Pelaksanaan Tugas Pokok dan Wewenang Bank Indonesia
3.1. Stabilitas Moneter
3.1.2. Pengelolaan Moneter dan Nilai Tukar 1. Pengelolaan Moneter
Untuk menjaga pergerakan suku bunga Pasar Uang Antar Bank Overnight (PUAB O/N), Bank Indonesia mengelola surplus likuiditas melalui operasi moneter yang bersifat kontraktif. Sejalan dengan peningkatan surplus likuiditas harian, posisi instrumen operasi moneter (operasi pasar terbuka dan standing facilities) pada akhir triwulan III-2014 naik 25% dibandingkan triwulan sebelumnya menjadi Rp332,10 triliun. Kenaikan posisi operasi moneter tersebut disebabkan oleh kenaikan posisi Reverse Repo-Surat Berharga Negara
Posisi operasi moneter Bank Indonesia meningkat sejalan dengan strategi Bank Indonesia untuk mengelola likuiditas.
Grafik 3.3
(RR-SBN), Sertifikat Deposito Bank Indonesia (SDBI), Deposit Facility-Fasilitas Simpanan Bank Indonesia Syariah (DF-FASBIS) masing-masing sebesar 70%, 28% dan 24%. Sementara itu, posisi Sertifikat Bank Indonesia (SBI) - Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS) serta
Foreign Exchange (FX) Swap mengalami penurunan sebesar 27% dan 10% (Grafik 3.1).
Sejalan dengan peningkatan posisi instrumen operasi moneter secara keseluruhan, suku bunga instrumen operasi moneter pada triwulan laporan cenderung bergerak turun dibandingkan triwulan sebelumnya (Grafik 3.2).
Grafik 3.1
Perkembangan Outstanding Instrumen Operasi Moneter Perkembangan Suku Bunga Instrumen Operasi MoneterGrafik 3.2
Tw II Tw III Tw IV Tw I Tw II Tw III (200) (100) 0 100 200 300 400 DF/S SDBI Repo LF/S TD FX Swap SBI/S RR SBN Outs. OM 5,0 5,5 6,0 6,5 7,0 7,5 O/N (DF) 1 mgg 2 mgg 3 mgg 1 bln 2 bln 3 bln 6 bln 9 bln Tw III-2013 Tw III-2014 Tw II-2014 Komposisi OM Tw. II-2014 RR SBN; 28% FX Swap; -29% DF/S; 48% SBI/S; 44% SDBI; 9%
Berdasarkan komposisinya, instrumen operasi moneter masih didominasi oleh penempatan pada standing facilities, dalam hal ini Deposit Facility dan FASBIS sebesar 48% dari total posisi operasi moneter. Sementara itu, proporsi instrumen RR SBN, SBI-SBIS, SDBI dan FX
Swap adalah masing-masing sebesar 38%, 26%, 9% dan -21%.
Sejalan dengan upaya Bank Indonesia untuk mengoptimalkan penggunaan instrumen RR-SBN, Bank Indonesia meningkatkan penggunaannya dalam instrumen Operasi Pasar Terbuka (OPT). Hal ini tercermin dari kenaikan porsi RR-SBN pada triwulan laporan yang cukup siginifikan dibandingkan triwulan sebelumnya yang baru mencapai 28% dari total posisi operasi moneter. Sebaliknya, porsi SBI/S berkurang dari 44% menjadi 26% di triwulan laporan, dan terjadinya penurunan posisi FX swap jual disebabkan likuiditas perbankan yang lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya (Grafik 3.3).
7 Peraturan Menteri Agama (PMA) No. 30/2013 yang berlaku efektif April 2014. 8 PBI No.16/12/PBI/2014 tentang Operasi Moneter Syariah tanggal 25 Juli 2014.
