• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1.2 Program Penanggulangan dan Pencegahan Tuberkulosis

Penanggulangan Tuberkulosis adalah segala upaya kesehatan yang mengutamakan aspek promotif dan preventif, tanpa mengabaikan aspek kuratif dan rehabilitatif yang ditujukan untuk melindungi kesehatan masyarakat, menurunkan angka kesakitan, kecacatan atau kematian, memutuskan penularan, mencegah resistensi oabta dan mengurangi dampak negatif yang ditimbulkan akibat Tuberkulosis. penangulangan TB diselenggarakan secara terpadu, komprehensif dan berkesinambungan melibatkan semua pihak terkait baik pemerintah, swasta maupun masyarakat. Penanggulanga Tuberkulosis merupakan program nasional yang harus dilaksanakan di seluruh Fasilitas Pelayanan Kesehatan (Fasyankes) termasuk Rumah Sakit, Puskesmas, Klinik-klinik kesehatan dan juga Dokter Praktek Swasta (Kementerian Kesehatan RI, 2016).

Target program Penanggulangan TB nasioal yaitu eleminasi TB dengan tercapainya cakupan kasus TB 1 per 1 juta penduduk pada tahun 2035 dan Indonesia bebas TB tahun 2050. Dalam mencapai target tersebut digunakan strategi nasional yaitu strategi DOTS (Directly Observed Treatment, Shorcours chemotherapy). DOTS merupakan strategi penanggulangan Tuberkulosis nasional

yang dilaksanakan melalui pengobatan jangka pendek dengan pengawsan langsung terhadap penderita TB yang dilaksanakan diseluruh unit pelayanan kesehatan. Implementasi strategi DOTS terdiri dari 5 komponen kunci, yaitu: 1. Komitmen politis, dengan peningkatan dan kesinambungan pendanaan. 2. Penemuan kasus melalui pemeriksaan dahak mikroskopis yang terjamin

mutunya.

3. Pengobatan yang standar, dengan supervisi dan dukungan bagi pasien. 4. Sistem pengelolaan dan ketersediaan OAT yang efektif.

5. Sistem monitoring pencatatan dan pelaporan yag mampu memberikan penilaian terhadap hasil pengobatan pasien dan kinerja program.

Dalam menilai kemajuan atau keberhasilan program pengendalian TB terdapat indikator utama yang digunakan, yaitu:

1. Cakupan pengobatan semua kasus TB (case detection rate/CDR) yang diobati.

2. Angka notofikasi semua kasus TB (case notification rate/CNR) yang diobati per 100.000 penduduk.

3. Angka keberhasilan pengobatan pasien TB semua kasus. 4. Cakupan penemuan kasus resisten obat.

5. Angka keberhasilan pengobatan pasien TB resisten obat. 6. Presentase pasien TB yang mengetahui status HIV.

Penanggulangan TB diselenggarakan melalui beberapa kegiatan, antara lain: promosi kesehatan, surveilans TB, pengendalian faktor risiko, penemuan dan penanganan kasus TB, pemberian kekebalan, dan pemberian obat pencegahan

(Kementerian Kesehatan RI, 2016). 2.1.2.1 Penemuan Kasus

Kegiatan ini membutuhkan adanya pasien yang memahami dan sadar akan gejala TB, akses terhadap fasilitas kesehatan dan adanya tenaga kesehatan yang kompeten yang mampu melakukan pemeriksan terhadap gejala dan keluhan tersebut. Penemuan pasien merupakan langkah pertama dalam kegiatan tatalaksana pasien TB. Penemuan dan penyembuhan pasien TB menular, secara bermakna akan dapat menurunkan kesakitan dan kematian akibat TB, penularan TB di masyarakat dan sekaligus merupakan kegiatan pencegahan penularan TB yang paling efektif di masyarakat (Kementerian Kesehatan RI, 2011)

2.1.2.1.1 Strategi Penemuan

Strategi penemuan pasien TB dapat dilakukan secara pasif, intensif, aktif, dan masif. Upaya penemuan pasien TB harus didukung dengan kegiatan promosi yang aktif baik oleh petugas kesehatan maupun masyarakat, sehingga semua terduga TB dapat ditemukan secara dini. Pelibatan semua layanan dimaksudkan untuk mempercepat penemuan dan mengurangi keterlambatan pengobatan.

