LAPORAN KULIAH LAPANGAN KECIL
PROYEK EKOLOGI (BI – 3102)
DAMPAK PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN (LAND-USE)
TERHADAP STRUKTUR DAN KOMPOSISI KOMUNITAS
DAN KONDISI LINGKUNGAN TERESTRIAL DAN AKUATIK
Tanggal Kuliah Lapangan : 17 - 18 September 2011 Tanggal Pengumpulan : 3 Oktober 2011
Disusun Oleh :
Erlangga Muhammad (10609063) Kelompok 6
Nama Asisten : Aisha Azhardita (10608040)
PROGRAM STUDI BIOLOGI
SEKOLAH ILMU DAN TEKNOLOGI HAYATI
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
2011
BAB I PENDAHULUAN
Ekosistem adalah suatu kesatuan dinamis yang terdiri dari berbagai spesies makhluk hidup yang berinteraksi dengan lingkungannya, baik lingkungan biotik maupun abiotik (materi dan energi). Ekosistem memiliki komponen dan menjalankan fungsi/ proses tertentu yang saling berkaitan dan bergantung satu dengan yang lainnya. Struktur ekosistem menunjukan suatu keadaan atau susunan dari sistem ekologi pada waktu dan tempat tertentu. Keadaan itu termasuk kepadatan atau kerapatan, biomassa, penyebaran potensi unsur-unsur hara, energi, faktor-faktor fisik dan kimia lainnya yang mencirikan keadaan sistem tersebut yang kadang-kadang mengalami perubahan (Odum, 1993).
Ekosistem memiliki fungsi-fungsi ekologis, misalnya sebagai gudang biodiversitas, penyedia air bersih, pengendali banjir, dan lain-lain. Sebagai contoh, ekosistem hutan yang mempunyai fungsi menjaga kesuburan tanah, tata air, habitat fauna, dan pengatur iklim. Pada tingkat lokal, vegetasi memberi perlindungan dan menahan air yang memberi efek pendingin saat cuaca panas, disamping menahan badai dan mengurangi hilangnya energi panas di musim dingin. Pada tingkat regional, penguapan air dari pepohonan dilepas ke atmosfir dan kembali sebagai hujan. Pada tingkat global, pertumbuhan tanaman berhubungan dengan siklus karbon. Hilangnya vegetasi menyebabkan pengurangan penyerapan CO2 yang dibutuhkan proses dan hasilnya oleh hewan dan manusia. Mac Kinnon (1996) menyebutkan bahwa kerusakan ekosistem hutan dapat mengganggu lima proses ekologi hutan, yaitu suksesi alami, produksi bahan organik dan proses dekomposisi, siklus unsur hara, dan pembentukan tanah.
Penggunaan lahan yang tidak sesuai dengan fungsi ekosistem dapat merubah kondisi lingkungan di sekitarnya dan akibatnya terjadi perubahan fungsi ekologis (Canter, 1977). Perubahan ini termasuk komunitas makhluk hidup (biodiversitas) serta kondisi biotik dan abiotik lainnya. Indonesia merupakan negara yang memiliki komponen ekosistem utama berupa hutan hujan tropis yang menyediakan beragam sumber daya alam dengan jumlah yang tinggi. Tingginya populasi penduduk di negara ini berbanding lurus dengan tingkat kebutuhan masyarakat itu sendiri, sehingga seiring berjalannya waktu banyak lahan tak bertuan dikonversi menjadi daerah pemukiman, infrastruktur, ladang, perkebunan ataupun persawahan belum lagi campur tangan perusahaan baik dalam maupun luar negeri yang membuka usaha di negara ini yang berdampak pada berkurangnya lahan alami. Perubahan lahan yang terjadi di ekosistem terestrial terjadi sesuai dengan perkembangan peradaban manusia dengan pola: hutan menjadi pertanian, pertanian menjadi pemukiman, pemukiman menjadi kawasan industri. Konversi lahan yang terjadi menyebabkan penurunan daya kemampuan ekosistem untuk menjalankan fungsi ekologisnya sehingga menimbulkan dampak yang serius pada lingkungan sekitarnya (Basyar, 2009).
Di daerah terestrial konversi lahan dapat berakibat pada beruahnya kondisi fisik dan kandungan nutrien tanah juga berdampak erosi. Dampak lain berupa penurunan air tanah akibat penggunaannya yang berlebihan serta berkurangnya daerah resapan air. Rusaknya di daerah hulu juga dapat menyebabkan terjadinya banjir. Selain itu berkurangnya organisme serta biodiversitas lain yang berperan dalam menjalankan fungsi ekologis, hilangnya biodiversitas tersebut menyebabkan perubahan fungsi ekologis (Basyar, 2009). Perubahan ekosistem di daerah terestrial juga berdampak di daerah akuatik karena keduanya saling berkaitan. Beberapa dampak yang terjadi di daerah akuatik diantaranya penurunan kualitas perairan seperti menurunnya Dissolved oxygen, perubahan pH air, perubahan intensitas cahaya yang masuk ke perairan dan penurunan nutrisi di air akibat terkontaminasi limbah yang sangat berpengaruh pada kehidupan di dalamnya maupun disekitar perairan tersebut seperti di daerah bantaran sungai.
Perubahan penggunaan lahan menyebabkan perubahan ekosistem, termasuk komunitas biodiversitas dan kondisi lingkungan sehingga terjadi perubahan fungsi ekologis. Dari area hijau yang alami menjadi area terbangun. Perubahan land use berimplikasi pada kondisi ekologis (biodiversiti dan sumber daya alami). Pergeseran fungsi yang terjadi di kawasan pinggiran adalah lahan yang tadinya diperuntukkan sebagai kawasan hutan, daerah resapan air, dan lahan pertanian, berubah fungsi menjadi kawasan perumahan, industri dan kegiatan usaha non pertanian lainnya. Perubahan lahan yang dominan di ekosisterm terrestrial adalah perubahan ekosistem hutan menjadi lahan pertanian, pertanian sebagai lahan pemukiman, dan lahan pemukiman sebagai lahan industri.
Berdasarkan statistika kehutanan tahun 2000, luas kawasan hutan Indonesia pada saat ini sebesar ± 120.344.000 ha, yang terdiri dari hutan konservasi (± 20.500.000 ha), hutan lindung (± 33.570.000 ha), hutan produksi terbatas (± 23.057.000 ha), hutan produksi tetap (± 35.199.000 ha), dan hutan produksi yang dapat dikonversi (± 8.078.000 ha) (Dirjen PHPA, 1997). Status Lingkungan Hidup Indonesia, 2007 melaporkan dari 23 DAS yang ada sebagian besar (82,6 %) memiliki luas kawasan lindung kurang dari 30 persen. Dalam Undang-undang Nomor 41 Tahun 1991 terdapat ketentuan yang menyaratkan luas hutan minimal 30 persen di setiap ekosistem DAS. (Yurnaldi, 2010)
Perubahan ekosistem akibat penggunaan lahan dapat memberikan beberapa dampak antara lain produksi primer oleh tanaman. Tumbuhan yang hidup pada terestrial maupun akuatik menghasilkan bahan organik melalui proses fotosintesis dan kemosintetis. Aktifitas ini mempengaruhi iklim mikro khususnya pada penurunan temperatur. Dampak kedua adalah karakter populasi dan komunitas alami akan ikut terpengaruh akibat aktifitas dan frekuensi manusia sehingga terjadi perubahan-perubahan pada struktur tropik populasi tersebut.
Dampak ketiga adalah perubahan ekosistem akan berdampak pada penyimpanan dan dinamik bahan organik yang terbentuk karena dekomposisi tanaman atau pohon-pohon yang mati. Dampak keempat adalah penggunaan lahan akan mengubah frekuensi dan pola gangguan terhadap kondisi tata air (hidrologis) yaitu terjadinya perubahan perilaku dan fungsi air permukaan. Suatu kawasan secara ekologis dianggap berkelanjutan jika basis sumberdaya alam (ketersediaan stok) di kawasan tersebut dapat dipelihara secara stabil, tidak terjadi eksploitasi berlebihan terhadap sumberdaya yang dapat diperbaharui. Dampak yang mungkin terjadi pada ekosistem akuatik adalah gangguan pada cadangan dan konservasi air.
Kawasan Bandung merupakan salah satu contoh spesifik dengan histori perubahan lahan. Beberapa tahun jauh dari sekarang kawasan Bandung masih terdapat daerah terbuka hingga semakin lama pemukiman-pemukiman mulai dibangun akibat bertambahnya penduduk. Sementara di sekitar Bandung kawasan yang masih dipertahankan keutuhan alaminya ialah di kawasan Gunung Tangkuban Perahu (GTP) dimana di lokasi ini dungsi ekologisnya masih berjalan dengan baik karena jauh dari pemukiman. Ekosistem yang ada di gunung tangkuban perahu merupakan daerah resapan air dan cadangan air bagi wilayah Bandung dan sekitarnya, juga sebagai tempat bagi berbagai macam biodiversitas yang ada, sebagai paru-paru bumi yang meminimalisir emisi gas rumah kaca dan sebaginya. Gunung Tangkuban Perahu merupakan bagian dari DAS Citarum dimana DAS Citarum merupakan salah satu DAS penting di Indonesia dan merupakan sungai terbesar dan terpanjang di Jawa Barat (Canter, 1977). Namun saat ini di DAS Citarum telah terjadi perubahan lahan. Di bagian hulu menjadi daerah pertanian sedangkan di bagian hilir menjadi daerah pemukiman dan industri. Mengingat pentingnya peran GTP dan DAS Citarum dalam menjalankan fungsi ekologis, maka segala perubahan yang terjadi perlu dikaji dampaknya.
Pada penelitian ini, kajian dampak ekologis konversi lahan akan dilakukan terhadap struktur dan komunitas ekosistem terestrial dan akuatik di wilayah Gunung Tangkuban perahu dan sepanjang sub-DAS Cimahi hingga DAS Citarum. Untuk kawasan Gunung Tangkuban Perahu di sekitar situ lembang akan dikaji pada tiga tipe ekosistem, yang terdiri dari hutan campuran, hutan pinus yang tergolong hutan homogen, dan ladang.
