• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mendorong Pertumbuhan dan Pemerataan di Daerah

(Studi Kasus Kabupaten Bone Bolango)

Salah satu faktor penentu kesejahteraan perekonomian suatu daerah adalah rendahnya tingkat kemiskinan masyarakatnya. Berdasakan data Badan Pusat Statistik Provinsi Gorontalo, tingkat kemiskinan Provinsi Gorontalo untuk tahun 2018 adalah 15,83 persen dimana 88,37 persen disumbang oleh kemiskinan di perdesaan dan sisanya 11,63 persen penduduk miskin tinggal di wilayah perkotaan. Dengan kata lain, 166,41 ribu atau 23,86 persen penduduk Gorontalo yang tinggal di wilayah perdesaan masuk kategori penduduk miskin. Masih tingginya tingkat kemiskinan masyarakat Gorontalo membuktikan bahwa pelaksanaan kebijakan pemerintahnya yang pro poor dan pro growth kurang efektif. Padahal, banyaknya kebijakan pemerintah pusat yang didelegasikan ke pemerintah daerah seperti Alokasi Dana Desa, Dana Desa dengan program Cash for Work nya, Dana Alokasi Khusus, Kredit Program Ultra Mikro (UMi), serta Bantuan-bantuan Sosial merupakan kebijakan yang pro poor dan pro growth.

Akan tetapi, kebijakan-kebijakan tersebut masih belum dapat dinikmati penduduk desa secara optimal.

Berdasarkan pemetaaan kemiskinan menurut tingkat kemiskinan dan pertumbuhan ekonomi, Kabupaten Bone Bolango menempati kuadran I bersama dengan Kabupaten Gorontalo, Kabupaten Pohuwato, dan Kabupaten Gorontalo Utara. Daerah-daerah di dalam kuadran ini memiliki tingkat kemiskinan serta pertumbuhan ekonomi di atas Provinsi Gorontalo (6,51 persen dan 15,83 persen). Selain itu, Bone Bolango mengalami laju penurunan tingkat kemiskinan terendah

di bandingkan dengan kabupaten yang lain di kuadran yang sama. Berangkat dari sini, perlu dilakukan kajian lebih mendalam mengenai penyebab rendahnya laju penurunan tingkat kemiskinan pada Kabupaten Bone Bolango khususnya tingkat kemiskinan di perdesaan dimana kemiskinan terbesar berasal dari sana.

Berdasarkan Undang-Undang No. 13 Tahun 2011 tentang Penanganan Fakir Miskin, kemiskinan adalah kondisi sosial individu atau kelompok individu yang sama sekali tidak mempunyai sumber mata pencaharian dan/atau mempunyai sumber mata pencaharian tetapi tidak mempunyai kemampuan memenuhi kebutuhan dasar (kebutuhan pangan, sandang, perumahan, kesehatan, pendidikan, pekerjaan, dan/atau pelayanan sosial) yang layak bagi kehidupan dirinya dan/atau keluarganya. Kemiskinan dapat diartikan juga sebagai suatu kondisi dimana secara ekonomi seseorang tidak dapat memenuhi kebutuhannya sesuai standar hidup rata-rata masyarakat di suatu daerah. Pengukur ketidakmampuan ini dapat diperoleh atas rendahnya kemampuan pendapatan untuk memenuhi kebutuhan pokok baik berupa pangan, sandang, maupun papan.

Akibatnya, masyarakat yang tidak memiliki kemampuan ini secara otomatis akan berkurang kemampuannya dalam memenuhi kebutuhan lainnya seperti standar kesehatan masyarakat dan standar pendidikan (Sapta

96

Nugraheni et al., 2018). Selain itu, kemiskinan juga berkaitan dengan pergeseran nilai objektifnya dari kesejahteraan yang merupakan objektif utama menjadi kemudahan akses untuk memanfaatkan sumberdaya seperti air, tempat tinggal, layanan kesehatan dan sanitasi, pendidikan serta transportasi melalui kepemilikan pekerjaan ataupun dipekerjakan (Chambers, 1995).

