• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pelaksanaan Tugas Pokok dan Wewenang Bank Indonesia

3.1. Stabilitas Moneter

3.1.3. Koordinasi dengan Pemerintah

Bank Indonesia senantiasa memperkuat koordinasi dengan pemerintah baik di tingkat pusat maupun daerah dalam rangka pengendalian inflasi. Koordinasi tersebut dilakukan melalui Tim Pengendalian Inflasi (TPI) dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID). Selama triwulan III-2014, koordinasi pengendalian inflasi dalam forum TPI difokuskan pada kegiatan penyusunan rekomendasi terkait (i) kebijakan stabilisasi harga pangan dan (ii) kebijakan energi yang merupakan program kerja tahun 2014.

Rekomendasi kebijakan pangan disusun dalam rangka meningkatkan efektivitas kebijakan stabilisasi harga pangan. Kajian ini juga bertujuan untuk memberikan masukan kepada

Memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan otoritas terkait dalam pengendalian inflasi, percepatan pembangunan infrastruktur dan stabilitas sistem keuangan.

BOKS

Berdasarkan kesepakatan tersebut, Tim Teknis menyusun Pedoman Penyusunan SOP Kegiatan Lindung Nilai yang dinilai telah lengkap dan disetujui oleh auditor dan penegak hukum. Selanjutnya, pada tanggal 17 Oktober 2014 Kementerian BUMN mengeluarkan Surat Menteri Negara BUMN No. S-687/MBU/10/2014 yang ditujukan kepada Direktur Utama seluruh BUMN. Surat tersebut disampaikan bersamaan dengan Pedoman Penyusunan SOP Kegiatan Lindung Nilai agar dapat menjadi acuan bagi BUMN dalam menyusun SOP internal. Pedoman tersebut memuat antara lain:

a. Struktur Organisasi, Tugas dan Kewenangan Perangkat Kegiatan Lindung Nilai yang mengatur kewenangan dan tanggung jawab, organ dan fungsi organisasi di BUMN yang akan menangani kegiatan lindung nilai;

b. Tahapan kegiatan lindung nilai yang meliputi tahap persiapan transaksi, tahap pelaksanaan transaksi dan tahap monitoring transaksi hingga penyelesaian transaksi, termasuk dokumentasi.

Selanjutnya, untuk meningkatkan pemahaman seluruh aparat/anggota di masing-masing institusi, sosialisasi dan internalisasi akan dilakukan secara intensif di masing-masing lembaga terkait. Tidak berhenti sampai di sini, Bank Indonesia bersama-sama lembaga terkait akan terus berkoordinasi untuk mendorong pelaksanaan transaksi lindung nilai baik oleh BUMN, Kementerian, Lembaga Negara lainnya, hingga pelaku usaha non BUMN yang memiliki eksposur yang cukup besar terhadap nilai tukar.

Untuk mendukung hal tersebut, pada 17 September 2014 Bank Indonesia kembali melakukan penyesuaian ketentuan transaksi valas untuk mempermudah pelaku pasar dalam melakukan lindung nilai. Penyesuaian tersebut mencakup antara lain: memperbolehkan pelaku usaha untuk melakukan lindung nilai atas pendapatan investasi yang belum dapat dipastikan jumlah dan waktu penerimaannya (future

income), perluasan underlying transaksi, memperbolehkan dokumen underlying

yang bersifat perkiraan, dan memperbolehkan setelmen transaksi secara netting untuk perpanjangan (rollover), percepatan penyelesaian (early termination), dan pengakhiran transaksi (unwind). Selain itu, Bank Indonesia juga memperluas

underlying transaksi swap lindung nilai bank kepada Bank Indonesia sebagai

langkah dalam meningkatkan kapasitas perbankan dalam menyediakan instrumen lindung nilai bagi nasabah.

pemerintah yang tengah merumuskan tindak lanjut Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan. Fokus kajian mencakup (i) usulan kelembagaan, baik regulator maupun operator yang sejalan dengan Undang-Undang, (ii) jenis komoditas pangan yang memerlukan keterlibatan pemerintah, (iii) instrumen stabilisasi, serta (iv) sumber pembiayaannya. Hasil kajian direncanakan akan disampaikan dalam High Level Meeting (HLM) TPI dan Kelompok Kerja Nasional (Pokjanas) TPID di akhir tahun 2014.

