HASIL PENELITIAN
A. Pendidikan Akhlak Menurut Al-Ghazali
a. Arti Pendidikan Akhlak
Al-Ghazali adalah salah satu ulama yang banyak memberikan perhatian dan penelitian dalam ilmu akhlak, sehingga hampir dalam kitab-kitab yang dikarangnya selalu ada hubungannya dengan materi pendidikan akhlak, seperti kitab Ihya’ Ulumu al-Din atau Mizan al-Amal. Berbicara tentang pendidikan akhlak sama dengan berbicara tentang tujuan pendidikan, karena banyak sekali dijumpai pendapat para ahli yang mengatakan bahwa tujuan pendidikan adalah pembentukan akhlak. Al-Ghazali mengatakan bahwa tujuan utama pendidikan adalah pembentukan akhlak, sebagaimana al-Ghazali katakan dalam kitab Mizan al-Amal: yang dikutip dan diterjamahkan oleh Zaenuddin, dkk “tujuan murid dalam
mempelajari segala ilmu pengetahuan pada masa sekarang, adalah
kesempurnaan dan keutamaan jiwanya”.1
Pendapat al-Ghazali didukung Athiyah Abrasyi yang mengatakan bahwa pendidikan budi pekerti dan akhlak adalah jiwa dan tujuan pendidikan Islam.2 Demikian pula Ahmad D. Marimba berpendapat bahwa tujuan utama pendidikan Islam adalah identik dengan tujuan hidup setiap muslim, yaitu untuk menjadi hamba Allah, yaitu hamba yang percaya dan menyerahkan diri kepada-Nya dengan memeluk agama Islam.3 Senada dengan hal itu Sikun Pribadi mengatakan bahwa: “Psycho-Hygiene sebagai satu aspek daripada tujuan pendidikan. Psycho-Hygiene atau kesehatan jiwa merupakan suatu kondisi yang mutlak untuk produktif, kreatif dan
1
Zainuddin, dkk, Seluk BelukPendidikan dari al-Ghazali, (Jakarta: Bumi aksara, 1991), cet.1, h. 44.
2
Muhammad Athiyah al-Abrasyi, Dasar-dasar Pokok pendidikan Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1974), cet. II, h. 15.
3
Ahmad D. Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung, al-Ma’arif,
30
progresif. Sebab sebelum kondisi itu terjadi kita tidak akan memperoleh manusia yang dapat melaksanakan segala cita-cita yang luhur”.4
Selain itu,
Mahmud Yunus mengatakan”tugas yang pertama dan terutama yang
terpikul atas pundak alim ulama, guru agama dan pemimpin Islam ialah mendidik anak-anak, para pemuda, putra-putri, orang-orang dan masyarakat umumnya supaya semuanya itu berakhlak mulia dan berbudi
pekerti yang halus”.5
Jadi dapat dipahami bahwa pendidikan akhlak menurut al-Ghazali pada hakikatnya adalah tujuan utama pendidikan itu sendiri, karena akhlak adalah aspek fundamental dalam kehidupan seseorang, masyarakat maupun suatu Negara. Menurut al-Ghazali akhlak adalah hasil dari pendidikan, latihan, pembinaan dan perjuangan keras dan sungguh-sungguh. Sebagaimana al-Ghazali katakan “seandainya akhlak itu tidak
menerima perubahan, maka batallah fungsi wasiat, nasihat, dan pendidikan
dan tidak pula fungsinya hadis nabi yang mengatakan “perbaiki akhlak
sekalian”.6
Sebagaimana dijelaskan dalam al-Qur’an surat ar-Ra’ad (13)
ayat 11:
Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya
bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila
4
Sutari Imam Barnadib, Pengantar Ilmu Pendidikan, (Yogyakarta: Yayasan FIP IKIP, 1982), h.56.
5
Mahmud Yunus, Pokok-pokok Pendidikan dan Pengajaran, (Jakarta: Hida Karya Agung,1978), h. 12.
