• Tidak ada hasil yang ditemukan

a. Definisi Pengarahan Diri

Sejarah Pembelajaran Pengarahan Diri (Self-Directed Learning [SDL]) sudah berkembang sejak zaman klasik. Contohnya, belajar sendiri (self-study) telah menjadi bagian penting dalam kehidupan para ahli filsafat Yunani Kuno seperti Socrates, Plato, dan Aristoteles. Contoh-contoh historis lain tentang SDL adalah Alexander the Great, Julius Caesar, Erasmus, dan Descartes. Selain itu, dipengaruhi juga oleh kondisi sosial di koloni Amerika dan kurangnya lembaga pendidikan formal mengharuskan setiap orang untuk belajar sendiri.

Sejak tiga dekade terakhir, SDL menjadi bidang penelitian utama. Peletak dasarnya adalah Houle (1961) dari University of Chicago, Illinois. Ia mewawancarai 22 pelajar orang dewasa dan menggolongkan mereka ke dalam tiga kategori berdasarkan pada pertimbangan keikutsertaan di dalam belajar, yaitu: (1) berorientasi tujuan, yakni orang dewasa yang berpartisipasi dalam belajar untuk mencapai beberapa tujuan akhir; (2) berorientasi aktivitas, yakni orang dewasa yang berpartisipasi dalam belajar dengan pertimbangan sosial atau beasiswa; (3) berorientasi belajar, yakni orang dewasa yang merasa sebagai seorang terpelajar. Belakangan kelompok-kelompok orientasi pelajar orang dewasa ini diidentifikasi dalam beberapa penelitian selanjutnya.

Upaya pertama untuk memahami secara lebih baik orientasi belajar individu dilakukan oleh Tough, seorang peneliti dari Kanada dan salah seorang kandidat doktor dari Houle. Di dalam disertasinya ia menganalisis aktivitas-aktivitas pengajaran pengarahan diri dan penelitian berikutnya menghasilkan sebuah buku yang diberi judul The Adult Learning Projects (1979). Pekerjaan ini menstimulasi banyak penelitian yang sama dengan populasi yang beragam dari lokasi yang beragam pula.

Pada periode yang sama, melalui beasiswa individual paralel, Knowles mempopulerkan istilah Andragogy di Amerika Utara melalui proses pengajaran orang dewasa. Pada tahun 1975, Knowles mempublikasikan Self-Directed

Learning, dengan definisi-definisi dan asumsi-asumsi dasar penelitian berikut :

(1) manusia berkembang dalam kapasitas dan kebutuhan untuk mengarahkan diri; (2) pengalaman-pengalaman individu (pelajar) merupakan sumber yang kaya untuk belajar; (3) individu mempelajari sesuatu yang diperlukannya untuk melaksanakan tugas-tugas perkembangan sepanjang rentang kehidupannya; (4) orientasi alamiah orang dewasa berpusat pada tugas-tugas atau masalah-masalah kehidupan; (5) pelajar pengarahan diri dimotivasi oleh berbagai insentif internal, seperti kebutuhan akan harga diri, keingintahuan yang besar (curiosity), keinginan untuk berprestasi (desire to achieve), dan kepuasan pemenuhan diri.

Kelima asumsi-asumsi dasar SDL tersebut kemudian dijabarkan lagi menjadi 11 asumsi berikut.

1) Pendidikan harus menghasilkan kecakapan pengarahan diri dan pembelajar sepanjang hayat, tetapi di sisi lain kadang-kadang hal tersebut menciptakan ketergantungan.

2) Banyak cara melakukan konseling dan belajar secara efektif, di antaranya melalui SDL.

3) Kemampuan pengarahan diri bersifat situasional, artinya orang dapat mengarahkan diri untuk suatu objek, tetapi dapat juga tergantung pada orang atau objek lain.

4) Tidak ada salahnya menjadi individu yang tergantung pada orang lain, yakni ketika individu itu membutuhkan bimbingan.

