• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kontribusi Anak Bekerja Terhadap Sosial Ekonomi Keluarga (Studi Kasus Anak Bekerja Sebagai Tukang Sapu Angkutan di Terminal Terpadu Amplas, Medan)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Kontribusi Anak Bekerja Terhadap Sosial Ekonomi Keluarga (Studi Kasus Anak Bekerja Sebagai Tukang Sapu Angkutan di Terminal Terpadu Amplas, Medan)"

Copied!
146
0
0

Teks penuh

(1)

PEDOMAN WAWANCARA

KONTRIBUSI ANAK BEKERJA TERHADAP SOSIAL EKONOMI KELUARGA

(Studi Kasus Anak Bekerja Sebagai Tukang Sapu Angkutan di Terminal Terpadu Amplas, Medan)

I. Karakteristik Identitas Informan 1. InformanKunci (Anak Bekerja)

Identitas Informan

1. Nama :

2. Jenis Kelamin :

3. Anak ke :

4. Usia :

5. Agama :

6. Suku :

7. Pendidikan :

8. Pekerjaan :

9. Pekerjaan Orangtua :

10.Alamat :

(2)

II. Pertanyaan Untuk Anak Bekerja

1. Apakah adik sedang sekolah? Jika YA dimana?

2. Sejak kapan adik mulai bekerja sebagai penyapu angkutan umum di Terminal

Terpadu Amplas ini?

3. Bagaimana adik bisa sampai bekerja sebagai tukang sapu angkutan?

4. Kapan adik bekerja dan berapa lama bekerja dalam sehari?

5. Apa alasan utama adik bekerja sebagai tukang sapu angkutan di Terminal

Terpadu Amplas ini?

6. Selain di Terminal Terpadu Amplas ini, apakah adik bekerja di tempat lain?

Jika Ya, dimana dan apa alasannya?

Jika Tidak kenapa memilih bekerja di Terminal Terpadu Amplas?

7. Berapa pendapatan yang adik peroleh dalam satu hari membersihkan angkutan

umum?

8. Setelah mendapatkan uang dari hasil menyapu, untuk apa uang tersebut

dipergunakan?

9. Apa saja modal yang adik gunakan untuk bekerja sebagai tukang sapu

angkutan?

10.Apa kegiatan yang adik lakukan setelah selesai melakukan pekerjaan

menyapu angkutan?

11.Apakah orangtua atau keluarga kamu mengetahui pekerjaan adik ini?

(3)

12.Bagaimana hubungan kamu dengan teman-teman sesama anak penyapu

angkutan di Terminal Terpadu Amplas ini ?

13.Bagaimana hubungan kamu dengan masyarakat atau orang-orang yang ada

disekitar Terminal Amplas ?

14.Pada waktu kamu mendapatkan peghasilan dari menyapu angkutan umum,

apakah kamu harus member uang atau ”setoran” kepada seseorang atau

(4)

I. Karakteristik Identitas Informan

2. InformanUtama (Anggota Keluarga Anak Bekerja)

Identitas Informan

1. Nama :

2. Jenis kelamin :

3. Status di Keluarga :

4. Usia :

5. Agama :

6. Suku :

7. Pendidikan terakhir :

8. Jumlah Anggota Keluarga :

9. Pekerjaan :

10.Alamat :

II. Pertanyaan untuk Anggota Keluarga Anak Bekerja

1. Apakah anak anda masih bersekolah?

2. Apakah anda mengetahui anak anda bekerja sebagai penyapu angkutan di

Terminal Terpadu Amplas?

3. Apakah anda mendukung anak anda untuk bekerja?

4. Bagaimana anak anda pertama kalinya bisa sampai bekerja sebagai tukang

sapu angkutan?

5. Berapa yang diberikan anak anda untuk keluarga setiap harinya?

(5)

7. Bagaimana pemenuhan kebutuhan keluarga sebelum dan sesudah anak anda

bekerja?Jelaskan.

8. Kegiatan apa saja yang dilakukan anak anda sepulang sekolah?

9. Bagaimana prestasi anak anda di sekolah sebelum dan pada saat bekerja

sebagai tukang sapu angkutan di Terminal Terpadu Amplas?

10.Bagaimana interaksi anak anda dengan keluarga, teman sebaya dan

(6)

I. Karakteristik Identitas Informan

3. Informan Tambahan (Supir angkutan, petugas terminal amplas, dan pedagang yang ada di Terminal TerpaduAmplas).

Identitas Informan

1. Nama :

2. Jenis kelamin :

3. Usia :

4. Agama :

5. Suku :

6. Pendidikan terakhir :

7. Pekerjaan :

8. Alamat :

II. Pertanyaan untuk Supir angkutan, petugas terminal Amplas, dan pedagang yang ada di Terminal TerpaduAmplas

1. Bagaimana kondisi anak tukang sapu angkutan di Terminal Terpadu

Amplas ini?

2. Berapa uang yang anda berikan kepada anak yang bekerja sebagai

tukang sapu angkutan? Dan kenapa anda setuju memberikannya

kepada anak tersebut? (Khusus Supir)

3. Bagaimana hubungan bapak/ ibu terhadap anak tukang sapu angkutan

(7)

4. Apakah bapak/ ibu ada keluhan terhadap hadirnya anak tukang sapu

angkutan di Terminal Terpadu Amplas ini? Jika ada apa saja?

5. Bagaimana respon bapak/ ibu terhadap hadirnya anak bekerja sebagai

(8)

DOKUMENTASI

(9)
(10)
(11)

Gambar 4: Peneliti melakukan obesevasi kegiatan-kegiatan dan wawancara dengan informan tambahan (supir angkutan, pedagang asongan, dan petugas

(12)
(13)
(14)

DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, Abu. 2007. Psiklogi Sosial, Jakarta: Rineka Cipta

Fahruddin, Adi. 2012. Pengantar Kesejahteraan Sosial. Bandung: Refika Aditama

Huraerah, Abu. 2012. Kekerasan terhadap Anak. Bandung: Nuansa Cendekia

Ikhsan, Ediyono, Siregar, Martua. 2000. Pekerja Anak di Perkebunan Tebu, Jakarta:

Khairuddin. 1997. Sosiologi Keluarga. Yogyakarta: Liberty

Ramlan, Eddy. 2000. Pembinaan Budaya Dalam Lingkungan Keluarga, Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Siagian, Matias. 2011. Metode Penelitian Sosial. Pedoman Praktis Penelitian Bidang

Ilmu-Ilmu Sosial dan Kesehatan, Medan: PT.Grasindo Monoratama.

Soekanto, Soerjono. 2007. Sosiologi Suatu Pengantar, Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Su‟adah. 2005. Sosiologi Keluarga, Malang: UMM Press

Sunarto, Kamanto. 2004. Pengantar Sosiologi. Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara

Susanto,Astrid S. 1984. Sosiologi Pembangunan. Jakarta: Bina Cipta

Suyanto, Bagong. 2003. Masalah Sosial Anak . Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Suyanto dan Sutinah. 2006. Metode Penelitian Sosial. Berbagai Pendekatan

Alternatif Pendekatan, Jakarta: Kencana.

(15)

SUMBER LAIN

Emei Dwinanarhati Setiamandani, Perlindungan Hukum Bagi Pekerja Anak dan

Upaya Penanggulangannya, 2012

http://emeidwinanarhati.blogspot.com/2012/08/jurnal-reformasi.html di akses pada tanggal Kamis, 19 November pukul 00.06 wib

Irwanti Melati. Perbedaan Pekerja Anak Dan Anak Yang Bekerja, 2012

http://irwantimelati.blogspot.com/2012/03/perbedaan-pekerja-anak-dan-anak-yang.bekerja.html diakses pada tanggal Kamis, 19 November pukul 00.06 WIB.

Dr. Sri Tjahjorini, MSi. Masalah Kemiskinan: Implikasinya Pada Pekerja Anak, 2014 http://puspensos.kemsos.go.id/home/br/189

(Fahmi Idris. Buku Pedoman Bagi Pengawas Ketenagakerjaan dalam

Menanggulangi Pekerja Anak, 2007).

http://www.ilo.org/wcmsp5/groups/public/---asia/---ro-bangkok/---ilo

jakarta/documents/instructionalmaterial/wcms_150636.pdf diakses pada hari

Kamis tanggal 19 November, 2015 pukul 23.00.

(http://repository.unand.ac.id/17556/1/pekerja anak dibawah umur.pdf diakses pada tanggal 25 November 2015 pukul 21.00 WIB.

http://www.ilo.org/jakarta/info/public/pr/WCMS_122351/lang--en/index.htm diakses pada Sabtu 16 November 2015 20.00 WIB.

http://paudni.kemdikbud.go.id/berita/6069.html diakses pada sabtu 16 November 20.15 WIB.).

http://www.kemenpppa.go.id/index.php/daftar-buku/profil

anak?download=510:profilanak2012 diakses pada Sabtu 16 November 20.25 WIB).

http://jurnal.umrah.ac.id/wp-content/uploads/2013/08/JURNAL-RAHMADANI- SOS-2zhjkjshfs013.pdf diakses pada tanggal 15 November pukul 2015 22.08 wib).

http://www.ilo.org/wcmsp5/groups/public/@asia/@ro-bangkok/@ilo

jakarta/documents/publication/wcms_123584.pdf diakses pada 15 November 2015 pukul 18.05).

