• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

3.5. Kriteria Inklusi dan Eksklusi

3.5.2. Kriteria Eksklusi

 Data rekam medis yang tidak lengkap

3.6 DEFINISI OPERASIONAL

1. Karsinoma nasofaring adalah tumor ganas yang terletak di daerah kepala dan leher dan berasal dari sel epitel.

2. Golongan darah adalah suatu tipe darah yang berbeda maupun sama yang terdapat pada setiap individu yang diperoleh dari hasil tes golongan darah.

3. Jenis kelamin sesuai dengan yang tercatat pada rekam medis yaitu : A. Pria

B. Wanita

4. Umur adalah usia yang dimiliki setiap individu yang dihitung mulai kelahiran. Umur penderita karsinoma nasofaring sesuai dengan yang tercatat pada rekam medis, dikelompokkan atas :

≤20 tahun

21–40 tahun

41–60 tahun

≥60 tahun

5. Daerah asal adalah tempat tinggal pasien karsinoma nasofaring yang diperoleh dari rekam medis

6. Pekerjaan adalah aktivitas yang dilakukan pasien untuk memenuhi kebutuhan hidup yang diperoleh dari rekam medis

36

7. Tipe histopatologi adalah tipe gambaran histopatologi sediaan tumor berdasarkan kriteria WHO yang diperoleh dari rekam medis

8. Stadium klinis adalah penentuan stadium kasrsinoma nasofaring berdasarkan klasifikasi AJCC, terdiri dari stadium : I, II, III, IV yang diperoleh dari rekam medis

9. Status terapi adalah jenis tatalaksana yang telah atau sedang dilakukan pada pasien yang diperoleh dari rekam medis

10. Pola makan ikan asin dan makanan yang diawetkan adalah frekuensi konsumsi ikan asin dan makanan yang diawetkan yang diperoleh dari wawancara dengan pasien

11. Riwayat keluarga adalah status keluarga yang pernah atau sedang menderita karsinoma nasofaring yang diperoleh dari rekam medis 12. Kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol adalah frekuensi merokok

dan konsumsi alkohol yang diperoleh dari wawancara dengan pasien

3.7 METODE ANALISIS DATA

Data yang telah terkumpul akan diolah menggunakan program komputer SPSS 23.0.0.0. Untuk menilai korelasi golongan darah ABO akan diuji dengan Chi-Square test.

4.1 HASIL DAN PEMBAHASAN

Penelitian ini merupakan penelitian analitik, studi potong lintang (cross sectional). Terdapat 34 sampel yang memenuhi kriteria inklusi di RSUP Haji Adam Malik Medan, yang kemudian dilakukan analisis menggunakan SPSS, sehingga diperoleh hasil sebagai berikut.

4.1.1 Karakteristik Demografi Pasien

Tabel 4.1 Distribusi karakteristik berdasarkan jenis kelamin subjek penelitian

Jeniskelamin Frekuensi (f) Persen (%)

Laki-laki 25 73,5

Perempuan 9 26,5

Berdasarkan tabel 4.1 jenis kelamin laki-laki merupakan pasien karsinoma nasofaring dengan jumlah terbanyak yaitu 25 orang (73,5%), sedangkan jenis kelamin perempuan berjumlah 9 orang (26,25%). Dari hasil ini ditemukan bahwa laki-laki lebih banyak menderita karsinoma nasofaring daripada perempuan.

Penelitian ini sesuai dengan penelitian Xiao (2013) yang mendapatkan bahwa proporsi tertinggi pendertia karsinoma nasofaring berdasarkan jenis kelamin adalah laki-laki (71,2%), sementara perempuan (28,8%)(Xiao et al., 2013). Hal ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan Lai yang menemukan pasien karsinoma nasofaring berjenis kelamin laki-laki (72,5%) dan perempuan (27,5%)(Lai et al., 2013). Hal serupa juga ditemukan pada penelitian oleh Farhat yang menunjukkan bahwa pasien laki-laki yang terkena KNF lebih banyak daripada jumlah pasien perempuan (Farhat, 2015). Hal tersebut sesuai dengan pernyataan dari American Cancer Society, bahwa laki-laki dua kali lebih berisiko daripada wanita untuk terkena KNF (Society, 2015).

