1.4.2. Kerangka Teoretis 1. Kota Praindustri
1.4.2.2. Kota Modern
Kota-kota modern umumnya dibangun dengan suatu perencanaan teknis atau perencanaan tata ruang kota yang dibuat oleh ahli-ahli perencanaan kota yang berlatar pendidikan perguruan tinggi. Oleh karena itu, para perencana atau perancang kota akan mempertimbangkan segala aspek kepentingan atau kebutuhan kota baik yang berlatar politik, ekonomi, sosial maupun kebudayaan. Perubahan yang mendasar yang membedakan antara kota tradisional dan moderen adalah aspek ekonomi, yang bersumber dari jumlah dan pergerakan barang dan jasa di sebuah kota. Meningkatnya jumlah dan pergerakan barang dan jasa memerlukan sarana prasarana yang representatif, antara lain berupa lokasi-lokasi dan jalan-jalan guna menunjang penumpukan dan pergerakan baik barang maupun jasa, berikut sarana pengaturnya. Semuanya akhirnya memerlukan penataan ruang kota utamanya untuk penyediaan fasilitas perekonomian kota, diikuti fasilitas lainnya, misalnya bidang politik, sosial dan kebudayaan.
Perencanaan suatu kota, menurut Shirvani (1984), adalah bagian dari proses perencanaan yang berkaitan dengan kualitas fisik spasial dari suatu lingkungan. Untuk memberikan makna pada ungkapan ruang, harus dikaitkan dengan nilai ruang tertentu. Nilai ruang sangat berkaitan dengan organisasi ruang,
hubungan ruang dan bentuk ruang. Untuk mengkaji makna dari setiap bentuk fisik arsitektural kota, tidak dapat terlepas dari sejarah pembentukan kota tersebut. Catanese (1986:1-45) menyatakan pentingnya masa lalu dalam merencanakan dan merancang suatu kota. Dalam hal ini, kota memiliki suatu nilai yang banyak diwarnai oleh berbagai aspek di antaranya adalah ungkapan budaya dari penghuninya yang pada akhirnya akan memberikan identitas pada suatu kota. Budihardjo (1997) juga menyebutkan bahwa identitas suatu kota pada hakekatnya merupakan jejak peradaban yang ditampilkan sejarah suatu kota. Secara morfologis, kota-kota yang berkembang di Indonesia memiliki keberagaman bentuk arsitektural yang sangat dipengaruhi oleh keberagaman budaya sebagai bagian dari suatu proses sejarah dan perkembangannya. Oleh karena itu, makna dan ekspresi dari masing-masing kota di Indonesia sedikit banyak akan berbeda satu dengan yang lainnya.
a. Struktur Tata Ruang
Ruang sebagai salah satu komponen arsitektur menjadi penting dalam studi ini, karena fungsinya sebagai wadah dari kegiatan manusia. Perilaku dioperasionalisasikan sebagai kegiatan manusia yang membutuhkan setting atau wadah kegiatan yang berupa ruang. Berbagai kegiatan manusia saling berkaitan dalam
satu sistem kegiatan. Dengan demikian, wadah-wadah berbagai kegiatan tersebut juga terkait dalam suatu sistem pula. Keterkaitan wadah-wadah kegiatan inilah yang membentuk tata ruang yang merupakan bagian dari bentuk arsitektur (Haryadi dan Setiawan, 1995: 53-76).
Tatanan ruang memiliki makna tertentu pada suatu masyarakat, yang kemudian akan membentuk sebuah struktur ruang. Hal ini dapat diartikan bahwa tatanan yang sama tetapi memiliki makna yang berbeda akan memiliki struktur yang berbeda pula. Dengan demikian, ruang dalam sebuah kawasan akan selalu memiliki makna yang unik, sebab hal ini sangat tergantung pada masyarakat yang mengatur, melihat, dan merasakan. Hubungan antara ruang dan budaya tidaklah sederhana, tetapi sangat kompleks dan sangat tergantung pada determinasi pada sosio-kultural yang berkembang dan yang ada di setiap tempat (Rapoport, 1983).
Menurut Markus (1993), ruang akan mudah dipahami apabila ada hubungan antara dua relasi antar penghuni suatu tempat dan lingkungan sekitar. Melalui gambaran ini, masing-masing masyarakat memiliki sistematika ruang sendiri, karena ruang memiliki logika sosial kultural sendiri-sendiri, guna melihat tatanan ruang beserta maknanya harus dilakukan dengan pengamatan dan merasakan pengalamannya pada objek yang
diamati dan dikaji, baik dengan cara melihat, mendengar ataupun merasakan.