(16)

dalam-situasi-terburuk/ diakses pada 20 November 2015 pukul 11.42 WIB.

https://groups.yahoo.com/neo/groups/transtvmedan/conversations/message/2682&l diakses pada 20 November 2015 12.42 WIB.

http://www.researchgate.net/publication/42355250-Tinjauan-Tentang-Pekerja-Anak- Di-Terminal-Amplas-%28Studi-Kasus-Anak-yang-Bekerja-Sebagai-Penyapu-Angkutan-Umum-di-terminal-Terpadu-Amplas%29 diakses pada 25 November, 2015 pukul 22.00 WIB.

http://download.portalgaruda.org/article.php?article=110606&val=4126 diakses pada Sabtu 25 November 2015 Pukul 10.19 WIB.

http://patriotproklamasi.blogspot.com/2009/06/afiliasi-partisipasi-dankontribusi.html, diakses pada 24 November 2015 pukul 20.30 WIB.

(http://pengertiandefenisi.com/konsep-dan-pengertian-kontribusi/ diakses pada 24 November 2015 pukul 21.05 WIB).

(https://id.wikipedia.org/wiki/Medan_Amplas,_Medan diakses pada 04 Januari 2016

Pukul 20.00 WIB).

(Kantor Lurah Timbang Deli, 2016).

(Kantor Terminal Terpadu Amplas,2016).

(17)

BAB III

METODE PENELITIAN 3.1 Tipe Penelitian

Tipe penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Penelitian deskriptif adalah

penelitian yang dilakukan dengan tujuan menggambarkan atau mendeskripsikan

objek dan fenomena yang ingin diteliti. Termasuk di dalamnya bagaimana

unsur-unsur yang ada dalam variabel. Penelitian ini berinteraksi satu sama lain dan apa pula

produk interaksi yang berlangsung (Siagian,2011:52). Melalui penelitian deskriptif,

penulis ingin menggambarkan secara jelas bagaimana kontribusi anak yang bekerja

terhadap ekonomi keluarga dengan studi kasus anak yang bekerja sebagai tukang

sapu angkutan di Terminal Terpadu Amplas, Medan.

3.2 Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Terminal Terpadu Amplas, Kecamatan Medan

Amplas. Letak posisi Terminal Amplas sangat strategis karena tidak terletak dalam

wilayah Kota Medan, melainkan di pinggiran Kota Medan, tepatnya di Kecamatan

Medan Amplas, Kelurahan Timbang Deli. Posisi Terminal Terpadu Amplas agak

menjorok kedalam dari jalan SM. Raja km 8,5 di persimpangan Amplas menghadap

kearah timur. Adapun penelitian dilakukan ditempat ini karena Terminal Terpadu

Amplas merupakan terminal terbesar di Kota Medan yang terkenal dengan aktivitas

ekonomi yang tinggi. Kompleksnya kegiatan ekonomi yang ada di terminal ini

memicu banyaknya anak-anak menggeluti pekerjaan di tempat ini untuk mendapatkan

(18)

melayani orang dalam melayani orang yang membutuhkan transportasi ke berbagai

daerah dalam kota ataupun keluar kota juga antar provinsi.

3.3 Informan Penelitian

Penelitian ini bersifat kualitatif, maka dalam penelitian ini tidak mengenal

populasi dan sampel. Subjek penelitian pada penelitian kualitatif disebut informan.

Informan adalah orang-orang yang dipilih untuk diobservasi dan diwawancarai sesuai

dengan tujuan peneliti untuk memberikan berbagai informasi yang diperlukan selama

proses penelitian (Suyanto & Sutinah, 2005: 171-172). Orang-orang yang dapat

dijadikan sebagai informan adalah orang-orang yang memiliki pengalaman sesuai

penelitian. Adapun informan dalam penelitian ini yaitu:

1. Informan Kunci

Informan kunci adalah orang yang mengetahui dan memiliki informasi pokok

yang diperlukan dalam penelitian. Informan kunci dalam penelitian ini adalah 5

orang anak-anak bekerja sebagai tukang sapu angkutan di Terminal Terpadu

Amplas.

2. Informan Utama

Informan utama adalah orang yang terlibat secara langsung dalam interaksi social

yang diteliti dalam penelitian. Informan utama dalam penelitian ini adalah 5 orang

dari anggota keluarga anak bekerja sebagai tukang sapu angkutan di Terminal

(19)

3. Informan Tambahan

Informan tambahan adalah orang yang dapat memberikan informasi walaupun

tidak langsung terlibat dalam interaksi sosial yang sedang diteliti (Hendraso,

dalam Sutinah, 2005: 171-172). Adapun yang menjadi informan tambahan dalam

penelitian ini adalah orang supir angkutan, petugas terminal Amplas, dan

pedagang yang ada di Terminal Terpadu Amplas.

3.4 Teknik Pengumpulan Data

Data yang diperlukan dalam penelitian ini, diperoleh dengan teknik

pengumpulan data sebagai berikut:

1. Studi kepustakaan (library research) yaitu pengumpulan data atau informasi

menyangkut masalah yang akan diteliti dengan mempelajari dan menelaah buku

serta tulisan yang ada kaitannya terhadap masalah yang diteliti.

2. Studi lapangan, yaitu pengumpulan data atau informasi yang diperoleh melalui

kegiatan penelitian langsung turun ke lokasi penelitian untuk mencari fakta-fakta

yang berkaitan dengan masalah yang diteliti melalui:

a) Observasi yaitu mengumpulkan data atau informasi yang dilakukan dengan

pengamatan, mendengar, serta mencacat objek yang diteliti untuk

mendapatkan gambaran yang tepat mengenai objek penelitian.

b) Wawancara yaitu mengumpulkan data atau informasi dengan melakukan tanya

jawab secara bertatap muka yang dilakukan pengumpul data dengan informan

sehingga informan memberikan data atau informasi yang diperlukan dalam

(20)

3.5.1 Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah teknik

analisis data deskriptif dengan pendekatan kualitatif, yaitu dengan mengkaji data

yang dimulai dengan menelaah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber dan

data yang terkumpul. Selanjutnya mempelajari data, menelaah, menyusun dalam satu

satuan, yang kemudian dikategorikan pada tahap berikutnya dan memeriksa

keabsahan data serta mendefenisikannya dengan analisis sesuai dengan kemampuan

daya peneliti untuk membuat kesimpulan penelitian (Moleong, 2004). Setiap data dari

informasi yang telah dikumpulkan dalam penelitian berupa cacatan lapangan berupa

data utama dari hasil wawancara maupun data penunjang lainnya dilakukan analisis

data, sehingga pada akhirnya dapat menghasilkan suatu analisis data yang baik dan

(21)

BAB IV

DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN

4.1 Kecamatan Medan Amplas

Memahami kondisi fisik dan sosial Terminal Terpadu Amplas tentu tidak

terlepas dari data tentang wilayah-wilayah di sekitar Terminal Terpadu Amplas, tidak

terkecuali dalam rangka penelitian tentang anak bekerja sebagai tukang sapu di lokasi

tersebut. Kecamatan Medan Amplas adalah salah satu dari 21 kecamatan di kota

Medan, Sumatera Utara, Indonesia. Pada tahun 2001, kecamatan ini mempunyai

penduduk sebesar 88.638 jiwa. Luasnya adalah 11,19 km² dan kepadatan

penduduknya adalah 7.921,18 jiwa/km². Di kecamatan ini terletak Terminal Terpadu

Amplas yang merupakan terminal keluar masuk untuk mobil angkutan umum antar

kota dan provinsi. Selain itu di Terminal Terpadu Amplas juga terdapat Jembatan

Layang yang mulai dibangun sejak tahun 2006 dan telah selesai pada tahun 2009.

(https://id.wikipedia.org/wiki/Medan_Amplas,_Medan diakses pada 04 Januari 2016

Pukul 20.00 WIB).

Kecamatan Medan Amplas adalah daerah pintu gerbang Kota Medan di

sebelah timur yang merupakan pintu masuk dari daerah lainnya di Sumatera Utara

maupun Provinsi lainnya melalui transportasi darat. Kecamatan Medan Amplas

terletak di wilayah Tenggara Kota Medan dengan batas-batas wilayah sebagai

berikut:

1. Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Medan Johor

(22)

3. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Deli Serdang

4. Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Medan Kota dan Kecamatan

Medan Denai

4.2 Kelurahan Timbang Deli

Kelurahan timbang deli adalah salah satu kelurahan di kecamatan Medan

Amplas yang berada di Jalan Balai Desa Nomor 17. Terminal Terpadu Amplas

berada dalam wilayah Pemerintahan Kelurahan Timbang Deli sehingga kondisi fisik

dan sosial kelurahan timbang deli erat kaitannya dengan lokasi penelitian. Kelurahan

Timbang Deli berbatasan langsung dengan Kelurahan Amplas dan Kabupaten Deli

Serdang di sebelah utara, Kabupaten Deli Serdang di sebelah selatan, Kelurahan

Harjosari I dan Harjosari II di sebelah barat, Kelurahan Bangun Mulia di sebelah

timur. Kelurahan ini memiliki luas wilayah sekitar 283 Ha dengan jarak antara kantor

lurah dengan kantor kecamatan medan amplas sekitar 5 km.

Kelurahan Timbang Deli yang dipimpin oleh seorang Lurah terbagi atas 15

lingkungan. Tahun 2013 ada 7 Pegawai Negeri yang dialokasikan untuk

pemerintahan Kelurahan Timbang Deli. Jumlah penduduk adalah 15.627 jiwa, luas

wilayah 283 Ha dan kepadatan penduduk 0,018 per km2 (Sumber: Kantor Lurah

Timbang Deli, 2016).

