Calhoun and Acocella (terjemahan Satmoko, 1995:130) berpendapat bahwa kontrol diri adalah pengaruh seseorang terhadap fisik, perilaku dan proses-proses psikologisnya serta peraturan tentang fisik, perilaku dan proses-proses-proses-proses psikologisnya. Dengan kata lain, kontrol diri adalah sekelompok proses yang mengikat dirinya. Oleh karena itu, dalam aktivitas sehari-hari individu menggunakan kontrol dirinya dalam berperilaku. Hal ini selaras dengan Gangey (1981:117) yang berpendapat bahwa kontrol diri adalah kendali yang digunakan individu dalam mengarahkan perilakunya.
Analog dengan pendapat tersebut, Mischel (Pervin, 1984:410) berpendapat bahwa kontrol diri mengarah pada kekuatan individu untuk mengatur atau mengendalikan tindakannya, dengan kata lain menghadapi sesuatu dengan situasi
terkendali. Sukartini (2003:77) mendefinisikan kontrol diri sebagai upaya individu untuk mengatur diri dalam berpikir dan bertindak berdasarkan keyakinannya bahwa segala yang terjadi atas dirinya merupakan akibat tindakannya. Dengan kata lain, dalam kontrol diri terdapat usaha untuk dapat mengendalikan hal-hal yang terdapat dalam diri individu.
Berdasarkan definisi tersebut, kontrol diri merupakan kemampuan individu dalam mempengaruhi diri terhadap peristiwa-peristiwa yang dialami dan konsekuensi-konsekuensi yang diterima serta mengarahkan perilakunya dalam menghadapi situasi sebagai konsekuensi dari tindakannya.
Menurut Logue (1995:24) orang yang mampu mengendalikan diri adalah orang yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut : (a) memegang teguh tugas yang berulang meskipun berhadapan dengan berbagai gangguan; (b) mengubah perilakunya sendiri sesuai dengan norma yang ada; (c) tidak menunjuk perilaku yang dipengaruhi kemarahan; dan (d) bersikap toleran terhadap stimulus yang berlawanan.
Secara rinci, Sukartini (2003:77-78) mengidentifikasi beberapa aspek dari kontrol diri sebagai berikut.
a. Penguasaan situasi, yaitu kemampuan memikirkan cara-cara menguasai dan mengendalikan situasi sekitarnya yang berkaitan dengan peraturan.
b. Motivasi bertindak, yaitu kemampuan memilih tindakan untuk mengatasi masalah.
c. Kesediaan menerima risiko, yaitu kesanggupan menerima risiko atas tindakan yang dilakukan.
Kontrol diri akan terus berkembang sejalan dengan pertambahan usia. Anak-anak cenderung menunjukkan perilaku impulsif, dan remaja menunjukkan lebih mampu mengendalikan diri (Logue, 1995:15). Selanjutnya Logue mengemukakan bahwa individu mengendalikan dirinya berdasarkan prinsip-prinsip belajar. Pada perkembangan awal, perilaku anak dikendalikan oleh agen eksternal, seperti orang tua, kakak, guru, konselor, atau orang dewasa lainnya yang menetapkan standar penilaian dan menunjukkan akibat untuk setiap
penampilan perilaku. Standar akan berbeda untuk setiap perilaku. Hadiah (reward) ditunjukkan ketika anak mampu mencapai standar yang
ditetapkan, sedangkan hukuman (punishment) diberikan jika anak menyimpang dari standar yang ditetapkan.
Sejalan bertambahnya usia, individu belajar mengendalikan dirinya sendiri. Pola penguatan dan hukuman, berkembang setelah menerima berbagai dukungan. Menurut Bandura (Dahar, 1996:30-31) manusia mengamati perilakunya sendiri, mempertimbangkan (judge) perilaku itu terhadap kriteria yang disusunnya sendiri, kemudian memberikan penguatan berupa hadiah atau hukuman pada dirinya sendiri.
