PEDOMAN WAWANCARA
KONTRIBUSI ANAK BEKERJA TERHADAP SOSIAL EKONOMI KELUARGA
(Studi Kasus Anak Bekerja Sebagai Tukang Sapu Angkutan di Terminal Terpadu Amplas, Medan)
I. Karakteristik Identitas Informan 1. InformanKunci (Anak Bekerja)
Identitas Informan
1. Nama :
2. Jenis Kelamin :
3. Anak ke :
4. Usia :
5. Agama :
6. Suku :
7. Pendidikan :
8. Pekerjaan :
9. Pekerjaan Orangtua :
10.Alamat :
II. Pertanyaan Untuk Anak Bekerja
1. Apakah adik sedang sekolah? Jika YA dimana?
2. Sejak kapan adik mulai bekerja sebagai penyapu angkutan umum di Terminal
Terpadu Amplas ini?
3. Bagaimana adik bisa sampai bekerja sebagai tukang sapu angkutan?
4. Kapan adik bekerja dan berapa lama bekerja dalam sehari?
5. Apa alasan utama adik bekerja sebagai tukang sapu angkutan di Terminal
Terpadu Amplas ini?
6. Selain di Terminal Terpadu Amplas ini, apakah adik bekerja di tempat lain?
Jika Ya, dimana dan apa alasannya?
Jika Tidak kenapa memilih bekerja di Terminal Terpadu Amplas?
7. Berapa pendapatan yang adik peroleh dalam satu hari membersihkan angkutan
umum?
8. Setelah mendapatkan uang dari hasil menyapu, untuk apa uang tersebut
dipergunakan?
9. Apa saja modal yang adik gunakan untuk bekerja sebagai tukang sapu
angkutan?
10.Apa kegiatan yang adik lakukan setelah selesai melakukan pekerjaan
menyapu angkutan?
11.Apakah orangtua atau keluarga kamu mengetahui pekerjaan adik ini?
12.Bagaimana hubungan kamu dengan teman-teman sesama anak penyapu
angkutan di Terminal Terpadu Amplas ini ?
13.Bagaimana hubungan kamu dengan masyarakat atau orang-orang yang ada
disekitar Terminal Amplas ?
14.Pada waktu kamu mendapatkan peghasilan dari menyapu angkutan umum,
apakah kamu harus member uang atau ”setoran” kepada seseorang atau
I. Karakteristik Identitas Informan
2. InformanUtama (Anggota Keluarga Anak Bekerja)
Identitas Informan
1. Nama :
2. Jenis kelamin :
3. Status di Keluarga :
4. Usia :
5. Agama :
6. Suku :
7. Pendidikan terakhir :
8. Jumlah Anggota Keluarga :
9. Pekerjaan :
10.Alamat :
II. Pertanyaan untuk Anggota Keluarga Anak Bekerja
1. Apakah anak anda masih bersekolah?
2. Apakah anda mengetahui anak anda bekerja sebagai penyapu angkutan di
Terminal Terpadu Amplas?
3. Apakah anda mendukung anak anda untuk bekerja?
4. Bagaimana anak anda pertama kalinya bisa sampai bekerja sebagai tukang
sapu angkutan?
5. Berapa yang diberikan anak anda untuk keluarga setiap harinya?
7. Bagaimana pemenuhan kebutuhan keluarga sebelum dan sesudah anak anda
bekerja?Jelaskan.
8. Kegiatan apa saja yang dilakukan anak anda sepulang sekolah?
9. Bagaimana prestasi anak anda di sekolah sebelum dan pada saat bekerja
sebagai tukang sapu angkutan di Terminal Terpadu Amplas?
10.Bagaimana interaksi anak anda dengan keluarga, teman sebaya dan
I. Karakteristik Identitas Informan
3. Informan Tambahan (Supir angkutan, petugas terminal amplas, dan pedagang yang ada di Terminal TerpaduAmplas).
Identitas Informan
1. Nama :
2. Jenis kelamin :
3. Usia :
4. Agama :
5. Suku :
6. Pendidikan terakhir :
7. Pekerjaan :
8. Alamat :
II. Pertanyaan untuk Supir angkutan, petugas terminal Amplas, dan pedagang yang ada di Terminal TerpaduAmplas
1. Bagaimana kondisi anak tukang sapu angkutan di Terminal Terpadu
Amplas ini?
2. Berapa uang yang anda berikan kepada anak yang bekerja sebagai
tukang sapu angkutan? Dan kenapa anda setuju memberikannya
kepada anak tersebut? (Khusus Supir)
3. Bagaimana hubungan bapak/ ibu terhadap anak tukang sapu angkutan
4. Apakah bapak/ ibu ada keluhan terhadap hadirnya anak tukang sapu
angkutan di Terminal Terpadu Amplas ini? Jika ada apa saja?
5. Bagaimana respon bapak/ ibu terhadap hadirnya anak bekerja sebagai
DOKUMENTASI
Gambar 4: Peneliti melakukan obesevasi kegiatan-kegiatan dan wawancara dengan informan tambahan (supir angkutan, pedagang asongan, dan petugas
DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi, Abu. 2007. Psiklogi Sosial, Jakarta: Rineka Cipta
Fahruddin, Adi. 2012. Pengantar Kesejahteraan Sosial. Bandung: Refika Aditama
Huraerah, Abu. 2012. Kekerasan terhadap Anak. Bandung: Nuansa Cendekia
Ikhsan, Ediyono, Siregar, Martua. 2000. Pekerja Anak di Perkebunan Tebu, Jakarta:
Khairuddin. 1997. Sosiologi Keluarga. Yogyakarta: Liberty
Ramlan, Eddy. 2000. Pembinaan Budaya Dalam Lingkungan Keluarga, Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Siagian, Matias. 2011. Metode Penelitian Sosial. Pedoman Praktis Penelitian Bidang
Ilmu-Ilmu Sosial dan Kesehatan, Medan: PT.Grasindo Monoratama.
Soekanto, Soerjono. 2007. Sosiologi Suatu Pengantar, Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Su‟adah. 2005. Sosiologi Keluarga, Malang: UMM Press
Sunarto, Kamanto. 2004. Pengantar Sosiologi. Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara
Susanto,Astrid S. 1984. Sosiologi Pembangunan. Jakarta: Bina Cipta
Suyanto, Bagong. 2003. Masalah Sosial Anak . Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Suyanto dan Sutinah. 2006. Metode Penelitian Sosial. Berbagai Pendekatan
Alternatif Pendekatan, Jakarta: Kencana.
SUMBER LAIN
Emei Dwinanarhati Setiamandani, Perlindungan Hukum Bagi Pekerja Anak dan
Upaya Penanggulangannya, 2012
http://emeidwinanarhati.blogspot.com/2012/08/jurnal-reformasi.html di akses pada tanggal Kamis, 19 November pukul 00.06 wib
Irwanti Melati. Perbedaan Pekerja Anak Dan Anak Yang Bekerja, 2012
http://irwantimelati.blogspot.com/2012/03/perbedaan-pekerja-anak-dan-anak-yang.bekerja.html diakses pada tanggal Kamis, 19 November pukul 00.06 WIB.
Dr. Sri Tjahjorini, MSi. Masalah Kemiskinan: Implikasinya Pada Pekerja Anak, 2014 http://puspensos.kemsos.go.id/home/br/189
(Fahmi Idris. Buku Pedoman Bagi Pengawas Ketenagakerjaan dalam
Menanggulangi Pekerja Anak, 2007).
http://www.ilo.org/wcmsp5/groups/public/---asia/---ro-bangkok/---ilo
jakarta/documents/instructionalmaterial/wcms_150636.pdf diakses pada hari
Kamis tanggal 19 November, 2015 pukul 23.00.
(http://repository.unand.ac.id/17556/1/pekerja anak dibawah umur.pdf diakses pada tanggal 25 November 2015 pukul 21.00 WIB.
http://www.ilo.org/jakarta/info/public/pr/WCMS_122351/lang--en/index.htm diakses pada Sabtu 16 November 2015 20.00 WIB.
http://paudni.kemdikbud.go.id/berita/6069.html diakses pada sabtu 16 November 20.15 WIB.).
http://www.kemenpppa.go.id/index.php/daftar-buku/profil
anak?download=510:profilanak2012 diakses pada Sabtu 16 November 20.25 WIB).
http://jurnal.umrah.ac.id/wp-content/uploads/2013/08/JURNAL-RAHMADANI- SOS-2zhjkjshfs013.pdf diakses pada tanggal 15 November pukul 2015 22.08 wib).
http://www.ilo.org/wcmsp5/groups/public/@asia/@ro-bangkok/@ilo
jakarta/documents/publication/wcms_123584.pdf diakses pada 15 November 2015 pukul 18.05).
dalam-situasi-terburuk/ diakses pada 20 November 2015 pukul 11.42 WIB.
https://groups.yahoo.com/neo/groups/transtvmedan/conversations/message/2682&l diakses pada 20 November 2015 12.42 WIB.
http://www.researchgate.net/publication/42355250-Tinjauan-Tentang-Pekerja-Anak- Di-Terminal-Amplas-%28Studi-Kasus-Anak-yang-Bekerja-Sebagai-Penyapu-Angkutan-Umum-di-terminal-Terpadu-Amplas%29 diakses pada 25 November, 2015 pukul 22.00 WIB.
http://download.portalgaruda.org/article.php?article=110606&val=4126 diakses pada Sabtu 25 November 2015 Pukul 10.19 WIB.
http://patriotproklamasi.blogspot.com/2009/06/afiliasi-partisipasi-dankontribusi.html, diakses pada 24 November 2015 pukul 20.30 WIB.