Penelitian dan kajian terdahulu mengenai kemisikinan di perdesaan menyebutkan bahwa, tingkat kemiskinan di perdesaan dapat dipengaruhi oleh beberapa variabel yaitu, Dana Desa dan Alokasi Dana Desa (Lalira et al., 2018) menyebutkan bahwa kedua variabel tersebut berpengaruh secara parsial terhadap tingkat kemiskinan suatu daerah. Sebagian besar cenderung dipengaruhi oleh variabel-variabel lainnya. Dalam penelitian lainnya, jumlah nominal Dana Desa ditemukan memilki pengaruh positif terhadap kemiskinan suatu daerah, yang artinya tingkat kemiskinan suatu desa naik apabila nominal Dana Desa bertambah pula. Akan tetapi, jika peruntukkan dan pembelanjaan Dana Desa diteliti lebih lanjut ditemukan bahwa, Dana Desa yang digunakan dalam bidang pembangunan, bidang pembinaan masyarakat, serta bidang pemberdayaan masyarakat berpengaruh dalam menurunkan tingkat kemiskinan (Setianingsih, 2017). Variabel selanjutnya yaitu tingkat pendidikan, semakin tinggi tingkat pendidikan yang dimiliki oleh seseorang maka kemungkinan untuk menjadi orang miskin semakin kecil (Setyo Rini dan Sugiharti, 2016). Hal ini dikarenakan status pendidikan akan membantu seseorang dalam mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dan memadai. Selain itu, orang tersebut akan bisa berpikir logis dalam menghadapi segala permasalahan dan lebih bisa menerima saran dari orang lain yang dianggap lebih

mampu. Menurut Samuelson & Nordhaus (1997), ada dua hal pokok yang menjadi penyebab kemiskinan yaitu rendahnya mutu pendidikan serta rendahnya tingkat kesehatan dan gizi. Artinya, pemerintah dituntut untuk menyediakan fasilitas kesehatan yang memadai dan mudah dijangkau untuk menjaga kesehatan masyarakatnya. Masyarakat yang sehat akan lebih mampu untuk menempuh pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Namun, hal ini perlu juga ditopang dengan perbaikan-perbaikan sarana pendidikan yang sudah ada, bila perlu jumlahnya diperbanyak, sehingga upaya memperbaiki kualitas sumber daya manusia akan jauh lebih efektif.

Dari penjelasan di atas, maka dapat ditarik benang merah yang dapat mengurai permasalahan yang menjadi objektif dari penelitian ini dimana variabel-varibel independen seperti akses pendidikan (AP), akses kesehatan (AK), Dana Desa (DD), Belanja Pembangunan Desa (BPD), serta Belanja Pemberdayaan Masyarakat Desa (BPMD) memiliki probalitas mempengaruhi tingkat kemiskinan suatu daerah. Mengingat variabel terikat yang digunakan dalam penelitian ini bersifat kualitatif atau binary, maka salah satu model ekonometri yang dianggap sesuai untuk digunakan adalah model logit (Logistic Regression). Tujuan penggunaan model logit adalah untuk mencari kemungkinan (probability) daerah untuk berstatus miskin dengan alat analisis yang dipakai untuk mengolah data yaitu, program SPSS 18 dan Add-ins Real Statistics Microsoft Excel. Model logit yang digunakan dapat ditulis sebagai berikut:

𝐿𝐿𝑖𝑖= ln 𝑃𝑃𝑖𝑖1βˆ’π‘ƒπ‘ƒπ‘–π‘– = 𝛽𝛽0 + 𝛽𝛽1AP + 𝛽𝛽2AK + 𝛽𝛽3DD + 𝛽𝛽4BPD + 𝛽𝛽5BPMD + πœ€πœ€... (1)

Dimana:

𝑃𝑃𝑖𝑖 : Tingkat Kemiskinan

𝛽𝛽0 : Intercept

97

𝛽𝛽1, 𝛽𝛽2, 𝛽𝛽3, 𝛽𝛽4, 𝛽𝛽5 : Parameter (koefisien) regresi

AP : Akses Pendidikan tingkat Pertama (setingkat dengan Sekolah Menengah Pertama)

AK : Akses Kesehatan tingkat pertama dalam hal ini Puskesmas

Dana Desa : Jumlah Anggaran Dana Desa yang diterima oleh masing-masing Desa

BPD : Jumlah Dana Desa yang direalisasikan untuk Belanja Pembangunan Desa

BPMD : Jumlah Dana Desa yang direalisasikan untuk Belanja Pemberdayaan Masyarakat Desa

πœ€πœ€ : Error

Adapun asumsi yang digunakan dalam model di atas adalah desa dengan tingkat kemiskinan di atas 25 persen = 1, sedangkan desa dengan tingakt kemiskinan di bawah 25 persen = 0 sesuai dengan Tabel 6.2. Dari 160 desa sebagai objek observasi, 52 desa diantaranya memiliki tingkat kemiskinan di atas 25 persen.

