HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum
KOSONGPersentase Perubahan Luas Lahan DAS Cisadane
44
Tabel 14 Nilai penutupan dan penggunaan lahan yang tetap/tidak berubah Tahun 1978 dan 1995
Nilai Penutupan Lahan
11 Hutan 36 Badan Air 65 Pemukiman 112 Sawah 126 Ladang 150 Semak 187 Lahan Kosong
Tabel 15 Nilai penutupan dan penggunaan lahan yang mengalami perubahan Tahun 1978 dan 1995
Nilai Perubahan Nilai Perubahan
12 Hutan Ke Air 98 Sawah Ke Ladang
13 Hutan Ke Pemukiman 105 Sawah Ke Semak
14 Hutan Ke Ladang 119 Sawah Ke Lahan Kosong
15 Hutan Ke Semak 99 Ladang Ke Hutan
16 Hutan Ke Sawah 108 Ladang Ke Badan Air 17 Hutan Ke Lahan Kosong 117 Ladang Ke Pemukiman 33 Badan Air Ke Hutan 135 Ladang Ke Semak 39 Badan Air Ke Pemukiman 144 Ladang Ke Sawah
42 Badan Air Ke Ladang 153 Ladang Ke Lahan Kosong 45 Badan Air Ke Semak 110 Semak Ke Hutan
48 Badan Air Ke Sawah 120 Semak Ke Badan Air 51 Badan Air Ke Lahan Kosong 130 Semak Ke Pemukiman 55 Pemukiman Ke Hutan 140 Semak Ke Ladang 60 Pemukiman Ke Badan Air 160 Semak Ke Sawah
70 Pemukiman Ke Ladang 170 Semak Ke Lahan Kosong 75 Pemukiman Ke Semak 121 Lahan Kosong Ke Hutan 80 Pemukiman Ke Sawah 132 Lahan Kosong Ke Badan Air 85 Pemukiman Ke Lahan Kosong 143 Lahan Kosong Ke Pemukiman
77 Sawah Ke Hutan 154 Lahan Kosong Ke Ladang
84 Sawah Ke Badan Air 165 Lahan Kosong Ke Semak 91 Sawah Ke Pemukiman 176 Lahan Kosong Ke Sawah
45 Tabel 16 Nilai penutupan dan penggunaan lahan yang tetap/tidak berubah Tahun
1995 dan 2012
Nilai Penutupan Lahan
11 Hutan 36 Badan Air 65 Pemukiman 98 Sawah 135 Ladang 160 Semak 187 Lahan Kosong
Tabel 17 Nilai penutupan dan penggunaan lahan yang mengalami perubahan Tahun 1995 dan 2012
Nilai Perubahan Nilai Perubahan
12 Hutan Ke Badan Air 105 Ladang Ke Semak 13 Hutan Ke Pemukiman 112 Ladang Ke Sawah
14 Hutan Ke Ladang 119 Ladang Ke Lahan Kosong
15 Hutan Ke Semak 99 Semak Ke Hutan
16 Hutan Ke Sawah 108 Semak Ke Badan Air
17 Hutan Ke Lahan Kosong 117 Semak Ke Pemukiman 33 Badan Air Ke Hutan 126 Semak Ke Ladang 39 Badan Air Ke Pemukiman 144 Semak Ke Sawah
42 Badan Air Ke Ladang 153 Semak Ke Lahan Kosong 45 Badan Air Ke Semak 110 Sawah Ke Hutan
48 Badan Air Ke Sawah 120 Sawah Ke Badan Air 51 Badan Air Ke Lahan Kosong 130 Sawah Ke Pemukiman 55 Pemukiman Ke Hutan 140 Sawah Ke Ladang 60 Pemukiman Ke Badan Air 150 Sawah Ke Semak
70 Pemukiman Ke Ladang 170 Sawah Ke Lahan Kosong 75 Pemukiman Ke Semak 121 Lahan Kosong Ke Hutan 80 Pemukiman Ke Sawah 132 Lahan Kosong Ke Badan Air 85 Pemukiman Ke Lahan Kosong 143 Lahan Kosong Ke Pemukiman 77 Ladang Ke Hutan 154 Lahan Kosong Ke Ladang 84 Ladang Ke Badan Air 165 Lahan Kosong Ke Semak 95 Ladang Ke Pemukiman 176 Lahan Kosong Ke Sawah
