• Tidak ada hasil yang ditemukan

Korelasi Antara Aktivitas Trypsin Inhibitor Pada Sengon

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.2 Korelasi Antara Aktivitas Trypsin Inhibitor Pada Sengon

Berdasarkan Tabel 6, korelasi antara TUI dengan parameter pertumbuhan larva besar banyak yang berkorelasi negatif pada bagian kulit yaitu sebanyak 6 korelasi sedangkan pada bagian batang hanya memiliki 2 korelasi negatif. Hasil ini membuktikan bahwa pada pengukuran pertumbuhan larva besar dengan aktivitas trypsin inhibitor lebih signifikan pada bagian kulit. Tabel 2 juga menunjukkan bahwa pohon sengon sakit lebih banyak yang berkorelasi negatif daripada pohon sehat. Seperti yang dikutip dari Djati (2009), kandungan trypsin

inhibitor yang lebih besar pada kulit mengindikasikan bahwa kulit adalah perlindungan utama pada sengon dari serangan boktor.

Tabel 6 Korelasi antara aktivitas Trypsin inhibitor pada bagian dan kondisi pohon sengon dengan parameter pertumbuhan larva besar dalam artificial diet

Bagian Kondisi TUI vs Berat Larva TUI vs Diameter Larva TUI vs Panjang Larva TUI vs Konsumsi Diet Batang Sehat + + - + Sakit + + - + Kulit Sehat + - - + Sakit - - - - Keterangan : + = berkorelasi positif - = berkorelasi negatif

Tingginya aktivitas trypsin inhibitor pada kulit dikarenakan kulit banyak mengandung sel-sel hidup yang memiliki mitokondria yang mengandung anti protein enzim trypsin yang bekerja pada boktor (Winarni 2003). Hal ini menyebabkan larva besar tidak suka menyerang pohon sakit, karena dalam pertumbuhannya larva besar lebih membutuhkan karbohidrat yang umumnya terdapat pada bagian batang.

Gambar 5 memperlihatkan korelasi antara TUI dengan parameter pertumbuhan larva kecil lebih banyak berpengaruh/korelasi positif, baik pada berat larva sebesar 0,122, diameter kepala larva 0,218 dan konsumsi larva sebesar 0,256. Pada batang sehat, hanya pada parameter panjang larva yang memiliki korelasi negatif sebesar -0,05 dengan aktivitas trypsin inhibitor.

Gambar 5 Histogram korelasi antara aktivitas Trypsin inhibitor pada batang sehat dengan parameter pertumbuhan larva ukuran besar pada batang sehat.

Sama halnya dengan batang sehat, Gambar 6 yang memperlihatkan korelasi antara TUI dengan pertumbuhan larva besar pada batang sakit juga banyak yang berkorelasi positif. Korelasi positif paling besar ditemukan pada parameter konsumsi larva sebesar (0,205), sedangkan parameter yang memperlihatkan korelasi negatif hanya ditemukan pada panjang larva yaitu sebesar -0,009.

Gambar 6 Histogram korelasi antara aktivitas Trypsin inhibitor pada batang sakit dengan parameter pertumbuhan larva ukuran besar pada batang sakit.

Hal ini membuktikan bahwa aktivitas trypsin inhibitor pada bagian batang tidak memberikan pengaruh pada pertumbuhan larva besar. Hasil tersebut sesuai

dengan Prasetya (2007) rendahnya enzim trypsin pada larva ukuran besar disebabkan karena dalam masa transisi antara stadium larva dan stadium pupa sehingga makanan yang dimakan sedikit.

Gambar 7 Histogram korelasi antara aktivitas Trypsin inhibitor pada batang sehat dengan parameter pertumbuhan larva ukuran besar pada kulit sehat.

Pengamatan pada bagian kulit sehat, antara TUI dengan parameter pertumbuhan larva ukuran besar terdapat 2 pengamatan yang berkorelasi negatif, yaitu diameter kepala larva sebesar -0,034 dan panjang larva sebesar -0,106 seperti histogram pada Gambar 7. Pada parameter berat larva dan konsumsi larva dengan TUI memperlihatkan korelasi positif, masing-masing sebesar 0,154 dan 0,110.

Pada Gambar 8 yang memperlihatkan korelasi pada bagian kulit sakit, keempat parameter pertumbuhan larva besar bernilai negatif. Korelasi tersebut ditemukan pada parameter berat larva sebesar -0,123, diameter kepala larva sebesar -0,266, panjang larva sebesar -0,168 dan konsumsi larva sebesar -0,299. Hasil ini membuktikan bahwa pada bagian kulit banyak mengandung trypsin

inhibitor yang menyebabkan pengaruh negatif terhadap pertumbuhan larva seperti: menurunnya berat, ukuran diameter kepala, panjang larva dan jumlah konsumsi larva tersebut.

Gambar 8 Histogram korelasi antara aktivitas Trypsin inhibitor pada kulit sakit dengan parameter pertumbuhan larva ukuran besar pada kulit sakit. Parameter yang paling konsisten digunakan dalam menguji korelasi

trypsin inhibitor pada larva besar adalah panjang larva, karena baik dari batang maupun kulit, panjang larva panjang larva banyak berkorelasi negatif.

