• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kriteria Desain Pembelajaran

Dalam dokumen PROFIL PENULIS (Halaman 193-198)

DESAIN PEMBELAJARAN

B. Kriteria Desain Pembelajaran

Dalam mendesain pelajaran bukanlah suatu pekerjaan yang dilakukan secara tiba-tiba, dan bukan pula suatu perencanaan tanpa posedur sistematis, melainkan harus merujuk pada model-model

desain yang memeiliki karakteristik yang jelas. Bagaimanapun bentuk dan modelnya suatu desain pembelajaran, karakteristik utama dapat diklasifikasikan kedalam enam bagian yakni; 1) berpusat pada siswa (student centered), 2) Berorientasi pada tujuan (goal oriented), 3) terfokus pada pengembangan dan peningkatan kinerja (focuses on meaningful performance), 4) hasil belajar harus bias di ukur dengan cara yang valid dan terpercaya (assumes outcomes can be measured in a realible and valid way), 5) empiris, berulang, dapat dikoreksi sendiri (enperical, iteratif, and self correction),and 6) usaha bersama (a team offort).

1. Desain Pembelajaran Berpusat Pada Siswa

Desain pembelajaran dirancang untuk memudahkan siswa dalam belajar, maka dari itu seharusnya mempertimbangkan suatu pendekatan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik, dimana peserta didiklah yang mempengaruhi dalam hal konten, aktivitas, materi maupun fase belajar. Pendekatan ini memposisikan peserta didik pada pusat proses belajar. Pendidik hanya membimbing dan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk belajar secara independen dan membantu antara satu dengan yang lainnya, serta melatih mereka dengan memperhatikan keterampilan yang dibutuhkan untuk berbuat secara efektif.

Pendekatan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik mencangkup berbagai teknik, seperti metode yang bervariasi dengan menerapkan model model pembelajaran agar siswa lebih aktif dalam belajar dan mampu meningkatkan berpikir tingkat tinggi.

Implementasi pendekatan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik secara tepat akan membawa dampak pada meninggkatanya motivasi belajar, semakin menguat daya pemahaman, semakin mendalam pengertian terhadap ilmu pengetahuan yang dipelajari, dan semakin positif sikap peserta didik terhadap mata pelajaran yang diajarkan.

Belajar aktif dapat menjangkau pikiran, melibatkan asimilasi organic yang dimulai dari dalam. Kita mengambil posisi untuk berada pada pihak anak dan juga berangkat darinya. Yang perlu dipelajari itu adalah anak, bukan mata pelajaran yang menentukan kualitas dan kuantitas belajar.

2. Desain Pembelajaran Berorientsasi Tujuan

Merancang pembelajaran dengan menyajikan tujuan secara akurat merupakan titik sentral dalam proses desain pembelajaran.

Tujuan harus menjadi dasar, terutama dalam mengembangkan materi, strategi, dan metode pembelajaran, media, dan evaluasi. Desain pembelajaran yang tidak menjadikan tujuan sebagai inti pengembangan dapat mengakibatkan pelaksanaan pembelajaran yang tidak sistematis, sistemik, dan cenderung parsial, dan tidak lengkap.

Tujuan pembelajaran meliputi lima kemampuan seperti yang disebutkan oleh Gagne, seperti; 1) informasi verbal, 2) kemampuan intelektual, 3) kemampuan kognitif, 4) sikap dan 5) keterampilan motorik. Tujuan pembelajaran juga dapat diarahkan pada jenis-jenis kemampuan dalam taksonomi Blom yang meliputi tiga ranah; kognisi, afektif, dan psikomotorik, atau empat ranah yang pernah ditonjolkan Dewantara dengan istilah berpikir, perasaan, dan hati. Singkatnya, apapun bentuk kemampuan yang diinginkan, desain pembelajaran harus fokus pada tujuan pembelajaran.

3. Desain Pembelajran Terfokus Pada Pengembangan atau Perbaikan Kinerja Peserta Didik

Rancangan harus diarahkan pada upaya perbaikan yang berarti tindakan untuk meningkatkan atau membuat lebih baik dari segi kualitas, nilai, atau kegunaan. Untuk meningkatkan berarti mampu membuat sesuatu yang kredibel (dapat dipercaya) untuk menawarkan beberapa manfaat yang diterima secara umum. Memperbaiki juga

berarti mempersiapkan sarana yang jauh lebih unggul dari yang biasa untuk mencapai suatu tujuan yang berharga.

