• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V ANALISIS DATA

5.3 Analisis Kontribusi Anak Bekerja Sebagai Tukang Sapu Angkutan Terhadap

5.3.4 Kontribusi Terhadap Kebutuhan Pangan Keluarga

Kebutuhan keluarga akan kecukupan pangan dalam keluarga menempati tempat yang sangat penting, karena pangan adalah sebagai modal awal bagi kelangsungan hidup sebuah keluarga. Kebutuhan inilah yang disebut sebagai salah satu kebutuhan primer sebuah keluarga. Ada 3 informan kunci dalam penelitian ini yang berkontribusi dalam hal pemenuhan pangan keluarga. Diantaranya adalah Yohanes, Sabar, dan Julfan.

Hal ini dilihat dari pernyataan dari ibu Mawar selaku orangtua dari informan

Yohanes: “dia ngasi uang ya untuk dia juga lah de, beli buku nya, baju nya, kadang dari sekolahnya ada olahraga renang jadi ibu kasi lah uang nya untuk dia renang, kalo ada sisa ibu kumpulin buat nambah bayar sewa rumah, nambahin belanja, pintar-pintar lah dek bagi-bagi uang itu”. Hal yang senada diungkapkan oleh informan kedua yaitu Ulina selaku kakak dari informan kunci yang menjelaskan

bahwa pendapatan adiknya digunakan untuk menutupi kekurangan dalam memenuhi kebutuhannya sehari-hari, kemudian Kak Uli menambahkan bahwa ayah mereka jarang pulang yang bekerja sebagai supir di Jambi dan hanya sesekali memberikan uang kepada ibu nya. Selanjutnya diperkuat oleh pernyataan Nenek Julfan:“dipake buat sehari hari nak, kebutuhan makan kami, beli bukunya, buat bayar air listrik juga pernah, kadang dipake buat beli obat rheumatic nenek”. Dapat kita lihat dari hasil

wawancara tersebut, bahwa ke-3 informan dalam penelitian ini berkontribusi dalam memenuhi kebutuhan pangan keluarganya, meskipun kontribusi dari anak bekerja belum maksimal untuk membelikan makanan 4 sehat 5 sempurna, akan tetapi kontribusi yang diberikan anak jalanan sudah cukup membantu dalam pengadaan bahan pangan keluarga. Hal itu bisa kita lihat dari pemberian uang kepada orangtuanya yang kemudian digunakan untuk menambah uang belanja kebutuhan sehari-hari.

5.3.5 Kontribusi Terhadap Kebutuhan Sandang Keluarga

Kebutuhan keluarga akan sandang merupakan salah satu bagian dari kebutuhan primer (pokok) manusia. Sandang merupakan pakaian yang diperlukan manusia sebagai makhluk berbudaya. Sandang berfungsi sebagai pelindung tubuh manusia dan untuk memberikan kenyamanan sesuai dengan kebutuhan masing- masing. Dalam penelitian ini ada dua informan yang berkontribusi dalam pemenuhan kebutuhan sandang keluarga yaitu Marsya dan Febri.

Hal ini bisa kita lihat dari pernyataan informan utama selaku orangtua dari Marsya yaitu Ibu Tanggang: “iya digunakan untuk sekolah nya lagi lah, mana tau

untuk beli bukunya, beli sepatunya, uang sekolahnya juga, dia kan pake uang sekolah dia bukan di negri tapi di swasta, sambil lah itu kupake belikan dia susu, dia kan kena abu itu”. Kemudian senada dengan itu, diperkuat oleh pernyataan dari Rotua Simamora selaku kakak dari Febri: “lumayan lah ka buat beli baju kami, kadang buat

Dari kutipan wawancara bisa dilihat bahwa pemenuhan kebutuhan sosial ekonomi keluarga salah satu diantaranya yaitu pemenuhan kebutuhan sandang seharusnya dipenuhi oleh orang tua. Meski jauh dari kata mencukupi, anak-anak bekerja sebagai tukang sapu berkontribusi dalam memenuhi kebutuhan sosial ekonomi keluarga mereka. Hal ini bisa dilihat dari pemberian uang kepada orangtuanya. Dimana uang tersebut digunakan untuk pemenuhan kebutuhan sandang diantaranya untuk membelikan sepatu anak dan baju untuk keluarga.