Teori belajar sosial mengungkapkan bahwa sebagian besar kriteria yang dimiliki individu untuk penampilan perilakunya dapat dipelajari dari model-model dalam dunia sosial individu yang bersangkutan. Respon-respon kognitif individu terhadap perilakunya mengarahkan individu untuk mengatur perilakunya sendiri.
Dengan memberi hadiah atau hukuman diri, individu dapat mengendalikan perilakunya secara positif.
Individu dapat menilai perilakunya sendiri dengan cara melihat bagaimana orang lain menilai perilakunya. Individu dapat belajar dari model dengan cara mengamati perilaku orang lain dan konsekuensi-konsekuensinya. Individu dalam menetapkan langkah-langkah untuk mencapai tujuan, dipengaruhi oleh dorongan naluriah, orang lain dan peristiwa-peristiwa masa lalu.
3. Depresi
Depresi yang dialami konseli adiksi obat berkaitan erat dengan keadaan emosi konseli yang bersangkutan. Dengan demikian, dalam membahas depresi pada konseli adiksi obat, terlebih dahulu dibahas tentang konsep emosi.
Emosi merupakan warna afektif yang menyertai setiap perilaku individu berupa perasaan-perasaan tertentu yang dialami pada saat menghadapi situasi tertentu. Kata ―emosi‖ berasal dari Bahasa Latin emovere yang artinya bergerak ke luar. Maksudnya setiap emosi adalah untuk menggerakkan mencapai rasa aman dan memenuhi kebutuhannya, serta menghindari sesuatu yang dapat merugikan dan menghambat pemenuhan kebutuhan (Surya, 2003 : 83).
Emosi merupakan suatu dorongan yang mempengaruhi dan mengarahkan perilaku seseorang dalam mencapai suatu tujuan. Karena itu, Darley et al. (1986 : 411) melihat emosi itu sebagai suatu keadaan yang bersifat internal dan sekaligus sebagai unit koheren dengan aspek psikologis lainnya. Apabila ditelusuri lebih
pengalaman seseorang sebagai subjek yang berbuat. Morris (1976 : 390) lebih menitikberatkan emosi sebagai pengalaman afektif yang amat kompleks dan mengekspresikan pola karakteristik perilaku.
Hubungan antara perilaku yang nampak dengan emosi dapat dikatakan bahwa individu akan sulit menafsirkan dinamika emosi individu lain apabila tidak mempelajari perilaku yang nampak dari individu yang bersangkutan. Konselor sudah semestinya mempelajari perilaku itu secara keseluruhan, karena emosi (Mednick et al. 1975 :112) bukan hanya suatu aktivitas yang merujuk kesadaran subjektif seseorang, melainkan juga menyangkut perubahan psikologis lainnya.
Lambie and Marcel (2002 : 219) dalam tulisannya yang berjudul
Counsciousness and the Varieties of Emotion Experience : A Theoretical Framework mengemukakan bahwa untuk mengklasifikasikan isi dan kealamiahan
pengalaman emosi individu diperlukan pemahaman tentang tiga aspek yang mempengaruhi emosi, yaitu mode (analytic-synthetic, detached-immersed),
direction (self-world), dan focus (evaluation-action). Berdasarkan hasil kajian
terhadap beberapa teori tentang emosi, akhirnya Mauro, Tucker & Sato (1992 : 301) menyimpulkan bahwa respon emosi sangat dipengaruhi oleh cara individu menilai kejadian yang dialaminya. Selama lebih dari satu abad, para peneliti mengikuti psikoevolusi (Darwin, 1872; Plutchik, 1980) dan model-model neuropsikologis (James, 1980; Pribram, 1980) yang membahas tentang penelitian
cross-cultural untuk mencari petunjuk tentang mekanisme dasar yang menjadi
rujukan dalam mempelajari emosi manusia. Penelitian tentang ekspresi wajah (Ekman, Freisen, & Ellesworth, 1972; Ekman et al., 1989) dan pengalaman
pribadi yang berkaitan dengan emosi (Osgood, May, & Miron, 1975; Russell, Lewicka, & Niit, 1989) menghasilkan bukti yang mengesankan tentang aspek umum emosi manusia. Lebih jauh, dikemukakan bahwa konseptualisasi paradigmatik dan pengaruh emosi manusia dalam kajian psikologi telah dilakukan oleh para pakar seperti James (1884, 1890, 1981), Cannon (1927), Arnold and Gasson (1954), Schachter and Singer (1962), Tomkins (1962, 1963), Mandler (1984), Frijda (1986), Oatley and Johnson-Laird (1987), dan Damasio (1994). Berikut rangkuman isi dari pengalaman emosi manusia.