5) Kecakapan pengarahan diri dapat dipelajari dan diajarkan. Kecakapan pengarahan diri dapat dikembangkan melalui pembelajaran, dan penataan lingkungan yang kondusif. Terdapat empat konsep yang terkait dengan pengembangan kecakapan pengarahan diri, yaitu : (a) menempatkan perilaku sebagai fokus analisis, (b) kecakapan tersebut diperoleh melalui proses belajar, (c) menekankan penguatan positif dalam belajar, dan (d) lebih efektif apabila pengembangan kecakapan pengarahan diri dirancang untuk terjadinya pengalaman belajar baru.

6) Pengarahan diri merupakan suatu model bukan hukum, dalam arti sebagai alat untuk menggali potensi diri.

8) Pengalaman-pengalaman individu merupakan sumber yang kaya untuk belajar.

9) Individu mempelajari sesuatu yang diperlukannya untuk melaksanakan tugas-tugas perkembangan sepanjang rentang kehidupannya.

10) Orientasi alamiah orang dewasa berpusat pada tugas-tugas atau masalah-masalah kehidupan.

11) Pelajar pengarahan diri dimotivasi oleh berbagai insentif internal, seperti kebutuhan akan harga diri, keingintahuan yang besar, keinginan untuk berprestasi, dan kepuasan pemenuhan diri.

Penelitian penting lainnya terdapat dalam disertasi Guglielmino (1977). Dia mengembangkan the Self-Directed Learning Readiness Scale (SDLRS) sebagai sebuah instrumen yang digunakan oleh banyak peneliti untuk mengukur kesiapan pengarahan diri atau membandingkan berbagai karakteristik aspek SDL. Spear dan Mocker‘s (1984) yang bekerja dalam mengatur sebuah organisasi menunjukkan pentingnya memahami pengaturan lingkungan pelajar dalam mempromosikan SDL.

Simposium internasional SDL (International Symposium on Self-Directed

Learning) ditetapkan setiap tahun sejak tahun 1987 oleh Long dan koleganya

untuk melengkapi sejarah perkembangan SDL. Simposium ini telah menghasilkan banyak publikasi, proyek penelitian, dan pengembangan teori oleh para peneliti di seluruh dunia.

Seiring dengan perkembangan ide-ide baru, Self-Direction Learning (SDL) telah menciptakan kebingungan baru terutama dengan bermunculannya konsep-konsep yang mirip. Contohnya, self-directed learning, self-planned

learning, learning projects, self-educated, self-teaching, autonomous learning, autodidaxy, independent study, dan open learning. Istilah-istilah ini memiliki

perbedaan dengan SDL. Berikut ini penjelasan beberapa istilah yang dimaksud. Pengarahan diri memiliki makna sebagai kekuatan yang memberi arah kepada individu dalam mencapai tujuan, serta bertanggung jawab terhadap konsekuensi atas pilihan dan perilakunya. Individu yang memiliki kemampuan mengarahkan diri akan menjalani kehidupan secara efektif dan dapat menghindari situasi yang mengganggu dalam meraih tujuan, sehingga ia dapat mencapai perkembangan optimal.

Pengarahan diri tidak hanya tampak pada penentuan rencana dan sasaran aktivitas individu, melainkan tergambar pada upaya individu untuk menemukan berbagai alternatif dalam mencapai tujuan. Pengarahan diri merupakan upaya individu untuk melakukan perencanaan, pemusatan kekuatan, dan evaluasi terhadap serangkaian aktivitas yang dilakukannya. Selain itu, pengarahan diri merujuk pada upaya individu untuk memelihara kemampuan yang telah dimiliki dan senantiasa berupaya meningkatkan kualitas proses belajar (Klopfenstein, 2003:27).