5.4 Perubahan Kondisi Sosial Ekonomi Sebelum Dan Sesudah Anak Bekerja

Kontribusi informan kunci sebagai anak-anak bekerja sebagai tukang sapu angkutan untuk memenuhi kebutuhan sosial ekonomi keluarga mereka sangat besar. Dalam hal ini anak-anak bekerja sebagai tukang sapu angkutan memberikan sejumlah uang kepada orang tua mereka yang kemudian dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan sosial ekonomi keluarga tersebut. Berdasarkan hasil penelitian dengan wawancara mendalam di lapangan, menunjukkan bahwa umumnya orang tua anak- anak tukang sapu yang umumnya berpenghasilan rendah merasa ada perubahan yang baik di keluarga mereka. Baik itu dalam pemenuhan kebutuhan pendidikan, kesehatan, peningkatan pendapatan, perumahan, dan kebutuhan sandang dan pangan.

Terlihat sedikit banyaknya anak mereka mampu merubah kondisi sosial ekonomi keluarga mereka. Pernyataan tersebut didukung oleh Ibu Mawar yang

mengatakan bahwa mereka cukup terbantu dengan anak bekerja dengan pendapatannya sebagai penjual monja yang kandang tidak menentu, meskipun tidak berbeda jauh dari sebelum anak bekerja. Hal senada juga diungkapkan oleh Kak

Ulina yang mengatakan bahwa mereka cukup terbantu dengan adiknya bekerja, setidaknya tidak lagi memikirkan uang jajan mereka dan juga bisa menutupi kekurangan buat beli sesuatu.

Ditambah oleh pernyataan dari nenek Julfan: Nenek mengatakan bahwa

mereka terbantu dengan bekerjanya Julfan sebagai tukang sapu,karna Julfan bisa menambahi penghasilan orangtuanya yang hanya bekerja sebagai tukang botot dan ayahnya sebagai kernek yang jarang memberikan uang kepada menantunya.

Pernyataan tersebut diperkuat oleh pernyataan Ibu Tanggang: Ibu mengatakan bahwa

pemenuhan kebutuhan keluarga mereka cukup karena kedua orangtua sama-sama punya pekerjaan, meskipun tidak loyar setidaknya mencukupi baik sebelum dan sesudah anak bekerja.

Kemudian ditambah oleh pernyataan dari Rotua selaku kakak dari Febri.

Rotua mengatakan bahwa pemenuhan kebutuhan keluarga mereka sedikit terbantu.

Dari hasil wawancara tersebut dapat kita ketahui bahwa orang tua mereka sangat terbantu dengan hasil yang diberikan anaknya dari hasil bekerja sebagai tukang sapu angkutan. Walaupun tidak merubah ke arah yang signifikan, akan tetapi semua informan utama dalam penelitian ini yaitu orang tua dari anak-anak tukang sapu angkutan itu merasa bahwa dalam keluarganya ada perubahan.

BAB VI PENUTUP

6.1.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis data yang dilakukan, melihat masalah, mengamati dan melakukan wawancara secara mendalam tentang kontribusi anak bekerja terhadap sosial ekonomi keluarga (studi kasus anak bekerja sebagai tukang sapu angkutan di Terminal Terpadu Amplas, Medan) maka dapat ditarik kesimpulan: Motif anak bekerja khususnya anak yang bekerja sebagai tukang sapu angkutan di Terminal Terpadu Amplas adalah karena tidak tercukupinya kebutuhan sosial ekonomi. Dimana yang seharusnya pemenuhan kebutuhan itu adalah tanggung jawab orang tua. Kesimpulan dalam penelitian ini adalah anak bekerja sebagai tukang sapu angkutan di Terminal Terpadu Amplas memberikan kontribusi dalam pemenuhan kebutuhan sosial ekonomi keluarga. Kontibusi itu dapat dilihat yaitu dengan pemberian hasil pendapatan mereka sebagai tukang sapu angkutan kepada orangtua mereka. Kontribusi anak bekerja sebagai tukang sapu angkutan itu diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Kontribusi terhadap pemenuhan kebutuhan pendidikan keluarga.

