• Tidak ada hasil yang ditemukan

SURAT PERNYATAAN. Bogor, Juli Adil G

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "SURAT PERNYATAAN. Bogor, Juli Adil G"

Copied!
120
0
0

Teks penuh

(1)

LANGKAT TIMUR LAUT PROVINSI SUMATERA UTARA

A D I L

SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2008

(2)

Struktur dan Komposisi Jenis Tumbuhan Dengan Keanekaragaman Jenis Burung di Hutan Mangrove Suaka Margasatwa Karang Gading Dan Langkat Timur Laut Provinsi Sumatera Utara” merupakan gagasan dan karya saya beserta komisi pembimbing yang belum pernah dipublikasikan dalam bentuk apapun. Sumber data informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan oleh penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.

Bogor, Juli 2008

Adil G 351060141

(3)

Langkat Timur Laut Wildlife Preserves, Province of North Sumatera. Under the direction of DEDE SETIADI and JARWADI B. HERNOWO.

Karang Gading and Langkat Timur Laut is Wildlife game reserve, that are covered by mangrove forest and are potential region in supporting local and migratory bird life, are one of conservation area in North Sumatera Province. In increasing population number of people surrounding the project area was also followed by the increasing of live needs Gading Beach, which is very susceptible with conversion and high exploitation. The conflict interest requently occurs in case of converting land that caused impact to ecology and economy of properties, and indirectly affect to the decreasing of bird diversity. The objectives of this research were to analyze the relationships between the structure and composition of tree species and the bird biodiversity. The research was conducted from June to September 2007 in the Karang Gading Beach and Langkat Timur Laut Wildlife game reserve North Sumatera Province. The sampling area was selested four sub- habitats consisting of (1) primary mangrove sub-habitat, (2) Secondary mangrove sub-habitat, (3) intensif embankment sub-habitat, and (4) extensive embankment sub-habitat. A purposive sampling method was applied for mangrove vegetation, and IPA (Indices Ponctuels d’Abundances) and CC (Concentration Counts) method were used for bird observe. Results showed that there signifikant relationships between the structure and composition of tree species and the bird biodiversity in all sub-habitats. The correlation coefficient in primary mangrove sub-habitat was higher than those of the other sub-habitats. The correlation coefficients of 0.86, 0.92. 0.85 and 0.93 were for primary mangrove. Secondary mangrove, intensive embankment and extensive embankment sub-habitat, respectively. Higt variaty of tree species in each sub-habitat could increase the bird diversity.

Keywords: Structure and composition, correlation, biodiversity bird

(4)

Keanekaragaman Jenis Burung di Hutan Mangrove Suaka Margasatwa Karang Gading dan Langkat Timur Laut Provinsi Sumatera Utara. Dibimbing oleh Dede Setiadi dan Jarwadi B. Hernowo.

Pantai Karang Gading dan Langkat Timur Laut provinsi Sumatera Utara merupakan satu-satunya kawasan konservasi di Provinsi Sumatera Utara yang ditumbuhi hutan mangrove. Berdasarkan pengamatan di lapangan, menunjukkan kawasan tersebut sebagai Suaka Margasatwa mempunyai kepentingan yang cukup signifikan untuk diteliti: (1) Kawasan hutan di Karang Gading dan Langkat Timur Laut merupakan habitat berbagai satwa liar (2) Hutan mangrove di daerah yang bersangkutan membentuk ekosistem mangrove dengan hamparan yang cukup kompak dan luas (3) Belum banyak penelitian hubungan antara burung dengan mangrove.

Dengan meningkatnya jumlah penduduk dan kebutuhan hidup di Pantai Karang Gading yang semakin tinggi, kawasan ini sangat rentan dengan tingkat konversi dan eksploitasi lahan yang cukup tinggi. Selain itu kawasan ini juga telah terjadi konflik kepentingan berupa pengkonversian lahan menyebabkan terjadinya perubahan peruntukan kawasan yang berdampak pada perubahan ekologis maupun ekonomisnya, yang secara tidak langsung berdampak terhadap penurunan keanekaragaman jenis burung.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur dan komposisi jenis tumbuhan mangrove, mengetahui keanekaragaman jenis burung, hubungan antara struktur dan komposisi jenis tumbuhan dengan keanekaragaman jenis burung dan sebagai masukan kepada instansi terkait dalam memanfaatkan ekosistem mangrove secara lestari.

Penelitian ini dilakukan selama lebih kurang 3 bulan mulai dari bulan Juni sampai dengan September 2007 di Pantai Karang Gading, Langkat, Sumatera Utara. Dengan menetapkan 4 sub-habitat yaitu: (1) Sub-habitat mangrove primer (2) Sub-habitat mangrove sekunder (3) Sub-habitat tambak intensif (4) Sub- habitat tambak ekstensif.

Metode penelitian untuk vegetasi mangrove dengan menggunakan sampling purposive menggunakan sampling garis paralel sistematis dengan masing-masing stasiun terdiri dari 3 transek garis dan tiap transek garis terdiri dari 6 plot.

Sedangkan untuk pengamatan burung digunakan metode IPA (Indices Ponctuels d’Abundances) dan Metode Terkonsentrasi (Concentration counts).

Hasil pengamatan yang telah dilakukan pada 4 sub-habitat didapatkan 38 jenis, 19 famili dengan tingkat pertumbuhan fase pohon 27 jenis, pancang 23 jenis dan tingkat semai 24 jenis.

Untuk sub-habitat mangrove primer pada tingkat pohon didominasi oleh bakau hijau (Rhizophora apiculata BI) dengan indeks nilai penting 128.6%, kerapatan relatif jenis (KRi) 43.85%, frekuensi relatif jenis(FRi) 27.42% dan dominansi relatif jenis (DRi) 57.38% dengan indeks keanekaragaman jenis (H'=1.74) dan indeks kemerataan jenis (E=0.78). Untuk sub-habitat mangrove sekunder didominasi oleh bakau hijau (Rhizophora apiculata Bl) dengan indeks nilai penting 115.30%, kerapatan relatif jenis (KRi) 40.86%, frekuensi relatif jenis

(5)

dengan indeks nilai penting 102.53%, kerapatan relatif jenis (KRi) 38.97%, Frekuensi relatif jenis (FRi) 31.57% dan dominansi relatif jenis (FRi) 31.98%

dengan indeks keanekaragaman jenis (H'=1.27) dan indeks kemerataan jenis (E=0.70). Sedangkan untuk sub-habitat tambak ekstensif didominasi oleh buta- buta (Excoecaria agalloca L) dengan indeks nilai penting 172.16%, kerapatan relatif jenis (KRi) 61.76%, frekuensi relatif jenis (FRi) 52.37% dan dominansi relatif jenis (DRi) 58.01%, dengan indeks keanekaragaman jenis (H'=1.09) dan indeks kemerataan jenis (E=0.78).

Untuk tingkat Pancang pada sub-habitat mangrove primer didominasi olen nyirih (Xylocarpus granatum Koen) dengan indeks nilai penting 108.12, kerapatan relatif jenis (KRi) 36.44%, frekuensi relatif jenis (FRi) 30.55%, dan dominansi relatif jenis (DRi) 41.22%, dengan indeks keanekaragaman jenis (H'=1.76) dan indeks kemerataan jenis (E=0.80). Pada sub-habitat mangrove sekunder didominasi oleh bakau hijau (Rhizophora apiculata Bl) dengan indeks nilai pentng 102.37%, kerapan relatif jenis (KRi) 31.86%, frekuensi relatif jenis (FRi) 29.99%, dan dominansi relatif jenis (DRi) 40.52%, dengan indeks keanekaragaman jenis (H'=1.54) dan indeks kemerataan jenis (E=0.85). Pada tambak intensif didominsi oleh buta-buta (Excoecaria agalloca L) dengan indeks nilai penting 101.59%, kerapatan relatif jenis (KRi) 36.00%, frekuensi relatif jenis (FRi) 29.99%, dan dominansi relatif jenis (DRi) 35.59%, dengan indeks keanekaragaman jenis (H'=1.35) dan indeks kemerataan jenis (E=0.83).

Sedangkan untuk tambak ekstensif di dominasi oleh buta-buta (Excoecaria agalloca L) dengan indeks nilai penting 183.06%, kerapatan relatif jenis (KRi) 63.63%, frekuensi relatif jenis (FRi)=54.54%, dan dominansi relatif jenis (DRi) 64.87%, dengan indeks keanekaragaman jenis (H'=1.00) dan indeks kemerataan jenis (E=0.72).

Untuk tingkat semai pada sub-habitat mangrove primer didominasi oleh bakau hijau (Rhizophora apiculata Bl) dengan indeks nilai penting 125.17%, kerapatan relatif jenis (KRi)=71.05% dan Frekuensi relatif jenis (FRi) 57.12%, dengan indeks keanekaragaman (H'=1.11) dan indeks kemerataan (E=0.68). Pada sub-habitat Mangrove sekunder didominasi oleh bakau hijau (Rhizophora apiculata Bl) dengan indeks nilai penting 68.19%, keapatan relatif jenis (KRi)53.91% dan frekuensi relatif jenis (FRi) 14.28%, dengan indeks keanekaragaman jenis (H'=1.59) dan indeks kemerataan jenis (E=0.81). Pada sub- habitat tambak intensif didominasi oleh bakau hijau (Rhizophora apiculata Bl) dengan indeks nilai penting 110.62%, kerapatan relatif jenis (KRi) 63.25%, dan frekuensi relatif jenis (FRi) 47.36%. dengan ineks keanekaragaman jenis (H'=1.19) dan indeks kemerataan jenis (E=0.73). Pada sub-habitat tambak ekstensif didominasi oleh nyirih (Xylocarpus granatum Koen) dengan indeks nilai penting 59.83%, (KRi) =26.50%, frekuensi relatif jenis (FRi) 33.33%, dengan indeks keanekaragaman jenis (H'=1.58) dan indeks kemerataan jenis (E= 0.81).

