• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

F. Kredibilitas Alat Ukur

1. Validitas

Validitas adalah kemampuan alat ukur mengukur secara tepat apa yang

seharusnya diukur (Azwar, 2011). Dalam penelitian ini validitas yang

digunakan adalah validitas isi yang diuji oleh profesional judgement yaitu

melalui penilaian beberapa dosen fakultas psikologi Universitas Sanata

Dharma. Dosen-dosen tersebut telah memperoleh gelar M.Si, dan

mengampu mata kuliah psikologi proyektif, psikologi kepribadian, dan

statistik, yang peneliti pertimbangkan cukup relevan untuk memvalidasi

alat ukur ini.

2. Pembuatan Alat ukur

a. SMM versi Likert

- Pembuatan item

Untuk menciptakan alat ukur yang dapat menangkap mindset stres,

Crum dkk. (2013) mengadakan focus group dengan dosen, mahasiswa

Laboratory. Grup ini menghasilkan item-item yang mengukur mindset

stres partisipan secara umum (misal, “Dampak dari stres adalah negatif

dan harus dihindari.”) dan juga dampak dari mindset stres tersebut

pada hasil terkait stres (misal, “Mengalami stres meningkatkan

kesehatan dan semangat saya.”) Terdapat dua versi dari skala ini yaitu

SMM-General (mengukur keyakinan sifat stres secara umum) dan

SMM-Spesifik (mengukur keyakinan sifat stres pada konteks stresor

yang spesifik).

Untuk menguji konsistensi internal item-item hasil focus group

tersebut, Crum dkk. (2013) mengadministrasikan skala tersebut pada

tiga sampel pilot yang berbeda. Pada sampel pertama, yakni 20 orang

yang menghadiri workshop mengenai parenting, Crum dkk (2013)

meminta mereka untuk mengomentari penggunaan bahasa serta

kemudahan mengerjakan item-item awal tersebut. Setelah

menyederhanakan item-item sesuai komentar tersebut, pada sampel

kedua, yakni 26 orang yang menghadiri seminar pelatihan manajemen

konflik, Crum dkk (2013) menetapkan bahwa item-item tersebut

memiliki konsistensi internal yang cukup setelah membuang item

tertentu. Akhirnya, pada sampel ketiga, yakni 40 orang dari institusi

pemerintahan, skala yang telah disempurnakan dengan membuang

item tertentu tersebut diujikan dan terbukti memiliki konsistensi

internal yang cukup untuk diseminasi pada sampel yang lebih besar.

1. Dampak dari stres adalah negatif dan harus dihindari

2. Mengalami stres memfasilitasi pembelajaran dan perkembangan saya

3. Mengalami stres menghabiskan kesehatan dan semangat saya

4. Mengalami stres meningkatkan performansi dan produktivitas saya

5. Mengalami stres menghambat pembelajaran dan perkembangan saya

6. Mengalami stres meningkatkan kesehatan dan semangat saya

7. Mengalami stres menurunkan performansi dan produktivitas saya

8. Dampak dari stres adalah positif dan harus dimanfaatkan

Masing-masing item akan diberi skor oleh partisipan dari angka 0

(sangat tidak setuju) hingga 4 (sangat setuju). Skor SMM didapat

dengan membalik skor pada item unfavorable (item 1, 3, 5, dan 7)

kemudian merata-rata skor kedelapan item tersebut. Tingginya rerata

skor mewakili seberapa mindset stres-itu-menguatkan dilaporkan oleh

subjek.

- Validasi

Untuk proses validasi, Crum dkk (2013) menggunakan sampel

sebanyak 388 responden dari sebuah perusahaan keuangan di daerah

timur laut Amerika Serikat. Adapun validitas yang diuji oleh Crum

dkk adalah validitas diskriminan, validitas kriterion, dan validitas

Validitas diskriminan dari mindset stres yang diukur dengan SMM

didapat dengan mengkorelasikan skor SMM tersebut dengan skor dari

variabel terkait stres yang lain. Variabel terkait stres yang lain adalah

jumlah stres, coping, dan penilaian stres. Jumlah stres diukur dengan

Social Readjustment Rating Scale (SRRS; Holmes & Rahe, 1967).