(http://pengertiandefenisi.com/konsep-dan-pengertian-kontribusi/ diakses pada 24 November 2015 pukul 21.05 WIB).
(https://id.wikipedia.org/wiki/Medan_Amplas,_Medan diakses pada 04 Januari 2016
Pukul 20.00 WIB).
(Kantor Lurah Timbang Deli, 2016).
(Kantor Terminal Terpadu Amplas,2016).
BAB III
METODE PENELITIAN 3.1 Tipe Penelitian
Tipe penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Penelitian deskriptif adalah
penelitian yang dilakukan dengan tujuan menggambarkan atau mendeskripsikan
objek dan fenomena yang ingin diteliti. Termasuk di dalamnya bagaimana
unsur-unsur yang ada dalam variabel. Penelitian ini berinteraksi satu sama lain dan apa pula
produk interaksi yang berlangsung (Siagian,2011:52). Melalui penelitian deskriptif,
penulis ingin menggambarkan secara jelas bagaimana kontribusi anak yang bekerja
terhadap ekonomi keluarga dengan studi kasus anak yang bekerja sebagai tukang
sapu angkutan di Terminal Terpadu Amplas, Medan.
3.2 Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Terminal Terpadu Amplas, Kecamatan Medan
Amplas. Letak posisi Terminal Amplas sangat strategis karena tidak terletak dalam
wilayah Kota Medan, melainkan di pinggiran Kota Medan, tepatnya di Kecamatan
Medan Amplas, Kelurahan Timbang Deli. Posisi Terminal Terpadu Amplas agak
menjorok kedalam dari jalan SM. Raja km 8,5 di persimpangan Amplas menghadap
kearah timur. Adapun penelitian dilakukan ditempat ini karena Terminal Terpadu
Amplas merupakan terminal terbesar di Kota Medan yang terkenal dengan aktivitas
ekonomi yang tinggi. Kompleksnya kegiatan ekonomi yang ada di terminal ini
memicu banyaknya anak-anak menggeluti pekerjaan di tempat ini untuk mendapatkan
melayani orang dalam melayani orang yang membutuhkan transportasi ke berbagai
daerah dalam kota ataupun keluar kota juga antar provinsi.
3.3 Informan Penelitian
Penelitian ini bersifat kualitatif, maka dalam penelitian ini tidak mengenal
populasi dan sampel. Subjek penelitian pada penelitian kualitatif disebut informan.
Informan adalah orang-orang yang dipilih untuk diobservasi dan diwawancarai sesuai
dengan tujuan peneliti untuk memberikan berbagai informasi yang diperlukan selama
proses penelitian (Suyanto & Sutinah, 2005: 171-172). Orang-orang yang dapat
dijadikan sebagai informan adalah orang-orang yang memiliki pengalaman sesuai
penelitian. Adapun informan dalam penelitian ini yaitu:
1. Informan Kunci
Informan kunci adalah orang yang mengetahui dan memiliki informasi pokok
yang diperlukan dalam penelitian. Informan kunci dalam penelitian ini adalah 5
orang anak-anak bekerja sebagai tukang sapu angkutan di Terminal Terpadu
Amplas.
2. Informan Utama
Informan utama adalah orang yang terlibat secara langsung dalam interaksi social
yang diteliti dalam penelitian. Informan utama dalam penelitian ini adalah 5 orang
dari anggota keluarga anak bekerja sebagai tukang sapu angkutan di Terminal
3. Informan Tambahan
Informan tambahan adalah orang yang dapat memberikan informasi walaupun
tidak langsung terlibat dalam interaksi sosial yang sedang diteliti (Hendraso,
dalam Sutinah, 2005: 171-172). Adapun yang menjadi informan tambahan dalam
penelitian ini adalah orang supir angkutan, petugas terminal Amplas, dan
pedagang yang ada di Terminal Terpadu Amplas.
3.4 Teknik Pengumpulan Data
Data yang diperlukan dalam penelitian ini, diperoleh dengan teknik
pengumpulan data sebagai berikut:
1. Studi kepustakaan (library research) yaitu pengumpulan data atau informasi
menyangkut masalah yang akan diteliti dengan mempelajari dan menelaah buku
serta tulisan yang ada kaitannya terhadap masalah yang diteliti.
2. Studi lapangan, yaitu pengumpulan data atau informasi yang diperoleh melalui
kegiatan penelitian langsung turun ke lokasi penelitian untuk mencari fakta-fakta
yang berkaitan dengan masalah yang diteliti melalui:
a) Observasi yaitu mengumpulkan data atau informasi yang dilakukan dengan
pengamatan, mendengar, serta mencacat objek yang diteliti untuk
mendapatkan gambaran yang tepat mengenai objek penelitian.
b) Wawancara yaitu mengumpulkan data atau informasi dengan melakukan tanya
jawab secara bertatap muka yang dilakukan pengumpul data dengan informan
sehingga informan memberikan data atau informasi yang diperlukan dalam
3.5.1 Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah teknik
analisis data deskriptif dengan pendekatan kualitatif, yaitu dengan mengkaji data
yang dimulai dengan menelaah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber dan
data yang terkumpul. Selanjutnya mempelajari data, menelaah, menyusun dalam satu
satuan, yang kemudian dikategorikan pada tahap berikutnya dan memeriksa
keabsahan data serta mendefenisikannya dengan analisis sesuai dengan kemampuan
daya peneliti untuk membuat kesimpulan penelitian (Moleong, 2004). Setiap data dari
informasi yang telah dikumpulkan dalam penelitian berupa cacatan lapangan berupa
data utama dari hasil wawancara maupun data penunjang lainnya dilakukan analisis
data, sehingga pada akhirnya dapat menghasilkan suatu analisis data yang baik dan
BAB IV
DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN
4.1 Kecamatan Medan Amplas
Memahami kondisi fisik dan sosial Terminal Terpadu Amplas tentu tidak
terlepas dari data tentang wilayah-wilayah di sekitar Terminal Terpadu Amplas, tidak
terkecuali dalam rangka penelitian tentang anak bekerja sebagai tukang sapu di lokasi
tersebut. Kecamatan Medan Amplas adalah salah satu dari 21 kecamatan di kota
Medan, Sumatera Utara, Indonesia. Pada tahun 2001, kecamatan ini mempunyai
penduduk sebesar 88.638 jiwa. Luasnya adalah 11,19 km² dan kepadatan
penduduknya adalah 7.921,18 jiwa/km². Di kecamatan ini terletak Terminal Terpadu
Amplas yang merupakan terminal keluar masuk untuk mobil angkutan umum antar
kota dan provinsi. Selain itu di Terminal Terpadu Amplas juga terdapat Jembatan
Layang yang mulai dibangun sejak tahun 2006 dan telah selesai pada tahun 2009.
(https://id.wikipedia.org/wiki/Medan_Amplas,_Medan diakses pada 04 Januari 2016
Pukul 20.00 WIB).
Kecamatan Medan Amplas adalah daerah pintu gerbang Kota Medan di
sebelah timur yang merupakan pintu masuk dari daerah lainnya di Sumatera Utara
maupun Provinsi lainnya melalui transportasi darat. Kecamatan Medan Amplas
terletak di wilayah Tenggara Kota Medan dengan batas-batas wilayah sebagai
berikut:
1. Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Medan Johor
3. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Deli Serdang
4. Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Medan Kota dan Kecamatan
Medan Denai
4.2 Kelurahan Timbang Deli
Kelurahan timbang deli adalah salah satu kelurahan di kecamatan Medan
Amplas yang berada di Jalan Balai Desa Nomor 17. Terminal Terpadu Amplas
berada dalam wilayah Pemerintahan Kelurahan Timbang Deli sehingga kondisi fisik
dan sosial kelurahan timbang deli erat kaitannya dengan lokasi penelitian. Kelurahan
Timbang Deli berbatasan langsung dengan Kelurahan Amplas dan Kabupaten Deli
Serdang di sebelah utara, Kabupaten Deli Serdang di sebelah selatan, Kelurahan
Harjosari I dan Harjosari II di sebelah barat, Kelurahan Bangun Mulia di sebelah
timur. Kelurahan ini memiliki luas wilayah sekitar 283 Ha dengan jarak antara kantor
lurah dengan kantor kecamatan medan amplas sekitar 5 km.
Kelurahan Timbang Deli yang dipimpin oleh seorang Lurah terbagi atas 15
lingkungan. Tahun 2013 ada 7 Pegawai Negeri yang dialokasikan untuk
pemerintahan Kelurahan Timbang Deli. Jumlah penduduk adalah 15.627 jiwa, luas
wilayah 283 Ha dan kepadatan penduduk 0,018 per km2 (Sumber: Kantor Lurah
Timbang Deli, 2016).
