BAB 4 KREDIBILITAS KOMUNIKATOR
4.1 Kredibilitas Komunikator dan Aspek Kognitif Sikap
terdapat pengaruh kredibilitas komunikator terhadap aspek kognitif dari sikap hidup terhadap perilaku hidup sehat. Pada bab sebelumnya juga diperoleh pengaruh bersama-sama tentang kredibilitas komunikator dan aspek kognitif dari sikap hidup sehat terhadap perilaku hidup sehat.Dengan begitu, berarti secara bersama-sama kredibilitas komunikator dan aspek kognitif dari sikap hidup sehat berpengaruh terhadap perilaku hidup sehat. Berdasarkan hasil uji parsial (uji t) diperoleh nilai thitung untuk variabel kredibilitas komunikator = 8,007 (signifikan) dan thitung variabel aspek kognitif dari sikap hidup sehat = 4,064 (signifikan). Selain itu, juga diperoleh besarnya koefisien jalur kedua variabel ini masing-masing adalah 0,458 (signifikan) dan 0,206 (signifikan).
Kredibilitas Komunikator
4.1 Kredibilitas Komunikator dan Aspek Kognitif Sikap Hidup
Berdasarkan tabel 4.1 berikut, diperoleh gambaran bahwa terdapat pengaruh kredibilitas komunikator terhadap aspek kognitif dari sikap hidup terhadap perilaku hidup sehat. Pada bab sebelumnya juga diperoleh pengaruh bersama-sama tentang kredibilitas komunikator dan aspek kognitif dari sikap hidup sehat terhadap perilaku hidup sehat.Dengan begitu, berarti secara bersama-sama kredibilitas komunikator dan aspek kognitif dari sikap hidup sehat berpengaruh terhadap perilaku hidup sehat. Berdasarkan hasil uji parsial (uji t) diperoleh nilai thitung untuk variabel kredibilitas komunikator = 8,007 (signifikan) dan thitung variabel aspek kognitif dari sikap hidup sehat = 4,064 (signifikan). Selain itu, juga diperoleh besarnya koefisien jalur kedua variabel ini masing-masing adalah 0,458 (signifikan) dan 0,206 (signifikan).
BAB 4
x.1 = 0,424
x.2 = 0,458
y1.0 = 0,206
2= 0,826
Tabel 4.1 Pengaruh Kredibilitas Komunikator Dalam Kampanye Kesehatan Lingkungan Terhadap Aspek Kognitif Sikap Hidup Sehat Ibu-ibu Anggota Posyandu
Pasangan
Variabel R Fhit Thit
Pengaruh R2
Langsung Langsung Tidak Total
X1 - Y11 0.424 0.424 58,162 7,626 - - - 0.180 X -Y2 0.545 0.458 64,918 8,007 0.458 0.087 0.545 0.332 Y1.1 -Y2 0.400 0.206 4,064 0.400 - 0.400 Keterangan: X1 : Kredibilitas komunikator;
Y1.1 : Aspek kognitif sikap hidup sehat; Y2 : Perilaku hidup sehat.
Berdasarkan tabel 4.1 di atas diperoleh hasil besarnya koefisien path, sehingga dapat digambarkan sebagai berikut:
Gambar 4.1 Nilai Koefisien Jalur Pengaruh Kredibilitas Komunikator Terhadap Aspek Kognitif Sikap Hidup Sehat Ibu-ibu Anggota Posyandu
Keterangan:
X1 berpengaruh langsung terhadap Y1.1 X1 berpengaruh tidak langsung terhadap Y2 X1 berpengaruh langsung terhadap Y2 X1 : Kredibilitas komunikator
Y1.1 : Aspek kognitif sikap hidup sehat Y2 : Perilaku hidup sehat
1= 0,910 Y1.1
82 KOMUNIKASI KESEHATANPerubahan Sikap dan Perilaku Hidup Sehat Khalayak
Kredibilitas komunikator ternyata memiliki pengaruh terhadap aspek kognitif sikap hidup sehat. Hal ini didasarkan pada hasil koefisien jalur 0,424 yang jauh lebih besar dari 0,05 sehingga dikatakan berpengaruh karena koefisiennya signifikan. Hasil ini menunjukkan bahwa komponen kognitif memperoleh pengaruh dari kredibilitas komunikator menguatkan anggapan bahwa dalam mengubah sikap diperlukan source of credibilty, sebagaimana disebutkan dalam penelitian Carl Hovland dan kelompok Yale Study (1953) yang mengungkapkan bahwa sumber yang kredibel mampu mengubah sikap lebih baik, ketimbang komunikator yang kurang kredibel. Dalam konteks hasil penelitian ini, kredibilitas komunikator mampu mempengaruhi aspek kognitif pada responden, implikasinya adalah proses persuasi yang terjadi akan lebih mudah dikenali, dipersepsi dan dipahami oleh responden. Kondisi awal ini akan mendukung proses persuasi pada tahapan selanjutnya dalam hal mengubah sikap khalayak.