Kontribusi anak bekerja sebagai tukang sapu angkutan yang diberikan dalam peningkatan pendidikan keluarganya diantaranya adalah untuk membayar keperluan sekolah yaitu biaya uang sekolah, uang buku, uang jajan sekolah, ongkos sekolah, dan biaya kegiatan sekolah, misalnya olahraga renang.

2. Kontribusi terhadap pemenuhan kebutuhan kesehatan keluarga.

Anak-anak bekerja sebagai tukang sapu itu memiliki kontribusi dalam hal pemenuhan kesehatan, yaitu sejumlah uang yang diberikan kepada keluarga untuk membeli obat dan juga yang dipakai sebagai ongkos untuk pergi berobat, dan juga uang pemberian yang dipergunakan untuk membeli susu untuk anak.

3. Kontribusi terhadap pemenuhan kebutuhan perumahan keluarga.

Anak-anak bekerja sebagai tukang sapu angkutan berkontribusi dalam pemenuhan kebutuhan perumahan diantaranya pemberian uang yang digunakan untuk menambah biaya membayar sewa rumah dan biaya tambahan untuk membayar uang listrik dan air.

4. Kontribusi terhadap pemenuhan kebutuhan pangan keluarga.

Kontribusi anak bekerja sebagai tukang sapu angkutan yaitu pemberian uang kepada orangtuanya yang kemudian digunakan untuk menambah uang belanja kebutuhan sehari-hari.

5. Kontribusi terhadap pemenuhan kebutuhan sandang keluarga.

Kontribusi anak bekerja terhadap kebutuhan sandang yaitu dari pemberian uang kepada orangtuanya. Dimana uang tersebut digunakan untuk pemenuhan kebutuhan sandang diantaranya untuk membelikan sepatu anak dan baju untuk keluarga.

6.2 Saran

Berdasarkan kesimpulan dari hasil penelitan yang telah dilakukan, maka saran peneliti adalah sebagai berikut :

1. Dilihat dari akar permasalahannya anak bekerja maka diharapkan agar pemerintah dan dinas terkait untuk menegakkan pasal 2 Undang-undang Nomor 4 tentang kesejahteraan anak. Kepada pemerintah setempat untuk menerapkan penguatan sosial ekonomi keluarga dalam membantu ekonomi keluarga agar lebih terorganisir, sehingga tidak harus melibatkan anak bekerja. Bagi pemerintah dalam mengembalikan anak yang bekerja kepada kedudukannya sebagai anak dalam keluarga dan negara serta pemberdayaan peningkatan pendapatan keluarga, pemerintah hendaknya melakukan program pembangunan mendahulukan masyarakat lapisan bawah. Pembangunan dilakukan baiknya diutamakan dan didahulukan dari bawah, dimana jumlah penduduk miskin yang semakin meningkat.

2. Mengingat pemerintah bukan satu-satunya instansi yang menangani masalah anak, maka penulis memberikan saran kepada lembaga-lembaga lainnya untuk menanamkan pengertian kepada orangtua bahwa anak harus diberi kesempatan untuk mengembangkan diri dan untuk mengurangi beban kerjanya.

