• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III KEDUDUKAN KOMISARIS INDEPENDEN DALAM

B. Kriteria Komisaris Independen dalam Perseroan Terbuka

Komisaris Independen merupakan komisaris yang tidak ada hubungan keluarga atau hubungan bisnis dengan direksi maupun pemegang saham. Karena tidak ada hubungan seperti itu, maka komisaris independen ini diharapkan dapat bertindak objektif dan dapat melihat persoalan perseroan mensyaratkan adanya komisaris independen ini, misalnya untuk perseroan terbatas terbuka.106

Seharusnya ada defenisi yang jelas tentang komisaris ”ekstern” atau komisaris ”independen”. Kriteria Komisaris Independen diambil oleh FCGI dari kriteria otoritas bursa efek Australia tentang Outside Directors. Kriteria untuk Outside Directors

105Task ForceKomite Nasional KebijakanCorporate Governance,Op.Cit., Bab III Angka 1

106

dalamOne Tier Systemtersebut telah diterjemahkan menjadi kriteria untuk Komisaris Independen dalamposition paperFCGI kepada NCCG.

Di Amerika Serikat dan beberapa negara lain, outside director (semacam komisaris independen) berfungsi untuk memberikan penilaian yang objektif dan independen yang dapat menjadi pertimbangan dewan dalam pengambilan keputusan.107

Berikut beberapa pengertian atau ketentuan yang dikembangkan oleh berbagai institusi penting yang terkait dengan karakteristik outside directors atau komisaris independen:

1. New York Stock Exchange (NYSE) mensyaratkan bahwa perusahaan-perusahaan yang terdaftar di pasar bursa tersebut memiliki outside directors

yang independen dari pengaruh manajemen dan bebas dari hubungan apapun yang dapat mempengaruhi pelaksanaan pengambilan kebijakan yang independen.108

2. The Security and Exchange Comitee (SEC) menjelaskan mengenai bentuk-bentuk hubungan signifikan yang tidak diperbolehkan bagi seorang calon

outside directorsuntuk suatu perusahaan tertentu:109

a) Saat ini masih menjadi karyawan perusahaan dimaksud atau pernah menjadi karyawan perusahaan dimaksud dalam 2 (dua) tahun terakhir.

107

Antonius Alijoyo & Subarto Zaini,Op.Cit.,hlm.50

108

Report of the New York Stock Exchange Commission on Corporate Governance on 23 September 2010, hal.1

109

Security and Exchange Comitee (SEC) in Section 162(m) of the Internal Revenue Code, https://www.sec.gov/rules/final/2012/33-9330.pdf, terakhir kali diakses tanggal 8 Desember 2012.

b) Adalah anggota keluarga dekat karyawan perusahaan dimaksud.

c) Pernah menjadi staf atau eksekutif senior di perusahaan dimaksud dalam 2 (dua) tahun terakhir.

d) Pernah menerima dari perusahaan dimaksud pembayaran komersial melebihi $200.000 (dua ratus ribu dollar amerika serikat) dalam 2 (dua) tahun fiskal terakhir atau memiliki wewenang untuk member suara atas

equity interestdalam suatu organisasi bisnis yang dibentuk oleh perusahaan dimaksud, atau dari pembayaran komersial yang diterima selama 2 (dua) tahun fiskal terakhir, bila dikalikan dengan persentase equity interest-nya melebihi $200.000 (dua ratus ribu dollar amerika serikat).

e) Seorang principal manager dari suatu perusahaan yang dibentuk oleh perusahaan yang dimaksud, atau pembayaran komersial yang ia terima melebihi 5% (lima persen) dari consolidated gross revenue organisasi, atau lebih dari $200.000 (dua ratus ribu dollar amerika serikat).

f) Terafiliasi pada suatu kantor hukum yang merupakan penasihat hukum utama bagi perusahaan dalam 2 (dua) tahun terakhir.

Hubungan signifikan tersebut mengidikasikan agar seorang outside directors terbebas dari pengaruh yang dapat mempengaruhi independensi-nya dalam mengambil keputusan.

