D. Tambak Ekstensif
5.5 Korelasi Antara Jumlah Burung Dengan INP dan Kerapatan pohon
(1) (2)
(3) (4)
Gambar 27 Interaksi antara struktur dan komposisi tumbuhan dengan keanekaragaman jenis burung.
Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa struktur dan komposisi jenis tumbuhan mangrove berpengaruh nyata terhadap keanekaragaman jenis burung.
Hal ini ditunjukkan dengan persamaan y = 2.3377x2 – 35.873x + 137.3 (R2 = 0.86) dengan koefisien determinasi 73.96% untuk sub-habitat mangrove primer (Gambar 27.1). untuk sub-habitat mangrove sekunder ditunjukkan dengan
38.97
Kerapatan Relatif Jenis (KRi) (%) INP (%)
persamaan y = 1.529x2 – 28.054x + 124.48 (R2 = 0.92) dengan koefisien determinasi 84.64% (Gambar 27.2), pada sub-habitat tambak intensif ditunjukkan dengan persamaan y = 2.847x2 – 42.928 + 158.06 (R2 = 0.85) dengan koefisien determinasi 72.25% (Gambar 27.3) dan untuk sub-habitat tambak ekstensif ditunjukkan dengan persamaan y = 6.2357x2 – 76.181 + 221.29 (R2 = 0.93) dengan koefisien determinasi 8.64% (Gambar 27.4).
5.6. Pembahasan
Keanekaragaman dan kelimpahan burung pada setiap sub-habitat menunjukkan adanya perbedaan. Sub-habitat tambak intensif yang vegetasi mangrovenya tidak terganggu memiliki keanekaragaman jenis dan kelimpahan burung yang lebih tinggi daripada sub-habitat mangrove primer, sub-habitat mangrove sekunder dan sub-habitat tambak ekstensif. Keanekaragaman jenis burung yang paling rendah terdapat pada sub-habitat tambak ekstensif. Dilihat dari keadaan vegetasinya, keempat sub-habitat memiliki jenis tumbuhan mangrove yang berbeda baik tinggi tajuk, kekayaan jenis dan luas penutupan tajuk. Dickson et al. (1979) menyatakan bahwa sifat-sifat vegetasi yang mendukung kehidupan burung adalah keanekaragaman jenisnya, strukturnya, kerapatan populasi dan kerapatan tajuk-tajuknya. Dempser (1975) menyatakan bahwa keanekaragaman satwa dipengaruhi oleh komposisi jenis-jenis tumbuhan yang ada menyediakan bahan makanan bagi satwa. Keanekaragaman jenis burung yang cukup tinggi pada sub-habitat tambak intensif sangat mendukung pendapat diatas. Pada sub-habitat ini kelimpahan makanan dan tutupan tajuk sangat mendukung kehidupan burung, tetapi tidak semua burung ditemukan pada sub- habitat tambak ini. Alikodra (1990) hutan primer, hutan sekunder dan semak merupakan habitat bagi burung, karena disemua tempat tersebut ditemukan berbagai jenis burung, namun tidak semua satwa menggunakan satu tipe habitat untuk memenuhi semua kebutuhan hidupnya.
Habitat terdiri dari kumpulan gugus-gugus sumberdaya yang didefinisikan sebagai tipe komunitas tumbuhan berbeda. Gugus-gugus habitat lebih besar dari satu daerah jelajah individu burung, dan individu-individu dalam satu kelompok menempati habitat yang sama sedangkan individu-individu kelompok lain menempati habitat yang berbeda (Hunter et al. 1992). Beberapa tumbuhan dalam
gugus sumberdaya dimanfaatkan oleh burung sebagai pakan atau pelindungan.
Gugus-gugus sumberdaya (pakan), ketika terjadi pada skala kecil bahkan lebih kecil dari 200 m2 dapat berpengaruh langsung terhadap taktik perilaku secara individu (Hunter dkk. 1992). Pada sub-habitat tambak ekstensif keanekaragaman jenis burung sangat rendah hal ini disebabkan karena keanekaragaman jenis tumbuhannya juga sangat rendah.