Tabel 4.2 Distribusi karakteristik berdasarkan umur subjek penelitian

Berdasarkan tabel 4.2 diketahui bahwa pasien yang menderita karsinoma nasofaring paling sering ditemukan pada pasien yang berusia 41-60 tahun yaitu sebanyak 19 orang (55,9%) diikuti dengan pasien yang berusia 21-40 tahun sebanyak 12 orang (35,3%) dan paling sedikit ditemukan pada pasien yang berusia ≥ 60 tahun. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Adham di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, dimana rentang usia yang paling banyak menderita karsinoma nasofaring adalah pasien dengan usia 41-50 sebanyak 32,4%(Adham et al., 2012). Hal serupa juga ditemukan pada penelitian Ren yang menemukan frekuensi usia tersering pada usia 41-60 tahun sebanyak 56,9% (Ren et al., 2010)

Tabel 4.3 Distribusi karakteristik berdasarkan ras subjek penelitian

Ras Frekuensi (f) Persen (%)

Berdasarkan tabel 4.3 diketahui bahwa pasien yang mederita karsinoma nasofaring paling sering ditemukan pada suku Batak sebanyak 19 orang (55,9%). Dari tabel tersebut juga diketahui bahwa pasien dengan suku Jawa sebanyak 7 orang (20,6%), suku Aceh sebanyak 3 orang (8,8%), suku Nias sebanyak 2 orang (5,9%), suku Karo 1 orang (2,9%), suku Melayu sebanyak 1 orang (2,9%) dan suku Sunda sebanyak 1 orang (2,9%). Hal ini dimungkinkan karena jumlah populasi etnis batak merupakan salah satu etnik dengan jumlah terbesar di propinsi Sumatera Utara

Tabel 4.4 Distribusi karakteristik berdasarkan pekerjaan subjek penelitian

Berdasarkan tabel 4.4 diketahui bahwa pasien yang menderita karsinoma nasofaring paling sering ditemukan pada pekerja wiraswasta sebanyak 13 orang (38,2%). Dari tabel tersebut juga diketahui bahwa pasien dengan perkerjaan petani sebanyak 8 orang (23,25%), ibu rumah tangga sebanyak 4 orang (11,8%), PNS sebanyak 3 orang (8,8%), pegawai swasta sebanyak 3 orang (8,8%), honorer sebanyak 1 orang (2,9%), pekerja lepas sebanyak 1 orang (2,9%) dan nelayan sebanyak 1 orang (2,9%). Penelitian ini sedikit berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Munir dimana petani lebih banyak menderita karsinoma nasofaring sebanyak 36% (Munir, 2010), begitu juga dengan penelitian Gates yang menemukan petani lebih banyak yaitu 21,31% (Gates et al., 2012) Pekerja kerajinan yang berhubungan langsung dengan debu kayu seacara signifikan terkait dengan peningkatan risiko karsinoma nasofarinng (Xie et al., 2017)

Tabel 4.5 Distribusi karakteristik berdasarkan tipe histopatologi subjek penelitian

Tipe histopatologi Frekuensi (f) Persen (%)

NK-SCC 20 58,8

Berdasarkan tabel 4.5 diketahui bahwa tipe histopatologi paling banyak pada penderita karsinoma nasofaring adalah Non Kreatinizing Squamous Carcinoma sebanyak 20 orang (58,8%). Diikuti dengan Undifferentiated Carcinoma sebanyak 9 orang (26,5%) dan Kreatinizing Carcinoma paling sedikit sebanyak 5 orang (14,7%). Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Dogan yang menemukan pasien karsinoma nasofaring dengan

tipe histopatology Non Kreatinizing Squamous Carcinoma yaitu 85,7% (Dogan et al., 2014). Hal serupa juga ditemukan pada penelitian Hamilton dimana pada orang Asia ditemukan paling sering tipe Non Kreatinizing Squamous Carcinoma sebanyak 90% dan Non-Asian 57% (Hamilton et al., 2016).

Karsinoma tidak berkeratin terdapat pada 95% pasien KNF di daerah dengan insiden tinggi dan sekitar 75%-87% di daerah dengan insidensi rendah.

Karsinoma sel skuamosa berkeratin ini cenderung menunjukkan jumlah salinan EBV yang lebih rendah di bandingkan dengan tipe histopatologi lainnya (Li and Zong, 2014).

