• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 3 PROBLEMATIKA AKTIVITAS ANGGOTA DEWAN

3.3 Korupsi

Problematika aktivitas anggota DPRD selanjutnya adalah korupsi. Korupsi berarti busuk, buruk; suka menerima uang sogok (memakai kekuasaannya untuk kepentingan sendiri dan sebagainya). Korupsi adalah perbuatan yang buruk (seperti penggelapan uang, penerimaan uang sogok dan sebagainya)137. Berdasarkan Undang Undang Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Pasal 2 Ayat 1, Korupsi juga berarti Setiap orang yang secara melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara138.

Jika kita lihat kondisi anggota dewan di Sumut, mereka memanfaatkan kewenangan mereka sebagai pintu untuk kongkalikong dengan pihak eksekutif, dalam hal ini Gatot selaku gubernur. Kasus tersebut menunjukkan korupsi dilakukan secara massal dengan memanfaatkan pelaksanaan fungsi dan kewenangan legislatif. Korupsi yang dilakukan bertujuan untuk mengamankan kepentingan masing-masing, atau mengambil manfaat untuk kepentingan pribadi ataupun kelompok. Adapun kasus korupsi DPRD Sumut berupa suap terkait persetujuan laporan pertanggungjawaban Pemerintah Provinsi Sumatera Utara untuk Tahun Anggaran 2012-2014 oleh DPRD sumut, Persetujuan Perubahan APBD Provinsi Sumut Tahun 2013-2014 oleh DPRD Sumut. Kemudian terkait

137 Korupsi, Kamus Besar Bahasa Indonesia Daring, Tersedia pada situs https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/korupsi, Diakses pada 26 November 2019, Pukul 17.05 WIB.

138 Undang Undang Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, Pasal 2.

pengesahan APBD Sumut Tahun Anggaran 2014-2015 dan penolakan penggunaan hak interpelasi anggota DPRD Sumut pada 2015.139

Hingga sampai saat ini, dari pengembangan kasus korupsi di Sumatera Utara tersebut yang melibatkan DPRD Sumatera Utara dua periode yakni periode 2004-2009 dan 2014-2019 dan Mantan Gubernur Sumatera Utara yaitu Gatot Pujo Nugroho sudah sampai pada tahap ke empat penangkapan oleh KPK.

Melihat perjalanan kasus korupsi massal tersebut sudah mencapai 64 orang dari DPRD Sumut dalam 2 periode tersebut atas kasus korupsi tersebut.140 Adapun nama-nama tersangka dari unsur pimpinan dan anggota DPRD Sumut periode 2004-2009 dan 2014-2019 dalam beberapa tahap penangkapan oleh KPK (dalam Tahun) adalah sebagai berikut: Pada Tahun 2015 ada ketua DPRD Provinsi Sumatera Utara 2014-2019 Ajib Shah, ketua DPRD Provinsi Sumatera Utara 2009-2014 Saleh Bangun, wakil ketua DPRD Provinsi Sumatera Utara 2009-2014 Chaidir Ritonga, wakil ketua DPRD Provinsi Sumatera Utara 2009-2014 Kamaludin Harahap, dan Wakil Ketua DPRD Provinsi Sumatera Utara 2009-2014 Sigit Pramono Asri.141

Pada tahun 2016 ada Muhammad Afan, Budiman Nadapdap, Guntur Manurung, Zulkifli Effendi Siregar, Bustami, Parluhutan Siregar, dan Zulkifli Husein.142 Pada tahun 2018 ada Rijal Sirait, Rinawati Sianturi, Rooslynda https://nasional.kompas.com/read/2018/07/09/17254011/kpk-resmi-tahan-2-eks-anggota-dprd-sumut-terkait-kasus-suap?page=all, Diakses pada 13 Feb 2021, Pukul 13.11 WIB.