3. Penulis memberikan saran untuk mengupayakan berbagai program yang dapat meningkatkan pendidikan dan keterampilan bagi anak sehingga posisi anak di masa datang lebih meningkat. Upaya ini penting dilakukan, mengingat implikasi anak yang bekeja akan menimbulkan gangguan pada proses tumbuh kembang anak baik secara fisik maupun psiko, sosial, dan emosional. Akibatnya anak

akan cenderung menampilkan emosi serta intelegensi yang lemah dan memperoleh kesempatan lebih kecil dibanding anak lain dalam memperoleh dan menggunakan berbagai layanan yang mendukung proses tumbuh kembangnya secara maksimal, seperti layanan pendidikan, kesehatan dan lainnya. Hal inilah yang akan mengakibatkan rendahnya kualitas sumber daya anak yang mandiri dalam suasana sejahtera lahir dan batin.

4. Untuk perkembangan anak yang merupakan penerus bangsa, penulis memberikan saran kepada orang tua informan untuk tidak terlalu melibatkan ataupun mengijinkan anak mereka yang seharusnya tidak layak ataupun belum pantas untuk bekerja dalam membantu pemenuhan kebutuhan ekonomi keluarga serta pemenuhan kebutuhan diri sendiri anak. Hal ini dapat menyebabkan pada saat anak memasuki dunia pekerjaan tidak mempunyai kompetensi seperti yang diharapkan. Akhirnya mereka akan bekerja dan berpenghasilan tidak jauh berbeda dengan orang tuanya. Sehingga kemiskinan tersebut akan bersifat turun- temurun.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Kontribusi

Kontribusi berasal dari bahasa inggris yaitu contribute, contribution. Maknanya adalah keikutsertaan, keterlibatan, melibatkan diri ataupun sumbangan. Artinya dalam hal ini kontribusi dapat berupa materi maupun tindakan. Misalnya yang bersifat materi seorang individu memberikan pinjaman terhadap pihak lain demi kebaikan bersama. Contoh lainnya adalah seseorang membayar sejumlah uang untuk dapat mengikuti kegiatan tertentu.

Kontribusi dalam pengertian sebagai tindakan yaitu berupa perilaku yang dilakukan oleh individu yang kemudian memberikan dampak baik itu positif maupun negatif terhadap pihak lain. Contohnya, seseorang melakukan kerja bakti di daerah rumahnya demi menciptakan suasana asri di daerah tempat ia tinggal. Kemudian memberikan dampak positif bagi penduduk maupun pendatang, dengan berkontribusi berarti individu tersebut telah terintegrasi dengan komunitas dan lingkungannya. Berkontribusi berarti individu tersebut juga berarti berusaha meningkatkan efisiensi dan efektivitas hidupnya. Ini dilakukan dengan cara menajamkan posisi dan perannya, sesuatu yang kemudian menjadi bidang spesialis, agar lebih tepat dan sesuai dengan kompetensi (http://patriotproklamasi.blogspot.com/2009/06/afiliasi- partisipasi-dan-kontribusi.html, diakses pada 24 November 2015 pukul 20.30 WIB).

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pengertian dari kontribusi adalah sumbangan, sokongan, pemberian sebagai bantuan. Sumbangan adalah sebuah

pemberian yang umumnya bersifat riil baik oleh perorangan maupun badan hukum. Pemberian ini mempunyai sifat sukarela dengan tanpa adanya imbalan bersifat keuntungan. Pemberian donasi dapat berupa makanan, barang, pakaian, mainan ataupun kendaraan, akan tetapi tidak selalu demikian. Pada peristiwa darurat bencana alam atau dalam keadaan tertentu lain donasi dapat berupa bantuan kemanusian maupun dalam bentuk pembangunan. Pada perawatan medis donasi dapat pemberian transfuse darah dan pemberian penggantian organ. Pemberian donasi dapat dilakukan tidak hanya dalam bentuk pemberian jasa atau barang semata akan tetapi dapat dilakukan pula dalam bentuk pendanaan kehendak bebas.