Tabel 4.6 Distribusi karakteristik berdasarkan stadium klinis subjek penelitian

Stadium klinis Frekuensi (f) Persen (%)

1 12 35,3

Berdasarkan tabel 4.6 diketahui bahwa stadium klinis paling sering ditemukan pada penderita kasrsinoma nasofaring stadium 1 yang dinilai menggunakan sistem stadium TNM berdasarkan American Joint Committee on Cancer (AJCC) sebanyak 12 orang (35,3%) dan paling sedikit stadium 1B sebanyak 1 orang (2,9%). Dari tabel tersebut juga diketahui bahwa pasien karsinoma nasofaring dengan stadium klinis 2 sebanyak 6 orang (17,65), stadium klinis 2B sebanyak 3 orang (8,8%), stadium klinis 3 sebanyak 7 orang (20,65) dan stadium klinis 4 sebanyak 5 orang (14,7%). Penelitian ini tidak sesuai dengan penelitian Su yang menemukan stadium klinis paling sering stadium 2b sebanyak 71,2% (Su et al., 2012). Sama halnya dengan penelitian yang dilakukan oleh Ng Hongkong yang menemuukan stadium klinis paling sering yaitu stadium 3-4 sebanyak 90% (Ng et al., 2011) di dan penelitian Wang menemukan stadium paling sering yaitu stadium 3 sebanyak 46,4% (Wang et al., 2012).

Tabel 4.7 Distribusi karakteristik berdasarkan status terapi subjek penelitian

Status terapi Frekuensi (f) Persen (%)

Belum pernah 1 2,9

Berdasarkan tabel 4.7 diketahui bahawa pasien karsinoma nasofaring paling sering mendapatkan terapi dengan kemoterapi+radioterapi sebanyak 22 orang (64,7%) diikuti dengan kemoterapi sebanyak 8 orang (23,5%), radioterapi sebanyak 3 orang (8,8%) dan belum pernah mendapatkan terapi sebanyak 1 orang (2,9%). Hal tersebut juga sama dengan penelitian yang dilakukan oleh (Wang et al., 2012) bahwa terapi yang paling sering digunakan radioterapi + kemoterapi sebanyak 81,9%.

Tabel 4.8 Distribusi karakteristik berdasarkan golongan darah subjek penelitian

Golongan darah Frekuensi (f) Persen (%)

A 5 14,7

Berdasarkan tabel 4.8 diketahui bahwa pasien karsinoma nasofaring golongan darah paling sering ditemukan golongan darah O sebanyak 14 orang (41,2%), diikuti golongan darah B sebanyak 10 orang (29,4%), golongan darah A sebanyak 5 orang (14,7%) dan golongan darah AB sebanyak 5 orang (14,7%). Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Sheng bahwa golongan darah paling sering dijumpai adalah golongan darah O 37,4% (Sheng et al., 2013). Penelitian ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Gates di Turki yang menemukan golongan darah paling sering golongan darah A sebanyak 42,62% (Gates et al., 2012)

4.1.2 Faktor Risiko

Tabel 4.9 Distribusi karakteristik berdasarkan riwayat keluarga subjek penelitian

Riwayat keluarga

terkena kanker Frekuensi (f) Persen (%)

Ya 1 2,9

Tidak 33 97,1

Berdasarkan tabel 4.9 terdapat 33 orang (97,1%) yang tidak memiliki riwayat keluarga sedangkan yang memiliki riwayat keluarga sebanyak 1 orang (2,9%). Hal ini sejalan dengan penelitian (Ji et al., 2011) yang menemukan

pasien karsinoma nasofaring tanpa riwayat keluarga sebanyak 87,45% dan penelitian Xie yang menemukan pasien karsinoma naofaring tanpa riwayat keluarga sebanyak 84,9% (Xie et al., 2015).

Tabel 4.10 Distribusi karakteristik berdasarkan konsumsi ikan asin subjek penelitian

Konsumsi ikan asin Frekuensi (f) Persen (%)

>3 kali sebulan 22 73,5

≤ 3 kali sebulan 12 26,5

Berdasarkan tabel 4.10 terdapat 22 orang (73,5%) yang mengkonsumsi ikan asin >3 kali sebulan dan terdapat sebanyak 12 orang (26,5%) yang mengkonsumsi ikan asin ≤ 3 kali sebulan. Penelitian ini berbeda dengan penelitian Guo yang menemukan pada pasien penderita karsinoma nasofaring yang tidak mengkonsumsi ikan asin sebanyak 65,1% (Guo et al., 2009) begitu juga dengan penelitian Ren yang menemukan tidak pernah atau jarang konsumsi ikan asin sebanyak 54% (Ren et al., 2010). Hal ini berlawanan dengan teori yang mengatakan Ikan asin mengandung nitrosamin dan prekursor nitrosamin. CYP2E1 dan etanol terlibat dalam aktivasi banyak prokarsinogen beberapa obat terutama untuk metabolit yang sangat reaktif(Ruwali et al., 2009). CYP2E1 secara khusus mengaktifkan N-nitrosamin yang terdapat pada asap rokok dan ikan asin (Jia and Qin, 2012, Neafsey et al., 2009).