3. The Institute of Directors (IOD) London menyatakan bahwa dalam pedoman praktisnya bagi non-executive directors, merekomendasikan bahwa setiap perusahaan hendaknya memiliki minimum 2 (dua) non- executive directors

yang independen. IOD mendefinisikan independensi sebagai berikut:110 a) Tidak mempunyai hubungan kontrak dengan perusahaan selain jabatan

tersebut (dan karena itu tidak menjadi subjek pengendalian atau berpotensi mempengaruhi direktur atau kelompok direktur lain).

b) Tidak mempunyai hubungan apapun dengan perusahaan yang dapat mempengaruhi pengambilan keputusan yang independen.

c) Tidak memiliki kepentingan di perusahaan kecuali dalam hal jabatannya dan bebas dari pengaruh yang dapat mengurangi independensinya.

110

The Role of Non Executive Directors-Institute of Directors, 2010, http://www.iod.com/ Developing/Courses/List-of-courses/Role-of-the-Non-Executive-Director, terakhir kali diakses tanggal 8 Desember 2012.

4. Hongkong Society of Accountants (HKSA) mendefenisikan independent directors sebagai non-executive directorsdimana diatur bahwa yang pertama, emiten diwajibkan untuk menunjuk setidaknya tiga independen non-eksekutif direktur. Yang kedua, Setidaknya salah satu direktur non-eksekutif independen harus memiliki kualifikasi profesional yang sesuai atau akuntansi atau keahlian manajemen terkait keuangan.111

Independent directors sebagai non-executive directors dimaksud adalah tidak memiliki kepentingan di dalam perusahaan, kecuali dalam hal jabatannya, dan dapat memberikan penilaian yang independen dan objektif.112

5. Perusahaan BUMN di Indonesia, Menteri Negara BUMN menerbitkan Peraturan Menteri BUMN No. PER-01/MBU/2011 tentang Penerapan Good Corporate Governancepada BUMN, yang menyatakan bahwa:113

“Yang dimaksud dengan anggota dewan komisaris/dewan pengawas independen adalah anggota dewan komisaris/dewan pengawas yang tidak memiliki hubungan keuangan, kepengurusan, kepemilikan saham dan/atau hubungan keluarga dengan anggota dewan komisaris/dewan pengawas lainnya, anggota direksi dan/atau pemegang saham pengendali atau hubungan dengan BUMN yang bersangkutan, yang dapat mempengaruhi kemampuanya untuk bertindak independen”

6. Perusahaan Perbankan di Indonesia, Gubernur Bank Indonesia menerbitkan Peraturan Bank Indonesia Nomor 8/14/PBI/2006 tentang perubahan atas

111

GEM Rules 3.10 to 3.15 Main Board and GEM Listing Rules independent directors, Hong Kong Exchanges and Clearing Limited March 2011.

112

Antonius Alijoyo & Subarto Zaini,Loc.Cit., 113

Pasal 13 ayat (3) Peraturan Menteri Badan Usaha Milik Negara Nomor: PER-01/MBU/2011 tentang Penerapan Praktik Good Corporate Governance pada Badan Usaha Milik Negara.

Peraturan Bank Indonesia Nomor 8/14/PBI/2006 8/4/PBI/2006 tentang

Pelasanaan Good Corporate Governance bagi Bank Umum, yang menyatakan bahwa:114

“Komisaris Independen adalah anggota dewan komisaris yang tidak memiliki hubungan keuangan, kepengurusan, kepemilikan saham dan/atau hubungan keluarga dengan anggota dewan komisaris lainnya, direksi dan/atau pemegang saham pengendali atau hubungan dengan Bank, yang dapat mempengaruhi kemampuannya untuk bertindak independen.”

Kemudian dalam Pasal 5 ayat (2) peraturan perbankan tersebut di atas menyebutkan bahwa paling kurang 50% (lima puluh persen) dari jumlah anggota dewan Komisaris adalah Komisaris Independen.