Tabel 2.1
Isi dari Pengalaman Emosi Manusia
Ahli Teori Isi Pengalaman Emosi
James (1884) Pola perubahan bentuk tubuh (seperti sensasi dan kesadaran dari postur dan gerakan tubuh)
Cannon (1927); Oatley & Johnson-Laird (1987)
Pusat perasaan atau sifat fenomenologis (seperti perasaan yang dihasilkan dan diarahkan oleh otak dan bukan oleh sensasi tubuh) Arnold & Gasson (1954) Tindakan yang menekankan pada perasaan
Tomkins (1962); Izard (1977)
Ekspresi wajah seseorang atau timbal balik dari ekspresi wajah Schachter & Singer
(1962)
Tindakan otomatis umum yang dipadukan dengan atribusi penyebab emosi seseorang
Mandler (1984) Evaluasi kognisi Smith & Ellsworth
(1985)
Penilaian kognitif tentang seperangkat dimensi lingkungan yang bervariasi
Frijda (1986) Pada prinsipnya merupakan kesiapan tindakan dan struktur situasi yang bermakna, senang atau sakit secara signifikan
Damsio (1994) Perubahan tubuh yang disebabkan oleh emosi ditambah dengan perubahan dalam mode berpikir (mode of thinking)
Sumber : Lambie, J.A, Marcel A.J. (2002). Consciousness and the Varieties of Emotion Experience : A Theoretical Framework. Psychological Review, Vol. 109, No. 2, pp. 219-259.
amok yang ditemukan di beberapa masyarakat Asia Tenggara (Murphy, 1973) dan
pernyataan to nu (Henry, 1936) yang tidak memiliki padanan kata dengan bahasa yang digunakan di negara-negara Barat. Menurut beberapa teori konstruktivisme sosial (Averill, 1980; Lutz, 1988), emosi tidak dapat didefinisikan tanpa merujuk pada konteks sosial.
Teori umum tentang emosi harus dapat menjelaskan aspek budaya secara umum dan khusus tentang emosi manusia. Teori-teori kognitif tentang emosi menawarkan sebuah pendekatan untuk menyelesaikan permasalahan ini. Teori-teori kognitif awal yang berkaitan dengan emosi (Schachter & Singer, 1962) menyatakan bahwa emosi adalah kesadaran atau kognisi yang diiringi dengan kebangkitan psikologis. Teori-teori kognitif terbaru tentang emosi (Roseman, 1984; Scherer, 1984; Smith & Ellsworth, 1985) menyatakan bahwa kebangkitan psikologis tidak terbentuk dalam satu dimensi, tetapi menganggap penting peranan kognisi dalam emosi. Menurut teori-teori ini, penilaian-penilaian terhadap lingkungan adalah komponen penting dari respon emosi.
Beberapa pakar teori emosi (Roseman, 1984; Scherer, 1984; Smith & Ellsworth, 1985) menyatakan adanya keberadaan dimensi penilaian universal
yang penting untuk menentukan emosi apa yang akan dialami seseorang sebagai respon terhadap suatu kejadian yang dialaminya.