Konsep sebuah kawasan dapat diartikan sebagai suatu bentuk pemahaman mengenai kawasan yang terkait dengan situasi, masalah ataupun fenomena tentang kawasan tersebut dan dihayati oleh masyarakatnya. Menurut Rossi (1982), konsep kawasan merupakan abstraksi yang berkaitan dengan ruang kota dan hal ini menghasilkan beberapa elemen yang spesifik lebih jelas, tetapi kawasan juga bisa dikenali dari elemen historis yang terjadi pada waktu tertentu dengan sebuah artefak kota yang penting. Beberapa aspek kawasan yang bisa diterangkan adalah hubungan antara ide spasial dari kawasan dan sosiologi alamiah kawasan, sehingga hal ini mengarahkan pada konsep dari kawasan yang pada akhirnya akan memberikan image atau citra yang spesifik bagi kawasan tersebut.
Menurut Lynch (1990: 85-120), citra suatu kota yang terkait dengan bentukan fisik, dapat diklasifikasikan menjadi lima elemen yaitu : paths (jalan setapak), edges (batas pinggiran), districts (kawasan), nodes (spot area), serta landmark (tetenger). Masing-masing elemen dapat diuraikan sebagai berikut :
1. Path : adalah route dari sirkulasi baik minor maupun mayor yang digunakan manusia untuk bergerak atau merupakan lorong panjang untuk melakukan suatu gerakan, hal itu
mungkin jalan, jalan setapak, rel kereta api atau kanal. Path di dalam perencanaan kota merupakan salah satu penghubung antara satu fungsi dengan fungsi yang lain, dan jaringan jalan merupakan jaringan pathways untuk seluruh kota.
2. Edges : merupakan batas linier suatu kawasan. Beberapa kota ada yang tidak memiliki batas wilayah yang jelas, dan sering menyatu dengan wilayah yang lain. Beberapa bentuk fisik edges adalah : bibir pantai, jalan kereta api, atau pun dinding pembatas kawasan.
3. Districts : merupakan area kota yang sangat luas. Suatu kota terdiri atas beberapa komponen dari kawasan sekitarnya atau suatu daerah: ada pusat kota, kota atas, kota bawah, kawasan industri, kawasan perumahan, ataupun lingkungan kampus. Daerah-daerah tersebut dibedakan secara signifikan dan kadang-kadang tidak sama sekali.
4. Nodes : merupakan titik-titik aktivitas yang strategis di sepan-jang jalur ataupun di persimpangan-persimpangan jalan di suatu kawasan. Meskipun nodes ini kecil di dalam image suatu kota namun node ini dapat berkembang sesuai dengan kebu-tuhan. Node dapat berupa open space ataupun public square. 5. Landmarks : merupakan tetenger yang dapat dijadikan
kawasan diharapkan akan memudahkan seseorang untuk mengenali kawasan tersebut.
b. Ruang dan Budaya Manusia
Rapoport (1977) mendefinisikan ruang sebagai suatu keterpaduan yang bersifat struktural dari elemen-elemen fisik dan manusia yang ada di dalamnya, hubungan ini memiliki suatu pola tertentu. Selanjutnya Rapoport menjelaskan tentang pentingnya aturan-aturan yang berupa nilai-nilai dan norma-norma karena akan membuat suatu tempat berbeda satu sama lain. Dalam pandangan Rapoport, aturan akan menentukan pilihan, dan pilihan yang konsisten menghasilkan gaya tertentu. Aturan bersumber pada fungsi pengatur yang terikat erat dengan kompleksitas budaya masyarakat setempat yang dipengaruhi oleh antara lain faktor ekonomi dan agama.
Sementara itu, komunitas atau masyarakat menurut Ishomudin (2005) biasanya memuat tiga hal yakni : kelompok dalam suatu ruang tertentu, suatu kelompok yang memiliki sifat yang sama serta suatu kelompok yang dibatasi oleh identitas dan budaya yang sama dan dibentuk oleh hubungan sosial yang kental.