Tabel 4.11 Distribusi karakteristik berdasarkan riwayat merokok subjek penelitian

Menghisap rokok Frekuensi (f) Persen (%) Tidak

Berdasarkan tabel 4.11 diketahui bahwa pasien karsinoma nasofaring yang memiliki status perokok sedang sebanyak 15 orang (44,1%), perokok berat sebanyak 5 orang (14,7%), perkok ringan sebanyak 3 orang (8,8%) dan tidak merokok sebanyak 11 orang (32,4%). Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Guo yang menemukan pasien karsinoma nasofaring dengan riwayat merokok sebanyak 51,7% (Guo et al., 2009). Pajanan terhadap asap rokok, formaldehida, dan debu kayu juga merupakan faktor risiko KNF.

Perokok 30%-100% berisiko mengalami KNF dibandingan dengan bukan perokok (Zeng and Zeng, 2010).

Tabel 4.12 Distribusi karakteristik berdasarkan konsumsi alkohol subjek penelitian

Konsumsi alkohol Frekuensi (f) Persen (%)

Tidak 29 85,3

Berdasarkan tabel 4.12 diketahui bahwa pasien karsinoma nasofaring yang memiliki status peminum alkohol berat sebanyak 2 orang (5,9%), peminum alkohol sedang sebanyak 3 orang (8,8%) dan tidak memiliki riwayat konsumsi alkohol sebanyak 29 orang (85,3%). Hal ini sejalan dengan penelitian Turkoz yang menemukan pasien karsinoma tanpa riwayat konsumsi alkohol 81,42%

(Turkoz et al., 2011) dan penelitian Ren yang menemukan pasien karsinoma nasofaring tanpa konsumsi alkohol sebanyak 81,8% (Ren et al., 2010).

4.1.3 Hasil Analisa Statistik

Tabel 4.13 Hubungan golongan darah dengan karsinoma nasofaring

Golongan

Pada tabel 4.13 didapatkan hasil analisa menggunakan chi-square diperoleh nilai p = 0,932 ( p> 0,05 ) yang berarti tidak terdapat hubungan bermakna antara hubungan golongan darah ABO dengan karsinoma nasofaring. Temuan tersebut serupa dengan penelitian yang dilakukan oleh Zhang di China yang menemukan hasil uji chi-square yaitu nilai p = 0,629 ( p>

0,05) yang berarti tidak ada hubungan di antara keduanya (Zhang et al., 2014).

Hasil dari penelitian yang mengevaluasi nilai prognostik antigen ABO pada berbagai jenis kanker masih bertentangan. Alasan yang mungkin untuk menjelaskan temuan heterogenitas di beberapa studi termasuk keterbatasan

dalam desain penelitian (sebagian besar menggunakan retrospektif), perbedaan karakteristik pupulasi serta populasi studi yang kecil.

bahwa

1. Tidak terdapat hubungan bermakna dengan uji chi-square dipeoleh nilai p = 0,826 (p> 0.05) antar golongan darah ABO dengan karsinoma nasofaring di RSUP H. Adam Malik.

2. Distribusi frekuensi pasien penderita karsinoma nasofaring di RSUP H. Adam Malik berdasarkan golongan darah paling banyak dijumpai golongan darah O sebanyak 15 orang (44,15%)

3. Distribusi frekuensi pasien penderita karsinoma nasofaring di RSUP H. Adam Malik berdasarkan jenis kelamin paling banyak dijumpai pada jenis kelamin laki-laki sebanyak 25 orang (73,5%)

4. Distribusi frekuensi pasien penderita karsinoma nasofaring di RSUP H. Adam Malik berdasarkan umur paling banayk dijumapi pada kelompok umur 41-60 tahun sebanyak 19 orang (55,9%)