BAB II
TUJUAN
Pada kuliah lapangan proyek ekologi kali ini akan ditentukan beberapa tujuan yang ingin dicapai, yakni :
• Menentukan nama komunitas di tapak ladang, hutan pinus, dan hutan campuran dengan berdasarkan Indeks Nilai Penting Spesies.
• Menentukan indeks keanekaragaman tumbuhan dan arthropoda tanah di tapak ladang, hutan pinus, dan hutan campuran
• Menentukan korelasi antara parameter fisika-kimia perairan
• Menentukan status ekologis sungai sepanjang DAS Cimahi (Siweh dan Curug Bubrug) yang merupakan sub-DAS Citarum, berdasarkan faktor fisika-kimia serta kelimpahan, komposisi dan indeks keanekaragaman makrozoobentos di masing-masing stasiun.
BAB III
DESKRIPSI AREA PENGAMATAN
III.1 Kawasan Gunung Tangkuban Perahu
Gunung Tangkuban Perahu merupakan salah satu wilayah cagar sekaligus tempat wisata alam yang terletak di bagian Bandung Utara. Secara geogragis Gunung Tangkuban Parahu terletak antara 6o46’ - 6o50’ LS dan 107o30’-107o40’ BT pada ketinggian antara 1400 m dpl hingga 1862 m dpl (Choesin, 1987). Secara administratif Gunung Tangkuban Perahu termasuk dalam dua Kabupaten yaitu Daerah tingkat II Kabupaten Bandung dan Kabupaten Subang. Jaraknya kurang lebih 29 km dari pusat kota Bandung dan 22 km dari Subang. Lokasi Gunung Tangkuban Perahu yang dijadikan lokasi tempat penelitian adalah daerah bagian Selatan dan berbatasan dengan Kecamatan Cisama dan Kotamadya Bandung. Fisiografi lahan umumnya curam dengan kemiringan di bagian Utara dan Timur mencapai 40%, sedangkan ke arah Selatan dan Tenggara tampak melandai. Ketinggian daerahnya bervariasi mulai yang tertinggi sekitar 2.200 m dari permukaan laut sampai yang terendah 1.900 m dari permukaan laut.
Gambar 1. Citra Satelit Kawasan Gunung Tangkuban Perahu (Sumber : earth.google.com)
Secara umum Jenis tanah tanah di daerah Gunung Tangkuban Perahu adalah andosol dengan profil yang berbeda-beda. Iklim di kawasan Gunung Tangkuban Perahu menurut Suhardja 1982 mempunyai curah hujan berkisar antara 1670 mm sampai 6309 mm per tahun sehingga termasuk tipe iklim A dalam kategori iklim Schmidt dan Ferguson. Suhu udara rata rata per bulan berkisar antara 19,1⁰ – 20,2⁰ C dengan kelembapan udara antara 70%. Suhu maksimum berkisar 23,6⁰ - 24,5⁰ C dan suhu minimum antara 14⁰ - 15,8⁰ C. Curah hujan
tertinggi didapatkan pada bulan Desember sebesar 411 mm, sedangkan yang terendah pada bulan Juni sebesar 62,4 mm (Richards, 1996).
III.2 Deskripsi Area Pengamatan Ekosistem Terestrial
Tipe-tipe ekosistem terestrial yang terdapat di kawasan gunung tangkuban perahu, secara umum dapat dibagi menjadi tiga ekosistem, yakni ladang, hutan homogen (pinus), dan hutan campuran.
1. Ladang
Kawasan ladang merupakan lokasi pengamatan ekosistem terestrial pertama. Kawasan ini merupakan lahan terbuka yang sengaja dibuat untuk aktivitas manusia seperti bercocok tanam dan sebagian menjadi tempat tinggal yang terlihat dari sekitar lokasi pengamatan yang terdapat rumah penduduknya. Lokasi pengamatan kawasan ladang kelompok 6 praktikan proyek ekologi terletak pada posisi geografis S 6° 47' 1'' dan E 107° 34' 47,7''. Sedikit sekali vegetasi berupa pohon yang terdapat pada lokasi pengamatan ini. Kawasan ini didominasi oleh vegetasi berupa perdu dan herba. Sejak tahun 2001 ladang disini menggunakan sistem multicropping, yang terdiri dari sayuran yang berkembang seiring dengan perkebunan pohon pinus (Barsulo et al., 2008).
Gambar 2. Citra Satelit di Kawasan Ladang Situ Lembang (Sumber : earth.google.com)
Gambar 3. Keadaan di Sekitar Ladang Situ Lembang
(Sumber : Dokumentasi pribadi, 2011) 2. Hutan Pinus
Lokasi pengamatan ekosistem terestrial yang kedua adalah berupa hutan homogen, yakni hutan pinus. Kawasan hutan pinus ini merupakan hutan produksi yang sengaja dibuat oleh manusia. Lokasi pengamatan kawasan hutan pinus kelompok 6 praktikan proyek ekologi terletak pada posisi geografis S 6° 46' 32,5'' dan E 107° 34' 35,3''.
Gambar 4. Citra Satelit di Kawasan Hutan Pinus Situ Lembang (Sumber : earth.google.com)
Dari citra satelit diatas dapat terlihat bahwa kawasan ini tersusun atas pepohonan yang seragam dan rapi. Berbeda dengan lokasi ladang sebelumnya, vegetasi yang terdapat di kawasan ini terdiri dari pohon, perdu, dan herba. Vegetasi pohonnya didominasi oleh Pinus merkusii dan terdapat beberapa Pinus insularis.
Gambar 5. Keadaan di Sekitar Hutan Pinus Situ Lembang (Sumber : Dokumentasi pribadi, 2011)
Lokasi pengamatan atau tapak terakhir kelompok 6 praktikan proyek ekologi terletak pada posisi geografis S 6° 44' 36,2'' dan E 107° 34' 54''. Kawasan ini merupakan hutan campuran yang vegetasinya lebih rimbun dan padat dibanding dua tapak sebelumnya.
Gambar 6. Citra Satelit di Kawasan Hutan Campuran Situ Lembang (Sumber : earth.google.com)
Hutan campuran memliki tingkat keragaman vegetasi yang tinggi dan tersebar secara acak. Hutan ini merupakan kawasan yang dilindungi karena selain sebagai kawasan cagar alam, hutan ini juga berfungsi sebagai tempat resapan air utama di kawasan Gunung Tangkuban Perahu. Meskipun hutan ini disebut sebagai hutan primer dan alami, namun dari yang teramati, hutan ini telah sering mengalami beberapa perubahan selain karena sering didatangi wisatawan untuk berkemah dan tempat latihan kopassus, juga terdapat beberapa perambah hutan yang mencari kayu bakar, pakis dan jamur untuk kebutuhan hidup.
Gambar 7. Keadaan di Sekitar Hutan Campuran Situ Lembang (Sumber : Dokumentasi pribadi, 2011)
Ekosistem akuatik yang diamati pada kuliah lapangan kali ini dilakukan sebanyak tiga stasiun pengamatan yang diharapkan dapat sedikit mewakili keseluruhan DAS yang terletak di sepanjang DAS Cimahi yang merupakan sub-DAS Citarum. Namun, karena keadaan lapangan yang tidak mendukung, pada akhirnya hanya dilakukan penelitian di dua lokasi, yakni pada stasiun Siweh yang merupakan hulu sungai Cimahi, dan stasiun Curug Bubrug yang merupakan lokasi pertengahan sungai Cimahi.
Gambar 8. Peta Daerah Aliran Sungai Citarum dan Bagian Sungai Cimahi yang Diperbesar
(Sumber: http://upload.citarum.org/knowledge/document/River-Basin-Map-In-WS-Citarum-DEM-100303-100dpi.jpg)
DAS Citarum Hulu mencakup mata air sungai Citarum hingga Saguling dengan luas sekitar 1771 km2 sebagai bagian dari DAS Citarum yang merupakan salah satu DAS terbesar di Jawa Barat. Untuk keperluan pengelolaan, DAS Citarum Hulu dibagi ke dalam lima sub-DAS yaitu: Cikapundung, Citarik, Cisarea, Cisangkuy dan Ciwidey (Perum Otorita Jatiluhur, 1990). Curah hujan bulanan rata-rata yang diukur pada tahun 2001 berkisar dari 45 sampai 352 mm dengan nilai total curah hujan tahunan sebesar 2200mm. Kondisi topografi didominasi oleh pegunungan sepanjang batas DAS dan dataran yang luas di tengah DAS. Tata guna lahan didominasi oleh pertanian dan hutan. Selama rentang waktu tujuh tahun (1994-2001) luas hutan berkurang hampir 60%, sebaliknya luas lahan pertanian bertambah hingga 40%. Sungai Cimahi merupakan anak S. Citarum yang terletak di Kabupaten
Bandung, Jawa Barat. Pada umumnya Sungai Cimahi dimanfaatkan untuk keperluan pemukiman dan irigasi yang diduga akan mempengaruhi faktor lingkungan fisika dan kimia air, yang selanjutnya akan dapat pengaruhi struktur komunitas makrozoobentos di dasar S. Cimahi. Daerah hulu sungai Cimahi merupakan daerah hutan pinus, tegalan, dan hutan campuran. Ke arah selatan secara berturut turut mulai kecamatan Cimahi Utara merupakan daerah persawahan dan pemukiman. Kecamatan Cimahi Tengah merupakan daerah pemukiman dan pasar. Kecamatan Cimahi Selatan merupakan daerah pemukiman dan industri tekstil. Sub-DAS Cimahi di daerah muara umumnya adalah daerah berupa pemukiman dan persawahan. Di daerah pemukiman dan pasar banyak ditemukan saluran pembuangan limbah yang bermuara pada aliran sungai cimahi. Industri tekstil yang terletak di kecamatan Cimahi Selatan menyalurkan limbahnya pada saluran pembuangan tersendiri yang bermuara di Sungai Citarum.
