• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kreativitas ala

Dalam dokumen Anggur Merah AM 6 sumba (Halaman 34-37)

Desa AnakalangKelompok Abunawas

iang itu, matahari sedang berada di puncak kekuasaannya saat kami tiba di pelataran Kantor Desa Anakalang.

S

Bangunan permanen yang terletak di pinggir jalan negara itu kelihatannya ramai. Maklum hari itu adalah hari pasar.

Posisi kantor desa yang berhadapan langsung dengan lokasi pasar Anakalang mengakibatkan lalu lintas orang yang keluar masuk kantor juga banyak. Ada yang sekadar berteduh dari kegerahan teriknya matahari serta kepenatan pasar yang tak dapat menampung tumpahan manusia yang tak terbilang

banyaknya. Ada pula yang memang sedang ada keperluan di Kantor Desa itu.

Tak berapa lama setelah mengisi buku tamu, seorang pria setengah bayah menghampiri kami. Dengan ramah ia memperkenalkan dirinya. Dia adalah Umbu Kabalu Daungu yang menjabat sebagai Kaur Pembangunan Desa Anakalang.

Setelah mengetahui maksud dan tujuan kedatangan kami, beliau dengan sangat

menyesal dan meminta maaf karena Kepala Desa Anakalang sementara lagi ke Kota

Kecamatan untuk menghadiri sosialisasi tentang Pengelolaan Dana Desa.

Ia pun coba menghubungi PKM Desa Anakalang, namun tak bisa dihubungi karena kondisi signal di tempat tinggal sang-PKM yang berada di dusun pedalaman lagi tak bersahabat. Kami pun coba bertanya sedikit tentang program Anggur Merah pada Umbu Daungu.

“Saya memohon maaf sebelumnya, saya tak terlalu mengetahui secara pasti tentang jumlah kelompok penerima Dana Anggur merah karena data lebih pastinya ada di Bapak Sekretaris Desa dan Kepala Desa serta PKM. Yang saya tahu bahwa jumlah kelompok penerima dana 250 juta tersebut lebih dari 20-an kelompok,” jelasnya sambil mengunyah sirih pinang.

Ditambahkannya bahwa “dana Anggur Merah yang sudah dikembalikan ke rekening desa pada tahun 2013 sebesar 40-an juta. Usaha kelompok- kelompoknya pun beraneka ragam”.

Ia pun mengakui bahwa pengembalian dana tersebut sedikit tersendat. Salah satu penyebab

terhambatnya perguliran dana ini karena tingginya kasus pencurian di wilayah tersebut. Banyak hewan yang telah hilang karena dicuri, akibatnya anggota kelompok kesulitan untuk mengembalikan dana tersebut.

Dengan ditemani Kaur

Pembangunan Anakalang ini, kami pun beranjak ke pasar untuk menemui

dana bantuan Anggur Merah yakni Ibu Yuliana Rambu Kadunga.

Di temui di lapak jualnnya di Pasar, Ibu Rambu dengan penuh semangat mulai menceritakan guratan hatinya terkait dana Anggur Merah.

“Saya merasa bersyukur karena pemerintah menaruh perhatian terhadap masyarakat kecil seperti kami. Dalam himpitan dan tuntutan ekonomi yang semakin tinggi, bantuan dana Anggur Merah seakan memancing daya kreativitas kami. Sebagai ibu rumah tangga, kami begitu tertekan melihat harga kebutuhan pokok yang semakin meningkat. Bantuan dana Anggur Merah mendorong kami untuk terlibat dalam memperbaiki ekonomi keluarga, tidak hanya bergantung pada suami saja,” katanya dengan penuh semangat.

Kemudian ia mengajak tim bulletin Anggur Merah untuk melihat usaha ternak babinya di samping rumahnya yang hanya berjarak sekitar 100 meter dari pasar.

Dalam perjalanan, ia menguraikan sejarah awal terbentuknya kelompok yang mereka beri nama Abunawas. Tahun 2013, mereka

mendengar bahwa akan ada bantuan dana Program Desa Mandiri Anggur Merah untuk desa Anakalang sebesar Rp 250 juta. Mendengar berita itu, ia berusaha mencari dan membentuk sebuah kelompok. Ia pun mendapati 5 orang ibu-ibu rumah tangga yang mau bergabung

dengannya.

Setelah berembuk, mereka sepakat untuk megembangkan usaha ternak babi. Tak disangka kelompok mereka dipilih sebagai salah satu kelompok penerima dana bantuan anggur merah dan mendapat dana bantuan sebesar Rp. 20 Juta.

