BAB III KEDUDUKAN KOMISARIS INDEPENDEN DALAM
A. Perlunya Komisaris Independen dalam Perseroan Terbuka
Sebenarnya alasan mendasar mengapa Komisaris Independen dibutuhkan adalah untuk mengintensifkan tugas Dewan Komisaris. Salah satu penyebab dari banyaknya kasus yang terjadi terhadap perseroan disebabkan karena lemahnya pengawasan yang dilakukan oleh Dewan Komisaris.
Secara langsung keberadaan Komisaris Independen menjadi penting karena di dalam praktek sering ditemukan transaksi yang mengandung benturan kepentingan yang mengabaikan kepentingan pemegang saham publik (pemegang saham minoritas) serta stakeholder lainnya, terutama pada perusahaan di Indonesia yang menggunakan dana masyarakat di dalam pembiayaan usahanya.87
Pada umumnya Perusahaan Terbuka dikendalikan oleh pemegang saham pengendali. Untuk Perseroan Terbatas yang dalam kegiatan usahanya melakukan pengerahan dana masyarakat, diperlukan pengawasan yang lebih besar karena menyangkut kepentingan masyarakat banyak, yang mana masyarakat banyak masuk dalam kelompok pemegang saham minoritas.
Komponen pemegang saham minoritas merupakan salah satu pihak penting karena Indonesia merupakan Negara berkembang yang mempunyai jumlah penduduk
87
Ridwan Khairandy dan Camelia, Malik, Good Corporate Governance, Perkembangan Pemikiran dan Implementasinya di Indonesia dalam Perspektif Hukum, Penerbit Kreasi Total Media, Yogyakarta. 2007. hal.164.
yang termasuk terbesar di dunia, sehingga potensi masyarakatnya masih dalam kemampuan membeli dalam jumlah yang kecil.
Dengan pendapatan per kapita yang masih belum tinggi, potensi penduduknya Indonesia hanya memiliki saham yang tentunya juga tidak besar. Oleh karena itu, perlindungan pemegang saham minoritas menjadi begitu penting.
Sebagaimana diketahui juga bahwa seringkali antara kepentingan pemegang saham mayoritas dengan pemegang saham minoritas bertentangan satu sama lain. Untuk itu, agar terpenuhinya unsur keadilan, diperlukan suatu keseimbangan sehingga pihak pemegang saham mayoritas tetap dapat menikmati haknya selaku mayoritas termasuk mengatur perseroan.
Di lain pihak, pihak pemegang saham minoritaspun perlu diperhatikan kepentingannya dan tidak bisa begitu saja diabaikan haknya perlu diangkat dari keterpurukannya sehingga kepadanya tercapai unsur fairness sebagaimana yang diisyaratkan dalam prinsipgood corporate governance.
Dalam hal ini, pihak pemegang saham minoritas umumnya berada pada pihak yang lemah dikarenakan oleh salah satu atau lebih dari faktor-faktor sebagai berikut:88
1. Kurangnya ketentuan hukum yang mengatur mengenai perlindungan terhadap pemegang saham minoritas dalam perseroan terbatas;
2. Sikap dan perilaku pemegang saham mayoritas, direksi dan komisaris yang sewenang-wenang;
88
Misahardi Wilamarta, Hak Pemegang Saham Minoritas Dalam Rangka Good Corporate Governance,Penerbit UI Press, Jakarta, 2002, hal.88.
3. Karena kurangnya modal, pengetahuan, ketrampilan, dan kemampuan untuk mengelola perusahaan.
Meskipun masih dalam tahap awal, berbagai perusahaan baik publik maupun BUMN telah mengangkat Komisaris Independen dan mengupayakan agar Komisaris Independen dapat berfungsi sesuai dengan amanah yang diembannya.
Dengan adanya kehadiran Komisaris Independen juga berpengaruh terhadap meningkatnya kapabilitas Dewan Komisaris secara keseluruhan sehingga efektivitas kerja mereka dapat menjadi lebih optimal.89
Secara umum, Dewan Komisaris bertanggung jawab dalam memberikan masukan, arahan dan juga pengawasan kepada Direksi.90 Hati-hati, penuh dengan pertimbangan yang matang dan selalu berpegang pada prinsip-prinsip tata kelola yang baik merupakan hal pokok yang selalu dilakukan oleh Direksi dan Dewan Komisaris dalam mengelola Perseroan sesuai dengan Visi dan Misi yang telah ditetapkan
Dewan Komisaris memegang peranan yang sangat penting dalam perusahaan terutama dalam pelaksanaan good corporate governance. Agar lebih efektif dalam pelaksanaan tugas dan tanggung jawabnya, maka Perseroan memerlukan kehadiran Komisaris Independen dalam jajaran Dewan Komisaris.91
89
Antonius Alijoyo dan Subarto Zaini,Op.Cit., hal. 51
90
Sujud Margono, Hukum Perusahaan Indonesia,CV. Novindo Pustaka Mandiri, Jakarta, 2008. hal .83.