Hasil uji dengan menggunakan aplikasi SPSS 18 dan Add-ins Real Statistics Microsoft Excel menyebutkan bahwa model logit yang diuji dapat diterima dengan derajat yang signifikan. Hal ini dibuktikan dengan Uji Chi-Square dengan nilai p-value 9,47597E-16 atau lebih kecil dari 0,05 yang dapat diartikan memiliki derajat signifikansi.

……… (2) Selain itu, Uji Hosmer and Lemeshow menunjukkan nilai p-value 0,9956 (lebih besar dari 0,05) yang artinya model diterima.

……… (3) Selanjutnya, model summary menunjukkan angka Cox

& Snell R Square (R-Sq CS) sebesar 0,39251 atau 39,251 persen dan Nagelkerke R Square (R-Sq N) sebesar 0,54394 atau 54,394 persen. Atau dengan kata lain, variabel terikat pada model dapat diterangkan oleh variabel-variabel bebas yang ada dengan nilai antara 39,251 persen sampai dengan 54,394 persen.

………. (4) Terakhir, classification table menunjukkan bahwa model dapat memprediksi hasilnya dengan tingkat akurasi sebesar 78,125 persen. Tingkat akurasi tersebut, diaminkan masih cukup baik oleh para akademisi.

…. (5)

Analisis

Dari hasil uji dari model Logistic Regression, maka kita bisa memasukkan nilai coeffisien b dari masing-masing variabel ke dalam formula modelnya, sehingga dapat kita baca:

98

𝐿𝐿𝑖𝑖= ln 𝑃𝑃𝑖𝑖1βˆ’π‘ƒπ‘ƒπ‘–π‘– = 2,9993 + 0,31AP + 0,23AK – 7,84E-10DD – 1,04E-08BPD – 4,46E-09BPMD + πœ€πœ€... (6)

Dari model tersebut, intepretasi lebih lanjut dari hasil uji masing-masing variabel bebas adalah sebagai berikut:

Akses Pendidikan terhadap tingkat kemiskinan Desa

Jangkauan akses Desa ke tempat pendidikan setingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) sangat bervariasi, dari yang terdekat yaitu 120 meter yaitu Desa Pinogu Permai sampai dengan yang paling jauh 20,5 km yaitu Desa Bukit Hijau. Disusul dengan Desa Poduwoma dan Desa Longalo yang masing-masing memiliki jarak menuju SMP 18,20 km dan 18,10 km. Dari 160 sampel sebanyak 20 desa mengharuskan warga menempuh jarak ke SMP lebih dari 10 km. Sedangkan sisanya yaitu sebanyak 140 Desa memiliki jarak kurang dari 10 km.

Hasil olah data menunjukkan bahwa, akses pendidikan menengah pertama berpengaruh signifikan terhadap tingkat kemiskinan. Terbatasnya akses-akses pendidikan bagi masyarakat miskin di Kabupaten Bone Bolango dapat meningkatkan rasio tingkat kemiskinan di Kabupaten Bone Bolango. Hal ini dibuktikan dengan nilai p-value Akses Pendidikan sebesar 0,006 (kurang dari 0,05) yang artinya variabel ini berpengaruh positif terhadap tingkat kemiskinan. Hasil tersebut selaras dengan kenyataannya, dimana secara wilayah Kabupaten Bone Bolango berdekatan dengan Kota Gorontalo yang memiliki akses terhadap ketersediaan

jenjang pendidikan lebih tinggi yang lebih banyak. Akan tetapi, masih banyak desa-desa yang terletak jauh dari kota dan terkendala dengan infrastruktur pendukung yang kurang memadai untuk menjangkau akses pendidikan yang diinginkan. Jadi, desa-desa yang memiliki akses pendidikan yang semakin jauh maka akan meningkatkan risiko naiknya tingkat kemiskinan sebesar 1,36x (nilai exp (b) sebesar 1,3584057) dibandingkan dengan desa-desa yang memiliki akses pendidikan yang lebih dekat. Hal ini didukung oleh World Bank yang menyebutkan tentang karakteristik penduduk miskin menurut komunitas, wilayah, rumah tangga dan individu. Pada faktor komunitas, infrastruktur merupakan determinan utama kemiskinan. Keadaan infrastruktur sangat erat kaitannya dengan tingkat kesejahteraan suatu wilayah (World Bank, 2002).