Kinerja dalam merancang pembelajaran tidak mengacu pada dua komponen utama: pertama, desain pembelajaran yang digunakan untuk memfasilitasi siswa dalam memperoleh pengetahuan dan menggunakan atau menerapkan pengetahuan dan kemampuan baru yang diperoleh. Kedua, desain pembelajaran dapat mengakomodasi dan mengembangkan kinerja siswa dalam upaya menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Artinya, daripada sekadar mengingatkan informasi dan menghafal komponen penting dari segala sesuatu yang dipelajari, desain pembelajaran berfokus pada penyediaan kemampuan siswa untuk melakukan sesuatu yang bermakna dengan menunjukkan kemampuan perilaku yang lebih kompleks, termasuk dalam memecahkan berbagai masalah belajar yang dihadapi. Desain pembelajaran harus dapat mendorong terciptanya keserasian antara lingkungan belajar dengan situasi dimana kemampuan dapat didemonstrasikan.

4. Desain Pembelajran Mengarahkan Hasil Belajar Yang Dapat Diukur Melalui Cara Yang Valid Dan Dapat Dipercaya

Mengembangkan instrumen pengukuran hasil belajar yang valid dan reliabel tentu menjadi harapan semua pendidik. Namun kesalahan pengukuran sering terjadi karena tidak mencakup aspek yang diukur atau dapat mengembangkan suatu instrumen yang sesuai dengan objek yang diukur. Jika objeknya adalah tanggapan dan pandangan siswa tentang pelaksanaan pembelajaran, maka instrumen yang dibuat adalah wawancara yang mencakup berbagai aspek yang berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran mulai dari kegiatan pendahuluan, kegiatan inti hingga kegiatan penutup, dan kegiatan tindak lanjut.

Jika instrumen yang dikembangkan berupa tes, multiplechoise, atau tes essay atau matchmaking, maka target kinerja yang diukur

tidak valid, apalagi jika diukur dengan reliabilitas. Kecuali aspek yang diukur adalah pemahaman pembelajaran atau penguasaan materi pembelajaran, maka tes (pre-test dan post-test) merupakan instrumen yang cocok untuk dikembangkan.

5. Desain pembelajaran bersifat empiris, berulang, dan dapat dikoreksi sendiri.

Data adalah jantung dari proses desain pembelajaran.

Pengumpulan data dimulai dari analisis awal dan berlanjut hingga tahap implementasi. Misalnya, pada tahap analisis, data dapat dikumpulkan sehingga dapat dibandingkan apa yang telah dipahami siswa dengan apa yang perlu dipahami. Bimbingan dan umpan balik dari ahli materi pelajaran menentukan kesesuaian dan relevansi keterampilan dan pengetahuan yang akan diajarkan. Hasil penelitian dan pengalaman awal mengarahkan pemilihan strategi dan media pembelajaran.

6. Desain Pembelajaran Adalah Upaya Tim

Memang tidak menutup kemungkinan desain pembelajaran dapat dilakukan sendiri, baik dalam menyediakan sumber, kerangka, maupun mampu memilih dan mengembangkan media, materi, dan metode yang digunakan. Namun keterlibatan pihak lain dalam sebuah tim sangat dibutuhkan karena pada hakekatnya sebuah proyek desain merupakan upaya bersama dalam upaya menciptakan produk yang lebih baik.

Dalam hal area, ruang lingkup, dan kompleksitas teknis, sebagian besar proyek desain instruksional memerlukan keterampilan khusus dari individu. Minimal, sebuah tim terdiri dari ahli konten mata pelajaran/kursus, pengembangan pembelajaran, satu atau lebih personel produksi, personel pendukung spesialis, dan manajer proyek.

Terkadang satu individu mengambil lebih banyak peran daripada individu lain dalam sebuah tim, tetapi proyek yang lebih besar tanpa

kecuali membutuhkan lebih banyak spesialis. Misalnya, proyek teknologi tinggi, membutuhkan programmer komputer, videografer, editor. Seni grafis, dan pengembangnya.

Dalam dokumen PROFIL PENULIS (Halaman 193-198)