Selama kurun waktu satu periode atau 17 tahun hampir semua kelas penutupan lahan mengalami perubahan, namun ada pula yang tetap meskipun hanya sedikit dibanding jumlah luasan penutupan lahan yang mengalami perubahan. Perubahan dapat kearah peningkatan luasan atau bahkan mengalami penurunan luasan. Luas penutupan lahan yang mengalami perubahan pada tahun 1978-1995 di DAS Ciliwung sebesar 64,83% dari total keseluruhan luasan, sedangkan sisanya sebesar 35,17% tidak mengalami perubahan. Sedangkan untuk DAS Cisadane diketahi bahwa luas penutupan lahan yang berubah sebesar 64,02%, sisa nya
46
sebanyak 35,98% merupakan luasan penutupan lahan yang tetap atau tidak mengalami perubahan. Penjelasan mengenai luasan penutupan lahan yang berubah dan tidak berubah dijelaskan pada tabel (Tabel 18) dan gambar (Gambar 29 dan 30) di bawah ini.
Tabel 18 Perubahan lahan yang tetap dan berubah tahun 1978-1995
Perubahan DAS Ciliwung DAS Cisadane
Luas (ha) % Luas (ha) %
Tetap/ Tidak Berubah 12969,63 35,17 52745,67 35,98
Berubah 23903,82 64,83 93832,02 64,02
TOTAL 36.873,45 100,00 146.577,69 100,00
Penutupan Lahan yang Berubah
Hutan 4832,91 20,22 13257,54 14,13 Badan Air 1943,91 8,13 8101,17 8,63 Pemukiman 394,20 1,65 6475,41 6,90 Sawah 3755,25 15,71 10580,31 11,28 Ladang 3659,85 15,31 10254,78 10,93 Semak 8229,42 34,43 38805,12 41,36 Lahan Kosong 1088,28 4,55 6357,69 6,78
Beberapa kelas penutupan lahan yang memiliki perubahan paling besar pada DAS Ciliwung diantaranya adalah semak, sawah dan ladang. Persentase perubahan masing-masing kelas tersebut adalah 34,43%, 15,71%, dan 15,31%. Sedangkan pada DAS Cisadane kelas penutupan lahan yang mengalami perubahan paling besar diantaranya adalah semak, hutan dan sawah. Persentase perubahan kelas penutupan lahan pada DAS Cisadane sebesar 41,36%, 14,13% dan 11,28%. Beberapa kelas mengalami perubahan dapat dikarenakan terus berkembangnya jumlah penduduk yang menuntut perluasan jumlah pemukiman dan meningkatnya semua kebutuhan hidup.
Peningkatan jumlah pemukiman menyebabkan eksploitasi berlebihan terhadap beberapa kelas penutupan lahan, baik untuk dijadikan wilayah pemukiman maupun dijadikan bahan-bahan pembangunan pemukiman tersebut. Setiap penduduk memerlukan ruang untuk melakukan aktivitas hidupnya, semakin banyak penduduk maka kebutuhan akan suatu lahan semakin besar dan hal ini lah yang menyebabkan intervensi secara berlebihan terhadap suatu kelas penutupan dan penggunaan lahan sehingga perubahan dari suatu kelas menjadi kelas lain memiliki potensi yang cukup besar. Selain itu, tinggi nya alih fungsi lahan yang terjadi dalam kurun waktu ini dapat disebabkan karena masih minim nya pengetahuan dan kesadaran penduduk mengenai dampak yang dapat terjadi akibat fungsi lahan. Kebijakan pemerintah dalam upaya mengatur alih fungsi lahan pun masih lemah. Berikut ini adalah gambaran kelas penutupan lahan yang tidak dan mengalami perubahan dalam kurun tahun 1978 hingga tahun 1995 (Gambar 31 dan 32).
