konteks kelembagaan di mana perusahaan beroperasi memainkan peran penting dalam keberhasilan perusahaan tersebut. Secara khusus, pemerintah dapat memastikan bahwa kebijakan mempromosikan kapasitas perusahaan untuk meningkatkan daya saingnya, menarik investasi, dan memasukkan diri dalam rantai nilai global.22

Jasa asing yang terkandung dalam barang-barang Indonesia adalah hal yang baik

Rendahnya porsi Indonesia untuk kandungan jasa asing dalam ekspor manufakturnya dapat menjadi indikator adanya partisipasi yang di bawah rata-rata dalam rantai nilai global jika dibandingkan dengan negara-negara sejawat. Hambatan yang tinggi terhadap FDI di sektor jasa (seperti yang akan dibahas di Bab 3) mungkin menjadi salah satu alasannya. Kemungkinan alasan lain di balik kurangnya hubungan yang terbina meliputi besarnya pasar dalam negeri (yang berpotensi membuatnya mengandalkan pemasok domestik) dan lokasi geografis (semakin jauh jarak ke pusat manufaktur utama, semakin rendah keterlibatan asing).23

19 Nordås dan Kim, The Role of Services, 22.

20 Nordås dan Kim, The Role of Services, 35.

21 Nordås dan Kim, The Role of Services, 35.

22 OECD, WTO, dan World Bank Group, Global Value Chains, 23.

23 OECD, WTO, dan World Bank Group, Global Value Chains, 19.

Dalam dokumen Pentingnya Jasa dalam Perdagangan Indonesia (Halaman 32-46)

Dokumen terkait