Coping diukur dengan Brief COPE (Carver et.al., 1989). Penilaian

stres diukur dengan Perceived Stress Scale (PSS; S. Cohen, Kamarck,

& Mermelstein, 1983). Selain variabel terkait stres tersebut, Crum dkk

(2013) juga memasukan variabel moderator stres seperti hardiness

yang diukur dengan Dispositional Resilience Scale (DSR 15-R;

Bartone, 2007), optimisme yang diukur dengan The Life Orientation

Test (LOT-R; Scheier, Carver, & Bridges, 1994), toleransi terhadap

ketidakpastian yang diukur dengan The Intolerance of Uncertainty

Scale (IUS; English translation: Buhr & Dugas, 2002), dan

pengalaman mindfulness yang diukur dengan Freiburg Mindfulness

Inventory (FMI; Walach, Buchheld, Buttenmüller, Kleinknecht, &

Schimdt, 2006).

Hasil pengukuran menemukan bahwa skor SMM secara signifikan

berkorelasi dengan varibel terkait stres yang lain. Korelasinya bergerak

pada angka yang kecil hingga menengah, yang berarti SMM bukanlah

konstruk yang redundan. Dengan menggunakan Structural Equation

Modeling, variabel-variabel moderator stres terpisah dari “payung”

stres berhubungan dengan variabel moderator tersebut, mindset stres

merupakan variabel yang berbeda dari variabel-variabel tersebut.

Validitas kriterion dari mindset stres diuji dengan mengkorelasikan

skor SMM dengan skor dari variabel-variabel yang terpengaruh oleh

stres (hasil terkait stres). Variabel yang terpengaruh oleh stres tersebut

adalah kesehatan, performansi, dan kualitas hidup. Untuk kesehatan,

terdapat dua alat ukur, yaitu The Mood and Anxiety Symptom

Questionnaire (MASQ; Watson et. al., 1995) untuk mengukur

simptom kecemasan dan depresi dan Healthy Days Measures (HD;

Center for Disease Control and Prevention, 2000) untuk mengukur

status kesehatan secara fisik, mental, dan energi. Untuk performansi

diukur dengan the Work Performance Scale (WPS) yang merupakan

adaptasi dari Role-Based Performance Scale (Welbourne, Jhonson, &

Erez, 1998). Untuk kualitas hidup diukur dengan Quality of Life

Inventory (QOLI; Frisch et. al., 2005).

Selain korelasi, analisis regresi juga dilakukan untuk memahami

sejauh mana mindset stres memprediksi variasi pada variabel-variabel

tersebut. Analisis regresi dilakukan dengan variabel jumlah stres,

active coping, social coping, distractive coping, dan avoidance coping

sebagai prediktor pada tahap pertama dan mindset stres pada tahap

kedua. Secara singkat, mindset stres merupakan prediktor yang

signifikan dalam memprediksi variasi pada kesehatan dan kepuasan

performansi. Selain itu, pada analisis regresi ini, validitas inkremental

mindset stres juga ditemukan, yakni mindset stres berperan secara

signifikan pada variasi kesehatan dan kepuasan hidup, meski hanya 2%

hingga 3%.

b. SMM versi Terbuka

- Pengantar

Peneliti memodifikasi SMM versi Likert dengan menghilangkan

bobot yang diberikan pada versi tersebut dan sedikit modifikasi lain

yang akan dijelaskan pada bagian selanjutnya. Penghilangan bobot

semacam ini menjadikan SMM versi Terbuka ini mirip dengan metode

alat ukur sentence completion.

- Sentence completion Method

Sentence completion adalah metode pengukuran proyektif di mana

subjek diminta menyelesaikan kalimat tidak lengkap yang disediakan.