Sementara itu, rekomendasi kebijakan energi disusun sebagai masukan kepada pemerintah terkait simulasi pengurangan subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) terhadap sejumlah variabel makro ekonomi penting yakni Produk Domestik Bruto (PDB), inflasi, neraca perdagangan, fiskal, dan pengangguran. Kajian ini juga memberikan masukan kepada pemerintah mengenai langkah-langkah untuk meminimalkan dampak pengurangan subsidi BBM terhadap inflasi dan kemiskinan. Selain itu, kajian ini juga menyampaikan risiko tekanan inflasi tahun 2015 yang bersumber dari kebijakan energi (fixed subsidy, tarif tenaga listrik dan Liquefied Petroleum Gas/LPG). Hasil kajian ini juga direncanakan akan disampaikan dalam HLM TPI dan Pokjanas TPID di akhir tahun 2014.

Guna lebih mengefektifkan program kerja yang diimplementasikan di seluruh TPID, Bank Indonesia berkoordinasi dengan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian dan Kementerian Dalam Negeri dalam Pokjanas TPID. Hingga triwulan III-2014, perkembangan jumlah TPID semakin meningkat hingga telah mencapai jumlah 327 TPID.

Pada triwulan III-2014, koordinasi pengendalian inflasi dengan Pemerintah Daerah melalui forum TPID difokuskan pada pengembangan kerjasama antara daerah. Koordinasi dilakukan melalui kegiatan Rapat Koordinasi Pusat-Daerah TPID Kawasan Sumatera dan Jawa pada 26 Agustus 2014, serta pada 18 September 2014 untuk TPID di Kawasan Timur Indonesia. Beberapa kesepakatan penting jangka pendek yang dihasilkan dari Rapat Koordinasi Pusat Daerah TPID tantara lain perlunya Pemerintah Daerah dan TPID untuk segera melengkapi data/informasi tentang potensi dan kebutuhan komoditas pokok (data surplus-defisit bahan kebutuhan pokok) sebagai dasar untuk melakukan inisiatif penjajakan dan penguatan kerjasama perdagangan antara daerah. Untuk mendukung hal ini, Pokjanas TPID saat ini sedang menyusun panduan ringkas kerjasama antar daerah dan memfasilitasi pembahasan dalam rangka mencari solusi atas permasalahan kerjasama antar daerah. Sejalan dengan pelaksanaan Rakor Pusat Daerah TPID dalam triwulan III-2014 tersebut, di berbagai daerah juga dilaksanakan pembahasan TPID termasuk di Provinsi DKI Jakarta yang melaksanakan HLM pada 23 September 2014. Secara umum, fokus pembahasan dalam HLM TPID Jakarta tersebut adalah untuk mengantisipasi risiko meningkatnya tekanan inflasi yang bersumber dari: (i) risiko inflasi volatile foods terkait dengan kekeringan (El Nino) yang diprakirakan mencapai puncaknya pada November 2014 dan potensi banjir di akhir tahun yang dapat berimbas pada kenaikan harga pangan di Jakarta; (ii) risiko inflasi

administered prices terkait kemungkinan kenaikan harga BBM bersubsidi dalam waktu

dekat; dan (iii) risiko inflasi inti karena transmisi pelemahan nilai tukar rupiah terhadap harga jual terutama komoditas dengan import content tinggi, terlebih lagi bobot inflasi inti di Jakarta yang cukup signifikan.

Secara keseluruhan, HLM berupaya untuk merumuskan strategi kebijakan yang dapat ditempuh untuk memitigasi risiko-risiko yang ada agar inflasi Jakarta dapat tetap mendukung pencapaian sasaran inflasi nasional tahun 2014 sebesar 4,5%±1%. Beberapa kesepakatan penting dalam HLM TPID Jakarta antara lain (i) perlunya percepatan penyelesaian Jakarta Emergency Dreadging Initiative (JEDI) untuk pengendalian banjir ke

depan; (ii) perlunya pengendalian tarif angkutan dalam kota dalam batasan yang wajar sekiranya kenaikan harga BBM bersubsidi diberlakukan; dan (iii) perlunya mendorong pemanfaatan moda kereta api dan short sea shipping sebagai alternatif jalur darat untuk menjami kelancaran distribusi barang.

