• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN

B. Kriteria Akhlak Guru yang Ideal

Sebelum membahas akhlak guru yang ideal menurut al-Ghazali, penulis akan menjelaskan terlebih dahulu pengertian akhlak, pengertian guru, profesi guru serta tugas dan kewajiban guru menurut al-Ghazali. Akhlak guru yang ideal yang akan dibahas dalam bab ini adalah akhlak guru terhadap dirinya sendiri (kepribadian guru) dan akhlak guru kepada murid.

1. Pengertian Akhlak

Menurut al-Ghazali akhlak adalah “al-Khuluk” (jamaknya al-akhlak) ialah ibarat (sifat atau keadaan) dari prilaku yang konstan (tetap) dan meresap dalam jiwa, dari jiwanya timbul perbuatan-perbuatan dengan wajar dan mudah, tanpa memerlukan pikiran dan

pertimbangan”.31

Al-Ghazali memberikan kriteria terhadap akhlak,

29

Al-Ghazali, Bidayah al-Hidayah, Terj. Nailul Umam Wibowo, (Yogyakarta: Pustaka Sufi, 2003), h. 72-73.

30

Al-Ghazali, Ihya Ulum al-Din, (Kairo: Daar al-Takwa, 2000), h. 601-602.

31

39

bahwa akhlak harus menetap dalam jiwa dan perbuatan itu muncul dengan mudah tanpa melakukan penelitian terlebih dahulu. Dengan kedua kriteria tersebut, maka suatu amal itu memiliki korespondensi dengan faktor-faktor yang saling berhubungan yaitu perbuatan baik dan keji, mampu menghadapi keduanya, mengetahui tentang kedua hal itu, keadaan jiwa yang ia cenderung kepada salah satu dari kebaikan dan bisa cenderung kepada kekejian.32

Akhlak bukan merupakan “perbuatan” bukan “kekuatan”, bukan “ma’rifah” (mengetahui dengan mendalam). Yang lebih sepadan dengan akhlak itu “hal” keadaan atau kondisi, dimana jiwa mempunyai potensi

yang bisa memunculkan dari padanya menahan atau member. Jadi akhlak

itu adalah ibarat dari” keadaan jiwa dan bentuknya yang bathiniah”.33

Di satu sisi, pendapat al-Ghazali ini mirip dengan apa yang dikemukakan Ibnu Miskawaih, tokoh filsafat etika yang hidup lebih dahulu ini

menyatakan bahwa akhlak adalah “keadaan jiwa yang menyebabkan

seseorang bertindak tanpa dipikirkan terlebih dahulu. Ia tidak bersifat rasional, atau dorongan nafsu.34

Sama seperti yang dikatakan Ibrahim Anis bahwa akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang dengannya lahirlah macam-macam perbuatan, baik dan buruk tanpa membutuhkan pemikiran dan pertimbangan.35 M. Abdullah Dirroz juga berkata bahwa akhlak adalah suatu kekuatan dalam kehendak yang mantap, kekuatan dan kehendak mana berkombinasi membawa kecenderungan pada pemilihan pihak yang benar (dalam hal akhlak yang baik) atau pihak yang jahat (dalam hal akhlak yang jahat).36

Sementara untuk pembagian akhlak baik dan buruk, al-Ghazali tak berbeda dengan tokoh lainnya. Ia membagi akhlak menjadi yang baik

32

Al-Ghazali, Ihya Ulumu al-Din, (Kairo: Dar al-Takwa, 2000), jilid II, h. 599.

33

Ibid, h. 599.

34

Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf, (Bandung: PT. Raja Grafindo, 2003), cet. II, h. 4.

35

Ibid., h.4.