Pada kuliah lapangan proyek ekologi kali ini, dilakukan pengamatan ekosistem akuatik pada dua titik yang berada di sub-DAS Citarum, yakni pada stasiun Siweh dan stasiun Curug Bubrug.
1. Stasiun Siweh
Lokasi pengamatan ekosistem akuatik yang pertama berada di hulu sungai Cimahi, sub-DAS Citarum, pada kawasan Siweh. Kawasan ini masih terletak di daerah Situ Lembang yang juga menjadi lokasi pengamatan ekosistem terestrial. Kelompok 6 praktikan proyek ekologi kali ini melakukan pengamatan pada posisi geografis S 6 45' 11" dan E 107 34' 22,5".
Gambar 8. Citra satelit area pemgamatan ekosistem akuatik daerah hulu, Siweh (Sumber: maps.google.co.id)
Gambar 9. Kawasan di sekitar Siweh, hulu sungai Cimahi (Sumber : Dokumentasi pribadi, 2011)
Dari gambar dapat terlihat bahwa masih terdapat banyak vegetasi yang berada di sisi aliran sungai karena daerah ini masih terletak dekat dengan hutan pinus dan campuran yang tata guna lahannya masih belum banyak berubah oleh aktivitas manusia.
2. Stasiun Curug Bubrug
Lokasi pengamatan kedua, kelompok 6 praktikan proyek ekologi kali ini, terletak pada posisi geografis S 6o 47' 11" dan E 107o 34' 39,7". Lokasi ini terletak pada daerah Curug Bubrug yang merupakan bagian tengah dari DAS Cimahi yang merupakan bagian dari sub-DAS Citarum. Di sekitar sepanjang aliran sungai, terdapat lahan yang digunakan untuk bercocok tanam dan wilayah rumah penduduk.
Gambar 10. Citra satelit area pemgamatan ekosistem akuatik daerah tengah, Bubrug (Sumber: maps.google.co.id)
Dari gambar 11 terlihat bahwa terdapat batuan besar dan kecil yang berada di aliran sungai, berasal dari tebing di sekitar sungai ini. Aliran air relatif lebih deras
dibanding dengan aliran air di lokasi pengamatan pertama yakni di Siweh. Selain itu pada stasiun ini terdapat masukan atau inlet yang berasal dari rembesan akar pohon dan tebing di samping aliran sungai.
Gambar 11. Kawasan di sekitar stasiun Curug Bubrug (Sumber : Dokumentasi pribadi, 2011)
BAB IV
TATA KERJA
IV.1.1. Lokasi Pengambilan Sampel
Lokasi pengambilan sampel dilakukan di tiga lokasi, yaitu :
1. Tapak Ladang, pada tanggal 17 September 2011 pagi hari (Gambar 2 dan 3) Kelompok
Koordinat 6 7 8 9 10 11 12 1
Koordinat (S) 6° 47' 1'' 6° 47' 3,6" 6° 47' 3,8" 6° 47' 03,7" 6° 47' 04,7" 6° 47' 1,31" 6° 47' 4,5'' 6˚ 46' 57,8" Koordinat (E) 107° 34' 47,7'' 107° 34' 50,4" 107° 34' 49,7" 107° 34' 49,3" 107° 34' 49,0" 107° 34' 48,28" 107° 34' 50,2'' 107° 34' 47,7"
2. Tapak Hutan Pinus, pada tanggal 17 September 2011 siang hari (Gambar 4 dan 5) Kelompok
Koordinat 6 7 8 9 10 11 12 1
Koordinat (S) 6° 44' 36,2'' 6° 44' 39,5" 6° 44' 39,1" 6° 44' 38,5" 6° 44' 37,7" 6° 44' 37,6" 6° 44' 37,3'' 6˚ 44' 38,6" Koordinat (E) 107° 34' 54'' 107° 34' 50,6" 107° 34' 51,5" 107° 34' 52,4" 107° 34' 53,0" 107° 34' 53,7" 107° 34' 54,2'' 107° 34' 49,9"
3. Tapak Hutan Campuran, tanggal 17 September 2011 sore hari (Gambar 6 dan 7) Kelompok
Koordinat 6 7 8 9 10 11 12 1
Koordinat (S) 6° 47' 1'' 6° 47' 3,6" 6° 47' 3,8" 6° 47' 03,7" 6° 47' 04,7" 6° 47' 1,31" 6° 47' 4,5'' 6˚ 46' 57,8" Koordinat (E) 107° 34' 47,7'' 107° 34' 50,4" 107° 34' 49,7" 107° 34' 49,3" 107° 34' 49,0" 107° 34' 48,28" 107° 34' 50,2'' 107° 34' 47,7"
IV.1.2. Ukuran dan Susunan Plot
IV.1.2.1 Pengamatan Vegetasi, Arthropoda, Cacing, Mikroklimat, dan Tanah Metode yang digunakan untuk pengukuran faktor lingkungan abiotik dan pencuplikan vegetasi adalah metode plot bertingkat (nested plot) yang berbentuk bujur sangkar. Metode plot ini umum digunakan untuk pencuplikan bentuk hidup yang berbeda-beda. Plot 1 berukuran 1 x 1 meter untuk mengukur herba ; plot 2 berukuran 3 x 3 meter tumbuhan dengan bentuk perdu ; plot 3 berukuran 10 x 10 meter untuk mengukur pohon. Vegetasi tumbuhan terdiri dari berbagai populasi tumbuhan diukur untuk menggambarkan keadaan vegetasi berdasarkan karakterisitik populasi tersebut.
Pengamatan Arthropoda dilakukan dengan metode pitfall trap di luar plot 10 x 10 meter. Metode ini adalah metode penjebakan Arthropoda dengan cara membuat lubang kecil di tanah dengan posisi bibir wadah sejajar dengan permukaan tanah. Kemudian di dalam wadah diisi larutan detergen. Detergen berfungsi sebagai atraktan sekaligus pemecah tegangan permukaan air sehingga arthropoda terjebak.
Pengamatan cacing dilakukan dengan melakukan penggalian dan pengambilan sample di 3 lokasi di dalam plot 10 x 10 meter.
Pengamatan mikroklimat dan pengambilan sampel tanah juga dilakukan di tiga lokasi dalam plot 10 x 10 meter agar hasil yang didapatkan merepresentasikan kondisi lokasi yang telah dibuat plotnya.
Gambar 12. Metode Nasted Plot Kuliah Lapangan Kecil Proyek Ekologi 2011 IV.1.2.2 Pengamatan Mamalia Kecil
Pengamatan mamalia kecil dilakukan dengan pengambilan sampel dengan menggunakan alat berupa life trap. Pertama, dilakukan pembagian
starting point untuk tiap kelompok, secara garis lurus menembus hutan,
sebanyak 12 point, berurutan dari kelompok 1-12. Lalu tiap kelompok membuat jalur yang tegak lurus dengan jalur starting point sejauh 7 m, yang di tiap meternya dipasang life trap yang sebelunnya diberi umpan berupa kelapa bakar. Life trap lalu ditinggalkan selama semalam atau kurang lebih 12 jam, lalu diambil dan dilakukan pengamatan dan pengidentifikasian mamalia yang tertangkap. Tujuan penggunaan plot dan pengamatan mamalia kecil ini adalah untuk menggambarkan tingkat biodiversitas di ekosistem hutan alam dengan memperhitungkan faktor waktu dan luasan hutan yang diamati untuk kemudian memperoleh kelimpahan mamalia kecil pada hutan tersebut.
IV.1.3. Parameter yang diukur IV.1.3.1 Vegetasi
a. Kepadatan (density)
Kepadatan absolut adalah jumlah individu dalam satuan luas tertentu, sedangkan kepadatan relatif merupakan jumlah individu pada suatu daerah
atau satuan waktu yang digambarkan sebagai proporsi jumlah total individu jenis di semua daerah atau waktu pencuplikan.
b. Kerimbunan (coverage)
Merupakan bagian dari tanah yang dikuasai oleh tumbuhan. Penutupan kanopi merupakan proporsi dari diameter area yang tertutup oleh kanopi. Penutupan absolut dihitung berdasarkan persentase daerah yang dikuasai oleh tumbuhan tersebut dalam satu plot tanpa memperhitungkan jenis penutupan lainnya. Penutupan relatif adalah besar persentase penutupan suatu jenis dibandingkan dengan penutupan oleh jenis-jenis lainnya dalam plot. Adapun skala Daubenmire yang digunakkan untuk estimasi kerimbunan.
Tabel 1. Kelas Penutupan Daubenmire (Daubenmire, 1959) Kelas Penutupan Kisaran Penutupan (%) Nilai Kelas Tengah (%)
6 5 4 3 2 1 95-100 75-95 50-75 25-50 5-25 0-5 97,5 85 62,5 37,5 15 2,5
Menurut Soerianegara dan Indriawan (1982), ukuran diameter pohon akan menggambarkan umur tanaman. Keberadaan pancang, tiang, dan pohon di suatu vegetasi akan memberikan gambaran sejauh mana komponen pohon sudah membentuk struktur komunitas tumbuhan (Rasnovi, 2006). Untuk pohon, kerimbunan dinyatakan dengan penutupan basal area, yaitu luas permukaan tanah yang ditutupi oleh batang pohon. Luas basal ditentukan dengan pengukuran diameter pohon pada ketinggian 1,3 -1,5 meter atau
Diameter at Breast High (DBH). Pengukuran dengan metode Diameter Breast Height, yaitu diameter batang pada ketinggian 1,3 m dari permukaan tanah.