Strategi penemuan kasus tuberkulosis dilakukan dengan 2 cara, yaitu penemuan pasien TB secara pasif intensif dan penemuan pasien TB secara aktif dan/atau masif. Penemuan pasien TB dilakukan secara pasif intensif di fasilitas kesehatan dengan jejaring layanan TB melalui Public-Private Mix (PPM), dan kolaborasi berupa kegiatan TB-HIV, TB-DM (Diabetes Mellitus), TB-Gizi, Pendekatan Praktis Kesehatan paru (PAL = Practical Approach to Lung health),

ManajemenTerpadu Balita Sakit (MTBS), Manajemen Terpadu Dewasa Sakit (MTDS). Sedangkan penemuan pasien TB secara aktif dan/atau masif berbasis keluarga dan masyarakat, dapat dibantu oleh kader dari posyandu, pos TB desa, tokoh masyarakat, dan tokoh agama. Kegiatan penemuan pasien TB dengan cara ini dapat berupa: investigasi kontak pada paling sedikit 10 - 15 orang kontak erat dengan pasien TB, penemuan di tempat khusus (seperti Lapas/Rutan, tempat kerja, asrama, pondok pesantren, sekolah, panti jompo), dan penemuan di populasi berisiko: tempat penampungan pengungsi, daerah kumuh (Kementerian Kesehatan RI, 2016).

2.1.2.1.2 Pemeriksaan Dahak

Berdasarkan Pedoman Nasional Pengendalian Tuberkulosis pemeriksaan dahak pada pasien terduga Tuberkulosis, antara lain: (1) pemeriksaan dahak mikroskopis yang berfungsi untuk menegakkan diagnosis, menilai keberhasilan pengobatan dan menentukan potensi penularan dengan mengumpulkan 3 spesimen dahak dalah dua hari kunjungan yang berurutan berupa Sewaktu-Pagi-Sewaktu; (2) pemeriksaan biakan dengan cara biakan dan identifikasi M. Tuberkulosis pada pengedalian TB untuk menegakkan diagnosis TB pada pasien tertentu, seperti pasien TB Ekstra Paru, pasien TB Anak, dan pasien TB BTA Negatif; (3) uji kepekaan obat TB yang bertujuan untuk resistensi M. Tuberkulosis terhadap OAT dilakukan di laboratorium untuk diagnosis pasien TB yang memnuhi kriteria suspek TB MDR.

Saat ini pemerintah telah menemukan cara pemeriksaan dahak terbaru yang dapat mendeteksi kuman TB lebih akurat menggunakan teknik PCR. Deteksi

kuman TBC dengan teknik PCR mempunyai sensitivitas yang amat tinggi. PCR merupakan cara amplifikasi DNA Mycrobacterium tuberkulosis, secara in vitro. Proses ini memerlukan DNA cetakan untai ganda yang mengandung DNA target, enzim DNA polymerase, nukleotida trifosfat, dan sepasang primer. Deteksi Mycrobacterium tuberkulosis dilakukan dengan teknik PCR, mengingat akurasinya yang baik dan membutuhkan waktu pemeriksaan leboh singkat. Banyak Mycrobacterium tuberkulosis yang tidak terdeteksi dengan pemeriksaan mikroskopis (BTA) tetapi dapat dideteksi dengan teknik PCR (Ramadhan, Fitria, & Rosdiana, 2017).

2.1.2.2 Diagnostik

Gejala utama pasien TB paru adalah batuk berdahak selama 2-3 minggu atau lebih. Batuk dapat diikuti dengan gejala tambahan yaitu dahak bercampur darah, batuk darah, sesak nafas, badan lemas, nafsu makan menurun, berat badan menurun, malaise, berkeringat malam hari tanpa kegiatan fisik,demam meriang lebih dari satu bulan. Gejala-gejala tersebut diatas dapat dijumpai pula pada penyakit paru selain TB, seperti bronkiektasis, bronkitis kronis, asma, kanker paru, dan lain-lain.