Di tingkat daerah, berbagai program dan upaya pengendalian inflasi dalam mengantisipasi lonjakan harga selama Ramadhan dan Idul Fitri telah dilakukan oleh berbagai TPID, antara lain:

a. Penguatan pasokan pangan melalui kegiatan pasar murah yang dilakukan secara merata di berbagai wilayah, terutama untuk bahan pokok seperti beras, minyak goreng, tepung terigu, gula dan telur.

b. Mendukung kelancaran distribusi pangan dengan memprioritaskan transportasi untuk keperluan angkutan kebutuhan pokok, mempercepat rehabilitasi jalan dan jembatan serta beberapa program spesifik seperti percepatan bongkar muat kapal di pelabuhan, dan penambahan jam operasional pelabuhan.

c. Monitoring dan pengawasan langsung di lapangan melalui sidak ke perusahaan/ distributor dan pasar di berbagai daerah, untuk melihat kesiapan pasokan khususnya bahan pangan pokok.

d. Pengelolaan ekspektasi masyarakat dengan melakukan komunikasi publik secara intens melalui berbagai media, antara lain  jumpa pers serta talkshow di radio dan TV. Selain memperkuat koordinasi dengan pemerintah dalam rangka mencapai target inflasi, Bank Indonesia juga terus menjalin koordinasi dengan pemerintah dan instasi terkait untuk memperkuat Protokol Manajemen Krisis (PMK). Pertemuan koordinasi dengan pemerintah dan lembaga terkait dilakukan secara rutin dalam kerangka Forum Koordinasi Stabilitas Sistem Keuangan (FKSSK), untuk melakukan monitoring dan melakukan asesmen stabilitas sistem keuangan.

Sepanjang triwulan III-2014, telah dilakukan rapat koordinasi rutin bulanan di tingkat Deputi FKSSK pada 14 Juli 2014 dan 8 September 2014 serta rapat koordinasi rutin tiga bulanan di tingkat anggota FKSSK pada tanggal 17 Juli 2014. Selain pertemuan rutin, Bank Indonesia juga secara berkala menyampaikan asesmen sub-protokol nilai tukar kepada FKSSK sesuai dengan prosedur operasional yang berlaku.

Dalam rangka mendukung implementasi PMK Nasional, Bank Indonesia melakukan asesmen secara reguler terhadap perkembangan dan risiko nilai tukar, termasuk memperkuat metode dan indikator surveillance. Selain itu, pasca beralihnya pengaturan dan pengawasan perbankan ke Otoritas Jasa Keuangan sejak 31 Desember 2013, Bank Indonesia juga melakukan langkah penguatan governance dan prosedur PMK Internal. Upaya yang dilakukan khususnya terkait peran Bank Indonesia dalam mendukung stabilitas sistem keuangan dan dalam pelaksanaan tugas FKSSK.

Dalam rangka menghadapi perkembangan kondisi makroekonomi dan memitigasi risiko yang muncul, Bank Indonesia telah melakukan rapat koordinasi bersama Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kementerian Keuangan, Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Kementerian Pertanian, Kementerian Perhubungan dan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) pada 4 Juli 2014 di Jakarta. Rapat tersebut menyimpulkan bahwa stabilitas makroekonomi masih terjaga dengan baik di tengah proses penyesuaian struktur

perekonomian ke arah yang lebih seimbang. Namun demikian, terdapat sejumlah risiko yang perlu diwaspadai baik yang bersumber dari eksternal dan domestik. Kebijakan yang terkoordinasi antara moneter, fiskal dan sektor riil diperlukan untuk dapat secara efektif mengelola berbagai risiko yang berpotensi mengganggu stabilitas makroekonomi dan memperdalam pertumbuhan ekonomi.

Pemerintah dan Bank Indonesia melalui rapat koordinasi tersebut sepakat untuk memelihara stabilitas makroekonomi dan menjaga kepercayaan pasar terhadap prospek perekonomian. Hal tersebut dilakukan melalui langkah-langkah sebagai berikut:

a. Mengendalikan inflasi sesuai dengan sasaran yang ditetapkan.

b. Melanjutkan upaya menurunkan defisit transaksi berjalan ke tingkat yang lebih berkesinambungan.

c. Menjaga kesinambungan fiskal.

d. Mengelola Utang Luar Negeri yang lebih sehat.