7. Kriteria tentang komisaris independen dalam Forum for Corporate Governancetersebut adalah sebagai berikut:115

a) Komisaris Independen bukan merupakan anggota manajemen.

b) Komisaris Independen bukan merupakan pemegang saham mayoritas, atau seorang pejabat dari atau dengan cara lain yang berhubungan langsung atau tidak langsung dengan pemegang saham mayoritas dari perusahaan.

c) Komisaris Independen dalam kurun waktu tiga tahun terakhir tidak dipekerjakan dalam kapasitasnya sebagai eksekutif oleh perusahaan lainnya dalam satu kelompok usaha dan tidak pula dipekerjakan dalam kapasitasnya sebagai komisaris setelah tidak lagi menepati posisi seperti itu.

d) Komisaris Independen bukan merupakan penasehat profesional perusahaan atau perusahaan lainnya yang satu kelompok dengan perusahaan tersebut. e) Komisaris Independen bukan merupakan seorang pemasok atau pelanggan

yang signifikan dan berpengaruh dari perusahaan atau perusahaan lainnya

114

Pasal 1 angka 4 Peraturan Bank Indonesia Nomor 8/14/PBI/2006 tentang Pelasanaan Good Corporate Governancebagi Bank Umum.

115Forum for Corporate Governance in Indonesia, Seri Tata Kelola Perusahaan (Corporate Governance),Jilid II; Peranan Dewan Komisaris dan Komite Audit dalam Pelaksanaan Corporate Governance, hal.8, http://www.fcgi.or.id, diakses pada tanggal 20 Agustus 2012.

yang satu kelompok, atau dengan cara lain berhubungan secara langsung atau tidak langsung dengan pemasok atau pelanggan tersebut.

f) Komisaris Independen tidak memiliki kontraktual dengan perusahaan atau perusahaan lainnya yang satu kelompok selain sebagai komisaris perusahaan tersebut.

g) Komisaris Independen harus bebas dari kepentingan dan urusan bisnis apapun atau hubungan lainnya yang dapat, atau secara wajar dapat dianggap sebagai campur tangan secara material dengan kemampuannya sebagai seorang komisaris untuk bertindak demi kepentingan yang menguntungkan perusahaan.

Komisaris Independen adalah komisaris yang bukan merupakan anggota manajemen, pemegang saham mayoritas, pejabat atau dengan cara lain yang berhubungan langsung atau tidak langsung dengan pemegang saham mayoritas dari suatu perusahaan yang mengawasi pengelolaan perusahaan.

Pengertian Komisaris Independen sebenarnya berasal dari pengertian komisaris dalam Pasal 1 angka 5 Undang-undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas menyatakan: ”Komisaris adalah organ perseroan yang bertugas melakukan pengawasan secara umum dan/atau khusus serta memberikan nasihat kepada direksi dalam menjalankan perseroan”.116

Untuk memastikan komisaris independen dapat menjalankan tugasnya secara independen, komisaris independen harus memenuhi kriteria formal sebagai berikut:117

1. Mampu melakukan perbuatan hukum;

2. Tidak pernah dinyatakan pailit atau menjadi anggota direksi atau dewan komisaris yang bersalah menyebabkan perusahaan dinyatakan pailit;

3. Tidak pernah dipidana karena merugikan keuangan negara;

4. Tidak memiliki hubungan afiliasi dengan pemegang saham pengendali perusahaan yang bersangkutan;

116

Indra Surya, Ivan Yustiavandana,Op.Cit.,hal. 135-136.

117

5. Tidak memiliki hubungan afiliasi dengan direktur dan/atau komisaris lainnya pada perusahaan yang bersangkutan;

6. Tidak bekerja rangkap sebagai direktur di perusahaan lainnya yang terafiliasi dengan perusahaan yang bersangkutan;

7. Tidak menduduki jabatan eksekutif atau mempunyai hubungan bisnis dengan perusahaan yang bersangkutan dan perusahaan – perusahaan lainnya yang terafiliasi dalam jangka waktu 3 tahun terakhir;

8. Tidak menjadi partner atau principal di perusahaan konsultan yang memberikan jasa pelayanan profesional pada perusahaan dan perusahaan – perusahaan lainnya yang terafiliasi;