4.3 Terminal Terpadu Amplas
Terminal Terpadu Amplas merupakan sebuah terminal di Kota Medan,
Daerah (BAPPEDA) pada 15 Juli 1991. Terminal ini dibangun dengan dasar
pemikiran bahwa terminal tidak boleh berada di inti kota melainkan harus di
pinggiran kota. Terminal ini merupakan terminal pengganti yang terdahulu berada di
jalan Sisingamangaraja, yaitu Terminal Teladan. Terminal Amplas ini berada di Jalan
Pertahanan No. 10 Medan tenggara 7. Terminal Terpadu Amplas ini masih termasuk
kedalam kelurahan Timbang Deli, Kecamatan Medan Amplas, Sumatera Utara.
Wilayah terminal ini pada awalnya merupakan daerah rawa-rawa yang tidak
dapat dipergunakan atau dimanfaatkan oleh masyarakat sekitarnya. Melihat
perkembangan dan pertumbuhan daerah Kota Medan, kebutuhan akan terminal sangat
dirasakan oleh masyarakat Kota Medan. Beranjak dari kebutuhan ini maka
Pemerintah Daerah membuat suatu kebijakan untuk mendirikan terminal. Adapun
luas keseluruhan Terminal Terpadu Amplas adalah sekitar 50.961 M² sekeliling.
Terminal Terpadu Amplas dibatasi oleh tembok dan pagar besi, disamping itu
terdapat pintu putar masuk. Dahulu kedua pintu ini dipergunakan bagi orang-orang
yang ingin masuk dan keluar terminal, dan setiap orang dikenai biaya, namun
sekarang kedua pintu itu tidak dipergunakan lagi dan orang-orang bebas keluar masuk
tanpa dipungut biaya. Bagi angkutan umum atau bus (MPU AKDP) yang masuk
dikenakan biaya Rp. 1000, untuk angkutan kota dalam provinsi (AKDP) dan Rp.
2500, dan untuk angkutan kota antar provinsi (AKAP) Rp. 5000 (Sumber : Kantor
Terminal Terpadu Amplas, 2016).
Terminal Terpadu Amplas sebagaimana layaknya terminal besar, maka
Terminal Terpadu Amplas ini juga dibuka 24 jam. Bus yang berada di Terminal
propinsi Siantar, Tebing Tinggi, dan lain sebagainya dan luar kota luar propinsi
seperti Jakarta, Solo dan sebagainya maupun angkutan dalam kota saja.
Dari data yang diperoleh peneliti dari pegawai kantor Terminal Terpadu Amplas
bahwa jumlah pegawai yang ada di Terminal Terpadu Amplas ada sebanyak 110
orang yang ditugaskan oleh dinas perhubungan. Pada lantai dasar terdapat loket-loket
bus, jumlahnya kira-kira 60 loket, loket ini dibagi atas 2 bagian yaitu :
1) Loket Angkutan Kota dalam Provinsi.
Contoh : bus perjalanan Medan-Siantar. Loket angkutan kota dalam provinsi
dikenakan biaya/ sewa loket sebesar Rp.10.000 per hari.
2) Loket Angkutan Kota Antar Provinsi.
Contoh : bus perjalanan Medan-Jakarta, solo. Loket angkutan kota antar provinsi
ini membayar sewa loket sebesar Rp. 20.000 per hari (Sumber : Kantor Terminal
Terpadu Amplas, 2016).
4.4 Sarana dan Prasarana
Terminal Terpadu Amplas merupakan terminal tipe A, artinya terminal yang
dikategorikan tipe nasional. Terminal mempunyai 2 unit gedung :
1. Gedung induk
Gedung induk ini terdiri dari 3 (tiga) lantai, pada lantai pertama terlihat adanya
loket-loket bus, loket bus ini jumlahnya 35 unit, sedangkan lantai kedua terlihat
2. Gedung sarana pendukung
Gedung sarana pendukung lainnya merupakan tempat kedai nasi dan juga masih
terdapat loket bus. Terminal Terpadu Amplas ini juga memiliki sebuah gudang,
gudang tersebut juga termasuk sarana pendukung.
Fasilitas Yang Tersedia:
1. Tempat Beribadah.
Hanya ada satu tempat ibadah yang terdapat di dalam terminal yang berada di unit
induk, dilantai kedua. Tempat beribadah tersebut adalah sebuah musholla, yang
diperuntukkan bagi pegawai atau orang-orang yang berada di sekitar terminal
yang ingin melaksanakan sholat.
2. Tempat Parkir
Di Terminal Terpadu Amplas terdapat tempat paekie, tempat parkir hanya satu
dimana parkir kendaraan roda 2 (dua) dan roda 4 (empat), besarnya biaya parkir
untuk kendaraan roda 2 adalah Rp 2000, sedangkan roda 4 tidak memakai uang
parkir lagi karna sudah diambil dari uang masuknya, selain tempat parkir masih
ada terdapat pelataran atau tempat-tempat bus “nginap” di terminal
3. Penerangan
Selain penerangan dari PLN (Perusahan Listrik Negara), Terminal Terpadu
Amplas juga memiliki mesin penerangan sendiri, karena aktifitas yang dilakukan
4. Air Bersih
Sarana air bersih yang tersedia diperoleh PDAM (Perusahaan Daerah Air
Minum).
5. WC. Umum
Terminal Terpadu Amplas mempunyai dua unit WC umum, kedua WC umum ini
berada di lantai dasar. Setiap unit mempunyai tiga saluran pembuangan, bagi yang
menggunakan WC umum ini dikenakan biaya Rp. 500 untuk buang air kecil
(BAK), dan Rp. 1000 untuk buang air besar (BAB) atau mandi.
6. Kebersihan
Sarana kebersihan antara lain yang disediakan yaitu :
1) Truk sampah : Truk ini dipergunakan untuk mengangkut sampah dari terminal
tersebut kepembuangan akhir, jumlahnya 1 unit.
2) Becak Sampah : Becak sampah juga disediakan untuk mengangkut sampah ke
pembuangan sampah sementara dan jumlahnya 1 unit.
3) Tong Sampah : Tong sampah terdiri dari tong sampah berukuran kecil yang
jumlahnya buah.
4) Petugas kebersihan yang jumlahnya sebanyak satu orang untuk satu unit orang
yang bertugas untuk membersihkan terminal.
7. Keamanan
Disamping SATPAM (Satuan Pengamanan) yang memang disediakan untuk
menjaga keamanan di Terminal Terpadu Amplas, juga terlibat dari pihak
Di lantai pertama atau dasar juga terdapat toko-toko atau kios-kios dan
dipungut sewanya,. Besarnya bayaran yang dilakukan penyewa kios dengan bayaran
sebesar Rp.250.000/ M² untuk gedung induk per tahun, sedangkan bayaran penyewa
kios untuk gedung pendukung Rp.150.00/ M² /per tahun (Sumber: Pegawai Terminal
Terpadu Amplas,2016). Kios-kios tersebut menyediakan berbagai jenis barang mulai
dari makanan ringan seperti (permen, kue-kue kering, kerupuk), buah-buahan seperti
(pisang, apel, jeruk) dan obat-obatan. Selain kios yang menjual makan ringan.
Terminal Terpadu Amplas ini juga masih dapat dijumpai kedai nasi,
pedagang-pedagang kaki lima dan pedagang-pedagang asongan.
4.5 Kegiatan-kegiatan yang ada di Terminal Terpadu Amplas.
Apabila kita memasuki Terminal Terpadu Amplas maka terlihat berbagai
aktifitas atau kegiatan yang dilakukan oleh orang-orang yang berada di terminal
tersebut. Suasana yang ramai dengan suara bising yang berasal dari suara angkutan
umum, bus, dan orang-orang yang ada di terminal tersebur seperti calo angkutan
umum yang saling berebutan sewa angkutan masing-masing. Para pedagang asongan
ini biasanya berlari-lari mengejar bus untuk menawarkan barang dagangannya kepada
para penumpang bus. Biasanya para pedagang asongan ini menjual berbagai makan
ringan, seperti permen, kerupuk, roti dan ada juga yang berjualan majalah, novel,
rokok, tissue serta minuman. Pedagang-pedagang kaki lima dan pedagang asongan
yang ada di Terminal Terpadu Amplas terdiri dari anak-anak, orang dewasa dan
Kegiatan-kegiatan lain yang masih dapat dilihat di Terminal Terpadu Amplas
ini adalah anak-anak penyapu angkutan umum. Anak penyapu angkutan umum dapat
kita jumpai disimpang jalan masuk ke Terminal Terpadu Amplas dan ada juga yang
berada di dalam Terminal Terpadu Amplas. Setiap anak penyapu angkutan umum
sudah memiliki langganan angkutan yang akan disapunya. Mereka sudah terbagi-bagi
artinya anak-anak penyapu angkutan lain tidak boleh datang atau menyapu angkutan
di wilayah anak yang lain.