140 Ilham Rian Pratama, KPK SudahJerat 64 Tersangka Kasus Suap Massal Eks Gubernur Sumut Gatot Pujo Nugroho(Berita Online Tribunnews.com, Jumat, 31 Januari 2020 Pukul 13.43 WIB), Tersedia Pada Situs https://www.tribunnews.com/nasional/2020/01/31/kpk-sudah-jerat-64-tersangka-kasus-suap-massal-eks-gubernur-sumut-gatot-pujo-nugroho, Diakses Pada 14 Februari 2021 Pukul 18.42 WIB.

141 Oscar ferri, Wajah Lesu Eks Ketua DPRD Sumut Terancam Gugur Di Pilkada(Berita online Liputan 6,

11 November 2015, Pukul 06.15 WIB), Tersedia Pada Situs

https://www.liputan6.com/news/read/2362577/wajah-lesu-eks-ketua-dprd-sumut-terancam-gugur-di-pilkada, Diakses Pada 14 Februari 2021, Pukul 20.18 WIB.

142 Tempo.co, Tujuh Anggota DPRD Sumut Didakwa Terima Suap Gatot Pujo(Berita Online Tempo.co, Rabu, 26 Oktober 2016, 20.49 WIB), Tersedia Pada Situs https://nasional.tempo.co/read/815323/tujuh-anggota-dprdsumut-didakwa-terima-suap-gatot-pujo, Diakses pada 14 Februari, Pukul 21.31 WIB.

Siregar, Muhammad Faisal, DTM Abul Hasan Maturidi, Biller Pasaribu, Richard Eddy Marsaut Lingga, Syafrida Fitrie, Rahmianna Delima Pulungan, Arifin Nainggolan, Mustofawiyah, Sopar Siburian, Analisman Zalukhu, Tonnies Sianturi, Tohonan Silalahi, Murni Elieser Verawaty Munthe, Dermawan Sembiring, Arlene Manurung, Syahrial Harahap, Restu Kurniawan Sarumaha, Washington Pane, John Hugo Silalahi, Ferry Suando Tanuray Kaban, Tunggul Siagian, Fahru Rozi, Taufan Agung Ginting, Tiaisah Ritonga, Helmiati, Muslim Simbolon, Sonny Firdaus, Pasiruddin Daulay, Elezaro Duha, Musdalifah, dan Tahan Manahan Panggabean.143 Pada tahun 2020 ada Sudirman Halawa, Rahmad Pardamean Hasibuan, Nurhasanah, Megalia Agustina, Ida Budiningsih, Ahmad Hosein Hutagalung, Syamsul Hilal, Robert Nainggolan, Ramli, Mulyani, Layari Sinukaban, Japorman Saragih, Jamaluddin Hasibuan, dan Irwansyah Damanik.144

Berdasarkan nama anggota DPRD sumut yang terjerat kasus korupsi suap tersebut berikut diketahui Anggota DPRD Sumatera Utara pada periode 2014-2019 yang terlibat dalam kasus korupsi berupa suap terkait persetujuan laporan pertanggungjawaban Pemerintah Provinsi Sumatera Utara untuk Tahun Anggaran 2012-2014 oleh DPRD sumut, Persetujuan Perubahan APBD Provinsi Sumut Tahun 2013-2014 oleh DPRD Sumut. Kemudian terkait pengesahan APBD Sumut Tahun Anggaran 2014-2015 dan penolakan penggunaan hak interpelasi anggota DPRD Sumut pada 2015.

Pada tahap I penangkapan KPK tahun 2015, diketahui bahwa Ketua DPRD Sumut 2014 - 2019 Ajib Shah menerima suap sebesar Rp1,195 miliar dari Gatot. Dimana dalam hal ini uang kompensasi yang diterima dari Gatot sebagai upaya menggagalkan rencana penggunaan hak interpelasi legislatif pada Maret

143 Antara, KPK Tetapkan 38 Anggota DPRD Sumut Sebagai Tersangka(Berita Online CNN Indonesia, Sabtu, 31 Maret 2018), Tersedia pada situs https://www.cnnindonesia.com/nasional/20180331000038-12-287151/kpk-tetapkan-38-anggota-dprd-sumut-sebagai-tersangka, Diakses Pada 15 Februari 2021, Pukul 13.18 WIB.

