• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kreativitas Guru PAI dalam Mencegah Paham Radikalisme & Intoleransi Berbasis Nilai Budaya Lokal di Lombok

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Kreativitas Guru PAI dalam Mencegah Paham Radikalisme & Intoleransi Berbasis Nilai Budaya Lokal di Lombok

1. Perspektif Guru PAI dalam Mencegah Paham Radikalisme & Intoleransi Berbasis Nilai Budaya Lokal di Lombok

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kreativitas guru PAI dalam mencegah paham radikalisme dan intoleransi berbasis nilai budaya lokal dapat dilihat dari perspektifnya tentang radikalisme dan intoleransi (Tabel 4.1).

Tabel 4.1 Tingkat Kreativitas Guru Pada Aspek Perspektif

Kategori Interval Saling Ajinang Ra’i Teguq

F % F % F %

Tinggi 10-12 12 85,71 11 78,57 12 85,71 Sedang 7-9 2 14,29 3 21,43 2 14,29

Rendah 3-6 0 0 0 0 0 0

Total 14 100 14 100 14 100

Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat 12 Guru Pendidikan Agama Islam yang memiliki perspektif Tinggi (85,71%) pada nilai budaya lokal saling ajinang (saling menghormati, menghargai) sebagai bentuk kreativitasnya dalam mencegah paham radikalisme dan intoleransi berbasis nilai budaya lokal. Saling ajinang (saling menghormati-menghargai) terdapat dalam patut (baik, pantas) merupakan penghormatan dan penghargaan seseorang kepada orang lain tanpa memandang perbedaan etnis, agama, golongan, dan status sosialnya.

Penghormatan dan penghargaan tersebut juga dilakukan oleh orang yang lebih tua (guru) pada orang yang lebih muda (siswa), begitu juga sebaliknya. Saling

29 menghargai memiliki tujuan personal, yaitu perubahan perilaku, pengembangan solidaritas, dan keterampilan bertindak (Reardon, 1999). Menghargai sebagai upaya menghargai diri sendiri, orang lain, dan lingkungan, memperlakukan orang lain seperti keinginan untuk dihargai, beradab, sopan, tidak menghina orang lain, dan tidak menilai orang lain sebelum mengenalnya dengan baik (Samani & Hariyanto, 2012).

Hasil analisis lainnya menunjukkan bahwa masih terdapat beberapa Guru Pendidikan Agama Islam yang memiliki perspektif Sedang (21,43%) pada nilai budaya lokal ra’i (empati) sebagai bentuk kreativitasnya dalam mencegah paham radikalisme dan intoleransi berbasis nilai budaya lokal. Ra’i (rasa empati) sebagai salah satu yang terkandung dalam nilai rema (peduli sesama).

Ra’i berkaitan langsung dengan mengerti, memahami, dan merasakan kesulitan yang dihadapi orang lain. Ra’i didasarkan manusia sebagai mahluk sosial tidak dapat dipisahkan dari orang lain. Tidak ada manusia yang tidak saling membutuhkan terutama dalam mengatasi kesulitan hidup yang dihadapi.

Samani dan Hariyanto (2012) memaknai empati terkait cara bertindak, berpartisipasi, dan ikut merasakan penderitaan dan kesedihan yang menimpa orang lain, sedangkan Hadjam & Widhiarso (2003) mengartikan empati adalah menerima perspektif (frame of reference internal) seseorang dengan ketepatan (accuracy) dan komponen emosional yang menyinggung pada sisi kemanusiaan.

Hasil telaah tabel menunjukkan bahwa kreativitas pada aspek perspektif guru Pendidikan Agama Islam dalam mencegah paham radikalisme dan

30 intoleransi berbasis nilai budaya lokal teguq (tanggung jawab) berada pada kategori Tinggi (85,71%). Teguq (tanggung jawab) terkandung dalam nilai pacu (kerja keras). Teguq dimaknai kewajiban seseorang melaksanakan tugas-tugas tertentu yang diembannya, seperti kewajiban pada diri sendiri, sesama, lingkungan, dan kehidupan berbangsa, serta keyakinan. Mustari (2011) menyatakan tanggung jawab adalah perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajiban sebagaimana seharusnya dilakukan terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (seperti alam, sosial, dan budaya), negara, dan Tuhan.

Samani dan Hariyanto (2012) memaknai tanggung jawab sebagai cara mengetahui dan melaksanakan apa yang harus dilakukan sebagaimana diharapkan orang lain. Tanggung jawab dikelompokkan menjadi dua, yaitu: (1) tanggung jawab terhadap diri sendiri, seseorang harus bertanggung jawab terhadap akal pikiran yang dimiliki, ilmu, raga, waktu, dan lain-lain pada kehidupan, dan (2) tanggung jawab pada orang lain (lingkungan sosial).