9. Tidak menjadi pemasok dan pelanggan signifikan atau menduduki jabatan eksekutif dan dewan komisaris perusahaan pemasok dan pelanggan signifikan dari perusahaan yang bersangkutan atau perusahaan – perusahaan lainnya yang terafiliasi;

10. Bebas dari segala kepentingan dan kegiatan bisnis atau hubungan yang lain yang dapat diinterpretasikan akan menghalangi atau mengurangi kemampuan komisaris independen untuk bertindak dan berpikir independen demi kepentingan perusahaan;

11. Memahami peraturan perundang – undangan perseroan terbatas Undang – undang Pasar Modal dan Undang – undang serta peraturan – peraturan lain yang terkait.

Selain kriteria formal seperti disebutkan diatas seorang komisaris independen harus memiliki beberapa kriteria dan kompetensi pribadi antara lain sebagai berikut:118

1. Memiliki integritas dan kejujuran yang tidak diragukan;

2. Memahami seluk - beluk pengelolaan bisnis dan atau keuangan perusahaan; 3. Memahami dan mampu membaca laporan keuangan perusahaan dan

implikasinya terhadap strategi bisnis;

4. Memiliki kepekaan terhadap perkembangan lingkungan yang dapat mempengaruhi bisnis perusahaan;

5. Memiliki wawasan luas dan kemampuan berpikir strategis;

6. Memiliki karakter kepemimpinan, mampu berkomunikasi dan bekerjasama dengan orang lain;

7. Memiliki komitmen dan konsisten dalam melakukan profesinya sebagai komisaris independen;

118Forum for Corporate Governance in Indonesia, Seri Tata Kelola Perusahaan (Corporate Governance), Op. Cit.hal.8.

8. Memiliki kemampuan untuk berpikir objektif dan independen secara profesional.

Komisaris Independen yang professional adalah komisaris independen yang memenuhi kriteria sperti di bawah ini:119

1. Komisaris Independen yang bersifat “supportive” baik terhadap komisaris lain maupun terhadap Direksi serta manajemen;

2. Komisaris Independen yang mengerti betul mengenai bentuk serta hal ikhwal yang berkaitan dengan tingkat risiko perseroan dimana ia berada;

3. Komisaris Independen yang mengetahui dan dapat beradaptasi serta membantu mengembangkan budaya perusahaan yang positif;

4. Komisaris Independen yang berupaya dengan semaksimal mungkin untuk membantu memperhatikan berbagai pihak yang berkepentingan (stakeholder); 5. Komisaris Independen yang cukup menguasai berbagai aturan serta proses

yang terkait dengan usaha dari Perseroan tersbut;

6. Komisaris Independen yang cukup menguasai aspek-aspek penting dari kebijakan-kebijakan penting Perseroan melalui “due diligence” yang matang. Adanya komisaris independen tidak terlepas dari keberadaan komisaris (pada umumnya). Komisaris merupakan organ perseroan yang mengawasi kebijaksanaan direksi dalam menjalankan perseroan serta memberikan nasihat kepada direksi.

Komisaris Independen juga diharapkan dapat berperan efektif untuk secara independen, melalui komite audit, yang mana untuk melakukan pencegahan maupun perbaikan terhadap adanya penyimpangan atau fraud maka komisaris independen perlu memiliki kompetensi tertentu yang memungkinkannya menjalankan fungsinya secara efektif.

Berikut beberapa kompetensi yang diharapkan dari seorang komisaris independen:120

119

1. Pemahaman yang memadai mengenai industri perusahaan; 2. Pemahaman akan aspek-aspek legal perusahaan;

3. Pemahaman akan aspek-aspek keuangan.

Di samping itu, komisaris independen diharapakan memiliki pengalaman dalam aspek-aspek berikut:121

1. Formulasi strategi; 2. Kepemimpinan;

3. Perbuatan keputusan yang efektif; 4. Penilaian kinerja perusahaan;

5. Hubungan dan komunikasi antar pribadi;

6. Teamworkdalam konteks Dewan Komisaris.

Daftar di atas merupakan kompetensi dasar yang sangat dibutuhkan dari seorang komisaris Independen untuk dapat memimpin dan mengembangkan sebuah komite audit yang efektif.

