• Tidak ada hasil yang ditemukan

1.4.2. Kerangka Teoretis 1. Kota Praindustri

1.4.2.3. Simbolisme Perkotaan

Kota dapat diartikan sebagai sebuah wadah bagi manusia untuk berkumpul, berkomunikasi dan berinteraksi sosial. Intensi-tas kegiatan ini sebenarnya juga merupakan suatu hal yang

men-dorong muncul dan berkembangnya sebuah kota. Oleh karena itu, baik bentuk, struktur maupun kompleksitas kota adalah cerminan dari perilaku ataupun interaksi sosial warga kota.

Dalam kaitannya dengan pengertian simbol, maka manusia sebagai homo simbolysm akan menggunakan simbol-simbol yang diciptakannya sendiri sebagai media utamanya dalam berkomunikasi dan berinteraksi sosial. Adanya variabel waktu dan intensitas interaksi sosial dari sebuah komunitas, akhirnya memunculkan jalinan pesan-pesan simbolik yang membentuk suatu konfigurasi. Dalam kaitannya dengan masalah perkotaan, Peter JM Nas (1993: 1-12) menjelaskan bahwa kota dicirikan oleh suatu konfigurasi khas simbol-simbol yang terjadi sebagai hasil ekspresi kreatif komunitas kota, dan merekfleksikan ciri-ciri dan problem-problemnya dan komponen-komponennya, misalnya trauma masa lalu, kesulitan-kesulitan masa sekarang, serta ekspetasi, dan harapannya ke depan. Tidak hanya sebagai cermin citra, simbol kota (urban simbolism) adalah suatu demensi utama dari komunitas kota. Kesepakatan dapat muncul di dalam konfigurasi-konfigurasi simbolik dari berbagai kota, itu dapat diterima pada beberapa tingkatan simbolisme dari ibukota misalnya yang diwarnai oleh peran nasionalnya. Studi „urban simbolism‟ dimaksudkan untuk membantu konsentrasi pada

analisis masalah yang membentuk landasan konfigurasi yang berbeda dari simbol-simbol kota.

Konsep Peter Nas tersebut di atas diambil dari penelitiannya di kota Denpasar Bali. Di sana ia melihat adanya simbol-simbol lokal berpadu harmonis dengan simbol-simbol modern di seantero kota. Menurutnya, ada tiga sistem yang terkait dengan perkembangan kota Denpasar dan aspek simboliknya, yaitu sistem kepercayaan tradisional, sistem pemerintahan, dan sistem pariwisata modern. Interaksi dari ketiganya telah membuat suatu kekayaan konfigurasi simbol di kota yang tampak dinamis. Hal itu semua merupakan suatu dorongan yang kuat untuk meciptakan kembali secara tipikal kebudayaan dan sistem simbol tradisional Bali untuk memperkuat basis ekonomi kota, pulau dan negara. Ini membuat Denpasar sebagai suatu tempat spesial dan citra kota yang lebih kuat di Bali secara keseluruhan. Gambaran tentang Denpasar, yang tampak di mata wisatawan, diperkuat oleh citra positif (eksotik) Bali dengan pantai-pantai pasirnya dan puranya (Nas, 1995: 225-238).

Menurut Peter JM Nas (1993: 14-16), bahwa simbol adalah suatu bentuk yang terkait dengan suatu makna spesifik. Ia mengembangkan sembilan konsep dalam kaitannya dengan klasifikasi data dalam sebuah penelitian tentang simbol di perkotaan, yaitu :

a. Tipe of symbol-carriers, yaitu tipe atau kategori simbol seperti arca, lukisan, lagu-lagu, puisi, bangunan dan sebagainya. b. Symbolic element, yaitu dalam setiap kategori pembawa simbol

(symbol-carriers) mempunyai elemen-elemen.

c. Symbolic domains, bahwa simbol dapat dihubungkan dengan domain aktivitas ekonomi, nasionalisme, kemerdekaan, kebebasan, pendidikan, kebudayaan dan sebagainya.

d. Symbolic value or power, tidak semua simbol mudah dibaca dan mempunyai tekanan atau kekuatan yang sama. Ini dapat diapresiasikan pada peranan simbol, bagaimana simbol itu digunakan oleh masyarakat, penerimaan wisatawan dan sebagainya.

e. Symbolic ecology, pendistribusian (penempatan) simbol di dalam tata ruang kota.