4.3 Terminal Terpadu Amplas

Terminal Terpadu Amplas merupakan sebuah terminal di Kota Medan,

(23)

Daerah (BAPPEDA) pada 15 Juli 1991. Terminal ini dibangun dengan dasar

pemikiran bahwa terminal tidak boleh berada di inti kota melainkan harus di

pinggiran kota. Terminal ini merupakan terminal pengganti yang terdahulu berada di

jalan Sisingamangaraja, yaitu Terminal Teladan. Terminal Amplas ini berada di Jalan

Pertahanan No. 10 Medan tenggara 7. Terminal Terpadu Amplas ini masih termasuk

kedalam kelurahan Timbang Deli, Kecamatan Medan Amplas, Sumatera Utara.

Wilayah terminal ini pada awalnya merupakan daerah rawa-rawa yang tidak

dapat dipergunakan atau dimanfaatkan oleh masyarakat sekitarnya. Melihat

perkembangan dan pertumbuhan daerah Kota Medan, kebutuhan akan terminal sangat

dirasakan oleh masyarakat Kota Medan. Beranjak dari kebutuhan ini maka

Pemerintah Daerah membuat suatu kebijakan untuk mendirikan terminal. Adapun

luas keseluruhan Terminal Terpadu Amplas adalah sekitar 50.961 M² sekeliling.

Terminal Terpadu Amplas dibatasi oleh tembok dan pagar besi, disamping itu

terdapat pintu putar masuk. Dahulu kedua pintu ini dipergunakan bagi orang-orang

yang ingin masuk dan keluar terminal, dan setiap orang dikenai biaya, namun

sekarang kedua pintu itu tidak dipergunakan lagi dan orang-orang bebas keluar masuk

tanpa dipungut biaya. Bagi angkutan umum atau bus (MPU AKDP) yang masuk

dikenakan biaya Rp. 1000, untuk angkutan kota dalam provinsi (AKDP) dan Rp.

2500, dan untuk angkutan kota antar provinsi (AKAP) Rp. 5000 (Sumber : Kantor

Terminal Terpadu Amplas, 2016).

Terminal Terpadu Amplas sebagaimana layaknya terminal besar, maka

Terminal Terpadu Amplas ini juga dibuka 24 jam. Bus yang berada di Terminal

(24)

propinsi Siantar, Tebing Tinggi, dan lain sebagainya dan luar kota luar propinsi

seperti Jakarta, Solo dan sebagainya maupun angkutan dalam kota saja.

Dari data yang diperoleh peneliti dari pegawai kantor Terminal Terpadu Amplas

bahwa jumlah pegawai yang ada di Terminal Terpadu Amplas ada sebanyak 110

orang yang ditugaskan oleh dinas perhubungan. Pada lantai dasar terdapat loket-loket

bus, jumlahnya kira-kira 60 loket, loket ini dibagi atas 2 bagian yaitu :

1) Loket Angkutan Kota dalam Provinsi.

Contoh : bus perjalanan Medan-Siantar. Loket angkutan kota dalam provinsi

dikenakan biaya/ sewa loket sebesar Rp.10.000 per hari.

2) Loket Angkutan Kota Antar Provinsi.

Contoh : bus perjalanan Medan-Jakarta, solo. Loket angkutan kota antar provinsi

ini membayar sewa loket sebesar Rp. 20.000 per hari (Sumber : Kantor Terminal

Terpadu Amplas, 2016).

4.4 Sarana dan Prasarana

Terminal Terpadu Amplas merupakan terminal tipe A, artinya terminal yang

dikategorikan tipe nasional. Terminal mempunyai 2 unit gedung :

1. Gedung induk

Gedung induk ini terdiri dari 3 (tiga) lantai, pada lantai pertama terlihat adanya

loket-loket bus, loket bus ini jumlahnya 35 unit, sedangkan lantai kedua terlihat

(25)

2. Gedung sarana pendukung

Gedung sarana pendukung lainnya merupakan tempat kedai nasi dan juga masih

terdapat loket bus. Terminal Terpadu Amplas ini juga memiliki sebuah gudang,

gudang tersebut juga termasuk sarana pendukung.

Fasilitas Yang Tersedia:

1. Tempat Beribadah.

Hanya ada satu tempat ibadah yang terdapat di dalam terminal yang berada di unit

induk, dilantai kedua. Tempat beribadah tersebut adalah sebuah musholla, yang

diperuntukkan bagi pegawai atau orang-orang yang berada di sekitar terminal

yang ingin melaksanakan sholat.

2. Tempat Parkir

Di Terminal Terpadu Amplas terdapat tempat paekie, tempat parkir hanya satu

dimana parkir kendaraan roda 2 (dua) dan roda 4 (empat), besarnya biaya parkir

untuk kendaraan roda 2 adalah Rp 2000, sedangkan roda 4 tidak memakai uang

parkir lagi karna sudah diambil dari uang masuknya, selain tempat parkir masih

ada terdapat pelataran atau tempat-tempat bus “nginap” di terminal

3. Penerangan

Selain penerangan dari PLN (Perusahan Listrik Negara), Terminal Terpadu

Amplas juga memiliki mesin penerangan sendiri, karena aktifitas yang dilakukan

(26)

4. Air Bersih

Sarana air bersih yang tersedia diperoleh PDAM (Perusahaan Daerah Air

Minum).

5. WC. Umum

Terminal Terpadu Amplas mempunyai dua unit WC umum, kedua WC umum ini

berada di lantai dasar. Setiap unit mempunyai tiga saluran pembuangan, bagi yang

menggunakan WC umum ini dikenakan biaya Rp. 500 untuk buang air kecil

(BAK), dan Rp. 1000 untuk buang air besar (BAB) atau mandi.

6. Kebersihan

Sarana kebersihan antara lain yang disediakan yaitu :

1) Truk sampah : Truk ini dipergunakan untuk mengangkut sampah dari terminal

tersebut kepembuangan akhir, jumlahnya 1 unit.

2) Becak Sampah : Becak sampah juga disediakan untuk mengangkut sampah ke

pembuangan sampah sementara dan jumlahnya 1 unit.

3) Tong Sampah : Tong sampah terdiri dari tong sampah berukuran kecil yang

jumlahnya buah.

4) Petugas kebersihan yang jumlahnya sebanyak satu orang untuk satu unit orang

yang bertugas untuk membersihkan terminal.

7. Keamanan

Disamping SATPAM (Satuan Pengamanan) yang memang disediakan untuk

menjaga keamanan di Terminal Terpadu Amplas, juga terlibat dari pihak

(27)

Di lantai pertama atau dasar juga terdapat toko-toko atau kios-kios dan

dipungut sewanya,. Besarnya bayaran yang dilakukan penyewa kios dengan bayaran

sebesar Rp.250.000/ M² untuk gedung induk per tahun, sedangkan bayaran penyewa

kios untuk gedung pendukung Rp.150.00/ M² /per tahun (Sumber: Pegawai Terminal

Terpadu Amplas,2016). Kios-kios tersebut menyediakan berbagai jenis barang mulai

dari makanan ringan seperti (permen, kue-kue kering, kerupuk), buah-buahan seperti

(pisang, apel, jeruk) dan obat-obatan. Selain kios yang menjual makan ringan.

Terminal Terpadu Amplas ini juga masih dapat dijumpai kedai nasi,

pedagang-pedagang kaki lima dan pedagang-pedagang asongan.

4.5 Kegiatan-kegiatan yang ada di Terminal Terpadu Amplas.

Apabila kita memasuki Terminal Terpadu Amplas maka terlihat berbagai

aktifitas atau kegiatan yang dilakukan oleh orang-orang yang berada di terminal

tersebut. Suasana yang ramai dengan suara bising yang berasal dari suara angkutan

umum, bus, dan orang-orang yang ada di terminal tersebur seperti calo angkutan

umum yang saling berebutan sewa angkutan masing-masing. Para pedagang asongan

ini biasanya berlari-lari mengejar bus untuk menawarkan barang dagangannya kepada

para penumpang bus. Biasanya para pedagang asongan ini menjual berbagai makan

ringan, seperti permen, kerupuk, roti dan ada juga yang berjualan majalah, novel,

rokok, tissue serta minuman. Pedagang-pedagang kaki lima dan pedagang asongan

yang ada di Terminal Terpadu Amplas terdiri dari anak-anak, orang dewasa dan

(28)

Kegiatan-kegiatan lain yang masih dapat dilihat di Terminal Terpadu Amplas

ini adalah anak-anak penyapu angkutan umum. Anak penyapu angkutan umum dapat

kita jumpai disimpang jalan masuk ke Terminal Terpadu Amplas dan ada juga yang

berada di dalam Terminal Terpadu Amplas. Setiap anak penyapu angkutan umum

sudah memiliki langganan angkutan yang akan disapunya. Mereka sudah terbagi-bagi

artinya anak-anak penyapu angkutan lain tidak boleh datang atau menyapu angkutan

di wilayah anak yang lain.

Ketika mereka bekerja, anak-anak penyapu angkutan umum menggunakan

alat-alat sederhana seperti sapu kecil, oli atau solar yang dimasukkan ke dalam botol

atau semprotan air yang terbuat dari bahan plastik. Adapun guna oli ataupun solar ini

adalah agar lantai licin dan tidak cepat berkarat. Mereka akan diberi upah Rp.2000

untuk 1 angkutan yang mereka bersihkan. Pendapatan yang di peroleh anak-anak ini

sekitar Rp 20.000-50.000 /hari. Pendapatan ini biasanya mereka berikan sebagian

kepada orangtuanya, selebihnya untuk keperluan mereka sendiri, seperti untuk uang

(29)

BAB V ANALISIS DATA

5.1 Pengantar

Melalui hasil penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti di lapangan yaitu

melakukan teknik wawancara secara mendalam dan observasi partisipatif dengan

informan, peneliti berhasil mengumpulkan informasi mengenai kontribusi anak

bekerja terhadap sosial ekonomi keluarga (studi kasus anak bekerja sebagai tukang

sapu angkutan di Terminal Terpadu Amplas, Medan). Pengumpulan data dilakukan

melalui beberapa tahapan yaitu :

1. Studi kepustakaan (library research) yaitu pengumpulan data atau informasi

menyangkut masalah yang diteliti dengan mempelajari dan menelaah buku serta

tulisan yang ada kaitannya terhadap masalah yang diteliti.

