BAB 5 Hasil dan Pembahasan
2. Pembahasan
2.2 Koping yang Digunakan Lansia
2.2.1 Merasa optimis mengenai masa depan
Hasil penelitian ini menunjukkan koping lansia merasa optimis mengenai masa depan, mayoritas responden diperoleh 39 responden (73,6%) sangat setuju bahwa adanya harapan akan kesembuhan penyakitnya. Hal ini sesuai dengan penelitian Baldree, Murphy, dan Powers (1982, dalam Yani, 1997) melaporkan bahwa salah satu metode koping yang paling sering digunakan oleh individu adalah berharap keadaan akan lebih baik. Selain itu, juga sesuai dengan teori yang mengatakan bahwa panjang umur, semakin hadir dalam siklus kehidupan manusia, hasil dalam situasi yang ambigu, yaitu keinginan untuk hidup lebih lama dan pada saat yang sama takut hidup ketergantungan dan penyandang cacat (Josiane, 2009).
Pebelitian yang dilakukan oleh para psikolog di Carnegie-Mellon University, Pittsburgh, menunjukkan bahwa orang yang optimis lebih bisa mengatasi stres daripada orang yang pesimis. Para psikolog ini mendapati bahwa orang yang optimis cenderung memberi respons terhadap kekecewaan dengan membuat rencana tindakan dan minta bantuan serta nasihat orang lain. Sedangkan orang yang pesimis, bila menemui kesulitan, sering kali berusaha melupakan segalanya dan menganggap tidak ada yang bisa mereka lakukan untuk mengubah keadaan.
2.2.2 Menggunakan dukungan sosial
Koping dengan cara menggunakan dukungan sosial, mayoritas responden diperoleh 43 responden (81,1%) sangat setuju bahwa mereka mendapat perhatian. Hasil penelitian ini sesuai dengan pendapat Weisman (1979, dalam Keliat, 1998) bahwa salah satu koping yang biasa digunakan individu untuk menangani stres adalah kebersamaan dengan berbagi rasa dan mengungkapkan perasaannya dengan berbicara kepada orang lain. Selain itu, sesuai dengan hasil penelitian Andrew and Robinson 1991 dalam skripsi Gambaran Psychological Well-Being pada Lansia yang terlibat dalam kelompok Kencana oleh Endah Puspita Sari (2004) menemukan bahwa dukungan sosial dari lingkungan sekitar individu akan sangat mempengaruhi psychological well-being yang dirasakan oleh individu tersebut. Dalam skripsi tersebut juga dijelaskan bahwa kesempatan untuk bertemu dengan teman-teman yang sebaya dapat membuka kesempatan pada individu usia lanjut untuk belajar dari pengalaman hidup individu lain dan menginterpretasikan kembali pengalaman
hidupnya sehingga akan membantu indivisu tersebut dalam mengontrol pengalaman emosi positif atau negatif. Dengan memiliki teman, individu usia lanjut akan merasa memiliki dukungan sosial di luar keluarganya, menimbulkan perasaan dihargai dan diinginkan meskipun mereka sudah mengalami kemunduran dan keterbatasan. Hasl penelitian ini juga sesuai dengan apa yang diungkapkan oleh Lazarus dan Folkman dikutip dalam Wortman (1999), bahwa strategi koping yang berfokus pada masalah salah satunya penggunaan dukungan sosial, yaitu mencari penyelesaian atau berpaling pada orang lain untuk mendapatkan kenyamanan dan nasehat bagaimana mengatasi stres atau mengandalkan teman dan keluarga untuk memberikan nasehat dan anjuran.
Menurut Niven (2002) bahwa dukungan keluarga dapat membantu meningkatkan mekanisme koping individu dengan memberikan dukungan emosi dan saran-saran mengenai strategis alternatif yang didasarkan pada pengalaman sebelumnya dan mengajak orang lain berfokus pada aspek-aspek yang lebih positif. Dari hasil wawancara dan pengamatan yang dilakukan Atinah dan Winarsih pada tahun 2008 bahwa pasien diabetes melitus dengan kecemasan sedang mengharapkan dukungan berupa dukungan emosi, saran dan informasi dari keluarga, dan petugas kesehatan (dokter dan perawat) yang berkaitan dengan penyakitnya. Sehingga selain pengobatan medis adanya dukungan sosial yang positif akan membantu seseorang untuk beradaptasi lebih baik secara emosional dengan mencegah perasaan cemas dan sedih yang berlarut-larut terhadap penyakitnya (Atkinson, 1997).
2.2.3 Menggunakan sumber spiritual
Koping klien dengan menggunakan sumber spiritual, diperoleh 48 responden (90,6%) sangat setuju bahwa mereka percaya Tuhan akan memberikan kesembuhan. Sesuai dengan pendapat Setyabudhi (1999, dalam Nugroho, 2000) bahwa maut sering kali menggugah rasa takut dikarenakan bahwa mereka sadar akan penyakit yang diderita dan dekat dengan kematian sehingga cenderung menggunakan segi spiritual dalam menghadapinya. Hal ini juga erat kaitannya dengan teori bahwa lansia yang jika mengalami konflik dalam dirinya untuk mempertahankan aspek yang positif maka penting bagi lansia untuk tetap mempertahankan aspek spiritual yang dimilki. Berger dan William (1992) juga menjelaskan bahwa salah satu strategis koping yang berfokus pada masalah adalah berdoa pada Tuhan. Selain itu, berdasarkan hasil penelitian Atinah dan Winarsih (2008) menunjukkan bahwa pasien diabetes melitus yang mengalami kecemasan sedang juga melakukan pendekatan religius dengan cara berdzikir, berdoa sesuai dengan keyakinan masing-masing dan melakukan sholat meskipun dengan berbaring. Dengan melakukan pendekatan religius tersebut, kebanyakan pasien dapat merasakan ketenangan batin sehingga mampu mengendalikan kecemasannya dan melakukan koping yang adaptif. Hasil penelitian DR. Tony Styobuhi bahwa umumnya pada waktu kematian akan datang agama atau kepercayaan seseorang merupakan factor yang penting sekali. Pada waktu inilah kelahiran seorang iman sangat perlu untuk melapangkan dada klien lanjut usia.
