III. KONDISI UMUM WILAYAH STUDI
3.3. Kota Ternate
3.3.1. Sejarah Terbentuknya Kota
Ternate merupakan salah satu kota tertua di Indonesia yang tercatat dalam sejarah, sebelum Majapahit berkuasa di Nusantara. Nama Ternate tercatat dalam Kitab Negarakertagama yang di tulis Mpu Tantular. Sampai saat ini Ternate masih menyimpan cerita sejarah dan budaya yang menjadi bukti kejayaan masa lalu. Kota Ternate dalam perkembanganya kemudian ditingkatkan statusnya mejadi sebuah Kota Otonom (Kotamadya) tanggal 27 April 1999 berdasarkan Undang Undang Nomor 11 Tahun 1999 membawahi 3 kecamatan yaitu Kecamatan Kota Ternate utara, Kecamatan Kota Ternate Selatan, Kecamatan Pulau Ternate yang kemudian di tahun 2000 dimekarkan menjadi 4 kecamatan yakni ditambah dengan Kecamatan Moti.
Ternate adalah salah satu pulau yang terletak di sebelah barat pantai Halmahera dan merupakan salah satu dari deretan pulau-pulau vulkanis yang masih aktif. Kedudukan Kota Ternate adalah sebagai pusat pemerintahan dan pusat perdagangan yang sangat strategis dan penting sekali di kawasan ini. Pada kota ini terdapat Pelabuhan Samudera Ahmad Yani dan Bandar Udara Babullah. Kota Ternate itu sendiri berlokasi di pesisir timur Pulau Ternate dan menghadap Pulau Halmahera. Kedudukan yang demikian ini menyebabkan Kota Ternate memiliki peranan yang sangat penting dalam ekonomi perdagangan lintas Halmahera. Selain itu, letak Pulau Ternate adalah dekat dengan Kota Manado ibukota Propinsi Sulawesi Utara. Posisi strategis yang berhadapan dengan kawasan Dodinga, sebuah persimpangan jalan di pulau Halmahera yang menyebabkan kota ini berkembang dalam lajur perdagangan di daerah Maluku Utara.
Mengamati perkembangan global, karakter kota, kultur masyarakat dan lingkungan serta permasalahan pokok dan menyikapi multi potensi yang dimiliki Kota Ternate, maka pemerintah kota menetapkan visi Kota Ternate adalah menjadikan Ternate sebagai Kota Budaya menuju masyarakat madani, sedangkan misi Kota Ternate adalah membangun Ternate sebagai: Kota Budaya, Kota Perdagangan & Wisata serta Kota Pulau/Pantai.
3.3.2. Letak Geografis dan Administratif
Wilayah Kota Ternate terletak antara 0o – 2o Lintang Utara sampai dengan 126o - 128o - Bujur Timur dan dibatasi oleh :
a. Sebelah Utara : Laut Maluku b. Sebelah Timur : Selat Halmahera c. Sebelah Selatan : Laut Maluku d. Sebelah Barat : Laut Maluku
Pulau Ternate merupakan wilayah kepulauan yang terletak di pesisir barat Pulau Halmahera dan merupakan bagian dari wilayah Provinsi Maluku Utara.
3.3.3. Iklim
Pulau Ternate adalah daerah kepulauan dengan ciri iklim tropis. Curah hujan bulanan tertinggi terjadi pada bulan Mei yaitu 263,4 mm dan terendah pada bulan Agustus 77,8 mm. Nilai rata-rata curah hujan bulanan adalah 184,68 mm dan rata-rata curah hujan tahunan sekitar 2.322,70 mm. Jumlah hari hujan rata- rata 202 hari dan nilai rata-rata hujan tertinggi pada bulan Januari dan November yaitu 20 hari hujan dan terendah bulan Agustus sebanyak 12 hari hujan.
Berdasarkan hasil pengukuran kecepatan angin di wilayah Pulau Ternate berkisar antara 2,9-5,2 knot dengan kecepatan terbesar bulanan berkisar antara 16- 28 knot. Arah angin terbanyak dari barat laut yang terjadi pada bulan Januari, Februari, Maret, dan April. Sedangkan pada bulan Mei dan Juni angin terbanyak bertiup dari Barat Daya serta pada bulan Juli, Agustus, September dan Oktober angin terbanyak bertiup dari arah Tenggara (pancaroba), pada bulan November dan Desember angin kembali bertiup dari arah Barat Laut. Nilai rataan kelembaban tertinggi terjadi pada bulan–bulan yang curah hujannya tinggi, meskipun variasi tiap bulannya tidak tinggi. Kelembaban tertinggi pada Januari dan April yaitu sebesar 86 % dan terendah pada bulan Agustus yaitu 78 % (Badan Meterorologi dan Geofisika Kota Ternate, 2004).
3.3.4. Topografi dan Ketinggian Wilayah
Kota Ternate dengan memiliki berbagai komponen alam yaitu Laut, Pulau, Danau, Gunung, menggambarkan ciri topografis yang bervariasi yang
didominasi oleh dataran kemiringan diatas 40 derajat seluas 127,37 km2 atau 51 % dari luas wilayah dan terdapat di Pulau Ternate, Pulau Hiri dan Pulau Moti, sedangkan Pulau Mayau dan Tifure merupakan wilayah dataran rendah yang dikelilingi oleh Laut bebas antar Pulau Ternate dengan Bitung, Sulawesi Utara. Ciri topografi atau kemiringan rendah terletak linear memanjang mengikuti beberapa pesisir pantai pada posisi 0 – 2 derajat seluas 54,96 km2 atau 22 %.