9 PBI No. 16/19/PBI/2014 tentang Perubahan atas PBI No. 15/17/PBI/2013 tentang Transaksi Swap Lindung Nilai kepada Bank Indonesia.. 3.1.2.2. Pengelolaan Nilai Tukar
Sebagai bagian dalam upaya pengelolaan nilai tukar rupiah, Bank Indonesia berupaya mendorong pelaku pasar mengoptimalkan pengelolaan likuiditasnya, tidak terkecuali perbankan syariah. Belum berkembangnya instrumen valas syariah di pasar domestik menyebabkan terbatasnya outlet pengelolaan dana valas perbankan syariah. Kondisi tersebut menyebabkan kelebihan dana valas perbankan syariah umumnya ditempatkan dalam bentuk nostro di bank konvensional dan bank luar negeri, serta di giro valas pada Bank Indonesia. Potensi penempatan valas di luar negeri bertambah sejalan dengan adanya tambahan funding valas dari kewajiban setoran dana haji di perbankan syariah
sesuai dengan Peraturan Menteri Agama7.
Dalam rangka mendukung pelaksanaan operasi moneter Bank Indonesia terkait dengan stabilisasi nilai tukar dan untuk menciptakan iklim yang kondusif bagi perkembangan pasar keuangan syariah domestik, Bank Indonesia menerbitkan instrumen Term Deposit
(TD) Valas Syariah pada tanggal 25 Juli 2014 yang diatur dalam Peraturan Bank Indonesia8.
TD Valas Syariah merupakan instrumen operasi moneter syariah Bank Indonesia pertama dalam denominasi valas.
Penerbitan TD Valas Syariah melengkapi outlet pengelolaan likuiditas valas di tengah belum berkembangnya instrumen valas syariah pada pasar uang syariah dalam negeri. Bertambahnya pilihan instrumen pengelolaan likuiditas valas sekaligus diharapkan dapat meningkatkan peran perbankan syariah dalam membiayai pertumbuhan ekonomi. Bagi Bank Indonesia, TD Deposit Valas Syariah menambah variasi instrumen untuk menjaga keseimbangan likuiditas di pasar uang valas dan mendukung pencapaian stabilitas nilai tukar rupiah.
TD Valas Syariah menggunakan akad ju’alah, yaitu janji atau komitmen (iltizam) untuk memberikan imbalan tertentu (’iwadh/ju’l) atas pencapaian hasil (natijah) yang ditentukan dari suatu pekerjaan. TD Valas Syariah diterbitkan dalam mata uang dolar Amerika Serikat melalui mekanisme lelang dengan jangka waktu 1 hari sampai dengan 12 bulan. Atas penempatan bank pada instrumen TD valas syariah, Bank Indonesia akan memberikan imbalan dan instrumen ini dapat dicairkan sebelum jatuh waktu (early redemption).
Selain penerbitan TD Valas Syariah, dalam kerangka stabilisasi nilai tukar, Bank Indonesia juga menerbitkan penyempurnaan pengaturan mengenai transaksi swap lindung nilai
kepada Bank Indonesia9. Penyempurnaan pengaturan ini bertujuan untuk meningkatkan
efektifitas pengelolaan likuiditas di pasar uang domestik melalui transaksi lindung nilai kepada Bank Indonesia. Beberapa pengaturan yang disempurnakan meliputi (i) memperluas ruang lingkup underlying transaksi berupa pinjaman luar negeri bank dalam bentuk perjanjian kredit dan/atau penerbitan surat utang serta dana usaha yang dinyatakan (declared business fund); (ii) Bank dapat mengajukan perpanjangan kontrak lindung nilai maupun transaksi swap lindung nilai kepada Bank Indonesia dengan jangka waktu dan persyaratan tertentu; (iii) setelmen perpanjangan transaksi swap lindung nilai kepada Bank Indonesia dapat dilakukan secara netting, termasuk pada saat perpanjangan kontrak lindung nilai. Hal ini dimungkinkan selama netting dilakukan untuk nominal yang sama/lebih kecil dari dari nilai transaksi atau sesuai dengan nilai outstanding pinjaman luar negeri bank atau declared business fund bank pada setiap periode perpanjangan.