47
48
49
50
51 Berikut adalah tabel perubahan setiap masing-masing kelas tahun 1978 hingga tahun 1995 dengan total luasan serta persentase dari keseluruhan total luasan (Tabel 19).
Tabel 19 Perubahan kelas penutupan lahan tahun 1978- 1995
Perubahan DAS Ciliwung DAS Cisadane Perubahan DAS Ciliwung DAS Cisadane
Luas (Ha) % Luas (Ha) % Luas (Ha) % Luas (Ha) %
Hutan Ke BA 43.9 0.2 1132.2 1.2 Sawah Ke Ladang 470.8 2.0 2161.8 2.3 Hutan Ke PMK 777.2 3.3 1044.8 1.1 Sawah Ke Semak 1532.2 6.4 4392.7 4.6 Hutan Ke Ladang 1372.8 5.7 5144.5 5.4 Sawah Ke LK 239.8 1.0 806.7 0.9 Hutan Ke Semak 1520.8 6.4 4392.5 4.6 Ladang Ke Hutan 61.6 0.3 1768.1 1.9 Hutan Ke Sawah 838.5 3.5 2158.0 2.3 Ladang KeBA 50.4 0.2 194.9 0.2 Hutan Ke LK 279.6 1.2 404.6 0.4 Ladang Ke PMK 1612.1 6.7 1560.9 1.6 BA Ke Hutan 73.8 0.3 917.2 1.0 Ladang Ke Semak 1446.8 6.1 4838.0 5.1 BA Ke PMK 1153.9 4.8 1388.7 1.5 Ladang Ke Sawah 126.2 0.5 710.2 0.7 BA Ke Ladang 120.7 0.5 1933.9 2.0 Ladang Ke LK 362.8 1.5 1182.8 1.2 BA Ke Semak 331.3 1.4 1780.7 1.9 Semak Ke Hutan 507.2 2.1 8754.3 9.2 BA Ke Sawah 141.6 0.6 1594.3 1.7 Semak Ke Badan Air 169.7 0.7 1191.3 1.3 BA Ke LK 122.7 0.5 486.5 0.5 Semak Ke PMK 3536.7 14.8 5792.0 6.1 PMK Ke Hutan 4.5 0.0 356.9 0.4 Semak Ke Ladang 1964.8 8.2 13506.3 14.2 PMK Ke BA 136.6 0.6 631.5 0.7 Semak Ke Sawah 950.5 4.0 5005.1 5.3 PMK Ke Ladang 30.4 0.1 2126.0 2.2 Semak Ke LK 1100.5 4.6 4556.1 4.8 PMK Ke Semak 146.5 0.6 1806.9 1.9 LK Ke Hutan 13.5 0.1 300.0 0.3 PMK Ke Sawah 28.4 0.1 562.5 0.6 LK Ke Badan Air 26.9 0.1 366.7 0.4 PMK Ke LK 47.8 0.2 991.6 1.0 LK Ke Pemukiman 671.0 2.8 2119.1 2.2 Sawah Ke Hutan 235.3 1.0 1794.3 1.9 LK Ke Ladang 59.3 0.2 1028.6 1.1 Sawah Ke BA 53.1 0.2 208.6 0.2 LK Ke Semak 270.7 1.1 2060.1 2.2 Sawah Ke PMK 1224.2 5.1 1216.2 1.3 LK Ke Sawah 46.9 0.2 483.3 0.5 Keterangan : BA : Badan Air; Pmk : Pemukiman; LK : Lahan Kosong.
Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa setiap kelas penutupan lahan mengalami perubahan, baik secara drastis maupun sedikit-sedikit. Penutupan lahan yang memiliki perubahan paling besar pada DAS Ciliwung dan Cisadane masing- masing yaitu dari semak menjadi pemukiman dan semak menjadi ladang dengan persentase sebesar 14,8% atau sebesar 5792 ha dan 14,2% atau sekitar 13.506,3 ha. Perubahan kelas penutupan lahan semak menjadi pemukiman yang terjadi pada DAS Ciliwung ini dapat disebabkan karena pertumbuhan penduduk yang terus meningkat sehingga berpengaruh terhadap pertumbuhan pemukiman. Sedangkan pada DAS Cisadane, pertumbuhan ladang lebih dominan karena pada daerah ini cocok untuk dijadikan tempat budidaya. Berikut ini adalah perubahan kelas penutupan lahan yang terjadi Tan 1978-1995 (gambar 33dan 34).