Di Indonesia, dewan komisaris merupakan organ yang bersifat pasif dan tidak dapat menjalankan fungsi pengawasannya secara efektif terhadap direksi. Atau sebaliknya, peran komisaris yang terlalu kuat dalam perusahaan, sehingga sering kali melakukan intervensi terhadap kebijakan direksi.

Fenomena ini menjadi masalah pada perusahaan terbatas biasa, namun akan berbeda halnya bila perusahaan tersebut telah go public. Sikap pasif ini atau sikap yang mengintervensi setiap kebijakan yang diambil direksi tersebut pada akhirnya akan dapat merugikan kepentingan pemegang saham minorotas serta parastakeholder

lainnya.

120Forum for Corporate Governance in Indonesia, Seri Tata Kelola Perusahaan (Corporate Governance), Op.Cit.,hal.4.

121 Ibid.

Fenomena ini terjadi juga karena struktur kepemilikan perusahaan di Indonesia masih sangat terkonsentrasi. Jabatan komisaris diberikan kepada seseorang bukan didasarkan pada kompetensi dan profesionalisme, tetapi sebagai penghormatan atau penghargaan, sehingga loyalitas ditujukan pada pemberi jabatan atau jabatan komisaris diberikan kepada pejabat atau mantan pejabat pemerintah yang masih mempunyai pengaruh untuk meningkatkan posisi tawar (bargaining power) perusahaan di kalangan pemerintah.

Istilah komisaris independen ini sebenarnya sama dengan istilah direktur independen pada negara-negara yang menganut sistem hukum Anglo-Saxon. Perbedaan istilah ini disebabkan adanya 2 sistem hukum perusahaan yang berbeda. Sistem hukum Anglo-Saxon menganut One Tier System yang hanya memiliki satu dewan direksi.

Pada sistem inilah dikenal namanya direktur independen sebagai pihak yang mengawasi kinerja dewan direksi. Sedangkan sistem hukum Eropa Kontinental menganut Two Tiers System. Ada dua badan yang terpisah dalam suatu manajemen (dewan direksi). Kedua organ harus dapat independen satu terhadap yang lain.

Komisaris harus dapat melakukan fungsi pengawasan yang independen terhadap Direksi, sebaliknya Direksi harus dapat mengelola perusahaan dari hari ke hari secara independen tanpa tekanan yang berlebihan dari Komisaris.122

Komisaris Independen dikenal pada Two Tiers System. Indonesia menganut sistem ini sehingga Indonesia menggunakan istilah komisaris independen.123 Keberadaan komisaris independen dimaksudkan untuk menciptakan iklim yang lebih

122

Indra Surya, Ivan Yustiavandana,Op.Cit.,hal. 135.

123

objektif dan independen, dan juga menjaga fairness serta mampu memberikan keseimbangan antara kepentingan pemegang saham mayoritas dan perlindungan terhadap kepentingan pemegang saham minoritas, bahkan kepentingan para

stakeholdersyang lain.124

C. Status dan Tanggung Jawab Hukum Komisaris Independen

Pada dasarnya semua komisaris bersifat independen, dalam pengertian mereka diharapkan mampu melaksanakan tugas-tugasnya secara independen, semata-mata demi kepentingan perusahaan, dan terlepas dari pengaruh berbagai pihak yang memiliki kepentingan yang dapat berbenturan dengan kepentingan perusahaan.125

Dalam upaya untuk melaksanakan tanggung jawabnya dengan baik maka komisaris independen harus secara proaktif mengupayakan agar dewan komisaris melakukan pengawasan dan memberikan nasehat kepada direksi yang terkait dengan, namun tidak terbatas pada hal – hal sebagai berikut:126