Selanjutnya, koordinasi antara Bank Indonesia dan pemerintah akan terus dilakukan untuk memantau dan mengevaluasi efektivitas dari kebijakan-kebijakan yang telah diambil. Dalam perspektif jangka menengah, penguatan koordinasi kebijakan antara pemerintah dan Bank Indonesia dapat mendorong upaya penguatan fundamental ekonomi yang sedang berlangsung, guna menjaga momentum pertumbuhan ekonomi yang lebih sehat. Selain koordinasi dengan pemerintah dalam pengendalian inflasi dan penguatan PMK, Bank Indonesia juga menjalin koordinasi dengan pemerintah dalam rangka percepatan pembangunan ekonomi regional. Pada 11 Agustus 2014 di Manado, Bank Indonesia bersama dengan Pemerintah Pusat (Badan Perencanaan Pembangunan Nasional/ Bappenas, Kementerian Keuangan, BKPM) dan Pemerintah Daerah (Asosiasi Pemerintahan Provinsi Seluruh Indonesia/APPSI, Asosiasi Pemerintahan Kota Seluruh Indonesia/APEKSI, Asosiasi Pemerintahan Kabupaten Seluruh Indonesia/APKASI) melakukan rapat koordinasi membahas kelanjutan agenda reformasi struktural dalam aspek pembangunan ekonomi regional.

Rapat koordinasi tersebut menelaah berbagai respons kebijakan baik jangka menengah maupun jangka panjang. Respons kebijakan dalam hal ini khususnya terkait peningkatan daya saing ekspor manufaktur, percepatan pembangunan infrastruktur, dan pengembangan permbangunan berwawasan maritim, termasuk penguatan lingkungan pendukung

(enabling environment) di Kawasan Timur Indonesia (KTI). Komitmen yang telah dihasilkan

dalam rapat koordinasi tidak hanya melibatkan Pemerintah Pusat dan Bank Indonesia, tetapi juga Pemerintah Daerah. Implementasi dari komitmen tersebut akan menjadi kunci bagi percepatan pembangunan ekonomi regional ke depan.

Pemerintah Pusat dan Daerah bersama Bank Indonesia menyepakati sejumlah langkah strategis dalam upaya meningkatkan daya saing ekspor manufaktur antara lain (i) penyederhanaan perizinan investasi, (ii) peningkatan pelayanan terpadu satu pintu (PTSP), (iii) penyediaan insentif untuk mendorong peningkatan investasi, dan (iv) terus memperkuat upaya pencegahan korupsi baik di pusat maupun daerah. Selain itu, Bank Indonesia juga akan terus berupaya menciptakan lingkungan makro yang stabil (inflasi dan defisit transaksi berjalan yang rendah).

Upaya yang dilakukan Bank Indonesia melalui bauran kebijakan moneter, stabilitas sistem keuangan, sistem pembayaran. Selain itu, upaya yang dilakukan melalui dukungan

terhadap berjalannya fungsi koordinasi moneter, fiskal, dan sektor riil melalui kantor-kantor perwakilan Bank Indonesia di daerah dengan melibatkan stakeholders yang lebih luas. Upaya yang dilakukan mendukung pelaksanaan program TPID dan melanjutkan pengembangan klaster-klaster percontohan untuk mendukung pengendalian inflasi, serta mendorong pengembangan Regional Investor Relation Unit (RIRU). Selain itu, Bank Indonesia juga berkomitmen untuk memperkuat peran advisory kepada pemerintah daerah dengan dukungan Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional (KEKR) serta analisis daya saing daerah. 3.1.4. Pengelolaan Utang Luar Negeri

Dalam rangka mengetahui perkembangan Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia yang meliputi ULN sektor publik (ULN Pemerintah dan Bank Sentral) serta ULN swasta, Bank Indonesia secara berkala melakukan pemantauan perkembangan ULN. Selain monitoring, Bank Indonesia juga menyikapi perkembangan ULN Indonesia yang mengalami peningkatan secara berhati-hati.

