BAB IV ANALISIS HASIL PENELITIAN
2. Kredit Usaha Mikro
Pembahasan lebih lanjut hanya terbatas pada Kredit Usaha Mikro untuk perorangan. Kredit Usaha Mikro (KUM) adalah kredit tanpa agunan dengan angsuran tetap berjangka waktu 1 tahun, yang diberikan kepada pemilik usaha mikro dan usaha rumah tangga baik berbentuk perusahaan, kelompok usaha,
dan perorangan (seperti pedagang, petani, peternak, dan nelayan) dalam rangka meningkatkan kemampuannya dalam mengembangkan usahanya.
Penyelenggaraan Kredit Usaha Mikro bertujuan meningkatkan peran bank dalam usaha memberdayakan pengusaha mikro yang berusaha dipasar tradisonal melalui pelayanan fasilitas kredit.
3. Prosedur Pemberian Kredit Usaha Mikro
Sebelum calon debitur atau pemohon kredit memperoleh kredit, terlebih dahulu harus melalui tahapan-tahapan penilaian mulai dari pengajuan permohonan kredit dan dokumen-dokumen yang diperlukan, pemeriksaan dokumen sampai kredit dicairkan. Tahapan-tahapan dalam pemberian kredit ini dikenal dengan prosedur pemberian kredit. Tujuan prosedur pemberian kredit adalah untuk memastikan kelayakan suatu kredit diterima atau ditolak.
Prosedur pemberian kredit usaha mikro pada Bank Mandiri : a. Pengajuan Permohonan Kredit
Untuk memperoleh fasilitas kredit usaha mikro dari Bank Mandiri, maka tahap pertama adalah pemohon kredit mengajukan permohonan kreditnya yang dilampiri dengan dokumen-dokumen yang lengkap.
Persyaratan calon debitur untuk mengajukan permohonan kredit antara lain,
1) WNI yang berdomisili di Indonesia.
2) Umur minimal 21 tahun atau sudah menikah dan maksimal usia 60 tahun saat kredit lunas.
3) Khusus kredit di atas Rp 50 juta dipersyaratkan NPWP.
4) Surat Keterangan Usaha dari Desa/Kelurahan, Dinas Pasar atau Otorita setempat dimana yang bersangkutan memiliki usaha. 5) Surat Ijin Usaha.
6) Tidak pernah memperoleh fasilitas kredit atau pernah memperoleh fasilitas kredit dengan kolektibilitas atau tidak tidak dalam kondisi kredit bermasalah.
7) Menyerahkan dokumen sebagai berikut :
a) Fotocopy KTP calon debitur dan istri/suami setelah memperlihatkan aslinya.
b) Fotocopy surat nikah/akta perkawinan (setelah memperlihatkan aslinya) bagi yang telah menikah.
c) Fotocopy akta cerai dan surat keputusan pengadilan mengenai pembagian harta gono gini yang berstatus duda/janda cerai.
d) NPWP pribadi untuk permohonan kredit di atas Rp 50 juta (kecuali ditentukan lain secara tertulis oleh Bank Indonesia setempat).
Untuk calon debitur yang berprofesi sebagai pegawai dan tidak memilki NPWP pribadi namun pajak penghasilannya dibayar oleh perusahaan tempatnya bekerja, dapat diganti dengan :
Surat keterangan instansi/perusahaan yang menerangkan bahwa pajak yang bersangkutan dibayar oleh instansi/perusahaannya.
SPT PPH No. 21 form No.1721-A atau 1721-A2.
Surat pernyataan untuk mengurus dan menyerahkan NPWP pribadi pada saat penandatanganan PK.
Selanjutnya pemohon kredit mengisi aplikasi permohonan Kredit Usaha Mikro yang memuat data-data lengkap pemohon, antara lain :
1) Data Pribadi Pemohon, terdiri dari nama lengkap, tempat/tanggal lahir, jenis kelamin, nomor KTP, data pekerjaan, alamat rumah dan alamat usaha pemohon.
2) Permohonan Fasilitas Kredit, terdiri dari jumlah kredit yang dimohon, jangka waktu kredit, tujuan penggunaan, rekening pembayaran dan sifat rekening.