Akses Kesehatan terhadap tingkat kemiskinan Desa.

Kabupaten Bone Boalngo memiliki 2 (dua) unit Rumah Sakit yaitu Rumah Sakit Umum Daerah Tombulilato serta Rumah Sakit Umum Toto. Jarak yang ditempuh masyarakat desa untuk menuju ke Rumah Sakit rata-rata sejauh 12,1 km. Selain Rumah Sakit juga terdapat 20 Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) yang lebih dekat dengan desa sebagai pertolongan pertama.

Selain fasilitas kesehatan yang disediakan oleh pemerintah Kabupaten Bone Bolango, masyarakat dengan jarak yang jauh pada akhirnya beralih ke Rumah Sakit daerah lain (Kota Gorontalo) yang mempunyai jarak lebih dekat. Namun demikian menjadi kendala bagi warga miskin yang mempunyai Kartu Miskin atau Kartu Indonesia Sehat untuk bisa dipakai di daerah lain. Akses Kesehatan mempunyai nilai p-value 0,0293555 lebih kecil dari 0,05 yang berarti berpengaruh signifikan terhadap tingkat kemiskinan.

Nilai Odds Ratio dari variabel ini yaitu 1,25313 yang

99

berarti semakin jauh akses kesehatan yang dimiliki oleh suatu desa akan meningkatkan kemungkinan desa tersebut miskin sebesar 1,25x lebih tinggi. Hasil ini tidak berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Sapta Nugraheni et al. (2018) meskipun menyebutkan Akses Kesehatan membawa pengaruh parsial terhadap Tingkat Kemiskinan Desa. Akan tetapi, arah pengaruh Akses Kesehatan terhadap tingkat kemiskinan Desa dapat dijelaskan bahwa semakin jauh akses kesehatan desa akan menaikkan kemungkinan tingkat kemiskinan daerah tersebut tinggi.

Pengaruh Anggaran Dana Desa dengan Tingkat Kemiskinan Desa

Variabel pendapatan transfer dalam hal ini Anggaran Dana Desa berpengaruh secara parsial terhadap tingkat kemiskinan di Kabupaten Bone Bolango. Hal ini ditandai dengan p-value Dana Desa sebesar 0,7881 (lebih besar dari 0,05) yang berarti variabel ini tidak berpengaruh signifikan. Akan tetapi, Dana Desa berpengaruh negatif yang dapat diinterpretasikan setiap kenaikkan 1 rupiah Anggaran Dana Desa memiliki kemungkinan menurunkan tingkat kemiskinan sebesar 7.839602E-10 atau setiap penambahan Anggaran Dana Desa sebesar Rp100 juta berpeluang menurunkan tingkat kemiskinan desa sebesar 0,078 persen.

Hasil ini bertolak belakang dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Irma Setianingsih (2017) yang menyebutkan bahwa kenaikkan Anggaran Dana Desa sebesar 1 persen dapat menaikkan kemungkinan tingkat kemiskinan Desa sebesar 0,398 persen.

Perbedaan hasil analisis ini bisa disebabkan oleh adanya perbedaan mekanisme penyaluran dan pelaksanaan Dana Desa pada unsur data yang diteliti.

Mulai tahun 2018, pencairan Dana Desa dilaksanakan

dalam 3 tahap dengan tahap pertama (20 persen) dapat dicairkan paling cepat bulan Januari. Sedangkan mekanisme sebelumnya terbagi menjadi 2 tahap, dimana tahap pertama (60 persen) dapat dicairkan paling cepat bulan Maret. Perbedaan waktu pencairan untuk Tahap Pertama secara otomatis akan memberikan dampak yang berbeda terhadap akselerasi realisasi belanja Dana Desa baik untuk Pembangunan Desa, Pembinaan Kemasyarakatan Desa, Pemberdayaan Masyarakat Desa, serta untuk Penyelenggaraan Pemerintahan Desa. Semakin cepat pembelanjaan yang dilakukan, akan cepat pula memberikan dampak secara ekonomi bagi masyarakat desa. Selain itu, berpedoman pada Peraturan Menteri Keuangan nomor 225/PMK.07/2017 tentang perubahan kedua PMK nomor 50/PMK.07/2017 tentang Pengelolaan Transfer ke Daerah dan Dana Desa, pengelolan Dana Desa tahun 2018 harus menekankan prinsip Cash for Work atau Padat Karya Tunai. Yang dapat diartikan, setiap proyek atau kegiatan yang didanai oleh Dana Desa harus melibatkan warga atau masyarakat desa sebagai subjek pekerja yang menerima upahnya.