Seperti metode proyektif lainnya, respon yang diberikan subjek pada

metode ini diasumsikan mampu menggambarkan keinginan, harapan,

ketakutan, dan sikap subjek terkait stimulus yang diberikan (Rotter &

Raferty, 1950).

Keuntungan secara umum dari metode sentence completion

1. Ada kebebasan merespon. Subjek tidak dipaksa untuk menyetujui

atau tidak menyetujui atau netral terhadap suatu pernyataan.

Subjek dipersilakan untuk merespon dengan respon yang subjek

inginkan.

2. Administrasi secara kelompok relatif efisien. Pada umumnya

metode ini bisa diberikan pada kelompok besar tanpa mengurangi

validitasnya,

3. Tidak perlu pelatihan khusus untuk mengadministrasikan metode

ini.

4. Objektivitas skoring cukup mudah diberikan untuk tujuan

screening atau tujuan eksperimen.

5. Waktu adminstrasi cenderung lebih singkat dibandingkan tes-tes

pada umumnya dan waktu skoring atau analisis cenderung lebih

singkat dibandingkan alat-alat proyektif lainnya.

6. Metode ini sangat fleksibel, yakni awal kalimat dapat diubah untuk

berbagai tujuan yang dikehendaki pengguna.

Di sisi lain, metode ini memiliki tiga kekurangan dibandingkan

pengukuran yang lain, yaitu:

1. Meskipun mudah untuk melakukan skoring secara semi-objektif,

interpretasi hasil skoring yang dihasilkan tidak bisa dilakukan

secara kaku, yakni membutuhkan kemampuan dan pengetahuan

2. Apa yang hendak diukur oleh metode ini lebih mudah ditebak oleh

subjek karena stimulus yang diberikan relatif lebih lugas

dibandingkan alat proyektif lainnya.

3. Data yang tidak lengkap kadang didapatkan, terutama dari subjek

yang mengalami buta huruf atau subjek yang tidak kooperatif.

Aplikasi dari metode ini dalam kelompok juga membutuhkan

kemampuan menulis dan bahasa yang belum dievaluasi potensi

manfaat klinisnya untuk kelompok anak kecil.

Meskipun memiliki kekurangan tersebut, peneliti tetap memilih

metode ini karena:

1. Interpretasi hasil skoring bukan menjadi fokus pada penelitian ini.

SMM versi Terbuka diciptakan untuk menangkap mindset stres

pada tingkat kesadaran yang berbeda dengan SMM, untuk

kepentingan memahami konstruk mindset stres lebih dalam. SMM

versi Terbuka tidak secara khusus diciptakan untuk kepentingan

diagnosis klinis, sehingga keterbatasan berupa kesulitan dalam

interpretasi hasil skoring ini dapat diabaikan.

2. Meskipun lugas dan mudah ditebak hendak mengukur apa, metode

ini tetap lebih ambigu dan memberikan kebebasan kepada subjek

3. Meskipun ada kemungkinan data tidak lengkap, kemudahan

administrasi memungkinkan pengambilan data dalam skala besar,

sehingga keterbatasan ini cukup mudah diatasi.

- Pembuatan item SMM versi Terbuka

Peneliti membuat item-item SMM versi Terbuka dengan cara

memodifikasi item-item pada SMM versi Likert. Tujuan dari SMM

versi Terbuka sejalan dengan SMM versi Likert, yaitu menangkap

seberapa mindset stres-itu-menguatkan dimiliki oleh subjek. Semakin

tinggi skornya, semakin mindset stres-itu-menguatkan dimiliki oleh

subjek, dan sebaliknya. Berikut proses modifikasi item-item SMM

versi Likert menjadi SMM versi Terbuka.

Tabel 2. Modifikasi SMM versi Likert menjadi SMM versi

Terbuka

Item SMM versi

Likert

Item SMM versi

Terbuka

1. Dampak dari stres

adalah negatif dan

harus dihindari

Diubah menjadi

1. Bagi saya, dampak

dari stres secara

umum adalah...