Pada pengamatan keanekaragaman jenis burung pada tiap sub-habitat ditemukan 24 jenis burung pada sub-habitat mangrove primer dengan indeks keanekaragaman jenis (H'=2.60) dan indeks Kemerataan (E= 0.81). Pada sub- habitat mangrove sekunder ditemukan 19 jenis burung dengan indeks

(6)

ekstensif ditemukan 13 jenis burung, dengan indeks keaneragaman jenis burung (H'=2.28) dan indeks kemerataan (E=0.89). Pada pengamatan burung air ditemukan 16 jenis dengan indeks keanekaragaman jenis (H'=2.14) dan indeks kemerataan jenis (E=0.77).

Dari hasil analisis korelasi antara struktur dan komposisi jenis tumbuhan dengan keanekaragaman jenis burung di Suaka Margasatwa Karang Gading dan Langkat Timur Laut menunjukkan korelasi yang cukup kuat. Untuk sub-habitat mangrove primer (R2) 0.86, untuk sub-habitat mangrove sekunder (R2) 0.92, untuk sub-habitat tambak intensif (R2) 0.85 dan untuk sub-habitat tambak ekstensif (R2) 0.93.

Kesimpulan dari penelitian ini semakin banyak jenis tumbuhan pada masing-masing sub-habitat semakin tinggi keanekaragaman jenis burung.

Sehingga dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan dalam upaya rehabilitasi hutan mangrove dikawasan Suaka Margasatwa Pantai karang Gading dan Langkat Timur Laut.

(7)

© Hak Cipta milik IPB, tahun 2008 Hak Cipta dilindungi Undang-Undang

Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB

Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh Karya tulis dalam bentuk apa pun tanpa izin IPB

(8)

A D I L

Tesis

Sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Magister Sains pada

Program Studi Biologi

SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR 2008

(9)

Langkat Timur Laut Provinsi Sumatera Utara.

Nama : A d i l

NIM : G351060141

Disetujui Komisi Pembimbing

Prof. Dr. Ir. H. Dede Setiadi, M.S Ir. Jarwadi B. Hernowo, M.Sc.F Ketua Anggota

Diketahui

Ketua Program Studi Biologi Dekan Sekolah Pascasarjana

Dr. Ir. Dedy Duryadi Solihin. DEA Prof. Dr. Ir. Khairil A. Notodiputro, M.S

Tanggal ujian: 18 Juli 2008 Tanggal lulus:

(10)

Penguji Luar Komisi pada Ujian Tesis : Prof. Dr. M. Bismark, M.S

(11)

Penulis dilahirkan di Lubuk Pakam, 19 Juli 1968 dan merupakan anak ketujuh dari delapan bersaudara pasangan Ayahanda Muzir (Alm) dan Ibunda Aisnah (Almh). Penulis menikah dengan Lismawati dan dikaruniai tiga putri.

Pendidikan yang telah ditempuh penulis adalah di SDN 101899 Lubuk Pakam tahun 1982, kemudian SMPN 2 Lubuk Pakam tahun 1985, dan SMAN 1 Lubuk Pakam tahun 1988. Pendidikan tinggi ditempuh di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Medan Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FPMIPA) jurusan Pendidikan Biologi dan lulus pada tahun 1993.

Bekerja sebagai tenaga pengajar di Madrasah Aliyah Negeri 1 Medan sejak tahun 1994 sampai dengan sekarang. Pada tahun 2006 penulis memperoleh kesempatan untuk melanjutkan studi pada program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor, Program studi Biologi dengan mendapatkan Beasiswa Utusan Daerah (BUD) dari Departemen Agama RI.

(12)

dan Rahmat-Nya sehingga dengan perkenan-Nya jualah Tesis ini dapat diselesaikan.

Penulis menyadari bahwa akanlah sulit untuk dapat menyelesaikan penelitian tesis ini tanpa bantuan moril dan semangat dari banyak pihak, sehingga pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya pada :

1. Prof. Dr. Ir. H. Dede Setiadi, M.S, Ketua Pembimbing yang selalu memberi bimbingan dalam penelitian dan semangat untuk berkarya dengan sebaik-baiknya serta dalam menyediakan bahan penelitian.

2. Ir. Jarwadi B. Hernowo, M.Sc.F, Pembimbing anggota yang memberikan bimbingan dalam penelitian dan penulisan tesis.

3. Prof. Dr. M. Bismark, M.S, sebagai dosen penguji luar komisi atas saran dan masukan yang diberikan.

4. Ir. Djati wijaksono Hadi, M.Si, Kepala BKSDA Provinsi Sumatera Utara yang telah memberikan bantuan alat dan pengarahan lapangan selama penelitian.

5. Departemen Agama RI, atas kesempatan yang diberikan kepada penulis untuk mengikuti program peningkatan kemampuan Strata-2 di Institut Pertanian Bogor melalui Beasiswa Utusan Daerah.

6. Dra. Fatimah Ibrahim, Kepala Madarasah Aliyah Negeri 1 Medan atas ijin dan dukungan dalam melanjutkan studi S2 di IPB.

7. Lismawati dan keluarga atas dukungan, semangat dan kasih sayang yang diberikan.

8. Teman-teman BUD 2006 yang telah banyak memberikan semangat dalam penyelesaian tesis ini.

9. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu-persatu.

Semoga karya ilmiah ini dapat bermanfaat.

Bogor, Juli 2008

A d i l

(13)

DAFTAR ISI... xiii

DAFTAR TABEL ... xv

DAFTAR GAMBAR... xvii

LAMPIRAN... xiii

I. PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Tujuan Penelitan... 3

1.3 Manfaat Penelitian ... 3

1.4 Kerangka Pemikiran... 3

1.5 Hipotesis ... 5

II. TINJAUAN PUSTAKA... 6

2.1 Pengertian Ekosistem Mangrove... 7

2.2 Fungsi Hutan Mangrove Sebagai Habitat Burung ... 8

2.3 Pengertian Struktur dan Komposisi Mangrove ... 9

2.3.1 Pengertian Struktur dan Komposisi ... 9

2.3.2 Keanekaragaman... 10

2.3.3 Keanekaragaman Jenis Burung... 12

III. KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN ... 14

3.1 Sejarah Kawasan ... 14

3.2 Letak dan Luas ... 14

3.3 Kondisi Fisik ... 15

3.3.1 Curah Hujan ... 15

3.3.2 Hidrologi ... 15

3.3.3 Iklim ... 16

3.3.4 Tipe Lahan ... 17

3.3.5 Tanah... 17

3.4 Administrasi ... 17

3.4.1 Penduduk... 17

3.4.2 Distribusi Umur... 18

3.4.3 Pendidikan... 18

3.4.4 Pekerjaan... 29

3.5 Keadaan Biologis ... 21

3.5.1 Gambaran Mangrove di Pantai Karang Gading... 20

3.5.2 Gambaran Fauna di Pantai Karang Gading... 23

IV. METODOLOGI PENELITIAN... 26

4.1 Waktu dan Tempat Penelitian ... 26

4.2 Bahan dan Alat Penelitian ... 26

(14)

4.3 Penentuan Stasiun Pengamatan... 26

4.3.1 Lokasi Penelitian... 26

4.4 Metode Pengumpulan Data... 30

4.4.1 Metode Pengumpulan Data Flora Mangrove ... 30

4.4.2 Metode Pengumpulan Data Burung ... 30

4.5 Analisis Data ... 31

4.5.1 Analisis Data Flora Hutan Mangrove ... 31

4.5.2 Analisis Data Burung Mangrove Lokal ... 32

V. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 35

5.1 Hasil Penelitian ... 35

5.1.1 Parameter Fisik-Kimia Air dan Substrat ... 35

5.1.2 Kekayaan Jenis Vegetasi... 35

5.1.3 Struktur dan Komposisi Vegetasi ... 36

A. Sub-Habitat Mangrove Primer ... 36

B. Sub-Habitat Mangrove Sekunder ... 38

C. Sub-Habitat Tambak Intensif ... 41

D. Sub-Habitat Tambak Ekstensif... 43

5.1.4 Kerapatan Jenis ... 45

5.1.5 Dominansi ... 46

5.2 Keadaan Jenis Burung ... 47

5.2.1 Kekayaan Spesies... 47

5.2.2 Keanekaragaman Jenis Burung ... 49

A. Sub-Habitat Mangrove Primer ... 49

B. Sub-Habitat Mangrove Sekunder ... 50

C. Sub-Habitat Tambak Intensif ... 50

D. Sub-Habitat Tambak Ekstensif... 51

5.2.3 Keanekaragaman Jenis Burung Air ... 52

5.2.4 Kelimpahan dan Dominansi Spesies... 54

A. Mangrove Primer ... 54

B. Mangrove Sekunder ... 56

C. Tambak Intensif... 57

D. Tambak ekstensif ... 59

5.3 Pengelompokan Habitat Berdasarkan Stratifikasi dan Relung Ekologi .... 60

5.4 Indeks Kemiripan... 62

5.5 Korelasi Antara Jumlah Burung Dengan INP dan Kerapatan Pohon ... 63

5.6 Pembahasan... 64

VI. KESIMPULAN DAN SARAN... 73

5.1 Kesimpulan ... 73

5.2 Saran... 73

DAFTAR PUSTAKA ... 74

LAMPIRAN... 76

(15)