4.3 Korelasi Antara Aktivitas alfa-amylase Inhibitor Pada Sengon Dengan Pertumbuhan Larva Boktor Ukuran Kecil Dalam Artificial Diet

Berdasarkan Tabel 7 korelasi antara aktivitas alfa-amylase inhibitor (AUI /

Alfa-amylase Unit Inhibited) dengan pertumbuhan larva boktor kecil, bagian batang lebih banyak memperlihatkan korelasi negatif dibandingkan dengan bagian kulit yaitu sebanyak 6 korelasi. Parameter yang kuat memperlihatkan korelasi ini adalah berat larva dan panjang, yang selalu bernilai negatif pada batang sehat dan batang sakit.

Tabel 7 Korelasi antara aktivitas Alfa-amylase dengan parameter pertumbuhan larva kecil dalam artificial diet

Bagian Kondisi AUI vs Berat Larva AUI vs Diameter Larva AUI vs Panjang Larva AUI vs Konsumsi Diet Batang Sehat - - - + Batang Sakit - + - - Kulit Sehat + - + + Kulit Sakit - - - + Keterangan : + = berkorelasi positif - = berkorelasi negatif

Pada bagian kulit, hanya pada diameter larva yang memperlihatkan tingginya aktivitas alfa-amylase inhibitor sehingga berpengaruh buruk pada perkembangan larva kecil. Banyaknya parameter yang berkorelasi negatif terhadap alfa-amylase inhibitor paling baik pada kondisi sehat maupun sakit. menunjukkan bahwa itu sebanyak 6 korelasi. Untuk sengon kondisi sehat hanya ditemukan 4 korelasi negatif, yang berarti aktivitas alfa-amylase inhibitor tinggi pada pohon sakit kurang disukai larva kecil.

Gambar 9 Histogram korelasi antara aktivitas alfa-amylase inhibitor pada batang sehat dengan parameter pertumbuhan larva ukuran kecil pada batang sehat.

Pada histogram batang sehat pada Gambar 9 menunjukkan 3 parameter pertumbuhan larva kecil berkorelasi negatif terhadap AUI. Parameter tersebut adalah berat larva 0,184), diameter kepala larva 0,075), dan panjang larva (-0,287) sedangkan pada konsumsi larva berkorelasi positif sebesar (0,096). Histogram ini membuktikan menurunnya pertumbuhan larva kecil pada batang sengon sehat, hal ini disebabkan oleh tingginya kandungan alfa-amylase inhibitor pada batang.

Korelasi antara aktivitas alfa-amylase inhibitor dengan pertumbuhan larva kecil yang ditampilkan Gambar 10, memperlihatkan 3 parameter pertumbuhan larva berkorelasi negatif. Bedasarkan histogram tersebut, semakin tinggi kandungan alfa-amylase inhibitor pada batang sakit akan mengurangi berat sebanyak -0,043, panjang sebanyak -0,041 dan jumlah konsumsi larva kecil sebanyak -0,065.

Gambar 10 Histogram korelasi antara aktivitas alfa-amylase inhibitor pada batang sakit dengan parameter pertumbuhan larva ukuran kecil pada batang sehat.

Berbeda dengan bagian batang, pada bagian kulit (Gambar 11) umumya histogram menunjukkan hubungan positif antara AUI dengan pertumbuhan larva kecil. Pada kulit sehat hanya ditemukan satu parameter yang berkorelasi negatif dengan AUI, yaitu diameter kepala larva sebesar -0,746. Sedangkan parameter pertumbuhan larva kecil lainnya berkorelasi negatif. Dari data ini terlihat bahwa aktivitas alfa-amylase inhibitor pada kulit sehat dapat diatasi oleh larva kecil.

Gambar 11 Histogram korelasi antara aktivitas alfa-amylase inhibitor pada kulit sehat dengan parameter pertumbuhan larva ukuran kecil pada kulit sehat.

Pada kulit sakit (Gambar 12) ditemukan 3 parameter yang berkorelasi negatif terhadap aktivitas alfa-amylase inhibitor yaitu berat (-0,026), diameter kepala (-0,326) dan panjang larva (0,096). Pada larva ukuran kecil aktivitas enzim

alfa-amylase relatif rendah, dimana dalam kondisi tersebut larva sedang tidak banyak memakan atau mencerna pati yang terdapat pada tanaman sengon (Prasetya 2007), sehingga aktivitas alfa-amylase yang terlalu tinggi cukup berakibat buruk untuk larva ukuran kecil.

Gambar 12 Histogram korelasi antara aktivitas alfa-amylase inhibitor pada kulit sakit dengan parameter pertumbuhan larva ukuran kecil pada kulit sakit.

Rendahnya rata-rata memakan dapat menyebabkan rendahnya aktivitas enzim. Untuk bagian pohon, yang memberi respon negatif paling banyak ditemukan pada bagian batang. Data ini sesuai dengan (Djati 2009) dimana aktivitas alfa-amylase inhibitor pada batang lebih tinggi dibandingkan dengan bagian kulit. Selain itu bagian batang mengandung banyak karbohidrat sehingga boktor mensintesa enzim amylase untuk mencerna karbohidrat tersebut.

4.4 Korelasi Antara Aktivitas alfa-amylase Inhibitor Pada Sengon Dengan

Dokumen terkait