36

40

atau mahmudah dan madzmumah atau buruk.37 Dalam Ihya Ulumu al-Din, al-Ghazali membagi menjadi empat bagian yaitu ibadah, adab, akhlak yang menghancurkan (muhlikat) dan akhlak yang menyelamatkan

(munjiyat). Akhlak yang buruk adalah rakus makan, banyak bicara,

dengki, kikir, ambisi dan cinta dunia, sombong, ujub dan takabur serta riya. Sedangkan akhlak yang baik adalah taubat, khauf, zuhud, sabar, syukur, keikhlasan, dan kejujuran, tawakkal, cinta, ridha, ingat mati.38

Jadi akhlak berasal dari kata (al-khuluq) yang berarti prilaku, selanjutnya al-Ghazali menerangkan adalah perilaku yang tetap yang berasal dari dalam jiwa, sehingga menghasilkan perbuatan-perbuatan yang mudah tanpa adanya pemikiran sehingga menghasilkan perbuatan yang baik atau buruk.

2. Pengertian Guru

Kata guru beasal dari bahasa Indonesia yang berarti orang yang mengajar. Dalam bahasa inggris dijumpai kata teacher yang berarti pengajar.39 Dalam paradigma Jawa, pendidik diidentikkan dengan (gu

dan ru) yang berarti “digugu dan ditiru”. Dikatakan digugu (dipercaya)

karena guru mempunyai seperangkat ilmu yang memadai, yang karenanya ia memiliki wawasandan pandangan yang luas dalam melihat kehidupan ini. Dikatakan ditiru (diikuti) karena guru mempunyai kepribadian yang utuh, yang karenanya segala tindak tanduknya patutu dijadikan panutan dan suri tauladan oleh peserta didiknya.

Al-Ghazali mempergunakan istilah guru dengan kata seperti,

al-muallimin (guru). 40 pendapat al-Ghazali ini berasal dari istilah bahasa

Arab yaitu al-alim (jamaknya ulama) atau al-Mualim, yang berarti orang yang mengetahui dan banyak digunakan para ulama/ahli pendidikan

37

Abuddin Nata, op.cit., h. 43.

38

Abdullah Amin, Antara Ghazali dan Kant, (Bandung: Mizan, 2002), h. 2.

39

John M Echols dan Hasan Shadily, Kamus Inggris Indonesia, (Bandung: Gramedia, 1982), h. 581.selain itu terdapat kata tutor yang berarti guru pribadi yang mengajar di rumah, mengajar ekstra, memberi les tambahan pelajaran, educator, pendidik, ahli didik, lecturer, pemberi kuliah, penceramah dalam kamus bhasa Inggris Indonesia, Jakarta: Gramedia, 1982, h. 608, 207, dan 353.

40

41

pendidikan untuk menunjuk pada arti guru.41 Selain itu, kata al-alim diungkap dalam bentuk jamak, al-Alimuun yang terdapat dalam surat al-Ankabut (29) ayat 43. Kata tersebut dalam ayat yang dimaksud digunakan dalam hubungannya dengan orang-orang yang mampu menangkap hikmah atau pelajaran yang tersirat dalam berbagai perumpamaan yang diceritakan dalam al-Qur’an.42

Hal ini sejalan dengan yang dikatakan Abuddin Nata bahwasanya guru berasal dari kata al-alim berarti seorang guru yang harus memiliki kecerdasan intelektual yang tinggi, sehingga mampu menangkap pesan-pesan, hikmah, petunjuk, dan rahmat dari segala ciptaan Tuhan serta memiliki potensi batiniyah yang kuat sehingga ia dapat mengarahkan hasil kerja dari kecerdasan untuk diabdikan kepada Tuhan.43 Menurut al-Ghazali guru adalah seorang yang bekerja menyempurnakan, membersihkan, dan membawakan hati muridnya mendekatkan kepada Allah SWT.44 Abuddin Nata menambahkan, al-Ghazali berpendapat bahwa guru yang diserahi tugas mendidik adalah guru yang selain cerdas dan sempurna akalnya, juga guru yang baik akhlaknya dan kuat fisiknya. Dengan kesempurnaan akal ia dapat memiliki berbagai ilmu pengetahuan secara mendalam, dan dengan akhlaknya yang baik ia dapat menjadi contoh dan teladan bagi muridnya, dan dengan kuat fisiknya ia dapat melaksanakan tugas mengajar, mendidik dan mengarahkan anak-anak muridnya.45

Pendapat al-Ghazali diperkuat oleh Ramayulis yang menyatakan

bahwa seorang guru adalah seorang pendidik. Pendidik ialah “orang yang

memikul tanggung jawab untuk membimbing”.46

Di buku lain Ramayulis memaparkan, pendidik tidak sama dengan pengajar, sebab pengajar itu

41

Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf …, h.41.