Manusia sebagai mahluk sosial membutuhkan orang lain dalam hidup untuk mengembangkan diri, atau dengan kata lain manusia memiliki kewajiban moral terhadap lingkungannya, kewajiban ini erat kaitannya dengan eksistensi seseorang sebagai bagian dari warga masyarakat.

Hasil telaah tabel di atas memberikan implikasi bahwa perspektif yang dimiliki oleh guru PAI dapat memengaruhinya dalam mencegah paham radikalisme dan intoleransi berbasis budaya lokal. Hal ini mengindikasikan bahwa semakin baik perspektif yang dimiliki oleh guru PAI tentang radikalisme dan intoleransi maka akan semakin bagus kreativitasnya dalam mencegah

31 paham radikalisme dan intoleransi berbasis budaya lokal. Guru PAI yang memiliki perspektif yang baik dalam mencegah paham radikalisme dan intoleransi tentunya akan memiliki kesadaran lebih tinggi untuk mengaplikasikan dan mengaktualisasikan kreativitas yang dimilikinya.

2. Kebijakan Guru PAI dalam Mencegah Paham Radikalisme & Intoleransi Berbasis Nilai Budaya Lokal di Lombok

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kreativitas guru PAI dalam mencegah paham radikalisme dan intoleransi berbasis nilai budaya lokal dapat dilihat dari kebijakannya dalam menangkal radikalisme dan intoleransi (Tabel 4.2).

Tabel 4.2 Tingkat Kreativitas Guru Pada Aspek Kebijakan

Kategori Interval Saling Ajinang Ra’i Teguq

F % F % F %

Tinggi 10-12 11 78,57 8 57,14 10 71,43 Sedang 7-9 3 21,43 6 42,86 4 28,57

Rendah 3-6 0 0 0 0 0 0

Total 14 100 14 100 14 100

Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat 12 Guru Pendidikan Agama Islam yang memiliki perspektif Tinggi (78,57%) pada nilai budaya lokal saling ajinang (saling menghormati, menghargai) sebagai bentuk kreativitasnya dalam mencegah paham radikalisme dan intoleransi berbasis nilai budaya lokal.

Kebijakan guru pendidikan agama Islam dalam menangkal paham radikalisme dan intoleransi melalui nilai budaya lokal saling ajinang di sekolah berhubungan dengan: (1) perilaku menghargai perbedaan fisik (seperti warna kulit, rambut, dan lain-lain) dan nonfisik (seperti etnis, agama, golongan, staus sosial, dan lain-lain). Melalui perilaku tersebut seseorang mampu menempatkan

32 diri pada porsinya masing-masing dan menghargai perbedaan sehingga tidak terjadi konflik yang disebabkan perbedaan fisik dan nonfisik tersebut, (2) perilaku memberi penghargaan sebagai upaya mencegah konflik. Konflik sering terjadi disebabkan ketidakmampuan seseorang mengendalikan diri dan menjaga perasaan orang lain. Saling ajinang didasari kemampuan seseorang mengendalikan diri, seperti menekan ego pribadi untuk tidak terlibat konflik di dalam maupun di luar sekolah.

Hasil analisis lainnya menunjukkan bahwa masih terdapat beberapa Guru Pendidikan Agama Islam yang memiliki perspektif Sedang (42,86%) pada nilai budaya lokal ra’i (empati) sebagai bentuk kreativitasnya dalam mencegah paham radikalisme dan intoleransi berbasis nilai budaya lokal. Hadjam dan Widhiarso (2003) menyatakan bahwa untuk membuat kebijakan dengan nilai budaya lokal ra’i (empati) harus memperhatikan tiga hal, yaitu: (1) memahami persepsi pribadi orang lain dan merasa nyaman dengan persepsi itu, memahami persepsi pribadi orang lain berarti tahu bagaimana mereka memandang dunia dan menafsirkan segala sesuatu yang diterima, (2) menjadi sensitif, artinya dapat menetralisir dan menangani perasaan subjektif yang mengalir, dan (3) bergerak lembut tanpa memberikan penilaian (judgement) dengan keyakinan orang lain memiliki kesadaran yang unik (scarcely aware).

