• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kontrol Kadar Gula Darah Pasien DM

Dalam dokumen Skripsi Nita Rachmawati (Halaman 45-66)

BAB IV HASIL PENELITIAN

B. Kontrol Kadar Gula Darah Pasien DM

setelah makan

Keteraturan dalam melakukan kontrol gula darah 2 jam setelah makan

Instrumen observasi berdasarkan catatan rekam medis (RM)

Kontrol gula darah 2 jam setelah makan:

1.Teratur: dilakukan pemeriksaan berkala minimal 3 bulan sekali. Kadar gula darah 2 jam setelah makan menunjukkan, hasil: 1. Kadar Normal (80- 144 mg/dl) Ordinal 31

2. Kadar Sedang (145 mg/dl - 179 mg/dl) 3. Kadar Buruk

(>180 mg/dl) 2. Tidak teratur: tidak

dilakukan pemeriksaan berkala minimal 3 bulan sekali. c. Kontrol Kadar HbA1c Keteraturan dalam melakukan kontrol HbA1c dalam waktu 3 bulan sekali

Instrumen observasi berdasarkan catatan rekam medis (RM)

Kontrol kadar HbA1c:

1.Teratur: dilakukan pemeriksaan berkala minimal 3 bulan sekali Kadar HbA1c menunjukkan, hasil: 1. Kadar Baik (< 6,5 %) 2. Kadar Sedang (6,5-8%) 3. Kadar Buruk (>8%)

2. Tidak teratur: tidak dilakukan pemeriksaan berkala minimal 3 bulan sekali

Ordinal

Karakteristik Pasien DM

1. Usia Lamanya waktu hidup pasien DM yang dihitung dari tanggal lahir sampai sekarang

Instrumen observasi berdasarkan catatan rekam medis (RM) Dikategorikan menjadi: 1. Dewasa awal (26-35 tahun) 2. Dewasa akhir (36-45 tahun) 3. Lansia awal (46-55 tahun) 4. Lansia akhir (56-65 tahun) 5. Manula (>65 tahun) Ordinal 2. Jenis Kelamin Pengelompokan berdasarkan gender pasien DM Instrumen observasi berdasarkan catatan rekam medis (RM) Dikelompokkan menjadi: 1. Perempuan 2. Laki-laki Nominal

3. Pendidikan Tingkat pendidikan yang telah ditempuh pasien DM diukur dari jenjang pendidikan formal yang pernah diikuti berdasarkan ijazah terakhir yang dimiliki Instrumen observasi berdasarkan catatan rekam medis (RM) Dibagi menjadi: 1. Tidak lulus SD 2. SD 3. SMP 4. SMA 5. Perguruan tinggi Ordinal 33

G. Alat Penelitian dan Cara Pengumpulan Data

1. Alat Penelitian

Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

a) Lembar observasi berupa tabel yang berisi nomor rekam medis pasien, usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan pasien DM, pelaksanaan pemeriksaan gula darah yang dilihat tiga bulan sekali selama 3x berturut-turut, dan hasil pemeriksaan kadar gula darah yang dilihat dari rekam medis pasien DM. Metode ini dilakukan tanpa melakukan interview kepada partisipan atau responden karena data yang dikumpulkan langsung melalui pencatatan hasil data rekam medis.34

b) Sistem pengolahan data menggunakan perangkat lunak (software)

statistik untuk mempermudah dalam pengolahan data.

c) Tes pemeriksaan kadar gula darah pasien DM dilakukan oleh petugas laboratorium RSJ. Prof. Dr. Soerojo Magelang. Pemeriksaan kadar gula darah 2 jam setelah makan pasien DM dilakukan menggunakan tes darah kapiler, sedangkan untuk pemeriksaan kadar gula darah puasa dan kadar HbA1c adalah dengan mengambil darah dari pembuluh vena. Metode yang digunakan untuk mengukur kadar HbA1c adalah menggunakan kromatografi afinitas.