2. Peneliti melakukan observasi untuk memperoleh gambaran tentang kondisi fisik

dan sosial lokasi penelitian dan selanjutnya untuk menggali informasi tentang

motif anak-anak tukang sapu angkutan bekerja di Terminal Terpadu Amplas.

3. Melakukan wawancara terhadap informan kunci, informan utama, dan informan

tambahan untuk mengetahui kontribusi mereka dalam kehidupan sosial ekonomi

keluarganya.

5.2 Hasil Temuan

Selama melakukan observasi, peneliti melihat anak-anak tukang sapu

(30)

sudah tidak bersekolah lagi sudah berada di lokasi pada pagi hari sekitar pulul 09.00

WIB. Selain bekerja di Terminal Terpadu Amplas sebagai tukang sapu angkutan,

beberapa dari mereka juga bekerja sebagai tukang sapu dan pengamen di

persimpangan lampu merah Amplas. Selama observasi, sesekali peneliti melihat

anak-anak tukang sapu di lokasi penelitian berkumpul untuk beristirahat dan bermain

setelah membersihkan angkutan. Hubungan diantara anak-anak tukang sapu angkutan

kebanyakan tidak sampai mengganggu kegiatan masing-masing untuk mencari uang.

Hanya saja ada saja anak-anak yang nakal dan mau menjahili temannya dengan

pembicaraan kotor yang lainnya, kadang saling mengejek satu sama lain, bahkan

sampai terjadi pukulan-pukulan yang tidak bersifat fatal.

Masyarakat sekitar Terminal juga banyak yang melakukan aktifitas ekonomi

di Terminal Terpadu Amplas. Adapun diantaranya sebagai pedagang asongan, agen

bis, pemilik kedai, pemilik toko, tukang becak dan lainnya. Sebagian dari mereka ada

yang akrab dengan anak-anak tukang sapu angkutan tersebut, bahkan sudah

diperlakukan seperti anak sendiri. Tapi sayangnya ada juga dari mereka yang tidak

peduli dengan anak-anak tukang sapu tersebut. Kadang mereka memarahi anak-anak

tukang sapu dengan pembicaraan kotor. Selain itu mereka tidak terlalu

memperdulikan kegiatan apa-apa saja yang dilakukan oleh anak-anak tukang sapu

tersebut. Sehingga mereka melakukan tindakan menyimpang seperti berkelahi,

merokok, main judi, saling memaki.

Anak-anak tukang sapu yang melakukan aktifitas di lokasi penelitian banyak

kondisinya yang memprihatinkan baik kondisi fisik dan rohani nya. Kondisi anak

(31)

,dan kulitnya sangat kotor, karena pekerjaan mereka itu berhadapan dengan abu dan

terik matahari. Mereka tidak terlalu peduli dengan penampilan demi mencari uang

dengan menyapu angkutan tersebut. Tidak banyak dari mereka yang berpenampilan

rapi layaknya anak sekolah. Anak-anak tukang sapu itu bekerja untuk mengumpulkan

uang ribuan demi ribuan. Mereka melakukan pekerjaan tersebut hanya bermodalkan

sapu bekas dan semprotan yang diisi solar.

Mereka menunggu angkutan masuk ke terminal di pintu masuk terminal

tersebut. Ketika angkutan masuk beberapa dari mereka akan berteriak untuk

menawarkan jasa sapu mereka. Kalimat yang sering mereka ucapkan seperti yang

diamati oleh peneliti ada pada berikut ini: “Bang..bang..sapu bang?. Kadang mereka

akan sedikit merayu supir angkutan tersebut dengan pernyataan berikut: “Sapu napa

bang, buat beli jajan bang!”. Ketika supir menundukkan kepalanya yang artinya

menerima tawaran tersebut, mereka berlari saling kejar-kejaran naik ke angkutan

tersebut. Siapa yang pertama naik maka dia lah yang akan menyapu angkutan

tersebut. Setelah dapat mengumpulkan uang beberapa puluh ribu mereka terlihat ceria

dan lebih santai.

Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti, timbul keinginan

untuk keinginan peneliti mencari tau untuk apa uang yang mereka dapat itu

digunakan. Supaya melihat gambaran yang lebih jelas dan rinci mengenai data - data

yang telah didapat dari hasil penelitian dilapangan, penulis mencoba menguraikan

data-data yang telah didapat dari wawancara dengan informan dengan narasi penulis

(32)

Informan Kunci I

Nama : Yohanes Hasibuan

Jenis Kelamin : Laki-laki

Anak ke : 2 dari tiga 3 bersaudara

Usia : 11 Tahun

Agama : Kristen

Suku : Batak Toba

Pendidikan : Kelas IV SD

Pekerjaan : Tukang sapu Angkutan

Pekerjaan Orangtua : Ayah (Supir)

Ibu (Pedagang Monja)

Alamat : Jl. Penilar, Amplas

Cita-cita : TNI

Informan pertama bernama Yohanes Hasibuan merupakan informan yang

paling dekat dengan peneliti. Dia adalah anak penyapu angkutan yang

memperkenalkan peneliti dengan teman-temannya yang lain. Pertemuan pertama

adalah di pintu masuk terminal ketika Yohanes sedang berteduh dibawah pohon di

pintu masuk terminal dengan menggandeng sapu dan semprotan sembari

memperhatikan angkutan masuk ke terminal. Dia melihat peneliti sedang berbincang

dengan salah satu petugas terminal yang memakai seragam Dinas Perhubungan.

Kemudian peneliti menghampiri Yohanes dan duduk besebelahan dengannya,

(33)

seperti nama, usia, urutan kelahiran, pendidikan, pekerjaan, pekerjaan orangtua, dan

alamatnya.

Yohanes menunjukan beberapa temannya yang lain yang bekerja sebagai

tukang sapu juga. Yohanes mengungkapkan bahwa ada beberapa dari temannya yang

sering mengejeknya dengan mengatakan ibunya adalah orang gila. Yohanes

menyatakan bahwa kadang dia marah ketika ibunya disebut orang gila. Kadangkala

dia tidak peduli dengan ejekan teman nya karena sudah terbiasa dengan itu. Yohanes

kembali melanjutkan pekerjaan nya ketika ada supir angkutan yang mau dibersihkan

nya.

Selanjutnya pada hari yang berbeda sekitar pukul 14.00 WIB peneliti bertemu

kembali dengan informan yang sama di tempat yang sama. Saat itu dia duduk

bersama teman-teman nya yang lain. Mereka sedang menunggu angkutan masuk ke

dalam terminal. Yohanes menyebut nama temannya satu persatu. Saat melakukan

perbincangan yang fokus dengan Yohanes, peneliti menanyakan apakah dia masih

aktif bersekolah. Yohanes mengatakan bahwa dia masih sekolah dan dia mengatakan

bahwa dia sekolah di sekolah swasta yaitu SD Swasta Triduri.

Pertanyaan selanjutnya, peneliti menanyakan sejak kapan dia bekerja sebagai

tukang sapu di terminal Terpadu Amplas. Yohanes mengatakan bahwa dia sudah

bekerja sebagai tukang sapu selama dua tahun sejak dia kelas 3 SD, dia menjelaskan

bahwa dia pernah tinggal di kelas tiga SD ketika peneliti menanyakan kenapa bisa

tinggal kelas dia tersipu malu dan tidak mau mengatakan alasannya. Selanjutnya

peneliti menanyakan bagaimana dia bisa bekerja sebagai tukang sapu angkutan.

(34)

melihat anak-anak jalanan yang bisa dapat uang banyak dari menyapu, ketika dia

melihat anak-anak jalanan di persimpangan lampu merah Amplas. Pertanyaan

berikutnya adalah kapan dan berapa lama dia bekerja menyapu angkutan dalam

sehari. Yohanes menjawab bahwa dia bekerja sepulang sekolah dari pukul 14.00 WIB

sampai pukul 21.00, ketika angkot sudah mulai sepi baru dia pulang.

Peneliti juga menanyakan apa alasan utama nya bekerja sebagai tukang sapu,

Yohanes mengatakan untuk keperluan sekolah dan untuk uang jajan nya. Ditambah

itu, dia juga menjelaskan bahwa dia menyapu angkutan juga di persimpangan lampu

merah Amplas, untuk menambahi penghasilan dari menyapu angkutan di terminal.

Pertanyaan selanjutnya adalah mengenai penghasilan nya sehari-hari. Yohanes

menjawab seperti pada kutipan berikut: “enggak nentu kak, kadang dua puluh ribu,

kadang tiga puluh, kadang empat puluh, kalo banyak angkot yang mau disapu

banyak kita dapat kak”. Peneliti juga menanyakan untuk apa saja pengahsilan nya itu

digunakan. Yohanes menyatakan penghasilan yang didapat nya itu seperti pada

kutipan berikut: “Dikasi ke mamak kak buat beli beras, buat keperluan sekolah,

pernah juga buat nambah uang sewa rumah kami, dulu aku ngasinya banyak ka,

sekarang aja nya kadang aku ngasih dua puluh, kadang ngasih sepuluh kalo

dapatnya sikit”.