2 Rata-rata Hujan dan Hari Hujan kabupaten Langkat Tahun 2004 ... 15

3 Nama-Nama Sungai dan Panjang Serta Vol. Sungai Kabupaten Langkat. 16

4 Jumlah dan Kepadatan Penduduk Kecamatan Secanggang Tahun 2004... 18

5 Distribusi Umur Kepala Keluarga Masyarakat Pantai (2004) ... 18

6 Data Pendidikan Kepala Keluarga Masyarakat Pantai (2004)... 19

7 Pekerjaan Pokok dan Sambilan Masyarakat Pantai KGLT... 20

8 Daftar Nama Jenis Tumbuhan yang Terdapat Di SM KGLTL... 22

9 Daftar Jenis Mammalia yang Terdapat Di SM KGLTL ... 23

10 Daftar Reptil yang Terdapat di SM KGLTL... 23

11 Daftar Jenis Burung yang Terdapat Di SM KGLTL... 24

12 Daftar Jenis Ikan yang Terdapat di SM KGLTL ... 25

13 Bahan dan Alat yang Digunakan Dalam Penelitian... 26

14 Deskripsi Masing-Masing Stasiun ... 28

15 Deskripsi Stasiun Pengamatan Burung Air... 28

16 Perbandingan Jumlah Famili dan Jenis Pada Tiap Sub-Habitat... 36

17 Indeks Nilai Penting (INP), Indeks Keanekaragaman dan Kemerataan Untuk Fase Pohon ... 36

18 Indeks Nilai Penting (INP), Indeks Keanekaragaman dan Kemerataan Untuk Fase Pancang ... 36

19 Indeks Nilai Penting (INP), Indeks Keanekaragaman dan Kemerataan Untuk Fase Semai ... 37

20 Indeks Nilai Penting (INP), Indeks Keanekaragaman, dan Kemerataan Untuk Fase Pohon ... 39

21 Indeks Nilai Penting (INP), Indeks Keanekaragaman, dan Kemerataan Untuk Fase Pancang... 39

22 Indeks Nilai Penting (INP), Indeks Keanekaragaman, dan Kemerataan Untuk Fase Semai ... 39

23 Indeks Nilai Penting (INP), Indeks Keanekaragaman, dan Kemerataan Untuk Fase Pohon ... 42

24 Indeks Nilai Penting (INP), Indeks Keanekaragaman, dan Kemerataan Untuk Fase Pancang... 42

25 Indeks Nilai Penting (INP), Indeks Keanekaragaman, dan Kemerataan Untuk Fase Semai ... 42

26 Indeks Nilai Penting (INP), Indeks Keanekaragaman, dan Kemerataan Untuk Fase Pohon ... 44

27 Indeks Nilai Penting (INP), Indeks Keanekaragaman, dan Kemerataan Untuk Fase Pancang... 44

28 Indeks Nilai Penting (INP), Indeks Keanekaragaman, dan Kemerataan Untuk Fase Semai ... 44

29 Kelimpahan Jenis Burung, Indeks Keanekaragaman, dan Indeks Kemerataan pada Sub-Habitat Mangrove Primer ... 49

30 Kelimpahan Jenis Burung, Indeks Keanekaragaman, dan Indeks Kemerataan pada Sub-Habitat Mangrove Sekunder ... 50

31 Kelimpahan Jenis Burung, Indeks Keanekaragaman, dan Indeks Kemerataan Pada Sub-Habitat Mangrove Intensif... 51

(16)

Metode Terkonsentrasi (Concentration Counts)... 54 34 Matriks Indeks Kemiripan (%) Komunitas Burung Antar Sub-Habitat

di Suaka Margasatwa KGLTL ... 63

(17)

1 Bagan Alir Kerangka Pemikiran Penelitian ... 5

2 Keadaan Mangrove di Suaka Margasatwa KGLTL Sumatera Utara... 21

3 Peta Lokasi Penelitian... 29

4 Plot Contoh Semai, Sapihan, Tiang dan Pohon ... 30

5 Tehnik Pengamatan Burung Dengan Metode IPA (Indices Ponctuels d’Abundances) ... 31

6 Perbandingan Jumlah Famili dan Jenis Pada Tiap Sub-Habitat ... 36

7 Keadaan Vegetasi Sub-Habitat Mangrove Primer ... 37

8 Bentuk Profil Vertikal Vegetasi Untuk Sub-Habitat M.Primer ... 38

9 Keadaan Vegetasi Sub-Habitat Mangrove Sekunder... 40

10 Bentuk Profil Vertikal Sub-Habitat Mangrove Sekunder ... 41

11 Keadan Vegetasi Sub-habitovilat Tambak Intensif... 42

12 Bentuk Profil Vertikal Vegetasi Sub-Habitat T. Intensif ... 43

13 Keadaan Vegetasi Sub-Habitat Tambak Ekstensif ... 45

14 Bentuk Profil Vertikal Sub-Habitat Tambak Ekstensif... 45

15 Perbandingan Jumlah Individu dan Jumlah Jenis Burung ... 48

16 Jenis Burung Migran Yang Ditemukan Di Lokasi Penelitian... 53

17 Kerapatan Relatif Jenis (KRi) Pada Sub-Habitat M.Primer ... 54

18 Frekuensi Relatif Jenis (FRi) Pada Sub-Habitat M.Primer... 55

19 Elang Bondol (Haliastur indus) Membuat Sarang Pada M.Primer ... 55

20 Kerapatan Relatif Jenis (KRi) Pada Sub-Habitat M.Sekunder... 56

21 Frekuensi Relatif Jenis (FRi) Pada Sub-Habitat M.Sekunder... 56

22 Kerapatan Relatif Jenis (KRi) Pada Sub-Habitat T.Intensif... 57

23 Frekuensi Relatif Jenis (FRi) Pada Sub-Habitat T. Intensif... 58

24 Kerapatan Relatif Jenis (KRi) Pada Sub-habitat T.Ekstensif ... 59

25 Frekuensi Relatif Jenis (FRi) Pada Sub-Habitat T.Ekstensif ... 59

26 Grafik Analisis Koresponden Antara Stasiun Pengamatan... 62

27 Interaksi Antara Struktur dan Komposisi Tumbuhan Dengan Keanekaragaman Jenis Burung... 63

28 Cinenen Kelabu (Orthotomus ruficeps) ... 70

29 Kuntul Besar (Egretta alba)... 71

30 Elang Bondol (Haliastur indus)... 71

31 Jenis Burung Migran... 72

32 Sikatan Bakau (Cyornis rufigastra) ... 72

(18)

1 Hasil Analisis Vegetasi Pada Sub-Habitat Mangrove Primer... 78

2 Hasil Analisis Vegetasi Pada Sub-Habitat Mangrove Sekunder... 79

3 Hasil Analisis Vegetasi Pada Sub-Habitat Tambak Intensif... 80

4 Hasil Analisis Vegetasi Pada Sub-Habitat Tambak Ekstensif ... 81

5 Data Keanekaragaman Jenis Burung Di SM KGLTL... 82

6 Keanekaragaman Jenis Burung Pada Sub-Habitat M.Primer ... 84

7 Keanekaragaman Jenis Burung Pada Sub-Habitat M.Sekunder ... 84

8 Keanekaragaman Jenis Burung Pada Sub-Habitat T.Intensif ... 85

9 Keanekaragaman Jenis Burung Pada Sub-Habitat T.Ekstensif... 85

10 Keanekaragaman Jenis Burung Air... 86

11 Keanekaragaman Jenis Burung Keseluruhan Pada Lokasi Penelitian ... 87

12 Data Dominansi Jenis Burung Pada Lokasi Penelitian... 88

13 Indeks Keanekaragaman dan Kemerataan Jenis Burung ... 89

14 Pengelompokan Burung Dalam Menggunakan Habitat... 90

15 Jenis Burung Yang Mendominasi Di Lokasi Penelitian Berdasarkan Indeks Nilai Penting... 94

16 Jenis Mangrove Yang Mendominasi di Lokasi Penelitian ... 95

17 Hasil Pengukuran Parameter Fisik-Kimia Air dan Substrat M.Primer ... 98

18 Hasil Pengukuran Parameter Fisik-Kimia Air dan Substrat M.Sekunder. 99

19 Hasil Pengukuran Parameter Fisik-Kimia Air dan Substrat T.Intensif... 100

20 Hasil Pengukuran Parameter Fisik-Kimia Air dan Substrat T.Intensif... 101

21 Nama Lokal, Nama Ilmiah, Nama suku dan jenis Diet Burung ………... 102

(19)

Hutan mangrove yang ada di Indonesia makin lama makin berkurang akibat perubahan bentuk menjadi kawasan pemukiman, pertanian maupun tambak atau mendapat tekanan yang besar dari masyarakat sekitarnya berupa penebangan secara liar untuk diambil kayunya atau daunnya (Noor, Khazali dan Suryadiputra 1999). Luas hutan mangrove yang tersisa sekarang diperkirakan 2.49 – 4.25 juta hektar (Departemen Kehutanan 1997), sedangkan menurut perhitungan Giesen (dalam Noor Khazali dan Suryadiputra 1999) luas sekarang diperkirakan 2.49 juta hektar dan perkiraan luas pada lima sampai sepuluh tahun lalu sebesar 4.13 juta hektar.