Ketika mereka bekerja, anak-anak penyapu angkutan umum menggunakan
alat-alat sederhana seperti sapu kecil, oli atau solar yang dimasukkan ke dalam botol
atau semprotan air yang terbuat dari bahan plastik. Adapun guna oli ataupun solar ini
adalah agar lantai licin dan tidak cepat berkarat. Mereka akan diberi upah Rp.2000
untuk 1 angkutan yang mereka bersihkan. Pendapatan yang di peroleh anak-anak ini
sekitar Rp 20.000-50.000 /hari. Pendapatan ini biasanya mereka berikan sebagian
kepada orangtuanya, selebihnya untuk keperluan mereka sendiri, seperti untuk uang
BAB V ANALISIS DATA
5.1 Pengantar
Melalui hasil penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti di lapangan yaitu
melakukan teknik wawancara secara mendalam dan observasi partisipatif dengan
informan, peneliti berhasil mengumpulkan informasi mengenai kontribusi anak
bekerja terhadap sosial ekonomi keluarga (studi kasus anak bekerja sebagai tukang
sapu angkutan di Terminal Terpadu Amplas, Medan). Pengumpulan data dilakukan
melalui beberapa tahapan yaitu :
1. Studi kepustakaan (library research) yaitu pengumpulan data atau informasi
menyangkut masalah yang diteliti dengan mempelajari dan menelaah buku serta
tulisan yang ada kaitannya terhadap masalah yang diteliti.
2. Peneliti melakukan observasi untuk memperoleh gambaran tentang kondisi fisik
dan sosial lokasi penelitian dan selanjutnya untuk menggali informasi tentang
motif anak-anak tukang sapu angkutan bekerja di Terminal Terpadu Amplas.
3. Melakukan wawancara terhadap informan kunci, informan utama, dan informan
tambahan untuk mengetahui kontribusi mereka dalam kehidupan sosial ekonomi
keluarganya.
5.2 Hasil Temuan
Selama melakukan observasi, peneliti melihat anak-anak tukang sapu
sudah tidak bersekolah lagi sudah berada di lokasi pada pagi hari sekitar pulul 09.00
WIB. Selain bekerja di Terminal Terpadu Amplas sebagai tukang sapu angkutan,
beberapa dari mereka juga bekerja sebagai tukang sapu dan pengamen di
persimpangan lampu merah Amplas. Selama observasi, sesekali peneliti melihat
anak-anak tukang sapu di lokasi penelitian berkumpul untuk beristirahat dan bermain
setelah membersihkan angkutan. Hubungan diantara anak-anak tukang sapu angkutan
kebanyakan tidak sampai mengganggu kegiatan masing-masing untuk mencari uang.
Hanya saja ada saja anak-anak yang nakal dan mau menjahili temannya dengan
pembicaraan kotor yang lainnya, kadang saling mengejek satu sama lain, bahkan
sampai terjadi pukulan-pukulan yang tidak bersifat fatal.
Masyarakat sekitar Terminal juga banyak yang melakukan aktifitas ekonomi
di Terminal Terpadu Amplas. Adapun diantaranya sebagai pedagang asongan, agen
bis, pemilik kedai, pemilik toko, tukang becak dan lainnya. Sebagian dari mereka ada
yang akrab dengan anak-anak tukang sapu angkutan tersebut, bahkan sudah
diperlakukan seperti anak sendiri. Tapi sayangnya ada juga dari mereka yang tidak
peduli dengan anak-anak tukang sapu tersebut. Kadang mereka memarahi anak-anak
tukang sapu dengan pembicaraan kotor. Selain itu mereka tidak terlalu
memperdulikan kegiatan apa-apa saja yang dilakukan oleh anak-anak tukang sapu
tersebut. Sehingga mereka melakukan tindakan menyimpang seperti berkelahi,
merokok, main judi, saling memaki.
Anak-anak tukang sapu yang melakukan aktifitas di lokasi penelitian banyak
kondisinya yang memprihatinkan baik kondisi fisik dan rohani nya. Kondisi anak
,dan kulitnya sangat kotor, karena pekerjaan mereka itu berhadapan dengan abu dan
terik matahari. Mereka tidak terlalu peduli dengan penampilan demi mencari uang
dengan menyapu angkutan tersebut. Tidak banyak dari mereka yang berpenampilan
rapi layaknya anak sekolah. Anak-anak tukang sapu itu bekerja untuk mengumpulkan
uang ribuan demi ribuan. Mereka melakukan pekerjaan tersebut hanya bermodalkan
sapu bekas dan semprotan yang diisi solar.
Mereka menunggu angkutan masuk ke terminal di pintu masuk terminal
tersebut. Ketika angkutan masuk beberapa dari mereka akan berteriak untuk
menawarkan jasa sapu mereka. Kalimat yang sering mereka ucapkan seperti yang
diamati oleh peneliti ada pada berikut ini: “Bang..bang..sapu bang?. Kadang mereka
akan sedikit merayu supir angkutan tersebut dengan pernyataan berikut: “Sapu napa
bang, buat beli jajan bang!”. Ketika supir menundukkan kepalanya yang artinya
menerima tawaran tersebut, mereka berlari saling kejar-kejaran naik ke angkutan
tersebut. Siapa yang pertama naik maka dia lah yang akan menyapu angkutan
tersebut. Setelah dapat mengumpulkan uang beberapa puluh ribu mereka terlihat ceria
dan lebih santai.
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti, timbul keinginan
untuk keinginan peneliti mencari tau untuk apa uang yang mereka dapat itu
digunakan. Supaya melihat gambaran yang lebih jelas dan rinci mengenai data - data
yang telah didapat dari hasil penelitian dilapangan, penulis mencoba menguraikan
data-data yang telah didapat dari wawancara dengan informan dengan narasi penulis
Informan Kunci I
Nama : Yohanes Hasibuan
Jenis Kelamin : Laki-laki
Anak ke : 2 dari tiga 3 bersaudara
Usia : 11 Tahun
Agama : Kristen
Suku : Batak Toba
Pendidikan : Kelas IV SD
Pekerjaan : Tukang sapu Angkutan
Pekerjaan Orangtua : Ayah (Supir)
Ibu (Pedagang Monja)
Alamat : Jl. Penilar, Amplas
Cita-cita : TNI
Informan pertama bernama Yohanes Hasibuan merupakan informan yang
paling dekat dengan peneliti. Dia adalah anak penyapu angkutan yang
memperkenalkan peneliti dengan teman-temannya yang lain. Pertemuan pertama
adalah di pintu masuk terminal ketika Yohanes sedang berteduh dibawah pohon di
pintu masuk terminal dengan menggandeng sapu dan semprotan sembari
memperhatikan angkutan masuk ke terminal. Dia melihat peneliti sedang berbincang
dengan salah satu petugas terminal yang memakai seragam Dinas Perhubungan.
Kemudian peneliti menghampiri Yohanes dan duduk besebelahan dengannya,
seperti nama, usia, urutan kelahiran, pendidikan, pekerjaan, pekerjaan orangtua, dan
alamatnya.
Yohanes menunjukan beberapa temannya yang lain yang bekerja sebagai
tukang sapu juga. Yohanes mengungkapkan bahwa ada beberapa dari temannya yang
sering mengejeknya dengan mengatakan ibunya adalah orang gila. Yohanes
menyatakan bahwa kadang dia marah ketika ibunya disebut orang gila. Kadangkala
dia tidak peduli dengan ejekan teman nya karena sudah terbiasa dengan itu. Yohanes
kembali melanjutkan pekerjaan nya ketika ada supir angkutan yang mau dibersihkan
nya.
Selanjutnya pada hari yang berbeda sekitar pukul 14.00 WIB peneliti bertemu
kembali dengan informan yang sama di tempat yang sama. Saat itu dia duduk
bersama teman-teman nya yang lain. Mereka sedang menunggu angkutan masuk ke
dalam terminal. Yohanes menyebut nama temannya satu persatu. Saat melakukan
perbincangan yang fokus dengan Yohanes, peneliti menanyakan apakah dia masih
aktif bersekolah. Yohanes mengatakan bahwa dia masih sekolah dan dia mengatakan
bahwa dia sekolah di sekolah swasta yaitu SD Swasta Triduri.
Pertanyaan selanjutnya, peneliti menanyakan sejak kapan dia bekerja sebagai
tukang sapu di terminal Terpadu Amplas. Yohanes mengatakan bahwa dia sudah
bekerja sebagai tukang sapu selama dua tahun sejak dia kelas 3 SD, dia menjelaskan
bahwa dia pernah tinggal di kelas tiga SD ketika peneliti menanyakan kenapa bisa
tinggal kelas dia tersipu malu dan tidak mau mengatakan alasannya. Selanjutnya
peneliti menanyakan bagaimana dia bisa bekerja sebagai tukang sapu angkutan.
melihat anak-anak jalanan yang bisa dapat uang banyak dari menyapu, ketika dia
melihat anak-anak jalanan di persimpangan lampu merah Amplas. Pertanyaan
berikutnya adalah kapan dan berapa lama dia bekerja menyapu angkutan dalam
sehari. Yohanes menjawab bahwa dia bekerja sepulang sekolah dari pukul 14.00 WIB
sampai pukul 21.00, ketika angkot sudah mulai sepi baru dia pulang.
Peneliti juga menanyakan apa alasan utama nya bekerja sebagai tukang sapu,
Yohanes mengatakan untuk keperluan sekolah dan untuk uang jajan nya. Ditambah
itu, dia juga menjelaskan bahwa dia menyapu angkutan juga di persimpangan lampu
merah Amplas, untuk menambahi penghasilan dari menyapu angkutan di terminal.