42 Ibid., h. 43. 43 Ibid., h. 47. 44 Zainuddin, dkk, op.cit., h. 53. 45

Abuddin Nata, Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam, (Jakarta: PT. Raja Grafindo, 2000), cet. I, h. 95-99.

46

Ramayulis, Didaktik Metodik, (Padang: Fakults Tarbiyah IAIN Imam Bonjol, 1982), h. 42.

42

hanya sekedar menyampaikan materi pelajaran kepada murid. Prestasi tertinggi yang dapat dicapai seorang pengajar apabila ia berhasil membuat pelajar memahami dan menguasai materi pengajaran yang diajarkan kepadanya. Tetapi seorang pendidik bukan hanya bertanggung jawab menyampaikan materi pengajaran kepada murid saja tetapi juga membentuk kepribadian seorang anak didik bernilai tinggi.47

Suryasubrata menjelaskan bahwa guru berarti juga orang dewasa dalam perkembangan jasmani dan rohaninya, agar mencapai tingkat kedewasaan, mampu berdiri sendiri dan memenuhi tingkat kedewasaanya, mampu mandiri dalam memenuhi tugasnya sebagai hamba dan khalifah Allah SWT. Dan meampu melaksanakan tugas sebagai makhluk sosial dan sebagai mahkluk individu yang mandiri.48 Senada yang dikatakan Ahmad Tafsir bahwa pendidik sebagaimana teori barat, pendidik dalam Islam adalah orang-orang yang beertanggung jawab terhadap perkembangan peserta didiknya dengan upaya mengembangkan potensi peserta didik, baik potensi afektif (rasa),

kognitif (cipta), maupun psikomotorik (karsa). Pendidik disini adalah

mereka yang memberikan pelajaran peserta didik, yang memegang suatu mata pelajaran tertentu di sekolah.49

Selanjutnya dijumpai pula pendapatnya al-Ghazali hendaknya seorang guru tidak mengharapkan imbalan, balas jasa ataupun ucapan terima kasih, tetapi dengan mengajar itu bermaksud mencari keridhoan Allah dan mendekatkan diri kepada-Nya.50 Sama seperti pendapat Zakiah Daradjat, dan kecintaan terhadap pekerjaan guru akan bertambah besar apabila dihayati benar-benar keindahan dan kemuliaan tugas ini, karena boleh jadi karena boleh jadi itu sebenarnya tidak sengaja mengajar, akan

47

Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 1998) cet. II, h. 36.

48

Suryasubrata. B, Beberapa Aspek Dasar Kependidikan, (Jakarta: Bina Aksara, 1983), h. 26.

49

Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Persepektif Islam, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1992), h. 74-75.

50

Muhammad al-Ghazali, Ihya ulumu al-Din, terj. Moh. Rifa’i, (Semarang: CV. Mizan,

43

tetapi ia menjadi guru hanyalah untuk mencari nafkah, maka pekerjaannya sebagai guru dinilai dari segi material. Apabila yang dipandang mater atau hasil lansung yang diterimanya tidak seimbang dengan beban kerja yang dipikulnya, maka ia akan mengalami kegoncangan. Sehingga tindakan dan sikapnya terhadap anak didik akan terpengaruh pula. Hal itupun dapat merusak nilai pendidikan yang diterima oleh anak didik.51dapat dipahami bahwasanya pendapat al-Gazhali tentang guru hampir sama dengan pendapat para tokoh pendidikan masa kini, akan tetapi al-Ghazali lebih luas dalam memberi pengertian guru. Al-Ghazali menggunakan istilah dalam memberikan pengertian guru yang berasal dari bahasa Arab, yaitu al-Muallim (guru). Muallim adalah orang yang menguasai ilmu dan mampu mengembangkannya serta menjelaskan fungsinya dalam kehidupan, menjelaskan dimensi teoritis dan praktisnya, sekaligus melakukan transfer ilmu pengetahuan, internalisasi dan implementasi. Secara luas al-Ghazali menjelaskan bahwa guru adalah seorang yang bekerja menyempurnakan, membersihkan, dan membawakan hati muridnya mendekatkan kepada Allah SWT, juga seorang guru harus memiliki kesempurnaan akal dan fisiknya, memiliki akhlak yang baik dan mengharapkan gaji.