3) Data Suami/Istri, terdiri dari data-data suami/istri pemohon kredit.
b. Penyelidikan Berkas Pengajuan Pinjaman
Setelah aplikasi pemohon beserta dokumen-dokumen dilengkapi dan diterima oleh Bank Mandiri, maka tahap selanjutnya adalah penyelidikan berkas-berkas yang diajukan oleh pemohon kredit tersebut. Tujuannya adalah untuk mengetahui apakah berkas yang diajukan sudah lengkap dan sesuai dengan persyaratan yang telah ditetapkan Bank Mandiri. Jika menurut Bank Mandiri belum lengkap atau belum cukup, maka pemohon kredit diminta untuk segera melengkapi kekurangan tersebut.
Dalam penyelidikan berkas-berkas permohonan kredit, hal-hal yang perlu diperhatikan adalah membuktikan kebenaran dan keaslian dari berkas-berkas
yang ada seperti kebenaran dan keaslian dari berkas-berkas yang ada seperti kebenaran dan keaslian KTP, dan NPWP. Berkas-berkas permohonan kredit tersebut diselidiki Bank Mandiri, dalam hal ini adalah Customer Service Officer (CSO), dengan melalui pendekatan prinsip-prinsip 5 (lima) C untuk kriteria calon debitur yang layak menerima pinjaman kredit, yaitu :
1) Character (karakter), yaitu penilaian terhadap personalitas calon de bitur, bagaimana sifatnya, kejujurannya, dan pergaulannya di masyarakat, usia debitur dan lain-lain. Watak calon debitur dapat diketahui dengan melihat kelancaran pembiayaan kredit di masa lalu, sedangkan untuk nasabah non kredit, wataknya dapat diketahui dengan melihat kebiasaan setor/tarik, kualitas giro yang disetor atau apakah nasabah pernah membuka giro kosong, CSO akan memeriksa Daftar Hitam Bank Indonesia (BI Checking) untuk melihat kolektibilitas kredit/tingkat kesehatan kredit debitur.
2) Capacity (Kepastian), yaitu kemampuan calon debitur untuk membayar, dimana diteliti mengenai pendidikan dan pengalaman usahanya, reputasi perusahaan, riwayat usahanya, keahliannya dalam usaha tersebut sehingga bank mempunyai keyakinan bahwa suatu usaha yang dibiayai dengan kredit tersebut dikelola dengan orang yang tepat.
3) Capital (Modal), meneliti besar kecilnya modal dan bagaimana pendistribusian modal, apakah modal yang cukup untuk menggerakan sumber daya secara efektif, apakah pengaturan
modal kerja baik, sehingga perusahaan berjalan lancar, berapa besar modal kerja,perlu pula dinilai sumber dan stuktur permodalan, tingkat pertumbuhan laba, dimana semua ini dapat dilihat pada neraca perusahaan.
4) Collateral (Jaminan), jaminan atau agunan yang diberikan oleh calon debitur akan dianalisis apakah layak dan memenuhi persyaratan yang ditentukan bank.
5) Condition, dalam menilai kredit hendaknya juga dinilai kondisi ekonomi sekarang dan masa yang akan datang. Dalam kondisi ekoomi yang kurang stabil sebaiknya pemberian kredit juga melihat prospek usaha di masa yang akan datang, debgan maksud agar bank dapat memperkecil resiko yang mungkin timbul oleh situasi ekonomi.
c. Keputusan Kredit
Jika kriteria 5 C di atas sudah terpenuhi, maka aplikasi kredit yang diajukan oleh calon debitur dapat dipertimbangkan untuk memperoleh pinjaman kredit dari pihak bank dan berapa besarnya jumlah kredit yang disetujui untuk diberikan pihak bank kepada calon debitur.
Apabila aplikasi permohonan kredit calon debitur disetujui, maka CSO membuat :
1) Surat Pemberitahuan Persetujuan Kredit (SPPK) 2) Perjanjian Kredit (PK)
d. Penandatanganan Akad Kredit
Kegiatan ini merupakan kelanjutan dari diputuskannya kredit atau disebut juga perjanjian kredit antara bank dengan debitur. Sebelum kredit dicairkan maka terlebih dahulu calon debitur menandatangani akad, kemudian mengikat jaminan kredit.