52
53
54
Pada peta penutupan lahan tahun 1995 hingga tahun 2012, diketahui bahwa perbandingan antara jumlah luasan yang berubah dan tidak berubah sangatlah besar. Penutupan lahan yang tidak berubah memiliki luasan sebesar 45,42% di DAS Ciliwung dan 36,95% di DAS Cisadane sedangkan sisanya adalah penutupan lahan yang mengalami perubahan dengan luasan sebesar 54,58% di DAS Ciliwung dan 63,05% di DAS Cisadane. Perbandingan jumlah luasan antara tutupan lahan yang berubah dan tidak berubah dijelaskan pada tabel dan gambar (Gambar 35 dan 36) di bawah ini (Tabel 20).
Tabel 20 Penutupan lahan yang tetap dan berubah tahun 1995-2012
Perubahan DAS Ciliwung DAS Cisadane
Luas (Ha) % Luas (Ha) %
Tetap/ Tidak Berubah 16587.90 45.42 51598.53 36.95
Berubah 19929.33 54.58 88028.82 63.05
TOTAL 36517.23 100.00 139627.35 100.00
Penutupan Lahan yang Berubah
Hutan 1896.93 9.87 24534.72 27.87 Badan Air 316.17 1.65 3196.08 3.63 Pemukiman 1239.21 6.45 3734.55 4.24 Sawah 2506.59 13.05 11831.22 13.44 Ladang 1477.62 7.69 9869.22 11.21 Semak 9773.64 50.88 26097.03 29.65 Lahan Kosong 1999.80 10.41 8766.00 9.96 TOTAL 19209.96 100.00 88028.82 100.00
Beberapa kelas penutupan lahan yang memiliki perubahan paling besar pada DAS Ciliwung diantaranya adalah semak, sawah dan lahan kosong. Persentase perubahan masing-masing kelas tersebut adalah 50,88%, 13,05%, dan 10,41%. Sedangkan pada DAS Cisadane kelas penutupan lahan yang mengalami perubahan paling besar diantaranya adalah semak, sawah dan ladang. Persentase perubahan kelas penutupan lahan pada DAS Cisadane sebesar 29,65%, 13,44% dan 11,21%. Kelas-kelas penutupan dan penggunaan lahan yang mengalami sedikit perubahan pada DAS Ciliwung dan Cisadane yaitu hutan, badan air dan sawah.
Pada kelas penutupan hutan, badan air dan sawah memiliki luas perubahan yang menurun dibanding pada periode sebelumnya. Hal ini dapat terjadi karena pengetahuan dan pengalaman penduduk tentang berbagai dampak negatif yang telah dirasakan selama beberapa waktu terakhir. Bencana banjir besar yang terjadi di beberapa tempat, kekeringan saat musim kemarau dan meningkatnya emisi karbon di udara merupakan dampak nyata yang mulai dirasakan sehingga munculah kesadaran dan pengetahuan penduduk mengenai alih fungsi lahan. Kesadaran dan pengetahuan masyarakat kemudian digerakan dengan adanya kebijakan pemerintah menganai alih guna lahan dapat menjadi dasar kuat dalam mengontrol perubahan penutupan dan penggunaan lahan di kedua DAS ini. Berikut ini adalah gambaran kelas penutupan lahan yang tidak dan mengalami perubahan dalam kurun tahun 1995 hingga tahun 2012 (Gambar 37 dan 38).
55
56
57
58
59 Berikut adalah tabel perubahan setiap masing-masing kelas tahun 1995 hingga tahun 2012 dengan total luasan serta persentase dari keseluruhan total luasan (Tabel 21).