1. Memastikan bahwa perusahaan memiliki strategi bisnis yang efektif termasuk didalamnya memantau jadwal, anggaran dan efektifitas streategi tersebut; 2. Memastikan bahwa perusahaan mengangkat eksekutif dan manajer-manajer

profesional;

3. Memastikan bahwa perusahaan memiliki informasi, sistem pengendalikan dan sistem audit yang bekerja dengan baik;

4. Memastikan bahwa perusahaan mematuhi hukum dan perundangan yang berlaku maupun nilai-nilai yang ditetapkan perusahaan dalam menjalankan operasinya;

5. Memastikan risiko dan potensi krisis selalu diiidentifikasikan dan dikelola dengan baik

6. Memastikan prinsip-prinsip dan praktik good corporate governance (GCG) dipatuhi dan diterapkan dengan baik.

124

Retno Murdaningsih,Loc.Cit

125

Ibid.

126

Tugas Komisaris Independen sebagaimana yang dimaksud pada angka 6 di atas antara lain sebagai berupa:127

1. Menjamin transparansi dan keterbukaan laporan keuangan perusahaan;

2. Perlakuan yang adil terhadap pemegang saham minoritas dan stakeholder yang lain;

3. Diungkapkannya transaksi yag mengandung benturan kepentingan secara wajar dan adil;

4. Kepatuhan perusahaan pada perundangan dan peraturan yang berlaku; 5. Menjamin akuntabilitas organ perseroan.

Komisaris Independen merupakan bagian dari dewan komisaris. Undang-Undang Perseroan Terbatas menegaskan bahwa komisaris adalah organ perusahaan dan karenanya komisaris harus bekerja untuk kepentingan perusahaan sebagai badan hukum, bukan untuk pemegang saham.128

Istilah independen dalam hal ini harus dipahami menurut Undang-Undang Perseroan Terbatas yaitu bahwa kornisaris independen harus bertindak hanya untuk kepentingan perusahaan, sehingga komisaris Independen memiliki tanggung jawab hukum yang sama dengan komisaris lainnya.

Dalam Pasal 69 ayat (3) menyatakan bahwa anggota dewan komisaris yang menandatangani laporan keuangan yang ternyata tidak benar dan/atau menyesatkan, bertanggung jawab secara tanggung renteng dengan anggota dewan direksi yang menandatangani juga laporan keuangan tersebut.

127 Task ForceKomite Nasional KebijakanCorporate Governance,Op.Cit., Bab IV angka 3.

128

Berkenaan dengan tugas-tugas Komisaris, pasal 114 ayat (1) menyatakan dewan komisaris bertanggung jawab atas pengawasan Perseroan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 108 ayat (1).

Ayat (2) menentukan setiap anggota dewan komisaris wajib dengan itikad baik, kehati-hatian, dan bertanggung jawab dalam menjalankan tugas pengawasan dan pemberian nasihat kepada direksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 108 ayat (1) untuk kepentingan Perseroan dan sesuai dengan maksud dan tujuan Perseroan.

Ayat (3) menyatakan setiap anggota dewan komisaris ikut bertanggung jawab secara pribadi atas kerugian perseroan apabila yang bersangkutan bersalah atau lalai menjalankan tugasnya sebagaimana dimaksud pada ayat (2).

Ayat (4) menyebutkan, bahwa dalam hal dewan komisaris terdiri atas 2 (dua) anggota dewan komisaris atau lebih, tanggung jawab sebagaimana dimaksud pada ayat (3) berlaku secara tanggung renteng bagi setiap anggota dewan komisaris.

Namun demikian menurut ayat (5) anggota dewan komisaris tidak dapat dipertanggungjawabkan atas kerugian sebagaimana dimaksud pada ayat (3) apabila dapat membuktikan:129

a. telah melakukan pengawasan dengan itikad baik dan kehati-hatian untuk kepentingan Perseroan dan sesuai dengan maksud dan tujuan Perseroan; b. tidak mempunyai kepentingan pribadi baik langsung maupun tidak

langsung atas tindakan pengurusan Direksi yang mengakibatkan kerugian; dan c. telah memberikan nasihat kepada Direksi untuk mencegah timbul atau

berlanjutnya kerugian tersebut.