Knowles (2005:18) mendefinisikan pengarahan diri sebagai upaya yang dilakukan individu dalam mengambil inisiatif tanpa menggantungkan pada

merencanakan dan memilih strategi untuk mencapai tujuan, mengidentifikasi pihak-pihak dan fasilitas yang dapat dijadikan sumber untuk mencapai tujuan, memilih dan mengimplementasikan strategi belajar yang sesuai, dan kemampuan mengevaluasi hasil belajar.

Knowles (2005 : 21) menjelaskan tiga alasan tentang pentingnya pengarahan diri. Pertama, individu yang memiliki inisiatif, akan belajar lebih efektif dibandingkan dengan individu yang pasif dan banyak menggantungkan pembelajaran pada instruksi konselor . Kedua, pengarahan diri merupakan proses alami dalam mengembangkan aspek-aspek psikologis konseli, khususnya dalam meningkatkan kemampuan tanggung jawab pribadi dalam kehidupan. Ketiga, sebagai proses pencegahan, pengarahan diri membantu individu mengatasi permasalahan kecemasan, frustrasi, kegagalan dalam belajar dan menjalin hubungan yang harmonis dengan konselor .

Lebih lanjut Jones et al. (Knowles, 2005 : 21) menggambarkan bahwa karakteristik individu yang memiliki kecakapan pengarahan diri akan termanifestasikan dalam sikap bertanggung jawab terhadap aktivitas belajar, mampu melakukan pengelolaan diri, dan memiliki kesiapan dalam menghadapi perubahan lingkungan.

Brookfield (1985:18) menjelaskan bahwa pengarahan diri merujuk pada upaya individu untuk selalu memelihara hasil yang telah dicapai dan berusaha untuk lebih meningkatkan kualitas proses belajar. Lebih lanjut Candy (Klopfenstein, 2003:48) mengemukakan bahwa dalam mengeksplorasi pengarahan diri menyangkut indikator berikut, yaitu : (1) kemandirian pribadi

(otonomi pribadi); (2) kesadaran dan kapasitas untuk belajar; (3) pengorganisasian pengajaran dalam adegan formal (kontrol diri) dan;

(4) kemampuan individu untuk belajar di luar adegan formal (otodidak).

Knowles (2003 : 27) menjelaskan tentang indikator individu yang kecakapan pengarahan dirinya berkembang yaitu memiliki : (1) tujuan yang jelas; (2) visi belajar yakni kemauan untuk senantiasa mengubah diri ke arah yang lebih maju; (3) dasar-dasar belajar seperti dorongan dan keterampilan untuk mengetahui, memahami, dan melakukan yang terbaik; serta (4) memiliki konsep diri yang meliputi kesadaran diri, kontrol emosional, dan kontrol perilaku sosial.

Menurut Watson dan Tharp (Knowles, 2003 : 15) aspek-aspek yang terkait dengan pengarahan diri individu meliputi : (1) menempatkan perilaku sebagai fokus analisis; (2) menerapkan hukum belajar; (3) menekankan penguatan positif; (4) program peningkatan kecakapan pengarahan diri akan efektif apabila dirancang bagi terjadinya pengalaman belajar baru pada situasi kehidupan nyata; dan (5) sebaiknya setiap individu mendesain program pengarahan dirinya sendiri.

Berdasarkan uraian tersebut, pengarahan diri merupakan pemusatan kekuatan psikologis individu melalui pengkonsentrasian potensi-potensi pribadi yang dimilikinya dalam proses pencapaian tujuan-tujuan yang ingin diraih. Kecakapan pengarahan diri merupakan kemampuan individu untuk memiliki inisiatif dan kemandirian dalam memilih tindakan yang bertanggung jawab atas pilihan-pilihan yang diambilnya.

b. Struktur Pengarahan Diri

Maryland Development Disabilities Council (2005 : 1) mengemukakan

bahwa pengarahan diri adalah kemampuan individu untuk membuat dan mengimplementasikan rencana hidup (life planning). Aspek-aspek pengarahan diri terdiri dari lima dimensi berikut.

