BAB II TINJAUAN PUSTAKA
C. Mindset stress
Crum dkk (2013) mendefinisikan mindset stres sebagai keyakinan
individu mengenai sifat stres dalam mempengaruhi hal-hal tertentu. Hal-
hal tersebut antara lain performansi dan produktivitas, kesehatan dan
kesejahteraan, serta pembelajaran dan perkembangan. Berdasarkan sifat
yang diyakini, mindset stres dapat dibagi menjadi dua, yaitu mindset stres-
itu-menguatkan dan mindset stres-itu-melemahkan. Berdasarkan
pemahaman ini, aspek mindset stres dapat dijabarkan menjadi keyakinan
mengenai sifat stres secara umum dan keyakinan mengenai sifat stres pada
hal-hal tertentu.
Perlu dipahami bahwa mindset stres tidak sama dengan beberapa
variabel terkait stres seperti coping dan apraisal. Coping adalah usaha
mengelola stres (Huffman, Vernoy, & Vernoy, 2000). Apraisal adalah
proses individu menilai suatu stresor. Secara konseptual, mindset stres
bergerak di tingkat yang lebih mengakar dibandingkan variabel-variabel
ini karena mindset lebih melibatkan keyakinan individu terkait sifat stres
secara umum. Individu melakukan coping dan apraisal cenderung hanya
saat menghadapi stres atau mengalami stres. Namun, mindset stres tetap
ada meskipun individu tidak mengalami stres. Misal, perbandingan antara
menghadapi ujian kenaikan tingkat, kehabisan uang untuk makan, belum
membayar kontrakan, dan lain-lain (stresor). Secara teori coping dan
apraisal, mahasiswa tersebut memproses tiap stresor secara satu persatu.
Mahasiswa tersebut akan melihat ujian kenaikan tingkat sebagai sebuah
tantangan, kemudian melihat kehabisan uang untuk makan sebagai
tantangan, dan seterusnya. Kemudian, secara teori coping, mahasiswa
tersebut akan berusaha mengelola satu-persatu strategi yang tepat untuk
mengatasi stresor-stresor tersebut. Kelemahan dari pendekatan ini adalah
kadang proses coping dan apraisal ini bisa menjadi stresor tambahan juga.
Selain itu, pendekatan ini juga cenderung mengarahkan individu untuk
memiliki mindset bahwa stres-itu-melemahkan, sehingga stres tersebut
perlu dikelola.
Jika dibandingkan dengan pendekatan mindset stres, misal mahasiswa
tersebut memiliki mindset bahwa stres-itu-menguatkan, ia melihat secara
umum bahwa pengalaman stres itu baik untuk dirinya. Mahasiswa tersebut
tidak akan melakukan usaha mengelola stres, tetapi lebih ke arah usaha
memanfaatkan stres. Terdapat nuansa yang berbeda di antara kedua hal ini.
Pada sisi coping dan apraisal, stres dianggap sebagai sesuatu yang negatif,
sehingga perlu dikelola. Sedangkan pada sisi mindset stres-itu-
menguatkan, stres dianggap sebagai sesuatu yang positif, sehingga lebih
tepat jika menyikapinya dengan memanfaatkannya. Dengan nuansa seperti
tekanan, tetapi lebih dengan semangat karena yakin bahwa stres itu
menguatkan hal-hal dalam hidupnya.
Crum dkk (2013) membuktikan perbedaan konsep ini pada
penelitiannya. Hasil salah satu studinya menemukan bahwa pada analisis
Structural Equation Model, variabel coping dan apraisal terpisah dari
variabel mindset stres. Hal ini menunjukkan bahwa mindset stres
merupakan konstruk yang berkaitan dengan stres, tetapi bukan konstruk
yang sama dengan konstruk-konstruk yang ada (coping dan apraisal).