2.2.4 Mengontrol situasi dan perasaan
Berdasarkan koping lansia mengontrol situasi dan perasaan, mayoritas responden diperoleh 25 responden (47,2%) tidak setuju dapat tidur lebih dari waktu biasanya, dan 25 responden (47,2%) sangat setuju untuk menolak jika dikatakan pembawa masalah. Hasil penelitian yang menunjukkan 47,2% responden tidak setuju dapat tidur lebih dari waktu biasanya sesuai dengan yang dikemukakan oleh DR. Tony Styobuhi bahwa pada lansia terjadi gangguan pola tidur berhubungan dengan insomnia dalam waktu lama, terbangun lebih awal atau terlambat bangun dan penurunan kemampuan fungsi yng ditandai dengan penuaan perubahan pola tidur dan cemas. Dan hasil penelitian ini tidak sesuai dengan pendapat Arya (2009) bahwa dalam kehidupan lansia agar dapat tetap menjaga kondisi fisik yang sehat, maka perlu menyelaraskan kebutuhan-kebutuhan fisik dengan kondisi psikologik maupun sosial, sehingga mau tidak mau harus ada usaha untuk mengurangi kegiatan yang bersifat memforsir fisiknya. Seorang lansia harus mampu mengatur cara hidupnya dengan baik, misalnya makan, tidur, istirahat dan bekerja secara seimbang. Namun, biasanya pada masa lansia terjadi gangguan pada tidurnya, seperti insomnia (BKKBN, 2006). Pada 2009 American Academy of Neurology Rapat Tahunan di Seattle pada tanggal 28 April, para peneliti melaporkan bahwa 59 persen dari 892 orang usia 70-89 sudah mengalami satu gangguan tidur yang diakui yaitu insomnia (Nosworthy, 2009). Dalam National Institute on Aging studi lebih dari 9.000 orang berusia 65 dan lebih tua, lebih dari separuh dari orang-orang melaporkan sedikitnya satu keluhan tidur kronis. Dibandingkan dengan orang-orang muda, senior cenderung untuk mencapai
total kurang tidur malam hari. Secara keseluruhan, siklus bangun-tidur pada lansia dapat mengalami fragmentasi, dengan bangun siang hari disela oleh tidur dan tidur malam hari terganggu. tidur siang sering senyawa situasi, dengan mengurangi dorongan untuk tidur pada jam tidur biasa.
2.2.5 Menerima kenyataan yang ada
Berdasarkan koping lansia yang mencoba menerima kenyataan yang ada mayoritas responden diperoleh 30 responden (56,6%) sangat setuju untuk menerima perubahan fisik. Bagi seseorang atau sekelompok orang, pertambahan usia cenderung membawa serta makin besarnya kesadaran akan datangnya kematian, dan kesadaran ini menyebabkan sebagian besar orang yang berusia tua tidak merasa takut terhadap kematian. Kematian diterima sebagai sahabat (Raymont, 2001). Penerimaan kenyataan yang ada pada lansia juga berkaitan dengan koping lansia berupa dukungan sosial, sesuai dengan pendapat Murtiningsih (2009) bahwa keluarga dan lingkungan sosial yang ada diharapkan dapat memberi kebahagiaan dan dukungan kepada lansia, karena hal tersebut berpengaruh terhadap penerimaan diri lansia. Untuk itu perlu diperhatikan adanya dukungan sosial di sekitarnya untuk mendukung adanya penerimaan terhadap kondisi yang dialami oleh lansia tersebut. Syamsuddin (2008) juga mengatakan bahwa masa lansia adalah sebuah kenyataan yang perlu diterima dengan iklhas dan apa adanya, tidak menyalahkan masa lalu apalagi ingin kembali pada masa lalu atau dengan kata lain terlalu membanding-bandingkan antara kondisi dimasa muda dengan masa sekarang, seorang lansia seyogyanya memiliki konsep
untuk menikmati kehidupannya saat ini. Seperti ungkapan bijak mengatakan bahwa masalalu tidak mungkin dirubah masa depan belum tentu datang yang bisa dirubah adalah apa yang dialami sekarang, tentunya adalah lebih kepada pemahaman dan pemaknaan setiap peristiwa hidup dengan melihatnya secara lebih positif dan bijaksana.selanjutnya, masa lansia mestinya tetap produktif dengan mengisi berbagai kegiatan yang positif seperti olah raga, baca buku, bersosialisasi, aktif dalam kegiatan keagamaan dan menjaga pola hidup yang sehat seperti tidak merokok, menghindari makanan yang berlemak dan kolesterol tinggi. Produktivitas akan meningkatkan rasa harga diri dan kebermaknaan hidup lansia, dengan melakukan pekerjaan baru atau memberikan perhatian pada hal-hal tertentu dan memberikan manfaat pada orang lain dan lingkungan tentunya memberikan nilai plus tersendiri.