6
31
Allah menghendaki keburukan terhadapa suatu kaum, maka tidak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain dia.7
Hal ini sejalan dengan pemikiran Ibnu Miskawaih dalam pembahasan akhlak (karakter/watak). Menurutnya watak itu adalah yang bersifat alami dan ada watak yang diperoleh melalui kebiasaan atau latihan. Kedua watak terseebut menurut Ibnu Miskawaih bahwa watak itu hakikatnya tidak alami, walaupun kita diciptakan dengan menenrima watak, akan tetapi watak tersebut dapat diusahakan melalui pendidikan dan pengajaran.8 Sama halnya dengan yang dikatakan Abuddin Nata bahwa pembentukan atau pendidikan akhlak diartikan sebagai usaha sungguh-sungguh dalam rangka membentuk anak, dengan menggunakan sarana pendidikan dan pembinaan yang terprogram dengan baik dan dilaksanakan dengan sungguh-sungguh dan konsisten.9
Pendapat al-Ghazali berbeda dengan Nativisme yang dipelopori oleh Arthur Schopenhauer (1778-1860), dari Jerman. Beliau mengatakan bahwa bakat mempunyai peranan penting. Tidak ada gunanya orang mendidik kalau bakat anak memang jelek. Sehingga pendidikan
diumpamakan „merubah emas jadi perak’ jadi suatu hal yang tidak
mungkin. Dengan demikian faktor lingkungan dan pendidikan menurut aliran ini tidak bisa berbuat apa-apa dalam mempengaruhi perkembangan seseorang. dalam pendidikan ilmu aliran ini dikenal sebagai aliran
Pedagogik Pesivisme yaitu pendidikan yang tidak dapat dipengaruhi
perkembangan anak ke arah kedewasaan yang dikehendaki oleh pendidik.10
Senada dengan aliran empirisme dipelopori oleh John Locke (1632-1704). Beliau mengatakan bahwa pendidikanitu perlu sekali. Teori ini dikenal dengan teori tabularasa. Menurut teori ini lingkunganlah yang
7
Kementrian Agama RI, al-Qur’an dan Terjamah,(Jakarta:Karya Mulya, 2012),h.337. 8
Ibnu Miskawaih, Tahdzib al akhlak wa Tathhir al-A’raq, (Beirut: Mansyurrah Dar al-Maktabah al-Hayat, 1398 H), h. 25.
9
Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1997), h. 156. 10
32
menjadi penentu pekembangan seseorang. karena baik buruknya perkembangan pribadi seseorang sepenuhnya ditentukan oleh lingkungan atau pendidikan. Berbeda dengan aliran Nativisme, para ahliyang
mengikuti aliran „Empirisme’ berpendapat bahwa perkembangan itu
sepenuhnya ditentukan oleh faktor lingkungan/pendidikan sedangkan faktor dasar/pembawaaan tidak berpengaruh sama sekali.11
Pendapat al-Ghazali sejalan dengan aliran konvergensi dipelopori oleh William Stem (1871-1938). Aliran ini mengakui kedua-duanya. Jadi pendidikan itu perlu sekali, tetapi semua ini terbatas karena bakat daripada anak didik. Aliran ini menjembatani atau memenengahi kedua teori sebelumnya yang bersifat ekstrim yaitu teori Nativisme, sesuai dengan namanya Konvergensi yang artinya perpaduan, maka berarti teori ini tidak memihak bahkan memadukan pengaruh kedua unsur pembawaan dan lingkungan tersebut dalam proses perkembangan.12
Dengan penjelasan tersebut dapat dimengerti bahwa al-Ghazali berpendapat bahwa pendidikan akhlak itu sangat diperlukan, karena akhlak seseorang dapat dirubah dengan jalan pendidikan dan pembinaan yang dilakukan oleh orang tua, guru ataupun lembaga pendidikan. Secara tidak langsung, al-Ghazali tidak sependapat dengan aliran nativisme yang mengatakan bahwa akhlak itu tidak perlu dibentuk karena akhlak adalah
instinct (garizah) yang dibawa sejak lahir, sehingga orang yang bakatnya
pendek misalnya tidak dapat dengan sendirinya meninggikan dirinya, demikian pula sebaliknya.
b. Sistem Pendidikan Akhlak
Perhatian Islam terhadap pendidikan akhlak dapat pula dilihat terhadap pembinaan jiwa yang harus didahulukan daripada pembinaan fisik, karena dari jiwa yang baik inilah akan lahir perbuatan-perbuatan
11
Alifus Sabri, Pengembangan Psikologi Umum dan Perkembangan, (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1993), cet. I, h. 173.