Kelompok hutan mangrove di Pantai Karang Gading dan Langkat Timur Laut (KGLTL) ditunjuk sebagai kawasan Suaka Alam, yakni Suaka Margasatwa oleh Mentri Pertanian melalui Surat Keputusan Nomor 811/Kpts./Um/11/1980 tanggal 5 November 1980 dengan luas sekitar 15.765 ha. Berdasarkan pengamatan di lapangan, menunjukkan kawasan tersebut sebagai Suaka Margasatwa sangat beralasan, karena:

a. Kawasan hutan di Karang Gading dan Langkat Timur Laut merupakan habitat berbagai satwa liar, terutama berbagai jenis burung dan merupakan salah satu tempat persinggahan jenis-jenis burung migran dari Belahan Bumi Utara dan Siberia menuju Australia dan Selandia Baru. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan Giesen dan Sukotjo (1991) dilaporkan bahwa di kawasan Suaka Margasatwa Karang Gading Langkat Timur Laut (KGLTL) dijumpai 44 jenis burung, dimana 13 jenis diantaranya merupakan burung migran, 12 jenis mamalia dan 13 jenis reptilia.

b. Hutan mangrove di daerah yang bersangkutan membentuk ekosistem mangrove dengan hamparan yang cukup kompak dan luas yang mencirikan perwakilan mangrove di kawasan Indonesia bagian barat. Giesen dan Sukotjo (1991) melaporkan bahwa kawasan Suaka Margasatwa Karang Gading Langkat Timur Laut (KGLTL) ditumbuhi 37 jenis dari 21 suku.

Berdasarkan kategori Tomlinson (1986), vegetasi yang dijumpai di kawasan tersebut terdiri atas major componen 10 jenis, minor componen 6 jenis, dan

(20)

mangal associate 21 jenis. Kondisi seperti ini menjadikan Suaka Margasatwa Karang Gading Langkat Timur Laut (KGLTL) merupakan satu-satunya Suaka Margasatwa di Indonesia yang keseluruhan areanya merupakan tipe ekosistem mangrove. Dengan demikian, status kawasan ini sebagai Suaka Margasatwa beralasan untuk dipertahankan.

Tetapi dengan adanya pertambahan penduduk dan kebutuhan hidup yang semakin meningkat kawasan hutan mangrove ini sangat rentan dengan tingkat konversi dan eksploitasi lahan yang cukup tinggi. Selain itu kawasan ini juga juga telah menjadi konflik kepentingan berupa pengkonversian lahan menyebabkan terjadinya perubahan peruntukan kawasan yang berdampak pada perubahan ekologis maupun ekonomis, yang secara tidak langsung berdampak terhadap penurunan pendapatan masyarakat dan menurunnya keanekaragaman jenis satwa terutama burung.

Dengan semakin menyempitnya hutan mangrove telah menyebabkan semakin sempit pula ruang jelajah (home range) dari burung-burung yang menggunakan hutan mangrove sebagai habitat. Akibatnya beberapa spesies tertentu terancam punah.

Terancamnya keberadaan 118 jenis burung di Indonesia bukan tak mungkin akan diikuti oleh kelangkaan jenis burung lain, terlebih jika keadaan hutan di Indonesia memburuk. Makin banyak jenis burung yang menghuni suatu hutan berarti makin banyak jenis flora hutan itu. Kalau jumlah burung berkurang, berarti tanaman hutan itu juga berkurang (Tomi 2006). Keseimbangan ekosistem dapat terancam jika diketahui beberapa anggota dari ekosistem itu mulai punah.

Ketidakseimbangan ekosistem di suatu negara jelas berdampak pada ekosistem regional yang otomatis juga berpengaruh pada keseimbangan ekosistem dunia.

Penelitian burung di hutan mangrove di Indonesia masih sangat terbatas, laporan-laporan yang ada terutama baru diutamakan untuk identifikasi spesies.

Banyak informasi yang belum kita dapatkan tentang peranan hutan mangrove bagi pelestarian burung. Khususnya burung terestrial, burung air dan burung migran.

Di Indonesia juga telah dilakukan perlindungan terhadap berbagai jenis burung yang tinggal di hutan mangrove, diantaranya: Ibis cinereus, Ardea sumatrana, dan Nycticorax caledonica. Untuk keperluan pelestarian spesies

(21)

burung yang diancam kepunahan ini telah dilakukan berbagai upaya baik yang meliputi perlindungan terhadap spesies burung maupun menetapkan Suaka Alam dan Taman Nasional.

Pentingnya hutan mangrove bagi berbagai jenis burung terestrial dan burung air disebabkan karena hutan mangrove merupakan tempat untuk mencari makan, berbiak atau sekedar beristirahat. Bagi beberapa jenis burung migran (terutama dari suku Charadriidae dan Scolapacidae), hutan mangrove sangat penting artinya dalam perjalanan sebagai tempat beristirahat dan mencari makan sebelum mencapai tempat untuk berkembang biak (Noor, Khazali dan Suryadiputra 1999).

1.2 Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk :

1. Mengetahui dan menganalisis struktur dan komposisi jenis tumbuhan mangrove di Suaka Margasatwa Pantai Karang Gading dan Langkat Timur Laut Sumatera Utara.

2. Mengetahui dan menganalisis keanekaragaman jenis burung di hutan mangrove Suaka Margasatwa Pantai Karang Gading dan Langkat Timur Laut Sumatera Utara.

3. Mengetahui dan menganalisis hubungan antara struktur dan komposisi jenis tumbuhan dengan keanekaragaman burung di Suaka margasatwa Pantai Karang Gading dan Langkat Timur Laut Sumatera Utara.

1.3 Manfaat Penelitian

1. Memberikan informasi struktur dan komposisi jenis tumbuhan mangrove di Suaka Margasatwa Pantai Karang Gading dan Langkat Timur Laut Sumatera Utara.

2. Memberikan informasi tentang keanekaragaman jenis burung di hutan mangrove Suaka margasatwa Pantai Karang Gading dan Langkat Timur laut Sumatera Utara.

3. Memberikan informasi hubungan antara struktur dan komposisi jenis tumbuhan dengan keanekaragaman jenis burung di Suaka Margasatwa Pantai Karang Gading dan Langkat Timur Laut Sumatera Utara.

4. Memberikan masukan kepada instansi terkait dalam rangka pengelolaan yang tepat dalam memanfaatkan ekosistem mangrove secara lestari.

(22)

1.4 Kerangka Pemikiran

Hutan mangrove di pesisir Pantai Timur Sumatera Utara yang menjadi habitat singgah burung migran saat ini senakin berkurang akibat alih fungsi lahan menjadi tambak, perkebunan dan sawah. Padahal kawasan hutan mangrove di pesisir Pantai Timur Sumatera Utara merupakan salah satu daerah penting bagi persinggahan burung-burung migran. Selain itu, kawasan ini memiliki fungsi penting tempat burung menetap yang menggunakan mangrove sebagai habitat utamanya.

Luas penyebaran mangrove di Sumatera Utara 83.550 ha, 60% diantaranya mengalami kerusakan. Kerusakan terparah menurut Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Hidup Daerah (Bapedalda) Sumatera Utara berada pada titik-titik penting di pesisir Pantai Timur membentang dari Langkat, Deli Serdang, Serdang Bedagai, Asahan hingga Labuhan Batu atau kawasan yang selama ini menjadi habitat burung migran.

Berdasarkan pengamatan Giyanto (2007) kerusakan hutan mangrove akibat alih fungsi menjadi tambak dan perkebunan menjadi ancaman serius bagi burung migran yang biasa singgah di pesisir Pantai Timur Sumatera Utara. ” Konversi hutan mangrove sangat berpengaruh terhadap ketersediaan makanan serta perubahan fungsi ekosistem. Hilangnya habitat alami akan menyebabkan hilannya keanekaragaman makanan yang menjadi pendukung kehidupan burung migran”.

Ketidak tahuan pemerintah daerah akan wilayahnya akan menjadi persinggahan burung migran, menjadi salah satu penyebab habitat alami mereka berupa hutan mangrove dibiarkan beralih fungsi dan rusak. Selain di Pantai Cemara (Jambi) dan Semenanjung Banyuasin (Sumatera Selatan), wilayah persinggahan burung migran di Pulau Sumatera dan pada pesisir Pantai Timur Sumatera Utara. ”Birdlife International 2001 menetapkan pesisir Pantai Timur Sumatera Utara sebagai daerah penting bagi burung. Khusus untuk burung migran mereka tercakup dari Karang Gading (Langkat), Bagan Percut, Bagan Serdang (Deli Serdang), Sungai Ular dan Pantai Cermin (Serdang Bedagai) Giyanto 2007.