Pertanyaan selanjutnya adalah mengenai penghasilan nya sehari-hari. Yohanes
menjawab seperti pada kutipan berikut: “enggak nentu kak, kadang dua puluh ribu,
kadang tiga puluh, kadang empat puluh, kalo banyak angkot yang mau disapu
banyak kita dapat kak”. Peneliti juga menanyakan untuk apa saja pengahsilan nya itu
digunakan. Yohanes menyatakan penghasilan yang didapat nya itu seperti pada
kutipan berikut: “Dikasi ke mamak kak buat beli beras, buat keperluan sekolah,
pernah juga buat nambah uang sewa rumah kami, dulu aku ngasinya banyak ka,
sekarang aja nya kadang aku ngasih dua puluh, kadang ngasih sepuluh kalo
dapatnya sikit”.
Setelah mengetahui penghasilannya setiap harinya, peneliti menanyakan
modal apa saja yang digunakan untuk bekerja. Yohanes mengatakan hanya sapu
bekas yang diberikan tetangga nya dan semprotan yang berisi bensin, dia membeli
bensin Rp.3000 untuk semprotan nya terisi penuh. Pertanyaan selanjutnya adalah
mengatakan bahwa sepulang nyapu dia kadang-kadang bermain di warung internet
(Warnet). Setelah itu pulang ke rumah untuk mandi, mengerjakan PR dari sekolah
(Pekerjaan Rumah) sebentar, dan istirahat. Peneliti juga menanyakan apakah
orangtua dan keluarganya mengetahui dia sebagai tukang sapu, Yohenes mengatakan
bahwa dia minta ijin sama orangtuanya untuk kerja nyapu di terminal, dan mereka
mengijinkan Yohanes nyapu.
Setelah menanyakan aktifitasnya sehari-hari dan penghasilannya, peneliti
menanyakan bagaimana hubungan nya dengan teman-teman sesama tukang sapu di
terminal tersebut. Yohanes kemudian menjawab bahwa mereka sering bertengkar
karna rebutan angkot untukdi sapu, kemudian karna teman yang lain mau mengambil
sapu dan semprotan nya, juga dia sering marah karna teman nya sering mengejek
ibu nya. Setelah menanyakan hubungan dengan teman sesama tukang sapu, peneliti
menanyakan bagaimana hubungan nya dengan orang-orang yang disekitarnya,
kemudian Yohanes menjawab seperti pada kutipan berikut: “Aku pernah dibentak
sama supir kak, hari itu ga bersih kubuat angkotnya, dibentaknya lah aku kak, tapi
dikasi juga nya uang dua ribu samaku”.
Pertanyaan terahir untuk data penelitian, peneliti menanyakan apakah dia
memberikan setoran kepada seseorang atau sekelompok orang. Yohanes megatakan
bahwa dia tidak pernah memberikan setoran kepada orang setelah dia bekerja, dia
juga mengatakan bahwa dia tidak mempunyai bos tukang sapu disana. Dari
informasi yang peneliti dapat dari informan pertama, maka sedikit banyaknya
informan pertama ini berkontribusi dalam membantu kehidupan sosial ekonomi
berikan kepada orang tuanya sebesar Rp.10.000,- sampai Rp.20.000,-. Uang yang
diberikan tersebut dimanfaatkan untuk membantu pemenuhan kebutuhan keluarga
dalam pendidikan, pangan, dan perumahan.
Informan Kunci II
Nama : Sabar Nababan
Jenis Kelamin : Laki-laki
Anak ke : 5 dari 5 bersaudara
Usia : 11 Tahun
Agama : Kristen
Suku : Batak Toba
Pendidikan : Kelas 3 SD
Pekerjaan : Tukang Sapu Angkutan
Pekerjaan Orangtua : Ayah ( Supir)
Ibu ( Pedagang Kaki Lima)
Alamat : Jl. Garu 8, Amplas
Cita-cita : Tentara
Sabar Nababan adalah informan yang paling kecil diantara teman-teman
penyapu angkot lainnya adalah paling kecil sama posisi dia dalam keluarganya anak
paling kecil dan peneliti memanggilnya dengan sebutan “Sipudan”. Sabar adalah
teman dekat dari informan I (Yohanes) dan informan pertama yang mengenalkan
Sabar kepada peneliti. Pada hari yang sama bertemunya dengan informan I, peneliti
juga menanyakan data pribadi Sabar yang menjadi informan ke-2 peneliti. Sekilas
sekolah selama dua tahun, ketika peneliti menanyakan kenapa sempat berhenti
sekolah, Sabar dengan sedikit malu-malu dan senyum kemudian menyuruh peneliti
untuk menanyakan alasan nya kepada ibunya saja.
Pada hari yang berbeda peneliti duduk di tempat mereka biasa menunggu
angkutan masuk ke dalam terminal, tak lama Sabar datang yang memakai baju
seragam olahraga nya, sambil menggandeng sapu dan semprotan nya yang berisi
bensin. Ketika sampai peneliti menanyakan mengapa Sabar masih mengenakan baju
seragam olahraganya dengan cepat dia menjawab: “gak nya kotor itu ka, kan bajunya
ku balikkan, mana kotor itu”. Kemudian peneliti menyuruh Sabar duduk di sebelah
peneliti sambil berbincang-bincang, dia kelihatan senang karna dipanggil si pudan
oleh peneliti. Maka dalam kesempatan itu, peneliti memulai topik wawancara yang
menanyakan dimana dia sekolah. Sabar mengatakan bahwa dia sekolah di SD
Parulian sambil menunjukkan baju seragam olahraganya dimana terdapat sablonan
nama sekolah nya.
Selanjutnya peneliti menanyakan sejak kapan dia bekerja sebagai tukang sapu
angkutan. Sabar mengatakan bahwa dia sudah bekerja sekitar dua tahunan lebih,
dan mulai bekerja sejak kelas 2 SD. Kemudian peneliti menanyakan bagaimana dia
bisa bekerja sebagai tukang sapu angkutan, sabar menjawab bahwa dia awalnya ikut
dengan abang nya yang bekerja sebagai pengamen. Kemudian dia melihat banyak
anak-anak penyapu angkot, dia merasa apabila mengerjakan keduanya dia akan
dapat uang lebih banyak dari yang lain. Peneliti juga menanyakan kapan dan berapa
lama dia bekerja dalam sehari, sabar menjawab bahwa dia bekerja dari sepulang
peneliti juga bertanya apa alasan utamannya bekerja. Sabar mengatakan dia bekerja
karena untuk nyari uang buat menambah uang jajan sekolahnya dan juga untuk
bayar uang bukunya. Dan juga mengatakan kalau dia ingin bebas seperti pada kutipan
berikut: “aku bebas disini ga kena repet sama kakak ku yang paling besar yang
dirumah, soalnya dia cerewet ka asyik ngomel-ngomel aja kerjanya”.
Ketika peneliti menanyakan apakah dia bekerja di tempat lain, Sabar
mengatakan kalau dia juga mengamen di simpang lampu merah Amplas untuk
mendapatkan tambahan dari hasil menyapu seperti pada kutipan berikut: “Aku
ngamen karena enak aja kak, dapet uang, lumayan nambah uang hasil nyapu kak,
kadang sikit ka hasil nyapu, gara-gara yang pas tahun baruan itu pulang semua
supirnya tahun baruan”. Beralih dari itu peneliti menanyakan berapa pendapatan
yang diperoleh nya dari menyapu, Sabar mengatakan tidak menentu per harinya,
kadang dia mendapat Rp.35.000 kalau rame dia bisa mendapatkan sampai Rp.50.000
ke atas. Setelah mengetahui berapa penghasilan nya peneliti menanyakan untuk apa
pendapatan nya itu. Sabar menjelaskan seperti pada kutipan berikut: “kukasi sama
mama hampir semuanya, kadang limpul kukasi kalo banyak aku dapat, dipake untuk
uang jajan ku ke sekolah, buat belanja mamak juga”.
Peneliti juga menanyakan modal nya untuk bekerja, Sabar menjelaskan dia
menyapu hanya bermodalkan sapu yang sudah bekas dan semprotan yang diisinya
dengan solar dari rumah. Setelah mengetahui kegiatan dan pendapatan anak, peneliti
menanyakan kegiatan yang dilakukan nya setelah pulang bekerja. Sabar mengatakan
dia pulang ke rumah tapi singgah dulu di warnet dekat rumahnya dan main warnet,
bersama abangnya”. Peneliti juga menanyakan apakah orangtuanya mengetahui
bahwa dia bekerja, Sabar mengatakan kalau ibu nya tau dia bekerja nyapu dan tidak
marah karna dia ngasi uang sama ibu nya, tapi ayahnya tidak tau karena ayahnya
supir di Jambi dan jarang pulang.
Ketika ditanya bagaimana hubungan Sabar dengan teman-teman nya yang lain
dia menjawab singkat dengan kata „jahat” peneliti menanyakan alasan nya
mengatakan demikian, dan kemudian dia menjelaskan bahwa ada diantara mereka
yang mau jahil menyembunyikan sapu dan solarnya supaya tidak bisa nyapu.