BAB III Pelaksanaan Tugas Pokok dan Wewenang Bank Indonesia
Sejalan dengan penyempurnaan ketentuan swap lindung nilai pada Bank Indonesia,
dilakukan juga penyempurnaan ketentuan swap lindung nilai pada bank10. Penyempurnaan
ini merupakan konsekuensi dari penerbitan ketentuan transaksi valuta asing oleh bank
dengan pihak domestik maupun asing11 yang menyederhanakan dan merelaksasi
underlying transaksi valas dan penyelesaian transaksi valas secara netting.
10 PBI No. 16/18/PBI/2014 tentang Transaksi Lindung Nilai kepada Bank .
11 PBI No. 16/16/PBI/2014 tentang Transaksi Valuta Asing terhadap Rupiah antara Bank dengan Pihak Domestik dan PBI No. 16/17/PBI/2014
BOKS
BOKS
Mendorong Transaksi Lindung Nilai (Hedging) Perusahaan BUMN Secara Transparan dan AkuntabelBank Indonesia secara berkesinambungan berupaya mendorong agar pelaku ekonomi dapat mengelola kebutuhan valasnya dan risiko nilai tukar yang dihadapi. Upaya ini dilakukan dengan mempertimbangkan belum berkembangnya pasar valuta asing (valas) di Indonesia.
Kondisi pasar valas domestik ditandai oleh dominannya penggunaan cash market untuk memenuhi kebutuhan valas pelaku ekonomi. Pemenuhan kebutuhan valas dalam jumlah besar melalui cash market dapat menimbulkan tekanan pelemahan nilai tukar yang signifikan, terutama jika terjadi pada saat suplai valas di pasar terbatas. Kondisi ini sangat mungkin terjadi mengingat pembelian valas oleh pelaku domestik cenderung melebihi suplainya.
Dalam situasi berkembangnya sentimen negatif, baik yang bersumber dari global maupun domestik, kenaikan harga dolar (baca: pelemahan nilai tukar) akibat tekanan pembelian valas dapat memicu pembelian valas yang lebih besar oleh pihak-pihak yang sebenarnya tidak membutuhkan valas dalam waktu segera (front-loading). Fenomena tersebut dapat mengekskalasi pelemahan nilai tukar yang tajam (overshooting) sebagaimana pernah terjadi pada krisis keuangan 1997-1998. Pada masa tersebut, pelemahan nilai tukar yang tajam menyebabkan nilai utang luar negeri menggelembung dan menyebabkan kebangkrutan pada banyak perusahaan yang selanjutnya diikuti oleh terpuruknya perekonomian Indonesia. Untuk memitigasi risiko akibat pergerakan nilai tukar, Bank Indonesia mendorong pelaku ekonomi untuk melakukan lindung nilai atas kegiatan ekonomi yang terpapar risiko nilai tukar. Upaya mendorong kegiatan lindung nilai oleh Bank Indonesia telah dimulai sejak tahun 2010 melalui penyempurnaan berbagai ketentuan yang ditujukan untuk meningkatkan kapasitas dan fleksibilitas perbankan dalam memenuhi kebutuhan transaksi valas nasabah. Penyesuaian ketentuan yang telah dilakukan meliputi relaksasi atas ketentuan Posisi Devisa Neto (PDN) Bank (2010), relaksasi ketentuan transaksi derivatif (2012), dan penyesuaian underlying pembelian valas (2013).