Alur pemikiran yang mempersoalkan tentang emosi itu memberi gambaran bahwa esensi dari emosi akan melahirkan tiga hal. Pertama, emosi itu berkaitan dengan peristiwa yang dialami individu. Kedua, mempelajari emosi berarti harus mempelajari sederetan pengalamannya. Ketiga, emosi menyangkut reaksi fisik
dan perubahan psikologis. Para pakar teori emosi mengemukakan secara beragam tentang emosi dasar yang terdapat pada manusia. Deskripsi singkat dari emosi dasar manusia disajikan pada tabel 2.2
Tabel 2.2
Daftar Emosi Dasar Manusia
Referensi Pakar Emosi Fundamental Dasar Kekhususan
Arnold (1960) Marah, aversi, berani, kesal, hasrat, putus asa, takut, benci, harapan, cinta, sedih
Berkaitan dengan penekanan tindakan
Ekman, Friesen & Ellsworth (1982)
Marah, jijik, takut, senang, sedih, kaget
Ekspresi wajah universal Frijda (komunikasi pribadi,
8 September 1986)
Hasrat, senang, berminat, kaget, kekuatan, dan penderitaan
Bentuk dari kesiapan tindakan
Gray (1884) Gusar, teror, cemas, dan senang
- Izard (1971) Marah, jijik, hina, distress,
takut, perasaan bersalah, berminat, senang, malu, dan kaget
-
James (1884) Takut, gagal, cinta, gusar Gerakan tubuh McDougall (1926) Marah, gembira, gusar, takut,
subjektif, emosional, berani
Berkaitan dengan instink Mowrer (1960) Sakit, senang Penetapan emosi yang tidak
dipelajari Oatley & Johnson-Laird
(1987)
Marah, jijik, cemas, senang, sedih
Tidak membutuhkan isi proposisi
Panksepp (1982) Harapan, takut, gusar, dan panik
- Plutchik (1980) Penerimaan, marah, antisipasi,
jijik, senang, takut, sedih, dan kaget
Berkaitan dengan proses adaptasi biologis
Tomkins (1984) Marah, berminat, hina, distress, takut, senang, malu, kaget
Marah yang membara
Watson (1930) Takut, cinta, gusar -
Weiner & Graham (1984) Bahagia, sedih Atribusi independen
Emosi dasar sangat diperlukan oleh individu untuk memperoleh kelestarian hidup karena emosi berkontribusi terhadap kestabilan seluruh kehidupannya. Apabila emosi berfungsi secara sempurna, maka emosi akan menimbulkan gerakan dan arahan. Proses emosi memiliki empat kemungkinan, yaitu : (a) orang dapat menekan emosinya sehingga tidak ada gerakan dan arah tindakannya; (b) orang tidak memiliki kemampuan yang memadai untuk mengendalikan gerakan dan arah tindakannya; (c) orang digerakkan oleh emosi tetapi tidak memiliki arah; dan (d) orang digerakkan oleh emosi tetapi dengan arah yang salah (Surya, 2003 : 84).
Menelusuri lebih jauh tentang teori kognitif dan Jukebox (Schacter and Singer dalam Darley, 1986 : 420) dalam kaitannya dengan para konseli adiksi tertentu terhadap perjalanan dan dinamika emosi diri, bersamaan dengan perubahan fisiologis dan fisik yang bersangkutan. Hasil penelitian dan eksperimennya berpusat sekitar penjaringan efek obat terhadap perubahan pikiran, perasaan, persepsi penglihatan dan perubahan-perubahan fisiologis. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa konseli adiksi cenderung menggunakan obat karena baginya mendatangkan kesenangan, kecintaan dan afeksi. Konseli cenderung ingin menghapus masa lampau dan mendapatkan sesuatu yang baru dengan cara menarik sesuatu (obat) yang ada di luar diri mereka dengan maksud untuk mengubah pikirannya.
Perubahan fisik, fisiologis, dan psikologis yang disebabkan oleh obat dipandang oleh Dyer and Vriend (1977 : 46) sebagai keadaan depresi yang tidak
akan mengubah sifat pikiran dan perasaan, tetapi mengekalkan reaksi fisik dan meningkatkan intensitasnya. Sementara itu, Dyer and Vriend tidak membedakan bagaimana keadaan emosi itu datang, apakah karena proses berpikir internal/eksternal. Mereka menegaskan bahwa pikiran yang menyebabkan emosi dan pengalaman semacam itu dirasakan dalam diri individu.