12
33
yang baik yang pada tahap selanjutnya akan mempermudah menghasilkan kebaikan dan kebahagian pada seluruh kehidupan manusia.13
Hal ini sejalan dengan Yatimin Abdullah, yang mengatakan bahwa pendidikan akhlak Islam diartikan sebagai latihan mental dan fisik yang menghasilkan manusia berbudaya tinggi untuk melaksanakan tugas kewajiban dan tanggung jawab dalam masyarakat selaku hamba Allah.14 Sistem pendidikan akhlak menurut al-Ghazali terbagi dua yaitu pendidikan non formal dan formal, al-Ghazali berkata:
Pendidikan akhlak ini, berawal dari non formal dalam lingkup keluarga, mulai pemeliharaan dan makanan yang dikonsumsi. Selanjutnya, bila anak telah mulai Nampak daya khayalnya untuk membeda-bedakan sesuatu (tamyiz), maka perlu diarahkan kepada hal positif. Al-ghazali juga menganjurkan metode cerita (hikayat), dan keteladanan (uswah al-hasanah). Anak juga perlu dibiasakan melakukan sesuatu yang baik. Di samping itu, pergaulan anakpun perlu diperhatikan, karena pergaulan dan lingkungan itu memiliki andil sangat besar dalam pembentukan kepribadian anak-anak. yang kedua yaitu pendidikan formal, bila anak sudah mencapai usia sekolah, maka kewajiban orang tua adalah menyekolahkan ke sekolah yang baik, dimanaia diajarkan al-Qur’an, hadits dan hal-hal yang bermanfaat. Anak perlu dijaga agar tidak terperosok kepada yang jelek, dengan pujian dan ganjaran (reward). Jika anak itu melakukan kesalahan, jangan dibukakan didepan umum. Bila terulang lagi, diberi ancaman dan sanksi yang lebih berat dari yang semestinya. Anak juga punya hak istirahat dan bermain, tetapi permainan adalah yang mendidik, selain sebagai hiburan anak.15 Yatimin Abdullah mengatakan bahwa pendidikan akhlak Islam merupakan suatu proses mendidik, memelihara, membentuk dan memberikan latihan mengenai akhlak dan kecerdasan berfikir baik yang bersifat formal maupun informal yang didasarkan pada ajaran-ajaran Islam.16 Perhatian al-Ghazali terhadap faktor makanan baik orangtua atau anak merupakan hal menarik. Ini menurutnya akan menjadi gen baik dan
13
Muhammad al-Ghazali, Akhlak Seorang Muslim, Ter. Moh. Rifa’i dari judul asli Khluk al-Muslim, (Semarang: Wicaksana, 1993), h. 13.
14
Yatimin Abdullah, Studi Akhlak dalam Perspektif al-Qur’an, (Jakarta: Mizan, 2007), h. 22.
15
Al-Ghazali, Ihya’ Ulumu al-din, (Kairo: Daar al-Takwa, 2000), h. 624-627.
16
34
buruk bagi perkembangan generasi. Demikian pula pendidikan di rumah serta pergulan. Dalam kontek ini al-Ghazali setuju dengan aliran konvergensi yang menyatakan pendidikan ditentukan oleh titik temu faktor pembawaan anak dan pendidikan yang dibuat secara khusus atau melalui interaksi dalam lingkungan sosial. Fitrah dan kecenderungan ke arah yang baik yang ada dalam diri manusia dibina secara intensif melalui berbagai metode.17
c. Tujuan Pendidikan Akhlak
Al-Ghazali menjelaskan yang disebut dengan al-sa’adah yaitu
mampu hidup dengan baik di dunia dan bahagia di akhirat. Tujuan ini dapat dicapai kalau dalam kehidupan manusia ada satu nilai baik (al-khair) atau nilai tambah (al-fhadail), oleh al-Ghazali dibagi menjadi tiga macam, yaitu:
a. Nilai intelektual dan sikap moral yang meliputi ilmu pengetahuan, hikmah, kebijaksanaan, kesucian, sifat-sifat baik, keberanian, moral, dan cinta keadilan.
b. Nilai fisik dan energi yang meliputi kesehatan jasmani dan rohani, kemampuan psikis, ketampanan, dan kecantikan serta umur panjang.
c. Nilai tambah yang bersifat spiritual berupa hidayah Allah SWT, petunjuk kebenaran-Nya serta perlindungan-Nya.18 Senada yang dikatakan Ibnu Miskawaih, tujuan pendidikan akhlak adalah terwujudnya sikap batin yang mampu mendorong melakukan perbuatan yang benilai baik atau pribadi susila, sehingga akan memperoleh kebahagian disisi Allah di akhirat kelak dan hidup dengan prilaku yang baik di dunia. Dengan begitu diharapkan akan memperoleh kebahagian (al-sa’adah).19
Pendapat al-Ghazali ini tidak berbeda dengan
17
Arifin, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1991), cet. 1, h. 113.