Beberapa ketentuan yang digunakan pada penelitian ini dalam penentuan diameter pohon adalah bila pohon membentuk cabang pada ketinggian 1,3 m dari tanah, maka diameter diukur sedikit di atas percabangan tersebut. Apabila percabangan terletak di bawah 1,3 m dari tanah, maka diukur diameter batangnya dan percabangannya, kemudian kedua diameter percabangan tersebut dijumlahkan dan dianggap sebagai satu individu.
c. Frekuensi
Frekuensi ditentukan dengan perjumpaan suatu jenis tumbuhan selama pengamatan dilakukan. Perhitungan frekuensi hanya dilakukan untuk herba dan perdu saja. Data yang diperoleh kemudian digunakan untuk menentukan Indeks Nilai Penting dan Indeks Keragaman.
d. Biomassa
Biomassa ditentukan untuk menjelaskan struktur trofik dari suatu komunitas yang digambarkan dalam satuan per unit area atau volume. Jenis vegetasi yang memiliki biomassa besar sangat berpengaruh pada aliran energi dan material pada tingkat trofiknya. Pengukuran biomassa dapat dilakukan dengan metode destruktif, yaitu memanen tumbuhan kemudian menghitung berat keringnya, umumnya herba dan perdu, dan metode non-destruktif, yaitu metode pendugaan biomassa melalui persamaan matematis (alometri) yang menghitung korelasi antara diameter tegakan dengan biomassa tegakan.
IV.1.3.2 Arthropoda Tanah
Teknik pencuplikan Arthropoda menggunakan pendekatan estimasi relative populasi yaitu metode pitfall trap. Peletakkan pitfall trap dilakukan di luar plot secara acak. Perangkap menggunakan gelas plastik yang diisi dengan air deterjen, kemudian ditanamkan hingga mulut gelas sejajar dengan permukaan tanah. Untuk mencegah masukknya air hujan, gelas plastik dinaungi dengan atap impraboard ukuran 20 x 20 cm yang disangga dengan sumpit setinggi 10 cm. Pencuplikan arthropoda dilakukan sore hari dan diambil esok paginya. Hewan yang terperangkap dipindahkan ke plastik sample berisi formalin untuk membunuh spesimen, kemudian identifikasi taksa hewan tersebut.
Gambar 13. Metode Pitfall Trap yang dilakukan oleh kelompok 6 (Sumber : Dokumentasi pribadi, 2011)
IV.1.3.3 Cacing
Lokasi pencuplikan cacing tanah diambil di dalam plot dengan ukuran 30 x 30 cm dan kedalaman 20 cm. Pencuplikan cacing dilakukan dengan mengambil sampel tanah tersebut dengan sekop dan menyortir dengan menggunakan tangan. Bersihkan cacing dari sisa-sisa tanah dan masukkan ke dalam plastik sampel. Pisahkan antara jenis cacing yang berbeda dan telur cacingnya, kemudian timbang berat cacing. Penghitungan kerapatan biomassa cacing menggunakan rumus :
Kerapatan biomassa gm2= Total Berat Cacing Tanah dalam KuadratLuas Kuadrat
IV.1.3.4 Mamalia
Mamalia yang tertangkap, diidentifikasi dan dihitung jumlah kelimpahanya per spesies dalam satuan waktu tertentu. Sehingaa didapatkan informasi tentang spesies, kelimpahannya, dan waktu berkeliarannya di alam.
Gambar 14. Metode Lifetrap untuk sampling mamalia kecil (Sumber : Dokumentasi pribadi, 2011)
IV.1.3.5 Faktor Lingkungan (Mikroklimat dan Tanah) 1. Mikroklimat
Mikroklimat adalah faktor lingkungan dalam variasi iklim pada skala kecil, bisa untuk beberapa kilometer, meter, atau centimeter, pada ukuran periode waktu tertentu yang pendek. Perbedaan mikroklimat berkaitan dengan adanya berbedaan pada topografi, penutupan tajuk, dsb. (Molles, 2010).
Parameter iklim mikro umumnya dinyatakan sebagai suhu udara, kelembapan relatif, intensitas cahaya, dan kecepatan angin.
Tabel 2. Jenis Pengukuran dan alat yang digunakan
Jenis pengukuran Alat yang digunakan
Suhu udara Thermometer
Kelembapan udara Sling psycrometer
Intensitas cahaya Lux meter
Suhu tanah Thermometer
Profil tanah Auger
pH Soil tester
Kelembapan tanah Soil tester
Kelembaban merupakan faktor utama yang sangat penting. Kelembaban mutlak udara adalah berat uap air yang dikandung udara tersebut. a. Suhu dan Kelembapan Udara
Alat yang digunakan adalah sling psychrometer yang memiliki dua termometer, termometer pertama digunakan untuk mengukur suhu udara biasa dan termometer kedua digunakan untuk mengukur suhu udara jenuh. Kain yang terdapat pada salah satu bagian termometer dibasahi, sling diputar selama tiga menit dengan posis jauh dari tubuh, hasil pengukuran pada kedua termometer sebagai suhu kering dan suhu basah, kemudian dimasukkan nilai suhu kering dan selisih antara suhu basah dan suhu kering tersebut ke dalam tabel geser sehingga didapat nilai kelembapan relatif. Pengukuran suhu dan kelembapan udara dilakukan pengulangan sebanyak tiga kali di dalam plot yaitu di tepi kanan, tepi kiri, dan di tengah plot.
b. Intensitas Cahaya
Intensitas sinar matahari menggunakan Light meter atau Lux Meter. Cara penggunaannya adalah dengan menekan tombol on/off, kemudian alat dikalibrasi dengan menutup sensor cahaya dan menekan tombol range pengukuran (range switch), tekan tombol “zero“ hingga layar menunjukkan nilai 0. Penutup sensor cahaya dibuka dan dihadapkan pada sumber cahaya, hasil pengukuran dapat dibaca di layar. Pengukuran intensitas cahaya dilakukan pengulangan sebanyak tiga kali di dalam plot.
2. Tanah (Edafik) a. Profil tanah
Pencuplikan tanah dilakukan dengan menancapkan bor tanah Auger sedalam 30 cm ke dalam tanah, kemudian stratifikasi tanah dan tebal lapisannya diamati. Tanah di Auger dipindahkan ke plastik sampel untuk menganalisa kandungan air dalam tanah.
Gambar 15. Pencuplikan tanah dengan Auger (Sumber : Dokumentasi Pribadi) b. Kandungan air tanah
Cuplikan tanah dari bor Auger diambil sebanyak 10 gram untuk dihitung berat segarnya. Letakkan cuplikan tanah tersebut ke dalam alumunium foil untuk dimasukkan ke oven bersuhu 105° C selama 24 jam. Berat tanah dihitung per hari hingga beratnya konstan. Perhitungan kandungan air tanah dinyatakan dalam rumus :
Kandungan Air Tanah %= Berat segar tanah-berat kering tanah berat kering tanah ×100%
c. Kandungan organik tanah
Diambil cuplikan tanah yang sudah kering sebanyak 5 gram, kemudian dimasukkan ke porselen kering yang telah dihitung beratnya. Proses pengabuan dilakukan dengan suhu tinggi atau furnace (450⁰C) selama 4 jam.
Kandungan organik %= Berat segar tanah-berat abu tanah berat kering tanah ×100%
d. pH dan kelembapan tanah
Pengukuran pH dan kelembapan tanah dilakukan dengan menggunakan
soil tester. Soil tester ditancapkan ke dalam tanah hingga garis batas sensor
alat sejajar permukaan tanah selama tiga menit, pada layar alat tertera nilai pH tanah, kemudian tekan tombol kecil di samping alat yang menunjukkan nilai kelembapan tanah.
e. Suhu tanah
Suhu tanah diukur menggunakan termometer raksa yang ditancapkan sekitar 10 cm ke dalam tanah selama tiga menit, kemudian suhu tanah terbaca oleh alat.
f. Bulk Density (Bobot Isi)
Lubang dibuat di atas tanah dan pipa dengan diameter 5 cm setinggi 10 cm dimasukkan. Pipa core sampler ditekan dengan hati-hati dan tetap dalam posisi vertical. Cuplikan tanah tersebut dimasukkan ke plastik sampel untuk ditimbang di laboratorium. Cuplikan tanah core sampler pada suhu 105⁰C selama 24 jam hingga berat kering konstan.
Bulk density gcm3= berat kering tanahvolume core sampler
IV.1.4. Analisis Data
IV.1.4.1 Nilai Penting Spesies
Secara kuantitatif spesies tumbuhan yang dominan dalam suatu komunitas dapat diketahui dengan menghitung indeks Nilai Penting (NP). NP untuk pohon dihitung dengan menjumlahkan Kerapatan Relatif (Kr Rf), Kerimbunan Relatif (Kb Rf) atau Luas Areal Basal (LAB, untuk pohon), dan Frekuensi Relatif (Fr). Khusus untuk herba, kerapatan tidak diukur sehingga nilai penting merupakan penjumlahan antara kerimbunan relatif dengan frekuensi relatif NP = Kb Rf(%) + Fr . Nilai penting digunakan untuk mengamati dominansi jenis tumbuhan dalam kelompok bentuk hidup setiap tapak yang kemudian dijadikan nama komunitas di tapak tersebut. Nilai penting didapatkan dari hasil penjumlahan kerapatan relatif, kerimbunan relatif, dan frekuensi relatif yang jika dijumlahkan bernilai 300%. Adapun formula yang digunakan untuk menghitung indeks nilai penting adalah: (Soerianegara dan Indrawan, 1982)
Kerapatan Relatif=Kerapatan AKerapatan total ×100% Kerimbunan Relatif=Kerimbunan AKerimbunan Total ×100%
Frekuensi Relatif=Frekuensi AFrekuensi total ×100% Nilai Penting Sp.A=Kb Rf A+Kr Rf A+Fr A
IV.1.4.1 Indeks Keanekaragaman
Keanekaragaman tumbuhan dalam penelitian ini dianalisis dengan menggunakan indeks keanekaragaman Shannon-Wiener yang diperoleh dengan parameter kekayaan jenis dan proporsi kelimpahan masing-masing jenis di suatu habitat (Krebs, 1989). Kelimpahan dinyatakan dalam jumlah individu dari masing-masing jenis dan kekayaan jenis dinyatakan dalam jumlah jenis di setiap tapak penelitian. Barbour et al. (1999) memberikan definisi bahwa kekayaan jenis merupakan keanekaragaman jenis yang dinyatakan dalam jumlah jenis per satuan unit area. Kelimpahan dan kekayaan jenis disajikan dalam luasan area satu hektar. Jumlah individu dan jenis yang diperoleh dari setiap luasan plot penelitian dikonversi menjadi hektar. Indeks keanekaragaman Shannon-Wiener yang digunakan memiliki formula sebagai berikut (Stilling, 1996):
H'= - pilnpi
Keterangan :
H’ = indeks keanekaragaman
pi = perbandingan jumlah individu satu jenis dengan jumlah individu keseluruhan sampel dalam plot.