f. Levels and symbols, simbol-simbol dapat dikelompokkan pada tingkatan-tingkatan, internasional, nasional, regional, kota, desa, lokal, personal.

g. Formal and informal meaning, simbol dikaitkan dengan makna-makna formal, tetapi makna-makna-makna-makna informal sering muncul pula.

h. The dynamics of symbol, simbol diciptakan, disebarkan dan diedarkan, tetapi dapat pula suatu ketika hilang dari

posisinya, seperti hilangnya nama-nama jalan di Eropa Timur, diganti dengan nama baru misalnya.

i. Functions of symbol, simbol adalah instrumen komunikasi di dalam suatu kelompok, untuk legitimasi kepemimpinan dan untuk mengkontrol masyarakat.

Freek Colombijn menerapkan konsep urban simbolism di kota Padang di jaman kolonial awal abad 20, dan menurutnya bahwa simbol-simbol memang mampu menyatukan dan meggerakkan penduduk untuk beraktivitas sesuai dengan simbol-simbol yang diyakininya. Adanya atap-atap rumah bergonjong, masjid-masjid, monumen-monumen kota, semuanya menunjukkan simbol-simbol dari demensi yang berbeda tetapi cukup dominan di kota Padang, mewakili unsur-unsur etnik, agama dan politik moderen (Colombijn, 1994).

Dalam pandangan bidang semiotika, simbol sering dikategorikan sebagai salah satu bentuk tanda, selain bentuk tanda lainnya yaitu indeks dan ikon. Dalam pandangan ini semiotika termasuk dalam ranah pendekatan strukturalisme, sebab pendekatan ini awalnya muncul dari bidang ilmu Linguistik, ilmu tentang kebahasaan dan strukturnya. Kajian tentang simbol ini kemudian semakin muncul dalam kajian tentang kebudayaan, dan simbol menjadi semakin berperan untuk menjelaskan fenomena sosial kebudayaan dan tidak lagi menjadi bagian dari

tanda, tetapi bersama-sama digunakan dalam kehidupan sosial (Hidayat, 2004: 77-85).

Para ahli sering menganggap semiotika sebagai sebuah pendekatan, metode atau model analisis berkenaan dengan tanda (sign) dan pemaknaannya (signification), dan bukan merupakan bidang ilmu, sebab semiotik bersifat lintas disiplin, seperti halnya filsafat dan logika. Oleh karena itu semiotika dapat dimanfaatkan oleh berbagai bidang ilmu seperti ilmu arsitektur, kedokteran, seni, sinematografi, linguistik, komunikasi, keagamaan, hukum, antropologi, dan arkeologi. Sudah sejak lama para ahli mempelajari tanda-tanda berkenaan dengan aspek kehidupan sosial, namun baru pada awal abad ke-20 tanda-tanda ini dilihat dan dianalisis menggunakan pendekatan, metode atau model semiotika. Tokoh-tokoh penting yang mengawali pendekatan semiotika ini adalah Ferdinand de Saussure (1857-1913) di Swis dan Charles Sanders Peirce (1834-1914) di Amerika Serikat (Hidayat, 2004: 77-85).

Saussure (1988) menjelaskan bahwa „tanda‟ sebagai kesatuan yang tak dapat dipisahkan dari dua bidang, yaitu bidang penanda (signifier) untuk menjelaskan „bentuk‟ atau „ekspresi‟, dan bidang petanda/tinanda/yang ditandai (signified) untuk menjelaskan „konsep‟ atau „makna‟. Cara mengkombinasikan tanda dan aturan yang melandasinya memungkinkan untuk

dihasilkannya makna sebuah teks atau fenomena. Oleh karena hubungan antara sebuah penanda dan petanda bukanlah terben-tuk secara alamiah, melainkan hubungan yang terbenterben-tuk berda-sarkan konvensi, maka sebuah penanda pada dasarnya membuka berbagai peluang petanda atau makna (Hidayat, 2004: 77-85).