Bagi para konselor dan para praktisi konseling dapat diperoleh suatu gambaran bahwa apabila mereka dapat membantu konselinya (dengan berhasil) dalam memperbaiki pikiran-pikiran atau mengganti muatan pikiran dengan muatan-muatan baru, maka konselor dapat menolong konselinya untuk memiliki keadaan emosional yang mantap. Sejalan dengan pemikiran itu, secepat konselor dapat membaca data psikologis konselinya, maka ia dapat membantu konselinya untuk (a) membuat jalinan hubungan dengan pikiran-pikiran yang tidak logis atau neurotik yang menghasilkan gerakan somatic, (b) mendapatkan wawasan atau pemahaman tentang sistem pemeliharaan psikologis yang berpengaruh terhadap pikiran dan keadaan reaktif, (c) memeriksa dan mengevaluasi secara kritis dan mendasar atas pikiran-pikirannya, dan (d) sampai pada komitmen, agar memulai kerja mengubah perilaku mentalnya.
Proses konseling terhadap konseli adiksi obat (Dyer and Vriend, 1977: 47) sering terhambat oleh kegagalan konselor dan konseli saat menentukan dan membedakan emosi, sensasi, dan agen eksternal yang dikenakan pada badan serta memiliki potensi untuk merusak pikiran. Alur pemikiran seperti itu memberi arah
bahwa di samping mempelajari emosi dalam kaitannya dengan orientasi berpikir, perlu dikaji pula tentang sensasi.
Kelima indera mengumpulkan data untuk diberikan kepada pikiran, sehingga pikiran dapat bekerja untuk mengemudikan keberadaanya secara keseluruhan di dalam segala realitas kehidupan. Proses itu oleh Morris (1976: 278) dipandang sebagai proses sensori yang sebenarnya merupakan hakikat dari sensasi.
Sensasi terjadi akibat adanya energi, baik dari luar maupun dari dalam (badannya sendiri yang menjadi perangsang bagi receptor yang terdapat pada organ indera tertentu kemudian memuncukan impuls-impuls neural yang disebut proses tranduction. Untuk memberi arti terhadap suatu jenis stimulus, data dikirim ke susunan syaraf pusat, diolah, diberi makna dan kode prosesnya yang disebut
coded (Uttal dalam Morris, 1976: 278). Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa
sensasi merupakan suatu proses sensoris yang melihat kepedulian hubungan antara stimulis dengan pemaknaan dan pengkodean data.
Sensasi terjadi secara unik pada setiap individu, ada yang menyenangkan dan ada pula yang tidak menyenangkan. Stimulus yang sama mungkin sekali akan dipersepsi berbeda oleh dua orang manusia, hal ini dilatarbelakangi oleh konteks stimulus. Stimulus tertentu bagi seseorang mungkin tidak menyenangkan. Pikiranlah yang menentukan kapan sesuatu itu menyenangkan dan tidak menyenangkan (Dyer and Vriend, 1977: 48).
Aktivitas dalam diri (konseli), terutama yang diakibatkan oleh agen eksternal, secara fisik mengganggu otak dan mempengaruhi fungsinya. Keadaan seperti ini menghambat konselor dan konseli dalam konseling. Pengetahuan tentang pengaruh obat terhadap otak bagi seorang konselor itu penting, dalam rangka menjadikan konseli ke arah pemaknaan diri (self-enhancing) dan menghilangkan perilaku yang merusak diri (self-defeating behavior).
Selanjutnya, salah satu dampak dari adiksi obat terhadap suasana emosi adalah terjadinya depresi. Depresi dapat dipandang sebagai gangguan dinamika psikis seseorang. Gangguan itu menurut Eni (1991 : 2) merupakan gangguan alam perasaan (emosi) yang ditandai kemurungan dan kesedihan mendalam, berkepanjangan, dan relatif konstan. Mereka merasa sedih, bersalah, kehilangan harga diri, menurunnya semangat dan adanya keinginan untuk bunuh diri (Sarason, 1972: 273).