144 Arditho Ramadhan, Kasus Dugaan Suap KPK Periksa 12 Mantan Anggota DPRD Sumut (Berita Online Kompas.com, 4 Juni 2020, Pukul 12.16 WIB), Tersedia Pada Situs https://nasional.kompas.com/read/2020/06/04/12164511/kasus-dugaan-suap-kpk-periksa-12-mantan-anggota-dprd-sumut?page=all, Diakses Pada 15 Februari 2021, Pukul 13.57 WIB.

2015. Hak interpelasi saat itu diajukan 57 anggota DPRD Provinsi Sumatera Utara dengan alasan terdapat dugaan pelanggaran yang dilakukan Gatot terhadap Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 900-3673 tahun 2014 terkait Evaluasi Ranperda Provinsi Sumatera Utara tentang APBD tahun anggaran 2014 dan Rancangan Peraturan Gubernur tentang Penjabaran RAPBD Tahun 2014 tanggal 16 September.145

Pada tahap II penangkapan KPK tahun 2016, terdapat 7 DPRD Sumut yang juga terlibat dalam kasus suap mantan Gubernur Sumatera Utara Gatot.

Sebagaimana diketahui bahwa ke 7 anggota DPRD Sumut tersebut menerima suap dari Gatot dengan jumlah yang berbeda berbeda. Seperti Muhammad Afan (PDIP) menerima suap sebesar Rp 1,295 miliar, Budiman Nadapdap (PDIP) sebesar Rp 1,095 miliar, Guntur Manurung (Demokrat) sebesar Rp 555 juta, Zulkifli Effendi Siregar (Hanura) sebesar Rp 1,555 miliar, Bustami (PPP) sebesar Rp 565 juta, Parluhutan Siregar (PAN) sebesar Rp 862,5 juta, Zulkifli Husein (PAN) sebesar Rp 262,5 juta.146

Kemudian pada tahap III penangkapan KPK tahun 2018, berdasarkan laporan KPK terdapat 38 orang anggota DPRD Sumut yang terlibat dalam kasus suap mantan Gubernur Sumatera Utara tersebut. Diantara dari 38 orang tersebut terdapat Anggota DPRD Sumatera Utara periode 2014-2019, diantaranya, Rinawati Sianturi dari Fraksi Hanura, Muhammad Faisal dari Fraksi Golkar, Arifin Nainggolan, Mustofawiyah, Sopar Siburianaktif, dan Tiaisah Ritonga dari Fraksi Demokrat. Kemudian Analisman Zalukhu dari Fraksi PDIP, Helmiati dari Fraksi Golkar, Muslim Simbolon dari Fraksi PAN, serta Sonny Firdaus dari Fraksi Gerindra. Jumlah uang yang diterima masing-masing anggota DPRD

145 Abi Sarwanto, Empat Legislator Dari Sumut Didakwa Terima Suap Dari Gatot[ Berita online CNN Indonesia pada 31 Maret 2016 Pukul 19.07 WIB], Tersedia pada situs https://www.cnnindonesia.com/nasional/20160331155201-12-120823/empat-legislator-daerah-sumut-didakwa-terima-suap-dari-gatot, Diakses pada 15 Februari 2021, Pukul 17.28 WIB.

146 Audrey Santoso, Kasus Suap 7 Anggota DPRD Sumut Kompak Terima Vonis 4 Tahun Bui [Berita online Detik.com pada 1 Maret 2017 Pukul 14.18 WIB], Tersedia pada situs https://news.detik.com/berita/d-3435178/kasus-suap-7-anggota-dprd-sumut-kompak-terima-vonis-4-tahun-bui, Diakses pada 15 Februari 2021 Pukul 17.55 WIB.