Masyarakat desa pada umumnya bekerja sebagai petani, peternak, dan nelayan yang tentunya sangat mengandalkan penghasilan pada saat panen tiba.

Otomatis, pada saat masa menunggu panen mereka tidak ada penghasilan tambahan. Ide prinsip Padat Karya Tunai yaitu, pengerjaan proyek dan kegiatan yang dibiayai Dana Desa dapat memperhatikan masa tersebut. Sehingga, pada masa menunggu panen masyarakat desa masih bisa mendapatkan penghasilan dari upah pengerjaan proyek dan kegiatan.

Diharapakan, dari penghasilan tambahan tersebut bisa menjaga daya beli masyarakat desa yang sebelumnya

100

cenderung karena tidak memiliki penghasilan dalam masa tunggu panen.

Pengaruh Belanja Pembangunan Desa dengan Tingkat Kemiskinan Desa

Belanja Pembangunan Desa adalah belanja yang digunakan untuk pembangunan infrastruktur atau fisik.

Berupa pembangunan jalan desa, talut, jembatan, gedung fasilitas umum dan sejenisnya. Menurut Laporan Konsolidasi Realisasi Penyerapan Dana Desa Kabupaten Bone Bolango, desa yang memiliki Belanja Pembangunan Desa terendah yaitu Kaidundu sebesar Rp88,45 juta, sedangkan desa dengan alokasi Belanja Pembangunan Desa tertinggi yaitu Desa Tulabolo Timur yaitu sebesar Rp859,59 juta.

Alokasi belanja Pembangunan desa mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kemiskinan desa.

Variabel ini berpengaruh negatif terhadap tingkat kemiskinan suatu desa dengan nilai odds ratio sebesar 1 dan nilai signifikansi sebesar 5,4904E-05 (lebih kecil dari 0,05). Hasil analisa menunjukkan bahwa kenaikan 1 rupiah Belanja Pembangunan memiliki kemungkinan menurunkan peluang desa untuk menjadi miskin sebesar 1,03738E-08 (nilai coeffisien b). Dengan kata lain, setiap penambahan Rp100 juta Dana Desa yang dibelanjakan untuk Pembangunan Desa akan menurunkan tingkat kemiskinan Desa sebesar 1,037 persen.

Alokasi belanja pembangunan menitikberatkan pembangunan dibidang infrastruktur desa.

Pembangunan, pemanfaatan dan pemeliharaan infrastruktur, lingkungan desa, kesehatan dan sarana pendidikan, (Sari & Abdullah, 2017). Pembangunan infrastruktur desa didanai dari alokasi belanja

pembangunan. Desa bisa lebih leluasa untuk mengembangkan infrastruktur desa sesuai dengan kebutuhannya dengan adanya desentralisasi fiskal/otonomi desa. Desa dengan kemiskinan tinggi akan menganggarkan alokasi belanja pembangunan yang besar untuk memperbaiki infrastrutur desa dibandingkan desa dengan tingkat kesejahteraan yang lebih baik.