2. Cara Pengumpulan Data

a) Mengurus perijinan ke bagian litbang RSJ Prof. Dr. Soerojo Magelang untuk dilakukan studi pendahuluan.

b) Mengambil data pravelensi jumlah pasien DM yang berobat ke poliklinik penyakit dalam RSJ Prof. Dr. Soerojo Magelang di tahun 2013 dan 2014.

c) Mengambil 10 sampel data rekam medis mengenai keteraturan pasien DM dalam melakukan pemeriksaan kontrol kadar gula darah yaitu kadar gula darah puasa, kadar gula darah 2 jam setelah makan, dan HbA1c kemudian dijadikan sebagai data awal penelitian.

d) Setelah laporan disetujui oleh dosen pembimbing dan penguji, peneliti mengajukan permohonan ijin penelitian kepada Direktur RSJ Prof. Dr. Soerojo Magelang melalui bagian penelitian dan pengembangan (Litbang).

e) Meminta ijin ke bagian rekam medis RSJ Prof. Dr. Soerojo Magelang untuk mengambil data rekam medis pasien DM periode Januari – Desember 2014 di poliklinik penyakit dalam RSJ Prof. Dr. Soerojo Magelang.

f) Melakukan penyeleksian rekam medis yang sesuai dengan kriteria inklusi yang sudah ditetapkan sebelumnya dengan dibantu oleh petugas rekam medis.

g) Pengambilan data rekam medis dibagi menjadi 3 tahap. Pada tahap pertama, dalam sehari data rekam medis hanya dapat diambil sebanyak 25 sampel rekam medis. Pada tahap kedua, data rekam medis dapat diambil sebanyak 70 rekam medis, sedangkan pada tahap ketiga data rekam medis dapat diambil sebanyak 100 rekam medis dalam sehari. Total data rekam medis yang didapat sebanyak 195 sampel rekam medis pasien DM.

h) Pengambilan data ini dilakukan setiap hari Jum’at, Senin, dan Selasa (3, 6, dan 7 Juli 2015) di ruang rekam medis pada pukul 12.00 – 15.00 WIB. Penelitian dilakukan pada siang hari agar tidak mengganggu proses pelayanan rumah sakit.

H. Teknik Pengolahan dan Analisis Data

1. Teknik Pengolahan Data

Ada beberapa langkah untuk melakukan pengolahan data, yaitu:35 a) Pemeriksaan data (Editing)

Editing dilakukan dengan cara memeriksa dan mengecek data yang dikumpulkan yaitu data rekam medis pasien DM yang sesuai dengan kriteria inklusi. Pengecekan satu per satu ini bertujuan untuk memisahkan rekam medis pasien dengan diagnosa penyakit DM dari diagnosa penyakit lain yang berobat di Poliklinik Penyakit Dalam RSJ Prof. Dr. Soerojo Magelang.

b) Pengkodean (Coding)

Setelah data terkumpul dan diseleksi, tahap berikutnya adalah melakukan pengkodean agar mempermudah dalam pengolahan data. Dalam penelitian ini peneliti memberikan kode pada hasil pengukuran variabel penelitian dan karakteristik pasien DM. Pemberian kode meliputi usia, jenis kelamin dan tingkat pendidikan pasien DM. Selain itu, peneliti juga memberikan kode terhadap keteraturan pelaksanaan pemeriksaan gula darah yang dilakukan pasien DM berupa hasil teratur dan tidak teratur. Data pengkodean telah tercantum pada tabel definisi operasioanal. Contoh:

Pada kategori usia pada karakteristik demografi:

Coding 1 = Dewasa awal (26-35 tahun)

Coding 2 = Dewasa akhir (36-45 tahun)

Coding 3 = Lansia awal (46-55 tahun)

Coding 4 = Lansia akhir (56-65 tahun)

Coding 5 = Manula (>65 tahun) c) Proses data (Processing)

Pada tahap ini data atau informasi pasien DM terkait dengan karakteristik demografi, pemeriksaan kontrol, dan kadar gula dimasukkan ke dalam perangkat lunak (software) statistik.

d) Tabulasi (Tabulating)

Tabulasi dilakukan dengan memasukkan data ke dalam tabel yang tersedia, kemudian dilakukan pengukuran pada masing-masing variabel.

e) Pembersihan data (Cleaning)

Pada tahap ini, dilakukan pengecekan ulang pada data-data yang telah dimasukkan, hal ini dilakukan untuk meminimalkan kesalahan.