Keanekaragaman jenis burung pada sub-habitat mangrove primer dan sekunder mempunyai persamaan disebabkan pada sub-habitat ini jenis tumbuhannya mempunyai persamaan, tetapi tingginya keanekaragaman jenis pada sub-habitat mangrove sekunder ini akibat adanya eksploitasi dan konversi lahan yang sangat tinggi membuat tutupan kanopi pohon menjadi terbuka dan terbentuk efek tepi (edge). Akibat yang ditimbulkan dari tutupan kanopi yang terbuka dan efek tepi (edge) ini menurunkan keanekaragaman jenis burung.
Perubahan vegetasi dalam suatu habitat, dapat mempengaruhi burung-burung yang hidup didalamnya, baik mengenai komposisi komunitas maupun kebiasaan hidupnya. Lambert (1992) memperlihatkan perubahan komposisi akibat adanya perubahan habitat. Perubahan ini terjadi dihutan dataran rendah yang telah diubah menjadi areal terbuka oleh adanya penebangan hutan. Adanya areal terbuka, beberapa spesies burung mengalami perubahan strata tempat mencari makannya dan luas daerah jelajahnya bertambah. Variasi jenis tumbuhan yang tinggi memberi peluang pada banyaknya jenis-jenis serangga yang menenpati vegetasi tersebut, yang pada akhirnya mempengaruhi keanekaragaman jenis burung. Teori ”relung ekologi” (Kendeigh 1975; Krebs, 1972 Odum, 1971) menerangkan bahwa sifat-sifat yang beragam dari sutu komunitas tumbuhan menyebabkan relung ekologi beragam pula. Oleh karena itu relung ditempati hanya oleh satu jenis (McNaughton dan wolf, 1990) maka banyaknya relung pada vegetasi akan menyebabkan banyaknya jenis burung.
Disamping faktor ketersediaan sumber makanan, tingginya keanekaragaman jenis burung pada sub-habitat tambak intensif berhubungan juga dengan profil vegetasi dan tumbuhan pada strata bawah. Sedangkan pada strata atasnya tumbuh pohon-pohon yang tinggi dengan penutupan tajuk yang rapat sepeti Xilocarpus
granatum Koen, Excoecaria agallocha L dan beberapa jenis Rhizophora apiculata BI.
Disamping faktor-faktor diatas keanekaragaman jenis burung juga dipengaruhi oleh lingkungan seperti tanah, air, temperatur, cahaya matahari serta faktor-faktor biologis yang meliputi vegetasi dan satwa lainnya (Welty dan Baptista 1988). Penggunaan habitat oleh burung berubah-ubah tergantung penampakan habitat yang menyediakan makanan. Pengubahan aktivitas makan pada struktur vertikal dibagian tanaman sangat dipengaruhi oleh penyebaran pakan dipohon tersebut. Nurwatha (1994) dari hasil penelitiannya, burung Cabe-cabe, Cinenen kelabu, dan Sriganti menggunakan lapisan tajuk yang berbeda pada habitat tanaman kota yang berbeda, karena ketersediaan pakan pada ketinggian tumbuhan yang berbeda. Kehadiran suatu burung pada suatu habitat merupakan hasil pemilihan karena habitat tersebut sesuai untuk kehidupannya. Pemilihan habitat ini akan menentukan burung pada lingkungan tertentu. Hidup dalam lingkungan yang khusus itu akan memberikan berbagai penamalan yang dapat meningkatkan perbedaan perilaku pada berbagai jenis burung dalam menggunakan habitatnya. Tidak ditemukannya suatu jenis hewan termasuk burung di suatu habitat menurut Krebs dan Davis (1978) disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya yaitu: (1) ketidakcocokan habitat, (2) perilaku (seleksi habitat), (3) kehadiran jenis hewan lain (predator, parasit dan pesaing) dan (4) faktor kimia-fisika lingkungan yang berada di luar kisaran toleransi jenis burung yang bersangkutan.