3. Profesi Guru

Al-Ghazali menjelaskan bahwa ada tiga hal yang menjadi alas an dalam profesi guru yaitu:

a. Alasan yang berhubungan dengan sifat naluriyah

Dalam kitab Ihya Ulum al-Din ia menyebutkan “apabila ilmu itu

lebih utama dalam segala hal, maka mempelajarinya adalah mencari yang lebih mulia, maka mengajarkannya adalah memberikan faedah

bagi keutamaan itu”.52

Jadi profesi guru sebagai pengajar dan pendidik adalah sangat mulia, karrena cara naluri orang yang berilmu

51

Zakiah Daradjat, Ilmu Pendidikan Islam,(Jakarta: Bumi Aksara, 1996), h. 41-42.

52

44

itu dimuliakan dan dihormati orang. Dan ilmu pengetahuan itu sendiri adalah mulia, maka guru sebagai orang yang mengajarkannya adalah memberikan kemuliaan bagi murid yang diajarkannya. Hal ini sejalan dengan yang dikatakan oleh Zainuddin yang mengatakan bahwa guru yang memiliki tugas mulia itu menduduki posotif-status terhormat dan mulia dengan kehormatan dan kemulian itu membawa konsekuensi logis bahwa pengajar lebih dari sekedar petugas gajian.53

b. Alasan yang berhubungan dengan kemanfaatan umum.

Al-Ghazali mengatakan: “orang yang mempunyai ilmu itu berada

dalam berikut: mencari faedah guna menuntut ilmu, mencari hasil pengetahuan sehingga ia tidak bertanya, dan memberikan wawasan

ilmu dan mengajarkannya”.54

Hal ini sejalan dengan perkataan Ali Saifuddin yang menyatakan pekerjaan guru adalah pekerjaan yang paling mulia, sesuai dengan filsafat hidupnya yang menjunjung tinggi nilai-nilai sikap pengabdiannya, yaitu pelayanan jasa pada masyarakat dan kemanusiaan.55 Begitu pula yang dijelaskan oleh Zainuddin bahwa barang siapa telah mencapai ilmu pengetahuan, kemudian ia dapat mengambil faedahnya selanjutnya diajarkan, maka ia laksana matahari yang bersinar dan menyinari lainnya. Ia adalah laksana kasturi yang dapat mengharumkan dan ia sendiri bau harum.56

Jadi dapat dimengerti bahwa al-Ghazali menjelaskan bahwa kemuliaan mengajar adalah memiliki dua segi kemanfaatan. Pertama bagi orang yang mengajarkan ilmu pengetahuan itu sendiri akan semakin bertambah pengetahuan dan pengalamannya, sehingga dapat mengambil manfaatnya dan mengambil ilmu pengetahuan sebaik-baiknya. Kedua bagi orang lain yang diberi ilmu pengetahuan, diajar dan dididik akan semakin bertambah pula pengetahuan dan

53 Ibid., h. 51. 54 Ibid., h. 52. 55

Sutari Imam Barnadib, Pengantar Ilmu Pendidikan, (Yogyakarta: Yayasan FIP IKIP, 1982), h. 40.