Demikian juga peneliti menanyakan bagaimana hubungan nya dengan orang-orang
yang berada di sekitar terminal. Sabar menjawab nya seperti pada kutipan berikut:
“aku pernah ka dimarahin supir karna hampir kena kaca spion nya kubuat, terus
mau anak-anak itu mengoropi aku, dimintainya kak uang ku, kalo ga dikasi
marah-marah orangnya. Daripada aku dipukul kukasi lah kak tiga ribu”.
Pertanyaan terakhir adalah apakah dia pernah memberikan uang kepada
sekelompok orang atau seseorang setelah mendapatkan uang hasil menyapu. Sabar
mengatakan tidak pernah, karna dia tidak punya bos. Dari informasi yang telah
diuraikan peneliti dari informan ke-2 maka bisa diketahui motif informan kedua
bekerja sebagai tukang sapu adalah faktor ekonomi keluarga dan ingin mendapatkan
kebebasan, lalu sedikit banyaknya informan ke-2 ini berkontribusi dalam memenuhi
kebutuhan ekonomi keluarganya yaitu dengan memberikan sejumlah uang kepada
ibunya sebersar Rp.50.000,- yang dipergunakan untuk belanja kebutuhan pangan
Informan Kunci III
Nama : Julfan Tamba
Jenis Kelamin : Laki-laki
Anak ke : 1 dari tiga 5 bersaudara
Usia : 15 Tahun
Agama : Kristen
Suku : Batak Toba
Pendidikan : Kelas VI SD
Pekerjaan : Tukang sapu Angkutan
Pekerjaan Orangtua : Ayah (Kenek)
Ibu ( Pemulung)
Alamat : Jl. Pemda, Amplas
Cita-cita : TNI
Informan ketiga dalam penelitian adalah Julfan Tamba. Peneliti sudah
beberapa kali berjumpa dengan Julfan ketika peneliti masih melakukan observasi
lapangan. Julfan adalah anak tukang sapu yang susah untuk didekati dalam
melakukan wawancara. Dia sering meminta uang kepada peneliti sehinnga sulit untuk
melakukan pendekatan. Meskipun diberikan keterangan mengenai keadaan yang
masih berstatus mahasiswa dan belum memiliki penghasilan, dia terus meminta uang
kepada peneliti. Maka untuk bisa diwawancarai peneliti memberikan uang Rp.5000,-
Sebelumnya peneliti sudah mewawancarai sekitar data pribadi nya diantaranya nama,
usia, urutan kelahiran, pekerjaan dan pekerjaan orangtuanya, alamat, dan cita-citanya.
Saat melakukan perbincangan yang fokus dengan Julfan, peneliti menanyakan
apakah dia masih aktif bersekolah. Julfan mengatakan bahwa dia masih sekolah dan
dia mengatakan bahwa dia sekolah di sekolah swasta yaitu SD Negeri Medan Denai.
Pertanyaan selanjutnya, peneliti menanyakan sejak kapan dia bekerja sebagai tukang
sapu di terminal Terpadu Amplas. Julfan mengatakan bahwa dia sudah bekerja
sebagai tukang sapu sejak dia kelas 5 SD. Selanjutnya peneliti menanyakan
bagaimana dia bisa bekerja sebagai tukang sapu angkutan. Julfan mengatakan bahwa
dia sering mendengar teman satu sekolah nya bercerita kerja nyapu itu bisa dapat
uang banyak, maka dia juga tertarik untuk ikut nyapu seperti temannya yang lain.
Pertanyaan berikutnya adalah kapan dan berapa lama dia bekerja menyapu
angkutan dalam sehari. Julfan menjawab bahwa dia bekerja siang hari sampai jam
19.00 WIB. Peneliti juga menanyakan apa alasan utamanya bekerja sebagai tukang
sapu, “Kasian aku sama mamak kak. Pagi-pagi kami bangun uda pigi mama cari
botot. Ayah ku jarang pulang, jarang juga ngasi uang sama mama. Jadi aku bang
yang bantu mamak cari uang”. Ditambah itu, dia juga menjelaskan bahwa dia
menyapu angkutan juga di persimpangan lampu merah Amplas, untuk menambahi
penghasilan dari menyapu angkutan di terminal. Pertanyaan selanjutnya adalah
mengenai penghasilannya sehari-hari. Julfan menjawab sambil tertawa seperti pada
kutipan berikut: “uangku paling banyak biasanya ka, kadang aku uda dapat limpul,
Setelah mengetahui penghasilannya setiap harinya, peneliti menanyakan
modal apa saja yang digunakan untuk bekerja. Julfan mengatakan hanya sapu bekas
yang dibawa dari rumah nya dan semprotan yang berisi bensin, dia membeli bensin
Rp.3000. Peneliti juga menanyakan untuk apa saja penghasilannya itu digunakan.
Julfan menyatakan penghasilan yang didapatnya itu diberikannya kepada ibunya
untuk disimpan seperti pada kutipan berikut: “kukasi mamaku kak hampir empat
puluh setiap aku nyapu, buat belanja mama, mau juga dipake bayar uang air sama
listrik, hari itu pernah juga aku beli obat nenekku disuruh mama pake duitku”.
Pertanyaan selanjutnya adalah mengenai kegiatan apa saja yang dilakukan setelah
selesai bekerja. Julfan mengatakan bahwa sepulang nyapu dia sesekali dia bermain
di warnet. Setelah itu pulang ke rumah untuk mandi, mengerjakan PR, dan tidur.
Peneliti juga menanyakan apakah orangtua dan keluarganya mengetahui dia
sebagai tukang sapu, Julfan mengatakan bahwa orangtuanya dan nenek nya tau dia
kerja nyapu di terminal, dan mereka mengijinkan nyapu. Setelah menanyakan
aktifitas nya sehari-hari dan penghasilan nya, peneliti menanyakan bagaimana
hubungannya dengan teman-teman sesama tukang sapu di terminal tersebut. Julfan
kemudian menjawab bahwa mereka sering bertengkar karna rebutan angkot untuk di
sapu. Setelah menanyakan hubungan dengan teman sesama tukang sapu, peneliti
menanyakan bagaimana hubungan nya dengan orang-orang yang disekitar nya,
kemudian Julfan menjawab bahwa mereka dimarahi supir apabila tidak
membersihkan angkotnya dengan bersih.
Pertanyaan terahir untuk data penelitian, peneliti menanyakan apakah dia
bahwa dia tidak pernah memberikan setoran kepada orang setelah dia bekerja, dia
juga mengatakan bahwa dia tidak mempunyai bos disana. Dari informasi yang
peneliti dapat dari informan kunci ketiga, maka sedikit banyaknya informan ketiga ini
berkontribusi dalam membantu kehidupan sosial ekonomi keluarganya. Hal itu dapat
dilihat dari kontribusinya berupa sejumlah uang yang di berikan kepada orang tuanya
yaitu sebesar Rp.40.000 yang kemudian digunakan untuk pemenuhan kebutuhan
pangan yaitu belanja dapur ibunya, pemenuhan kebutuhan perumahan yaitu
membayar uang air dan uang listrik, dan kebutuhan kesehatan yaitu membelikan obat
untuk neneknya.
Informan Kunci IV
Nama : Marsya
Jenis Kelamin : Laki-laki
Anak ke : (2) dari (5) bersaudara
Usia : 14 Tahun
Agama : Islam
Suku : Jawa
Pendidikan : Kelas VI SD
Pekerjaan : Tukang sapu Agkutan
Pekerjaan Orangtua : Ayah ( Tukang Becak)
Ibu ( Pedagang Kaki Lima)
Alamat : Jl. Seser, Amplas
Marsya adalah informan ke-4 peneliti. Dia adalah anak pedangang kaki lima
yang ada di Terminal Terpadu Amplas. Marsya dikenalkan oleh seorang pedagang
asongan yang telah berkenalan dengan peneliti. Ketepatan pedagang tersebut
memiliki marga yang sama dengan peneliti, yaitu boru siagian sehingga peneliti
memanggil nya dengan sebutan “namboru”. Kemudian peneliti menjelaskan tujuan
peneliti datang ke terminal, dan pedagang asongan tersebut mengajak peneliti ke
tempat dimana Ibu Marsya berjualan. Pedagang asongan ini mengenali Marsya dan
ibu nya dan mereka cukup dekat. Kemudian peneliti berbincang-bincang dengan ibu
Marsya. Dan ternyata Marsya bekerja sebagai tukang sapu bersama saudara
kembarnya yang bernama Marvel. Marsya dan Marvel akrab dengan panggilan
„sikembar” di Terminal Terpadu Amplas.
Marsya sengaja lama didaftarkan untuk sekolah untuk meringankan biaya
masuk sekolah karna apabila masuk bersamaan bersama saudara kembar nya akan
membutuhkan biaya yang lebih besar. Ketika perbincangan dengan ibu informan ke-4
Marsya kemudian datang ke tempat ibunya jualan untuk minum karna sudah haus
sehabis menyapu. Ibunya lalu menyuruh Marsya istirahat sembari menjelaskan
kepada Marsya tujuan peneliti datang menemui nya. Dengan bujukan ibu nya Marsya
kemudian mau untuk diwawancarai sebagai informan ke-4 peneliti. Yang pertama
peneliti mewawancarai sekitar data pribadi Marsya. Diantaranya nama, usia,
pekerjaan, urutan kelahiran, pekerjaan orangtuanya, alamat, dan cita-citanya.