Tabel 21 Perubahan kelas penutupan lahan tahun 1995-2012
Perubahan DAS Ciliwung DAS Cisadane
Perubahan DAS
Ciliwung DAS Cisadane
Luas (Ha) % Luas (Ha) % Luas (Ha) % Luas (Ha) %
Hutan Ke BA 26.55 0.14 212.85 0.24 Ladang Ke Semak 675.36 3.4 6899.94 7.8 Hutan Ke PMK 221.76 1.13 2191.32 2.47 Ladang Ke Sawah 128.16 0.6 750.15 0.8 Hutan Ke Ladang 1257.4 6.42 17847.4 20.1 Ladang Ke LK 379.26 1.9 1632.42 1.8 Hutan Ke Semak 244.08 1.25 3359.88 3.79 Semak Ke Hutan 341.28 1.7 507.15 0.6 Hutan Ke Sawah 37.80 0.19 193.50 0.22 Semak Ke BA 88.74 0.5 447.30 0.5 Hutan Ke LK 109.26 0.56 729.81 0.82 Semak Ke PMK 6373.1 32 10706.40 12.1 BA Ke Hutan 22.41 0.11 61.83 0.07 Semak Ke Ladang 1673.1 8.5 7902.18 8.9 BA Ke Pemukiman 229.23 1.17 2355.75 2.66 Semak Ke Sawah 430.02 2.2 1797.75 2.0 BA Ke Ladang 26.73 0.14 32.31 0.04 Semak Ke LK 867.42 4.4 4736.25 5.3 BA Ke Semak 28.44 0.15 625.59 0.71 Sawah Ke Hutan 302.13 1.5 514.08 0.6 BA Ke Sawah 3.87 0.02 56.70 0.06 Sawah Ke BA 57.42 0.3 1049.85 1.2 BA Ke LK 5.49 0.03 63.90 0.07 Sawah Ke PMK 796.68 4.1 2509.65 2.8 PMK Ke Hutan 349.74 1.79 452.70 0.51 Sawah Ke Ladang 802.62 4.1 4315.77 4.9 PMK Ke Badan Air 33.48 0.17 329.13 0.37 Sawah Ke Semak 373.32 1.9 2808.45 3.2 PMK Ke Ladang 370.26 1.89 530.19 0.60 Sawah Ke LK 174.42 0.9 633.42 0.7 PMK Ke Semak 198.00 1.01 1380.06 1.56 LK Ke Hutan 77.31 0.4 79.83 0.1 PMK Ke Sawah 125.91 0.64 551.97 0.62 LK Ke Badan Air 7.29 0.1 84.96 0.1 PMK Ke LK 161.82 0.83 490.50 0.55 LK Ke PMK 1312.1 6.7 5208.93 5.8 Ladang Ke Hutan 276.39 1.41 305.01 0.34 LK Ke Ladang 204.03 1.0 506.88 0.6 Ladang Ke BA 18.45 0.09 281.70 0.32 LK Ke Semak 284.13 1.4 2259.99 2.6 Ladang Ke PMK 379.71 1.94 640.44 0.72 LK Ke Sawah 114.93 0.6 625.41 0.7 Keterangan : BA : Badan Air; Pmk : Pemukiman; LK : Lahan Kosong.
Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa setiap kelas penutupan lahan mengalami perubahan, baik secara drastis maupun sedikit-sedikit. Penutupan lahan yang memiliki perubahan paling besar pada DAS Ciliwung yaitu dari kelas penutupan semak ke pemukiman, dengan luasan sebesar 6373,1 ha atau sekitar 32,05% dari total perubahan penutupan lahan yang terjadi, sedangkan pada DAS Cisadane, kelas penutupan lahan yang mengalami banyak perubahan yaitu dari kelas penutupan semak menjadi pemukiman dengan luas sebesar 10.706,40 ha atau sekitar 12,1% dari total luas keseluruhan. Berikut ini adalah gambar perubahan penutupan lahan yang terjadi dalam kurun waktu tujuh belas tahun (Gambar 39 dan 40)
60
61
Gambar 40 Peta perubahan penutupan lahan DAS Cisadane
Analisis Faktor Pendorong Perubahan Selama Dua periode
Analisis faktor pendorong perubahan selama dua periode ini dilakukan dengan menggunakan LRA yang digunakan untuk menganalisis data kategori dan
62
non kategori (Hadi, 2012). Pemodelan regresi dilakukan degan memasukkan peubah bebas satu persatu, peubah yang dipertahankan ke dalam model adalah peubah bebas yang signifikan. Peubah bebas yang tidak signifikan akan dikeuarkan dari model, sehingga peubah yang terdapat di dalam model adalah peubah-peubah yang semuanya signifikan terhadap perubahan penutupan dan penggunaan lahan. Hal ini diharapkan dapat menghilangkan multikolineritas yang ada diantara peubah. Variabel tujuan (Y) adalah tidak berubah = 0 dan berubah = 1. Sedangkan variabel penduga (X) yaitu enam variabel yang diduga signifikan terhadap perubahan. Analis logistik regresi biner dilakukan dengan menggunakan metode fordward stepwise, peubah yang dikeluarkan dari model pada taraf α = 5%.