56

45

pengalamannya, sehingga dapat mengambil manfaat ilmu pengetahuan tersebut.

c. Alasan yang berhubungan dengan unsur yang dikerjakan.57

Al-Ghazali menyebutkan: “seorang guru adalah berurusan langsung

dengan hati dan jiwa manusia, dan wujud yang paling mulia di muka bumi ini adalah jenis manusia. Bagian paling mulia dari bagian-bagian (jauhar) tubuh manusia adalah hatinya, sedangkan guru adalah adalah bekerja menyempurnakan, membersihkan, dan membawakan hati itu

mendekatkan kepada Allah SWT”.58

Senada dengan al-Ghazali, Abuddin Nata menjelaskan bahwa guru dapat membersihkan diri orang lain dari segala perbuatan dan akhlak yang tercela. Sama halnya yang dikatakan Zainuddin bahwa seorang guru adalah orang yang menempati status mulia di muka bumi, ia mendidik jiwa, hati, akal dan roh manusia.59

Urian tersebut menjelaskan bahwa al-Ghazali lewat pengaruh logikanya menganggap posisi guru adalah orang yang paling mulia. Karena guru adalah seseorang yang bertugas membersihkan dan menyempurnakan hati murid-muridnya, yang dalam hal ini al-Ghazali menjelaskan bahwa hati adalah bagian paling mulia dari tubuh manusia. Manakala seoirang guru mampu bekerja secara optimal, yaitu membersihkan dan menyempurnakan hati anak didiknya, maka sudah sepatutnya seorang guru tersebut adalah makhluk yang termulia.

4. Tugas dan Kewajiban Guru

Al-Ghazali menjelaskan tentang tugas dan kewajiban seorang pendidik pada bagian khusus dari kitabnya yaitu “Ihya Ulum al-Din”dan

Mizan al-Amal” dengan pembahasan yang luas dan mendalam. Dapat

diuraikan sebagai berikut:

a. Mengikuti jejak Rasulullah dalam tugas dan kewajibannya.

Adapun syarat bagi seorang guru, maka ia layak menjadi ganti Rasulullah SAW, dialah sebenar-benarnya „alim (berilmu, intelektual).

57 Ibid., h. 50-53. 58 Ibid, h. 53. 59

46

Tetapi tidak pulalah tiap-tiap orang yang „alim itu layak menempati

kedudukan sebagai ganti Rasulullah SAW, itu. Kemudian al-Ghazali

berpendapat: “seorang guru hendaknya mengikuti ajaran Rasulullah

SAW, maka ia tidak pernah mencari upah, balas jasa dan ucapan terima kasih dalam mengajarkan ilmu pengetahuan. Tetapi maksud mengajar adalah mencari keridhoan Allah dan mendekatkan diri kepada-Nya”60 jadi, seharusnya seorang guru menilai tujuan dan tugas mengajarkan adalah karena mendekatkan diri kepada Allah semata-mata. Akan tetapi, jika hanya untuk memenuhi kebutuhan tidak apa, al-Ghazali melarang jika gaji itu untuk memperkaya diri dan menumpuk harta.

b. Memberikan kasih sayang terhadap peserta didik.

Al-Ghazali mengatakan “memberikan kasih sayang kepada murid

-murid dan memberlakuakan mereka seperti anaknya sendiri”.61

Dengan demikian seorang guru seharusnya menjadi pengganti dan wakil kedua orang tua anak didiknya, yaitu mencintai anak didiknya seperti memikirkan keadaan anaknya. Jadi, hubungan psikologis antara kedua orang tua dengan anaknya, seperti hubungan naluriah antara kedua orang tua dan ananya, sehingga hubungan timbal balik yang harmonis tersebut akan berpengaruh positif ke dalam proses pendidikan dan pengajaran c. Menjadi teladan terhadap anak didik

Al-Ghazali mengatakan “Seorang guru itu harus mengamalkan

ilmunya, lalu perkataannya jangan membohongi perbuatannya. Karena sesungguhnya ilmu itu dapat dilihat dengan mata hati. Sedangkan perbuatan dapat dilihat dengan mata kepala. Padahal yang mempunyai

mata kepala adalah lebih banyak”.62

Dapat dikatakan bahwa dasar-dasar yang dikemukakan al-Ghazali dalam pentingnya suri teladan terhadap anak didik, mempunyai relevansi dengan teori-teori pendidikan modern Indonesia.

d. Menghormati kode etik guru.