18
Mahjuddin, Konsep Pendidikan Akhlak dalam al-Qur’an dan Petunjuk Penerapannya
Dalam Hadis, (Jakarta: Kalam Mulia, 2000), cet. 1, h. 5.
19
Busyairi Majidi, Konsep Pendidikan Para Filosof Muslim, (Yogyakarta: al-Amin press, 1997), h. 70.
35
Abdul Hak Ansari yang mengatakan “al-sa’adah” merupakan konsep
komprehensif yang di dalamnya terkandung unsur kebahagian (happiness), kemakmuran (prosperity), keberhasilan (success), kesempurnaan
(perpection), kesenangan (blessedness), dan kecantikan (beautifulness)”.20
Sama halnya yang dikatakan Abuddin Nata bahwa tujuan pendidikan akhlak akan membawa kebahagian bagi individu dan masyarakat pada umumnya, juga kebahagian hidup di dunia dan akhirat.21 Dari penjelasan tersebut, al-Ghazali menyatakan bahwa tujuan dari pendidikan akhlak adalah al-sa’adah yaitu kebahagian di dunia dan akhirat, bahwa individu yang memiliki akhlak yang baik akan mendapat kebahagian di dunia maupun di akhirat. Dan untuk mencapai kebahagian tersebut, individu tersebut harus memiliki tiga hal dalam dirinya yaitu nilai intelektual dan moral, nilai fisik dan energi serta nilai tambah yang berasal dari Allah SWT.
d. Metode Pendidikan Akhlak
Perhatian Islam dalam pendidikan akhlak dapat dianalisis pada muatan akhlak yang terdapat pada seluruh aspek ajaran Islam. Hasil analisis al-Ghazali terhadap rukun Islam yang lima telah menunjukkan dengan jelas, bahwa dalam rukun Islam yang lima itu terkandung konsep pendidikan akhlak. Seperti rukun Islam yang ketiga yaitu zakat, yang mengandung pendidikan akhlak, yaitu agar orang yang melaksanakan zakat membersihkan dirinya dari sifat kikir, dan membersihkan hartanya dari hak orang lain. Al-Ghazali mengatakan bahwa hakikat zakat adalah membersihkan jiwa dan mengangkat derajat manusia ke jenjang yang lebih mulia.22 Hal ini sejalan dengan yang dikatakan Abuddin Nata pendidikan akhlak yang ditempuh Islam adalah menggunakan cara atau sistem yang
20
Abuddin Nata,Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam, (Jakarta:PT. Raja Grafindo Persada, 2000), h. 11-12.
21
Abuddin Nata, op.cit., h. 170-171.
22
Muhammad al-Ghazali, Akhlak Seorang Muslim,terj. Moh. Rifa’i dari judul asli Khluk
36
integrated, yaitu sistem yang menggunakan berbagai sarana peribadatan
dan lainnya secara simultan untuk diarahkan pada pembinaan akhlak.23 Al-Ghazali mengemukakan metode mendidik akhlak dengan mencontoh, latihan, pembiasaan (drill) kemudian anjuran dan larangan sebagai alat pendidikan dalam rangka membina anak sesuai dengan ajaran Islam. Proses pembentukan kepribadian ini berlangsung secara perlahan dan berkembang sehingga merupakan proses menuju kesempurnaan.
A. Metode pembiasaan
Dalam hal ini al-Ghazali mengatakan:
Apbila anak dibiasakanuntuk mengamalkan apa-apa yang baik, dibeeri pendidikan kearah itu, pastilah ia akan tumbuh diatas kebaikan tadi akibat positifnya ia akan selamat sentosa di dunia dan akhirat. Kedua orang tuanya dan semua pendidik, pengajar serta pengasuhnya ikut serta memperoleh pahalanya. Sebaliknya jika anak itu sejak kecil sudah dibiasakan mengerjakan keburukan dan dibiarkan begitu saja tanpa dihiraukan pendidikan dan pengajarannya, yakni sebagaimana seseorang yang memelihara binatang, maka akibatnya anak itupun akan celaka dan rusak binasa akhlaknya, sedang dosanya yang utama tentulah dipikulkan kepada orang (orang tua, pendidik) yang bertanggung jawab untuk memelihara dan mengasuhnya.24
Berkenaan dengan ini al-Ghazali mengatakan bahwa kepribadian manusia pada dasarnya dapat menerima segala usaha pembentukan melalui pembiasaaan. Jika manusia membiasakan berbuat jahat, menganjurkan agar akhlak diajarkan, yaitu dengan cara melatih kepada pekerjaan atau tingkah laku yang mulia. Jika seseorang menghendaki agar ia menjadi pemurah, maka ia harus dibiasakan dirinya melakukan pekerjaan yang bersifat pemurah, hingga murah hati dan murah tangan
itu menjadi tabi’atnya yang mendarah daging.25
B. Metode keteladanan
23
Abuddin Nata, op.cit., h. 162.