Syarat sebelum akad kredit ditanda tangani, CSO terlebih dahulu membuat checklist berisi pemeriksaan pemenuhan syarat-syarat pencairan kredit meliputi antara lain :
1) Fasilitas Kredit Usaha Mikro telah memenuhi ketentuan. 2) Nasabah telah menandatangani Perjanjian Kredit dan SUKK. 3) Nasabah telah memenuhi persyaratan lain yang tertuang dalam
SPPK dan PK.
Setelah persyaratan–persyaratan di atas telah terpenuhi, maka debitur menandatangani SPPK, PK, dan SUK Bank Mandiri di depan CSO.
e. Pencairan Kredit
Setelah akad ditandatangani maka langkah selanjutnya adalah pencairan kredit atau realisasi kredit. Penarikan dana dilakukan sesuai dengan pola penarikan Kredit Usaha Mikro, yaitu :
1) Sekaligus,
2) Rekening koran (Revolving) atau penarikan sesuai dengan kebutuhan yang telah diajukan dalam permohonan kredit.
B. Analisis Hasil Penelitian
1. Prosedur Pemberian Kredit Usaha Mikro
Pada dasarnya prosedur pemberian Kredit Usaha Mikro yang diterapkan oleh Bank Mandiri telah sesuai dengan prosedur pemberian kredit secara umum yang didasarkan pada teori. Hanya saja, pada prosedur pemberian Kredit Usaha Mikro hanya dilakukan sekali wawancara dengan calon debitur sebelum dicairkannya kredit tersebut. Wawancara dilakukan di awal sekaligus dengan pengajuan berkas-berkas oleh debitur. Hal ini dilakukan dikarenakan nasabah yang mengajukan kredit akan menjadi nasabah di Bank Mandiri jika pengajuan Kredit Usaha Mikro diterima oleh pihak Bank Mandiri. Prosedur pemberian kredit ini memperlihatkan adanya keinginan untuk memberikan pelayanan yang cepat kepada calon debitur. Hal ini merupakan salah satu yang keunggulan yang perlu diperhatikan dalam era persaingan sekarang ini. Selain itu proses yang sederhana dan cepat juga merupakan kebutuhan debitur yang tidak ingin berhadapan dengan proses yang tidak berbelit-belit dan cenderung mempersulit. Dengan kecepatan memproses maka profesionalisme pihak bank akan terlihat, yaitu kemampuan untuk memberikan pelayanan secara cepat dan baik tanpa mengabaikan prinsip kehati-hatian (Prudential Banking Practice)yang harus dipegang oleh dunia perbankan.
Disamping itu, dalam prosedur pemberian Kredit Usaha Mikro dilakukan pelaksanaan peninjauan ke lokasi (Inspeksi On The Spot). Hal ini dilakukan
untuk peninjauan langsung ke lokasi usaha sebelum Kredit Usaha Mikro diterima oleh Bank Mandiri.
Pada tahap analisa kredit, Bank Mandiri menggunakan analisa 5 C dalam menilai calon debitur. Analisa ini dilakukan agar menghindari resiko terjadinya tunggakan kredit oleh debitur. Selain itu, pada tahap ini juga dilakukan analisa taksasi/penilaian usaha debitur untuk dapat melihat suku bunga kredit yang sudah ditentukan oleh pihak bank dalam Kredit Usaha Mikro yang telah disetujui oleh calon debitur.
2. Pengawasan Kredit Usaha Mikro, Sebelum Penerimaan Kredit, Saat Penerimaan Kredit, dan Setelah Penerimaan Kredit
Pada dasarnya pengawasan atas Kredit Usaha Mikro yang dilaksanakan oleh Bank Mandiri telah sesuai dengan teori yang ada. Hal ini tercermin pada saat prosedur pemberian Kredit Usaha Mikro, sebelum ditandatangani akad kredit, pihak Bank Mandiri terlebih dahulu membuat checklist untuk memeriksa kembali kelengkapan dokumen yang diajukan oleh calon debitur. Oleh karena itu, diupayakan semaksimal mungkin tersedia sarana yang lengkap, pengawasan intern yang baik dan profesionalisme manajemen dalam mengelola kredit, yang merupakan faktor–faktor pendukung pengawasan dalam pemberian dan pemantauan kredit.