Sumut tersebut sekitar Rp300 hingga Rp350 juta atas suap dari Gatot Pujo Nugroho ketika menjabat Gubernur Sumut terkait pengesahan APBD Pemprov Sumut 2013 dan 2014, serta penolakan penggunaan hak interpelasi DPRD Sumut tahun 2015147

Pada tahap IV penangkapan KPK tahun 2020, diketahui bahwa kembali ditangkap 14 orang Anggota DPRD Sumut pada dua periode tersebut juga terkait dengan kasus suap mantan Gubernur Sumatera Utara. Dimana Layari Sinukaban dari Partai Demokrat merupakan salah satu anggota DPRD Sumut periode 2009-2014 yang juga anggota DPRD Sumatera Utara Periode 2009-20142019 hasil PAW terhadap Jenny Riany Lucia Berutu. Diketahui bahwa Layari Sinukaban dari hasil penangkapan KPK juga terlibat dalam kasus suap Mantan Gubernur Sumatera Utara Gatot tersebut. Namun besaran suap yang diterima belum diketahui karena KPK belum merinci berapa suap yang diduga diterima para mantan anggota dewan tersebut.148

Berdasarkan uraian kasus diatas bahwa korupsi memang sangat berbahaya dan melibatkan banyak pihak yang akhirnya merusak sistem itu sendiri. Oleh karna itu korupsi sudah dianggap sebagai kejahatan yang sangat luar biasa atau extra ordinary crime, sehingga kejahatan ini sering dianggap sebagai “beyond the law” karena melibatkan para pelaku kejahatan ekonomi kelas atas (high level economic) dan birokrasi kalangan atas (high level beurrocration), baik birokrat ekonomi maupun pemerintahan. Bayangkan saja, kejahatan korupsi yang melibatkan kekuasaan ini sangat sulit pembuktiannya, selain itu kehendak adanya pemberantasan perbuatan ini nyata nyata terbentur dengan kepentingan kekuasaan yang sangat mungkin melibatkan para birokrasi tersebut, akibatnya sudah dapat

147 Hafiz Faza, KPK Kantongi Dana Sebesar Ini Dari Kasus Suap DPRD Sumut[Berita Online RilisId pada 23 April 2018 Pukul 09.18 WIB], Tersedia pada situs https://m.rilis.id/kpk-kantongi-dana-sebesar-ini-dari-kasus-suap-dprd-sumut, Diakses pada 15 Februari 2021, Pukul 18.32 WIB.

148 Ilham Rian Pratama, KPK Tetapkan 14 Mantan Anggota DPRD Sumatera Utara Jadi Tersangka Kasus Suap Gatot Pujo Nugroho[Berita Online Tribunnews.com pada 30 Januari 2020 Pukul 21.48 WIB], Tersedia pada situs https://www.tribunnews.com/nasional/2020/01/30/kpk-tetapkan-14-mantan-anggota-dprd-sumatera-utara-jadi-tersangka-kasus-suap-gatot-pujo-nugroho, Diakses pada 15 Februari 2021, Pukul 19.04 WIB.

menjadi “beyond the law” dan sebagai perbuatan yang “untouchable by the law”.149

Melihat kasus diatas kita lantas tahu bahwa akan banyak dampak yang ditimbulkan korupsi. Hal pertama adalah merugikan keuangan negara. Jika diperhatikan dalam kasus penyuapan yang dilakukan Gatot kepada pimpinan dan anggota DPRD Sumut periode 2009-2014 dan 2014-2019, negara dirugikan senilai Rp 61,8 miliar.150 Hal ini masih sebagian kecil dari seluruh kasus dan ini membuktikan banyaknya kerugian negara akibat korupsi. Perihal inilah yang menyebabkan banyaknya tingkat kemiskinan serta tidak maksimalnya pelaksanaan proyek untuk kemaslahatan masyarakat. Dengan demikian, dampak korupsi khususnya di Indonesia adalah menghambat pertumbuhan ekonomi dan merugikan perekonomian nasional.