1) Kebebasan (freedom), yakni kemampuan mengambil keputusan dalam membuat rencana hidup oleh dan untuk diri sendiri. Sedikitnya ada lima ciri individu yang memiliki kemampuan ini, yakni ia mampu menjawab dengan respon yang tepat atas pertanyaan berikut : (a) bagaimana dan dimana bekerja, belajar, dan menjalani kehidupan?; (b) apa pilihan hidup yang diinginkan?; (c) bagaimana memberikan sesuatu yang berarti bagi diri sendiri dan lingkungan?; (d) pelayanan atau dorongan apa untuk menjalani kehidupan yang lebih baik?; dan (e) dengan siapa sebaiknya menghabiskan waktu dalam hidup?

2) Otoritas (authority), yakni kemampuan mengontrol rencana hidup mencakup hal-hal berikut : (a) mampu menentukan rencana hidup; (b) mampu membuat keputusan; dan (c) mampu memilih tindakan yang lebih bermakna.

3) Dorongan (support), yakni kemampuan untuk mengorganisasikan dorongan psikologis serta memunculkan kekhasan diri dalam membuat dan mengimplementasikan rencana hidup. Aspek ini terdiri atas indikator-indikator berikut : (a) memiliki dorongan untuk memelihara diri sendiri; (b) memiliki dorongan untuk aktif di lingkungan tempat tinggal; dan (c) memiliki dorongan untuk menemukan karir (pekerjaan).

4) Tanggung jawab (responsibility), yaitu merasa berkewajiban untuk memanfaatkan kepercayaan orang lain dan berkontribusi terhadap lingkungan dalam membuat dan mengimplementasikan rencana hidup. Individu yang memiliki tanggung jawab memiliki karakteristik berikut : (a) menentukan pilihan; (b) mematuhi hukum dan nilai-nilai; (c) berpartisipasi dalam lingkungan kehidupan; dan (d) berupaya mengembangkan hubungan positif dengan teman, keluarga, dan tetangga.

5) Kontrol diri (self-control), yakni kemampuan mengendalikan diri dalam membuat dan mengimplementasikan rencana hidup. Individu yang memiliki kendali diri yang tinggi memiliki karakteristik berikut : (a) memiliki kesadaran diri; (b) mampu mengelola diri; dan (c) memiliki komitmen terhadap rencana hidup.

c. Perkembangan Pengarahan Diri

Kecakapan pengarahan diri individu terbentuk sesuai dengan tahapan-tahapan perkembangan yang dijalaninya. Grow (1996) yang terinspirasi oleh Model Kepemimpinan Situasional dari Paulus Hersey dan Kenneth Blanchard menyusun empat tahap model pembelajaran pengarahan diri. Empat tahap model pembelajaran ini berkaitan dengan tahap pengarahan diri individu dan mempersiapkan individu untuk mencapai tahap yang lebih tinggi lagi. Secara lebih jelas tentang keempat tahap model pembelajaran pengarahan diri disajikan pada tabel 2.5

Tabel 2.5

Tahap Model Perkembangan Pembelajaran Pengarahan Diri

Tahap Individu Konselor Contoh

Tahap 1 Tergantung Otoritas, Pelatih Melatih dengan umpan balik yang bersifat segera. Pemberian informasi melalui ceramah. Tujuannya untuk menanggulangi defisiensi dan resistensi

Tahap 2 Berminat Motivator, Membimbing

Kegiatan inspiratif yang ditunjang dengan diskusi terbimbing, setting tujuan, dan strategi belajar

Tahap 3 Terlibat Fasilitator Diskusi fasilitatif, konselor berperan sama seperti individu sebagai partisipan, berbentuk seminar, dan proyek kelompok

Tahap 4 Pengarahan diri Konsultan, Delegator Praktik kerja, karya ilmiah, tugas individual, kajian mandiri, atau kelompok

Dokumen terkait