Sehingga ruang lingkup penelitian hanya dibatasi oleh Struktur dan Komposisi Hutan Mangrove hubungannya dengan keanekaragaman jenis burung di Pantai Karang Gading, Langkat, Sumatera Utara dan penggunaan habitat oleh

(23)

burung baik penggunaan habitat secara vertikal maupun penggunaan habitat secara horizontal. Sehingga diperoleh gambaran habitat yang disukai oleh burung- burung dihutan mangrove Suaka Margasatwa Karang Gading dan Langkat Timur Laut baik burung-burung terestrial, burung-burung air dan burung-burung migran.

Dari hasil penelitian ini diharapkan akan menjadi masukan bagi pemerintah daerah khususnya Daerah Konservasi Suaka Margasatwa Karang Gading dan Langkat Timur Laut Sumatera utara.

Suaka Margasatwa Karang Gading dan Langkat Timur Laut

Gambar 1 Bagan alir kerangka pemikiran penelitian.

1.5 Hipotesis

Berdasarkan teori yang ada dan tujuan dari penelitian ini, maka hipotesis yang dapat diajukan dalam penelitian ini adalah :

H1 : Terdapat hubungan antara struktur dan komposisi jenis tumbuhan dengan keanekaragaman jenis burung di Suaka Margasatwa Karang Gading dan Langkat Timur Laut, Sumatera Utara.

H0 : Tidak terdapat hubungan antara struktur dan komposisi jenis tumbuhan dengan keanekaragaman jenis burung di Suaka Margasatwa Karang Gading dan Langkat Timur Laut, Sumatera Utara

Ekosistem Hutan Mangrove

Struktur dan Komposisi Keanekaragaman Jenis Burung

Pengelolaan Ekosistem Mangrove

Konservasi Hutan Mangrove

(24)

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Ekosistem Mangrove

Istilah ’mangrove’ tidak diketahui secara pasti asal-asulnya. Ada yang mengatakan bahwa istilah tersebut kemungkinan merupakan kombinasi dari bahasa Portugis dan Inggris. Bahasa Portugis menyebut salah satu jenis pohon mangrove sebagai ’ mangue’ dan istilah Inggris ’grove’ bila disatukan akan menjadi ’mangrove’ atau ’ mangrave’ (Mecnae 1968). Ada kemungkinan pula berasal dari bahasa Malay, yang menyebut jenis tanaman ini dengan ’mangi- mangian’ atau ’mangin’. Menurut Snedaker (1978), hutan mangrove adalah sekelompok jenis tumbuhan yang tumbuh di sepanjang garis pantai tropis sampai sub-tropis yang memiliki fungsi istimewa di suatu lingkungan yang mengandung garam dan bentuk lahan berupa pantai dengan reaksi tanah an-aerob. Menurut Aksornkoae (1993), hutan mangrove adalah tumbuhan halofit yang hidup disepanjang areal pantai yang dipengaruhi oleh pasang tertinggi sampai daerah yang mendekati ketinggian rata-rata air laut yang tumbuh didaerah tropis dan sub- tropis. Dari beberapa pendapat diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa hutan mangrove dapat didefinisikan sebagai suatu tipe hutan yang tumbuh di daerah pasang surut (terutama di pantai yang terlindung, laguna, muara sungai) yang tergenang pada saat pasang dan bebas dari genangan pada saat surut yang komunitas tumbuhannya bertoleransi terhadap garam. Sedangkan ekosistem mangrove merupakan suatu sistem yang terdiri dari atas organisme (tumbuhan dan hewan) yang berinteraksi dengan faktor lingkungan dan dengan sesamanya di dalam suatu habitat mangrove.

Mangrove adalah pepohonan atau komunitas tumbuhan yang hidup diantara laut dan daratan yang dipengaruhi oleh pasang surut. Habitat mangrove seringkali ditemukan di tempat pertemuan antara muara sungai dan air laut yang kemudian menjadi pelindung daratan dari gelombang laut yang besar. Sungai mengalirkan air tawar dan membawa lumpur pula pada saat pasang. Vegetasi mangrove dikelilingi oleh air garam atau air payau.

Jenis-jenis mangrove umumnya menyebar di pantai yang terlindung dan di muara-muara sungai, dengan komposisi jenis yang berbeda-beda bergantung pada kondisi habitatnya. Berdasarkan berbagai hasil penelitian, dapat disimpulkan

(25)

bahwa penyebaran jenis mangrove tersebut berkaitan dengan salinitas, tipe pasang, dan frekuensi penggenangan (Kusmana 2005).

Mangrove merupakan ekosistem yang kompleks terdiri atas flora dan fauna serta substrat ligkungan hidupnya daerah estuari, berperan dalam melindungi garis pantai dan erosi, gelombang laut dan angin topan. Vegetasi mangrove berperan juga sebagai buffer (perisai alam) dan menstabilkan tanah dengan menangkap dan memerangkap endapan material dari darat yang terbawa air sungai. Mangrove mempunyai toleransi besar terhadap kadar garam tinggi di mana vegetasi biasa tidak dapat tumbuh.

Mangrove dideskripsikan mencakup semua tumbuhan tropis yang bersifat halophytic atau toleran terhadap garam. Tumbuhan mangrove yang mampu tumbuh ditanah basah lunak, habitatnya perpaduan air tawar dan air laut dari pasang surut. Cara reproduksi tumbuhan mangrove dengan mengembangkan buah vivivar yang bertunas (seed germination) semasa masih berada pada pohon induknya. Istilah bakau adalah sebutan bagi jenis utama pohon Rhizophora sp yang penting hidup di estuari.

Jaringan sistem akar mangrove memberikan banyak nutrien bagi larva dan juvenil ikan. Sistem perakaran mangrove juga menghidupkan komunitas invertebrata laut dan algae.

2.2 Fungsi Hutan Mangrove Sebagai Habitat Burung

Morrison et al (1992) menjelaskan bahwa penelitian tentang satwa liar dengan habitatnya dimulai dari keingintahuan manusia akan interaksi satwaliar dengan lingkungannya. Penelitian-penelitian tersebut selanjutnya mendapatkan apa yng dikenal sebagai hubungan secara ekologis (ecological relationship). Pada awal hubungan tersebut digambarkan sebagai sebaran satwaliar dalam berbagai tingkatan lingkungan atau tingkatan komunitas vegetasi baik berupa perbedaan ketinggian maupun tingkatan suksesi.

Penelitian Hernowo dan Prasetyo (1989), mendapatkan bahwa komposisi dan struktur vegetasi mempengaruhi jenis dan jumlah burung yang terdapat pada suatu habitat. Hal ini disebabkan karena tiap jenis burung mempunyai relung yang berbeda dan komposisi jenis vegetasi yang beragam cenderung mempunyai kemampuan untuk menarik lebih banyak burung.

(26)

Menurut Orians (1969), banyaknya jenis burung dapat berbeda-beda tergatung pada karakteristik lingkungannya, selain struktur dari vegetasi yang ada, terutama distribusi vertikal, merupakan hal yang penting bagi penyebaran keanekaragaman jenis burung.

Tomoff (1974) pada penelitiannya mengenai keanekaragaman jenis burung di berbagai semak gurun menunjukkan, bahwa makin kompleks suatu habitat dapat menyebabkan meningkatnya jenis dan banyaknya burung. Menurut James dan Wamer (1982), pada daerah temperate jenis dan banyaknya burung akan makin meningkat seiring dengan meningkatnya keanekaragaman jenis dan lapisan tajuk vegetasi hutannya, juga dengan menurunnya jenis daun jarum.

Menurut Orians (1969), pada vegetasi temperate di Utara, struktur vegetasi yang terbaik dapat dibagi kedalam tiga lapisan yaitu 0 – 0.6 m, 0.6 – 7.6 m dan diatas 7.6 m. Sedangkan di Panama yang memiliki keanekaragaman jenis burung yang lebih tinggi, struktur vegetasinya dapat dibagi atas empat lapisan yaitu 0 – 0.6 m, 0.6 – 3.0 m, 3.0 – 15.2 m dan diatas 15.2 m. Pembagian struktur vegetasi secara vertikal tersebut didasarkan pada kegiatan/perilaku mencari makan, kawin, bersarang dan berbagai kegiatan lainnya.

Penelitian lanjutan mengenai hubungan satwaliar dan habitatnya membuat para peneliti sadar bahwa distribusi berbagai jenis satwaliar ternyata tidak dapat dijelaskan hanya dengan dasar perbedaan iklim dan sumberdaya penting saja (Morrison et al 1992). Dari berbagai penelitian mengenai burung, David Lack (dalam Morrison et al 1992) menemukan bahwa burung memerlukan kombinasi lingkungan yang tepat untuk dapat mempertahankan hidupnya, konsep ini selanjutnya disebut sebagai seleksi habitat (habitat selection). Penelitian terus berlanjut sampai ditemukannya konsep relung (niche), dimana seleksi habitat tidak hanya dipengaruhi lingkungan tempat hidupnya tetapi dipengaruhi juga oleh persaingan dalam jenis, persaingan antar jenis dan predator.

