HASIL DAN PEMBAHASAN
V. 1.1.1.3 Hutan Campuran
V.2. Ekosistem Akuatik
V.2.3.2 Korelasi antara Parameter Fisika Kimia Perairan
Salah satu parameter kualitas air di suatu perairan adalah parameter fisika-kimia. Dari parameter tersebut dapat ditarik kesimpulan berupa
hubungan antara satu komponen parameter dengan komponen parameter lainnya yang disebut sebagai korelasi. Parameter yang berkorelasi adalah TSS-temperatur, TDS-TSS-temperatur, oksigen terlarut-kandungan organik substrat, nitrat-temperatur dan konduktivitas-orthofosfat. Menurut Christensen et al (1995), temperatur suatu badan perairan memengaruhi kandungan padatan yang tersuspensi dan terlarut dalam air tersebut. Semakin tinggi suhu suatu perairan, semakin tinggi kadar padatan terlarut dan tersuspensi dalam perairan tersebut karena penguapan air terjadi semakin banyak yang menyebabkan konsentrasi TDS dan TSS juga semakin tinggi. Oksigen terlarut juga memengaruhi kandungan organik substrat karena oksigen diperlukan oleh organisme air untuk pertumbuhannya. Kadar oksigen terlarut yang tinggi ataupun rendah akan memengaruhi kecepatan pertumbuhan organisme air yang selama proses pertumbuhan, organisme akan melepaskan senyawa organik ke air dan substrat tempat tumbuh dan berkembangnya. Nitrat dan temperatur berkorelasi karena pengambilan nitrogen dalam bentuk nitrat oleh organisme perairan, dipengaruhi oleh temperatur. Semakin tinggi temperatur, semakin tinggi pula kecepatan pengambilan nitrat oleh organisme air, namun ada batasan suhu maksimumnya. Nutrien air dalam bentuk Ortofosfat, berkorelasi dengan konduktivitas air karena ortofosfat akan berdisosiasi menjadi ion ketika larut di air dan mempengaruhi konduktivitas air, yang artinya konduktivitas air akan semakin meningkat seiring dengan semakin banyaknya ortofosfat yang terdisosiasi di dalam perairan tersebut. Tabel 22 menunjukkan korelasi antara faktor fisika-kimia perairan.
Tabel 22. Korelasi antara setiap parameter fisika-kimia perairan yang diukur
Keterangan:
√ : terdapat korelasi antara kedua parameter : tidak terdapat korelasi antara kedua parameter
Kemudian berdasarkan hasil pengukuran parameter lingkungan, terdapat korelasi antara faktor fisik dan kimia terhadap keanekaragaman jenis makrozoobentos. Semakin tinggi kadar CO2, maka keanekaragamannya semakin rendah. Semakin tinggi kadar O2 dan kecerahan air, maka keanekaragamannya semakin tinggi. Rawa yang merupakan peralihan antara ekosistem darat dan air, adalah tempat penampungan sementara air tercemar yang mengalir dari sumber pencemaran sebelum memasuki perairan. Selama air tercemar ada di rawa-rawa, tumbuhan air dan organisme mikro yang banyak terdapat di sana akan menghilangkan sebagian bahan pencemar, sehingga konsentrasi bahan pencemar dalam air yang keluar dari rawa akan menjadi lebih rendah daripada dalam air yang masuk ke sana. Mekanisme penghilangan bahan pencemar di rawa adalah ketika air yang tercemar memasuki rawa, berbagai jenis organisme mikro dan tumbuhan air yang hidup dalam rawa akan menyerap dan mencerna sebagian bahan pencemar. Akibatnya, efek pencemaran yang terjadi akan semakin berkurang bila kita bergerak dari bagian hulu tempat air tercemar masuk ke bagian hilir tempat air keluar. Hal ini, sama seperti efek pencemaran yang terjadi sepanjang aliran sungai. Karena proses fisika, kimia, biologis yang terjadi terhadap bahan pencemar, kadar bahan pencemar dalam air akan berkurang seiring kita berpindah ke hilir.
V.2.4. Penentuan Status Ekologi Sungai
Sungai Cimahi merupakan anak S. Citarum yang terletak di Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Pada umunnya Sungai Cimahi dimanfaatkan untuk keperluan pemukiman (mandi, mencuci dan membuang sampah) dan irigasi. Aktivitas manusia di daerah aliran Sungai Cimahi tersebut menghasilkan buangan sampah atau limbah, diduga akan mempengaruhi faktor lingkungan fisika dan kimia air, yang selanjutnya akan dapat pengaruhi struktur komunitas makrozoobentos di dasar S. Cimahi. Daerah hulu sungai Cimahi merupakan daerah hutan pinus, tegalan, dan hutan campuran. Ke arah selatan secara berturut turut mulai Kecamatan Cimahi Utara merupakan daerah persawahan dan pemukiman.