5. Distribusi frekuensi pasien penderita karsinoma nasofaring di RSUP H. Adam Malik berdasarkan ras paling banyak dijumpai pada ras batak sebanyak 19 orang (55,9%)

6. Distribusi frekuensi pasien penderita karsinoma nasofaring di RSUP H. Adam Malik berdasarkan pekerjaan paling banyak dijumpai pada pekerjaan wiraswasta sebanyak 13 orang (38,2%)

7. Distribusi frekuensi pasien penderita karsinoma nasofaring di RSUP H. Adam Malik berdasarkan tipe hostopatologi paling banyak dijumpai pada tipe Non Keratinizing Carcinoma sebanyak 20 orang (58,8%)

8. Distribusi frekuensi pasien penderita karsinoma nasofaring di RSUP H. Adam Malik berdasarkan stadium klinis paling banyak dijumpai pada stadium 1 sebanyak 12 orang (35,3%)

9. Distribusi frekuensi pasien penderita karsinoma nasofaring di RSUP H. Adam Malik berdasarkan status terapi paling banyak dijumpai pada terapi radioterapi+kemoterapi sebanyak 22 orang (64,7%)

10. Distribusi frekuensi pasien penderita karsinoma nasofaring di RSUP H. Adam Malik yang tidak memiliki riwayat keluarga menderita karsinoma nasofaring sebanyak 33 orang (97,1%)

11. Distribusi frekuensi pasien penderita karsinoma nasofaring di RSUP H. Adam Malik yang memiliki riwayat konsumsi ikan asin >3 kali sebulan sebanyak 22 orang (73,5%)

12. Distribusi frekuensi pasien penderita karsinoma nasofaring di RSUP H. Adam Malik yang memiliki riwayat merokok sebanyak 23 orang (67,6%)

13. Distribusi frekuensi pasien penderita karsinoma nasofaring di RSUP H. Adam Malik yang tidak memiliki riwayat komsumsi alkohol sebanyak 29 orang (85,3%)

5.1 Saran

1. Disarankan untuk peneliti selanjutnya agar mendapatkan jumlah sampel yang lebih banyak agar hasil penelitian lebih akurat dan dapat menilai faktor risiko secara signifikan.

2. Diperlukan waktu yang lebih lama agar mendapatkan sampel yang lebih banyak.

3. Disarankan untuk peneliti selanjutnya agar menentukan lokasi yang lebih sesuai dengan demografi lingkungan yang mendukung penelitian.

DAFTAR PUSTAKA

ADHAM, M., KURNIAWAN, A. N., MUHTADI, A. I., ROEZIN, A., HERMANI, B., GONDHOWIARDJO, S., TAN, I. B. & MIDDELDORP, J. M. 2012. Nasopharyngeal carcinoma in Indonesia: epidemiology, incidence, signs, and symptoms at presentation. Chinese journal of cancer, 31, 185.

CAO, S.-M., SIMONS, M. J. & QIAN, C.-N. 2011. The prevalence and prevention of nasopharyngeal carcinoma in China. Chinese journal of cancer, 30, 114.

CHAN, A. 2010. Nasopharyngeal carcinoma. Annals of oncology, 21, vii308-vii312.

CHAN, K. A., WOO, J. K., KING, A., ZEE, B. C., LAM, W. J., CHAN, S. L., CHU, S. W., MAK, C., TSE, I. O. & LEUNG, S. Y. 2017. Analysis of plasma Epstein–Barr virus DNA to screen for nasopharyngeal cancer. New England Journal of Medicine, 377, 513-522.

CHUA, M. L., WEE, J. T., HUI, E. P. & CHAN, A. T. 2016. Nasopharyngeal carcinoma. The Lancet, 387, 1012-1024.

CUNSOLO, E., MARCHIONI, D., LEO, G., INCORVAIA, C. & PRESUTTI, L.

2010. Functional anatomy of the Eustachian tube. International journal of immunopathology and pharmacology, 23, 4-7.

DAWSON, C. W., PORT, R. J. & YOUNG, L. S. The role of the EBV-encoded latent membrane proteins LMP1 and LMP2 in the pathogenesis of nasopharyngeal carcinoma (NPC). Seminars in cancer biology, 2012.

Elsevier, 144-153.

DOGAN, S., HEDBERG, M. L., FERRIS, R. L., RATH, T. J., ASSAAD, A. M.