Mengingat prevalensi TB paru di Indonesia saat ini masih tinggi, maka setiap orang yang datang ke UPK dengan gejala tersebut diatas, dianggap sebagai seorang tersangka (suspek) pasien TB, dan perlu dilakukan pemeriksaan dahak secara mikroskopis langsung pada pasien remaja dan dewasa, serta skoring pada pasien anak.

keberhasilan pengobatan dan menentukan potensi penularan. Pemeriksaan dahak untuk penegakan diagnosis pada semua suspek TB dilakukan dengan mengumpulkan 3 spesimen dahak yang dikumpulkan dalam dua hari kunjungan yang berurutan berupa dahak Sewaktu-Pagi-Sewaktu (SPS). S (sewaktu) yaitu dahak yang dikumpulkan pada saat suspek TB datang berkunjung pertama kali. Pada saat pulang, suspek membawa sebuah pot dahak untuk mengumpulkan dahak pagi pada hari kedua. P (Pagi) yaitu dahak yang dikumpulkan di rumah pada pagi hari kedua, segera setelah bangun tidur. Pot dibawa dan diserahkan sendiri kepada petugas di UPK.S(sewaktu): Dahak dikumpulkan di UPK pada hari kedua, saat menyerahkan dahak pagi.

Diagnosis TB Paru pada orang dewasa ditegakkan dengan ditemukannya kuman TB. Pada program TB nasional, penemuan BTA melalui pemeriksaan dahak mikroskopis merupakan diagnosis utama. Pemeriksaan lain seperti foto toraks, biakan dan uji kepekaan dapat digunakan sebagai penunjang diagnosis sepanjang sesuai dengan indikasinya (Kementerian Kesehatan RI, 2011).

Program Pencegahan dan Pengendalian Tuberkulosis harus bekerjasama dengan laboratorium untuk memastikan pengiriman spesimen yang cepat ke laboratorium dan pelaporan segera hasil apusan BTA, hasil kultur, dan hasil tes kepekaan obat kepada dokter dan departemen kesehatan. Layanan laboratorium harus tersedia untuk menyediakan pematauan respon bakteroilogis terhadap terapi. Kurangnya alat diagnostik sederhana dalam perawatan primer akan menunda diagnosis, membantu penyebaran dan pengembangan resisten pada kasus TB yang menyebabkan biaya dan bahaya besar dalam mengelola kasus

tersebut dengan diagnosis yang tertunda (Salahy, Essawy, Mohammad, Hendy, & Abas, 2016).

2.1.2.3 Pengobatan Tuberkulosis

Pengobatan Tb bertujuan untuk menyembuhkan pasien, mencegah kematian, mencegah kekambuhan, memutuskan rantai penularan dan mencegah terjadinya resistensi kuman terhadap Obat Anti Tuberkulosis (OAT).

2.1.2.3.1 Prinsip-prinsip dalam pengobatan Tuberkulosis

OAT harus diberikan dalam bentuk kombinasi beberapa jenis obat, dalam jumlah cukup dan dosis tepat sesuai dengan kategori pengobatan. Hal ini untuk menjamin keptuhan pasien dalam menelan obat, dilakukan pengawasan langsung (DOT = Directly Observed Treatment) oleh seorang Pengawas Menelan Obat (PMO). Berdasarkan Permenkes RI No. 67 Tahun 2016, pengobatan yang adekuat harus memenuhi prinsip sebagai berikut:

1. Pengobatan yang diberikan dalam bentuk panduan OAT yang tepat mengandung minimal 4 macam obat untuk mencegah terjadinya resisten. 2. Diberikan dalam dosis yang tepat.