91
Dorojatun Kuncoro Djakti, Good Corporate Governance di Indonesia, Komisaris Independen Penggerak Praktik GCG di Perusahaan, PT. Indeks, Jakarta, 2004. hal. 18.
Hal ini dikarenakan misi dari Komisaris Independen itu sendiri salah satunya adalah mendorong diterapkannya prinsip dan praktek tata kelola perusahaan yang baik.
Atik Indriyani memaparkan perlunya memiliki Komisaris Independen, semata untuk mengintensifkan tugas Dewan Komisaris.
Komisaris Independen dimaksudkan untuk mempertegas pengawasan Dewan Komisaris karena sesuai dengan peraturan Bapepam yang mensyaratkan adanya Komisaris Independen dalam perseroan terbuka, bahwasannya Komisaris Independen bebas dari konflik kepentingan yang mungkin terjadi antara pemegang saham pengendali dan pemegang saham publik (minoritas) danstakeholderlainnya.92
Menurut Prof. Dr. Mariam Darus, Sarjana Hukum menyatakan bahwa alasan-alasan mendasar mengapa Komisaris Independen dibutuhkan adalah untuk mengintensifkan tugas Dewan Komisaris. Salah satu penyebab dari banyaknya pembobolan yang terjadi terhadap perseroan diasumsikan karena kurangnya pengawasan yang dilakukan Dewan Komisaris.93
Kebutuhan adanya dewan Komisaris sangat dirasakan oleh perseroan yang terlibat dengan keuangan seperti BUMN, perbankan, asuransi, dan perusahaan publik. Berdasarkan pertimbangan itu, Menteri BUMN dan Otoritas Pasar Modal dan Bursa Efek melihat eksistensi Komisaris Independen itu diperlukan.
92
Atik Indriyani,Keberadaan Komisaris Independen Dalam Perseroan, Supremasi Hukum., Vol. 2, Nomor 1, Januari 2006.
93
Untuk lebih memantapkan efektifitas Komisaris Independen, jumlah Komisaris Independen dalam satu perusahaan ditetapkan paling sedikit 30% (tiga puluh persen) dari jumlah seluruh komisaris atau paling sedikit 1 (satu) orang.
Dalam rangka penerapan prinsip-prinsipGood Corporate Governance(GCG), saat ini keberadaan Komisaris Independen sangat diperlukan pada jajaran Dewan Komisaris suatu perseroan. Fungsi organ Dewan Komisaris adalah pengawasan, yang wajib dilaksanakan dengan sebaik-baiknya untuk kepentingan perseroan.
Tujuan utama adanya Komisaris Independen dalam jajaran Dewan Komisaris pada dasarnya adalah sebagai penyeimbang pengawasan dan penyeimbang persetujuan atau keputusan yang diperlukan. Terdapat 2 (dua) alasan utama yang mendasari hal tersebut, yaitu:94
a. Alasan Independensi Pengelolaan Perseroan Direksi dipilih oleh pemegang saham, yang dalam hal ini suara yang paling menentukan dipilih atau tidaknya Direksi adalah berada pada suara pemegang saham mayoritas. Dengan adanya pelembagaan organ Dewan Komisaris yang merepresentasikan kedudukan pemegang saham (terutama pemegang saham mayoritas) di dalam perseroan, maka perseroan tidak dapat disebut sebagai badan yang independen, karena kebijakan atau keputusan Direksi dalam pengelolaan perusahaan, baik yang membutuhkan atau tidak membutuhkan persetujuan Dewan Komisaris tentunya akan lebih berpihak kepada pemegang saham mayoritas.
b. Alasan Perlindungan terhadap Pemegang saham Minoritas Alasan ini merupakan konsekuensi positif atas Independensi dalam pengelolaan perseroan. Adanya independensi pengelolaan perseroan tentunya akan melindungi pemegang saham/shareholder minoritas, karena kebijakan atau keputusan Direksi dalam pengelolaan perusahaan, baik yang membutuhkan atau tidak membutuhkan persetujuan Dewan Komisaris setidaknya tidak bertendensi kepada kepentingan pemegang saham mayoritas semata.