2. Dampak dari stres

adalah positif dan

harus dimanfaatkan

2. Dampak dari stres

3. Mengalami stres menghabiskan kesehatan dan semangat saya Diubah menjadi 3. Mengalami stres membuat kesehatan saya... 4. Mengalami stres meningkatkan kesehatan dan semangat saya 4. Mengalami stres membuat semangat saya... 5. Mengalami stres memfasilitasi pembelajaran dan perkembangan pribadi saya Diubah menjadi 5. Mengalami stres membuat pembelajaran saya... 6. Mengalami stres menghambat pembelajaran dan perkembangan pribadi saya 6. Mengalami stres membuat perkembangan pribadi saya.. 7. Mengalami stres menurunkan performansi dan produktivitas saya Diubah menjadi 7. Mengalami stres membuat performansi saya...

meningkatkan

performansi dan

produktivitas saya

membuat

produktivitas saya...

Skor SMM versi Terbuka didapat dengan menskor jawaban-

jawaban subjek berdasarkan prinsip-prinsip skoring. Prinsipnya:

1. Skor berkisar dari angka 0 hingga 4. Semakin tinggi skornya

cenderung menggambarkan semakin mindset stres-itu-menguatkan

dimiliki oleh responden.

2. Skor 0 diberikan pada jawaban yang menunjukkan bahwa stres

bersifat sangat melemahkan. Sifat sangat melemahkan ini dapat

dilihat dari adanya penekanan, bobot kata yang relatif berat,

dan jumlah respon yang lebih dari satu. Contoh dapat dilihat

pada bagian “Contoh respon dan skoringnya”.

3. Skor 1 diberikan pada jawaban yang menunjukkan bahwa stres

bersifat melemahkan. Contoh dapat dilihat pada bagian “Contoh

respon dan skoringnya”.

4. Skor 2 diberikan pada jawaban yang menunjukkan bahwa stres

bersifat netral atau ambigu. Contoh dapat dilihat pada bagian

“Contoh respon dan skoringnya”.

5. Skor 3 diberikan pada jawaban yang menunjukkan bahwa stres

bersifat menguatkan. Contoh dapat dilihat pada bagian “Contoh

6. Skor 4 diberikan pada jawaban yang menunjukkan bahwa stres

bersifat sangat menguatkan. Contoh dapat dilihat pada bagian

“Contoh respon dan skoringnya”.

7. Khusus untuk item 2, berbeda dengan item lain, item ini

merupakan satu-satunya item yang menanyakan perilaku. Prinsip

skoringnya adalah

a. Skor 0 diberikan untuk perilaku yang menjauhi atau

menghindari dampak stres tersebut.

b. Skor 1 diberikan untuk perilaku yang menghadapi, mengelola,

mengurangi, menghilangkan, dan perilaku sejenis, terhadap

dampak stres tersebut. Perilaku-perilaku seperti ini masuk skor

1 karena menggambarkan keyakinan bahwa sifat stres adalah

melemahkan sehingga perlu dilakukan perilaku-perilaku

tersebut.

c. Skor 2 diberikan untuk perilaku yang netral.

d. Skor 3 diberikan untuk perilaku yang memanfaatkan,

mengoptimalkan, dan perilaku sejenis. Perilaku seperti ini

masuk skor 3 karena perilaku semacam ini menggambarkan

keyakinan subjek bahwa stres bersifat menguatkan.

e. Skor 4 diberikan untuk perilaku yang memanfaatkan,

mengoptimalkan, dan perilaku sejenis yang memiliki

penekanan.