Nordberg dan Schultz (1979: 47-90) menjelaskan tentang ‟genius loci‟ (local genius), yang muncul dari budaya setempat,
menjadi bagian dari kehidupan komunitasnya, dan menyebabkan suatu ‟place‟ menjadi hidup dan berkarakter. Schultz juga menjelaskan mengenai place, yang dianggapnya merupakan keterpaduan dari berbagai unsur serta hasil totalitas dari substansi bentuk, tekstur, dan warna yang terpadu dengan karakter lingkungan. Lebih jauh Trancik (1990) mengemukakan bahwa teori ‟place‟ merupakan perpaduan antara manusia, budaya, sejarah serta lingkungan alam. Inti teori place adalah pemahaman bahwa ‟place‟ merupakan perubahan dari bentuk fisik setelah berintegrasi dengan karak-ter budaya dan manusia. Setiap place adalah unik dan memuat karakter tertentu dalam lingkungannya. Karakter ini terdiri atas benda padat yang mengandung bahan material, bentuk, warna, tekstur serta nilai-nilai kultural yang tidak terlihat.
Karakter bentuk fisik suatu kota dapat dikenali melalui elemen-elemen dasar lingkungan, seperti bentuk ruang dan kualitas nilai dan makna suatu tempat. Pemahaman makna tentang nilai-nilai melalui dimensi simbolik, fungsional, emosional, historik, budaya, dan politik (Purwanto, 1996), serta keunikan-keunikan dan karakteristik suatu tempat akan memperkuat suatu identitas kota. Karakter spesifik yang membentuk identitas, merupakan suatu pengalaman bentuk dan kualitas ruang kota, yang disebut sebagai sense of place. Sense of place ini kemudian
akan memberikan image yang spesifik dari suatu kota. Karakter yang paling menonjol dari sebuah kota dapat dilihat pada kawasan pusat kota, karena perkembangan suatu kota diawali pada inti (core) kota yang mempunyai beberapa fungsi kegiatan kota, seperti pusat pemerintahan, pusat jasa perdagangan, pusat rekreasi dan sosial budaya (Yunus, 2004: 23-44).
c. Morfologi Kota
Morfologi dalam perencanaan kota, tidak hanya berhubungan dengan segi fisik dan bentuk-bentuk geometrik saja, tetapi lebih dari pada itu, yaitu untuk menerangkan fenomena-fenomena yang terjadi. Menurut Moneo (1978), untuk melihat fenomena dari suatu bentuk, maka tidak hanya dikaji dari segi fisiknya saja, tetapi harus dihubungkan dengan fungsi model dan prototipe. Menurut Rose (1979), untuk mempelajari morfologi tidak hanya dengan melihat wujud fisik saja, tetapi harus mengaitkan dengan ide-ide yang ada dibalik bentuk tersebut, serta faktor-fak-tor yang turut mempengaruhi terjadinya bentuk-bentuk tersebut.
Sebuah kota akan selalu mengalami perkembangan dari waktu ke waktu, menyangkut aspek politik, sosial, budaya, teknologi, ekonomi, dan fisik. Morfologi sebagai suatu pendekatan, tidak saja berguna untuk menjelaskan perubahan kota, khususnya yang berkaitan dengan penggunaan lahan, tetapi juga
merupakan pendekatan yang berkaitan langsung dengan ekspresi ruang kota, menyoroti eksistensi ruang perkotaan, yang diamati dari penampilan kota secara fisik (Zaidulfar, 2002 : 17).
Eksprersi keruangan kota dapat digolongkan menjadi empat macam kenampakan utama dan enam kenampakan kombinasi (Russwurm dalam Yunus, 2000: 130-132), yaitu bentuk konsentris (uni nodal concentric), bentuk simpul multi (constellation multy), bentuk memanjang (linear), bentuk terserak (dispersed), bentuk konsentris bersimpul multi, bentuk konsentris memanjang, bentuk konsentris terserak, bentuk memanjang bersimpul multi, bentuk bersimpul multi terserak, dan bentuk linear terserak (Gambar no. 1.1.). Hal ini sebagian terjadi melalui proses tertentu yang dipengaruhi oleh faktor fisik dan nonfisik. Faktor fisik berkaitan dengan keadaan topografi, geomorfologi, perairan, dan tanah. Faktor nonfisik antara lain berkaitan dengan penduduk kota, yaitu jumlahnya, kegiatannya (politik, ekonomi, sosial, budaya, dan teknologi), tingkat urbanisasi, perencanaan tata ruang, zoning dan peraturan pemerintah. Selain itu, sirkulasi sarana transportasi, pusat-pusat perrtumbuhan dengan fungsi khusus (industri dan perumahan) mempunyai peranan yang besar pula dalam membentuk variasi ekspresi keruangan kenampakan kota (Zaidulfar, 2002 : 21).