Hasil analisis faktor pendorong dari perubahan penutupan lahan yang terjadi selama dua periode diketahui bahwa terdapat tiga dari enam variabel faktor pendorong (Gambar 42) yang berpengaruh terhadap besarnya perubahan di DAS Ciliwung dan Cisadane. Enam variabel yang dianalisis yaitu jenis tanah (X1), kemiringan lahan (X2), jumlah penduduk (X3), kepadatan (X4), jarak dengan pusat kota (X5) dan curah hujan (X6). Berikut adalah persamaan regresi linear selama dua periode.
Tabel 22 Persamaan regresi selama dua periode
DAS Periode Persamaan
Ciliwung 1978-1995 Y = 1,084 – 1,93 X2
Ciliwung 1995-2012 Y = -1,74 + 0,322 X1 - 0,07 X2 Cisadane 1978-1995 Y = 2,185 - 8,543 X5
Cisadane 1995-2012 Y = 4,277 – 15,303 X5
Pada DAS Ciliwung periode pertama yaitu pada tahun 1978 hingga tahun 1995 dipengaruhi oleh satu variabel peubah yang signifikan, yaitu variabel kemiringan lahan. Variabel kemiringan ini memiliki nilai koefisien sebesar -1,93. Variabel kemiringan lahan memiliki lima kelas dari kelas datar hingga sangat curam. Nilai -1,93 menunjukan bahwa semakin datar kemiringan suatu lahan maka kemungkinan semakin cepat terjadinya perubahan. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Haryadi (2011) diketahui bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi perubahan lahan menjadi lahan pertanian, dan ruang terbuka hijau menjadi pemukiman adalah kemiringan lereng. Berikut adalah ilustrasi faktor kemiringan lahan terhadap perubahan (Gambar 41).
63
(a) (b) (c) (d) (e) (f)
Gambar 42 Faktor pendorong perubahan: (a) Jumlah Penduduk, (b) Kepadatan Penduduk, (c) Jarak dengan Pusat Kota, (d) Curah Hujan, (e) Kemiringan Lahan, (f) Jenis Tanah
64
Periode kedua DAS Ciliwung yang terjadi dalam kurun waktu tujuh belas tahun tahun berikutnya diketahui bahwa terdapat dua faktor yang mempengaruhi terjadi nya perubahan yaitu, jenis tanah dan kemiringan lahan. Nilai variabel jenis tanah sebesar 0,322 sedangkan nilai variabel untuk kemiringan lahan sebesar -0,07. Dalam variabel jenis tanah terdapat 9 jenis tanah yang terdapat pada DAS Ciliwung. Nilai 0,322 menunjukan bahwa jenis tanah aluvial kelabu tua memiliki peluang paling besar terhadap perubahan. Jenis tanah ini merupakan peralihan antara aluvial dan latosol, bersifat sedang sampai tinggi dan biasa digunakan untuk pertanian dan pemukiman (Hanifah 2009). Perubahan penggunaan lahan yang diakibatkan oleh jenis tanah dapat dikarenakan curah hujan yang tinggi pada bagian sedangkan berkurangnya luas daerah resapan air, sehingga air limpasan di permukaan menjadi lebih besar dibanding yang terserap oleh tanah. Air limpasan tersebut akan menyebabkan erosi yang menyebabkan proses sedimentasi terjadi. Berikut adalah ilustrasi perubahan yang terjadi akibat faktor jenis tanah (Gambar 43).