Masyarakat awam mengartikan kontribusi sebagai sumbangsih atau peran, atau keikutsertaan seseorang dalam suatu kegiatan tertentu. Misalnya dalam melakukan pembangunan di daerah masyarakat harus ikut berkontirbusi dalam pembangunan desa. Kata kontribusi disini diartikan sebagai adanya ikut campur masyarakat baik dalam bentuk tenaga, pikiran dan kepedulian terhadap suatu program atau kegiatan yang dilakukan pihak tertentu. Kontribusi tidak bisa diartikan hanya sebagai keikutsertaan seseorang secara formalitas saja melainkan harus ada bukti nyata atau aksi nyata bahwa orang atau kelompok tersebut ikut membantu ikut turun ke lapangan untuk mengsukseskan suatu kegiatan tertentu. Bentuk kontribusi yang bisa diberikan oleh masyarakat harus sesuai dengan kapasitas atau kemampuan masing-masing orang tersebut. Individu atau kelompok bisa menyumbangkan pikirannya, tenaganya, dan materinya demi mengsukseskan kegiatan yang sudah direncanakan demi untuk mencapai tujuan bersama. Itulah yang merupakan

pengertian kontribusi secara umumnya. (http://pengertiandefenisi.com/konsep-dan- pengertian-kontribusi/ diakses pada 24 November 2015 pukul 21.05 WIB).

Maka pengertian dari kontribusi sendiri ialah tidak terbatas pada pemberian bantuan berupa uang saja. Kontribusi merupakan bantuan dalam bentuk lain seperti bantuan tenaga, bantuan pemikiran, bantuan materi, dan segala macam bentuk bantuan yang kiranya dapat membantu suksesnya kegiatan yang telah direncanakan sebelumnya untuk mencapai tujuan bersama. Makna kontribusi dalam penelitian ini adalah suatu keterlibatan yang dilakukan oleh seorang anak yang kemudian memposisikan dirinya terhadap peran serta dalam keluarga sehingga memberikan dampak yang kemudian dinilai dari aspek sosial dan aspek ekonomi.

2.2 Anak

2.2.1 Pengertian Anak

Anak merupakan individu yang berada dalam suatu rentang perubahan perkembangan yang dimulai dari bayi hingga remaja. Masa anak merupakan masa pertumbuhan dan perkembangan yang dimulai dari bayi (0-1 tahun) usia bermain/oddler (1-2,5 tahun), pra sekolah (2,5-5), usia sekolah (5-11 tahun) hingga remaja (11-18 tahun). Rentang ini berada antara anak satu dengan yang lain mengingat latar belakang anak berbeda.

Menurut The Minimum Age Convention nomor 138 (1973), pengertian tentang anak adalah seseorang yang berusia 15 tahun ke bawah. Berdasarkan Pasal 1 ayat 1 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dijelaskan bahwa

anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan.

Rentang usia anak secara keseluruhan dapat dilihat bahwa usia anak terletak pada skala 0 sampai dengan 21 tahun. Penjelasan mengenai batas usia 21 tahun ditetapkan berdasarkan pertimbangan kematangan sosial, kematangan pribadi, dan kematangan mental seseorang yang umumnya dicapai setelah seseorang melampaui usia 21 tahun (Huraerah, 2012:19).

Rentang usia anak dipertegas dalam Undang-undang nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak yang mengatakan bahwa anak adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun, termasuk anak yang masih di dalam kandungan. Batasan umur seseorang masih dalam kategori anak, berdasarkan beberapa peraturan yang ada di Indonesia cukup beragam, yang antara lain adalah sebagai berikut:

1. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan;

menyebutkan : “Anak yang belum berusia 18 tahun atau belum melakukan perkawinan di bawah kekuasaan orang tuanya”.

2. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan

Anak, pasal 1 angka (1), menyebutkan: “Anak adalah orang yang dalam perkara anak nakal telah mencapai umur 8 (delapan) tahun tetapi belum 11 mencapai

umur 18 (delapan belas) tahun dan belum pernah kawin”.

3. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia, pasal 1 angka (5), menyebutkan bahwa: “Anak adalah manusia yang berusia di bawah 18 (delapan belas) tahun dan belum menikah, termasuk anak

4. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2001 tentang Komite Aksi Nasional Penghapusan Bentuk-bentuk Pekerjaan Terburuk untuk Anak yaitu pada pasal 1 disebutkan bahwa anak adalah semua yang berusia di bawah 18 (delapan belas) tahun.

2.2.2 Hak dan kebutuhan Anak

Pemerintah Indonesia telah meratifikasi Konvensi Hak Anak (KHA) PBB melalui Keppres No 39 Tahun 1990. Menurut KHA yang diadopsi dari Majelis Umum PBB tahun 1989, setiap anak tanpa memandang ras, jenis kelamin, asal-usul keturunan, agama, maupun bahasa, mempunyai hak-hak yang mencakup empat bidang:

1. Hak atas kelangsungan hidup, menyangkut hak atas tingkat hidup yang layak dan pelayanan kesehatan.

2. Hak untuk berkembang, mencakup hak atas pendidikan, informasi, waktu luang, kegiatan seni dan budaya, kebebasan berpikir, berkeyakinan dan beragama, serta hak anak cacat (berkebutuhan khusus) atas pelayanan, perlakuan dan perlindungan khusus.

3. Hak perlindungan, mencakup perlindungan atas segala bentuk eksploitasi, perlakuan kejam, dan perlakuan sewenang-wenang dalam proses peradilan pidana.

4. Hak partisipasi, meliputi kebebasan untuk menyatakan pendapat, berkumpul, dan berserikat,serta hak untuk ikut serta dalam pengambilan keputusan yang menyangkut dirinya ( Huraerah, 2012: 21-22).

Setiap anak sebagaimana halnya manusia lainnya, memiliki kebutuhan- kebutuhan dasar yang menuntut untuk dipenuhi, sehingga dapat tumbuh dan berkembang secara sehat dan wajar. Hutman dan Huraerah merinci kebutuhan anak adalah:

1. Kasih sayang orangtua. 2. Stabilitas emosional. 3. Pengertian dan perhatian. 4. Pertumbuhan dan kepribadian. 5. Dorongan kreatif.

6. Pembinaan kemampuan intelektual dan keterampilan dasar. 7. Pemeliharaan kesehatan.

8. Pemenuhan kebutuhan makanan, pakaian, tempat tinggal yang sehat dan memadai.

9. Aktivitas rekreasional yang konstruktif dan positif. 10.Pemeliharaan, perawatan, dan perlindungan.

Kegagalan dalam proses pemenuhan kebutuhan dasar tersebut akan berdampak negatif pada petumbuhan fisik dan perkembangan intelektual, mental, dan sosial anak. Anak bukan saja akan mengalami kerentanan fisik akibat gizi dan dan kualitas kesehatan yang buruk, melainkan juga mengalami hambatan mental, lemah daya nalar bahkan perilaku-perilaku seperti nakal, autis, tidak suka diatur yang kelak

mendorong mereka menjadi manusia „tidak normal‟ dan perilaku kriminal (Suharto

2.2.3 Anak yang Bekerja dan Pekerja Anak

Berkaitan dengan pekerja anak pasal 32 KHA menegaskan bahwa anak harus dilindungi dari eksploitasi ekonomi. Anak juga harus dilindungi dari pelaksanaan setiap pekerjaan yang mungkin berbahaya atau mengganggu pendidikan anak. Yang akan merugikan kesehatan atau perkembangan fisik, mental, spiritual, moral, atau sosial anak. Indonesia merupakan salah satu negara yang meratifikasi KHA berdasarkan Kepres No. 36 tahun 1990 dan dengan demikian Pemerintah Indonesia bertanggung jawab untuk melindungi hak-hak anak terutama pekerja anak sebagaimana tercantum pada KHA tersebut (Ikhsan dkk,2000:1)

Prakteknya menunjukkan bahwa nasib anak-anak di Indonesia dewasa ini tidaklah seperti yang dituliskan di dalam doktrin-doktrin formal itu. Berbagai problematika persoalan anak yang acapkali terdengar adalah anak jalanan, anak jermal, pekerja anak maupun anak yang bekerja. Isu anak yang bekerja (working

children) telah menjadi program aksi badan-badan dunia. Jumlah anak yang bekerja

dan skala penderitaannya terus meningkat dari tahun ke tahun.