Dalam bidang semiotika tersebut, Roland Barthes (1967) mengembangkan dua tingkatan pertandaan (staggered systems), yang memungkinkan untuk menghasilkan makna yang juga bertingkat-tingkat, yaitu tingkat denotasi (denotation) dan tingkat konotasi (connotation). „Denotasi‟ adalah tingkat pertandaan yang menjelaskan hubungan antara penanda dan petanda/tinanda, atau antara tanda dan rujukannya pada realitas, yang menghasilkan makna yang eksplisit, langsung dan pasti, misalnya foto wajah seseorang. „Konotasi‟ adalah tingkat penandaan yang menjelaskan hubungan antara penanda dan petanda/tinanda, yang di dalamnya beroperasi makna yang tidak eksplisit, tidak langsung dan tidak pasti (terbuka terhadap berbagai kemungkinan). Ia menciptakan makna lapis kedua, yang terbentuk ketika penanda dikaitkan dengan berbagai aspek psikologis, seperti perasaan, emosi atau keyakinan. Misalnya (tanda) „bunga‟ mengkonotasikan „kasih sayang‟ atau (tanda) „tengkorak‟ mengkonotasikan „bahaya‟. Walaupun demikian Barthes juga melihat adanya makna yang lebih dalam tingkatnya,

dan lebih bersifat konvensional, yaitu makna-makna yang berkaitan dengan „mitos‟ ataupun „kultus‟ (Bartes, 1967: 108; Piliang, 2004: 95).

Tingkatan makna „tanda‟

Mitos sering dikaitkan dengan melegitimasikan agama atau kepercayaan, misalnya tentang cerita mitologi dewa-dewi atau cerita tentang roh-roh halus. Walaupun demikian di dunia politik, mitos juga sering untuk melegitimasikan ideologi atau kekuasaan. Baik dalam aspek agama atau politik, mitos berkaitan dengan kepercayaan tentang kebenaran agama atau politik tertentu. Hal ini juga sesuai dengan pendapat Ahimsa-Putra (1995: 124) bahwa mitos sering merupakan sumber kebenaran atau alat untuk pembenaran. Sesuatu yang perlu dibenarkan melalui mitos ini dapat berupa ideologi, tradisi, kebudayaan, bahkan agama. Oleh karena itu membangun mitos dapat diartikan pula sebagai membangun kepercayaan tentang kebenaran, walaupun kebenaran yang dibangun sering bukan kebenaran yang rasional. Dalam suatu interaksi sosial, simbol-simbol yang berbentuk mitos ini memang harus disampaikan melalui pesan-pesan, baik secara langsung oleh pemilik simbol ataupun secara tidak langsung melalui media-media sosial, benda, bangunan dan sebagainya.

Dalam kaitannya dengan kajian perkotaan ataupun urban design, di samping sebagai media berkomunikasi dan berinteraksi sosial bagi masyarakat kota, simbol juga merupakan media untuk berintegrasi sosial. Oleh karena itu, simbol-simbol di kota dalam bentuk konfigurasi, dengan adanya variabel waktu, akan dipahami sebagai identitas bersama bagi masyarakat sebuah kota. Sifat-sifat simbol yang arbitrary dan terbentuk atas hasil konvensi dari sebuah masyarakat, hal ini telah membuat kebudayaan masyarakat yang terdiri dari sistem simbol menjadi unik atau khas, karena dimungkinkan oleh adanya jalinan komponen dalam sistem simbol yang berpola khas. Para ahli sering menyebut sifat khas kebudayaan ini sebagai suatu pola atau etos kebudayaan. Geertz menjelaskan bahwa etos suatu masyarakat adalah karakter, moral, kualitas, irama dan gaya hidup yang tercermin di dalam perilakunya, sedangkan Koentjaraningrat mengartikan bahwa etos (ethos) adalah watak khas. Kondisi inilah yang kemudian mendorong terbentuknya komunitas atau masyarakat sebuah kota dengan identitas, kebudayaan dan konfigurasi simbol-simbolnya di kota yang khas dan dipahami bersama-sama oleh warga sebuah kota (Geertz, 1973: 127; Rapopport, 1977).

Adapun simbol-simbol yang muncul dalam bentuk konfigurasi di perkotaan di bingkai oleh waktu. Artinya konfigurasi simbol akan berubah-ubah sesuai masanya, menyesuaikan dengan perubahan-perubahan masyarakat di perkotaan. Dalam

penelitian ini, konfigurasi pesan-pesan simbolik di Kota Cirebon akan tercermin dalam tata ruang dan arsitektur bangunan, dan dapat diklasifikasikan ke dalam tiga tahapan sejarah, yaitu masa kerajaan, masa kolonial abad ke-19 dan masa kolonial abad ke-20. Arsitektur tradisional Jawa, neo klasik, art deco dan indis, akan mewarnai bentuk konfigurasi simbol di Kota Cirebon yang sesuai dengan jamannya.

Dokumen terkait