Kemudian peneliti memulai topik wawancara yang menanyakan dimana dia
sekolah. Marsya mengatakan bahwa dia sekolah di SD Swasta Patumbak.
angkutan. Marsya mengatakan bahwa dia bekerja menyapu angkutan sudah sejak
usia 13 tahun. Kemudian peneliti menanyakan bagaimana dia bisa bekerja sebagai
tukang sapu angkutan, Marsya menjawab bahwa dia awalnya ikut dengan ibu nya
yang bekerja sebagai pedagang kaki lima yang bekerja di terminal. Kemudian dia
melihat banyak anak-anak penyapu angkot yang bisa mendapatkan uang yang
lumayan banyak,dari situ dia tertarik untuk nyapu seperti mereka.
Peneliti juga menanyakan kapan dan berapa lama dia bekerja dalam sehari,
Marsya menjawab bahwa dia bekerja dari sepulang sekolah pukul 13.00 sampai
pukul 19.00 WIB kemudian pulang bersama ibunya. Selain menanyakan bagaimana
dia bisa bekerja, peneliti juga bertanya apa alasan utamanya bekerja. Marsya
mengatakan dia bekerja karena untuk nambah uang jajan nya. Ketika peneliti
menanyakan apakah dia bekerja di tempat lain, Marsya mengatakan kalau dia hanya
bekerja di terminal Amplas, karena ibunya hanya mengijinkan nya bekerja disana.
Beralih dari itu peneliti menanyakan berapa pendapatan yang diperolehnya dari
menyapu, Marsya mengatakan tidak menentu per harinya, kadang dia mendapat
rata-rata Rp.30.000. Setelah mengetahui berapa penghasilannya peneliti menanyakan
untuk apa pendapatannya itu. Marsya menjelaskan seperti pada kutipan berikut:
“dikasi sama mamak bang kadang lima belas, dua puluh, siap nyapu langsung
ditanya mama uang ku, takut hilang katanya. Terus disimpan mama buat bayar uang
sekolah ku ka, beli sepatuku, baru beli susu kami”.
Peneliti juga menanyakan modal nya untuk bekerja, Marsya menjelaskan dia
menyapu hanya modal sapu dan semprotan yang diisinya dengan solar dari rumah.
yang dilakukannya setelah pulang bekerja. Marsya mengatakan pulang untuk mandi,
makan, dan kemudian tidur”. Peneliti juga menanyakan apakah orangtuanya
mengetahui bahwa dia bekerja, Marsya mengatakan kalau orangtuanya jelas tau
karna kerja di terminal Amplas juga, dan Marsya mengatakan bahwa orangtuanya
tidak keberatan asalkan tetap sekolah. Ketika ditanya bagaimana hubungan Marsya
dengan teman-teman nya yang lain, dia mengatakan bahwa baik-baik saja, karna
mereka tidak berani mengganggu nya karna orangtuanya ada diterminal tersebut,
jadi lebih anak-anak lainnya segan. Demikian juga peneliti menanyakan bagaimana
hubungannya dengan orang-orang yang berada di sekitar terminal. Marsya menjawab
bahwa hubungan nya biasa saja. Dia mengatakan mereka baik apabila mereka tidak
diganggu”.
Pertanyaan terakhir adalah apakah dia pernah memberikan uang kepada
sekelompok orang atau seseorang setelah mendapatkan uang hasil menyapu. Marsya
mengatakan tidak pernah, karna dia tidak punya bos. Dari informasi yang telah
diuraikan peneliti dari informan ke-4 maka bisa diketahui motif informan ke-4
bekerja sebagai tukang sapu adalah untuk menambah uang jajan. Lalu sedikit
banyaknya informan ke-4 ini berkontribusi dalam memenuhi kebutuhan ekonomi
keluarganya yaitu dengan memberikan sejumlah uang kepada orangtuanya sebesar
Rp.15.000 dan kadang Rp.20.000. Uang ini digunakan untuk membantu pemenuhan
kebutuhan keluarga diantaranya untuk pendidikan yaitu membayar uang sekolah anak
dan tambahan uang jajan sekolah, selanjutnya kebutuhan sandang yaitu untuk
membeli sepatu anak, dan pemenuhan kebutuhan kesehatan yaitu membeli susu untuk
Informan Kunci V
Nama : Febri Simamora
Jenis Kelamin : Laki-laki
Anak ke : Dua (2) dari tiga (3) bersaudara
Usia : 12 Tahun
Agama : Kristen
Suku : Batak Toba
Pendidikan : Kelas VI SD
Pekerjaan : Tukang Sapu Angkutan
Pekerjaan Orangtua : Ayah (Supir)
Ibu ( Asongan)
Alamat : Jl. Tuar, Amplas
Cita-cita :TNI-AL
Febri Simamora adalah informan kunci terahir dalam penelitian ini. Pada
waktu mewawancarai informan pertama yaitu Yohanes, Febri ada di lokasi penelitian
dan melihat proses wawancara. Pada hari itu peneliti juga mengajak nya untuk
menjadi informan, tetapi dia menolak karena merasa takut ada maksud lain dari
wawancara tersebut. Beberapa kali peneliti menjelaskan tujuan peneliti hanya untuk
melaksanakan tugas kuliah, tapi Febri susah untuk percaya. Tanpa memperdulikan
peneliti, akhirnya dia pergi untuk melanjutkan pekerjaannya karna sudah menemukan
angkot untuk disapu.
Pada hari yang berbeda, ketika peneliti mewawancarai informan lainnya Febri
nya (Sabar) menjelaskan bahwa Febri tidak datang ke lokasi karena dia hanya bekerja
dua kali sehari. Pada hari terahir peneliti di lokasi penelitian, ketika peneliti
membagikan potongan dengan informan peneliti, Febri datang menghampiri dan
menanyakan lagi tujuan peneliti melakukan wawancara. Dan peneliti menjelaskan
lagi apa tujuan dari peneliti di lokasi penelitian. Dan akhirnya dia sambil tersenyum
malu mengatakan bahwa dia mau di wawancarai dengan syarat dapat bagian
potongan tersebut. Dengan merasa senang, peneliti memberikan potongan kue
tersebut kepada Febri, sembari melakukan perbincangan mengenai data pribadi nya.
Saat melakukan perbincangan yang focus dengan Febri, peneliti menanyakan
apakah dia masih aktif bersekolah. Febri mengatakan bahwa dia masih sekolah dan
dia mengatakan bahwa dia sekolah di sekolah swasta yaitu SD Negeri Negri Medan
Amplas. Pertanyaan selanjutnya, peneliti menanyakan sejak kapan dia bekerja sebagai
tukang sapu di terminal Terpadu Amplas. Febri mengatakan bahwa dia sudah
bekerja setahun lebih. Selanjutnya peneliti menanyakan bagaimana dia bisa bekerja
sebagai tukang sapu angkutan. Febri diajak oleh tetangganya yang bekerja sebagai
tukang sapu juga. Pertanyaan berikutnya adalah kapan dan berapa lama dia bekerja
menyapu angkutan dalam sehari. Febri menjawab bahwa dia bekerja sepulang
sekolah sampai pukul 19.00 WIB dan Febri juga mengatakan bahwa dia hanya
bekerja dua kali sehari.
Peneliti juga menanyakan apa alasan utamanya bekerja sebagai tukang sapu,
Febri mengatakan bahwa dia bekerja untuk menambah uang jajan nya dan untuk
bantu ibunya yang sebagai pedagang asongan . Peneliti juga menanyakan apakah dia
Terpadu Amplas karena dekat dengan rumah nya. Pertanyaan selanjutnya adalah
mengenai penghasilannya sehari-hari. Febri menjawab bahwa penghasilan nya tidak
menentu, dia menjelaskan rata-rata pendapatan nya Rp.50.000 sehari. Setelah
mengetahui penghasilannya setiap harinya, peneliti menanyakan modal apa saja yang
digunakan untuk bekerja. Febri mengatakan hanya sapu bekas yang diberikan
temannya yang mengajak dia bekerja dan semprotan yang berisi bensin.
Peneliti juga menanyakan untuk apa saja penghasilannya itu digunakan. Febri
mengatakan penghasilan yang didapatnya seperti pada kutipan berikut “aku pake
buat main warnet sama uang jajan sekolah ka, mau juga dipake nambahin uang
mama beli baju natal kami, aku juga ngasi sama mama tiga puluh kadang dipake
buat ongkos bawa kakak ku berobat, kakak ku sakit uda lama gak tau sakit apa itu,
sakit-sakit aja kerjanya”. Pertanyaan selanjutnya adalah mengenai kegiatan apa saja
yang dilakukan setelah selesai bekerja. Febri mengatakan bahwa sepulang nyapu dia
selalu bermain dulu di warnet langgananya. Setelah itu baru pulang ke rumah.
Peneliti juga menanyakan apakah orangtua dan keluarganya mengetahui dia sebagai
tukang sapu, Febri mengatakan bahwa keluarganya mengetahui dia bekerja kecuali
ayahnya, ayah nya melarang dia bekerja karena takut dia terikut-ikut memakai
narkoba, dan dia juga menjelaskan apabila ayahnya mengetahuinya nyapu ayahnya
bisa mengusir nya dari rumah.