Ketersediaan pakan dalam habitat yang ditempati merupakan salah satu faktor utama bagi kehadiran populasi burung. Burung tidak memanfaatkan seluruh habitatnya, melainkan ada seleksi terhadap beberapa bagian dari habitat tersebut yang digunakan sesuai dengan kebutuhannya (Wiens, 1992). Pengaruh keterbatasan pakan pada burung dapat terjadi secara tidak langsung, yaitu ketika kompetitor merampas seluruh daerah atau sebagian dari suplai makanan (Hunter dkk, 1992). Potensi sumberdaya, seperti ketersediaan pakan di habitat yang ditempati, merupakan salah satu faktor utama bagi kehadiran populasi burung (Wiens, 1992), sehingga lahan pertanian, dan bahkan kawasan kampus serta daerah pemukiman penduduk dapat menjadi habitat penting, apabila di daerah
tersebut ketersediaan makanan berlimpah. Misalnya, sejenis burung betet jawa sering ditemukan di lingkungan kebun percobaan IPB darmaga (Partasasmita, 1998, 1999, 2000), kakatua kecil Nymphicus hollandricus (Kerr) di Australia sering ditemukan di daerah pertanian gandum karena daerah tersebut menyediakan jenis makanan yang disukainya (Jones, 1987). Hal ini juga berkaitan dengan adanya kemampuan burung untuk memilih habitat yang sesuai dengan ketersediaan sumberdaya untuk kebutuhan hidupnya (Wiens, 1992).
Kekayaan spesies dan struktur komunitas burung berbeda dari suatu wilayah dengan wilayah yang lainnya (Karr, 1976 dalam Johnsingh dan Joshua, 1994). Keanekaan spesies di suatu wilayah dietentukan oleh berbagai faktor.
Keanekaan spesies mempunyai sejumlah komponen yang dapat memberi reksi secara berbeda-beda terhadap faktor geografi, perkembangan dan fisik (Odum 1994). Keanekaan spesies kecil terdapat pada komunitas daerah dengan lingkungan yang ekstrim seperti daerah kering, tanah miskin apalagi bekas kebakaran atau letusan gunung merapi, sedangkan keanekaan yang tinggi biasanya terdapat pada lingkungan yang optimum.
Keanekaan jenis burung di suatu wilayah dipengaruhi oleh faktor – faktor sebagai berikut :
1. Ukuran luas habitat. Semakin luas habitatnya, cenderung semakin tinggi keanekaan jenis burungnya.
2. Struktur dan keanekaan jenis vegetasi. Di daerah yang keanekaan jenis tumbuhannya tinggi maka keanekaan jenis hewannya termasuk burung, tinggi pula. Hal ini disebabkan karena setiap jenis hewan hidupnya bergantung pada sekelompok jenis tumbuhan tertentu (Ewusie 1990).
3. Keanekaan dan tingkat kualitas habitat secara umum di suatu lokasi (Gonzales 1993). Semakin majemuk habitatnya cenderung semakin tinggi keanekaan jenis burungnya.
4. Pengendali ekosistem yang dominan. Keanekaan jenis burung cenderung rendah dalam ekosistem yang terkendali secara fisik dan cenderung tinggi dalam ekosistem yang diatur secara biologi (Odum 1994).
Keanekaan spesies hewan termasuk burung dipengaruhi oleh tingkat ketersediaan makanan. Keanekaan spesies yang lebih tinggi berarti rantai-rantai
pakangan yang lebih panjang dan lebih banyak kasus dari simbiosis (mutualisme, parasitisme, dan komensalisme), sehingga mengurangi rantai makanan tersebut menjadi lebih mantap (Heddy 1994; Odum 1994). Pada umumnya habitat dapat mengalami perubahan kondisi musiman dalam struktur dan ketersediaan makanan. Konsep suksesi dapat menjelaskan respons satwa terhadap perubahan habitat, yaitu setiap tingkatan suksesi berkaitan erat dengan komposisi satwa liar yang menempatinya (Alikodra,1990).
