Pengembangan Ekonomi Lokal Berbasis Pertanian
6.2. Kopi Indonesia
6.2.1. Kopi arabika Sumatera Utara
Provinsi Sumatera Utara merupakan produsen terbesar kopi arabika di Indonesia. Produksi tahun 2010 mencapai 46.814 ton dengan pertumbuhan 4,59% per tahun periode 2006–2010. Jumlah produksi ini memberikan kontribusi sebesar 33,20% dari produksi kopi arabika nasional. Posisi kedua ditempati oleh Provinsi NAD (Aceh) dengan produksi 39.457 ton dengan tingkat pertumbuhan 9,79% per tahun pada periode 2006–2010. Posisi ketiga sampai lima besar adalah Provinsi Sulawesi Selatan, Sumatera Barat, dan NTT (Ditjen Perkebunan 2012). Wilayah penghasil kopi arabika spesialti terkenal di berbagai provinsi tersebut antara lain adalah Kabupaten Simalungun, Dairi, Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan, dan Karo (Sumatera Utara); Aceh Tengah, Bener Meriah, Gayo Lues (NAD); Tana Toraja dan Enrekang (Sulawesi Selatan), Manggarai dan Ngada (NTT), Kintamani (Bali), dan beberapa wilayah di pegunungan Papua (Mawardi 2007). Secara nasional, produksi kopi arabika mencapai 140.512 ton pada 2010 dengan tingkat pertumbuhan rata-rata periode 2006–2010 sebesar 10,31%. Jumlah produksi kopi arabika ini hanya 21% dari produksi total kopi nasional sebesar 657.909 ton, di mana 517.397 ton (79%) merupakan produksi kopi robusta (Ditjen Perkebunan 2012). Gambar 20 menunjukkan perkembangan produksi kopi arabika nasional tahun 2006–2012.
Berdasarkan data Ditjen Perkebunan (2011), status pengusahaan perkebunan rakyat di Provinsi Sumatera Utara merupakan produsen terbesar kopi arabika di Indonesia dengan produksi total sebesar 46.657 ton pada 2010. Pada posisi kedua ditempati oleh Provinsi NAD dengan produksi total 39.457 ton, disusul Sulawesi Selatan (21.798 ton), Sumatera Barat (14.788 ton), NTT (4.878 ton), Bali (3.254 ton), Jawa Timur (2.485 ton), Papua (1.360 ton) dan provinsi lainnya sebesar 455 ton (Tabel 41).
0 5.000 10.000 15.000 20.000 25.000 30.000 35.000 40.000 45.000 50.000 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 P rodu ks i ( ton
) Sumatera Utara Aceh
Sulawesi Selatan Sumatera Barat
NTT Bali
Jawa Timur
Gambar 20.
Perkembangan produksi kopi arabika per provinsi Sumber: Ditjen Perkebunan (2012)
Tabel 41.
Luas kebun, produksi, produktivitas, dan jumlah petani perkebunan rakyat kopi arabika di Indonesia menurut provinsi tahun 2010
Provinsi Luas kebun (ha) Produksi (ton) Produktivitas (kg/ha/thn) petani (RT)Jumlah
TM Total ton % Sumatera Utara 40.949 58.418 46.657 33,20 1.139 119.630 NAD 25.164 58.080 39.457 28,08 1.568 61.102 Sulawesi Selatan 29.181 44.312 21.798 15,51 747 66.389 Sumatera Barat 17.205 19.809 14.788 10,52 860 20.265 NTT 8.599 16.917 4.878 3,47 567 27.288 Bali 5.939 9.448 3.254 2,32 548 15.692 Jawa Timur 4.217 8.569 2.485 1,77 589 78.770 Sulawesi Barat 4.679 7.627 2.162 1,54 462 10.013 Bengkulu 2.352 5.318 1.733 1,23 737 2.977 Jawa Tengah 2.972 4.595 1.485 1,06 500 22.739 Papua 2.889 7.043 1.360 0,97 471 11.195 Lainnya 834 1.885 455 0,33 546 2.793 Indonesia 144.980 242.021 140.512 100 969 438.853
Keterangan: wujud produksi adalah kopi biji (green coffee) Sumber: Ditjen Perkebunan (2012)
Dari sisi jumlah petani yang mengelola usaha tani kopi arabika, terdapat 438.853 rumah tangga yang terlibat langsung dengan komoditas ini pada 2010. Jika diasumsikan terdapat rata-rata empat jiwa dalam setiap rumah tangga, maka terdapat 1,76 juta jiwa yang menggantungkan hidupnya pada usaha tani kopi arabika. Jika digabungkan dengan usaha tani kopi robusta, jumlah tersebut menjadi lebih besar lagi. Pada tahun yang sama, jumlah rumah tangga yang terlibat pada usaha tani perkebunan rakyat kopi robusta mencapai 1.442.841 rumah tangga atau sekitar 5,77 juta jiwa. Dengan demikian, setidaknya terdapat sejumlah 7,53 juta jiwa penduduk Indonesia yang sebagian kehidupannya ditopang oleh komoditas kopi arabika dan kopi robusta. Angka ini masih berada di tingkat usaha tani, belum dihitung di tingkat hulu dan hilir berupa kaitan ke belakang dan kaitan ke depan (backward dan
forward linkages) sebagai dampak pengembangan komoditas ini di
tingkat usaha tani.