Setelah mengetahui penghasilannya setiap harinya, peneliti menanyakan

modal apa saja yang digunakan untuk bekerja. Yohanes mengatakan hanya sapu

bekas yang diberikan tetangga nya dan semprotan yang berisi bensin, dia membeli

bensin Rp.3000 untuk semprotan nya terisi penuh. Pertanyaan selanjutnya adalah

(35)

mengatakan bahwa sepulang nyapu dia kadang-kadang bermain di warung internet

(Warnet). Setelah itu pulang ke rumah untuk mandi, mengerjakan PR dari sekolah

(Pekerjaan Rumah) sebentar, dan istirahat. Peneliti juga menanyakan apakah

orangtua dan keluarganya mengetahui dia sebagai tukang sapu, Yohenes mengatakan

bahwa dia minta ijin sama orangtuanya untuk kerja nyapu di terminal, dan mereka

mengijinkan Yohanes nyapu.

Setelah menanyakan aktifitasnya sehari-hari dan penghasilannya, peneliti

menanyakan bagaimana hubungan nya dengan teman-teman sesama tukang sapu di

terminal tersebut. Yohanes kemudian menjawab bahwa mereka sering bertengkar

karna rebutan angkot untukdi sapu, kemudian karna teman yang lain mau mengambil

sapu dan semprotan nya, juga dia sering marah karna teman nya sering mengejek

ibu nya. Setelah menanyakan hubungan dengan teman sesama tukang sapu, peneliti

menanyakan bagaimana hubungan nya dengan orang-orang yang disekitarnya,

kemudian Yohanes menjawab seperti pada kutipan berikut: “Aku pernah dibentak

sama supir kak, hari itu ga bersih kubuat angkotnya, dibentaknya lah aku kak, tapi

dikasi juga nya uang dua ribu samaku”.

Pertanyaan terahir untuk data penelitian, peneliti menanyakan apakah dia

memberikan setoran kepada seseorang atau sekelompok orang. Yohanes megatakan

bahwa dia tidak pernah memberikan setoran kepada orang setelah dia bekerja, dia

juga mengatakan bahwa dia tidak mempunyai bos tukang sapu disana. Dari

informasi yang peneliti dapat dari informan pertama, maka sedikit banyaknya

informan pertama ini berkontribusi dalam membantu kehidupan sosial ekonomi

(36)

berikan kepada orang tuanya sebesar Rp.10.000,- sampai Rp.20.000,-. Uang yang

diberikan tersebut dimanfaatkan untuk membantu pemenuhan kebutuhan keluarga

dalam pendidikan, pangan, dan perumahan.

Informan Kunci II

Nama : Sabar Nababan

Jenis Kelamin : Laki-laki

Anak ke : 5 dari 5 bersaudara

Usia : 11 Tahun

Agama : Kristen

Suku : Batak Toba

Pendidikan : Kelas 3 SD

Pekerjaan : Tukang Sapu Angkutan

Pekerjaan Orangtua : Ayah ( Supir)

Ibu ( Pedagang Kaki Lima)

Alamat : Jl. Garu 8, Amplas

Cita-cita : Tentara

Sabar Nababan adalah informan yang paling kecil diantara teman-teman

penyapu angkot lainnya adalah paling kecil sama posisi dia dalam keluarganya anak

paling kecil dan peneliti memanggilnya dengan sebutan “Sipudan”. Sabar adalah

teman dekat dari informan I (Yohanes) dan informan pertama yang mengenalkan

Sabar kepada peneliti. Pada hari yang sama bertemunya dengan informan I, peneliti

juga menanyakan data pribadi Sabar yang menjadi informan ke-2 peneliti. Sekilas

(37)

sekolah selama dua tahun, ketika peneliti menanyakan kenapa sempat berhenti

sekolah, Sabar dengan sedikit malu-malu dan senyum kemudian menyuruh peneliti

untuk menanyakan alasan nya kepada ibunya saja.

Pada hari yang berbeda peneliti duduk di tempat mereka biasa menunggu

angkutan masuk ke dalam terminal, tak lama Sabar datang yang memakai baju

seragam olahraga nya, sambil menggandeng sapu dan semprotan nya yang berisi

bensin. Ketika sampai peneliti menanyakan mengapa Sabar masih mengenakan baju

seragam olahraganya dengan cepat dia menjawab: “gak nya kotor itu ka, kan bajunya

ku balikkan, mana kotor itu”. Kemudian peneliti menyuruh Sabar duduk di sebelah

peneliti sambil berbincang-bincang, dia kelihatan senang karna dipanggil si pudan

oleh peneliti. Maka dalam kesempatan itu, peneliti memulai topik wawancara yang

menanyakan dimana dia sekolah. Sabar mengatakan bahwa dia sekolah di SD

Parulian sambil menunjukkan baju seragam olahraganya dimana terdapat sablonan

nama sekolah nya.

Selanjutnya peneliti menanyakan sejak kapan dia bekerja sebagai tukang sapu

angkutan. Sabar mengatakan bahwa dia sudah bekerja sekitar dua tahunan lebih,

dan mulai bekerja sejak kelas 2 SD. Kemudian peneliti menanyakan bagaimana dia

bisa bekerja sebagai tukang sapu angkutan, sabar menjawab bahwa dia awalnya ikut

dengan abang nya yang bekerja sebagai pengamen. Kemudian dia melihat banyak

anak-anak penyapu angkot, dia merasa apabila mengerjakan keduanya dia akan

dapat uang lebih banyak dari yang lain. Peneliti juga menanyakan kapan dan berapa

lama dia bekerja dalam sehari, sabar menjawab bahwa dia bekerja dari sepulang

(38)

peneliti juga bertanya apa alasan utamannya bekerja. Sabar mengatakan dia bekerja

karena untuk nyari uang buat menambah uang jajan sekolahnya dan juga untuk

bayar uang bukunya. Dan juga mengatakan kalau dia ingin bebas seperti pada kutipan

berikut: “aku bebas disini ga kena repet sama kakak ku yang paling besar yang

dirumah, soalnya dia cerewet ka asyik ngomel-ngomel aja kerjanya”.

Ketika peneliti menanyakan apakah dia bekerja di tempat lain, Sabar

mengatakan kalau dia juga mengamen di simpang lampu merah Amplas untuk

mendapatkan tambahan dari hasil menyapu seperti pada kutipan berikut: “Aku

ngamen karena enak aja kak, dapet uang, lumayan nambah uang hasil nyapu kak,

kadang sikit ka hasil nyapu, gara-gara yang pas tahun baruan itu pulang semua

supirnya tahun baruan”. Beralih dari itu peneliti menanyakan berapa pendapatan

yang diperoleh nya dari menyapu, Sabar mengatakan tidak menentu per harinya,

kadang dia mendapat Rp.35.000 kalau rame dia bisa mendapatkan sampai Rp.50.000

ke atas. Setelah mengetahui berapa penghasilan nya peneliti menanyakan untuk apa

pendapatan nya itu. Sabar menjelaskan seperti pada kutipan berikut: “kukasi sama

mama hampir semuanya, kadang limpul kukasi kalo banyak aku dapat, dipake untuk

uang jajan ku ke sekolah, buat belanja mamak juga”.

Peneliti juga menanyakan modal nya untuk bekerja, Sabar menjelaskan dia

menyapu hanya bermodalkan sapu yang sudah bekas dan semprotan yang diisinya

dengan solar dari rumah. Setelah mengetahui kegiatan dan pendapatan anak, peneliti

menanyakan kegiatan yang dilakukan nya setelah pulang bekerja. Sabar mengatakan

dia pulang ke rumah tapi singgah dulu di warnet dekat rumahnya dan main warnet,

(39)

bersama abangnya”. Peneliti juga menanyakan apakah orangtuanya mengetahui

bahwa dia bekerja, Sabar mengatakan kalau ibu nya tau dia bekerja nyapu dan tidak

marah karna dia ngasi uang sama ibu nya, tapi ayahnya tidak tau karena ayahnya

supir di Jambi dan jarang pulang.

Ketika ditanya bagaimana hubungan Sabar dengan teman-teman nya yang lain

dia menjawab singkat dengan kata „jahat” peneliti menanyakan alasan nya

mengatakan demikian, dan kemudian dia menjelaskan bahwa ada diantara mereka

yang mau jahil menyembunyikan sapu dan solarnya supaya tidak bisa nyapu.

Demikian juga peneliti menanyakan bagaimana hubungan nya dengan orang-orang

yang berada di sekitar terminal. Sabar menjawab nya seperti pada kutipan berikut:

“aku pernah ka dimarahin supir karna hampir kena kaca spion nya kubuat, terus

mau anak-anak itu mengoropi aku, dimintainya kak uang ku, kalo ga dikasi

marah-marah orangnya. Daripada aku dipukul kukasi lah kak tiga ribu”.