60 Zainuddin, dkk, op.cit…, h. 59. 61 Ibid., h. 61. 62 Ibid., h. 61-62..

47

Al-ghazali mengatakan “Seorang guru yang memegang salah satu

vak mata pelajaran, sebaiknya jangan menjelek-jelekan mata pelajaran

linnya dihadapan muridnya.”63

Gagasan al-Ghazali itu relevan dengan apa yang dilaksanakan pada dunia pendidikan (Indonesia) dewasa ini yaitu penyelenggaraan MKDU (Mata Kuliah Dasar Umum) di perguruan tinggi khususnya, yang diberikan pada setiap mahasiswa dari jurusan dan program pendidikan apapun yang arahnya adalah adanya saling menghargai dan menghormati antar disiplin ilmu profesi.

Pandangan al-Ghazali tersebut dalam dunia pendidikan sekarang dikembangkan menjadi kode etik pendidikan dalam arti yang luas, misalnya hubungan guru dengan jabatan. Dengan demikian, maka tugas guru adalah mendidik dan mengajar, yang bertujuan untuk mengubah tingkah laku anak ke arah tujuan pendidikan yang dicita-citakan. Maka gurulah yang betanggung jawab menyediakan dan menciptakan lingkungan yang asri, nyaman dan menyenangkan agar terjadi proses belajar yang efektif.

5. Akhlak Guru yang Ideal

Kriteria kepribadian guru dipandang sangat penting oleh sebab tugas guru bukan saja melaksanakan pendidikan, ia juga dituntut dapat memperbaiki pendidikan yang telah terlanjur salah diterima anak

sekaligus mengadakan „re-education and reconstruction of personality”.

Yaitu seorang guru harus menjadi pembaharu dalam pembelajaran yang selama ini salah diterima anak didiknya, serta berusaha untuk memperbaiki dirinya juga muridnya agar menjadi pribadi yang kuat. a. Kepribadian guru

Al-Ghazali menjelaskan kepribadian guru yang ideal diantaranya: 1) Sabar menerima masalah-masalah yang ditanyakan murid dan

harus diterima baik.

2) Senantiasa harus bersifat kasih tidak pilih kasih.

63

48

3) Jika duduk harus sopan dan tunduk, tidak riya/pamer.

4) Tidak takabur, kecuali terhadap orang yang zalim, dengan maksud mencegah dari tindakannya.

5) Bersikap tawadhu dalam pertemuan-pertemuan. 6) Sikap dan pembicaraannya tidak main-main.

7) Menanam sifat bersahabat di dalam hatinya terhadap semua murid-muridnya.

8) Menyantuni serta tidak membentak-bentak orang bodoh. 9) Membimbing dan mendidik murid yang bodoh dengan cara

sebaik-baiknya.

10)Berani berkata: saya tidak tahu, terhadap masalah-masalah yang tidak dimengerti.

11)Menampilkan hujjah yang benar. Apabila ia berada dalam hak

yang salah, bersedia ruju’ kepada kebenaran.64

Dapat disimpulkan dari pemaparan al-Ghazali, dapat diklasifikasikan kepribadian guru terbagi tiga aspek. Pertama, tabiat dan prilaku pendidik, yaitu sabar menerima masalah-masalah yang ditanyakan murid dan harus diterima baik, senantiasa harus bersifat kasih tidak pilih kasih, jika duduk harus sopan dan tunduk, tidak riya/pamer, tidak takabur, kecuali terhadap orang zalim, dengan maksud mencegah dari tindakannya, dan bersikap tawadhu dalam pertemuan-pertemuan.