& CHIOSEA, S. I. 2014. Human papillomavirus and Epstein–Barr virus in nasopharyngeal carcinoma in a low‐incidence population. Head & neck, 36, 511-516.

FARHAT, F., DAULAY, E. R., CHRESTELLA, J., ASNIR, R. A., YUDHISTIRA, A. & SUSILO, R. R. 2018. Correlation of P38 Mitogen-Activated Protein Kinase Expression to Clinical Stage in Nasopharyngeal Carcinoma. Open access Macedonian journal of medical sciences, 6, 1982.

FERLITO, A., ROBBINS, K. T., SHAH, J. P., MEDINA, J. E., SILVER, C. E., AL‐TAMIMI, S., FAGAN, J. J., PALERI, V., TAKES, R. P. &

BRADFORD, C. R. 2011. Proposal for a rational classification of neck dissections. Head & neck, 33, 445-450.

GATES, M. A., XU, M., CHEN, W. Y., KRAFT, P., HANKINSON, S. E. &

WOLPIN, B. M. 2012. ABO blood group and breast cancer incidence and survival. International journal of cancer, 130, 2129-2137.

GUO, X., JOHNSON, R. C., DENG, H., LIAO, J., GUAN, L., NELSON, G. W., TANG, M., ZHENG, Y., DE THE, G. & O'BRIEN, S. J. 2009. Evaluation of nonviral risk factors for nasopharyngeal carcinoma in a high‐risk population of Southern China. International journal of cancer, 124, 2942-2947.

HAMILTON, S. N., HO, C., LASKIN, J., ZHAI, Y., MAK, P. & WU, J. 2016.

Asian versus non-Asian outcomes in nasopharyngeal carcinoma: a North American population-based analysis. American journal of clinical oncology, 39, 575-580.

JI, X., ZHANG, W., XIE, C., WANG, B., ZHANG, G. & ZHOU, F. 2011.

Nasopharyngeal carcinoma risk by histologic type in central China: impact of smoking, alcohol and family history. International journal of cancer, 129, 724-732.

JIA, W.-H. & QIN, H.-D. Non-viral environmental risk factors for nasopharyngeal carcinoma: a systematic review. Seminars in cancer biology, 2012. Elsevier, 117-126.

JIN, T. & CHEN, X. 2015. 2873 Prognostic value of ABO blood group in Southern Chinese patients with laryngeal cancer. European Journal of Cancer, 51, S581.

KELLY, J. Y., HSU, W.-L., PFEIFFER, R. M., CHIANG, C.-J., WANG, C.-P., LOU, P.-J., CHENG, Y.-J., GRAVITT, P., DIEHL, S. R. & GOLDSTEIN, A. M. 2011. Prognostic utility of anti-EBV antibody testing for defining NPC risk among individuals from high-risk NPC families. Clinical Cancer Research, 17, 1906-1914.

KING, A., WOO, J., AI, Q., CHAN, J., LAM, W., TSE, I., BHATIA, K., ZEE, B., HUI, E. & MA, B. 2019. Complementary roles of MRI and endoscopic examination in the early detection of nasopharyngeal carcinoma. Annals of Oncology.

LAI, S.-Z., LI, W.-F., CHEN, L., LUO, W., CHEN, Y.-Y., LIU, L.-Z., SUN, Y., LIN, A.-H., LIU, M.-Z. & MA, J. 2011. How does intensity-modulated radiotherapy versus conventional two-dimensional radiotherapy influence the treatment results in nasopharyngeal carcinoma patients? International Journal of Radiation Oncology* Biology* Physics, 80, 661-668.

LI, Z. & ZONG, Y.-S. 2014. Review of the histological classification of nasopharyngeal carcinoma. Journal of NasoPharyngeal Carcinoma, 1.

LIN, K., QIU, F., CHEN, S., HE, X., PENG, S. & CHEN, H. 2018. Lack of association between the distribution of ABO blood groups and nasopharyngeal carcinoma in a population of Southern China. Journal of cancer research and therapeutics, 14, 785.

LIUMBRUNO, G. M. & FRANCHINI, M. 2014. Hemostasis, cancer, and ABO blood group: the most recent evidence of association. Journal of thrombosis and thrombolysis, 38, 160-166.

LO, S. S. & LU, J. J. 2010. Natural history, presenting symptoms, and diagnosis of nasopharyngeal carcinoma. Nasopharyngeal Cancer. Springer.