Pertanyaan terakhir adalah apakah dia pernah memberikan uang kepada

sekelompok orang atau seseorang setelah mendapatkan uang hasil menyapu. Sabar

mengatakan tidak pernah, karna dia tidak punya bos. Dari informasi yang telah

diuraikan peneliti dari informan ke-2 maka bisa diketahui motif informan kedua

bekerja sebagai tukang sapu adalah faktor ekonomi keluarga dan ingin mendapatkan

kebebasan, lalu sedikit banyaknya informan ke-2 ini berkontribusi dalam memenuhi

kebutuhan ekonomi keluarganya yaitu dengan memberikan sejumlah uang kepada

ibunya sebersar Rp.50.000,- yang dipergunakan untuk belanja kebutuhan pangan

(40)

Informan Kunci III

Nama : Julfan Tamba

Jenis Kelamin : Laki-laki

Anak ke : 1 dari tiga 5 bersaudara

Usia : 15 Tahun

Agama : Kristen

Suku : Batak Toba

Pendidikan : Kelas VI SD

Pekerjaan : Tukang sapu Angkutan

Pekerjaan Orangtua : Ayah (Kenek)

Ibu ( Pemulung)

Alamat : Jl. Pemda, Amplas

Cita-cita : TNI

Informan ketiga dalam penelitian adalah Julfan Tamba. Peneliti sudah

beberapa kali berjumpa dengan Julfan ketika peneliti masih melakukan observasi

lapangan. Julfan adalah anak tukang sapu yang susah untuk didekati dalam

melakukan wawancara. Dia sering meminta uang kepada peneliti sehinnga sulit untuk

melakukan pendekatan. Meskipun diberikan keterangan mengenai keadaan yang

masih berstatus mahasiswa dan belum memiliki penghasilan, dia terus meminta uang

kepada peneliti. Maka untuk bisa diwawancarai peneliti memberikan uang Rp.5000,-

(41)

Sebelumnya peneliti sudah mewawancarai sekitar data pribadi nya diantaranya nama,

usia, urutan kelahiran, pekerjaan dan pekerjaan orangtuanya, alamat, dan cita-citanya.

Saat melakukan perbincangan yang fokus dengan Julfan, peneliti menanyakan

apakah dia masih aktif bersekolah. Julfan mengatakan bahwa dia masih sekolah dan

dia mengatakan bahwa dia sekolah di sekolah swasta yaitu SD Negeri Medan Denai.

Pertanyaan selanjutnya, peneliti menanyakan sejak kapan dia bekerja sebagai tukang

sapu di terminal Terpadu Amplas. Julfan mengatakan bahwa dia sudah bekerja

sebagai tukang sapu sejak dia kelas 5 SD. Selanjutnya peneliti menanyakan

bagaimana dia bisa bekerja sebagai tukang sapu angkutan. Julfan mengatakan bahwa

dia sering mendengar teman satu sekolah nya bercerita kerja nyapu itu bisa dapat

uang banyak, maka dia juga tertarik untuk ikut nyapu seperti temannya yang lain.

Pertanyaan berikutnya adalah kapan dan berapa lama dia bekerja menyapu

angkutan dalam sehari. Julfan menjawab bahwa dia bekerja siang hari sampai jam

19.00 WIB. Peneliti juga menanyakan apa alasan utamanya bekerja sebagai tukang

sapu, “Kasian aku sama mamak kak. Pagi-pagi kami bangun uda pigi mama cari

botot. Ayah ku jarang pulang, jarang juga ngasi uang sama mama. Jadi aku bang

yang bantu mamak cari uang”. Ditambah itu, dia juga menjelaskan bahwa dia

menyapu angkutan juga di persimpangan lampu merah Amplas, untuk menambahi

penghasilan dari menyapu angkutan di terminal. Pertanyaan selanjutnya adalah

mengenai penghasilannya sehari-hari. Julfan menjawab sambil tertawa seperti pada

kutipan berikut: “uangku paling banyak biasanya ka, kadang aku uda dapat limpul,

(42)

Setelah mengetahui penghasilannya setiap harinya, peneliti menanyakan

modal apa saja yang digunakan untuk bekerja. Julfan mengatakan hanya sapu bekas

yang dibawa dari rumah nya dan semprotan yang berisi bensin, dia membeli bensin

Rp.3000. Peneliti juga menanyakan untuk apa saja penghasilannya itu digunakan.

Julfan menyatakan penghasilan yang didapatnya itu diberikannya kepada ibunya

untuk disimpan seperti pada kutipan berikut: “kukasi mamaku kak hampir empat

puluh setiap aku nyapu, buat belanja mama, mau juga dipake bayar uang air sama

listrik, hari itu pernah juga aku beli obat nenekku disuruh mama pake duitku”.

Pertanyaan selanjutnya adalah mengenai kegiatan apa saja yang dilakukan setelah

selesai bekerja. Julfan mengatakan bahwa sepulang nyapu dia sesekali dia bermain

di warnet. Setelah itu pulang ke rumah untuk mandi, mengerjakan PR, dan tidur.

Peneliti juga menanyakan apakah orangtua dan keluarganya mengetahui dia

sebagai tukang sapu, Julfan mengatakan bahwa orangtuanya dan nenek nya tau dia

kerja nyapu di terminal, dan mereka mengijinkan nyapu. Setelah menanyakan

aktifitas nya sehari-hari dan penghasilan nya, peneliti menanyakan bagaimana

hubungannya dengan teman-teman sesama tukang sapu di terminal tersebut. Julfan

kemudian menjawab bahwa mereka sering bertengkar karna rebutan angkot untuk di

sapu. Setelah menanyakan hubungan dengan teman sesama tukang sapu, peneliti

menanyakan bagaimana hubungan nya dengan orang-orang yang disekitar nya,

kemudian Julfan menjawab bahwa mereka dimarahi supir apabila tidak

membersihkan angkotnya dengan bersih.

Pertanyaan terahir untuk data penelitian, peneliti menanyakan apakah dia

(43)

bahwa dia tidak pernah memberikan setoran kepada orang setelah dia bekerja, dia

juga mengatakan bahwa dia tidak mempunyai bos disana. Dari informasi yang

peneliti dapat dari informan kunci ketiga, maka sedikit banyaknya informan ketiga ini

berkontribusi dalam membantu kehidupan sosial ekonomi keluarganya. Hal itu dapat

dilihat dari kontribusinya berupa sejumlah uang yang di berikan kepada orang tuanya

yaitu sebesar Rp.40.000 yang kemudian digunakan untuk pemenuhan kebutuhan

pangan yaitu belanja dapur ibunya, pemenuhan kebutuhan perumahan yaitu

membayar uang air dan uang listrik, dan kebutuhan kesehatan yaitu membelikan obat

untuk neneknya.

Informan Kunci IV

Nama : Marsya

Jenis Kelamin : Laki-laki

Anak ke : (2) dari (5) bersaudara

Usia : 14 Tahun

Agama : Islam

Suku : Jawa

Pendidikan : Kelas VI SD

Pekerjaan : Tukang sapu Agkutan

Pekerjaan Orangtua : Ayah ( Tukang Becak)

Ibu ( Pedagang Kaki Lima)

Alamat : Jl. Seser, Amplas

(44)

Marsya adalah informan ke-4 peneliti. Dia adalah anak pedangang kaki lima

yang ada di Terminal Terpadu Amplas. Marsya dikenalkan oleh seorang pedagang

asongan yang telah berkenalan dengan peneliti. Ketepatan pedagang tersebut

memiliki marga yang sama dengan peneliti, yaitu boru siagian sehingga peneliti

memanggil nya dengan sebutan “namboru”. Kemudian peneliti menjelaskan tujuan

peneliti datang ke terminal, dan pedagang asongan tersebut mengajak peneliti ke

tempat dimana Ibu Marsya berjualan. Pedagang asongan ini mengenali Marsya dan

ibu nya dan mereka cukup dekat. Kemudian peneliti berbincang-bincang dengan ibu

Marsya. Dan ternyata Marsya bekerja sebagai tukang sapu bersama saudara

kembarnya yang bernama Marvel. Marsya dan Marvel akrab dengan panggilan

sikembar” di Terminal Terpadu Amplas.

Marsya sengaja lama didaftarkan untuk sekolah untuk meringankan biaya

masuk sekolah karna apabila masuk bersamaan bersama saudara kembar nya akan

membutuhkan biaya yang lebih besar. Ketika perbincangan dengan ibu informan ke-4

Marsya kemudian datang ke tempat ibunya jualan untuk minum karna sudah haus

sehabis menyapu. Ibunya lalu menyuruh Marsya istirahat sembari menjelaskan

kepada Marsya tujuan peneliti datang menemui nya. Dengan bujukan ibu nya Marsya

kemudian mau untuk diwawancarai sebagai informan ke-4 peneliti. Yang pertama

peneliti mewawancarai sekitar data pribadi Marsya. Diantaranya nama, usia,

pekerjaan, urutan kelahiran, pekerjaan orangtuanya, alamat, dan cita-citanya.

Kemudian peneliti memulai topik wawancara yang menanyakan dimana dia

sekolah. Marsya mengatakan bahwa dia sekolah di SD Swasta Patumbak.

(45)

angkutan. Marsya mengatakan bahwa dia bekerja menyapu angkutan sudah sejak

usia 13 tahun. Kemudian peneliti menanyakan bagaimana dia bisa bekerja sebagai

tukang sapu angkutan, Marsya menjawab bahwa dia awalnya ikut dengan ibu nya

yang bekerja sebagai pedagang kaki lima yang bekerja di terminal. Kemudian dia

melihat banyak anak-anak penyapu angkot yang bisa mendapatkan uang yang

lumayan banyak,dari situ dia tertarik untuk nyapu seperti mereka.

Peneliti juga menanyakan kapan dan berapa lama dia bekerja dalam sehari,

Marsya menjawab bahwa dia bekerja dari sepulang sekolah pukul 13.00 sampai

pukul 19.00 WIB kemudian pulang bersama ibunya. Selain menanyakan bagaimana

dia bisa bekerja, peneliti juga bertanya apa alasan utamanya bekerja. Marsya

mengatakan dia bekerja karena untuk nambah uang jajan nya. Ketika peneliti

menanyakan apakah dia bekerja di tempat lain, Marsya mengatakan kalau dia hanya

bekerja di terminal Amplas, karena ibunya hanya mengijinkan nya bekerja disana.