IV.2 Kajian Dampak di Ekosistem Akuatik
IV.2.1 Lokasi Pengambilan Sampel
Pengambilan sampel AEA (air dan makroozoobentos) diambil dari dua titik berbeda, berdasarkan letak, tingkat pencemaran dan tata guna lahan yang berbeda. Kedua titik ini adalah Siweh (Gambar 8 dan Gambar 9) dan Bubrug (Gambar 10 dan Gambar 11).
IV.2.2 Parameter yang Diukur
IV.2.2.1 Parameter Fisika Kimia Perairan
Pada ekosistem perairan dilakukan pengukuran parameter fisika-kimia perairan. Hal ini penting untuk dilakukan dalam menentukan status ekologi perairan. Parameter yang diukur adalah :
Tabel 3. Parameter yang diukur dan alat yang digunakan
Temperatur (°C) Diukur di lapangan dengan alat DO (mg/L) Diukur di lapangan dengan alat
pH Diukur dilapangan dengan alat
Konduktivitas (mV) Diukur di Laboratodium dengan alat Amonium (ppm) Diukur di laboratorium dengan reagen
Nessler
Nitrat (ppm)
Diukur dengan metode Brussin
spekrofotometri dengan bantuan reagen H2SO4,Na Cl.
Nitrit (ppm)
Diukur dilaboratorium dengan mengukur intensitas hasil reaksi dengan asam sulfanilat dan N-dihidrochloride dengan
spektrofotometer pada panjang gelombang 520 nm.
Orthofosfat (ppm)
Diukur dilaboratorium dengan mengukur intensitas hasil reaksi dengan larutan ammonium molibdat dengan Hatch
spektrofotometer pada panjang gelombang 660 nm.
Diukur juga TSS (Total Suspended Solid) dan TDS (Total Dissolved
Solid) dalam satuan ppm dari sampel air yang diambil. TSS merupakan zat
tersuspensi dalam air, tidak larut. TDS merupakan zat yang larut dalam air. Pengukuran TSS melibatkan penguapan sampel air menggunaan furnace sehingga padatan tersuspensi dapat diukur.
IV.2.2.2 Paramater Biologi (Makrozoobentos)
Selain pengukuran parameter fisika-kimia, pada ekosistem perairan juga dilakukan pengamatan perairan dilakukan juga pengamtan parameter biologis dengan cara melakukan pencuplikan dan pengamatan makrozoobentos. Makrozoobnetos merupakan organisme yang hidup di dasar perairan. Makrozoobentos dapat dicuplik dengan menggunakan Eckman Grab (Gambar 4.2) ataupun Jala Surber (Gambar 4.3) tergantung pada substrat sistem perairan. Eckman Grab digunakan untuk substrat berlumpur, dan Jala
Surber digunakan untuk substrat berpasir dan berbatu. Makrozoobentos yang dicuplik, kemudian, diidentifikasi spesiesnya. Setelah identifikasi spesies, analisis data seperti menghitung kelimpahan atau menghitung indeks keanekaragaman makrozoobentos dapat dilakukan
Gambar 16. Eckman Grab
(Sumber : http://www.benmeadows.com/WILDCO-Ekman-Bottom-Grab-Sampler_31222253/)
Gambar 17. Jala Surber
(Sumber : http://black-kong.blogspot.com/2008/12/jala-surber.html )
Uji parameter hayati dilakukan karena dalam metode ini tidak hanya spesies tunggal yang diamati, tetapi juga ekosistem di lapangan sehingga akan diperoleh hasil yang lebih akurat (Surtikanti, 2008). Dalam prosesnya, penentuan kualitas air secara biologis dilakukan dengan menggunakan bioindikator yang berasal dari makrobentos atau mikrobentos (Surtikanti, 2008).
Bentos merupakan organisme yang mendiami dasar perairan dan tinggal di dalam atau pada sedimen dasar perairan. Payne (1986) menyatakan bahwa zoobentos adalah hewan yang sebagian atau seluruh siklus hidupnya berada di dasar perairan, baik sesil (diam di tempat), merayap, ataupun menggali lubang. Odum (1994) menjelaskan bahwa komponen biotic dapat memberikan gambaran mengenai kondisi fisik, kimia, dan biologi dari suatu perairan. Salah satu biota perairan yang dapat digunakan sebagai parameter biologi dalam menentukan kondisi suatu perairan adalah makrozoobentos. Makrozoobentos merupakan kelompok bentos yang berukuran lebih besar dari
1,0 mm (Jati, 2003). Berubahnya kualitas perairan sangat memengaruhi kehidupan biota yang hidup di dasar suatu perairan, diantaranya adalah makrozoobentos (Purnomo, 1989)
IV.2.3 Analisis Data
IV.2.3.1 Jumlah, Komposisi, dan Kelimpahan Makrozoobentos
Makrozoobentos yang telah dicuplik dan diidetifikasi selanjutnya dihitung dengan membagi jumlah individu makrozoobentos per spesies terhadap luas daerah cuplikan (ind/m²), maka hasilnya bergantung pada alat pencupliknya. Luas Eckman Grab = 15 cm x 15 cm = 225 cm². Luas Jala Surber = 15 cm x 40 cm = 600 cm².
4.2.3.2 Indeks Keanekaragaman, Kesamaan, dan Dominansi
Penentuan indeks keankeragaman atau indeks Shannon-Wiener (H’) pada makrozoobentos sama seperti penghitungan pada ekosistem terestrial yaitu dilakukan dengan cara mencai Pi yaitu perbandingan ni dalam sampel total N. (Pi=ni/N) dan ln pi kemudian Pi x ln pi dan dijumlahkan sehingga didapat indeks Keanekaragaman Shanon-Wiener (H’) yaitu - ∑ pi ln pi.
Selanjutnya, dilakukan pula penghitungan indeks kesamaan Sorensen (Is). Indeks kesamaan dilakukan untuk mengetahui derajat perbedaan antara dua komunitas, berdasarkan kehadiran spesies di setiap stasiun. Rumus penghitungan indeks kesamaaan adalah:
Is= 2CA+B x 100%
A = Jumlah kehadiran spesies di stasiun 1 B = Jumlah kehadiran spesies di stasiun 2 C = Jumlah kehadiran spesies di stasiun 1 dan 2
Selain Indeks Shannon-Wiener (H’), indeks kesamaan Sorensen (Is), Indeks dominansi (d) dihitung untuk menentukan adanya dominansi dari sutau spesies tertentu. Indeks dominansi berkisar antara 0-1. Bila indeks dominansi mendekati 0 maka tidak terdapat spesies dominan, sedangkan jika indeks dominansi mendekati 1 maka terdapat spesies dominan. Rumus penghitungan Indeks dominansi adalah sebagai berikut:
d= i=1s(Pᵢ)²
s = total spesies
Pi = Perbandingan semua individu dalam sampel menjadi bagian dari spesies ke-i.
4.2.3.3 Penentuan Status Ekologi Sungai
Penentuan status ekologi sungai dilakukan dengan menggunakan parameter fisika-kimia dan biologi ( indeks keanekaragaman (H')) yang telah didapat. Digunakan tabel 4 sebagai acuan, seperti yang tercantum dalam modul.
Tabel 4. Jenis Pengukuran dan alat yang digunakan
Variabel Skor
1 3 6 10
Warna Jernih Agak keruh Keruh kuning Keruh sekali, Bau Tidak berbau Agak berbau Berbau amis,
minyak tanah Berbau busuk, minyak tanah Suhu (oC) 16-20 21-25 26-31 >31; <16 Konduktivitas (mhos/cm) < 50 50-100 101-500 >500 Padatan tersuspensi (ppm) <20 >20-100 101-400 >400 O2 terlarut (ppm) >6,5 4,5-6,5 2,0-4,4 <2 pH 6,6-7,5 5,5-6,5 7,4-8,5 4,0-5,4 8,6 -11 <4,0 >11 H’ (Surber) >2,5 1,5-2,5 1,0-1,5 <1,0
Status ekologis ditentukan dengan merata-ratakan skoring untuk parameter fisika-kimia perairan (warna air hingga pH) yang sudah dirata-ratakan dengan indeks keanekaragaman makrozoobentos.
status ekologis= A+B2
A = rata-rata parameter fisika-kimia peraian B = skoring untuk H’
Kriteria untuk menentukan status ekologis adalah sebagai berikut:
• Tercemar ringan = skor rata-rata 2,00 – 4,00 • Tercemar sedang = skor rata-rata 4,00 -6,00 • Tercemar parah = skor rata-rata > 6,00
Status ekologi yang didapat kemudian dapat dianalisa dengan
menghubungkan hasil pengamatan parameter biologi yang didapatkan.
BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN
V.1 Ekosistem Terestrial
Ekosistem terestrial yang diamati pada kuliah lapangan kali ini berada di kawasan Situ Lembang, Gunung Tangkuban Perahu
V.1.1 Vegetasi
Vegetasi yang diamati pada kuliah lapangan kali ini terdiri dari tiga lokasi pengamatan dengan ekosistem yang berbeda-beda, terdiri dari ekosistem ladang, ekosistem hutan pinus, dan ekosistem hutan campuran.
V.1.1.1 Nama Komunitas dan Dominansi V.1.1.1.1 Ladang
Analisis vegetasi yang dilakukan dengan menggunakan metode
nasted plot menunjukkan bahwa lokasi ekosistem ladang
merupakan ekosistem yang vegetasinya didominasi oleh tumbuhan dalam bentuk perdu dan herba (lihat Gambar 3). Oleh karena itu, indeks nilai penting (NP) yang didapat untuk memberi nama komunitas pada lokasi ini hanya didasarkan pada tumbuhan perdu dan herba saja.