Di Pulau Ternate terdapat gunung vulkanis yaitu Gunung Gamalama tinggi 1.715 m. Tingkat ketinggian lahan dari permukaan laut di wilayah Pulau Ternate cukup bervariasi yang dapat diklasifikasikan menjasi 3 kategori. Kategori rendah (0-500 m) yang diperuntukkan untuk pemukiman, pertanian, perikanan, perdagangan, dan pusat pemerintahan; kategori sedang (500-700 m) diperuntukkan untuk hutan konservasi, dan usaha kehutanan; kategori tinggi (> 700 m) diperuntukkan untuk hutan lindung.
Daya dukung pengembangan ruang-ruang budidaya di Pulau ternate hanya terbatas pada bagian pesisir dengan kemiringan sampai sekitar 25% dukungan lahan untuk fungsi pemukiman hanya tersebar di bagian pesisir dengan kelandaian yang sesuai syarat untuk dijadikan perumahan.
Gambar 5. Daya Dukung Profil Pulau Ternate 3.3.5. Geologi
Pulau Ternate berbentuk bulat kerucut/strato volcano. Pulau Ternate sebagian besar daerahnya bergunung dan berbukit terdiri dari pulau vulkanis dan pulau karang dengan kondisi jenis tanah regosol dan rensina. Jenis tanah regosol yaitu tanah yang khas berada daerah vulkanis.
Kendala yang ada terdiri dari aspek geologi, dimana terdapat gunung berapi aktif yang sering mengakibatkan terjadinya letusan dan aliran lahar. Selain itu secara geomorfologi, terdapat lahan berkelerengan tinggi dengan volume luasan yang cukup besar, sehingga sulit dikembangkan untuk kegiatan permukiman dan industri dalam skala yang besar. Dilihat dari aspek geologi dan jenis tanah, Kota Ternate dan sekitarnya terdiri dari tanah regosol yang memiliki bahan induk utama batu pasir yang potensial untuk dimanfaatkan dalam memenuhi kebutuhan material bangunan. Sedangkan tanah podsolik merupakan tanah batuan beku yang memiliki daya dukung terhadap beban bangunan yang sangat baik. Sebagai kota kepulauan yang didominasi lahan bergunung, pengembangan lahan untuk perkotaan terbatas di wilayah pesisir meskipun tidak menutup kemungkinan untuk pengembangan reklamasi kawasan pantai. Dari sejumlah lahan pesisir yang ada, masih banyak lahan yang belum dimanfaatkan sebagai lahan budidaya, dan dari 5 pulau yang ada di Kota Ternate, Pulau Ternate merupakan pulau yang paling pesat pertumbuhannya.
Keterbatasan daya dukung ruang fisik Kota Ternate, diikuti pula dengan keberadaan gunung berapi Gamalama di tengah tengah pulau Ternate yang masih aktif dan sulit diprediksi keaktifannya. Keberadaan gunung ini menjadi pembatas dalam pengembangan lahan perkotaan. Pembangunan pusat pusat permukiman masih terkonsentrasi di kawasan pantai dengan konsentrasi kepadatan tinggi di bagian selatan dan tidak teratur merupakan masalah utama kawasan permukiman kepulauan.
3.3.6. Penduduk
Perkembangan penduduk Kotamadya Ternate selama lima tahun terakhir mengalami kecenderungan peningkatan khususnya di wilayah Kecamatan Kota Ternate Selatan dan Kecamatan Kota Ternate Utara. Peningkatan ini disebabkan faktor urbanisasi, migrasi maupun dari kawasan Pulau Halmahera akibat konflik etnis beberapa waktu yang lalu, dan migrasi dari regional lain dari Sulawesi, Ambon, Papua bahkan dari Kalimantan, Jawa dan Sumatera. Meningkatnya arus urbanisasi dan migrasi juga disebabkan oleh semakin terbukanya arus transportasi laut yang menghubungkan Kota Ternate dengan kawasan sekitarnya dan beberapa kota lainnya.
Jumlah Penduduk Kota Ternate berdasarkan hasil pengolahan survei sosial ekonomi nasional tahun 2003 sebanyak 148.946 jiwa atau sekitar 17,39 % dari jumlah penduduk propinsi Maluku Utara. Jumlah perempuan lebih banyak dari pada jumlah laki-laki sehingga rasio jenis kelamin laki-laki dan perempuan 98,98 atau dengan kata lain bahwa jika disuatu wilayah Pulau Ternate terdapat sejumlah 100 orang perempuan maka jumlah laki- laki diwilayah tersebut hanya 99 orang. Jumlah rumah tangga di Pulau Ternate mencapai 30.800 KK, sehingga rata-rata besaran keluarga per KK di Kota Ternate berkisar sekitar 4-5 orang.
Lebih dari 85 % dari total jumlah penduduk Kota Ternate mendiami Pulau Ternate yang terkonsentrasi di Kecamatan Kota Ternate Utara dan Kota Ternate Selatan. Sebagian besar lahan perkotaan berkembang di bagian timur pulau. Dengan demikian distribusi penduduk tidak merata, terutama di wilayah pulau lain yang sangat jarang penduduknya meskipun potensi dan kondisi alam ke lima pulau hampir sama.
3.3.7. RTRW
Rencana Tata Ruang dan Wilayah Kota Ternate ditetapkan berdasarkan Peraturan Daerah Kota Ternate Nomor : 04 Tahun 2006 tentang RTRW (Rencana Tata Ruang Wilayah).
IV.METODOLOGI