Pendekatan morfologi memberikan pandangan untuk melihat kota dengan konsepsi yang lebih lengkap, sebagai tempat yang ditransformasikan bagi kehidupan yang lebih manusiawi, sehingga kota adalah sebuah tatanan yang chaotic richness, sebuah collage dan sebuah dialektika antara yang lama dan yang baru. Kota bukanlah sebuah dialektika akibat perbedaan atau pemisahan antara lama dan baru, tetapi yang satu diikat bersama dengan yang lain, sehingga kota merupakan konsentrasi dari ruang-ruang publik dan kekayaan bentuk yang dimilikinya. Kota merupakan dialektika antara bangunan dan ruang kota, solid dan void, sehingga ruang privat dan publik tak lagi terlihat eksklusif
Gambar no. 1.1.
Ekspresi keruangan bentuk-bentuk kota (Yunus, 1999 : 132)
sebagai akibat dari kegiatan politik, sosial dan ekonomi, tetapi sebagai akibat tujuan budaya yang rasional (Krier, 1978: 190-192). Kota dapat dilihat dari bentuk dan pola ruang kota. Setiap daerah perkotaan memiliki pola yang berbeda, dan dalam pola akan terlihat komposisi block dan lay out jalan. Sebuah kota dapat berbentuk geometris teratur atau tidak beraturan, Kostof (1991) menyebut hal yang demikian sebagai ”bentuk kota”. Selanjutnya ia mengungkapkan, terdapat dikotomi dalam bentuk perkotaan yang didasarkan atas bentuk geometris kota yaitu : (1) Planned City (regular/geometris/grid), dan (2) Unplanned City (Irregular City/organik/deformasi grid). Bentuk yang pertama banyak dijumpai di Eropa pada abad pertengahan dengan pengaturan yang selalu regular dengan disain berbetuk geometrik. Di sini kota akan tampak dengan keteraturan dan kebebasan akses. Konsep perencanaan ini merupakan esensi pemikiran modern yang didasarkan pada rasional-fungsional dan universal. Namun dalam hal ini, bentuk yang dilihat memang dapat dibaca pesannya, tetapi menjadi tak dimengerti pada saat bergerak di dalamnya, karena setiap bagiannya cenderung sama, sebagai hasil bentuk hubungan geometris.
Bentuk yang kedua banyak terjadi, khususnya pada kota-kota yang berkembang secara tradisional, dan sering disebut dengan “growth city”. Bentuk kota organik ini menurut Kostof
(1991) terbentuk secara spontan, tidak terencana, pola tidak teratur (irregular) atau nongeometrik. Lynch (1984) berpendapat bahwa model “organic city” atau kota biologi menempatkan kota sebagai tempat tinggal yang hidup dan memiliki ciri-ciri kehidupan yang membedakannya dari sekedar mesin, mengatur diri sendiri dan dibatasi dengan ukuran dan batas yang optimal, struktur internal dan perilaku yang khas. Menurut Lynch, bentuk fisik kota organik merupakan gagasan dari pola radial, unitnya terbatas, memiliki focused center, memiliki lay out non geometrik yang cenderung romantis, dan pola yang membentuk garis bengkok tak teratur, material yang alami, kepadatan penduduk sedang hingga rendah, serta biasanya dekat dengan alam. Komunitas dalam kota organik akan terpisah ke dalam unit-unit spasial dan sosial, setiap unit akan berdiri sendiri dan mempunyai fungsi yang berbeda.
Gambar no. 1.2.
Hillier, Hanson dan Peponis (1987: 160-181) mengemukakan bahwa pola irregular city sebagai deformasi pola grid. Dengan bentuk yang tidak teratur irregular city memang tidak dimengerti pesannya, namun menjadi difahami dengan baik pada saat orang bergerak di dalamnya.
Produk morfologi kota merupakan hasil evolusi sejarah kehidupan yang menurut Kostof (1991) ditentukan oleh dua keputusan, yaitu pertama keputusan perencana kota (planned settlement) yang dapat dilakukam melalui suatu kelembagaan baik secara otoriter ataupun demokratis. Kedua adalah faktor perkembangan kota (unplanned settlement) yang ditentukan oleh proses keputusan semua aktor pembangunan kota yang beragam, yang dapat berada di luar sekenario perencanaan kota formal. Kostof (1991) melihat sepanjang sejarah semua kota yang dirancang secara deterministik tidak dapat mempertahankan bentuk aslinya. Kedua keputusan tersebut memang selalu hadir dalam morfologi kota, namun biasanya yang satu lebih dominan dari yang lainnya.