Salan (1991:10) memperkenalkan kriteria untuk melihat dan mempertimbangkan derajat kedepresian, yaitu : (a) intensitas dan lama gejala; dan (b) kualitas gejala. Oleh karena itu, Beck, Zung and Hamilton (Salan, 1991:10) mengembangkan rating scales, inventori untuk mengkualifikasikan gejala dan skor ke-depresi-an. Mereka berhasrat untuk menciptakan semacam ‖termometer‖ dalam mempelajari depresi. Menurut mereka adanya halusinasi, penurunan berat badan, adanya pikiran-pikiran tentang bunuh diri dapat menjadi indikasi bahwa garis normal telah dilampaui.
psikologis tertentu terhadap persepsi, daya ingat, keadaan emosi, fungsi psikomotorik dan proses kognitif; beberapa jenis obat memiliki kapasitas yang dapat menyebabkan kerusakan yang sulit diubah pada proses sensoris. Ia juga menjelaskan bahwa hampir semua obat psikoaktif menyebabkan konseli menjadi pusing, delusi dan halusinasi, panik, hilang kendali, memandang bahaya terhadap dirinya dan orang lain, menyerang orang lain dan berupaya melukai dirinya sebagai akibat dari pengaruh obat. Perilaku konseli adiksi tampil dan memberikan karakteristik tersendiri. Morris (1976: 504) mendeteksi karakteristik depresi itu dengan mengemukakan ciri-cirinya, yaitu bila yang bersangkutan merasa sedih, tidak berharga, malas merasa dibiarkan dan mengalami kekacauan perilaku. Mungkin ia ingin berkomunikasi dengan temannya (yang normal) tetapi ia amat merasa bersalah dan ragu diri.
Menurut BNN RI (2007a : 119) karakteristik konseli adiksi obat yang mengalami depresi terlihat dari gejala-gejala perubahan perilaku, sebagai berikut : (a) sering merasa cemas, sedih, atau berpikiran kosong; (b) kehilangan minat pada aktivitas yang digemarinya; (c) mudah capek; (d) sulit berkonsentrasi; (e) suka bengong atau murung; (f) malas; (g) perubahan pola tidur (sulit tidur atau ingin tidur terus); (h) gelisah; (i) mudah marah; (j) perubahan nafsu makan (bisa jadi semakin banyak makan atau tidak mempunyai nafsu makan); (k) merasa tidak berdaya; (l) terpikir untuk mengakhiri hidup; (m) terlalu bersemangat dan ceria, berbeda dari biasanya; (n) menjadi sangat aktif, cerewet dan berbagai pikiran melintas cepat (atau seperti mendengar suara-suara bisikan aneh); (o) merasa tidak
perlu tidur; (p) berperilaku aneh dan berani melakukan hal-hal berbahaya; dan (q) tidak merasa mempunyai masalah.
Darley (1986; 577) memberi gambaran tentang karakteristik konseli yang mengalami depresi, yaitu mencela dan menyalahkan diri sendiri, mendapat gangguan tidur, berkurangnya aktivitas, rangsangan seksnya rendah, menghindari kontak sosial, berpikir untuk bunuh diri, hati nuraninya menghukum, dan tidak ada yang dapat dikerjakan dengan baik.
Dalam penelitian ini, konstruk depresi yang digunakan adalah dengan cara memodifikasi konstruk teori depresi dari Maslow and Mittleman (Crow and Crow, 1960 : 129-131) yang dimensi-dimensinya dapat diperiksa pada bagan 2.1 berikut.
Bagan 2.1
Dimensi-dimensi Depresi
(Maslow and Mittlemann dalam Hafid, 1997 : 50) Maslow and Mittemann 1. Perubahan Emosi 2. Penurunan Aktivitas 3. Terhambatnya Proses berpikir 4. Delusi 5. Halusinasi 6. Gejala-gejala gangguan tubuh Dimensi-dimensi Depresi Maslow and Mittleman