3. Ditelan secara teratur dan diawasi secara langsung oleh PMO sampai selesai pengobatan.

4. Pengobatan diberikan dalam jangka waktu yang cukup, terbagi dalam 2 tahap yaitu tahap awal dan tahap lanjutan, sebagai pengobatan yang adekuat untuk mencegah kekambuhan.

Pengobatan Tb harus selalu meliputi pengobatan tahap awal dan tahap lanjutan. Tahap awal yaitu pengobatan yang diberikan setiap dengan tujuan agar

secara efektif menurunkan jumlah kuman yang ada dalam tubuh pasien dan meminimalisir pengaruh dari sevagian kecil kuman yang mungkin sudah resisten sejak sebelum pasien mendapatkan pengobatan.

Pengobatan tahap awal pada semua pasien baru, harus diberikan selama 2 bulan. Pada umumnya dengan pengobatan secara teratur dan tanpa adanya penyulit, daya penularan sudah sangat menurun setelah pengobatan selama 2 minggu pertama. Sedangkan pengobatan tahap lanjutan bertujuan untuk membunuh sisa sisa kuman yang masih ada dalam tubuh, khususnya kuman persister sehingga pasien dapat sembuh dan mencegah terjadinya kekambuhan. 2.1.2.3.2 Panduan OAT lini pertama dan perutukannya

Pengobatan TB dengan paduan OAT Lini Pertama yang digunakan di Indonesia dapat diberikan dengan dosis harian maupun dosis intermiten (diberikan 3 kali perminggu) dengan mengacu pada dosis terapi yang telah direkomendasikan.

Paduan OAT kategori 1 di berikan untuk pasien baru dengan ketentuan sebagai berikut:

1. Pasien TB Paru terkonfirmasi bakteriologis. 2. Pasien TB Paru terdiagnosis klinis.

3. Pasien TB Ekstra Paru.

4. Dosis harian (2(HRZE)/4(HR)).

Sedangkan paduan OAT kategori 2 di berikan untuk pasien BTA positif yang pernah diobati sebelumnya (pengobatan ulang), yaitu:

2. Pasien gagal pada pengobatan dengan panduan OAT kategori 1 sebelumnya. 3. Pasien yang diobatai kembali setelah putus berobat (lost to follow-up). 4. Dosis harian (2(HRZE)S/%(HRE)).

Paduan OAT kategori-1 dan kategori-2 disediakan dalam bentuk paket obat kombinasi dosis tetap (OAT-KDT). Tablet OAT KDT ini terdiri dari kombinasi 2 dan 4 jenis obat dalam satu tablet. Dosisnya disesuaikan dengan berat badan pasien. Paduan ini dikemas dalam 1 (satu) paket untuk 1 (satu) pasien untuk 1 (satu) masa pengobatan. Paket Kombipak adalah paket obat lepas yang terdiri dari Isoniasid (H), Rifampisin (R), Pirazinamid (Z) dan Etambutol (E) yang dikemas dalam bentuk blister. Paduan OAT ini disediakan program untuk pasien yang tidak bisa menggunakan paduan OAT KDT.

2.1.2.4 Pemantauan dan Hasil Pengobatan

Pemantauan kemajuan pengobatan dilakukan dengan pemeriksaan dua contoh uji dahak (sewaktu dan pagi). Hasil dari pemeriksaan mikroskopis semua pasien sebelum memulai pengobatan harus dicatat. Pemeriksaan ulang dahak pasien TB yang terkonfirmasi bakteriologis merupakan suatu cara terpenting untuk menilai hasil kemajuan pengobatan. Semua pasien TB baru yang tidak konversi pada akhir 2 bulan pengobatan tahap awal, tanpa pemberian paduan sisipan, pengobatan dilanjutkan ke paduan tahap lanjutan. Pemeriksaan ulang dahak selanjutnya dilakukan pada akhir bulan ke 5 pengobatan. Apabila hasilnya negatif, pengobatan dilanjutkan hingga seluruh dosis pengobatan selesai dan dilakukan pemeriksaan ulang dahak kembali pada akhir pengobatan. Bilamana hasil pemeriksaan mikroskopis nya positif pasien dianggap gagal pengobatan dan

dimasukkan kedalam kelompok terduga TB-RO.