Pengawasan yang dilakukan oleh PT. Bank Mandiri Cabang Medan Gatot Subroto merupakan suatu kebijakan yang dilakukan oleh manajemen dalam rangka mengawasi dan mengendalikan kredit secara keseluruhan sehingga
selalu memberikan keuntungan bagi bank yang bertujuan untuk mencapai pengelolaan kredit yang sehat. Proses pengawasan kredit dimaksudkan untuk mengevaluasi aspek – aspek yang berkaitan dengan proses kredit, dengan demikian diharapkan pihak manajemen dapat mengetahui secara cepat dan menyeluruh kondisi perkreditan bank. Evaluasi terhadap proses kredit menjadi tugas Divisi Pengawasan. Pengawasan sebelum penerimaan Kredit Usaha Mikro adalah melakukan penyelidikan berkas-berkas yang diajukan oleh pemohon kredit untuk mengetahui apakah berkas yang diajukan sudah lengkap dan sesuai dengan persyaratan yang telah ditetapkan oleh Bank Mandiri, dan melakukan evaluasi pada saat sebelum proses pemberian kredit. Evaluasi tersebut ditujukan terhadap pengawasan sebelum penerimaan kredit antara lain:
a. Proses Pemberian kredit
1) apakah seluruh persyaratan administrasi yang diperlukan telah dipenuhi,
2) apakah kepentingan bank secara administratif telah terjamin, 3) apakah proses kredit berjalan lancar,
4) apakah terdapat kendala-kendala dalam setiap tahapan proses kredit.
b. Proses Administrasi Kredit
1) apakah seluruh persyaratan administrasi yang diperlukan telah dipenuhi,
2) apakah kepentingan bank secara administratif telah terjamin.
Untuk mendapatkan hasil yang maksimal, pengawasan yang dilakukan sebelum penerimaan kredit dengan menggunakan Standar Kualitas Proses Kredit yang memiliki acuan standar sebagai berikut :
1) standar pemberian kredit, 2) standar administrasi kredit.
Kesimpulan dari evaluasi pengawasan sebelum penerimaan kredit disajikan dalam bentuk rating. Standar rating yang digunakan ada tiga kriteria yaitu:
1) dapat diterima (D),
2) kurang dapat diterima (K), 3) tidak dapat diterima (T).
Pengawasan yang dilakukan pada saat pemberian Kredit Usaha Mikro adalah berdasarkan catatan rekening koran yang dimiliki oleh debitur dan bank akan langsung mendebet tabungan debitur apabila angsuran pokok ditambah bunga tersebut telah masuk jatuh tempo. Seandainya timbul permasalahan seperti nasabah menunggak membayar, maka pihak bank akan melakukan peninjauan ke lokasi usaha (Inspeksi On The Spot) untuk memastikan bahwa debitur dapat melunasi kewajibannya kepada pihak bank. Pada dasarnya pengawasan yang dilakukan pada PT. Bank Mandiri (Persero) Cabang Medan Gatot Subroto Medan telah dilaksanakan dengan baik
berdasarkan catatan atas rekening koran dari debitur yang bersangkutan dan berdasarkan atas peninjauan langsung ke lokasi usaha (Inspeksi On The Spot).
Untuk pengawasan setelah pemberian Kredit Usaha Mikro adalah pengawasan seperti terjadinya tujuan pemberian kredit yang tidak sesuai dengan yang disyaratkan oleh Bank Mandiri, maka pengawasan dilakukan dengan tindakan pembinaan, penyelamatan, dan pencegahan. Tindakan ini dilakukan dengan menetapkan kriteria masalah dan jenis tindakan yang dilakukan sehingga memudahkan penyelesaiannya. Pengawasan tersebut telah sesuai dengan teori yang ada yaitu pengawasan terhadap hal-hal yang masih menyimpang (Control by Acception).
Pengawasan yang dilakukan PT. Bank Mandiri (Persero) Cabang Medan Gatot Subroto dalam menyalurkan Kredit Usaha Mikro (KUM) adalah bertujuan untuk memperkecil jumlah kredit macet akibat jika debitur tidak dapat memenuhi kewajibannya sesuai dengan kesepakatan yang telah dilaksanakan sebelumnya. Hal ini dimaksudkan agar pihak bank dapat segera mengambil tindakan perbaikan dan mengambil langkah-langkah yang tepat untuk memperbaiki penyimpangan yang ada tersebut, dan untuk membantu pihak debitur dalam mengatasi masalah yang dihadapinya sehubungan dengan kredit yang telah diberikan oleh pihak bank tersebut untuk meminimumkan jumlah kredit bermasalah dimasa yang akan datang.