Komunikator dalam kampanye yang dijalankan oleh Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung dinilai mempunyai kredibilitas oleh responden, hal ini terobservasi di lapangan dari tanggapan yang mereka berikan. Tanggapan atas iklan yang disebarkan melalui surat kabar, tertera Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung sebagai pihak pembuat iklan. Hal ini ditanggapi oleh responden bahwa pihak pemerintah, dalam hal ini Dinas Kesehatan Kota, adalah bagian yang memang berwenang menyampaikan infromasi kesehatan kepada masyarakat. Dapat disampaikan bahwa penilaian terhadap Dinas Kesehatan Kota adalah lembaga resmi yang berwenang, menunjukkan tingginya kredibilitas komunikator dalam iklan media massa. Penilaian seperti ini turut mendukung kredibilitas komunikator pada saat penyampaian kampanye tidak bermedia berupa wawancara dan kunjungan ke rumah kader. Kondisi ini juga terlihat pada diskusi dan ceramah, dimana juru bicara adalah petugas Dinas Kesehatan Kota yang berseragam resmi, sejalan dengan penilaian sebelumnya bahwa komunikator adalah lembaga resmi yang berwenang menginformasikan masalah kesehatan kepada masyarakat. Penilaian-penilaian tersebut menjadi gambaran bahwa Dinas Kesehatan Kota dapat menjalankan perannya sebagai komunikator yang memiliki kredibilitas.
Kredibilitas komunikator ternyata memiliki pengaruh terhadap aspek kognitif sikap hidup sehat. Hal ini didasarkan pada hasil koefisien jalur 0,424 yang jauh lebih besar dari 0,05 sehingga dikatakan berpengaruh karena koefisiennya signifikan. Hasil ini menunjukkan bahwa komponen kognitif memperoleh pengaruh dari kredibilitas komunikator menguatkan anggapan bahwa dalam mengubah sikap diperlukan source of credibilty, sebagaimana disebutkan dalam penelitian Carl Hovland dan kelompok Yale Study (1953) yang mengungkapkan bahwa sumber yang kredibel mampu mengubah sikap lebih baik, ketimbang komunikator yang kurang kredibel. Dalam konteks hasil penelitian ini, kredibilitas komunikator mampu mempengaruhi aspek kognitif pada responden, implikasinya adalah proses persuasi yang terjadi akan lebih mudah dikenali, dipersepsi dan dipahami oleh responden. Kondisi awal ini akan mendukung proses persuasi pada tahapan selanjutnya dalam hal mengubah sikap khalayak.
Komunikator dalam kampanye yang dijalankan oleh Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung dinilai mempunyai kredibilitas oleh responden, hal ini terobservasi di lapangan dari tanggapan yang mereka berikan. Tanggapan atas iklan yang disebarkan melalui surat kabar, tertera Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung sebagai pihak pembuat iklan. Hal ini ditanggapi oleh responden bahwa pihak pemerintah, dalam hal ini Dinas Kesehatan Kota, adalah bagian yang memang berwenang menyampaikan infromasi kesehatan kepada masyarakat. Dapat disampaikan bahwa penilaian terhadap Dinas Kesehatan Kota adalah lembaga resmi yang berwenang, menunjukkan tingginya kredibilitas komunikator dalam iklan media massa. Penilaian seperti ini turut mendukung kredibilitas komunikator pada saat penyampaian kampanye tidak bermedia berupa wawancara dan kunjungan ke rumah kader. Kondisi ini juga terlihat pada diskusi dan ceramah, dimana juru bicara adalah petugas Dinas Kesehatan Kota yang berseragam resmi, sejalan dengan penilaian sebelumnya bahwa komunikator adalah lembaga resmi yang berwenang menginformasikan masalah kesehatan kepada masyarakat. Penilaian-penilaian tersebut menjadi gambaran bahwa Dinas Kesehatan Kota dapat menjalankan perannya sebagai komunikator yang memiliki kredibilitas.