Tabel. 2.1. Hasil pengobatan pada pasien TB BTA positif

Hasil Pengobatan Definis

Sembuh Pasien TB paru dengan hasil pemeriksaan bakteriologis positif pada awal pengobatan yang hasil pemeriksaan bakteriologis pada akhir pengobatan menjadi negatif dan pada salah satu pemeriksaan sebelumnya.

Pengobatan lengkap

Pasien TB yang telah menyelesaikan pengobatan secara lengkap dimana pada salah satu pemeriksaan sebelum akhir pengobatan hasilnya negatif namun tanpa ada bukti hasil pemeriksaan bakteriologis pada akhir pengobatan.

Gagal Pasien yang hasil pemeriksaan dahaknya tetap positif atau kembali menjadi positif pada bulan kelima atau lebih selama masa pengobatan; atau kapan saja dalam masa pengobatan diperoleh hasil laboratorium yang menunjukkan adanya resistensi OAT.

Meninggal Pasien TB yang meninggal oleh sebab apapun sebelum memulai atau sedang dalam pengobatan.

Putus berobat (loss to follow-up)

Pasien TB yang tidak memulai pengobatannya atau yang pengobatannya terputus terus menerus selama 2 bulan atau lebih.

Tidak dievaluasi Pasien TB yang tidak diketahui hasil akhir pengobatannya. Termasuk dalam kriteria ini adalah ”pasien pindah (transfer

out)” ke kabupaten/kota lain dimana hasil akhir pengobatannya tidak diketahui oleh kabupaten/kota yang ditinggalkan.

2.1.2.5 Pengawasan Menelan Obat

Dalam masa pengobatan akan muncul rasa bosan yang dialami oleh pasien TB Paru. Selain itu, keadaan yang mulai sembuh dan hilangnya gejala-gejala yang dirasakan membuat pasien TB Paru akan melakukan penghentian berobat di fasilitas pelayanan kesehatan sebalum waktunya. Untuk mencegah terjadinya hal tersebut maka perlu adanya pengawasan langsung oleh seorang Pengawas Menelan Obat (PMO) untuk mengawasi pasien TB Paru dalam menelan seluruh obat yang diberikan sesuai anjuran dan mencegah terjadinya resisten obat. Pilihan tempat pemberian pengobatan sebaiknya disepakati bersama pasien agar dapat memberikan kenyamanan. Pasien bisa memilih datang ke fasyankes terdekat dengan kediaman pasien atau PMO datang berkunjung kerumah pasien. Apabila tidak ada faktor penyulit, pengobatan dapat diberikan secara rawat jalan (Kementerian Kesehatan RI, 2011).

2.1.6.1.1 Persyaratan PMO

Untuk menjadi seorang PMO harus memenuhi beberapa persyaratan yang ada, antara lain:

1. Seseorang yang dikenal, dipercaya dan disetujui, baik oleh petugas kesehatan maupun pasien, selain itu harus disegani dan dihormati oleh pasien.

2. Seseorang yang tinggal dekat dengan pasien. 3. Bersedia membantu pasien dengan sukarela.

4. Bersedia dilatih dan atau mendapat penyuluhan bersamasama dengan pasien.

Sebaiknya yang menjadi seorang PMO adalah petugas kesehatan yang ada di wilayan penderita TB Paru, seperti bidan desa, perawat, pekarya, sanitarian, juru imunisasi, dan lain-lain. Bila tidak ada petugas kesehatan yang memungkinkan, PMO dapat berasal dari kader kesehatan, guru, anggota PPTI, PKK, tokoh masyarakat, atau anggota keluarga.