Pengawasan kredit yang dilakukan secara umum dilakukan agar dapat memenuhi berbagai kepentingan antara lain :
a. dapat memberikan masukan dan pendapat secara independen kepada pihak manajemen mengenai kualitas manajemen,
b. menyoroti masalah-masalah yang potensial dalam proses kredit, 1) mendeteksi kelemahan proses kredit yang berpengaruh
terhadap kualitas portepel kredit yang akan datang dan merubahnya bila perlu,
2) memungkinkan senior manajemen untuk mengevaluasi personalia kredit dan menggantinya bila perlu.
c. melakuakan koreksi terhadap penyimpangan yang mungkin terjadi dengan tolak ukur standar proses kredit yaitu:
1) mengevaluasi pengamanan kredit dan sejauh mana penyimpangannya,
2) merekomendasi langkah-langkah untuk memperbaiki penyimpangan.
BAB V
A. Kesimpulan
Keberhasilan suatu perkreditan sangat dipengaruhi oleh hasil analisa kredit dasarkan sebelum pemberian kredit tersebut kepada debitur. Berdasarkan pembahasan dan analisa yang dilakukan pada Bank Mandiri Cabang Medan Gatot Subroto dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1. Kredit Usaha Mikro (KUM) merupakan salah satu jenis kredit tanpa agunan yang diberikan oleh Bank Mandiri kepada para pengusaha mikro, kecil, dan menengah dalam rangka meningkatkan taraf hidup dan meningkatkan perekonomian masyarakat.
2. Prosedur pemberian Kredit Usaha Mikro yang telah dilaksanakan oleh Bank Mandiri Cabang Medan Gatot Subroto telah sesuai dengan SOP (Standar Operasional Prosedur) Bank Mandiri dan terdiri dari beberapa tahapan yaitu :
b. pengajuan permohonan kredit,
c. penyelidikan berkas pengajuan pinjaman, d. keputusan kredit,
e. penandatanganan akad kredit, f. pencairan kredit.
3. Pada prosedur pemberian Kredit Usaha Mikro, pihak Bank Mandiri hanya melakukan sekali wawancara dengan calon debitur, dan wawancara itu dilakukan di awal sekaligus dengan pengajuan berkas-berkas oleh calon debitur. Hal ini dilakukan dikarenakan nasabah yang mengajukan kredit
akan menjadi nasabah di Bank Mandiri jika pengajuan Kredit Usaha Mikro diterima oleh pihak Bank Mandiri. Dalam prosedur pemberian kredit, Bank Mandiri juga menerapkan prinsip kehati-hatian (Prudential Banking Practice) untuk dapat meminimalkan jumlah kredit macet yang disebabkan oleh debitur tidak dapat melaksanakan kewajibannya dengan baik.
4. Calon debitur yang ingin mendapatkan Kredit Usaha Mikro harus membuka rekening di Bank Mandiri, hal ini dimaksudkan untuk mempermudah pembayaran cicilan kredit baik pinjaman pokok beserta bunganya atau denda yang akan dikenakan apabila debitur terlambat membayar kewajibannya, dengan cara bank akan langsung mendebet rekening debitur tersebut sesuai dengan jadwal angsuran yang telah disepakati bersama.
5. Pengawasan Kredit Usaha Mikro sebelum penerimaan kredit adalah melakukan penyelidikan berkas-berkas yang diajukan oleh pemohon kredit untuk mengetahui apakah berkas yang diajukan sudah lengkap dan sesuai dengan persyaratan yang telah ditetapkan oleh Bank Mandiri, dan melakukan evaluasi pada saat sebelum proses pemberian kredit dan proses administrasi kredit dengan menggunakan Standar Kualitas Proses Kredit yang disajikan dalam bentuk tiga rating yaitu dapat diterima, kurang dapat diterima, dan tidak dapat diterima oleh Bank Mandiri.