- Validasi

SMM versi Terbuka ini peneliti validasi menggunakan

professional judgment dari dosen-dosen fakultas psikologi Universitas

Sanata Dharma. Peneliti memaparkan latar belakang penelitian ini,

kemudian menceritakan proses pembuatan atau pengubahan item

SMM versi Likert ke item SMM versi Terbuka. Peneliti kemudian

menanyakan apakah item-item pada SMM versi terbuka ini mengukur

hal yang sama dengan SMM versi Likert. Pertama, dosen-dosen yang

bersangkutan menyetujui konsep pengukuran proyektif yang dipilih,

yakni sentence completion, sesuai dengan latar belakang masalah yang

dipaparkan. Kemudian, berdasarkan observasi item-item SMM versi

Terbuka, dosen-dosen tersebut menilai bahwa pengubahan SMM versi

Likert ke SMM versi Terbuka cukup baik. Cukup baik di sini adalah

item SMM versi Terbuka dinilai relevan atau konsisten mengukur apa

yang diukur SMM versi Likert, dengan melibatkan unsur proyektifnya.

c. Reliabilitas

Reliabilitas alat ukur adalah sejauh mana hasil dari alat ukur tersebut

dapat dipercaya. Hasil yang dapat dipercaya adalah hasil yang cenderung

sama walaupun telah dilakukan pengukuran beberapa kali pada kelompok

yang sama (Azwar, 2011). Penerapan reliabilitas dapat dilihat melalui

koefisien reliabilitas. Koefisien ini bergerak dari angka 0,00 hingga 1,00.

Dalam penelitian ini, koefisien reliabilitas yang diperoleh SMM versi

Likert adalah 0,823. Sedangkan koefisien reliabilitas SMM versi Terbuka

adalah 0,716. Jadi, dapat dikatakan bahwa kedua alat yang digunakan pada

penelitian ini cukup reliabel.

d. Skala Final

Skala yang digunakan pada penelitian ini secara lengkap terdapat pada

bagian lampiran. Halaman pertama dari skala merupakan halaman judul.

Halaman kedua merupakan terdiri dari bagian pengantar dan kebersedian.

Bagian pengantar menjelaskan mengenai tujuan penelitian yang

dikaburkan sesuai kebutuhan penelitian (single-blind), identitas peneliti,

dan informed consent. Bagian kebersedian merupakan bukti kebersediaan

subjek untuk mengisi skala ini dengan memberikan tanda tangan.

Halaman ketiga, atau halaman terakhir, terdiri dari dua bagian. Bagian

pertama adalah SMM versi Terbuka. Bagian ini diawali dengan instruksi

pengerjaan yang kemudian diikuti dengan item-item SMM versi Terbuka.

Bagian kedua adalah SMM versi Likert. Bagian ini diawali dengan

instruksi pengerjaan yang kemudian diikuti dengan item-item SMM versi

Likert.

Untuk halaman ketiga, peneliti memberikan SMM versi Terbuka di

awal dengan asumsi subjek penelitian belum banyak menggenerasi isi

bawah sadar mengenai mindset stres. Implikasi dari hal ini adalah jawaban

dilakukan jika subjek pertama-tama langsung dihadapkan dengan SMM

versi Likert yang sudah memiliki bobot jawaban mengenai mindset stres.

Alternatif lain yang mungkin dilakukan adalah memberikan SMM

versi Terbuka terlebih dahulu, kemudian subjek diberi jeda sekitar satu

minggu, baru diberi SMM versi Likert. Namun, peneliti memutuskan

untuk memberikannya pada hari yang sama, dalam skala yang sama,

dengan landasan teori struktur kepribadian milik psikoanalisa.

Pada bagian landasan teori sudah dijelaskan bahwa apa yang disadari

bisa berbeda dari apa yang tidak disadari karena adanya dinamika MPD.

Teori ini tidak membicarakan mengenai jeda pengambilan isi kesadaran

dan isi bawah sadar. Jadi, dengan berlandaskan teori ini, dapat dikatakan

bahwa selama alat itu mengukur kesadaran (Likert) dan ketidaksadaran

(Terbuka), tanpa memperdulikan jeda waktu pengambilannya, hasilnya

akan berbeda.

Dokumen terkait