Hasil telaah tabel menunjukkan bahwa kreativitas pada aspek perspektif guru Pendidikan Agama Islam dalam mencegah paham radikalisme dan intoleransi berbasis nilai budaya lokal teguq (tanggung jawab) berada pada kategori Tinggi (71,43%). Kebijakan guru pendidikan agama Islam dalam

33 menangkal paham radikalisme dan intoleransi melalui nilai budaya lokal teguq dalam kehidupan di sekolah dimaknai sebagai: (1) kewajiban seseorang melaksanakan tugas tertentu yang melekat dalam dirinya. Teguq tersebut terkait kewajiban pada diri sendiri, lingkungan hidup, sesama, kehidupan berbangsa, dan pada keyakinan, dan (2) Teguq berkaitan dengan berbuat maksimal dalam segala sesuatu, seperti bila diterapkan dalam belajar untuk menyelesaikan tugas atau kewajiban lain. Seseorang memahami teguq akan konsekuen dan memiliki komitmen melaksanakan tugas kewajiban yang dirinya dengan baik sesuai tujuan yang hendak dicapai.

Hasil telaah tabel di atas memberikan implikasi bahwa kebijakan yang dibuat oleh guru PAI dapat memengaruhinya dalam mencegah paham radikalisme dan intoleransi berbasis budaya lokal. Hal ini mengindikasikan bahwa semakin baik kebijakan yang dibuat oleh guru PAI terkait radikalisme dan intoleransi maka akan semakin bagus kreativitasnya dalam mencegah paham radikalisme dan intoleransi berbasis budaya lokal. Guru PAI yang memiliki kebijakan yang baik dalam mencegah paham radikalisme dan intoleransi tentunya akan memiliki kesadaran lebih tinggi untuk mengaplikasikan dan mengaktualisasikan kreativitas yang dimilikinya.

3. Praktik Guru PAI dalam Mencegah Paham Radikalisme & Intoleransi Berbasis Nilai Budaya Lokal di Lombok

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kreativitas guru PAI dalam mencegah paham radikalisme dan intoleransi berbasis nilai budaya lokal dapat dilihat dari praktiknya dalam menangkal radikalisme dan intoleransi (Tabel 4.3).

34 Tabel 4.1 Tingkat Kreativitas Guru Pada Aspek Praktik

Kategori Interval Saling Ajinang Ra’i Teguq

F % F % F %

Tinggi 10-12 10 71,43 11 78,57 11 78,57 Sedang 7-9 4 28,57 3 21,43 3 21,43

Rendah 3-6 0 0 0 0 0 0

Total 14 100 14 100 14 100

Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat 12 Guru Pendidikan Agama Islam yang memiliki perspektif Tinggi (71,43%) pada nilai budaya lokal saling ajinang (saling menghormati, menghargai) sebagai bentuk kreativitasnya dalam mencegah paham radikalisme dan intoleransi berbasis nilai budaya lokal.

Hasil analisis lainnya menunjukkan bahwa masih terdapat beberapa Guru Pendidikan Agama Islam yang memiliki perspektif Sedang (21,43%) pada nilai budaya lokal ra’i (empati) sebagai bentuk kreativitasnya dalam mencegah paham radikalisme dan intoleransi berbasis nilai budaya lokal. Ra’i sebagai nilai perdamaian pada kehidupan di sekolah dimaknai sebagai perilaku mengenali dan berupaya mengetahui tanda-tanda (ciri-ciri) orang lain. Mengetahui terkait persepsi pribadi, sensitif terhadap keadaan orang lain, dan memahami perasaan orang lain. Mengenai: (1) persepsi pribadi sebagai proses menginterpretasikan sesuatu yang diterima dan diorganisasikan sehingga berpengaruh terhadap perilaku seseorang. Melalui sesuatu tersebut seseorang berbuat, walaupun sesuatu yang diterima sama, tetapi memiliki arti berbeda pada setiap orang.

Persepsi pribadi terkait dua hal yaitu rasa terkait pada orang lain dan rasa berguna bagi orang lain, (2) sensitif terhadap keadaan orang lain, artinya terbangkit emosinya melihat keadaan orang lain. Sensitif terhadap keadaan

35 orang lain dibiasakan pada siswa dengan memperhatikan orang lain dan kepekaan atas kebutuhan orang lain, dan (3) memahami perasaan orang sebagai upaya memahami kondisi yang dialaminya, seperti rasa iba atau belas kasihan, rela berkorban untuk orang lain, dan memiliki kemurahan hati.

Hasil telaah tabel menunjukkan bahwa kreativitas pada aspek perspektif guru Pendidikan Agama Islam dalam mencegah paham radikalisme dan intoleransi berbasis nilai budaya lokal teguq (tanggung jawab) berada pada kategori Tinggi (78,57%).