2. Analisis Data

Analisis data harus dilakukan secara bertahap sesuai dengan prosedur yang ada. Tujuannya adalah untuk memperoleh gambaran dari hasil penelitian yang telah dirumuskan dalam tujuan penelitian. Bentuk analisis data yang dilakukan pada penelitian ini adalah analisis univariat. Teknik ini berlaku pada setiap variabel tunggal serta berfungsi untuk memberikan gambaran populasi dan penyajian hasil deskriptif melalui distribusi frekuensi dalam bentuk tabel dan diagram batang sehingga memudahkan orang lain dalam menginterpretasikan hasil penelitian.33

Rumus sederhana yang digunakan adalah:

Keterangan:

X : hasil persentase

f : frekuensi hasil penelitian n : total seluruh observasi X = f x 100%

n

I. Etika Penelitian

Etika merupakan hal yang penting dalam proses pelaksanaan penelitian karena berhubungan dengan manusia.35 Etika yang harus diperhatikan dalam penelitian:36

1. Anonimity (tanpa nama)

Masalah etika keperawatan merupakan masalah yang memberikan jaminan dalam penggunaan subjek penelitian dengan cara tidak memberikan atau mencantumkan nama pasien pada lembar alat ukur. Pada penelitian ini tidak mencantumkan nama pasien DM tetapi hanya mencantumkan nomor rekam medis pada lembar alat ukur pencatatan. 2. Confidentialliy (kerahasiaan)

Memberikan jaminan kerahasiaan hasil penelitian, baik informasi maupun masalah-masalah lainnya. Semua informasi yang diperoleh dijamin kerahasiaannya oleh peneliti sehingga hanya data tertentu yang akan dilaporkan pada hasil penelitian. Dalam penelitian ini, peneliti merahasiakan identitas pasien DM dan hanya menampilkan data yang berhubungan dengan penelitian yaitu data demografi berupa usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan pasien DM, dan pemeriksaan kontrol dan kadar gula darah.

3. Respect for justice an inclusiveness

Prinsip keterbukaan dan adil perlu dijaga oleh peneliti dengan kehati-hatian. Peneliti mengkondisikan pencatatan data pasien DM

tetap berada di dalam ruang rekam medis dengan tujuan mendukung kenyamanan dan privasi pasien DM selama dilakukan pencatatan.

4. Beneficence

Salah satu sisi positif dari penelitian adalah mengandung nilai kebermanfaatan bagi pasien. Dalam penelitian ini, peneliti memberikan gambaran pentingnya melakukan kontrol gula darah secara rutin agar tercegah dari bahaya komplikasi.

5. Maleficence

Penelitian yang baik adalah penelitian yang tidak mengandung unsur berbahaya atau merugikan pasien. Pada prosesnya pihak rumah sakit mengijinkan dan tidak merasa dirugikan dalam pengambilan data ini.

BAB IV

HASIL PENELITIAN

A. Distribusi Frekuensi Karakteristik Demografi Pasien DM

Gambaran karakteristik demografi responden dibagi berdasarkan usia, jenis kelamin, dan tingkat pendidikan yang dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Tabel 5

Distribusi Frekuensi Karekteristik Demografi Berdasarkan Usia, Jenis Kelamin, dan Pendidikan Pasien DM

Tahun 2014 (n=195)

Karekteristik Responden Frekuensi Persentase (%)

Usia

Dewasa awal (26-35 tahun) Dewasa akhir (36-45 tahun) Lansia awal (46-55 tahun) Lansia akhir (56-65 tahun) Manula (>65 tahun) Jenis Kelamin Perempuan Laki-laki Pendidikan Tidak tamat SD SD SMP SMA Perguruan Tinggi 4 30 64 60 37 120 75 15 58 25 62 35 2.1 15.4 32.8 30.8 19.0 61.5 38.5 7.7 29.7 12.8 31.8 17.9 Total Responden 195 100.0