2.1.6.1.2 Tugas seorang PMO

Adapun tugas seorang PMO dalam mengawasi pasien TB Paru dalam meminum obat, antara lain:

1. Mengawasi pasien TB agar menelan obat secara teratur sampai selesai pengobatan.

2. Memberi dorongan kepada pasien agar mau berobat teratur.

3. Mengingatkan pasien untuk periksa ulang dahak pada waktu yang telah ditentukan.

4. Memberi penyuluhan pada anggota keluarga pasien TB yang mempunyai gejala-gejala mencurigakan TB untuk segera memeriksakan diri ke Fasilitas Pelayanan Kesehatan

2.1.6.1.3 Informasi penting yang perlu di pahami PMO

Informasi penting yang perlu di pahami PMO untuk disampaikan kepada pasien dan keluarganya, yaitu :

1. TB disebabkan kuman, bukan penyakit keturunan atau kutukan. 2. TB dapat disembuhkan dengan berobat teratur.

3. Cara penularan TB, gejala-gejala yang mencurigakan dan cara pencegahannya.

4. Cara pemberian pengobatan pasien (tahap intensif dan lanjutan). 5. Pentingnya pengawasan supaya pasien berobat secara teratur.

6. Kemungkinan terjadinya efek samping obat dan perlunya segera meminta pertolongan ke Fasyankes.

Tidak adanya PMO dapat membuat pasien TB menghentikan pengobatannya dikarenakan pasien tidak mengajak keluarganya saat pasien melakukan pemeriksaan dan pengambilan obat, hal tersebut terjadi karena penunjukan PMO oleh petugas BP4 hanya kepada keluarga pasien yang ikut dengan pasien. Keberadaan PMO sangat penting baik untuk kesembuhan pasien dan untuk memberi penyuluhan penyakit TB (Nugroho, 2011).

2.1.2.6 Efek Samping OAT

Pada Fasyankes Rujukan penanganan kasus-kasus efek samping obat dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:

1. Bila jenis obat penyebab efek samping itu belum diketahui, maka pemberian kembali OAT harus dengan cara “drug challenging” dengan menggunakan obat lepas. Hal ini dimaksudkan untuk menentukan obat mana yang merupakan penyebab dari efek samping tersebut.

2. Efek samping hepatotoksisitas bisa terjadi karena reaksi hipersensitivitas atau karena kelebihan dosis. Untuk membedakannya, semua OAT

dihentikan dulu kemudian diberi kembali sesuai dengan prinsip dechallenge-rechalenge. Bila dalam proses rechallenge yang dimulai dengan dosis rendah sudah timbul reaksi, berarti hepatotoksisitas karena reakasi hipersensitivitas.

3. Bila jenis obat penyebab dari reaksi efek samping itu telah diketahui, misalnya pirasinamid atau etambutol atau streptomisin, maka pengobatan TB dapat diberikan lagi dengan tanpa obat tersebut. Bila mungkin, ganti obat tersebut dengan obat lain. Lamanya pengobatan mungkin perlu diperpanjang, tapi hal ini akan menurunkan risiko terjadinya kambuh. 4. Kadang-kadang, pada pasien timbul reaksi hipersensitivitas (kepekaan)

terhadap Isoniasid atau Rifampisin. Kedua obat ini merupakan jenis OAT yang paling ampuh sehingga merupakan obat utama (paling penting) dalam pengobatan jangka pendek. Bila pasien dengan reaksi hipersensitivitas terhadap Isoniasid atau Rifampisin tersebut HIV negatif, mungkin dapat dilakukan desensitisasi. Namun, jangan lakukan desensitisasi pada pasien TB dengan HIV positif sebab mempunyai risiko besar terjadi keracunan yang berat.