6. Pengawasan Kredit Usaha Mikro pada saat pemberian kredit adalah pengawasan terhadap catatan rekening koran debitur dan pengawasan
secara langsung ke lokasi usaha (Inspeksi on The Spot) untuk mengetahui sampai sejauh mana debitur dapat melaksanakan kewajibannya serta untuk memantau perkembangan kegiatan usaha debitur yang dibiayai melelui kredit tersebut.
7. Pengawasan Kredit Usaha Mikro setelah pemberian kredit adalah pengawasan terhadap hal-hal yang masih menyimpang (Control by Acception), hal ini dilakukan jika terjadi permasalahan seperti tujuan pemberian kredit tidak sesuai dengan yang di syaratkan oleh Bank Mandiri, maka dilakukan tindakan pembinaan, penyelamatan, dan pembinaan. Tindakan ini dilakukan dengan menetapkan kriteria masalah dan jenis tindakan yang dilakukan sehingga memudahkan penyelesaiannya dan melakukan evaluasi pengamanan kredit serta penyimpangan kredit. 8. Pengawasan dan pembinaan kredit adalah satu kesatuan yang tidak dapat
dipisahkan, karena di samping untuk menjamin kedit tersebut benar-benar dipergunakan dengan sebaik-baiknya sekaligus menumbuhkan kesadaran debitur untuk memenuhi kewajibannya dalam membayar angsuran atau pinjaman yang telah ditentukan setiap bulannya. Dengan demikian debitur Bank Mandiri dapat terhindar dari kemungkinan pengenaan denda karena keterlambatan dalam memenuhi kewajiban mereka.
Dari kesimpulan-kesimpulan di atas, penulis mencoba memberikan saran- saran sebagai berikut.
1. Pelaksanaan tindakan pengawasan pemeriksaan atas hal-hal yang saling berhubungan (Verband Control) yang tidak diterapkan pada Bank Mandiri, sebaiknya perlu juga dilaksanakan mulai dari saat calon debitur mengajukan permohonan kreditnya sampai permohonan kreditnya disetujui oleh Bank Mandiri. Pengawasan ini dilakukan untuk pihak bank dalam mencari informasi yang benar tentang debitur atau kegiatan usaha calon debitur, hal ini dilakukan oleh aparat perbankan jika bank merasa curiga atas laporan kegiatan usaha calon debitur yang dianggap terlalu besar dengan cara menyamar atau cara lain ke perusahaan calon debitur untuk menguji informasi yang diberikan calon debitur. Langkah pengawasan ini jelas merupakan suatu langkah untuk mencegah penipuan data dari laporan kegiatan usaha calon debitur.
2. Dalam pemberian Kredit Usaha Mikro, diharapkan Bank Mandiri mampu mempertahankan proses pemberian kredit yang cepat, sederhana dan tidak berbelit-belit, yang merupakan keunggulan suatu bank yang diharapkan semua calon debitur, dan tentu saja tetap melaksanakan prinsip kehati- hatian untuk menghindari terjadinya resiko yang tidak diharapkan.
3. Pada era yang penuh dengan persaingan di dunia perbankan khusunya dalam pemberian kredit, satu hal yang menjadi kunci kesuksesan bisnis suatu bank adalah kualitas pelayanan yang dimiliki oleh bank tesebut, oleh karena itu Bank Mandiri sebagai Bank yang menjadi nomor satu dalam
Service Excellent diharapkan mampu mempertahankan bahkan terus meningkatkan pelayanan terhadap nasabahnya baik dalam pemberian kredit maupun dalam jasa-jasa perbankan lainnya.
Abdullah, Faisal, 2005. Manajemen Perbankan, Cetakan Ketiga, UMM Press, Malang.
Hanif dan Iswan Kaputra, 2002. Usaha Kecil dan Mikro di Tengah Arus Globalisasi, Cetakan Pertama, BITRA Indonesia, Medan.
Harahap, Sofyan Syafri, 2001. Sistem Pengawasan Manajemen, Cetakan 1, PT. Pustaka Quantum, Jakarta.
Hasibuan, Malayu, 2001. Dasar – dasar Perbankan, Cetakan Pertama, PT. Bumi Aksara, Jakarta.
Irmayanto, Juli, 2004. Bank dan Lembaga Keuangan, Cetakan Keempat, Universitas Trisakti, Jakarta.