LU, X., QIAN, C.-N., MU, Y.-G., LI, N.-W., LI, S., ZHANG, H.-B., LI, S.-W., WANG, F.-L., GUO, X. & XIANG, Y.-Q. 2011. Serum CCL2 and serum TNF-α–Two new biomarkers predict bone invasion, post-treatment distant metastasis and poor overall survival in nasopharyngeal carcinoma.

European journal of cancer, 47, 339-346.

MUNIR, D. 2010. Karsinoma Nasofaring. Press.

NG, W. T., LEE, M. C., HUNG, W. M., CHOI, C. W., LEE, K. C., CHAN, O. S.

& LEE, A. W. 2011. Clinical outcomes and patterns of failure after intensity-modulated radiotherapy for nasopharyngeal carcinoma.

International Journal of Radiation Oncology* Biology* Physics, 79, 420-428.

NEAFSEY, P., GINSBERG, G., HATTIS, D., JOHNS, D. O., GUYTON, K. Z. &

SONAWANE, B. 2009. Genetic polymorphism in CYP2E1: Population distribution of CYP2E1 activity. Journal of Toxicology and Environmental Health, Part B, 12, 362-388.

OUYANG, P., SU, Z., MA, X., MAO, Y., LIU, M. & XIE, F. 2013a. Comparison of TNM staging systems for nasopharyngeal carcinoma, and proposal of a new staging system. British journal of cancer, 109, 2987.

OUYANG, P., SU, Z., MAO, Y., LIU, Q. & XIE, F. 2013b. Prognostic value of ABO blood group in southern Chinese patients with established nasopharyngeal carcinoma. British journal of cancer, 109, 2462.

PENG, H., CHEN, L., LI, W.-F., ZHANG, Y., LIU, L.-Z., TIAN, L., LIN, A.-H., SUN, Y. & MA, J. 2016. Prognostic correlations between ABO blood group and pre-treatment plasma Epstein-Barr virus DNA in patients with nasopharyngeal carcinoma receiving intensity-modulated radiotherapy.

PloS one, 11, e0166194.

RAZEK, A. A. K. A. & KING, A. 2012. MRI and CT of nasopharyngeal carcinoma. American Journal of Roentgenology, 198, 11-18.

REN, Z.-F., LIU, W.-S., QIN, H.-D., XU, Y.-F., YU, D.-D., FENG, Q.-S., CHEN, L.-Z., SHU, X.-O., ZENG, Y.-X. & JIA, W.-H. 2010. Effect of family history of cancers and environmental factors on risk of nasopharyngeal carcinoma in Guangdong, China. Cancer epidemiology, 34, 419-424.

RUWALI, M., KHAN, A. J., SHAH, P. P., SINGH, A. P., PANT, M. C. &

PARMAR, D. 2009. Cytochrome P450 2E1 and head and neck cancer:

interaction with genetic and environmental risk factors. Environmental and molecular mutagenesis, 50, 473-482.

SHAIR, K., REDDY, A. & COOPER, V. 2018. New insights from elucidating the role of LMP1 in nasopharyngeal carcinoma. Cancers, 10, 86.

SHARMA, T. D., SINGH, T. T., LAISHRAM, R. S., SHARMA, L., SUNITA, A.

& IMCHEN, L. T. 2011. Nasopharyngeal carcinoma—a clinico-pathological study in a regional cancer centre of northeastern India. Asian pac J cancer prev, 12, 1583-7.

SHENG, L., SUN, X., ZHANG, L. & SU, D. 2013. ABO blood group and nasopharyngeal carcinoma risk in a population of Southeast China.

International journal of cancer, 133, 893-897.

SOBIN, L. H., GOSPODAROWICZ, M. K. & WITTEKIND, C. 2011. TNM classification of malignant tumours, John Wiley & Sons.

SOCIETY, A. C. 2015. Global Cancer Facts & Figures 3rd Edition. American Cancer Society, 800, 1-64.

SU, S.-F., HAN, F., ZHAO, C., CHEN, C.-Y., XIAO, W.-W., LI, J.-X. & LU, T.-X. 2012. Long-term outcomes of early-stage nasopharyngeal carcinoma patients treated with intensity-modulated radiotherapy alone. International Journal of Radiation Oncology* Biology* Physics, 82, 327-333.

TABUCHI, K., NAKAYAMA, M., NISHIMURA, B., HAYASHI, K. & HARA, A. 2011. Early detection of nasopharyngeal carcinoma. International journal of otolaryngology, 2011.