Pada kategori usia terlihat lebih banyak pasien berusia lansia awal (antara 46-55 tahun) yaitu sebanyak 64 pasien (32.8%). Hasil paling sedikit adalah pasien berusia dewasa awal (26-35 tahun) yaitu sebanyak 4 pasien (2.1%). Sebagian besar pasien berjenis kelamin perempuan yaitu sebanyak

120 dari 195 pasien atau sebesar 61.5%. Pada kategori tingkat pendidikan terlihat lebih banyak pasien merupakan tamatan SMA yaitu sebanyak 62 pasien (31.8%), namun masih terdapat pasien yang belum tamat SD yaitu sebesar 15 pasien (7.7%).

B. Distribusi Frekuensi Kontrol Kadar Gula Darah Pasien DM

Berikut adalah grafik distribusi frekuensi kontrol kadar gula darah secara umum di Poliklinik Penyakit Dalam RSJ Soerojo Magelang.

Gambar 3

Grafik Distribusi Frekuensi Kontrol Kadar Gula Darah Pasien DM Tahun 2014

(n=195)

Pada grafik tersebut terlihat lebih banyak pasien DM tidak teratur dalam melakukan kontrol kadar gula darah secara umum di Poliklinik Penyakit Dalam RSJ Prof. Dr. Soerojo Magelang sebanyak 128 pasien (65.6%).

0 20 40 60 80 100 120 140

Teratur Tidak teratur Kontrol Kadar Gula Darah Pasien DM

Teratur Tidak teratur 65.6% (128 responden) 34.4% (67 responden) 42

C. Distibusi Frekuensi Domain Kontrol Kadar Gula Darah Pasien DM

Berikut tabel distribusi frekuensi domain kontrol kadar gula darah pada pasien DM di Poliklinik Penyakit Dalam RSJ Prof. Dr. Soerojo Magelang yang dilihat keteraturannya meliputi kontrol kadar gula darah puasa, kontrol kadar gula darah 2 jam setelah makan, dan kontrol HbA1c.

Tabel 6

Distribusi Frekuensi Kontrol Kadar Gula Darah Puasa Pasien DM Tahun 2014

(n=195) Kontrol Kadar Gula

Darah Puasa Frekuensi Persentase (%)

Teratur 89 45.6%

Tidak teratur 106 54.4%

Total Responden 195 100.0 %

Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar pasien tidak teratur dalam melakukan kontrol kadar gula darah puasa setiap 3 bulan sekali di Poliklinik Penyakit Dalam RSJ Prof. Dr. Soerojo Magelang yaitu sebanyak 106 pasien (54.4%).

Tabel 7

Distribusi Frekuensi Kontrol Kadar Gula Darah 2 Jam Setelah Makan pada Pasien DM

Tahun 2014 (n=195) Kontrol Kadar Gula

Darah 2 Jam Setelah Makan

Frekuensi Persentase (%)

Teratur 74 37.9%

Tidak teratur 121 62.1%

Total Responden 195 100.0 %

Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar pasien tidak teratur dalam melakukan kontrol kadar gula darah 2 jam setelah makan setiap 3 bulan sekali di Poliklinik Penyakit Dalam RSJ Prof. Dr. Soerojo Magelang yaitu sebanyak 121 pasien (62.1%).

Tabel 8

Distribusi Frekuensi Kontrol Kadar HbA1c pada Pasien DM Tahun 2014 (n=195) Kontrol Kadar HbA1c Frekuensi Persentase (%) Teratur 0 0 % Tidak teratur 195 100% Total Responden 195 100.0 %

Hasil penelitian menunjukkan seluruh pasien sebanyak 195 pasien DM tidak teratur dalam melakukan kontrol kadar HbA1c yang dilakukan setiap 3 bulan sekali di Poliklinik Penyakit Dalam RSJ Prof. Dr. Soerojo Magelang. Dari 195 pasien hanya terdapat 30 pasien yang melakukan kontrol kadar HbA1c sebanyak satu sampai dua kali pemeriksaan dalam setahun.