Mencermati korporasi BUMN merupakan pembeli valas utama di cash market, Bank Indonesia mendorong penggunaan lindung nilai oleh BUMN. Untuk itu, Bank Indonesia melakukan koordinasi dengan berbagai pihak. Forum koordinasi antara
BAB III Pelaksanaan Tugas Pokok dan Wewenang Bank Indonesia
BOKS
Bank Indonesia dengan Kementerian BUMN, Kementerian Keuangan, Bank BUMN, dan beberapa BUMN besar telah berhasil menerbitkan payung hukum untuk
mendorong kegiatan lindung nilai.12 Menindaklanjuti penerbitan aturan lindung
nilai tersebut, beberapa BUMN besar telah melakukan persiapan infrastruktur pendukung pelaksanaan kegiatan lindung nilai antara lain: sumber daya manusia, sistem, dan kebijakan transaksi lindung nilai termasuk di dalamnya penyusunan
Standard Operating Procedure (SOP).
Meski telah terdapat payung hukum, masih terdapat kekhawatiran BUMN untuk melaksanakan lindung nilai akibat risiko hukum yang mungkin timbul dari adanya selisih kurs. Kekhawatiran tersebut umumnya terkait potensi timbulnya selisih kurs negatif yang dapat dianggap sebagai kerugian negara dan digolongkan sebagai tindak pidana korupsi. Kekhawatiran terkait risiko di atas disebabkan masih terbatasnya pemahaman pemegang saham, auditor, dan penegak hukum terkait esensi dari kegiatan lindung nilai melalui transaksi derivatif, terutama terkait selisih kurs negatif yang sering dianggap sebagai kerugian. Padahal, selisih kurs negatif merupakan biaya yang harus dibayar oleh BUMN untuk mengurangi ketidakpastian usaha (business uncertainty).
Bertolak dari permasalahan tersebut, Bank Indonesia, penegak hukum, auditor, dan lembaga terkait lainnya sepakat untuk bersama-sama mengatasi kekhawatiran tersebut. Untuk itu, pada tanggal 19 Juni 2014, Pimpinan 8 (delapan) Lembaga/ Badan/Kementerian (BPK, BPKP, KPK, Kepolisian, Kejaksaan Agung, BI, Kementerian Keuangan dan Kementerian Negara BUMN) melakukan pertemuan dalam rangka membahas upaya meredam gejolak nilai tukar serta mewujudkan pasar valuta asing yang maju dan sehat. Pertemuan tersebut dilanjutkan dengan koordinasi di level teknis pada tanggal 10 Juli 2014. Kedua pertemuan tersebut menghasilkan kesepahaman antara lain:
a. Terdapat konsekuensi biaya atas selisih kurang yang timbul dari transaksi lindung nilai. Biaya tersebut bukan merupakan kerugian negara sepanjang transaksi dilakukan secara konsisten, konsekuen, dan akuntabel serta tidak terdapat unsur melanggar peraturan/hukum yang berlaku.
b. Belum terdapat pedoman pelaksanaan transaksi lindung nilai sebagai acuan bagi BUMN dalam pelaksanaan transaksi lindung nilai sehingga tidak terdapat referensi bagi Penegak Hukum dan auditor dalam pemeriksaan pelaksanaan transaksi lindung nilai.
c. Perlunya membentuk sebuah Tim Teknis (Tim Kerja) yang bertugas melakukan
review ketentuan dan memperjelas aturan pelaksanaannya, serta selanjutnya
melakukan sosialisasi secara luas. Sebagai tindak lanjut, Tim Teknis sepakat untuk membuat Pedoman Penyusunan Standard Operating Procedure (SOP) Kegiatan Lindung Nilai untuk dapat mendukung pelaksanaan transaksi lindung nilai secara konsisten, konsekuen, dan akuntabel.
12 PBI 15/8/PBI/2013 tentang Transaksi Lindung Nilai kepada Bank sebagaimana diubah oleh PBI 16/18/PBI/2014 dan PBI 15/17/ PBI/2013 tentang Transaksi Swap Lindung Nilai kepada BI sebagaimana diubah dengan PBI 16/19/PBI/2014, serta Peraturan Menteri Negara BUMN No. PER-09/MBU/2013 tentang Kebijakan Umum Transaksi Lindung Nilai BUMN.
BAB III Pelaksanaan Tugas Pokok dan Wewenang Bank Indonesia