Setelah menanyakan aktifitasnya sehari-hari dan penghasilannya, peneliti
menanyakan bagaimana hubungannya dengan teman-teman sesama tukang sapu di
terminal tersebut. Febri kemudian menjawab bahwa hubungannya baik-baik saja,
hubungan dengan teman sesama tukang sapu, peneliti menanyakan bagaimana
hubungannya dengan orang-orang yang disekitarnya, Febri mengatakan seperti pada
kutipan berikut: “kalo kita gak nyapu angkot nya sampe bersih supirnya marah ka,
habis itu cakap kotor dah sama kita, aku juga sering dikompas sama anak-anak yang
naik sepeda itu, sampe dilempar pake batu karna ga kukasi, orang itu pencopet ka
disini makanya naik sepeda terus biar ga terkejar kalo ketauan nyopet”.
Pertanyaan terahir untuk data penelitian, peneliti menanyakan apakah dia
memberikan setoran kepada seseorang atau sekelompok orang. Febri megatakan
bahwa dia tidak pernah memberikan setoran kepada orang setelah dia bekerja, dia
juga mengatakan bahwa dia tidak mempunyai bos disana. Dari informasi yang
peneliti dapat dari informan pertama, maka sedikit banyaknya informan kunci terahir
ini berkontribusi dalam membantu kehidupan sosial ekonomi keluarganya. Hal itu
dapat dilihat dari kontribusinya berupa sejumlah uang yang di berikan kepada orang
tuanya sebesar Rp.30.000,-. Uang digunakan untuk kebutuhan pendidikan yaitu
tambahan uang jajan sekolah, pemenuhan kebutuhan kesehatan yaitu ongkos
kakaknya berobat, dan pemenuhan kebutuhan sandang yaitu untuk menambahi uang
orangtuanya membeli baju natal anak tersebut.
Informan Utama I
Nama : Mawardani Nainggolan
Jenis Kelamin : Perempuan
Status di Keluarga : Ibu dari anak
Usia : 48 Tahun
Suku : Batak Toba
Pendidikan Terakhir : SMA
Jumlah Anggota Keluarga : 5 orang
Pekerjaan : Penjual Monja
Alamat : jl. Tuar Amplas
Informan utama pertama dalam penelitian ini adalah ibu Mawardani
Nainggolan selaku ibu dari Yohanes. Pada hari yang sama ketika peneliti melakukan
wawancara dengan anak nya Yohanes, Ibu Mawar berada tidak jauh dari lokasi
penelitian. Ketika peneliti selesai melakukan wawancara dengan Yohanes, dia
memberitahukan bahwa dia datang ke terminal bersama ibu nya yang hendak
berangkat untuk jualan ke pasar Sambu. Karna keterbatasan waktu peneliti mengajak
Yohanes menghampiri ibunya yang masih duduk di sebrang jalan lokasi penelit.
Tanpa memperdulikan ejekan teman nya yang lain yang menyebut ibu nya sebagai
orang gila, akhirnya dia mau dibujuk peneliti. Seperti yang diamati peneliti memang
penampilan ibu Mawar tidak percaya bahwa ibu Mawar adalah ibu dari Yohanes.
Penampilannya yang kurang rapi, dengan wajah keriput, dan kusut, ditambah rambut
nya yang berantakan mungkin menjadi alasan anak-anak lainnya mengatakan
demikian.
Tetapi pemikiran terhadap ibu Mawar itu salah, ketika peneliti menghampiri
ibu Mawar bersama Yohanes dan beberapa anak tukang sapu, peneliti disambut
ramah oleh Ibu Mawar. Dia menceritakan bahwa Yohanes telah menceritakan
tentang peneliti yang datang ke terminal dan mengatakan kepada ibunya bahwa
mewawancarai ibu Mawar sebagai informan utama ke-1 peneliti. Dalam
perbincangan dengan peneliti ibu Mawar mengatakan bahwa beliau hendak mau
berangkat ke Pasar Sambu untuk jualan, dia menceritakan bahwa usahanya
keci-kecilan. Seperti yang diamati peneliti Ibu Mawar adalah seorang penjual monja tapi
jualan nya hanya beberapa kantong plastik saja. Usaha jualannya masih kecil, dan
tidak punya tempat yang di sewa untuk jualan, ibu hanya berjualan di tempat kosong
di Pasar Sambu dan tempat berjualan nya tidak menetap di satu tempat.
Saat melakukan perbincangan yang fokus dengan informan peneliti, yang
pertama peneliti menanyakan apakah anaknya masih bersekolah. Ibu Mawar
mengatakan bahwa anak nya masih sekolah. Selanjutnya peneliti menanyakan
apakah ibu mengetahui bahwa anaknya bekerja dan tanggapannya. Ibu Mawar
mengatakan bahwa beliau mengetahui anaknya bekerja, dan mengatakan bahwa
sebenarnya tidak setuju anaknya bekerja karna anaknya sering diejeki temannya,
kadang sapu nya diambil sehingga anak nya menangis mengadu kepada ibunya. Tapi
karna keadaan dan anaknya tidak mau berhenti kerja, mau tidak mau ibu
mengijinkan anak nya nyapu.
Selain menanyakan tanggapannya, peneliti menanyakan bahgaimana pertama
kalinya anak bekerja. Sambil tersenyum ibu Mawar mengatakan ketika Yohanes
dibawa ibu mencari botot ke simpang lampu merah Amplas, Yohanes tertarik bekerja
karena melihat teman-teman nya bisa dapat uang banyak dari menyapu, kemudian
dia meminta kepada ibunya untuk nyapu dan mengatakan tidak mau lagi melanjutkan
pekerjaannya yang dulu sebagai penjual plastik di Teladan, karena pendapatan nya
anak bekerja, peneliti menanyakan berapa yang diberikan anak dari pendapatan nya.
Ibu Mawar mengatakan bahwa anaknya dulunya banyak memberikan uang, kadang
sampai Rp.70.000 sehari tapi akhir-akhir ini hanya kadang memberikan Rp.20.000,
paling banyak Rp.30.000, dia mengatakan bahwa anak nya sudah banyak main nya
makanya tidak dapat uang banyak lagi.
Kemudian peneliti menanyakan untuk apa uang yang diberikan itu
digunakan, Ibu Mawar menjelaskan seperti pada kutipan berikut: “dia ngasi uang ya
untuk dia juga lah de, beli buku nya, baju nya, kadang dari sekolahnya ada olahraga
renang jadi ibu kasi lah uang nya untuk dia renang, kalo ada sisa ibu kumpulin buat
nambah bayar sewa rumah, nambahin belanja, pintar-pintar lah dek bagi-bagi uang
itu”. Dengan cerita informan yang memberikan sejumlah uang kepada keluarga,
peneliti menanyakan bagaimana pemenuhan kebutuhan sebelum dan sesudah anak
bekerja. Ibu Mawar mengatakan bahwa mereka cukup terbantu dengan anak bekerja
dengan pendapatannya sebagai penjual monja yang kandang tidak menentu,
meskipun tidak berbeda jauh dari sebelum anak bekerja.
Selanjutnya peneliti menanyakan kegiatan anak setelah pulang sekolah. Ibu
Mawar menjelaskan bahwa anak biasanya pulang sekolah makan dulu,dan belajar
sebentar,kemudian pergi nyapu ke terminal. Setelah mengetahui kegiatan anak
seharinya peneliti menanyakan bagaimana prestasi anak di sekolahnya. Ibu Mawar
menjawab sambil mengelus kepala anaknya bahwa anaknya pernah dapat juara
lomba kebersihan di gereja, dan mengatakan bahwa anaknya tidak terlalu pintar
dalam belajar dan Yohanes pernah sekali tinggal kelas. Terakhir untuk pengumpulan
keluarga, teman sebaya, dan lingkungan nya. Ibu Mawar menjawab dengan
pernyataan dibawah ini: “anakku ini sekarang suka melawan, kadang sampe mau
memukul, heran aku de, gimanalah de uda banyak bergaul yang gak benar, ibu
hanya berdoa dia bisa berubah dek”.
Dari informasi yang diberikan oleh informan utama I maka dapat dlihat bahwa
informan kunci I memberikan kontribusi terhadap sosial ekonomi keluarganya. Hal
ini bisa dilihat dari pernyataan informan utama I yang mengatakan bahwa anak
memberikan uang sebesar Rp.20.000, Rp.30.000, dan pernah memberikan Rp.70.000
ketika anak masih baru bekerja. Uang yang diberikan kemudian dimanfaatkan untuk
kebutuhan pendidikan yaitu membeli buku dan uang renang. Demikian juga
digunakan untuk pemenuhan kebutuhan perumahan yaitu menambahi biaya untuk
membayar sewa rumah keluarga informan dan pemebuhan kebutuhan pangan
keluarga yaitu menambahi uang untuk belanja.
Informan Utama II
Nama : Ulina Nababan
Jenis Kelamin : Perempuan
Status di Keluarga : Anak/ kakak dari Sabar
Usia : 26 Tahun
Agama : Kristen
Suku : Batak Toba
Pendidikan Terakhir : SMA
Jumlah Anggota Keluarga : 7 orang