D. Distribusi Frekuensi Kadar Gula Darah Rata-rata Pasien DM

1. Kadar gula darah puasa

Dari total 195 pasien yang melakukan kontrol kadar gula darah puasa hanya terdapat 89 pasien (45.6%) yang teratur dalam melakukan kontrol. Kemudian dari 89 pasien tersebut dilihat gambaran nilai rata- rata nilai kadar gula darahnya dari 3 kali pemeriksaan yang dilakukan secara rutin dan kemudian digolongkan menjadi kadar normal, kadar sedang, dan kadar buruk.

Tabel 9

Distribusi Frekuensi Nilai Rata – Rata Kadar Gula Darah Puasa Pasien DM Tahun 2014

(n=89)

Kadar Gula Darah Puasa Frekuensi Prosentase (%)

Kadar Normal (80-109 mg/dl) Kadar Sedang (110-125 mg/dl) Kadar Buruk (>126 mg/dl) 5 17 67 5.6 19.1 75.3 Total 89 100.0

Hasil penelitian menunjukkan pasien yang teratur melakukan kontrol kadar gula darah puasa di Poliklinik Penyakit Dalam RSJ Prof. Dr. Soerojo Magelang lebih banyak memiliki nilai rata-rata kadar gula darah buruk (>126 mg/dl) yaitu sebanyak 67 pasien (75.3%).

Tabel 10

Distribusi Frekuensi Nilai Kadar Gula Darah Puasa pada Pasien DM Tahun 2014

KGD Puasa

Pemeriksaan 1 Pemeriksaan 2 Pemeriksaan 3

f % f % f % Kadar Normal (80-109 mg/dl) Kadar Sedang (110-125 mg/dl) Kadar Buruk (>126 mg/dl) 4 12 73 4.5 13.5 82.0 12 25 52 13.5 28.1 58.4 32 20 37 36.0 22.5 41.5 Total Responden 89 100 89 100 89 100

Hasil data yang diperoleh menunjukkan lebih banyak pasien DM yang mempunyai nilai kadar gula darah puasa buruk di setiap pemeriksaan. Jumlah pasien dengan kadar gula darah buruk terlihat mengalami penurunan di setiap pemeriksaan. Pada pemeriksaan pertama jumlah pasien dengan kadar gula darah buruk tercatat sebanyak 73 pasien (82.0%), mengalami penurunan di pemeriksaan ke-2 menjadi 52

pasien (58.4%), dan mengalami penurunan kembali di pemeriksaan ke-3 menjadi 37 pasien (41.5%).

2. Kadar Gula Darah 2 Jam Setelah Makan

Dari total 195 pasien yang melakukan kontrol kadar gula 2 jam setelah makan di Poliklinik Penyakit Dalam RSJ Prof. Dr. Soerojo Magelang hanya terdapat 74 pasien (37.9%) yang teratur melakukan kontrol. Kemudian dari 74 pasien tersebut dilihat gambaran nilai rata- rata kadar gula darahnya dalam 3 kali pemeriksaan dan digolongkan menjadi kadar normal, kadar sedang, dan kadar buruk.

Tabel 11

Distribusi Frekuensi Nilai Rata-rata Kadar Gula Darah 2 Jam Setelah Makan pada Pasien DM Tahun 2014

(n=74) Kadar Gula Darah 2 Jam Setelah Makan Frekuensi Prosentase (%) Kadar Normal (80-144 mg/dl) Kadar Sedang (145-179 mg/dl) Kadar Buruk (>180 mg/dl) 0 7 67 0 9.5 90.5 Total 74 100.0

Hasil penelitian menunjukkan lebih banyak pasien yang memiliki nilai rata-rata kadar gula 2 jam setelah makan yang buruk (>180 mg/dl) yaitu sebanyak 67 pasien DM (90.5%).