Selain membuktikan bahwa mindset stres merupakan variabel yang
baru dan berbeda, mindset stres ini juga ditemukan memiliki pengaruh
terhadap kesehatan dan keinginan meminta feedback. Pada salah satu
studinya, Crum dkk (2013) mengukur tingkat kortisol dasar pada sebuah
kelompok suibjek. Kortisol ini adalah salah satu hormon yang disekresikan
tubuh ketika mengalami stres. Jika diproduksi terlalu sedikit atau terlalu
banyak, tubuh menjadi kurang optimal dalam mengatasi stres (kekebalan
tubuh menurun, tekanan darah tinggi, dan lain-lain). Kelompok tersebut
kemudian diinduksi stresor berupa tugas untuk pidato. Kemudian,
dilakukan pengukuran lagi untuk melihat kadar kortisol mereka. Hasilnya
menunjukkan bahwa kelompok yang memiliki mindset stres-itu-
menguatkan memiliki profil kortisol yang lebih adaptif (moderat, tidak
terlalu tinggi atau rendah) dibandingkan kelompok dengan mindset stres-
itu-melemahkan. Selain secara fisiologis, secara psikologis pun kelompok
feedback lebih tinggi dibandingkan kelompok satunya. Keinginan ini
mewakili hal yang positif karena menerima feedback sering diasosiasikan
dengan ancaman atau sesuatu yang dapat merusak harga diri, atau dalam
bahasan ini dapat dikatakan bahwa feedback adalah stresor. Ketika
individu ingin mendapatkan feedback (stresor), dapat diasumsikan bahwa
individu tersebut menilai bahwa mengalami stres merupakan sesuatu yang
baik sehingga individu tersebut ingin mendapatkannya. Jadi, dapat
disimpulkan bahwa mindset stres memang berbeda dengan konstruk stres
yang lain dan juga memiliki pengaruh terhadap aspek fisiologis dan
psikologis seseorang.
D. Pengukuran mindset stres; Stress Mindset Measurement (SMM)
Asumsi teoritis dari sebuah skor adalah X=T+e. Di mana X adalah
skor tampak; T adalah skor sebenarnya; dan e adalah eror. Jika dikaitkan
dengan mindset stres, maka X adalah skor yang dihasilkan Stress Mindset
Measurement (SMM; Crum dkk, 2013); T adalah mindset stres yang
dimiliki individu; disertai dengan eror.
SMM adalah alat ukur mindset stres dengan wujud skala Likert.
Terdapat 8 pernyataan yang terdiri dari 4 pernyataan favorabel dan 4
pernyataan unfavorable. Skor didapat dengan merata-rata seluruh skor
yang ada, dengan sebelumnya skor pada pernyataan unfavorable dibalik
terlebih dahulu. Jadi, semakin tinggi skor SMM ini semakin mewakili
Jika melihat kembali ke pemahaman mengenai mindset secara
umum, keyakinan merupakan variabel yang beroperasi di bawah sadar dan
cara untuk menangkapnya yang relevan adalah dengan teknik proyektif.
Asumsinya adalah SMM versi Likert ini membuat partisipan sadar akan
mindset stres mereka. Stimulus berupa pernyataan dapat diasumsikan
menimbulkan kecemasan, tidak seperti stimulus ambigu pada teknik
proyektif. Ketika terjadi kecemasan, dapat diasumsikan bahwa isi bawah
sadar (mindset stres) telah mengalami distorsi, sehingga apa yang disadari
tidak lagi memicu kecemasan, tetapi sekaligus tidak mewakili isi bawah
sadar atau mindset stres yang sebenarnya. Hal ini yang menjadi kecurigaan
peneliti, apakah SMM dapat mewakili isi mindset stres yang merupakan
variabel bawah sadar?
Berdasarkan hal tersebut, mungkin akan muncul pertanyaan, jika
keyakinan secara teoritis akan melibatkan MPD, apakah penelitian-
penelitian mengenai variabel keyakinan yang lain, seperti self-concept,
self-esteem, mindset intelegensi, dan lain-lain, mempermasalahkan
pengukuran dengan skala Likert seperti ini? Peneliti cukup kesulitan untuk
menemukan penelitian terkait hal tersebut. Namun, salah satu penelitian
yang peneliti temukan adalah milik Demo (1985). Pada jurnal tersebut,
Demo (1985) menyatakan bahwa masalah pengukuran memang jarang
sekali diperhatikan. Secara khusus, Demo (1985) mengangkat
permasalahan pada topik pengukuran self-concept. Hasil penelitian yang
menghasilkan pemahaman yang lebih baik mengenai variabel yang diukur.
Secara spesifik, pada penelitian tersebut, Demo (1985) menemukan bahwa
self-concept dapat dibagi menjadi dua, yaitu self concept yang dialami
atau dirasakan dan self concept yang ditampilkan. Jadi, dapat dikatakan,
masalah pengukuran memang jarang diangkat oleh penelitian-penelitian
yang ada dan peneliti secara khusus ingin meneliti hal ini karena variabel
ini bermakna dan bermanfaat untuk didalami.