94
Keberadaan Komisaris Independen dalam suatu perseroan sebagaimana diuraikan di atas adalah sejalan dengan misi Komisaris Independen sebagaimana tergambar dalam Pedoman tentang Komisaris Independen oleh Task Force Komite Nasional KebijakanCorporate Governance, yaitu:95
1. Misi Komisaris Independen adalah mendorong terciptanya iklim yang lebih objektif dan menempatkan kesetaraan (fairness) di antara berbagai kepentingan termasuk kepentingan perusahaan dan kepentingan stakeholder sebagai prinsip utama dalam pengambilan keputusan oleh Dewan Komisaris. 2. Komisaris Independen harus mendorong diterapkannya prinsip dan praktek
tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance) pada perusahaan di Indonesia.
Secara teoritis konsepGood Corporate Governancebukan sesuatu yang baru bagi manajemen korporasi, melainkan di Indonesia menjadi fenomena baru dalam tata kelola korporasi semenjak pasca krisis tahun 1997 yang lalu. Krisis yang melanda Indonesia ini tidak terlepas dari pengaruh lemahnya penerapan good corporate governance.
Dalam keadaan demikian muncullah kesadaran untuk menyusun suatu struktur, piranti, dan mekanisme tata kelola korporasi yang baik untuk mencapai tujuan dan kepentingan korporasi dan pemegang saham sertastakeholderslainnya.96
Istilahgood corporate governancedapat juga mencakup segala aturan hukum yang ditujukan untuk memungkinkan suatu perusahaan dapat mempertang-gungjawabkan kegiatannya di hadapan pemegang saham dan publik. Selain itu, istilah
95Task ForceKomite Nasional KebijakanCorporate Governance,Op.Cit., Bab III Angka 1
96
good corporate governance juga dapat mengacu pada praktik audit dan prinsip-prinsip pembukuan, dan juga dapat mengacu pada keaktifan pemegang saham.97
Secara formal, good corporate governance hanya ditujukan bagi perusahaan yang statusnya merupakan perusahaan publik, khususnya emiten yang telah menyerap dana dari masyarakat dan memiliki saham publik yang sifatnya minoritas dan independen. Secara sederhana dapat digambarkan sebagai bentuk dari pelaksanaan tanggung jawab antara perusahaan sebagai badan hukum, direksi dan komisaris sebagai pengurus dan pengawas dengan para pemegang saham.
Caranya dengan menjalankan ketentuan Anggaran Dasar dalam rangkaian kewajiban untuk transparansi, bertanggung jawab, adil, dan akuntabilitas. Sehubungan dengan hal tersebut, dalam rangka pelaksanan prinsip Good Corporate Governance, maka dunia usaha sekarang ini memerlukan Komisaris Independen yang duduk dalam jajaran pengurus perseroan. Perkembangan ini patut mendapat pujian karena memperlihatkan adanya kesadaran untuk menata ulang keberadaan dan kegiatan usahanya secara baik.
Menurut Peraturan Menteri Badan Usaha Milik Negara PER-01 /MBU/2011,
corporate governance adalah suatu proses dari struktur yang digunakan oleh organ BUMN untuk meningkatkan keberhasilan usaha dan akuntabilitas perusahaan guna mewujudkan nilai pemegang saham dalam jangka panjang dengan tetap memperhatikan kepentinganstakeholderlainnya, berlandaskan peraturan perundang-undangan dan nilai-nilai etika.98
97
Bismar Nasution,Hukum Kegiatan Ekonomi,Op. Cit.,hal.158.
98
Peraturan Menteri BUMN Nomor: PER-01/MBU/2011Tentang Penerapan Praktik Good Corporate GovernancePada BUMN
Dari beberapa defenisi yang dikemukakan di atas dapat disimpulkan bahwa
corporate governanceitu adalah suatu sistem yang dibangun untuk mengarahkan dan mengendalikan perusahaan sehingga tercipta tata hubungan yang baik, adil dan transparan di antara berbagai pihak yang terkait dan memiliki kepentingan
stakeholderdalam perusahaan.
Secara umum, prinsip-prinsip dasar yang harus diterapkan oleh perusahaan dalam rangka GCG adalah:99
1. Transparansi (Transparency), yaitu keterbukaan terhadap proses pengambilan keputusan, dan penyampaian informasi mengenai segala aspek perusahaan terutama yang berkaitan dengan kepentingan stakeholders dan publik secara benar dan tepat waktu.