Dari Tabel 5, dapat diketahui bahwa Schima wallichii dan
Erigron memiliki indeks nilai penting yang tinggi. Schima wallichii adalah spesies pohon yang dapat tumbuh di berbagai
iklim, habitat dan tanah. Syarat yang dibutuhkan adalah cahaya yang sedang (medium). Keadaan demikian seringkali terdapat di dataran rendah primer, hutan di pegunungan, tetapi juga sangat umum di hutan-hutan terganggu dan hutan sekunder, semak belukar dan padang rumput dan bahkan di daerah dibanjiri dengan air payau (World Agro Forestry Centre). Dengan demikian, berdasarkan indeks nilai penting, nama komunitas tumbuhan perdu pada ekosistem ladang ini adalah Schima-Erigron.
Tabel 6. Perhitungan Nilai Penting Herba Tapak Ladang NO Nama Tumbuhan Kr Rf (%) Fr Rf (%) Kb Rf (%) NP 1 Salmalia malabarica 4,545454545 5,882352941 5,154639175 15,58244666 2 Musaenda sp 0 0 0 0 3 Eucalyptus alba 4,545454545 5,882352941 5,154639175 15,58244666 4 Mimosaps elengi 9,090909091 5,882352941 1,030927835 16,00418987 5 Schima wallichii 45,45454545 47,05882353 56,70103093 149,2143999 6 Melastoma avvinae 4,545454545 5,882352941 5,154639175 15,58244666 7 Erigron 9,090909091 11,76470588 12,37113402 33,22674899 8 Podocarpus 4,545454545 5,882352941 5,154639175 15,58244666 9 Paku perak 13,63636364 5,882352941 5,154639175 24,67335575 10 Auraceaea 4,545454545 5,882352941 4,12371134 14,55151883 TOTAL 100 100 100 300
NO Nama Tumbuhan Fr Rf (%) Kb Rf (%) NP 1 Ageratum austonianum 5,882353 5,210474 11,09283 2 Ageratum conizoides 0,735294 0,029355 0,764649 3 Argerati rariparia 0,735294 0,234838 0,970132 4 Artemicia vulgaris 1,470588 1,174191 2,64478 5 Biden chinensis 2,941176 0,308225 3,249402 6 Boreria 3,676471 0,410967 4,087438 7 Centela asiatica 5,882353 1,364997 7,24735 8 Clidemia hirta 0,735294 0,073387 0,808681 9 Commelinaceae 6,617647 3,011801 9,629448 10 Cynadon dactilon 2,205882 1,614513 3,820395 11 Cyperum 0,735294 1,174191 1,909485 12 Digitaria 8,823529 35,00558 43,82911 13 Egiratena hiparia 0 0 0 14 Emelia soncifolia 2,205882 2,348383 4,554265 15 Eragrostis 0,735294 1,100804 1,836098 16 Erigeron sumatraensis 8,088235 2,260318 10,34855 17 Eupatorium inulifolium 1,470588 0,146774 1,617362 18 Eupatorium rifarium 0,735294 0,073387 0,808681 19 Genapalium 0,735294 0,073387 0,808681 20 Kakawatan 2,205882 1,614513 3,820395 21 Kilinga 2,205882 1,614513 3,820395 22 Lamiaceae 3,676471 0,763224 4,439695 23 Lestularia 0,735294 0,073387 0,808681 24 Meliaceae 1,470588 0,528386 1,998974 25 Melinis minutiflora 1,470588 0,366935 1,837523 26 Pallegabr rasemosa 0,735294 0,029355 0,764649 27 Paspalum sp 6,617647 21,91334 28,53099 28 Penicetum purpurium 4,411765 3,889509 8,301273 29 Poaceace 8,088235 9,099982 17,18822 30 Poligala poniculata 2,941176 1,6879 4,629076 31 Qilingea bravivolia 0 0 0 32 Richardia brasiliensis 11,02941 2,803382 13,83279 33 Bravia 0 0 0 34 Burreria laevis 0 0 0
Dari tabel 6, dapat diketahui bahwa Digitaria dan Paspalum
sp., merupakan dua spesies herba pada tapak ladang yang
memiliki indeks nilai penting tertinggi. Dengan demikian, nama komunitas herba pada tapak ladang adalah Digitaria-Paspalum.
V.1.1.1.2 Hutan Pinus
Kawasan tapak hutan pinus merupakan hutan homogen. Vegetasinya terdiri atas tumbuhan dalam bentuk pohon, perdu,
dan herba. Di tapak ini, tumbuhan dalam bentuk pohon, terutama spesies pinus, sangat mendominasi vegetasi.
Tabel 7. Perhitungan Nilai Penting Pohon Tapak Hutan Pinus NO Nama Tumbuhan Kr Rf (%) Fr Rf (%) LAB Rf (%) NP
1 Tona cinensis 2,127659574 16,66667 0,292963 19,08729 2 Pinus merkusii 94,68085106 66,66667 96,81427 258,1618 3 Pinus insularis 3,191489362 16,66667 2,892763 22,75092
TOTAL 100 100 100 300
Dari tabel 7, terlihat bahwa hanya terdapat tiga spesies pohon. Dapat diketahui pula bahwa kedua spesies Pinus, yakni Pinus
merkusii dan Pinus insularis memiliki indeks nilai penting
tertinggi. Dapat disimpulkan bahwa, berdasarkan indeks nilai penting, komunitas pohon pada tapak hutan pinus merupakan komunitas Pinus.
Tabel 8. Perhitungan Nilai Penting Pedu Tapak Hutan Pinus NO Nama Tumbuhan Kr Rf (%) Fr Rf (%) Kb Rf (%) NP 1 Gonio plebium 0 0 0 0 2 Clidemia hirta 6,382978723 10 6,048387097 22,43136582 3 Kopi 19,14893617 30 10,08064516 59,22958133 4 Austro eupatorium 4,255319149 10 6,720430108 20,97574926 5 Brugmasia candida 4,255319149 5 5,376344086 14,63166323 6 Ageratina riparia 34,04255319 10 45,69892473 89,74147792 7 Ageratum conyzoides 6,382978723 10 0 16,38297872 8 Solanum pseudocapsicum 8,510638298 10 10,75268817 29,26332647 9 Kirinyuh 12,76595745 5 4,032258065 21,79821551 10 Cestum nocturrum 4,255319149 10 11,29032258 25,54564173 11 Solanace cocrum 0 0 0 0 TOTAL 100 100 100 300
Dari tabel 8, dapat diketahui bahwa spesies perdu Ageratina
riparia dan Kopi (Coffea) memiliki indeks nilai penting
tertinggi yang dapat disimpulkan menjadi nama komunitas perdu pada tapak hutan pinus, yakni komunitas Ageratina-Coffea.
Tabel 9. Perhitungan Nilai Penting Herba Tapak Hutan Pinus NO Nama Tumbuhan Fr Rf (%) Kb Rf (%) NP 1 Ageratina riparia 26,19048 34,10714 60,29762 2 Ageratum conozoides 2,380952 0,178571 2,559524 3 Austroeupatorium 2,380952 0,178571 2,559524 4 Desmodium trivorum 2,380952 2,678571 5,059524 5 Diplazium peterseni 33,33333 22,85714 56,19048 6 Epaanum separium 0 0 0 7 Eupatorium rifarium 9,52381 20 29,52381 8 Gonoplobium sp 0 0 0 9 Leklan ageratinaripasia 7,142857 5,714286 12,85714 10 Oplismenus compositus 7,142857 10,35714 17,5 11 Poaceae 4,761905 0,892857 5,654762 12 Pteris biaurita 0 0 0 13 Setaria palmifolia 4,761905 3,035714 7,797619
Dari tabel 9, dapat diketahui bahwa spesies perdu Ageratina
riparia dan Asplenium caudatum memiliki indeks nilai penting
tertinggi yang dapat disimpulkan menjadi nama komunitas herba pada tapak hutan pinus, yakni komunitas Ageratina-Diplazium. Spesies Ageratina riparia merupakan yang termasuk dalam famili Asteraceae. Spesies ini cenderung tumbuh di bagian hutan yang terbuka. Hutan pinus merupakan hutan yang sudah dikonversi sehingga cenderung lebih terbuka daripada hutan alami. Oleh karena itu, Ageratina dapat tumbuh di hutan pinus (Spooner, 2010).
V.1.1.1.3 Hutan Campuran
Hutan campuran merupakan tapak terakhir dalam pengamatan ekosistem terestrial kuliah lapangan proyek ekologi kali ini. Hutan campuran memiliki kondisi vegetasi yang relatif lebih
beragam dibanding dengan dua tapak sebelumnya. Vegetasi pada tapak hutan campuran terdiri dari tumbuhan bentuk pohon, perdu, dan herba.
Tabel 10. Perhitungan Nilai Penting Pohon Tapak Hutan Campuran NO Nama Tumbuhan Kr Rf (%) Fr Rf (%) LAB Rf (%) NP
1 Euria acuminata 8,064516129 12 0,616219 20,68074 2 Ficus liniata 11,29032258 4 0,526444 15,81677 3 Ficus sinuata 11,29032258 12 0,863727 24,15405 4 Ki hujan 3,225806452 4 0,00372 7,229526 5 Ki jeruk 3,225806452 4 0,25494 7,480747 6 Litsea sp. 19,35483871 4 0,002894 23,35773 7 Quercus lineata 19,35483871 28 96,62382 143,9787 8 Quercus linidia 3,225806452 4 0,955064 8,18087 9 Sauravia pendula 6,451612903 4 0,023788 10,4754 10 Schima walichi 6,451612903 12 0,114398 18,56601 11 Shizigium sp. 3,225806452 4 0,009929 7,235735 12 Myrtaceae 3,225806452 4 0,003371 7,229177 13 Trema orientalis 1,612903226 4 0,001686 5,614589 TOTAL 100 100 100 300
Dari tabel 10, diketahui bahwa jumlah spesies pohon pada hutan campuran relatif lebih banyak dibanding pada tapak hutan pinus yang hanya berjumlah tiga spesies. Pada tapak ini, spesies dengan nilai penting tertinggi adalah Quercus lineata dan Ficus
sinuata. Quercus lineata, atau pasang, merupakan spesies
pohon yang sering ditemukan di daerah dataran tinggi (Ranjan, 2009). Hutan campuran, dibanding dengan tapak ladang dan hutan pinus merupakan daerah yang lebih tinggi sehingga hutan campuran didominasi oleh spesies Quercus lineata. Menurut Dishut Jabar (2008), ekosistem hutan di kawasan GTP didominasi oleh Quercus lineata. Dengan demikian, nama komunitas pohon pada tapak hutan campuran berdasarkan indeks nilai penting adalah Quercus-Ficus.
