BAB IV HASIL PENELITIAN
4.1 PUSKESMAS PURWOYOSO
4.1.5 Koordinasi, Jejaring Kerja, dan Kemitraan
Permenkes RI Nomor 67 tahun 2016, menyatakan bahwa penyelenggaraan Penangggulangan TB perlu didukung dengan upaya mengembangkan dan memperkuat mekanisme koordinasi, serta kemitraan antara pengelola program TB dengan instansi pemerintah lintas sektor dan lintas program, para pemangku kepentingan, penyedia layanan, organisasi kemasyarakatan, asuransi kesehatan, baik di pusat, provinsi maupun kabupaten/kota. Peraturan Walikota Semarang
Nomor 39 Tahun 2017, menyatakan dalam rangka efektifitas dan efesiensi pelaksanaan Rencana Aksi Daerah Penanggulangan TB untuk mencapai target perlu pembentukan dan penguatan Forum Koordinasi Penanggulangan TB.
Berdasarkan hasil wawancara dengan pemegang program TB di Puskesmas diperoleh informasi bahwa Dinas Kesehatan Kota melakukan monitoring dan evaluasi setiap 3 bulan sekali, bersamaan dengan dilakukannya supervisi ke semua Puskesmas di Kota Semarang. Evaluasi yang dilakukan oleh pemegang program TB ke Kepala Puskesmas dilaksanakan setiap bulan. Monitoring dan evaluasi yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kota kepada petugas laboratotium dilakukan setiap 3 bulan sekali terkait dengan pemantapan mutu eksternal laboratorium, sedangkan untuk pelayanan laboratorium TB belum pernah dilakukan. Kerjasama yang dilakukan oleh petugas Puskesmas dengan lintas sektoral yaitu menjalin kerjasama dengan Dinas Pendidikan dan sekolah. Monitoring dan evaluasi yang dilakukan oleh gasurkes kepada kepala Puskesmas dilakukan saat pemaparan setiap 3 bulan sekali. Gasurkes melakukan kerjasama dengan lintas program yaitu dengan petugas kesehatan lingkungan di Puskesmas setiap melakukan investigasi kontak. Evaluasi yang dilakukan oleh petugas TB di Puskesmas kepada kinerja kader TB belum pernah ada, koordinasi yang dilakukan berupa pelaporan kasus TB oleh kader ke petugas Puskesmas melalui komunikasi WA. Kutipan wawancara mendalam yang dilakukan dengan narasumber sebagai berikut:
“Kita dikumpulkan untuk kemudian nanti dilakukan evaluasi. Biasanya dilakukan 3 bulan sekali. Supervisi yang dilakukan biasanya pertiga bulan sekali atau perempat bulan sekali. Evaluasi dengan Kepala Puskesmas
dilakukan setiap bulan sekali. kerjasama lintas program iya, bahkan lintas sektoralpun kita lakukan seperti kerjasama dengan Dinas Pendidikan dan sekolah”.
Informan utama 1
“Kalau untuk TB saya ndak tahu itu, evaluasi kalau dari Lab itu hanya dari sini saja paling dari pemantapan mutu eksternal. Ya itu kan mereka nanti Dinas kan mengevaluasikan kinerjanya kita... Setiap 3 bulan sekali”.
Informan utama 2
“Kita kerjasama dengan keslingnya ya mbak..., waktu investigasi kontak meraka medampingi. Monitoring dan evaluasi di lakukan pada saat pemaparan setiap 3 bulan sekali dalam pertemuan di Puskesmas”.
Informan utama 3
“Biasanya kita yang melaporkan langsung ke petugas Puskesmas. Tidak ada forum khusus untuk evaluasi tapi kita tetep jalin komunikasi dengan WA tadi”.
Informan utama 4
“Kalau sama Aisyiyah itu 1 bulan sekali mbak, tapi kalau Puskesmas itu belum e... masih kadang-kadang gitu mbak”.