Ibnu Jama’ah mengatakan bahwa:

Seorang guru harus menghiasi dirinya dengan akhlak yang diharuskan sebagai seorang yang beragama atau sebagai seorang mukmin. Akhlak yang diharuskan atau terpuji tersebut adalah rendah hati, khusyu, tawadhu, dan berserah diri kepada Allah SWT. mendekatkan diri kepada-Nya, baik dalam keadaan terang-terangan maupun tersembunyi, selain itu juga harus bersikap zuhud dan qanaah. Dalam kaitan ini seorang guru harus menyedikitkan makan dan bersikap sederhana dalam berpakaian, sesuai dengan kadar kebutuhan pokok,

64

49

yaitu mengambil dunia sekedar untuk mencukupi dirinya dan keluarga.65

Selain itu menurut Ibnu Jama’ah: “seorang guru harus mempunyai

kepribadian agamis, artinya memlihara dan menegakkan syariat Islam, termasuk hal-hal yang disunahkan menurut syariat baik ucapan maupun perbuatan, seperti membaca al-Qur’an, mengingat Allah baik dengan hati

maupun dengan lisan dan menjaga keagungan Nabi ketika disebutkan

namanya”.66

Pendapat al-Ghazali juga seperti diungkapkan Majdah Hanusi Saruji yakni:

Akhlak pribadi guru adalah ia berniat dalam mengajar untuk mencapai keridhaan Allah, bukan untuk tujuan yang bersifat duniawi, seperti memperoleh harta benda, kegagahan, ketenaran, atau menjadi kelompok elit yang berbeda dengan orang lain pada umumnya. Berakhlak yang baik sesuai dengan ketentuan syara’, menjauhkan diri

dari sifat hasud, riya, merasa besar diri merendahkan orang lain yang tidak sederajat, memelihara ilmu dari kemungkinan hilang atau tercemar dengan perbuatan buruk.67

Begitu pula yang dijelaskan Abuddin Nata bahwa seorang guru harus memiliki syarat keagamaan, yaitu patuh dan tunduk melaksanakan syariat Islam, lalu senantiasa berakhlak yang mulia yang dihasilkan dari pelaksanaan syariat tersebut.68 Kemudian kesimpulan dari pemaparan al-Ghazali tentang kepribadian guru yang ideal yang kedua, keteraampilan

mengajar serta perhatian terhadap proses belajar mengajar yakni sikap

dan pembicaraannya tidak main-main, menanam sifat bersahabat di dalam hatinya terhadap semua murid-muridnya, menyantuni serta tidak membentak-bentak orang bodoh dan memebimbing dan mendidik murid yang bodoh dengan cara yang sebaik-baiknya. Senada perkataan Ibnu Khaldun:

65

Abd al-Amir Syams al-Din, al-Mazhab al-Tarbawi ‘ind Ibnu Jama’ah, (Beirut: Dar Iqra, 1404 H/1984 M), h. 23.

66

Ibid., h. 20.

67

Majdah Hanusy Saruji, Thuruq al-Ta’lim fi Allah Islam, (Israel: Syifa Amaru

al-Ma’arif al-Tsaqafi, tt) , cet II, h. 50.

68

50

Seorang guru harus mengajar secara bertahap, mengulang-ulang sesuai dengan pokok pembahasan dan kesanggupan murid, tidak memaksakan atau membunuh daya nalar siswa, tidak berpindah satu topik ke topik lain, sebelum topik petama dikuasai, tidak memandang kelupaan sebagai sebagai suatu aib, tetapi agar mengatasinya dengan jalan mengulang, jangan bersikap keras kepada murid. Seorang guru juga harus membiasakan diskusi dan tukar pikiran dengan murid, memilih bidang kajian yang disukai murid, mendekatkan murid pada pencapaian tujuan, memperlihatkan tingkat kesanggupan murid dan menolongnya agar murid tersebut memahami pelajaran.69

Abuddin Nata mengatakan bahwa kepribadian guru bersifat komprehensif karena mencakup hampir semua masalah yang perlu dikuasai guru, yaitu dari hal motivasi mengajar, perlakuan demokratis dan manusiawi terhadap siswa, teknik dan urutan penyampaian mata pelajaran, memotivasi siswa, teknik memberikan pertanyaan serta etika memulai mengajar.70 Kemudian kesimpulan ketiga, sikap ilmiah dan

cinta terhadap kebenaran yaitu barni berkata : “saya tidak tahu”,

terhadap masalah-masalah yang tidak dimengerti dan menampilkan hujjah yang benar. Hampir sama dengan Abdullah Badran yang

Dokumen terkait