Glue (1971 dalam Welty dan Baptista, 1988) mendapatkan jenis-jenis burung dominan yang berbeda pada tiap tahapan suksesi proses reklamasi suatu lahan basah. Tiga tahun setelah selesai reklamasi, jenis burung yang dominan adalah Anthus pratensis. Duabelas tahun kemudian, ketika lahan tersebut telah berubah menjadi bentangan lumpur yang lembek, jenis burung yang dominan adalah Emberiza schoeniculus. Burung junggit kuning (Motacilla flava) mendominansi saat lahan telah menjadi bentangan lumpur yang keras, 19 tahun setelah reklamasi. Selanjutnya ketika lahan tersebut telah berubah menjadi padang rumput, jenis burung yang mendominansi adalah Alanda arvensis. Perbedaan keanekaragaman burung juga terjadi berdasarkan tingkat usia dari tumbuhan di kawasan hutan Gunung Tangkuban Parahu yaitu pada hutan pinus yang berusia <
5 tahun jenis yang ditemukan 6 spesies dengan lebih didominasi oleh spesies burung Megalurus palustris; hutan pinus berusia 6-10 tahun ditemukan 7 spesies dengan lebih didominasi oleh spesies burung Zosterops palpebrosus; hutan pinus berusia 11-15 tahun ditemukan 13 spesies dengan lebih didominasi oleh spesies burung Zosterops palpebrosus dan Lanius schach ; hutan pinus berusia >15 tahun ditemukan 21 spesies dengan lebih didominasi oleh spesies burung Zosterops palpebrosus dan Parus major (Hadiprayitno, 1999).
Perubahan struktur habitat terjadi secara alami (kebakaran) atau akibat aktivitas manusia (penebangan) yang telah banyak dilaporkan oleh banyak peneliti berdasarkan perhitungan populasi burung akibat kebakaran. Perubahan komposisi dan keanekaragaman burung tampak pada beberapa peristiwa kebakaran hutan yang dapat menurunkan jumlah keanekagaman burung yang menempatinya. Sebagai contoh pada bekas kebakaran dari hutan pinus berusia >
15 tahun di kawasan hutan Gunung Tangkuban Parahu mengalami penurunan
jumlah spesies yang mendiaminya dari 21 spesies menjadi 12 spesies. Hal serupa juga ditemukan di kawasan hutan Acer saccharum di kaki Gunung Applachia menunjukkan penurunan kelimpahan burung-burung Empidonax minimus, Vireo olivaceus, dan Dendroica caeruscens yang mempunyai kepadatan 1,2 - 1,7 pasang/ha, ternyata setelah mengalami penebangan populasi burungnya menurun menjadi 0,4 pasang /ha.
Spesies-spesies hewan yang berbeda dalam suatu hutan umumnya berkaitan dengan tingkatan kanopi yang berbeda pula, yang menimbulkan suatu stratifikasi vertikal hewan sebagaimana yang terdapat pada tanaman. Hewan juga bergerak secara horizontal untuk menghasilkan pola tiga dimensi yang kompleks.
Penggunaan habitat oleh burung berubah-ubah tergantung penampakan habitat yang menyediakan makanan. Berubahnya aktivitas makan pada struktur vertikal di suatu pohon sangat dipengaruhi oleh penyebaran pakan di pohon tersebut.