Gambar 43 Ilustrasi faktor jenis tanah
Faktor pendorong yang mempengaruhi perubahan di DAS Cisadane selama dua periode adalah variabel jarak dengan pusat kota. Pada periode pertama tahun 1978 hingga tahun 1995 diketahui bahwa nilai variabel jarak dengan pusat kota sebesar -8,543 dan sebesar -15,303 pada periode berikutnya, tahun 1995 hingga tahun 2012. Nilai variabel ini menunjukan semakin dekat dengan pusat kota maka nilai perubahan akan semakin besar. Penduduk cenderung memadati wilayah- wilayah dimana terdapat kemudahan dalam fasilitas dan prasarana. Hal inilah yang menyebabkan variabel kepadatan dan jarak dengan pusat kota berpengaruh terhadap perubahan penggunaan lahan. Pembangunan akan diiringi dengan meningkatnya kawasan terbangun baik skala kecil maupun skala besar. Pertumbuhan penduduk akan diimbangi dengan aktivitas ekonomi yang menyebabkan kebutuhan terhadap penggunaan lahan semakin tinggi. Menurut Fandeli (2007) disebutkan bahwa pertambahan penduduk yang terjadi akan menyebabkan beberapa masalah lingkungan diantaranya adalah proses urbanisasi yang akan menyebabkan persoalan pencemaran, tekanan penduduk terhadap lahan yang akan mengabikatkan erosi, banjir dan sedimentasi serta kekeringan. Berikut ini adalah ilustrasi yang menunjukan variabel jarak dengan pusat kota berpengaruh terhadap terjadinya sebuah perubahan (Gambar 44).
65
Gambar 44 Ilustrasi faktor jarak dengan pusat kota
Rekomendasi Pengelolaan DAS Ciliwung dan Cisadane
Berdasarkan faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan penutupan dan penggunaan lahan yang terjadi di kedua DAS ini dapat diatasi dengan beberapa hal, diantaranya adalah :
1. Berdasarkan analisis faktor pendorong yang telah dilakukan, diketahui bahwa salah satu yang menjadi faktor terjadinya perubahan adalah kemiringan lereng. Semakin datar permukaan lahan maka perubahan akan terjadi semakin cepat. Kemiringan lereng datar yang ada pada DAS terdapat di wilayah hilir ini banyak dimanfaatkan untuk area pemukiman. Sesuai dengan ketentuan Pasal 3 Undang-Undang Nomer 41 Tahun 1999 tentang kehutanan, dengan terjadinya penurunan daya dukung DAS yang dicirikan dengan terjadinya banjir, kekeringan, sedimentasi dan longsor yang mengakibatkan terganggunya perekonomian dan tata kehidupan masyarakat, maka daya dukung DAS harus ditingkatkan. Peningkatan daya dukung DAS dapat dilakukan dengan peningkatan pajak bangunan sehingga pembangunan di sekitar DAS dapat dikontrol, selain itu pembangunan vertikal dapat menjadi salah satu rekomendasi untuk terjadinya perubahan. Pemanfaatan lahan secara efisien dengan pembangunan vertikal dapat meminimalisir perubahan lahan untuk pemukiman. Berikut ini adalah ilustrasi dari rekomendasi kemiringan lahan dengan pembangunan secara vertikal(Gambar 45).
Gambar 45 Ilustrasi rekomendasi kemiringan lahan
2. Proses sedimentasi yang terjadi akibat terbawa nya lapisan tanah dalam aliran permukaan menyebabkan terjadinya pendangkalan pada badan air.