Beralih dari itu peneliti menanyakan berapa pendapatan yang diperolehnya dari

menyapu, Marsya mengatakan tidak menentu per harinya, kadang dia mendapat

rata-rata Rp.30.000. Setelah mengetahui berapa penghasilannya peneliti menanyakan

untuk apa pendapatannya itu. Marsya menjelaskan seperti pada kutipan berikut:

“dikasi sama mamak bang kadang lima belas, dua puluh, siap nyapu langsung

ditanya mama uang ku, takut hilang katanya. Terus disimpan mama buat bayar uang

sekolah ku ka, beli sepatuku, baru beli susu kami”.

Peneliti juga menanyakan modal nya untuk bekerja, Marsya menjelaskan dia

menyapu hanya modal sapu dan semprotan yang diisinya dengan solar dari rumah.

(46)

yang dilakukannya setelah pulang bekerja. Marsya mengatakan pulang untuk mandi,

makan, dan kemudian tidur”. Peneliti juga menanyakan apakah orangtuanya

mengetahui bahwa dia bekerja, Marsya mengatakan kalau orangtuanya jelas tau

karna kerja di terminal Amplas juga, dan Marsya mengatakan bahwa orangtuanya

tidak keberatan asalkan tetap sekolah. Ketika ditanya bagaimana hubungan Marsya

dengan teman-teman nya yang lain, dia mengatakan bahwa baik-baik saja, karna

mereka tidak berani mengganggu nya karna orangtuanya ada diterminal tersebut,

jadi lebih anak-anak lainnya segan. Demikian juga peneliti menanyakan bagaimana

hubungannya dengan orang-orang yang berada di sekitar terminal. Marsya menjawab

bahwa hubungan nya biasa saja. Dia mengatakan mereka baik apabila mereka tidak

diganggu”.

Pertanyaan terakhir adalah apakah dia pernah memberikan uang kepada

sekelompok orang atau seseorang setelah mendapatkan uang hasil menyapu. Marsya

mengatakan tidak pernah, karna dia tidak punya bos. Dari informasi yang telah

diuraikan peneliti dari informan ke-4 maka bisa diketahui motif informan ke-4

bekerja sebagai tukang sapu adalah untuk menambah uang jajan. Lalu sedikit

banyaknya informan ke-4 ini berkontribusi dalam memenuhi kebutuhan ekonomi

keluarganya yaitu dengan memberikan sejumlah uang kepada orangtuanya sebesar

Rp.15.000 dan kadang Rp.20.000. Uang ini digunakan untuk membantu pemenuhan

kebutuhan keluarga diantaranya untuk pendidikan yaitu membayar uang sekolah anak

dan tambahan uang jajan sekolah, selanjutnya kebutuhan sandang yaitu untuk

membeli sepatu anak, dan pemenuhan kebutuhan kesehatan yaitu membeli susu untuk

(47)

Informan Kunci V

Nama : Febri Simamora

Jenis Kelamin : Laki-laki

Anak ke : Dua (2) dari tiga (3) bersaudara

Usia : 12 Tahun

Agama : Kristen

Suku : Batak Toba

Pendidikan : Kelas VI SD

Pekerjaan : Tukang Sapu Angkutan

Pekerjaan Orangtua : Ayah (Supir)

Ibu ( Asongan)

Alamat : Jl. Tuar, Amplas

Cita-cita :TNI-AL

Febri Simamora adalah informan kunci terahir dalam penelitian ini. Pada

waktu mewawancarai informan pertama yaitu Yohanes, Febri ada di lokasi penelitian

dan melihat proses wawancara. Pada hari itu peneliti juga mengajak nya untuk

menjadi informan, tetapi dia menolak karena merasa takut ada maksud lain dari

wawancara tersebut. Beberapa kali peneliti menjelaskan tujuan peneliti hanya untuk

melaksanakan tugas kuliah, tapi Febri susah untuk percaya. Tanpa memperdulikan

peneliti, akhirnya dia pergi untuk melanjutkan pekerjaannya karna sudah menemukan

angkot untuk disapu.

Pada hari yang berbeda, ketika peneliti mewawancarai informan lainnya Febri

(48)

nya (Sabar) menjelaskan bahwa Febri tidak datang ke lokasi karena dia hanya bekerja

dua kali sehari. Pada hari terahir peneliti di lokasi penelitian, ketika peneliti

membagikan potongan dengan informan peneliti, Febri datang menghampiri dan

menanyakan lagi tujuan peneliti melakukan wawancara. Dan peneliti menjelaskan

lagi apa tujuan dari peneliti di lokasi penelitian. Dan akhirnya dia sambil tersenyum

malu mengatakan bahwa dia mau di wawancarai dengan syarat dapat bagian

potongan tersebut. Dengan merasa senang, peneliti memberikan potongan kue

tersebut kepada Febri, sembari melakukan perbincangan mengenai data pribadi nya.

Saat melakukan perbincangan yang focus dengan Febri, peneliti menanyakan

apakah dia masih aktif bersekolah. Febri mengatakan bahwa dia masih sekolah dan

dia mengatakan bahwa dia sekolah di sekolah swasta yaitu SD Negeri Negri Medan

Amplas. Pertanyaan selanjutnya, peneliti menanyakan sejak kapan dia bekerja sebagai

tukang sapu di terminal Terpadu Amplas. Febri mengatakan bahwa dia sudah

bekerja setahun lebih. Selanjutnya peneliti menanyakan bagaimana dia bisa bekerja

sebagai tukang sapu angkutan. Febri diajak oleh tetangganya yang bekerja sebagai

tukang sapu juga. Pertanyaan berikutnya adalah kapan dan berapa lama dia bekerja

menyapu angkutan dalam sehari. Febri menjawab bahwa dia bekerja sepulang

sekolah sampai pukul 19.00 WIB dan Febri juga mengatakan bahwa dia hanya

bekerja dua kali sehari.

Peneliti juga menanyakan apa alasan utamanya bekerja sebagai tukang sapu,

Febri mengatakan bahwa dia bekerja untuk menambah uang jajan nya dan untuk

bantu ibunya yang sebagai pedagang asongan . Peneliti juga menanyakan apakah dia

(49)

Terpadu Amplas karena dekat dengan rumah nya. Pertanyaan selanjutnya adalah

mengenai penghasilannya sehari-hari. Febri menjawab bahwa penghasilan nya tidak

menentu, dia menjelaskan rata-rata pendapatan nya Rp.50.000 sehari. Setelah

mengetahui penghasilannya setiap harinya, peneliti menanyakan modal apa saja yang

digunakan untuk bekerja. Febri mengatakan hanya sapu bekas yang diberikan

temannya yang mengajak dia bekerja dan semprotan yang berisi bensin.

Peneliti juga menanyakan untuk apa saja penghasilannya itu digunakan. Febri

mengatakan penghasilan yang didapatnya seperti pada kutipan berikut “aku pake

buat main warnet sama uang jajan sekolah ka, mau juga dipake nambahin uang

mama beli baju natal kami, aku juga ngasi sama mama tiga puluh kadang dipake

buat ongkos bawa kakak ku berobat, kakak ku sakit uda lama gak tau sakit apa itu,

sakit-sakit aja kerjanya”. Pertanyaan selanjutnya adalah mengenai kegiatan apa saja

yang dilakukan setelah selesai bekerja. Febri mengatakan bahwa sepulang nyapu dia

selalu bermain dulu di warnet langgananya. Setelah itu baru pulang ke rumah.

Peneliti juga menanyakan apakah orangtua dan keluarganya mengetahui dia sebagai

tukang sapu, Febri mengatakan bahwa keluarganya mengetahui dia bekerja kecuali

ayahnya, ayah nya melarang dia bekerja karena takut dia terikut-ikut memakai

narkoba, dan dia juga menjelaskan apabila ayahnya mengetahuinya nyapu ayahnya

bisa mengusir nya dari rumah.

Setelah menanyakan aktifitasnya sehari-hari dan penghasilannya, peneliti

menanyakan bagaimana hubungannya dengan teman-teman sesama tukang sapu di

terminal tersebut. Febri kemudian menjawab bahwa hubungannya baik-baik saja,

(50)

hubungan dengan teman sesama tukang sapu, peneliti menanyakan bagaimana

hubungannya dengan orang-orang yang disekitarnya, Febri mengatakan seperti pada

kutipan berikut: “kalo kita gak nyapu angkot nya sampe bersih supirnya marah ka,

habis itu cakap kotor dah sama kita, aku juga sering dikompas sama anak-anak yang

naik sepeda itu, sampe dilempar pake batu karna ga kukasi, orang itu pencopet ka

disini makanya naik sepeda terus biar ga terkejar kalo ketauan nyopet”.

Pertanyaan terahir untuk data penelitian, peneliti menanyakan apakah dia

memberikan setoran kepada seseorang atau sekelompok orang. Febri megatakan

bahwa dia tidak pernah memberikan setoran kepada orang setelah dia bekerja, dia

juga mengatakan bahwa dia tidak mempunyai bos disana. Dari informasi yang

peneliti dapat dari informan pertama, maka sedikit banyaknya informan kunci terahir

ini berkontribusi dalam membantu kehidupan sosial ekonomi keluarganya. Hal itu

dapat dilihat dari kontribusinya berupa sejumlah uang yang di berikan kepada orang

tuanya sebesar Rp.30.000,-. Uang digunakan untuk kebutuhan pendidikan yaitu

tambahan uang jajan sekolah, pemenuhan kebutuhan kesehatan yaitu ongkos

kakaknya berobat, dan pemenuhan kebutuhan sandang yaitu untuk menambahi uang

orangtuanya membeli baju natal anak tersebut.