Gambar 21.
Luas kebun, produksi dan jumlah petani pada perkebunan rakyat kopi arabika di Indonesia tahun 2010 (Sumber: Ditjen Perkebunan, 2012)
Produksi kopi arabika Sumatera Utara mendominasi produksi total Indonesia sebesar 33,2%, disusul NAD (28,08%),
Sulawesi Selatan (15,51%), dan Sumatera Barat (10,52%). Sekitar 88% produksi kopi arabika di Indonesia dihasilkan di empat provinsi, yaitu Sumatera Utara, NAD, Sulawesi Selatan, dan Sumatera Barat. Dengan kata lain, sekitar 73% produksi total kopi arabika Indonesia dihasilkan di pulau Sumatera. Meskipun Sumatera Utara menempati posisi teratas dalam produksi total, namun dilihat dari sisi produktivitas, provinsi ini masih kalah produktif dari NAD (Gambar 21).
Produktivitas kopi arabika di Sumatera dapat mencapai 1.139 kg/ha/tahun, namun masih berada di posisi kedua setelah NAD dengan produktivitas tertinggi sebesar 1.568 kg/ha/tahun. Kinerja produktivitas di sembilan provinsi lainnya masih berada di bawah 1.000 kg/ha/tahun. Bahkan, di Papua dan Sulawesi Barat, kinerja produktivitasnya di bawah 500 kg/ha/tahun yaitu hanya 471 dan 462 kg/ha/tahun. Secara nasional, produktivitas kopi arabika di Indonesia tahun 2010 adalah 969 kg/ha/tahun. Pangsa produksi kopi arabika dan produktivitas usaha tani kopi arabika menurut provinsi disajikan pada Gambar 22.
Sumatera Utara 33% NAD 28% Sulawesi Selatan 16% Sumatera Barat 11% NTT 3% Bali 2% Lainnya7% 462471 500546 548567 589737 747860 1.1391.568
Sulawesi BaratPapua Jawa TengahLainnya Bali NTT Jawa TimurBengkulu Sulawesi SelatanSumatera Barat Sumatera UtaraNAD
Gambar 22.
Pangsa produksi dan produktivitas kopi arabika (kg/ha/tahun) per provinsi Sumber: Ditjen Perkebunan (2012)
Data tahun 2009 (BPS 2010) menunjukkan bahwa Kabupaten Simalungun merupakan penghasil kopi arabika ketiga terbesar di Sumatera Utara, setelah Kabupaten Dairi dan Tapanuli Utara.
Paling tidak terdapat lima kabupaten penghasil kopi arabika yang utama di Sumatera Utara, yaitu Kabupaten Dairi, Tapanuli Utara, Simalungun, Karo dan Humbang Hasundutan.
Dilihat dari aspek pertumbuhan jumlah produksi, Kabupaten Dairi (3,68% per tahun) dan Karo (8,13% per tahun) mengalami fluktuasi yang relatif besar dibandingkan dengan tiga kabupaten lainnya. Tren perkembangan positif terjadi di Kabupaten Simalungun dan Tapanuli Utara (2,75% per tahun), sementara Humbang Hasundutan tren negatif namun relatif stabil (-0,94% per tahun). Secara khusus, terjadi tren perkembangan positif yang mengesankan di Kabupaten Simalungun (11,63% per tahun). Kabupaten Tapanuli Selatan dengan tren negatif yang sangat besar (-19,59% per tahun), yang semula merupakan produsen kopi ketiga terbesar pada 2001, kini terus mengalami penurunan produksi sampai pada titik terendah di tahun 2009 (Gambar 23).
0 2.000 4.000 6.000 8.000 10.000 12.000 14.000 16.000 18.000 20.000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Pr oduk si ( ton)
Dairi Tapanuli Utara Simalungun
Karo Humbahas Tapanuli Selatan
Gambar 23.
Perkembangan produksi kopi Sumatera Utara tahun 2001-2009 Sumber: BPS Sumatera Utara (2011)
Dari aspek pangsa produksi, kopi arabika Sumatera Utara dipasok dari Kabupaten Dairi sebesar 22%, disusul Kabupaten Tapanuli Utara (20%), Simalungun (15%), Karo (14%), Humbahas (12%), dan kabupaten lainnya (Toba Samosir, Samosir, Pakpak Bharat,
Deli Serdang, dan Madina) sebesar 17%. Dari sisi produktivitas, dari lima kabupaten penghasil utama kopi arabika, Kabupaten Simalungun menempati posisi tertinggi dengan produktivitas rata-rata sebesar 1.500 kg/ha/tahun. Posisi produktivitas tertinggi kedua ditempati oleh Kabupaten Karo (1.472 kg), disusul Kabupaten Dairi (1.269 kg), Kabupaten Tapanuli Utara (1.054 kg), dan Kabupaten Humbahas, hanya 788 kg.