2.1.2.7 Sumber Daya

Tanggung jawab pelaksanaan Program Penanggulangan TB berada di Kabupaten/Kota yang didukung fasilitas kesehatan primer yaitu Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama Rujukan Mikroskopis TB (FKTPRM), yaitu puskesmas dengan laboratorium yang mampu melakukan pemeriksaan mikroskopis dahak dan menerima rujukan. Serta fasilitas kesehatan tingkat

lanjutan yaitu Fasiltas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjut (FKRTL) yang dapat melakukan pemeriksaan mikroskopis dan mengambil peran sebagai rujukan mikroskopis. Didukung fasilitas kesehatan lainnya (seperti lapas, rutan, tempat kerja dan klinik) yang telah menjadi bagian jejaring di wilayah Kabupaten/Kota. Fasilitas Pelayanan Kesehatan bertanggung jawab untuk mendiagnosis, mengobati dan monitoring kemajuan pengobatan yang didukung Pengawas Menelan Obat (PMO) serta anggota keluarga. Puskesmas harus menetapkan dokter, perawat, dan analis laboratorium terlatih. Sarana dan prasarana yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan program Penanggulangan TB.

Kepala Dinas Kesehatan Kota sebagai penanggung jawab semua program dan fasilitas kesehatan di wilayah kerjanya, termasuk Penanggulangan TB. Selain itu, membentuk unit kerja yang terdiri dari tenaga kesehatan dengan kompetensi di bidang kesehatan masyarakat dan tenaga non kesehatan dengan kompetensi tertentu.

Di tingkat provinsi penanggulangan TB dilaksanakan berdasar struktur yang ada sesuai tugas dan fungsinya dan dibantu Tim TB yang terdiri dari, Petugas Pengelola Program TB Provinsi (wasor TB), Tim Pelatih Provinsi (TPP), unit terkait di jajaran Dinas Kesehatan Kota provinsi dan petugas lainnya (Kementerian Kesehatan RI, 2016).

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Mohamed Gedi Qayad dan Gianfranco Tarsitani (2017) di Somalia, menunjukkan bahwa rendahnya dukungan sumber daya dan manajemen menyebabkan penurunan keberhasilan pengobatan dalam program TB dengan banyaknya pasien yang tidak melanjutkan

pengoabatan. Sumber daya dan tenaga masyarakat seperti LSM yang berdedikasi dalam pengelolaan program pengendalian penyakit TB memiliki peran penting dalapam upaya promosi kesehatan, pencegahan penyakit, dan program pengendalian kesehatan lainnya (Qayad & Tarsitani, 2017).

2.1.2.8 Pelaporan

Berdasarkan Peraturan Pemerintah RI No 46 tahun 2014 tentang Sistem Informasi Kesehatan khusunya pada pasal 44 ayat 1 dapat diketahui bahwa Pemerintah dan Pemerintah Daerah memfasilitasi penyediaan sumber daya Sistem Informasi Kesehatan untuk memperlancar penyelenggaraan Sistem Informasi Kesehatan. Sumber daya yang dimaksud meliputi perangkat dan sumber daya manusia. Berdasarkan Permenkes Nomor 67 tahun 2016 tentang penanggulangan tuberkulosis, Data untuk program Penanggulangan TB diperoleh dari sistem pencatatan-pelaporan TB. Pencatatan menggunakan formulir baku secara manual didukung dengan sistem informasi secara elektronik, sedangkan pelaporan TB menggunakan sistem informasi elektronik. informasi.

Penerapan sistem informasi TB secara elektronik disemua faskes dilaksanakan secara bertahap dengan memperhatikan ketersediaan sumber daya di wilayah tersebut. Sistem pencatatan-pelaporan TB secara elektronik menggunakan Sistem Informasi TB yang berbasis web dan diintegrasikan dengan sistem informasi kesehatan secara nasional dan sistem informasi publik yang lain. Pencatatan dan pelaporan TB diatur berdasarkan fungsi masing-masing tingkatan pelaksana.

Program pengendalian TB harus memelihara sistem catatan terkomputerisasi (registry kasus) dengan informasi terkini tentang semua kasus

TB di masyarakat. Hal ini untuk memastikan tindak lanjut dari semua pasien TB dan orang-orang yang dicurigai menderita TB yang melakukan pengobatan di pelayanan kesehatan. informasi yang tersedia berupa hasil apusan, kultum klinis, hasil radigrafi dada, dan dosis obat yang diberikan harus diperoleh dan diperbarui secara berkelanjutan (Elsayed, et al., 2015).

Dokumen terkait