Perubahan pola heterogenitas habitat tersebut antara lain berkaitan erat dengan adanya fluktuasi kecepatan arus, suhu dan perubahandari luas area hunian yang mempengaruhi makrobentos di dasar perairan (Krebs, 1978, Vannote et al, 1980). Kehadiran pemangsa baik yang berupa makrobentos atau invertebrate akuatik lain dan perbedaan kisaran siklus hidup masing masing takson juga berperan dalam mempengaruhi komposisi dan kelimpahan makrobentos di dasar perairan. (Odum, 1971, Balloch et al, 1976). Selain faktor-faktor tersebut diatas, faktor lainnya yang ikut mempengaruhi komposisi dan kelimpahan
makrozoobentos di dasar perairan adalah kompetisi intersifik di antara taksa yang kekerabatannya dekat terhadap ruang dan sumber daya yang serupa (Odum 1971; Krebs, 1978). Kelimpahan makrozoobentos ditentukan oleh beberapa faktor lingkungan abiotik tertentu yang pengaruhnya tidak sama terhadap masing-masing takson. Perbedaan ini akibat adanya perbedaan mengenai kisaran toleransi masing-masing takson makrobentos terhadap faktor lingkungan abiotik, misalnya kualitas airnya baik, takson yang mempunyai kisaran toleransi lebar, kelimpahannya akan mencakup daerah yang sudah mengalami pencemaran.
Status ekologis sungai dapat ditentukan dengan cara memberi skoring pada berbagai macam variabel berdasarakan parameter air yang telah dihitung, lalu merata-ratakan skoring tersebut dengan rumus pada sub-bab IV.2.3.3 Penentuan Status Ekologi Sungai dan tabel 4. Perhitungan status ekologis sungai dapat dilihat pada tabel 23 dibawah ini.
Tabel 23. Perhitungan status ekologis sungai di Siweh dan Curug Bubrug
Variabel SiwehSkorBubrug
Warna air 1 1 Bau air 1 1 Suhu Air (°C) 1 3 Konduktivitas (mV) 6 6 Padatan tersuspensi (ppm) 6 10 O₂ terlarut (mg/L) 1 1 pH 1 1 H' (Surber) 3 1 Status ekologis 2,6 2,7
Berdasarkan tabel 23, status ekologis sungai pada stasiun Siweh dan Curug Bubrug adalah Tercemar Ringan dengan masing-masing memiliki skor 2,6 dan 2,7.
BAB VI
KESIMPULAN
• Penentuan nama komunitas di tapak ladang, hutan pinus, dan hutan campuran berdasarkan Nilai Penting (NP) Spesies.
Ladang
Tidak ditemukan pohon di ladang, sehingga tidak ada nama komunitas pohon. Nama komunitas perdu adalah Schima – Erigron.
Nama komuntias herba adalah Digitaria - Paspalum.
Nama komunitas pohon adalah Pinus
Nama komunitas perdu adalah Ageratina - Coffea Nama komuntias herba adalah Eupatorium-Ageratina.
Hutan Campuran
Nama komunitas pohon adalah Quercus - Ficus. Nama komunitas perdu adalah Ficus - Asplenium. Nama komuntias herba adalah Asplenium
• Indeks keanekaragaman tumbuhan
Tapak Tumbuhan Indeks keanekaragaman (H')
Ladang Pohon 0 Perdu 1,77 Herba 2.24 Hutan pinus Pohon 0,24 Perdu 1,91 Herba 1,69 Hutan campuran Pohon 2,10 Perdu 2,53 Herba 1,95
Indeks Keanekargaman Arthropoda
Tapak Indeks Keanekaragaman (H')
Ladang 1.23094
Hutan Pinus 1.83526
Hutan Campuran 2.42824
• Parameter fisika-kimia yang berkorelasi adalah TSS-temperatur, TDS-temperatur, oksigen terlarut-kandungan organik substrat, nitrat-temperatur dan konduktivitas-orthofosfat.
• Skor untuk status ekologis sungai di Siweh dan Bubrug, berdasarkan faktor fisika-kimia serta kelimpahan, komposisi dan indeks keanekaragaman makrozoobentos di masing-masing stasiun, berada di range 2,00 – 4,00 yang berarti Tercemar Ringan.