Jenis-jenis burung yang dominan dijumpai pada lokasi penelitian antara lain Cinenen kelabu (Orthotomus ruficeps) (Gambar 28), Elang bondol (Haliastur indus) (Gambar 29), Burung madu bakau (Nectarinia calcostetha), burung madu sriganti (Nectarinia jugularis), kutilang (Pycnonotus aurigaster), Terocokan (Pycnonotus goiavier), Kipasa belang (Rhipidura javanica) dan Camar putih (Sterna sumatrana). Jenis-jenis burung yang dilindungi antara lain Kipasan belang (Rhipidura javanica), Elang bondol (Haliastur indus), Pekakak emas (Todirhampus chloris), kuntul perak (Egretta intermedia) dan Kuntul besar (Egretta alba) (Gambar 30). Sedangkan burung yang terancam punah antara lain Kucica kampung (Capsichus saularis), Kutilang (Pycnonotus aurigaater), Terocokan (Pycnonotus goiavier). Sedangkan burung yang dilindungi dan terancam punah antara lain Burung madu sriganti (Nectarinia jugularis). Pada lokasi penelitian juga ditemukan burung migran dari famili Scolapacidae yaitu jenis burung Gajahan besar (Numenius arquata) dan Gajahan timur (Numenius madagascariensi).
Berdasarkan jenis makannya burung-burung yang dijumpai didaerah penelitian terdiri dari: 12 jenis pemakan serangga (Insectivora), 2 jenis pemakan biji (Granivora), 5 jenis pemakan buah (Frugivora), 3 jenis pemakan madu (Nectarivora), 13 jenis pemakan udang, ikan, molusca (Piscivora) dan 16 jenis
pemakan gading/ikan (Carnivora). Burung pemakan serangga dan pemakan ikan ditemukan paling banyak pada lokasi penelitian (Lampiran 21).
Gangguan Kawasan
Jumlah burung di lokasi penelitian mengalami penurunan yang sangat signifikan jika dibandingkan dengan penelitian yang dilakukan oleh Giesen dan Soekotjo tahun 1991 (Lampiran 5). Berdasarkan komposisi spesies burung yang ditemukan di Suaka Margasatwa Karang Gading dan Langkat Timur Laut Sumatera Utara. Dapat dibagi atas beberapa golongan, yaitu : (1) Burung Merandai 5 jenis (2) Burung pantai/migran 2 jenis (3) Burung yang dilindungi pemerintah 5 spesies (3) Burung yang dilindungi pemerintah dan terancam punah 1 spesies (4) Burung yang terancam punah 10 spesies (5) Golongan burung yang keberadaannya di SuakaMargasatwa Karang Gading dan Langkat Timur Laut 26 spesies, migrasi lokal 19 spesies dan burung yang tidak ditemukan 22 spesies.
Penurunan jumlah burung di Suaka Margasatwa Karang Gading dan Langkat Timur laut disebabkan tingkat konversi dan ekploitasi lahan yang cukup tinggi seperti perubahan kawasan menjadi tambak, kebun kelapa sawit, penebangan pohon secara liar untuk dijadikan sebagai bahan dasar pembuatan arang dan untuk hewan terjadi gangguan berupa berburuan liar, sasaran berupa satwa dan burung endemik maupun migran. Peralatan yang dipakai dalam perburuan berupa jebakan atau jerat, anjing pemburu, sumpit dan senapang angin (Kantor Wilayah Departemen Kehutanan dan Perkebunan Sumatera Utara 1988).
Gambar 28 Cinenen kelabu (Orthotomus ruficeps) burung terestrial yang mendominasi kawasan Suaka Margasatwa KGLTL.
Gambar 29 Kuntul besar (Egretta alba) burung air yang mendominasi kawasan Suaka Margasatwa KGLTL.
Gambar 30 Elang bondol (Haliastur indus) burung yang dilindungi di kawasan Suaka Margasatwa KGLTL.
Gambar 31 Jenis burung migran yang ditemukan di lokasi penelitian.
Gambar 32 Sikatan bakau (Cyornis rufigastra) jenis burung yang mendominasi lantai hutan mangrove