Berkaitan dengan konsep pekerja anak atau anak bekerja, indikator Kesejahteraan Rakyat memberitahukan batasan bahwa yang termasuk pekerja anak adalah penduduk yang berusia 10-14 tahun yang melakukan kegiatan untuk memperoleh pendapatan atau penghasilan minimal 1 jam dalam seminggu. Kendati demikian, BPS 1993 meletakkan kategori anak yang berstatus sebagai pekerja anak tak dibayar, misalnya membantu orangtua menjaga warung, sebagai pekerja anak. Melihat kondisi ini, Badan Indikator Kesejahteraan Rakyat 1966 menjelaskan bahwa pekerja anak tidak selalu identik dengan buruh anak (child labour). Buruh anak

diidentifikasikan sebagai anak yang bekerja dalam situasi yang biasanya mengandung unsur lingkungan kerja yang membahayakan dan unsur eksploitatif. Konsepsi tersebut tidak mengabaikan bahwa pekerja anak kadangkala juga berada pada lingkungan kerja yang membahayakan dan eksploitatif akibatnya batasan antara pekerja anak dengan buruh anak menjadi kabur (Ikshan, dkk, 2000).

Soetarso menegaskan bahwa tidak dikategorikan sebagai pekerja anak adalah anak yang dibimbing oleh orangtua atau sanak keluarganya atau atas kesadarannya sendiri membantu pekerjaan orangtua atau orang lain. Anak yang tidak diarahkan untuk mencari atau membantu mencari nafkah tetapi untuk menanamkan atau memperoleh pengetahuan, keterampilan,dan atau sikap kewirausahaan sejak dini. Anak tersebut masih sekolah dan kegiatan tersebut tidak mengganggu proses belajar di sekolahnya (Huraerah, 2006). Masyarakat biasanya mendefenisikan anak bekerja sebagai upaya membantu orang tua. Anak yang tidak melakukan nya sementara orangtua mengaharapkannya demikian disebut tidak mengerti keadaan orang tua. Anak yang bekerja tanpa disuruh dan diharapkan untuk bekerja disebut mengerti kesulitan orangtua (Ikhsan, 2000).

Menurut Warsini anak yang bekerja adalah anak melakukan pekerjaan karena membantu orangtua, latihan keterampilan dan belajar bertanggung jawab. Misalnya membantu mengerjakan tugas-tugas dirumah, membantu pekerjaan orang tua diladang dan lain-lain. Anak melakukan pekerjaan yang ringan dapat dikategorikan sebagai proses sosialisasi dan perkembangan anak menuju dunia kerja. Indikator anak membantu melakukan pekerjaan ringan adalah :

2. Ada unsur pendidikan/pelatihan. 3. Anak tetap sekolah.

4. Dilakukan pada saat senggang dengan waktu yang relatif pendek. 5. Terjaga keselamatan dan kesehatannya.

Lebih lanjut menurut Kelompok usia tersebut dikelompokkan menjadi tiga yaitu: 5-12, 13-15 dan 16-17. Penentuan batas terendah yaitu usia 5 tahun dipilih berdasarkan kenyataan bahwa di Indonesia masih sangat jarang (jika ada) bagi anak- anak untuk terlibat dalam ketenagakerjaan. Walaupun sangat mungkin terjadi bagi anak-anak untuk berada di dalam pekerjaan setidaknya sebagai pekerja keluarga yang

Dokumen terkait