Telaah tabel di atas memberikan implikasi bahwa praktik yang dilakukan oleh guru PAI dapat memengaruhinya dalam mencegah paham radikalisme dan intoleransi berbasis budaya lokal. Hal ini mengindikasikan bahwa semakin baik praktik yang dilakukan oleh guru PAI maka akan semakin bagus kreativitasnya dalam mencegah paham radikalisme dan intoleransi berbasis budaya lokal.

Guru PAI yang memiliki praktik yang baik dalam mencegah paham radikalisme dan intoleransi tentunya akan memiliki kesadaran lebih tinggi untuk mengaplikasikan dan mengaktualisasikan kreativitas yang dimilikinya.

36 DAFTAR PUSTAKA

Alfian, 7.120 Mahasiswa Baru UNM Deklarasi Tolak Radikalisme, dalam https://makassar.tribunnews.com/2019/08/15/7120-mahasiswa-baru-unm-deklarasi-tolak-radikalisme?page=2. Diakses 09 Agustus 2019.

BBC, Setelah diserang, nasib 24 penganut Ahmadiyah di Lombok Timur

“terkatung-katung”, dalam https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-44208771. Diakses 09 Agustus 2019.

Bungin, M. Burhan, Penelitian Kualitatif; Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Publik dan Ilmu Sosial Lainnya, Jakarta: Kencana, 2007.

Cambridge University, Cambridge Advanced Leraners Dictionary, Singapore:

Cambridge University Press, 2008.

Hamdani, Asep Saepul, Pengembangan Kreativitas Siswa Melalui Pembelajaran Matematika dengan Soal Terbuka (Open Ended).

Hikam, Muhammad A.S., Deradikalisme: Peran Masyarakat Sipil Indonesia Membendung Radikalisme, Jakarta: Kompas, 2016.

Koentjaraningrat, Kebudayaan, Mentalitas dan Pembangunan, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1993.

Latif, Abdul, Pendidikan Berbasis Nilai Kemasyarakatan, Bandung. PT Refika Aditama, 2009.

Maulana, Dirga, “The Exclusivism of Religion Teachers: Intolerance and Radicalism in Indonesian Public Schools”, dalam Studia Islamika, Vol. 24, No. 2, 2017.

Moleong, Lexy J., Metode Penelitian Kualitatif, Makassar: Remaja Rosdakarya, 2005.

Munandar, Utami, Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat, Jakarta: Rineka Cipta,1999.

Nasution, Dedy Darmawan, Ini 10 Destinasi Wisata Halal Terbaik Indonesia, dalam

https://www.republika.co.id/berita/ekonomi/korporasi/ppmze1370/ini-10-destinasi-wisata-halal-terbaik-indonesia. Diakses 09 Agustus 2019.

Pranata, Andi Aan, Wali Kota Makassar Ragukan Survei Indeks Kota Intoleran, dalam https://www.medcom.id/nasional/daerah/5b2qX9dN-wali-kota-makassar-ragukan-survei-indeks-kota-intoleran. Diakses 09 Agustus 2019.

Qodir, Zuly, Radikalisme Agama di Indonesia, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2014.

Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D, Makassar: Alfabeta, 2013.

Tilaar, Kekuasaan dan Pendidikan: Suatu Tinjauan dari Perspektif Studi Kultural, Magelang: Indonesia Tera, 2003.

37 Umro, Jakaria, “Upaya Guru Pendidikan Agama Islam dalam Mencegah Radikalisme Agama di Sekolah”, dalam Journal Of Islamic Education (JIE), Vol. II No. 1 Mei 2017.

Wahjudin, Lisdawati, “Radicalism Rising among Educated People”, dalam International Journal of Multicultural and Multireligious Understanding, Volume 6, Special Issue 3, February, 2019.

Widyosiswoyo, Supartono, Ilmu Budaya Dasar, Bogor: Ghalia Indonesia, 2009.

Wikipedia, Pulau Lombok, dalam https://id.wikipedia.org/wiki/Pulau_Lombok.

Diakses 09 Agustus 2019.

Wikipedia, Kota Makassar, dalam https://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Makassar.

Diakses 09 Agustus 2019.

Wikipedia, Pulau Lombok, dalam https://id.wikipedia.org/wiki/Pulau_Lombok.

Diakses 09 Agustus 2019.

Wikipedia, Kota Makassar, dalam https://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Makassar.

Diakses 09 Agustus 2019.

Yuwono, Trisno, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, Surabaya: Arkola.

Zuhairi, Misrawi, Pandangan Muslim Moderat: Toleransi, Terorisme, dan Oase Perdamaian, Jakarta: Kompas, 2010.

Dokumen terkait