Informan Utama I

Nama : Mawardani Nainggolan

Jenis Kelamin : Perempuan

Status di Keluarga : Ibu dari anak

Usia : 48 Tahun

(51)

Suku : Batak Toba

Pendidikan Terakhir : SMA

Jumlah Anggota Keluarga : 5 orang

Pekerjaan : Penjual Monja

Alamat : jl. Tuar Amplas

Informan utama pertama dalam penelitian ini adalah ibu Mawardani

Nainggolan selaku ibu dari Yohanes. Pada hari yang sama ketika peneliti melakukan

wawancara dengan anak nya Yohanes, Ibu Mawar berada tidak jauh dari lokasi

penelitian. Ketika peneliti selesai melakukan wawancara dengan Yohanes, dia

memberitahukan bahwa dia datang ke terminal bersama ibu nya yang hendak

berangkat untuk jualan ke pasar Sambu. Karna keterbatasan waktu peneliti mengajak

Yohanes menghampiri ibunya yang masih duduk di sebrang jalan lokasi penelit.

Tanpa memperdulikan ejekan teman nya yang lain yang menyebut ibu nya sebagai

orang gila, akhirnya dia mau dibujuk peneliti. Seperti yang diamati peneliti memang

penampilan ibu Mawar tidak percaya bahwa ibu Mawar adalah ibu dari Yohanes.

Penampilannya yang kurang rapi, dengan wajah keriput, dan kusut, ditambah rambut

nya yang berantakan mungkin menjadi alasan anak-anak lainnya mengatakan

demikian.

Tetapi pemikiran terhadap ibu Mawar itu salah, ketika peneliti menghampiri

ibu Mawar bersama Yohanes dan beberapa anak tukang sapu, peneliti disambut

ramah oleh Ibu Mawar. Dia menceritakan bahwa Yohanes telah menceritakan

tentang peneliti yang datang ke terminal dan mengatakan kepada ibunya bahwa

(52)

mewawancarai ibu Mawar sebagai informan utama ke-1 peneliti. Dalam

perbincangan dengan peneliti ibu Mawar mengatakan bahwa beliau hendak mau

berangkat ke Pasar Sambu untuk jualan, dia menceritakan bahwa usahanya

keci-kecilan. Seperti yang diamati peneliti Ibu Mawar adalah seorang penjual monja tapi

jualan nya hanya beberapa kantong plastik saja. Usaha jualannya masih kecil, dan

tidak punya tempat yang di sewa untuk jualan, ibu hanya berjualan di tempat kosong

di Pasar Sambu dan tempat berjualan nya tidak menetap di satu tempat.

Saat melakukan perbincangan yang fokus dengan informan peneliti, yang

pertama peneliti menanyakan apakah anaknya masih bersekolah. Ibu Mawar

mengatakan bahwa anak nya masih sekolah. Selanjutnya peneliti menanyakan

apakah ibu mengetahui bahwa anaknya bekerja dan tanggapannya. Ibu Mawar

mengatakan bahwa beliau mengetahui anaknya bekerja, dan mengatakan bahwa

sebenarnya tidak setuju anaknya bekerja karna anaknya sering diejeki temannya,

kadang sapu nya diambil sehingga anak nya menangis mengadu kepada ibunya. Tapi

karna keadaan dan anaknya tidak mau berhenti kerja, mau tidak mau ibu

mengijinkan anak nya nyapu.

Selain menanyakan tanggapannya, peneliti menanyakan bahgaimana pertama

kalinya anak bekerja. Sambil tersenyum ibu Mawar mengatakan ketika Yohanes

dibawa ibu mencari botot ke simpang lampu merah Amplas, Yohanes tertarik bekerja

karena melihat teman-teman nya bisa dapat uang banyak dari menyapu, kemudian

dia meminta kepada ibunya untuk nyapu dan mengatakan tidak mau lagi melanjutkan

pekerjaannya yang dulu sebagai penjual plastik di Teladan, karena pendapatan nya

(53)

anak bekerja, peneliti menanyakan berapa yang diberikan anak dari pendapatan nya.

Ibu Mawar mengatakan bahwa anaknya dulunya banyak memberikan uang, kadang

sampai Rp.70.000 sehari tapi akhir-akhir ini hanya kadang memberikan Rp.20.000,

paling banyak Rp.30.000, dia mengatakan bahwa anak nya sudah banyak main nya

makanya tidak dapat uang banyak lagi.

Kemudian peneliti menanyakan untuk apa uang yang diberikan itu

digunakan, Ibu Mawar menjelaskan seperti pada kutipan berikut: “dia ngasi uang ya

untuk dia juga lah de, beli buku nya, baju nya, kadang dari sekolahnya ada olahraga

renang jadi ibu kasi lah uang nya untuk dia renang, kalo ada sisa ibu kumpulin buat

nambah bayar sewa rumah, nambahin belanja, pintar-pintar lah dek bagi-bagi uang

itu”. Dengan cerita informan yang memberikan sejumlah uang kepada keluarga,

peneliti menanyakan bagaimana pemenuhan kebutuhan sebelum dan sesudah anak

bekerja. Ibu Mawar mengatakan bahwa mereka cukup terbantu dengan anak bekerja

dengan pendapatannya sebagai penjual monja yang kandang tidak menentu,

meskipun tidak berbeda jauh dari sebelum anak bekerja.

Selanjutnya peneliti menanyakan kegiatan anak setelah pulang sekolah. Ibu

Mawar menjelaskan bahwa anak biasanya pulang sekolah makan dulu,dan belajar

sebentar,kemudian pergi nyapu ke terminal. Setelah mengetahui kegiatan anak

seharinya peneliti menanyakan bagaimana prestasi anak di sekolahnya. Ibu Mawar

menjawab sambil mengelus kepala anaknya bahwa anaknya pernah dapat juara

lomba kebersihan di gereja, dan mengatakan bahwa anaknya tidak terlalu pintar

dalam belajar dan Yohanes pernah sekali tinggal kelas. Terakhir untuk pengumpulan

(54)

keluarga, teman sebaya, dan lingkungan nya. Ibu Mawar menjawab dengan

pernyataan dibawah ini: “anakku ini sekarang suka melawan, kadang sampe mau

memukul, heran aku de, gimanalah de uda banyak bergaul yang gak benar, ibu

hanya berdoa dia bisa berubah dek”.

Dari informasi yang diberikan oleh informan utama I maka dapat dlihat bahwa

informan kunci I memberikan kontribusi terhadap sosial ekonomi keluarganya. Hal

ini bisa dilihat dari pernyataan informan utama I yang mengatakan bahwa anak

memberikan uang sebesar Rp.20.000, Rp.30.000, dan pernah memberikan Rp.70.000

ketika anak masih baru bekerja. Uang yang diberikan kemudian dimanfaatkan untuk

kebutuhan pendidikan yaitu membeli buku dan uang renang. Demikian juga

digunakan untuk pemenuhan kebutuhan perumahan yaitu menambahi biaya untuk

membayar sewa rumah keluarga informan dan pemebuhan kebutuhan pangan

keluarga yaitu menambahi uang untuk belanja.

Informan Utama II

Nama : Ulina Nababan

Jenis Kelamin : Perempuan

Status di Keluarga : Anak/ kakak dari Sabar

Usia : 26 Tahun

Agama : Kristen

Suku : Batak Toba

Pendidikan Terakhir : SMA

Jumlah Anggota Keluarga : 7 orang

Gambar

Gambar 1: Anak-anak bekerja sebagai tukang sapu angkutan beristirahat
Gambar 2: Anak-anak tukang sapu menunggu angkutan masuk ke terminal di
Gambar 3: Peneliti melakukan wawancara dengan anak-anak bekerja sebagai
Gambar 4: Peneliti melakukan obesevasi kegiatan-kegiatan dan wawancara
+3

Referensi

Dokumen terkait

Pelayanan koperasi adalah usaha koperasi memberikan pelayanan yang sebaik mungkin terhadap apa yang diperlukan anggota sehingga anggota memperoleh kemudahan dalam

Untuk mengetahui dosis terbaik dari media tanam tanah dengan bahan. organik sabut kelapa terhadap pertumbuhan

Analisis Faktor-Faktor Yang Berpengaruh Terhadap Keberhasilan Usaha Mikro dan Kecil (Studi Kasus Pada Usaha Kecil Di Semarang Barat).. Jurnal

yang handal dapat meningkatkan jumlah penerimaan dan respons dari publik. Menurut teori ini, seluruh individu yang menerima pesan dianggap punya karakteristik yang

Dalam hal ini, Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia juga turut memperjelas kedudukan tiga aktor utama pembentukan kebijakan ( law makers ) tersebut melalui berbagai

Astra Internasional Tbk pada tahun 2005-2006 dari hasil saham prioritas per lembar dan saham biasa per lembar yang akan diterima para pemegang sahamnya. Untuk itu penulis

UNIVERSITAS AIRLANGGA FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI PROGRAM STUDI S1 SISTEM

Berdasarkan Berita Acara Penetapan Daftar Pendek ( Short List ) Nomor : 05/PBJ-Kons/KP-4/08/2012 tanggal 11 Mei 2012 dengan ini diumumkan Hasil Evaluasi Seleksi Sederhana Penyedia