TANG, L.-L., CHEN, W.-Q., XUE, W.-Q., HE, Y.-Q., ZHENG, R.-S., ZENG, Y.-X. & JIA, W.-H. 2016. Global trends in incidence and mortality of nasopharyngeal carcinoma. Cancer letters, 374, 22-30.

TSAO, S. W., YIP, Y. L., TSANG, C. M., PANG, P. S., LAU, V. M. Y., ZHANG, G. & LO, K. W. 2014. Etiological factors of nasopharyngeal carcinoma. Oral oncology, 50, 330-338.

TURKOZ, F. P., CELENKOGLU, G., DOGU, G. G., KALENDER, M. E., COSKUN, U., ALKIS, N., OZKAN, M., TURK, H. M. & ARSLAN, U.

Y. 2011. Risk factors of nasopharyngeal carcinoma in Turkey-an epidemiological survey of the Anatolian Society of Medical Oncology.

Asian Pac J Cancer Prev, 12, 3017-3021.

WANG, J., SHI, M., HSIA, Y., LUO, S., ZHAO, L., XU, M., XIAO, F., FU, X., LI, J. & ZHOU, B. 2012. Failure patterns and survival in patients with nasopharyngeal carcinoma treated with intensity modulated radiation in Northwest China: a pilot study. Radiation oncology, 7, 2.

WANG, G.-N., ZHOU, S., CHEN, C., CHANG, H., TAO, Y., LIU, S., WANG, X.-H., ZHANG, W.-W., LIU, Y. & LIU, S.-R. 2019. O Blood Type Is Associated with Unfavorable Distant-metastasis-free Survival in Female Patients with Nasopharyngeal Carcinoma: A Retrospective Study of 2439 Patients from Epidemic Area. Journal of Cancer, 10, 1297.

WANG, Y., SHEN, C., LU, X. & HU, C. 2017. The incidence and prognosis of nasopharyngeal carcinoma patients with family history. Oncotarget, 8, 97323.

WENIG, B. M. 2015. Atlas of head and neck pathology, Elsevier Health Sciences.

XIAO, M., SHUMIN, X. & CHEN, S. 2017. Study on association between the distribution of ABO blood type and nasopharyngeal carcinoma.

International Journal of Laboratory Medicine, 38, 2554-2555, 2558.

XIE, S.-H., YU, I. T.-S., TSE, L. A., AU, J. S. K. & LAU, J. S. M. 2015. Tobacco smoking, family history, and the risk of nasopharyngeal carcinoma: a case–referent study in Hong Kong Chinese. Cancer Causes & Control, 26, 913-921.

XIE, S.-H., YU, I. T.-S., TSE, L. A., AU, J. S. K. & LAU, J. S. M. 2017.

Occupational risk factors for nasopharyngeal carcinoma in Hong Kong Chinese: a case-referent study. International archives of occupational and environmental health, 90, 443-449.

ZENG, M.-S. & ZENG, Y.-X. 2010. Pathogenesis and etiology of nasopharyngeal carcinoma. Nasopharyngeal Cancer. Springer.

ZHANG, Y.-X., KANG, S.-Y., CHEN, G., FANG, W.-F., WU, X., YOU, H.-J., HE, D.-C., CAO, Y.-L., LIANG, W.-H. & ZHANG, L. 2014. ABO blood group, Epstein-Barr virus infection and prognosis of patients with non-metastatic nasopharyngeal carcinoma. Asian Pac J Cancer Prev, 15, 7459-7465.

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama : Niko Demus Partogi Simanjuntak

NIM : 160100126

Tempat / Tanggal Lahir : Sibongis / 01 februari 1998

Agama : Kristen

Nama Ayah : Drs. Juniper Simanjuntak, S.Pd.

Nama Ibu : Gustina Panjaitan, S.Pd.

Alamat : Jl. Tangkul II no 118 B, Kelurahan Indra Kasih, Kec.

Medan Tembung, Kota Medan Riwayat Pendidikan :

1. SDN 174581 Sipahutar (2006 - 2009) 2. SMPN 1 Sipahutar(2009 - 2012) 3. SMAS Sutomo 1 Medan(2012 - 2015)

4. Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (2016 - Sekarang) Riwayat Pelatihan :

1. Peserta PKKMB (Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru) FK

1. Peserta PKKMB (Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru) FK

Dokumen terkait