Korupsi menyebabkan banyak masyarakat yang tidak percaya lagi akan kinerja DPRD. Bahkan masyarakat cenderung tidak peduli lagi terhadap DPRD karena hal ini sudah terlampau sering dipertontonkan di depan masyarakat.151 Jika korupsi dalam suatu masyarakat telah merajalela dan menjadi makanan masyarakat setiap hari, maka akibatnya akan menjadikan masyarakat tersebut sebagai masyarakat yang kacau, tidak ada sistem sosial yang dapat berlaku dengan baik. Setiap individu dalam masyarakat hanya akan mementingkan diri sendiri (self interest), bahkan selfishness. Tidak akan ada kerja sama dan persaudaraan yang tulus.

Korupsi juga membahayakan terhadap standar moral dan intelektual masyarakat. Ketika korupsi merajalela, maka akan menimbulkan iklim

149 Priyambudi, Pembaharuan Undang Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, Tersedia pada situs https://www.kejari-jakbar.go.id/index.php/component/k2/item/239-pembaharuan-undang-undang-pemberantasan-tindak-pidana-korupsi, Diakses pada 15 Februari 2021, Pukul 19. 24 WIB.

150 Ayomi Amindoni, Korupsi Massal di Sumut: Kongkalikong dan Pasar Gelap Kekuasaan[Berita Online BBC.com pada 2 April 2018], Tersedia pada situs https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-43611177, Diakses pada 15 Februari 2021, Pukul 21. 13 WIB.

151 KPK, Dampak Sosial Korupsi, Jakarta: Direktorat Pendidikan dan Pelayanan Masyarakat Kedeputian Bidang Pencegahan, 2016. hal. 29.

ketamakan, selfishness, dan sinisism. Chandra Muzaffar menyatakan bahwa korupsi menyebabkan sikap individu menempatkan kepentingan diri sendiri di atas segala sesuatu yang lain dan hanya akan berpikir tentang dirinya sendiri semata-mata. Jika suasana iklim masyarakat telah tercipta demikian itu, maka keinginan publik untuk berkorban demi kebaikan dan perkembangan masyarakat akan terus menurun dan mungkin akan hilang.152

Efek negatif yang paling berbahaya dari korupsi pada jangka panjang adalah rusaknya generasi muda. Dalam masyarakat yang korupsi telah menjadi makanan sehari-hari, anak tumbuh dengan pribadi antisosial, selanjutnya generasi muda akan menganggap bahwa korupsi sebagai hal biasa (atau bahkan budaya), sehingga perkembangan pribadinya menjadi terbiasa dengan sifat tidak jujur dan tidak bertanggung jawab. Jika generasi muda suatu bangsa keadaannya seperti itu, bisa dibayangkan betapa suramnya masa depan bangsa tersebut. makanya sangat penting menjaga anak muda agar terhindar dari korupsi.153

Dari efek yang ditimbulkan maka harus diketahui apa yang menjadi penyebab sehingga dapat mencari sousi terbaik dalam menyelesaikan problematika ini. Penyebab dari korupsi ini tifdak terlepas dari peraturan perundangan, masyarakat, serta pengawasan itu sendiri. Hal pertama yang bisa kita amati adalah peraturan pemilu. Jika kita lihat pada peraturan pemilu yang berlaku di Indonesia, kita akan menemukan Undang Undang no 7 tahun 2017 tentang Pemilihan Umum yaitu pada pasal 240 poin g yang memperbolehkan DPRD yang pernah melakukan korupsi untuk maju kembali dalam pemilihan.154 Hal ini tentu sangat miris dimana seorang oknum yang tidak berintegritas masih diperbolehkan untuk tetap maju di dalam kontestasi pemilu.

152 Wicipto Setiadi, Korupsi Di Indonesia (Penyebab, Bahaya, Hambatan dan Upaya Pemberantasan, Serta Regulasi), Dalam Jurnal Legislasi Indonesia, Volume 15 Nomor 3, Edisi November 2018, hal. 2. Tersedia pada situs https://e-jurnal.peraturan.go.id/index.php/jli/article/download/234/pdf, Diakses pada 16 Februari 2021, Pukul 09.47 WIB.