Guna mendukung proses formulasi kebijakan moneter, Bank Indonesia secara rutin menyelenggarakan survei manajemen risiko ULN sektor swasta pada semester I-2014. Survei semesteran tersebut dimaksudkan untuk memperoleh informasi:

(i) Upaya manajemen risiko yang dilakukan oleh sektor swasta dalam mengelola ULN, khususnya terkait pemetaan upaya hedging terhadap risiko ULN swasta, antara lain,

currency risk (currency mismatch dan/atau exchange rate risk), dan interest rate risk,

(ii) Persepsi pelapor ULN swasta terhadap kondisi usaha dan profitabilitas, dan rencana pembiayaan yang akan dilakukan dalam jangka waktu 6-12 bulan ke depan.

Dalam rangka transparansi dan akuntabilitas pengelolaan utang sektor publik, Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan menerbitkan publikasi bersama (joint publication) Statistik Utang Sektor Publik Indonesia (SUSPI). SUSPI menginformasikan data utang Pemerintah, Bank Indonesia, dan BUMN, baik utang domestik maupun utang luar negeri. SUSPI merupakan joint program antara World Bank dan International Monetary Fund (IMF) dalam rangka penyediaan data utang sektor publik di setiap negara dalam standar internasional yang comparable. Saat ini sudah ada 94 negara (termasuk Indonesia) yang setuju untuk melaporkan SUSPI secara online setiap triwulan ke website World Bank dan IMF dan 67 diantaranya sudah tersedia datanya.

Selain melakukan pemantauan dan menerbitkan publikasi utang luar negeri, Bank Indonesia juga melakukan dan menatausahakan penarikan ULN Pemerintah, baik untuk membiayai proyek tertentu maupun untuk membiayai defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan pengelolaan portofolio utang serta melakukan pembayaran ULN Pemerintah yang jatuh waktu. ULN Pemerintah yang ditatausahakan Bank Indonesia terdiri dari pinjaman multilateral, bilateral, komersial, fasilitas kredit ekspor serta global

bond.

Untuk pembiayaan defisit APBN, penarikan ULN Pemerintah dilakukan melalui transfer langsung ke Rekening Kas Umum Negara (RKUN), sedangkan untuk pembiayaan proyek, penarikan dilakukan dengan cara pembayaran langsung, melalui rekening khusus, pembukaan letter of credit (L/C) dan pembiayaan pendahuluan.

Pada triwulan III-2014, jumlah penarikan ULN Pemerintah yang ditatausahakan oleh Bank Indonesia mencapai USD3,3 miliar, terutama didominasi penerbitan Surat Utang Negara

Bank Indonesia memantau perkembangan ULN Indonesia, menerbitkan joint publication ULN sektor publik sebagai wujud transparansi dan akuntabilitas, dan menatausahakan ULN pemerintah.

dalam valuta Euro pada tanggal 2 Juli 2014 dengan seri RIEUR0721 sebesar EUR1,0 miliar. Porsi kepemilikan asing yang tercatat sebagai ULN sebesar EUR0,976 miliar ekivalen USD1.36 miliar. Selain itu, Pemerintah juga menerbitkan Sukuk Global dalam valuta USD pada tanggal 3 September 2014 dengan seri SNI-124 sebesar USD1,5 miliar. Porsi kepemilikan asing yang tercatat sebagai ULN sebesar USD1,35 miliar, sehingga selama triwulan III-2014 total yang dicatat sebagai ULN sebesar USD2.71 miliar.

Realisasi pembayaran ULN Pemerintah pada triwulan III-2014 tercatat sebesar USD1,6 miliar. Total realisasi pembayaran s.d. triwulan III-2014 tercatat sebesar USD8,5 miliar (77,3% dari total rencana pembayaran sepanjang tahun 2014). Pembayaran ULN dilaksanakan berdasarkan perintah pembayaran dari Kemenkeu sesuai rencana pembayaran yang diperoleh dari data administrasi ULN. Selain itu terdapat juga pembayaran ULN di luar rencana seperti pembayaran fee dan kewajiban lainnya.

Aspek utama yang harus diperhatikan dalam pembayaran ULN Pemerintah adalah terlaksananya pembayaran cicilan pokok dan bunga yang aman, akurat dan tepat waktu. Hal ini penting karena berpengaruh terhadap reputasi Bank Indonesia dan Republik Indonesia dalam memenuhi kewajiban kepada pihak lender. Oleh karena itu, Bank Indonesia harus dapat menjamin ketersediaan valuta asing yang diperlukan pemerintah sesuai dengan valuta pinjaman yang harus dibayarkan.