Kembali ke hasil analisis, kecilnya nilai coeffisien b menunjukkan bahwa Belanja Pembangunan yang di alokasikan oleh Desa-desa di Kabupaten Bone Bolango kurang memberi dampak yang besar guna mengurangi tingkat kemiskinan di Bone Bolango. Hal ini bisa kita telisik lebih jauh lagi dengan melihat data Realisasi Konsolidasi pada aplikasi Online Monitoring SPAN, jumlah total realisasi Belanja Pembangunan Desa Kabupaten Bone Bolango sebesar Rp73,54 miliar dan sebanyak 61,05 persennya dipergunakan untuk membiayai Penyelenggaraan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) 1.239 paket, Pembangunan Rumah tidak Layak Huni 584 unit, Pembangunan fasilitas MCK umum 1.010 unit, Pembangunan Jalan Desa 22.872 meter, Pemasangan Gorong-gorong saluran air 75 unit, serta pembangunan Jembatan Desa 7 unit. Seharusnya, banyaknya kegiatan dan proyek pada Belanja Pembangunan Desa dapat diartikan akan memberikan tambahan penghasilan bagi masyarakat desa yang terlibat, pada kenyataanya tidak. Hal ini dimungkinkan proyek-proyek Dana Desa yang ada dikerjakan oleh kontraktor atau pihak ketiga yang menyewa pekerja yang sebagian besar dari luar Bone Bolango sehingga, masyarakat desa tidak bisa menikmati penghasilan tambahan yang cukup signifikan. Para kepala desa harus lebih bijaksana dalam mengerjakan proyek Dana

101

Desa ini. Mereka harus lebih memperhatikan prinsip Cash for Work.

Pengaruh Belanja Pemberdayaan Masyarakat dengan Tingkat Kemiskinan Desa

Desa yang tidak mengalokasikan anggaran untuk kegiatan Belanja Pemberdayaan Masyarakat adalah Desa Luwohu, Desa Timbuolo Timur, Desa Pelita Jaya, Desa Duano, dan Desa Ayula Tilango. Disusul oleh Desa Bubeya yang merealisasikan Dana Desa untuk Pemberdayaan Masyarakat Desa sebesar Rp10 juta, sedangkan desa dengan Alokasi Belanja Pemberdayaan Masyarakat tertinggi yaitu Desa Mamunggaa Timur Kecamatan Bulawa sebesar Rp737,53 juta. Sama halnya dengan Belanja Pembangunan Desa, variabel Belanja Pemberdayaan Masyarakat Desa juga berpengaruh negatif dengan nilai odds ratio sebesar 1 dan nilai signifikansi sebesar 0,047663 (lebih kecil dari 0,05) yang berarti variabel ini berpengaruh signifikan terhadap tingkat kemiskinan desa. Hasil analisa menunjukkan bahwa kenaikan 1 rupiah Belanja Pemberdayaan Masyarakat memiliki kemungkinan menurunkan peluang desa menjadi miskin sebesar 4,455037E-09 atau setiap Rp100 juta tambahan Dana Desa yang dibelanjakan untuk Pemberdayaan Masyarakat Desa akan menurunkan tingkat kemiskinan sebesar 0,445504 persen.

Alokasi Belanja Pemberdayaan Masyarakat meliputi belanja pada peningkatan sumberdaya manusia pemberian bantuan langsung seperti Pengadaan Bibit Tanaman dan Ternak, Penyertaan Modal Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), serta Pelatihan mengenai BUMDes. Dari penelitian ini dapat dikatakan bahwa alokasi anggaran Belanja Pemberdayaan Masyarakat Desa dapat sampai pada penduduk miskin.

Program-program pengentasan kemiskinan yang dicanangkan oleh pemerintah desa di Kabupaten Bone Bolango dibiayai dari alokasi anggaran ini. Tidak heran jika desa dengan kemiskinan tinggi menganggarkan anggaran yang besar di belanja ini seperti Desa Mamungaa Timur. Sehingga dengan adanya alokasi belanja Pemberdayaan Masyarakat Desa yang tinggi tentunya mendukung terhadap keberhasilan program pengentasan kemiskinan.

Salah satu kisah sukses penyertaan modal pada BUMDes ada pada Desa Tilonggibila yang masuk wilayah Kecamatan Pinogu. Kecamatan ini terletak 40 km di sebelah utara Kota Gorontalo dan berbatasan dengan Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan Provinsi Sulawesi Utara. Secara teritori, Kecamatan ini masuk ke dalam wilayah Hutan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone dimana jalur untuk melewati hutan tersebut cukup ekstrem. Dibutuhkan waktu kurang lebih 10 jam perjalanan dengan menggunakan kendaraan bermotor roda dua yang sudah dimodifikasi khusus untuk menembus medan dengan catatan didukung oleh cuaca yang cerah. Akan tetapi, Desa Tilonggibila yang dinahkodai oleh seorang perempuan ini mengeyampingkan faktor-faktor yang mungkin bagi kebanyakan orang akan membuat pesimis untuk memperjuangkan daerah seperti Pinogu. Berbeda dengan Bunda Tilonggibila yang bernama Owin Patalangi mempunyai semangat tinggi guna memajukan daerah Pinogu melalui pengembangan Badan Usaha Milik Desa yang fokus pada pemasaran Kopi Pinogu.