Menurut Morrison, at al (1992) lebih lanjut, salah satu aspek dari penyebaran habitat yang sangat mempengaruhi populasi dan kemampuan berkembang biak satwa liar adalah karena terjadinya fragmentasi habitat yang menyebabkan meningkatnya isolasi terhadap suatu habitat satwa liar, dan menurunnya ukuan habitat yang menjadi tempat berkembang biak dan mencari

(27)

makan satwa liar (resources patches). Fragmentasi habitat menyebabkan akibat yang berbeda-beda untuk setiap jenis satwa liar, terhadap jenis satwa yang menyukai kondisi ”interior” , yaitu suatu tempat yang berada di dalam suatu habitat yang jauh dari batas pertemuan habitat (edge), akan menyebabkan menurunnya populasi, tetapi pada jenis satwa yang menyukai kondisi edge, hal tersebut dapat meningkatkan populasinya.

2.3 Pengertian Struktur dan Komposisi Mangrove 2.3.1 Pengertian Struktur dan Komposisi

Muller-Dombois (1974) membagi struktur vegetasi menjadi lima berdasarkan tingkatannya, yaitu: Fisiognomi vegetasi, struktur biomassa, struktur bentuk hidup, struktur floristik dan struktur tegakan.

Struktur suatu vegetasi terdiri dari individu-individu yang membentuk tegakan didalam suatu ruang. Komunitas tumbuhan terdiri dari sekelompok tumbuhan-tumbuhan yang masing-masing individu mempertahankan sifatnya (Muller- Dombois, 1974).

Komposisi dan struktur suatu vegetasi merupakan fungsi dari beberapa faktor, seperti: flora setempat, habitat (iklim, tanah dan lain-lain), waktu dan kesempatan.

Kelimpahan jenis ditentukan berdasarkan besarnya frekuensi, kerapatan dan dominasi setiap jenis. Penguasaan suatu jenis terhadap jenis-jenis lain ditentukan berdasarkan Indeks Nilai Penting, volume, biomassa, persentase penutupan tajuk, luas bidang dasar atau banyaknya individu dan kerapatan (Soerianegara 1998).

Frekuensi suatu jenis menunjukkan penyebaran suatu jenis-jenis dalam suatu areal. Jenis yang menyebar secara merata mempunyai nilai frekuensi yang besar, sebaliknya jenis-jenis yang mempunyai nilai frekuensi yang kecil mempunyai daerah sebaran yang kurang luas. Kerapatan dari suatu jenis merupakan nilai yang menunjukkan penguasaan suatu jenis terhadap komunitas.

Suatu daerah yang didominasi oleh hanya jenis-jenis tertentu saja, maka daerah tersebut dikatakan memiliki keanekaragaman jenis yang rendah.

Keanekaragaman jenis yang tinggi menunjukkan bahwa suatu komunitas memiliki kompleksitas yang tinggi, karena didalam komunitas itu terjadi interaksi antara jenis yang tinggi. Keanekaragaman merupakan ciri dari suatu komunitas terutama

(28)

dikaitkan dengan jumlah dan jumlah individu tiap jenis pada komunitas tersebut.

Keanekaragaman jenis menyatakan suatu ukuran yang menggambarkan variasi jenis tumbuhan dari suatu komunitas yang dipengaruhi oleh jumlah jenis dan kelimpahan relatif dari setiap jenis.

2.3.2 Keanakaragaman

Menurut Odum (1971) keanekaragaman merupakan hal yang paling penting dalam pempelajari suatu komunitas baik tumbuhan maupun hewan. Seorang peneliti akan mengalami kesulitan dalam menganalisa struktur komunitas secara global karena mengidentifikasi semua organisme dalam komunitas merupkan hal yang tidak mungkin dilakukan (Odum 1971; Morrison et al 1992). Sebaiknya seorang peneliti mengelompokkan komunitas yang ada dalam taxa, ordo atau klas yaitu penggolongan dari hewan dan tumbuhan.

Menurut Mac Arthur (1984) keaneragaman jenis ditentukan oleh luas kawasan yang merupakan hubungan antara kawasan dengan keanekaragaman jenis di dalamnya. Keanekaragaman jenis akan berubah-ubah menurut waktu, dimana berbagai jenis datang dan pergi hingga titik keseimbangan.

Pada dasarnya konsep keanekaragaman secara umum dapat dibagi kedalam dua komponen yaitu banyaknya jenis (Species richness) atau dapat juga disebut kekayaan jenis dan distribusi individu dalam tiap jenisnya (Eveness) yang seringkali disebut equitability atau gabungan keduanya atau disebut juga keanekaragaman (diversity) (Morrison et al 1992; Krebs 1978). Pengukuran distribusi individu dalam tiap jenis menjadi penting, karena dapat terjadi pada dua tempat yang sama keanekaragaman jenisnya tetapi sebaran individu dalam tiap jenisnya berbeda maka kedua tempat tersebut dapat sangat berbeda.

Menurut Perrins dan Birkhhead (1983), makin sedikit jenis akan makin mempertinggi jumlah individu per jenis yang menggunakan suatu kawasan, jika hal tersebut terjadi maka antar jenis akan berkurang tetapi kompetisi antar individu dalam setiap jenisnya akan bertambah.

Berbagai prinsip ekologi yang penting tercakup dalam konsep keanekaragaman ini. Tampaknya konsep keanekaragaman digunakan oleh para ahli ekologi sebagai cara untuk melihat kemungkinan system feedback, karena makin tinggi keanekaragaman akan makin memperpanjang rantai makanan dan

(29)

mempertinggi kemungkinan simbiosis baik mutualisme, komensalisme, parasitisme dan lain-lain dan mempertinggi kemungkinan mengendalikan hal-hal yang negatif (Odum 1971; Magurran 1983). Konsekuensinya dari hal ini adalah bahwa suatu komunitas yang stabil misalnya yang memiliki cuaca yang relatif lebih teratur akan memiliki keanekaragaman yang lebih tinggi, dibandingkan dengan yang memiliki cuaca yang lebih beragam atau terganggu oleh kegiatan manusia (Odum 1971; Kreb 1978).

Keanekaragaman yang makin tinggi merupakan cerminan dari stabilnya komunitas, artinya setiap jenis atau bahkan individu telah memiliki tempat tersendiri dalam habitatnya tersebut (niche), sehingga jika terdapat gangguan sekecil apapun akan terganggu stabilitas tersebut. Rentannya hutan tropis yang memiliki keanekaragaman tinggi misalnya, disebabkan oleh sebaran individu per jenisnya relatif lebih merata tetapi kebanyakan dari jenis-jenis tersebut memiliki individu per jenis yang sedikit sehingga jika gangguan tersebut terjadi pada niche jenis-jenis tersebut maka jenis tersebut dapat punah, sedangkan jenis yang dominan yaitu yang memiliki individu per jenis yang lebih banyak akan lebih bertahan (Odum 1971; Krebs 1978; Kreb 1989)

Keanekaragaman jenis (Species diversity) merupakan pertanyaan yang paling mendasar dan menarik dalam ekologi, baik teori maupun terapan (Magurran 1988). Banyaknya metode pengukuran keanekaragaman jenis tidak terlepas dari konsep keragaman jenis yang mempunyai dua komponen yaitu : (1) jumlah jenis (Species richness) yang disebut kepadatan jenis (species density), berdasarkan pada jumlah total jenis yang ada dan (2) kesamaan atau kemerataan (evenness atau equatability) yang berdasarkan pada kelimpahan relatif suatu jenis dan tingkat dominansi (Krebs 1992 ; Magurran 1988).

1. Kekayaan Jenis

Kekayaan jenis pertama kali dikemukakan oleh Mcintossh tahun 1967, konsep yang dikemukakannya mengenai kekayaan jenis adalah jumlah jenis atau spesies dalam suatu komunitas. Kempton (1979) dalam Santosa (1995) mendefinisikan kekayaan jenis sebagai jumlah jenis dalam sejumlah individu tertentu. Sedangkan Huribert (1971) dalam Magurran (1988) menyatakan bahwa kekayaan jenis adalah jumlah spesies dalam suatu luasan tertentu. Beberapa

(30)

indeks menyangkut kekayaan jenis yang umumnya dikenal adalah sebagai berikut:

(1) metode rerefaction yang pertama kali dikemukakan oleh Sanders (1986) dan disempurnakan oleh Hurbert (1971) (Magurran, 1988), (2) indeks kekayaan jenis Margalef; (3) indeks kekayaan jenis Menhinick, (4) indeks kekayaan jenis Jacknife.

2. Kemeratan Jenis

Konsep ini menunjukkan derajat kemerataan kelimpahan individu antara setiap spesies. Ukuran kemerataan pertama kali dikemukakan oleh Liyod dan Ghelardi (1964) dalam Magurran (1988) yang dapat pula digunakan sebagai indikator adanya gejala dominansi diantara setiap spesies dalam suatu komunitas.

Beberapa indeks kemerataan yang umum dikenal diantaranya adalah: (1) indeks kemerataan Hurlbert, (2) indeks kemerataan Shannon-Wiener, (3) indeks kemerataan yang dikemukakan oleh Buzas dan Gibson (1969) dalam Kreb (1989), (4) indeks kemerataan Hill (1973) dalam Ludwig dan Reynold (1988) yang lebih dikenal dengan istilah Hill’s evenness number.

3. Kelimpahan Jenis

Kelimpahan jenis atau species abundance merupakan suatu indeks tunggal yang mengkombinasikan antara kekayaan jenis dan kemerataan jenis (Magurran 1988). Diantara sekian banyak indeks kelimpahan jenis, ada tiga indeks yang paling sering dipakai oleh peneliti di bidangekologi, yaitu, indeks Simpson, indeks Shannon-Wiener dan indeks Brillouin (Pooole, 1974, Krebs, 1992).