Tabel 12

Distribusi Frekuensi Nilai Kadar Gula Darah 2 Jam Setelah Makan pada Pasien DM Tahun 2014

(n=74)

KGD 2 Jam Setelah Makan

Pemeriksaan 1 Pemeriksaan 2 Pemeriksaan 3 f % f % f % Kadar Normal (80-144 mg/dl) Kadar Sedang (145-179 mg/dl) Kadar Buruk (>180 mg/dl) 1 7 66 1.4 9.5 89.2 1 13 60 1.4 17.6 81.1 13 22 39 17.6 49.7 52.7 Total Responden 74 100 74 100 74 100

Hasil penelitian menunjukkan lebih banyak pasien yang mempunyai nilai kadar gula darah 2 jam setelah makan yang buruk pada setiap pemeriksaan. Jumlah pasien dengan nilai kadar gula darah buruk juga terlihat mengalami penurunan pada pemeriksaan pertama sebanyak 66 pasien (89.2%) mengalami penurunan pada pemeriksaan ke-2 menjadi 60 pasien (81.1%) dan mengalami penurunan kembali pada pemeriksaan ke-3 menjadi 39 pasien (52.7%).

BAB V

PEMBAHASAN

A. Gambaran Karakteristik Demografi Pasien Diabetes

Karakteristik seseorang yang berbeda-beda dapat dilihat dari sisi demografi. Karakteristik demografi yang diteliti pada penelitian ini meliputi usia, jenis kelamin, dan status pendidikan.

1. Usia

Hasil penelitian menunjukkan pada kategori usia, lebih banyak pasien berusia antara 46-55 tahun. Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Zahtamal pada tahun 2007 juga didapatkan hasil lebih banyak ditemukan kasus DM pada usia di atas 45 tahun (88.61%) dan menyatakan terdapat hubungan yang bermakna antara umur dengan kejadian DM yaitu pada usia 45 tahun ke atas.37 Menurut Sudoyo, mereka dengan usia lebih dari 45 tahun adalah kelompok usia yang beresiko menderita DM. Usia merupakan salah satu faktor resiko seseorang dapat mengalami DM, karena semakin bertambahnya usia maka individu tersebut akan semakin mengalami penurunan fungsi tubuh (degeneratif) terutama gangguan organ pankreas dalam menghasilkan hormon insulin.4 Lebih lanjut dikatakan bahwa DM akan meningkat kasusnya sejalan dengan pertambahan usia sehingga pasien dengan usia lebih dari 45 tahun lebih sering datang ke fasilitas kesehatan.38

2. Jenis Kelamin

Pada kategori jenis kelamin, didapatkan data bahwa sebagian besar pasien berjenis kelamin perempuan. Dengan melihat hasil tersebut menunjukkan bahwa lebih banyak perempuan yang rutin melakukan kontrol kadar gula darah. Hal ini dikarenakan perempuan mempunyai kecenderungan sikap yang lebih patuh terhadap aturan daripada laki- laki. Patuh dalam hal ini adalah melakukan kontrol kadar gula darah secara rutin. Namun jenis kelamin atau gender tidak termasuk dalam faktor yang menyebabkan seseorang terkena DM.39 Penyebab banyaknya angka kejadian DM terjadi pada perempuan dikarenakan teradi penurunan hormon estrogen akibat menopause. Hormon estrogen dan progesteron merupakan hormon yang dapat mempengaruhi sel-sel untuk merespon insulin. Setelah perempuan mengalami menopause maka akan terjadi perubahan kadar hormon tersebut sehingga dapat memicu naik turunnya kadar gula dalam darah.40