129

Pasal 114 ayat (6) adalah gugatan “derivative action” oleh Pemegang Saham terhadap anggota dewan komisaris. Dikatakan, atas nama perseroan, pemegang saham yang mewakili paling sedikit 1/10 (satu persepuluh) bagian dari jumlah seluruh saham dengan hak suara dapat menggugat anggota dewan komisaris yang karena kesalahan atau kelalaiannya menimbulkan kerugian pada Perseroan ke pengadilan negeri.

Pasal 115 mengatur tanggung jawab komisaris berkenaan dengan kepailitan. Ayat (1) Dalam hal terjadi kepailitan karena kesalahan atau kelalaian dewan komisaris dalam melakukan pengawasan terhadap pengurusan yang dilaksanakan oleh direksi dan kekayaan perseroan tidak cukup untuk membayar seluruh kewajiban Perseroan akibat kepailitan tersebut, setiap anggota dewan komisaris secara tanggung renteng ikut bertanggung jawab dengan anggota direksi atas kewajiban yang belum dilunasi. Ayat (2) Tanggung jawab sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berlaku juga bagi anggota dewan komisaris yang sudah tidak menjabat 5 (lima) tahun sebelum putusan pernyataan pailit diucapkan.

Namun demikian sebagaimana dinyatakan dalam ayat (3), anggota dewan komisaris tidak dapat dimintai pertanggungjawaban atas kepailitan perseroan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) apabila dapat membuktikan:130

a. kepailitan tersebut bukan karena kesalahan atau kelalaiannya;

b. telah melakukan tugas pengawasan dengan itikad baik dan kehati-hatian untuk kepentingan perseroan dan sesuai dengan maksud dan tujuan perseroan; c. tidak mempunyai kepentingan pribadi, baik langsung maupun tidak langsung

atas tindakan pengurusan oleh direksi yang mengakibatkan kepailitan; dan d. telah memberikan nasihat kepada direksi untuk mencegah terjadinya

kepailitan.

130

Dewan Komisaris di dalam menjalankan fungsi pengawasannya dapat membentuk komite-komite, antara lain komite audit, komite nominasi, komite remunerisasi dan juga komite asuransi dan risiko, guna menunjang pelaksanaan tugasnya. Berkaitan dengan hal ini Peraturan Menteri BUMN No. PER-01 /MBU/2011 tentang PenerapanGood Corporate Governancepada BUMN, Peraturan BEJ No.I-A tentang Ketentuan Umum Pencatatan Efek bersifat ekuisitas di Bursa dan juga Pedoman Good Corporate Governance oleh Komite Nasional Kebijakan Good Corporate Governance (KNKGC) telah mengatur peran khusus dari Komisaris Independen yaitu sebagai ketua atau pimpinan komite audit.

Keberadaan komite Audit diharapkan dapat meningkatkan akuntabilitas dan efektivitas dewan komisaris secara signifikan, terutama dalam penanganan hal-hal yang terkait dengan sistem kendali internal, manajemen risiko, pengungkapan laporan keuangan perusahaan serta praktik-praktik Good Corporate Governance secara keseluruhan.

Dengan adanya peran komisaris independen sebagai ketua komite audit memungkinkan komite tersebut melaksanakan fungsinya secara independen dan dengan otoritas yang memadai. Melalui komite Audit, komisaris independen dapat berperan efektif untuk secara independen melihat pada dini adanya potensi penyimpangan. Berdasarkan hasil kerja komite audit, komisaris independen segera mengambil langkah-langkah pencegahan atau perbaikan, tentu saja tetap dalam kerangka Komisaris.

Dengan dijalankannya peran tersebut, maka komisaris independen telah berfungsi efektif dalam melindungi perusahaan dari risiko sekaligus melindungi komisaris dari potensi tuntutan hukum karena kegagalan dalam melaksanakan kewajibannya.

Kebijakan dan kepiawaian seorang komisaris independen dalam memberdayakan komite audit yang dipimpinnya akan menjadi penentu apakah