153 Saut Situmorang disampaikan dalam Seminar Nasional dengan tema “Peran Milenial Dalam Pemberantasan Korupsi”, Diselenggarakan oleh DPD Mapancas Medan, tanggal 29 Februari 2020.

154 Undang Undang no 7 tahun 2017 tentang Pemilihan Umum pada, Pasal 240.

Selanjutnya adalah money politic. Walaupun diatur dalam Undang Undang no 7 tahun 2017 tentang Pemilihan Umum yaitu pada pasal 284, namun dapat kita lihat bahwa yang terjadi adalah sudah menjadi rahasia umum bahwasanya money politik selalu terjadi di setiap pemilihan.155 Sejalan itu sadar ataupun tidak sadar bahwa pemilihan langsung, penetapan calon berdasarkan suara terbanyak dalam sistem pemilu proporsional tidak ramah terhadap calon yang tidak berkecukupan.156 Sehingga hal ini membuat politikus dengan modal besar relatif diuntungkan. Hal ini bukan saja karna money politik yang diberikan kepada masyarakat namun juga untuk biaya kampanye, tim sukses, partai, konsultan dan lain sebagainya yang memakan sangat banyak biaya.157

Sistem pengawasan dalam hal ini KPK menjadi poin penting dalam mencegah memberantas ataupun mengontrol agar korupsi tidak terjadi. Kita tahu KPK punya 3 strategi dalam pemberantasan korupsi yaitu represif, perbaikan sistem, serta edukasi dan kampanye. Strategi represif adalah upaya penindakan hukum untuk menyeret pelaku koruptor ke pengadilan. Perbaikan sistem adalah menunjukkan banyak sistem yang diterapkan yang memberikan tindak pidana korupsi. Edukasi dan kampanye adalah strategi pembelajaran pendidikan anti korupsi, mengajak masyarakat untuk terlibat dalam gerakan pemberantasan korupsi.158 Dengan kondisi ini seharusnya khususnya korupsi harusnya sudah teratasi namun yang terjadi bahkan cenderung meningkat. Hal ini membuktikan bahwa dengan adanya pengawasan yang tidak baik maka akan menimbulkan banyak problematika.

Selanjutnya pengawasan dari masyarakat yang sangat minim. Pengawasan ini bisa diakibatkan oleh ketidak pedulian masyarakat terhadap DPRD juga karna

155 Wawancara dengan anggota DPRD Provinsi Sumatera Utara Periode 20014-2019 Aduhot Simamora pada 17 Februari 2020 Di Hotel Danau Toba Medan.

156 Maria Hartiningsih, Korupsi yang Memiskinkan, Jakarta: PT Kompas Media Nusantara, 2011, hal. 83.

157 Wawancara dengan Dosmar Banjarnahor selaku Bupati Humbang Hasundutan pada 2 Mei 2020 Di Kantor Bupati Humbang Hasundutan.

158 Tim SPORA KPK, Op.Cit., hal. 53.

mosi tidak percaya kepada DPRD. Kemudian hal terkait pengawasan yang kurang efektif inilah yang enjadi celah atau faktor penyebab terjadinya hal tersebut.

Dari berbagai hal yang menjadi penyebab korupsi maka kita dapat mengambil solusi untuk masalah ini. hal terpenting dalam menyelesaikan hal ini adalah dengan adanya kerjasama dari pihak pemerintah, partai politik dan masyarakat. Dengan adanya dukungan pemerintahan yang baik dalam memberantas korupsi maka akan terbentuk regulasi yang baik. Partai politik juga demikian mengkader anggota partai politik sehingga memiliki pemahaman baik mengenai tugas dan fungsi dalam mewakili rakyat. Hal terpenting adalah peran masyarakat dimana masyarakat harus melek politik sehingga memiliki pengetahuan mempuni dalam memilih wakil dan juga mengawasi kinerjanya.