Pada tahun 2018, Tilonggibila mengalokasikan Penyertaan Modal BUMDes sebesar Rp81,43 juta yang merupakan setoran ke tahun ketiga semenjak program Dana Desa bergulir. Skema bisnis dari BUMDes ini yaitu bagi hasil dari keuntungan yang didapat dimana 60

102

persen untuk petani sedangkan 40 persen masuk ke Kas BUMDes. Kelihatannya sederhana tapi memberikan dampak yang cukup besar bagi perekonomian Kecamatan Pinogu. Petani yang dulu tidak mampu untuk memasarkan hasil taninya ke luar Pinogu bisa menyalurkannya lewat BUMDes Tilonggibila. Selain itu, risiko hasil panen rusak karena terlalu lama disimpan di lumbung atau gudang dapat terhindari karena BUMDes dapat menjualnya sampai ke luar.

Perlu diperhatikan, alokasi Belanja Pemberdayaan Masyarakat Desa pada penyertaan modal BUMDes hampir sama sifatnya dengan investasi berupa penyertaan modal ventura pada perusahaan dimana modal yang disetor dalam bentuk uang tunai tanpa ada jaminan (Equity Financing) dengan harapan imbal balik yang akan didapat lebih tinggi. Akan tetapi, imbal balik untung yang akan didapat tidak serta merta akan terakumulasi secara cepat. Ada kalanya perusahaan mengalami kerugian yang berarti desa sebagai pemegang modal akan menanggungnya juga. Terlebih jika desa menyertakan modal pada BUMDes yang benar-benar baru berdiri. Desa akan memerlukan waktu yang cukup lama guna menikmati hasil imbal balik dari modal yang ditanam. Belum lagi ditambah risiko kerugian atas tata kelola BUMDes dari pengelola yang kurang mumpuni. Jadi, kecilnya pengaruh variabel Belanja Pemberdayaan Masyarakat Desa terhadap tingkat kemiskinan Bone Bolango bisa jadi disebabkan banyaknya desa yang baru mendirikan BUMDes, sehingga mereka belum dapat menikamti imbal balik dari modal yang disertakan.

Penutup

Tingkat kemiskinan desa dipengaruhi oleh variabel-variabel seperti akses pendidikan, akses kesehatan,

Anggaran Dana Desa, Realisasi Belanja Pembangunan Desa, dan Realisasi Belanja Pemberdayaan Masyarakat Desa. Sesuai Laporan Realisasi Konsolidasi Dana Desa dari aplikasi Online Monitoring SPAN, peersentase terbesar dari realisasi belanja adalah Belanja Pembangunan Desa yang sebagian besar dipergunakan untuk pembangunan infrastruktur seperti prasarana PAUD, Rumah tidak Layak Huni, fasilitas Mandi Cuci Kakus (MCK) Umum, Jalan Desa, Gorong-gorong, dan Jembatan Desa. Pengaruh dari variable ini signifikan dapat menurunkan tingkat kemiskinan. Sedangkan realisasi di bidang pemberdayaan masyarakat desa juga terbukti berpengaruh terhadap tingkat kemiskinan desa.

Kegiatan kegiatan yang dibiayai alokasi anggaran ini seperti Pengadaan Bibit Tanaman dan Ternak, Penyertaan Modal Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), serta Pelatihan mengenai BUMDes telah dialokasikan oleh desa di Kabupaten Bone Bolango.

Pemerintah Kabupaten Bone Bolango perlu mempertimbangkan penambahan tempat pelayanan kesehatan setara Rumah sakit secara merata di wilayah Kabupaten. Wilayah ini untuk sementara hanya memiliki dua Rumah Sakit Umum dimana hal ini dirasa kurang

Pemerintah Kabupaten Bone Bolango perlu mempertimbangkan penambahan tempat pelayanan kesehatan setara Rumah sakit secara merata di wilayah Kabupaten. Wilayah ini untuk sementara hanya memiliki dua Rumah Sakit Umum dimana hal ini dirasa kurang