Informan Utama 5
Hasil wawancara yang dilakukan dengan Informan Triangulasi 1 diperoleh informasi bahwa Dinas Kesehatan Kota melakukan monitoring dan evaluasi setiap 3 bulan sekali dalam bentuk capaian-capaian program, kinerja programer di Puskesmas, dan permasalahan-permasalahan yang ada. Hambatan yang muncul dalam kerjasama antara Dinas Kesehatan Kota dengan petugas TB di Puskesmas yaitu kurangnya koordinasi antara pemegang program baru dengan pemegang program lama saat terjadi pergantian petugas.. Berikut kutipan wawancara yang dilakukan dengan Informan Triangulasi 1, yaitu:
“Monitoringnya dilaksanakan 3 bulan sekali dalam bentuk capaian-capaian program... Kinerja programer yang ada di Puskesmas sekalian evaluasi permasalahan-permasalahan apa yang didapatkan dan kenapa terget kasus yang ditetapkan tidak terpenuhi. RAD penanggulangan TB itu juga mengharuskan semua pihak, semua komponen, dan semua stakeholder yang ada di Kota Semarang untuk berperan sesuai dnegan kapasitasnya masing-masing di dalam program penanggulangan TBC. Ya kalau ada pergantian petugas yang baru, kan petugas yang baru itu belum mendapatkan pemahaman yang memadai tentang program-program penanggulangan TB seperti kompetensi yang sudah e... dimiliki oleh petugas yang lama yaitu yang menjadi kendala kita”.
Informan Triangulasi 1
Hasil wawancara yang telah dilakukan dengan narasumber diketahui bahwa koordinasi, jejeraing kerja, dan kemitraan sudah sesuai dengan Permenkes Nomor 67 tahun 2016, tetapi masih terdapat hambatan seperti pemberian informasi terkait pelaksanaan program P2TB kepada petugas TB yang baru selalu disampaiakan secara berulang mulai dari tahap awal secara rinci, agar petugas TB yang baru memiliki pemahaman dan kompetensi yang sama dengan petugas TB yang lama. Hal ini seharusnya dapat disampaikan sendiri oleh petugas TB yang lama kepada petugas TB yang baru. Pelaksanaan monitoring dan evaluasi oleh Dinas Kesehatan Kota kepada petugas TB di Puskesmas baru dilakukan 1 kali dalam 1 tahun, sedangkan forum khusus untuk melakukan evaluasi oleh petugas TB di Puskemas kepada kader TB belum ada.
Berdasarkan Discrepancy Evaluation Model (DEM), koordinasi, jejaring kerja, dan kemitraan dapat digambarkan sebagai berikut:
No. Standard Performance Dicrepancy
1. Dinas Kesehatan Kota melakukan pembinaan,
Informan utama-1 di tahun 20utama-19
Monev tahun 2019 untuk informan utama-1 dan
monitoring dan evaluasi kegiatan program TB di fasyankes. baru mengikuti kegiatan monev 1 kali. Informan utama-2 belum melaksankan pertemuan monev. Informan utama-3 melakukan kegiatan monev setiap 1 kali dalam setahun. Informan utama-4 belum pernah melakukan monev dengan Puskesmas saja.
informan utama-2 belum optimal karena baru dilaksanakan monev sebanyak 1 kali yang seharusnya dilaksanakan sebanyak 4 kali dalam setahun.
2. Hubungan
kerjasama/bauran
pemerintah-swasta, seperti: kerja sama program penanggulangan TB dengan faskes milik swasta, kerja sama dengan sector industri/perusahaan/tempat kerja, kerja sama dengan
lembaga swadaya masyarakat (LSM). Puskesmas menjalin kerjasama dengan petugas kelurahan, Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan dan sekolah di sekitar wilayah Puskesmas. Kerjasama sudah dilakukan sesuai standar, tetapi belum optimal karena kerjasama dengan sektor
indutri/perusahaan/tempat kerja belum dilakukan.