24
Zainuddin, dkk, Seluk Beluk Pendidikan…, h. 107.
25
Imam al-Ghazali, Kitab al-Arbain fi Ushul al-Din, (Kairo: Maktabah al-Hindi, t.t), h. 99, lihat pula Asamaran. AS, Pengantar Studi Akhlak, (Jakarta: Rajawali Pers, 1992), cet. II, h. 162-163.
37
Al-Ghazali mengatakan: “Akhlak yang baik baik tidak dapat
dibentuk dengan pelajaran, intruksi dan larangan, sebab tabiat jiwa untuk menerima keutamaan itu tidak cukup hanya dengan seorang guru mengatakan kerjakan ini dan kerjakan itu. Menanamkan sopan santun memerlukan pendidikan yang panjang dan harus ada pendekatan yang lestari. Pendidikan itu tidaka akan sukses, melainkan jika disertai dengan
pemberian contoh teladan yang baik dan nyata”.26
C. Metode Latihan (Drill)
Al-Ghazali berkata:
Jikalau anak itu sudah mencapai usia antara tujuh tahun hingga sepuluh tahun pada saat itu tentulah ia sudah dapat disebut tamyiz yakni dapat membedakan antara sesuatu yang baik dan buruk, maka janganlah sekali-kali anak itu diberi kesempatan atau diizinkan meninggalkan beersuci secara agama dan lebih-lebih lagi shalat. Dalam bulan Ramadhan hendaklah ia diperintahkan puasa dengan cara yang baik, tentu saja sebagai latihan bolehlah beberapa hari dulu dan tahun berikutnya ditambah lagi sehingga akhirnya berpuasa penuh selama sebulan.27
D. Metode Anjuran dan Larangan
Al-Ghazali mengatakan: “Dan janganlah anak itu diperkenalkan
biasa berludah di tempat yang bukan semestinya, yakni dimana saja ia berada di situlah ia berludah dengan semaunya, jangan pula beringus dengan menguap tanpa menutupi mulutnya di hadapan orang lain, tidak
baik pula kialau ia membelakangi orang lain”.28
Menurut al-Ghazali ada dua cara dalam mendidik akhlak, yaitu mujahadah dan membiasakan latihan dengan amal shaleh. Kedua, perbuatan itu dikerjakan dengan di ulang-ulang. Selain itu juga ditempuh dengan memohon karuni Allah dan sempurnanya fitrah (kejadian), agar nafsu sahwat dan amarah itu dijadikan lurus, patuh kepada akal dan agama. Lalu jadilah orang itu
berilmu (a’lim) tanpa belajar, terdidik tanpa pendidikan, ilmu itu disebut
26
Muhammad al-Ghazali, Akhlak Seorang Muslim, Terj. Moh. Rifa’i dari judul asli
Khulukal-Muslim, (Semarang: Wicaksana, 1993), h. 16.
27
Zainuddin, op.cit, h. 116. 28
38
juga dengan ladunniah. 29 Kedua, akhlak tersebut diusahakan dengan
mujahadah dan riyadhah, yaitu dengan membawa diri kepada
perbuatan-perbuatan yang dikehendaki oleh akhlak tersebut. Singkatnya, berubah dengan pendidikan latihan.30
Begitu terincinya penjelasan al-Ghazali tentanng metode pendidikan akhlak al-Ghazali mengatakan bahwa pendidikan akhlak telah tercermin di seluruh aspek ibadah dalam rukun Islam. Secara tidak langsung ibadah-ibadah tersebut telah mendidik mereka yang melaksanakannya menjadi pribadi-pribadi yang baik dan bahagia. Selanjutnya al-Ghazali memaparkan metode-metode untuk mendidik akhlak diantaranya metode pembiasaan, metode latihan, metode keteladanan, metode anjuran dan larangan. Selain itu pendidikan akhlak juga dapat dilakukan dengan cara mujahadah dan pembiasaan untuk berbuat baik atau dengan cara mujahadah dan riyadhoh.