Ikatan Akuntan Indonesia, 2005. Standar Akuntansi Keuangan, Salemba Empat, Jakarta.
Kasmir, 2002. Manajemen Perbankan, Cetakan Pertama, Raja Grafindo Persada, Jakarta.
Miraza, Hasan Bachtiar, 2004. Dinamika Pelaku Bisnis, Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia, Bandung.
Peraturan Bank Indonesia, Nomor : 3/1/PBI/2001 Tentang Proyek Kredit Mikro. Peraturan Bank Indonesia, Nomor : 3/2/PBI/2001 Tentang Pemberian Kredit
Usaha Kecil.
Purba, Maldiana, 2004. “Prosedur dan Pengawasan Kredit Pemilikan Rumah pada PT. Bank Tabungan Negara, Tbk”, Skripsi, Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi, Universitas Sumatera Utara, Medan.
Rivai, Veithzal dan Andriana Permata Vethzal, 2006. Credit Management Handbook, Edisi Pertama, Jakarta.
Sastradipoera, Komaruddin, 2004. Strategi Manajemen Bisnis Perbankan; Konsep dan Implementasi Untuk Bersaing, Kappa-Sigma, Bandung.
Siamat, Dahlan, 2005. Manajemen Lembaga Keuangan : Kebijakan Moneter dan Perbankan, Edisi Kelima, Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Jakarta.
Suyatno, Thomas, H.A.Chalik, Made Sukada, C. Tinon Yunianti Ananda, Djuhaepah T. Marala, 2003, Dasar-Dasar Perkreditan, Cetakan Kesepuluh, PT. Gramedia Pustaka Umum, Jakarta.
Sinulingga, Melinda. 2006. “Analisis Pelaksanaan Prosedur Pemberian Kredit Modal Kerja pada PT. BRI ( Persero ), Tbk Cabang Medan Putri Hijau”, Skripsi, Departemen Akuntansi Fakultas Ekonomi, Universitas Sumatera Utara, Medan.
Wahyuni, Rizky. 2008. “Analisis Sistem Pengawasan Pemberian Kredit Pada PT. Bank Bumi Putra, Tbk cabang Medan”, Skripsi, Departemen Akuntansi Fakultas Ekonomi, Universitas Sumatera Utara, Medan
Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara, Jurusan Akuntansi, 2004. Buku Petunjuk Teknik Penulisan Proposal Penelitian dan Penulisan Skripsi, Medan
http://www.bankmandiri.co.id ( 12 Desember 2009, 13.00 WIB ) http://www.wisiso.blogspot.com ( 05 Januari 2010, 10.00 WIB ) http://www.majalahpengusaha.com ( 23 Januari 2010, 17.00 WIB ) http;//www.bi.co.id ( 06 Februari 2010, 19.00 WIB )
SURAT PERMOHONAN NASABAH / CUSTOMER APPLICATION LETTER
---
..., ... 200 Kepada Yth,
Bapak / Ibu Pemimpin Cabang/Cabang Pembantu/Kantor Kas Di
Tempat.
H a l : Permohonan Kredit Usaha Mikro
Yang bertandatangan dibawah ini : Nama Lengkap ( sesuai KTP/KRT ) : Nama Istri/Suami ( sesuai KTP/KRT ) : Alamat Tempat Tingal Sekarang : ( Kota/RT/RW/Kode Pos )
Status Tempat Tinggal : milik sendiri/sewa/milik keluarga/ lainnya.
Domisili/tempat tinggal sejak :
Bidang Usaha :
Pengalaman berusaha di pasar
Tradisional ( minimal 6 bulan ) :
Pendidikan : SD/SLTP/SLTA/DIPLOMA/S1
Referensi : Nasabah/ Pegawai Lainnya
* Nama ( sesuai KTP ) :
* Alamat :
* Pekerjaan :
* Jabatan :
MENGAJUKAN PERMOHONAN KREDIT USAHA MIKRO
Jumlah :
Jangka Waktu :
Tujuan Penggunaan :
Demikian permohonan kami, agar dapat menjadi bahan pertimbangan bagi Bapak /Ibu.
Diisi menurut keadaan sebenarnya.
--- Pemohon / Applicant
FORMULIR PENILAIAN PERMOHONAN KREDIT KREDIT USAHA MIKRO ( KUM )