“Untuk kami orang kecil, angka tersebut sangat besar. Kami berenam berembuk lagi tentang bagaimana dana sebesar itu dikelola, siapa yang bertanggung jawab atau menjadi ketua kelompok dan bagaimana mereka harus mengembalikannya?. Teman-teman sepakat memilih saya sebagai ketua dan menyerahkan segala urusan terkait dana ini kepada saya” jelas Ibu Yuliana.

Setelah melihat sejenak 2 ekor ternak babi, Ibu Rambu mulai berkisah lagi tentang dana

“Saya menyadari bahwa tugas dan tanggung jawabnya sebagai ketua bukanlah mudah. Saya harus bisa menempatkan diri sebagai pemimpin sekaligus sebagai penyemangat bagi para ibu-ibu yang lain. Saya pun teringat akan cerita tentang Abunawas yang cerdik dan punya banyak akal. Lalu saya mengusulkan kepada teman-teman agar kelompok kami dinamai

kelompok Abunawas,dan usulan ini disambut baik oleh anggotanya”. terangnya dengan bahasa Indonesia yang cukup baik.

Ia juga menganjurkan kepada

teman-temannya agar kelompok tersebut bukan hanya berbentuk kelompok usaha ekonomi tetapi harus menjadi suatu kelompok yang memiliki ikatan yang mendalam seperti sebuah keluarga.

“Saya merasa perlu ada wadah untuk memperkokoh ikatan antara satu anggota

kelompok dengan anggota lainnya. Selain usaha beternak babi, para anggota kelompok dapat menggunakan sisa dana dari pembelian babi untuk mengembangkan usaha produktif lainnya” urainya saat kami kembali memasuki pasar Anakalang.

“Kami memilih cara untuk memperkuat ikatan kebersamaan antar anggota kelompok dengan mengadakan arisan dua kali seminggu pada hari rabu dan sabtu, sebsar Rp.30 ribu/orang. Dana arisan tidak untuk dibagikan, tapi untuk

dimasukan ke bank dan dijadikan sebagai simpanan kelompok. Simpanan ini akan dipakai untuk mencicil pengembalian dana Anggur Merah. Sampai sekarang kami telah

12 jutaan lebih. Kesempatan arisan, mereka gunakan juga untuk saling berbagi pengalaman tentang perkembangan usaha mereka dan saling meneguhkan satu sama lain” kata ibu Yuliana.

Selain beternak babi, para anggota kelompok juga mengembangkan usaha berjualan pulsa dan berjualan sembako. Usaha dan kerja keras mereka sungguh sangat membantu

perekonomian keluarga. Dengan dana bantuan Program Desa Anggur Merah yang telah

dikembangkannya itu, ia dapat menyekolahkan anaknya untuk melanjutkan pendidikan pada salah satu Perguruan Tinggi di Kupang.

Di antara kelompok penerima dana Anggur Merah di desa Anakalang, kelompok Abunawas termasuk salah satu kelompok yang berhasil. Mereka berharap agar ketika cicilan dana tersebut lunas, mereka dapat memperoleh kembali pinjaman dana segar untuk

pengembangan usaha di bidang ikan air tawar dan produk olahannya seperti kerupuk dan makanan ringan.

Ditemui di tempat yang sama, salah satu anggota kelompok Abunawas yakni Ibu Debora Rambulikaenga memperkuat cerita ibu Yuliana. Ibu Debora yang dari segi usia lebih berumur dari Ibu Yuliana mengisahkan bahwa dana

Anggur merah sangat membantu dia dalam meringankan beban ekonomi keluarga terutama dalam mengongkos pendidikan anak. “Saya berharap dana bantuan Anggur Merah bisa dipinjamkan untuk perorangan,” katanya sambil menatap Bapak Kaur Desa.

Terhadap hal ini, Kaur Desa Anakalang

menjelaskan sesuai dengan hasil rapat bersama aparat desa yang dipimpin oleh Kepala Desa disepakati bahwa dana 40-an juta yang sudah dikembalikan akan diolah oleh sebuah koperasi desa. Berdasarkan penyampaian Kepala Desa, Ketua Koperasi Desa akan dipercayakan kepada ibu Yuliana yang dianggap sebagai salah satu ketua kelompok usaha anggur merah yang berhasil dan inovatif.

Menanggapi hal tersebut, Ibu Yuliana sedikit berfilosofis bahwa “yang bisa merubah hidup kita hanyalah kita sendiri. Seperti Abunawas, kita harus punya banyak akal serta pintar-pintar cari peluang untuk meningkatkan perekonomian keluarga. Pemerintah sudah membantu dan kasih modal untuk kita, tinggal kita sendiri harus

berusaha untuk mengembangkannya,” katanya

Ibu Debora Rambu Likaenga berpose di lapak sembako miliknya di Pasar Anakalang

Dalam dokumen Anggur Merah AM 6 sumba (Halaman 34-37)

Dokumen terkait