3. Status Pendidikan

Pada kategori pendidikan lebih banyak pasien merupakan tamatan SMA. Namun di dalam penelitian ini masih ditemukan pula pasien yang tidak tamat SD. Pendidikan dapat mempengaruhi kemampuan pasien dalam memberikan penilaian, termasuk mengartikan mengenai pentingnya teratur dalam melakukan self care management (kontrol kadar gula darah).41 Semakin tinggi pendidikan pasien maka akan

dapat meningkatkan kepatuhan pasien dalam melakukan kontrol kadar gula darah secara teratur. Dalam penelitian ini, jumlah responden yang lulus SMA lebih banyak tidak teratur dalam melakukan kontrol kadar gula darah. Hal ini dapat dipengaruhi oleh bentuk pendidikan aktif yang kurang dilakukan misalnya kurang membaca buku atau kurang mendapatkan penyuluhan dari petugas kesehatan. Selain itu, terdapat faktor lain seperti faktor ekonomi dan lingkungan yang mendukung terbentuknya perilaku sehat yang dapat mempengaruhi penerimaan promosi kesehatan yang telah didapatkan. 37,42

B. Kontrol Kadar Gula Darah Pasien DM

Hasil penelitian ini memberikan gambaran secara umum bahwa kontrol kadar gula darah pasien DM di Poliklinik Penyakit Dalam RSJ Prof. Dr. Soerojo Magelang secara umum pelaksanaannya tidak teratur dilakukan. Dari hasil penelitian menunjukkan pasien tidak teratur melakukan kontrol kadar gula darah kadar puasa dan kontrol kadar gula darah 2 jam setelah makan serta tidak teratur melakukan kontrol kadar HbA1c. Menurut Mahendra dan Kemenkes RI menyebutkan bahwa kontrol kadar gula darah dikatakan teratur apabila dilakukan berkala minimal 3 bulan sekali yang meliputi pemeriksaan kadar gula puasa dan kadar gula darah 2 jam setelah makan atau hanya teratur melakukan pemeriksaan HbA1c saja.9, 29

Banyak faktor yang menyebabkan pasien tidak teratur dalam melakukan kontrol kadar gula darah, salah satunya menurut Safitri Inda tahun 2013 adalah faktor locus of control internal. Pengertian Locus of control internal merupakan sebuah penguatan diri pada pasien yang mengidentifikasikan bahwa individu percaya bahwa penyakit datang dari dirinya sendiri sehingga ia bertanggung jawab atas apa yang akan dialaminya. Jika tingkat locus of control internal pasien DM rendah, maka tingkat kesadaran untuk memperhatikan kesehatannya (melakukan kontrol kadar gula darah secara teratur) juga akan menurun. Penelitian sebelumnya menunjukkan sebesar 40% pasien yang kurang memperhatikan kesehatannya disebabkan oleh locus of control intenal.43

Selain itu terdapat faktor lain yang menyebabkan pasien tidak teratur dalam melakukan kontrol kadar gula darah. Menurut penelitian yang dilakukan di Korea pada tahun 2014 faktor yang mempengaruhi pasien DM tidak teratur melakukan kontrol kadar gula darah meliputi faktor ekonomi, jarak tempat tinggal dengan fasilitas kesehatan, dan dukungan keluarga. Tinggi rendahnya tingkat ekonomi dapat mempengaruhi pasien dalam meningkatkan self management. Hasil penelitian sebelumnya menyebutkan sebesar 70% pasien yang tidak mempunyai pekerjaan (pengangguran) lebih cenderung jarang melakukan kontrol kadar gula darah secara teratur. Jarak tempat tinggal dengan fasilitas kesehatan juga dapat mempengaruhi keteraturan kontrol yang dilakukan. Pasien yang mempunyai jarak yang lebih dekat dengan fasilitas

kesehatan akan lebih mudah mengakses pelayanan kesehatan. Selain itu, terdapat faktor dukungan keluarga yang mempengaruhi keteraturan pasien dalam melakukan kontrol kadar gula darah secara rutin. Hasil penelitian sebelumnya menyebutkan sebesar 89% pasien yang telah menikah memiliki dukungan keluarga yang lebih besar dalam meningkatkan keteraturan pasien dalam melakukan kontrol kadar gula darah.41

Dalam dokumen Skripsi Nita Rachmawati (Halaman 45-66)

Dokumen terkait