2.3.3 Keanekaragaman Jenis Burung

Keanekaragaman jenis adalah suatu karakteristik tingkatan komunitas berdasarkan organisasi biologisnya, keanekaragaman jenis dapat digunakan untuk menyatakan struktur komunitas. Suatu komunitas dikatakan mempunyai keanekaragaman jenis yang tinggi (H'>3) jika komunitas itu disusun oleh banyak spesies (jenis) dengan kelimpahan spesies yang sama atau hampir sama.

Sebaliknya jika komunitas itu disusun oleh sangat sedikit spesies (H'1-3), dan jika sedikit saja spesies yang dominan, maka keanekaragamannya rendah (H'<1).

Kenanekaragaman yang tinggi menunjukkan bahwa suatu komunitas memiliki kompleksitas tinggi, karena dalam komunitas itu terjadi interaksi spesies yang tinggi pula. Jadi dalam suatu kumunitas yang mempunyai keanekaragaman

(31)

jenis yang tinggi akan terjadi interaksi spesies yang melibatkan transfer energi (Jaring-jaring makanan), predasi, kompetisi, dan pembagian relung yang secara teoritis lebih kompleks.

Keanekaragaman jenis burung berbeda dari satu tempat ke tempat lain, tergantung kondisi lingkungan dan faktor yang mempengaruhinya. Faktor-faktor yang mempengaruhi tersebut adalah keragaman konfigurasi dan ketinggian pohon; sehingga hutan yang memiliki ukuran pohon, dan bentuk yang berbeda- beda dari satu jenis pohon akan memiliki keanekaragaman jenis burung lebih tinggi dari pada tegakan pohon dari jenis yang berbeda namun memiliki struktur bentuk yang seragam (MacArthur and MacArthur 1961 dalam Welty 1982).

Menurut Keast (1985), tingginya keanekaragaman jenis burung dihutan tropis disebabkan oleh kondisi iklim tropis yang relatif stabil dan bersahabat yang memungkinkan terjadinya relung ekologi dan ”species packing” terbentuk, struktur vegetasi habitat yang beragam, tingginya keanekaragaman jenis tumbuhan (Floristic), beragam tipe pakan yang tersedia serta tingginya jumlah jenis burung yang jarang (rare) dan spesialis (specialized).

Pengukuran keanekaragaman jenis didasarkan pada teori informasi didukung oleh banyak ahli ekologi. Pengukuran keanekaragaman ini berhubungan dengan konsep uncertainty (Ketidaktentuan). Dalam komunitas yang keanekaragaman jenisnya rendah, kita benar-benar dapat menentukan identitas suatu individu yang dipilih secara acak. Sedangkan dalam komunitas yang keanekaragamannya tinggi, sukar bagi kita untuk menentukan identitas individu yang diambil secara acak.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa keanekaragaman tinggi berasosiasi dengan ketidaktentuan yang tinggi dan keanekaragaman rendah dengan ketidaktentuan yang rendah.

Pada dasarnya terdapat dua cara pengumpulan data, yaitu secara acak dan tidak acak. Jika data kelimpahan spesies diambil secara acak dari suatu komunitas atau sub-komunitas, maka penghitungan yang tepat keanekaragaman jenis adalah dengan menggunakan indeks keanekaragaman Shannon (Shannon-wiener).

(32)

III. KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN

3.1 Sejarah Kawasan

Sebelum ditetapkan sebagai Suaka Margasatwa, hutan di Langkat Timur laut oleh Kerajaan Negeri Deli ditetapkan sebagai kawasan Hutan dengan Zelfbestuur Besluit (ZB) 6/8/1932 No. 148 seluas 9.520 hektar, sedangkan di Karang Gading ditetapkan sebagai Kawasan Hutan dengan ZB 8/8/1935 No. 138 seluas 6.245 hektar. Kemudian berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian Nomor 811/Kpts/Um/11/1980 tanggal 5 November 1980 kedua kawasan tersebut ditunjuk sebagai Suaka Alam. Suaka Margasatwa seluas 15.765 hektar, dengan nama Suaka Margasatwa Karang Gading Dan Langkat Timur Laut.

Penataan batas kedua kawasan dilakukan pada tahun 1934 (1 tahun lebih awal dari dikeluarkannya ZB Juli 1934. pada tahun 1984 sebagian batas (sebagian besar yang bersebelahan dengan daratan) direkontruksi oleh Balai Inventarisasi dan Perpetaan Hutan Wilayah I, sepanjang 50 km.

3.2 Letak dan Luas

Suaka Margasatwa Karang Gading dan Langkat Timur laut secara administratif pemerintahan terdiri atas dua kawasan yang terletak di dua kabupaten yakni kawasan Langkat Timur Laut dengan luas 9.520 ha, terletak di Kecamatan Secanggang dan Tanjung Pura Kabupaten Langkat serta Karang Gading dengan luas 6.245 ha, terletak di Kecamatan Labuhan Deli dan Medan Permai Kabupaten Deli Serdang, Propinsi Sumatera Utara. Letak astronomi Suaka Margasatwa Karang Gading dan Langkat Timur Laut, terbentang antara 98030'- 98042' BT dan 3051'30" – 3059'45" LU.

Kecamatan Secanggang memiliki luas wilayah 223,27 km, administratif Kecamatan Secanggang terdiri dari 15 desa/kelurahan dengan luas masing-masing bervariasi dari yang paling sempit yakni 4,24 km2 (Karang Anyar) hingga yang terluas yakni 35,54 km2 (Tanjung Ibus). Sedangkan ratio total terhadap Luasan kecamatan tertinggi adalah 14.58% (Tanjung Ibus) dan terendah adalah 1.74%

(Karang Anyar) dan Hinai kiri (BPS Kabupaten Langkat, 2003). Rasio masing- masing desa/kelurahan terhadap total luas kecamatan selengkapnya disajikan pada Tabel 1.

(33)

Tabel 1 Luas wilayah Kecamatan Secanggang menurut desa/kelurahan tahun 2004

No. Desa/Kelurahan Luas (km2) Ratio Terhadap Total Luas Kecamatan (%) 1.

2.

3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15

Kepala Sungai Perkotaan Teluk Cinta Raja Telaga Jernih Karang Gading Kuala Besar Selotong Secanggang Tanjung Ibus Hinai Kiri Kebun Kelapa Sungai Ular Jaring Halus Karang Anyar

9.64 8.92 29.92 18.25 10.52 19.38 17.11 28.38 21.75 35.54 4.25 14.46 10.12 11.25 4.24

3.96 3.66 12.28

7.49 4.32 7.95 7.02 11.64

8.92 14.58

1.74 5.93 4.15 4.62 1.74

Jumlah 243.73 100.00

Sumber : BPS Kabupaten Langkat 2004

3.3 Kondisi Fisik 3.3.1 Curah Hujan

Berdasarkan data statistik tahun 2004, curah hujan rata-rata per tahun di Kabupaten Langkat adalah 166 mm dengan jumlah rata-rata jumlah hujan pertahun 10 hari. Untuk melihat rata-rata dan hari hujan Kabupaten Langkat disajikan pada Tabel 2.

Tabel 2 Rata-rata hujan dan hari hujan Kabupaten Langkat tahun 2004

No. Bulan Curah Hujan (mm) Hari Hujan (Hari) 1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

10.

11.

12.

Januari Februaru Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember

121 52 112 130 168 121 159 99 420 251 199 162

11 3 6 8 9 8 9 21 16 14 10 10 Sumber: Kabupaten Langkat Dalam Angka Tahun 2004, BPS Kabupaten Langkat

3.3.2 Hidrologi

Pasang air laut di Kawasan Suaka Margasatwa Karang Gading dan Langkat Timur Laut rata-rata 1.6 meter. Dua sungai besar memasuki daerah ini dengan sejumlah sungai-sungai kecil, dan diperkirakan 10% dari total kawasan tergenang

(34)

air. Daerah yang paling sedikit sungai-sungainya berada di sebelah Timur Sungai Karang Gading (Tabel 3).

Di Kabupaten Langkat terdapat 20 sungai, dengan sungai terpanjang adalah Sungai Wampu, dengan panjang lebih kurang hanya 4 km. Sungai terlebar juga Sungai Wampu dengan lebar 100 m, sedangkan sungai-sungai yang lainnya berkisar antara 10 sampai dengan 30 m. Untuk lebih jelasnya panjang dan lebar serta volume sungai-sungai di Kabupaten Langkat dapat dilihat tabel berikut ini.

Tabel 3 Nama-nama sungai dan panjang serta volume sungai Kabupaten Langkat

No. Nama Sungai Kecamatan Luas Panjang Lebar Volume 1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

10.

11.

12.

13.

14.

15.

16.

17.

18.

19.

20.

21.

22.

23.

24.

25.

26.