Dari tabel 11, dapat diketahui bahwa spesies yang memiliki indeks Nilai Penting tertinggi adalah Ficus cinuata dan
Asplenium caudatum. Dengan demikian nama komunitas perdu
pada tapak hutan campuran adalah Ficus-Asplenium
NO Nama Tumbuhan Kr Rf (%) Fr Rf (%) Kb Rf (%) NP 1 Agalmyla 0 0 0 2 Ardicia mircinace 1,204819277 2,702702703 3,629764065 7,537286045 3 Asperium cauratus 4,21686747 2,702702703 2,722323049 9,641893222 4 Asplanium coratus 2,409638554 5,405405405 4,537205082 12,35224904 5 Asplenium caudatum 20,48192771 10,81081081 7,078039927 38,37077845 6 Austroeuphatorium inulifolium 1,807228916 2,702702703 2,722323049 7,232254667 7 Cyathea latebrosa 2,409638554 8,108108108 8,620689655 19,13843632 8 Dichroa febrifuga 1,204819277 5,405405405 2,268602541 8,878827223 9 Dixonia 4,21686747 2,702702703 0,181488203 7,101058376 10 Euria acuminata 1,807228916 5,405405405 5,444646098 12,65728042 11 Ficus cinuata 21,08433735 8,108108108 10,8892922 40,08173765 12 Ficus sp 0,602409639 2,702702703 0,362976407 3,668088748 13 Gonea plebium 3,614457831 2,702702703 2,722323049 9,039483583 14 Kina 1,807228916 2,702702703 3,629764065 8,139695684 15 Kunyit 1,807228916 2,702702703 2,177858439 6,687790058 16 Laciantus sp 0 0 0 0 17 Lubus moluccanus 0,602409639 2,702702703 0,907441016 4,212553358 18 Marinea cabitulata 1,204819277 2,702702703 2,722323049 6,629845029 19 Melastoma 13,25301205 5,405405405 0 18,65841745 20 Mitaceae 0 0 0 0 21 Piper sarmentosum 0 0 0 0 22 Psychotria montana 0 0 0 0 23 Quercus linneata 5,421686747 10,81081081 5,263157895 21,49565545 24 rotan 6,024096386 2,702702703 19,05626134 27,78306043 25 Salak 0 0 3,992740472 3,992740472 26 Sembilak 0,602409639 2,702702703 1,996370236 5,301482577 27 Shizigium sp. 0 0 0 0 28 Smilax zeilanica 2,409638554 2,702702703 4,537205082 9,649546339 29 Strobilantes sp 0 0 0 0 30 Strobilanus 0 0 0 0 31 Teaceae 1,204819277 2,702702703 2,722323049 6,629845029 32 Robus moluccanus 0 0 0 0 33 Ciercus lineata 0 0 0 0 34 Arcypteris irregularis 0,602409639 2,702702703 1,814882033 5,119994374 TOTAL 100 100 100 300
Tabel 12. Perhitungan Nilai Penting Herba Tapak Hutan Campuuran NO Nama Tumbuhan Fr Rf (%) Kb Rf (%) NP 1 Ageratina riparia 18,42105 24,1573 42,57836 2 Asplenium caudatum 10,52632 28,08989 38,6162 3 Asplenium cauratus 10,52632 20,22472 30,75103 4 Asplenium midus 0 0 0 5 Begonia 2,631579 0,280899 2,912478 6 Calatosema 2,631579 3,370787 6,002365 8 Carex sp. 2,631579 0,280899 2,912478 9 Cyathea latrebosa 10,52632 8,988764 19,51508 10 Dichroa febrifuga 0 0 0 12 Diplazium peterseni 2,631579 1,685393 4,316972 13 Elastostema sp. 0 0 0 14 Eupatorium riparium 0 0 0 15 Ferestria molischima 0 0 0 16 Forestia mulisima 2,631579 0,561798 3,193377 17 Freycinetia insignis 5,263158 3,932584 9,195742 18 Globa sp 0 0 0 19 Goniplibeum 0 0 0 20 Hedihium roxburgii 0 0 0 21 Lismenus compositus 0 0 0 22 Molineria capitulata 5,263158 1,966292 7,22945 23 Oplismenus compositus 10,52632 2,247191 12,77351 24 Pinanga kuhlihii 0 0 0 25 Piper sp 2,631579 0,280899 2,912478 26 Psicotria montana 5,263158 0,842697 6,105855 27 Rubus moluccanus 5,263158 2,808989 8,072147 28 Tetrastigma 2,631579 0,280899 2,912478
Dari tabel 12, dapat diketahui bahwa spesies herba yang memiliki nilai penting tertinggi adalah Asplenium riparia dan Asplenium
caudatum. Maka dapat disimpulkan bahwa nama komunitas herba
pada tapak hutan campuran adalah komunitas Asplenium. V.1.1.2 Biomassa Pohon
Pengamatan dan perhitungan biomassa pada pohon dilakukan untuk
menjelaskan mengenai struktur trofik dari suatu komunitas. Pada suatu komunitas vegetasi, jenis vegetasi yang memiliki biomassa sangat besar memengaruhi aliran energi dan material pada tingkatan-tingkatan trofiknya. Biomassa merupakan bobot dari suatu organisme atau populasi dalam satuan
per unit area atau volume. Biomassa merupakan bentuk energi dari sinar matahari yang disimpan dalam bentuk kimia dan material pada hewan maupun tumbuhan (Anonim 1, 2000). Biomassa, terutama pada tumbuhan, sering dikaitkan dengan stok karbon yang dimiliki tumbuhan karena fotosintesis yang dilakukan tumbuhan banyak berkaitan dengan unsur karbon, dan secara umum karbon menyusun sekitar 50% dari total biomassa tumbuhan (Anonim 1, 2000).
Nilai biomassa berkaitan erat dengan luas area basal pohon yang terdapat pada suatu komunitas. Semakin besar luas area basal dari suatu pohon di suatu komunitas, semakin besar nilai biomassanya. Nilai area basal ini merupakan luas permukaan tanah yang ditutupi oleh batang pohon. Semakin besar permukaan tanah yang tertutupi oleh pohon maka semakin besar pula nutrisi, air, ruang, udara, dan energi lainnya yang dipengaruhi oleh pohon tersebut. Oleh karena itu aliran energi pada trofik suatu komunitas akan dipengaruhi oleh nilai biomassa pohon pada komunitas tersebut.
Tabel 13. Luas area basal pohon pada tapak hutan pinus
Dari Tabel 13, diketahui sebanyak tiga spesies pohon yang ditemukan. Pinus merkusii merupakan spesies dengan nilai LAB terbesar yang ditemukan pada tapak hutan pinus dengan nilai tutupan 187.291,693 cm2 dari total tutupan sebesar 193.454,628 cm2 ditemukan pada plot. Jika dibandingkan dengan spesies Tana cinensis dan Pinus insularis, nilai LABnya berbeda cukup jauh. Hal ini menunjukkan bahwa biomassa terbesar pohon yang terdapat pada tapak hutan pinus berasal dari Pinus merkusii dengan nilai LAB relatif sebesar 96,81427%.
Tabel 14. Luas area basal pohon pada tapak hutan campuran NO TumbuhanNama LAB (cm2) LAB Rf
(%)
1 Tona cinensis 566,750 0,292963 2 Pinus merkusii 187291,693 96,81427 3 Pinus insularis 5596,184 2,892763
Dari tabel 14, diketahui sebanyak 13 spesies yang ditemukan, dan spesies Quercus lineata merupakan spesies dengan nilai tutupan atau luas area basal terbesar ditemukan pada tapak hutan campuran yakni dengan nilai 744.477,674 cm2 dari total keseluruhan sebesar 770.490,8236 cm2. Hal ini menunjukkan biomassa terbesar pohon yang terdapat pada tapak hutan campuran berasal dari spesies Quercus lineata dengan nilai kelimpahan LAB relatif sebesar 96,62382%.
V.1.1.3 Indeks Keanekaragaman
Keanekaragaman jenis ditentukan dengan menggunakan rumus Indeks Keanekaragaman Shannon-Wiener (H’). Keanekaragaman jenis adalah parameter yang sangat berguna untuk membandingkan dua komunitas, terutama untuk mempelajari pengaruh gangguan biotik, untuk mengetahui tingkatan suksesi atau kestabilan suatu komunitas (Weaver dan Shannon, 1949).
NO Nama Tumbuhan LAB (cm2) LAB Rf (%)
1 Euria acuminata 4747,912776 0,616219 2 Ficus liniata 4056,2 0,526444 3 Ficus sinuata 6654,94 0,863727 4 Ki hujan 28,66 0,00372 5 Ki jeruk 1964,29 0,25494 6 Litsea sp. 22,3 0,002894 7 Quercus lineata 744477,674 96,62382 8 Quercus linidia 7358,678234 0,955064 9 Sauravia pendula 183,280544 0,023788 10 Schima walichi 881,428 0,114398 11 Shizigium sp. 76,5 0,009929 12 Myrtaceae 25,97 0,003371 13 Trema orientalis 12,99 0,001686 TOTAL 770490,8236 100
Tabel 15. Klasifikasi nilai indeks Shannon-Wiener (H’)
Nilai H’ Kategori
> 3 Keanekaragaman tinggi, penyebaran jumlah individu tiap spesies tinggi dan kestabilan komunitas tinggi 1-3 Keanekaragaman sedang, penyebaran jumlah individu
tiap spesies sedang dan kestabilan komunitas sedang < 1 Keanekaragaman rendah, penyebaran jumlah individu
tiap spesies rendah dan kestabilan komunitas rendah Hasil perhitungan indeks keanekaragaman untuk ketiga bentuk hidup tumbuhan, pohon, perdu, dan herba, yang dicuplik di masing-masing ekosistem terrestrial, yakni tapak ladang, hutan pinus dan campuran, dapat dilihat pada Tabel 16.