66
Pendangkalan yang terjadi di badan air menjadi salah satu faktor terjadinya banjir di wilayah ibukota dan sekitarnya. Dengan adanya pengerukan lumpur pada badan air diharapkan mampu menambah volume air yang akan tertampung sementara sebelum akan dialirkan. Selain melakukan tahap pengerukan lumpur dan menambah lebar DAS, hal lain yang dapat di lakukan adalah dengan membuat sumur resapan, lahan terbuka, waduk, dam atau situ buatan. Semakin banyaknya permukaan tanah yang tertutup bangunan membuat area untuk resapan air semakin berkurang. Pembuatan sumur resapan dapat dilakukan di wilayah ketetanggaan atau lingkungan sekitar, sedangkan pembuatan lahan terbuka dan daerah penampungan air ini harus didukung kuat oleh pemerintah. Beberapa alternatif ini dapat mengurangi volume limpasan air yang tidak tertampung sehingga bencana banjir dapat diminimalisir. Berikut ini adalah beberapa ilustrasi terkait (Gambar 45).
(a) (b)
(c) (d)
Sumber: bebasbanjir2025.wordpress.com Gambar 46 Ilustrasi penurunan aliran limpasan: (a) Pengerukan DAS, (b)
Pembuatan sumur resapan, (c) Badan air, (d) Lahan terbuka.
3. Terdapat hubungan antara lokasi dan pola ruang terhadap pemanfaatan pada suatu lahan menurut Johann Heinrich von Thunen (1826). Menurut Von Thunen diketahui bahwa area yang berada dipusat pasar atau pusat kota akan memiliki nilai atau harga yang lebih mahal dibandingkan lahan yang berlokasi jauh dari pusat kota. Pada DAS Cisadane diketahui bahwa perubahan yang paling besar menuju ke pemukiman dan ladang. Banyaknya kegiatan yang terjadi di pusat kota menjadikan kota memiliki nilai yang lebih ekonomis untuk mendapatkan keuntungan maksimal bagi para pelaku pertanian karena semakin jauh jarak maka biaya yang dikeluarkan untuk transportasi lebih besar sehingga banyak yang memilih untuk tinggal dipusat kota. Perbaikan infrastruktur dan transportasi merupakan salah satu kunci untuk meminimalisasi biaya, sehingga pembangunan tidak hanya berpusat ditengah kota.
67
SIMPULAN
Beberapa simpulan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Berdasarkan hasil klasifikasi penutupan lahan pada tahun 1978 diketahui bahwa kelas penutupan lahan yang terbesar terdapat pada kelas semak, sedangkan kelas penutupan badan air terus mengalami penurunan luas dari tahun 1995 hingga tahun 2012.
2. Laju perubahan penutupan dan penggunaan lahan yang terjadi selama dua periode di DAS Ciliwung diketahui bahwa kelas penutupan pemukiman terus mengalami peningkatan sedangkan kelas penutupan semak semakin berkurang. Pada DAS Cisadane diketahui bahwa kelas penutupan pemukiman mengalami laju pertumbuhan yang pesat diikuti oleh kenaikan kelas penutupan ladang selama kurun waktu dua periode.
3. Metode regresi linear menghasilkan tiga variabel yang berpengaruh terhadap perubahan penggunaan lahan. Variabel- variabel yang berpengaruh terhadap perubahan penutupan dan penggunaan lahan yang terjadi di DAS Ciliwung yaitu jenis tanah dan kemiringan lereng, sedangkan pada DAS Cisadane variabel yang mempengaruhi perubahan adalah jarak dengan pusat kota.
SARAN
Penelitian ini dapat dijadikan sebagai acuan terhadap keputusan atau kebijakan pemerintah dalam upaya pengelolaan DAS berikutnya, oleh karena itu ada baiknya apabila kajian dalam penelitian ini dilakukan lebih dalam dengan menganalisis perubahan penutupan dan penggunaan dalam rentang waktu yang cukup lama, sehingga dapat lebih dilihat bagaimana arah perubahan dari beberapa periode. Faktor-faktor yang berpengaruh dalam perubahan ini mulai diawasi dan diperhatikan untuk mencegah perubahan ke arah yang tidak diinginkan dan dampak yang sulit untuk ditanggulangi. Ada baiknya apabila terdapat analisis dari bermacam-macam faktor sehingga dapat diketahui secara spesifik faktor yang paling berpengaruh dan bagaimana cara menanggulanginya.
68