Wampu

Bagerpang Gergas Selapian Bahorok Bekulap Temuyuk Bingei Mencirim Bengaru Salaon Gegumit Tambo Bekiun Menjahong Beserangan Besilam Tenang Musam Lepan Besitang Karang Gading Belengking Dendang Serapuh Air Hitam

Bahorok, Selapian, Kuala, Selesai, Stabat, Binjai, Secanggang, Tanjung Pura

Bahorok Bahorok, Stabat Selapian Bahorok Selapian, Kuala Selapian

Sei Bingei, Binjai dan Stabat Kota Binjai, Wampu Sei Bingei

Sei Bingei Kuala, Selesai Kuala

Kuala, Selapian Sei Bingei, Kuala

Padang Tualang, Tanjung pura Stabat, Padang tualang, Binjai Padang Tualang

Padang Tualang Babalan Besitang

Secanggang, Stabat Stabat

Stabat Tanjung Pura Gebang

2.569

57 58 145 150 134 5 717

43 15 6 347

42 94 18 1413

288 144 175 825 440 160 40 22 40 18

105

20 24 27 25 40 4 67 38 10 5 34 27 25 13 80 45 47 25 80 83 27 17 15 10 10

100

25 15 25 40 30 10 30 38 10 10 30 15 20 10 100

15 30 43 40 50 30 10 10 15 10

80

5 3 9 8 10

1 15 13 3 1 13

4 6 3 43 13 12 18 9 9 2 1 1 1 0.5 Sumber: Kabupaten Langkat Dalam Angka Tahun 2004, BPS Kabupaten Langkat.

3.3.3 Iklim

Karakteristik iklim di Pantai Timur Utara adalah iklim tropika dengan sedikit sensasi variasi suhu. Curah hujan tidak merata, berkisar antara 2.010 sampai dengan 2.327 mm/tahun. Antara bulan Desember dan Maret angin dari Timur Laut membawa udara kering dan curah hujan umunya rendah (di bawah 100 mm/bulan pada bulan Februari dan Maret). Dari bulan Maret sampai

(35)

September berada dalam pengaruh angin musim Barat Laut, curah hujan tinggi terjadi pada bulan Mei dan Agustus sampai oktober. Menurut klasifikasi iklim (Oldemann et al, 1997) wilayah pantai timur Sumatera Utara berada pada zona iklim D; sebuah zona dengan 3-4 bulan basah (curah hujan lebih dari 200 mm/bulan) berturut-turut dan 2-6 bulan kering (curah hujan kurang dari 100 mm/bulan berturut-turut.

3.3.4 Tipe Lahan

Tipe lahan di Suaka Margasatwa Karang Gading Langkat Timur laut umumnya berlumpur dan air yang sedikit agak kecoklatan, sehingga vegetasinya didominasi oleh jenis bakau putih dan bakau hitam (Rhizophora apiculata), Lenggadai (Bruguiera parviflora), buta-buta (Excoria sp) dan nyirih (Xylocarpus granatum) serta nipah (Nipa fruticans).

3.3.5 Tanah

Keadaan di Suaka Margasatwa Karang Gading Langkat Timur Laut umunya hampir sama dengan daerah-daerah Indonesia lainnya, yaitu dari dataran tinggi sampai rendah. Jenis batuan yang terdapat di daerah Kabupaten Langkat adalah jenis batuan metamorf yaitu dari jenis wake, batusabak, arenit kwarsa, batu lanau dan batuan konglomeratan sebagaimana diketahui bahwa batuan metamorf merupakan batuan yang sangat keras, karena sudah mengalami proses tekanan dan temperatur yang sangat tinggi

3.4 Administrasi 3.4.1 Penduduk

Jumlah penduduk di Kecamatan Secanggang seluruhnya adalah 62.118 jiwa dengan kepadatan rata-rata penduduk 254.86 jiwa/km2 sampai dengan tahun 2004.

kepadatan penduduk masing-masing desa bervariasi. Desa dengan kepadatan penduduk rendah adalah Kuala Besar dikarenakan desa ini merupakan desa pantai yang masih terisolir dan sulit dijangkau dengan angkutan umum (hanya ada angkutan berupa boat). Disusul kemudian Desa Cinta Raja yang kepadatannya rendah dikarenakan desa tersebut merupakan daerah perkebunan kakao dan sawit.

Kepadatan penduduk rata-rata angota rumah tangga penduduk Kecamatan Secanggang tahun 2004 selengkapnya disajikan pada Tabel 4.

(36)

Tabel 4 Jumlah dan kepadatan penduduk Kecamatan Secanggang tahun 2004

No. Desa/Kelurahan Luas (km2) Banyaknya Penduduk Kepadatan Penduduk jiwa/km2 1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

10.

11.

12.

13.

14.

15.

1

Kepala Sungai Perkotaan Teluk Cinta Raja Telaga Jernih Karang Gading Kuala Besar Selotong

Pekan Secanggang Tanjung Ibus Hinai Kiri Kebun kelapa Sungai Ular Jaring halus Karang Anyar

9.64 8.92 29.92 18.25 10.52 19.39 17.11 28.38 21.75 35.54 4.25 14.46 10.12 11.25 4.24

4.462 1.945 7.102 1.630 4.254 8.957 1.059 4.403 5.999 4.992 4.827 2.424 2.613 2.770 4.621

462.86 218.04 237.36 89.31 404.37 461.93 61.89 155.14 275.81 140.65 1.135.76

167.63 258.20 246..22 1.089.85

Jumlah 243.73 62.118 254.80

Sumber: BPS Langkat 2004

3.4.2 Distribusi Umur

Dari data yang ada pekerjaan tradisional di kawasan pesisir didominasi oleh generasi usia menengah sampai usia tua, sementara generasi menengah ke muda cenderung meninggalkan pekerjaan tersebut (Tabel 5). Dari sisi gender, wanita lebih sedikit yang bekerja sebagai pelaut atau mencari kayu, umumnya wanita hanya bersifat membantu pekerjaan kaum laki-laki terutama dalam penanganan pasca tangkap/pasca panen di rumah sebagai kegiatan/usaha rumah tangga.

Tabel 5 Distribusi umur kepala keluarga masyarakat pantai (2004)

No. Kelompok Umur Proporsi (%)

1.

2.

3.

4.

5.

6.

< 20 tahun 20 – 30 tahun 30 – 40 tahun 40 – 50 tahun 50 – 60 tahun

> 60 tahun

3.00 8.00 17.00 48.00 21.33 2.67 Sumber: BPS Langkat 2004

3.4.3 Pendidikan

Pendidikan masyarakat pantai rata-rata adalah SD (48.0%), disusul berikutnya SLTP (30.7%), SLTA (14.67%), Diploma (5.3%) dan Sarjana (1.3%) (Tabel 6). Profil ini merupakan kondisi tingkat pendidikan yang cukup baik untuk kategori wilayah desa seperti pada lokasi studi. Relatif banyaknya masyarakat

(37)

pantai dengan tingkat pendidikan menengah ditopang oleh keberadaan Tsanawiyah dilokasi penelitian di Kecamatan Secanggang. Namun untuk mendapatkan jenjang perguruan tinggi mereka harus ke Ibu Kota Kabupaten Langkat (Stabat) atau kota Medan.

Tabel 6 Data pendidikan kepala keluarga masyarakat pantai (2004).

No. Pendidikan Proporsi (%)

1.

2.

3.

4.

5.

Sekolah Dasar (SD)

Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) Diploma

Sarjana

48.00 30.67 14.67 5.33 1.33 Sumber: BPS Langkat 2004.

3.4.4 Pekerjaan

Pekerjaan pokok mayoritas masyarakat pantai adalah nelayan (penangkap ikan), yakni sebanyak 35 orang (46.67%), selanjutnya adalah pedagang 9 orang (12%), pembudidaya ikan sebanyak 8 orang (10.67%), aparat desa sebanyak 7 orang (9.33%), pembuat arang sebanyak 6 orang (8%), PNS sebanyak 4 orang (5.33%) dan sisanya adalah pengumpul kayu dan pengolah ikan masing-masing 4 dan 2 orang (5.3 dan 2.67%) (Tabel 7). Distribusi pekerjaan non nelayan cukup merata, yang berarti di lokasi penelitian tidak ada pekerjaan alternatif yang menonjol dan menjadi sumber mata pencarian yang signifikan bagi masyarakat.

Meskipun proporsi nelayan penangkap ikan 46.67%, namun sesungguhnya hampir seluruh masyarakat pantai mata pencarian yang terkait langsung dengan sektor perikanan, karena baik perdagangan, budidaya, maupun industri yang ada juga masih bergerak pada sektor perikanan laut. Selain itu, meskipun sebagian masyarakat pantai memiliki pekerjaan pokok bukan nelayan tangkap, namun mereka juga masih melakukan penangkapan ikan sebagai pekerjaan sambilan.

Berdasarkan data pekerjaan sambilan masyarakat pantai, mayoritas masyarakat pantai memiliki mata pencarian sebagai pengumpul kayu (28%), nelayan tangkap (18.67%) dan budidaya perikanan (12%), mata pencarian sambilan lainnya antara lain petani, pedagang, pengolahan ikan, pembuat arang dan buruh/pekerja dengan proporsi yang tidak menonjol. Tingginya proporsi mata pencarian masyarakat pantai yang memiliki mata pencarian sambilan sebagai pengumpul kayu menggambarkan masih tingginya tingkat ketergantungan dan intervensi masyarakat di lokasi penelitian terhadap hutan bakau. Meskipun

Referensi

Dokumen terkait

Riau juga memiliki banyak hutan yang cukup potensial sebagai salah satu contoh, kawasan Suaka Margasatwa Bukit Rimbang Bukit Baling (SMBRBB) memiliki