Tabel 16. Indeks keanekaragaman tumbuhan
Tapak Tumbuhan Indeks keanekaragaman (H')
Ladang Pohon 0 Perdu 1,77 Herba 2.24 Hutan pinus Pohon 0,24 Perdu 1,91 Herba 1,69 Hutan campuran Pohon 2,10 Perdu 2,53 Herba 1,95
Secara umum, penyebaran jumlah individu tiap spesies dan kestabilan komunitas pada ekosistem terestrial adalah sedang, karena nilai indeks keanekaragaman Shannon-Wiener pada seluruh tapak berada pada kategori sedang (Weaver dan Shannon, 1949), yakni nilainya berada antara 1 dan 3, kecuali untuk tumbuhan dalam bentuk hidup pohon yang berada di tapak hutan pinus yang berada pada kategori rendah karena hanya bernilai 0,24. Rendahnya nilai H’ pada pohon di hutan pinus disebabkan oleh sedikitnya jenis pohon yang ditemukan pada tapak tersebut.
Pencuplikan hewan-hewan seperti arthropoda tanah dilakukan dengan metode pencuplikan sederhana yang menggunakan pendekatan estimasi relatif populasi dengan teknik pitfall trap yang sudah dipersiapkan pada hari sebelumnya. Pendekatan estimasi relatif populasi ini dilakukan ketika populasi individu atau kerapatan populasinya sulit untuk diukur, oleh karena itu informasi yang didapatkan merupakan gambaran atau perwakilan dari keseluruhan data populasi yang ada. Data yang didapat dapat digunakan untuk membuat informasi kelimpahan ataupun spesies dominan yang terdapat pada lokasi sampling (Magurran, 1988)
Pengamatan arthropoda tanah dilakukan pada 3 macam ekosistem terestrial, ladang, hutan pinus, dan hutan campuran. Seperti yang disebutkan di subbab IV.1.3.2 Arthropoda Tanah, parameter yang diukur dari antropoda tanah adalah indeks keanekaragaman. Hasil yang didapatkan pada suatu plot di suatu area selanjutnya akan dibandingkan dengan plot di area lain, yang nantinya akan terlihat perbedaan komunitas arthropoda di setiap area dengan kondisi ekosistem yang berbeda.
Tabel 17. Indeks keanekaragaman (H’) arthropoda tanah
Tapak Indeks Keanekaragaman (H')
Ladang 1.23094
Hutan Pinus 1.83526
Hutan Campuran 2.42824
Berdasarkan hasil yang didapatkan, pada tabel 17 indeks keanekaragaman untuk arthropoda tanah pada ekosistem terestrial di seluruh tapak memiliki kategori sedang yakni nilainya berkisar antara 1 dan 3, artinya arthropoda tanah pada ekosistem ini memiliki keanekaragaman sedang, penyebaran jumlah individu tiap spesies sedang dan kestabilan komunitas sedang. Nilai H’ paling tinggi terdapat pada tapak hutan campuran dan paling rendah pada tapak ladang. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh perbedaan tata guna lahan dan aktivitas manusia pada tiap tapak yang menyebabkan terganggunya habitat arthropoda tanah yang berupa tanah yang cenderung lembab dan tertutupo oleh serasah (Oliver, 2010).
V.1.3 Cacing
Sama seperti pada pengamatan yang dilkukan pada arthropoda tanah, pengamatan dan sampling cacing dilakukan pada 3 macam ekosistem terestrial, ladang, hutan pinus, dan hutan campuran. Sampling cacing dilakukan dengan melakukan penggalian dan pengambilan sample di 3 lokasi di dalam plot 10x10 m di tiap tapak secara acak. Volume area cuplikan adalah 30x30cm dengan total keseluruhan kelompok dianggap sebagai pengulangan di tiap tapak, sehingga luas total pengamatan adalah 1,08 m2. Parameter yang diukur dari cacing yang dikoleksi adalah kerapatan biomassa yang diukur dalam satuan g/m2.
Tabel 18. Kerapatan Biomassa Cacing
Tapak Kerapatan Biomassa (g/m2)
Ladang 0.139
Hutan Pinus 18.425
Hutan Campuran 0.306
Dapat dilihat pada tabel 18 bahwa kerapatan biomassa terbesar berada di hutan pinus, yaitu sebesar 20,04 g/m2 . Habitat populasi cacing dipengaruhi oleh kondisi biotik dan abiotiknya, terutama pada pH, kelembaban, dan struktur tanah. Kondisi mikroklimat tanah yang terdapat pada plot adalah pH tanah berkisar 6,6-7 dan kelembaban tanah 18-29% yang menurut Fall (1990) merupakan kondisi yang mendekati kondisi optimal bagi populasi cacing untuk tumbuh dan berkembang yakni pada pH tanah yang cenderung asam. Namun sayangnya, kondisi optimal kelembaban tanah haruslah diatas 70%. Sebagai gambaran, spesies cacing Lumbricus terestris yang berhasil membutuhkan pH tanah sekitar 5,4 (Fall, 1990). Analisis yang dapat disimpulkan adalah parameter pH tanah dan kelembaban bukan menjadi satu-satunya parameter untuk menentukan ada tidaknya populasi cacing. Karena kondisi biotik dan abiotik pada suatu ekosistem akan terus saling berinteraksi untuk membentuk kondisi dari ekosistem itu sendiri, salah satunya adalah ketersediaan nutrisi dan kemampuan reproduksi dan adaptasi dari populasi spesies itu sendiri (Fall, 1990).
V.1.4 Mamalia
NO. NAMA Jumlah Total (oleh 12 kelompok) Luas Total (m2) Kelimpahan (jml ind/ m2/ jam)
1 Maxomys surifer 2 9600 1,73611E-05
2 Suncus ater 4 9600 3,47222E-05
JUMLAH 6 19200 5,20833E-05
Tabel 20.
Persebaran spesies dalam plot dan jenis
kelamin
Pengamatan mamalia kecil dilakukan dengan pengambilan sampel dengan menggunakan life trap yang dipasang selama 12 jam. Lebih jelas tentang metodologi dapat dilihat pada subbab IV.1.2.2 dan IV.1.3.4. Hasil yang didapat lalu diolah dan dapat dilihat pada Tabel 19 dan Tabel 20.
V.2. Ekosistem Akuatik
Pengamatan ekosistem akuatik pada kuliah lapangan kali ini berada di sepanjang DAS Cimahi yang merupakan sub-DAS Citarum. Pengamatan dilakukan pada dua stasiun, yakni stasiun Siweh dan Stasiun Curug Bubrug.
V.2.1. Rona Lingkungan A. Stasiun Siweh
Rona lingkungan pada stasiun Siweh meliputi penutupan tajuk, masukan keluaran (inlet outlet), dan tata guna lahan, serta karakteristik perairan. Selama pengamatan rona lingkungan pada stasiun ini, tidak ditemukan adanya inlet dan outlet. Penutupan tajuknya berupa kanopi yang tebal dan tata guna lahan di sekitar sungai merupakan hutan alami. Karakteristik perairan pada stasiun ini adalah substratnya merupakan pasir PERSEBARAN DALAM PLOT DAN JENIS KELAMIN
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
A
BetinaB
jantan betinaC
D
E
BetinaF
jantanG
H
betina Maxomys surifer Suncus aterberkerikil, warna airnya bening, tidak berbau, dan aliran airnya berarus sedang.
B. Stasiun Curug Bubrug
Rona lingkungan pada stasiun Siweh meliputi penutupan tajuk, masukan keluaran (inlet outlet), dan tata guna lahan, serta karakteristik perairan. Selama pengamatan rona lingkungan pada stasiun ini, terdapat inlet yang berasal dari rembesan akar pohon dan tebing di sekitar aliran sungai, namun tidak ditemukan adanya outlet. Penutupan tajuknya berkisar 50% dan tata guna lahan di sekitar sungai merupakan perkebunan selada dan beberapa pemukiman penduduk. Karakteristik perairan pada stasiun ini adalah substratnya merupakan batu kerikil berpasir, warna airnya bening, tidak berbau, dan aliran airnya cukup deras
V.2.2. Makrozoobentos
V.2.1.1 Komposisi dan Kelimpahan Makrozoobentos
Menurut Odum (1971), sungai merupakan suatu ekosistem akuatik yang mengalir dari dataran tinggi menuju ke dataran yang lebih rendah. Arus merupakan ciri khas pada ekosistem lotik dan penentu faktor lingkungan fisika dan kimia serta komposisi substrat dasar sungai. Faktor-faktor tersebut mempunyai peranan penting dalam menentukan struktur komunitas hewan makrobentos yang hidup di dasar sungai. Ekosistem sungai sangat dipengaruhi oleh aktivitas manusia di daerah aliran sungai (DAS). Daerah aliran sungai merupakan suatu wilayah daratan yang dibatasi oleh punggung-punggung gunung atau bukit, yang menampung dan menyimpan serta mengalirkan air hujan yang jatuh ke dalam sungai, kemudian dialirkan ke laut melalui sungai utama.
Pada sungai alami keanekaraganan makrozoobentos cenderung meningkat dari hulu ke arah muara sungai. Kecenderungan ini disebabkan karena makin ke arah hilir endapan dan nutrien yang berasal dari materi alokhton yang masuk ke dalam sungai makin banyak. Bersamaan dengan itu makin ke arah hilir, sungai bertambah lebar dan kecepatan arus semakin berkurang, sehingga heterogenitas habitat berangsur-angsur makin bervariasi. Berdasarkan pada variasi adaptasi dan kisaran toleransi makrozoobentos terhadap perubahan lingkungan abiotik, maka makrozoobentos dapat digunakan sebagai indikator biologis di suatu perairan, karena lebih mampu memberikan gambaran kondisi lingkungan jika dibandingkan dengan