2. Akuntabilitas (Accountability), yaitu kejelasan pembagian tugas, wewenang dan tanggung jawab masing-masing organ perusahaan yang diangkat setelah melalui fit and proper test (Uji Kemampuan dan Kepatutan), sehingga pengelolaan perusahaan dapat dilaksanakan secara efektif dan efesien.
3. Responsibilitas (Responsibility), yaitu perwujudan kewajiban organ perusahaan untuk melaporkan kesesuaian pengelolaan perusahaan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, dan keberhasilan maupun kegagalannya dalam pencapaian visi, misi, tujuan, dan sasaran perusahaan yang telah ditetapkan.
99
Kunami’s Weblog, Pelaksanaan Good Corporate Governance, http://kunami.word-press .com, terakhir diakses tanggal 20 Agustus 2012.
4. Independensi/Kemandirian (Independency), yaitu suatu keadaan, perusahaan dikelola secara profesional tanpa benturan kepentingan dan pengaruh atau tekanan dari pihak manapun, terutama pemegang saham mayoritas, yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan prinsip-prinsip korporasi yang sehat.
5. Kesetaraan dan Kewajaran (Fairness), yaitu keadilan dan kesetaraan di dalam memenuhi hak-hak stakeholders yang timbul berdasarkan perjanjian dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Forum for Corporate Governance in Indonesia (FCGI) yang merupakan forum perkumpulan dari asosiasi-asosiasi bisnis dan profesi menjabarkan prinsip-prinsip dasar GCG dalam bentuk konkrit yang lain, sebagai berikut:100
1. Hak-hak para pemegang saham, yang harus diberi informasi dengan benar dan tepat pada waktunya mengenai perusahaan, dapat ikut berperan serta dalam pengambilan keputusan mengenai perubahan-perubahan yang mendasar atas perusahaan dan turut memperoleh bagian dari keuntungan perusahaan;
2. Perlakuan sama terhadap pemegang saham, terutama kepada pemegang saham minoritas dan pemegang saham asing, dengan keterbukaan informasi yang penting serta melarang pembagian untuk pihak sendiri dan perdagangan saham oleh orang dalam (insider trading);
3. Peranan pemegang saham harus diakui sebagaimana ditetapkan oleh hukum dan kerjasama yang aktif antara perusahaan serta para pemegang saham dalam menciptakan kekayaan, lapangan kerja, dam perusahaan yang sehat dari aspek keuangan;
4. Pengungkapan yang akurat dan tepat pada waktunya serta transparansi mengenai semua hal yang penting bagi kinerja perusahaan, kepemilikan, serta para pemegang saham (stakeholder);
5. Tanggung jawab pengurus dalam manajemen, pengawasan manajemen dan pertanggungjawaban kepada perusahaan dan para pemegang saham.
100
Johannes Ibrahim,Hukum Organisasi Perusahaan: Pola Kemitraan dan Badan Hukum, PT. Refika Aditama, Bandung, 2006, hlm. 73.
FCGI berpendapat bahwa penerapan prinsip-prinsip dasar GCG dapat memberikan beberapa manfaat, antara lain:101
1. Meningkatkan kinerja perusahaan melalui terciptanya proses pengambilan keputusan yang lebih baik, meningkatkan efesiensi operasional perusahaan serta lebih meningkatkan pelayanan kepadastakeholders;
2. Mempermudah diperolehnya dana pembiayaan yang lebih murah dan tidak
rigid (karena faktor kepercayaan) yang pada akhirnya akan meningkatkan
corporate value;
3. Mengembalikan kepercayaan investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia;
4. Pemegang saham akan merasa puas dengan kinerja perusahaan karena sekaligus akan meningkatkan stakeholders value dan deviden. Khusus bagi BUMN akan dapat membantu penerimaan bagi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara terutama dari hasil privatisasi.
Lemahnya penerapan prinsip Good Corporate Governance di perusahaan-perusahaan Indonesia terutama saat menghadapi krisis perekonomian mengakibatkan sikap apatis kreditor Internasional akan iklim investasi di Indonesia. Untuk mendorong implementasi prinsip-prinsip GCG, muncul suatu ide tentang ”organ tambahan” dalam struktur perseroan. Salah satunya organ tersebut adalah Komisaris Independen. Komisaris Independen memegang peranan yang sangat penting dalam perusahaan, terutama dalam pelaksanaanGood Corporate Governance.
Menurut Egon Zehnder, Dewan Komisaris merupakan inti dari Corporate Governance yang ditugaskan untuk menjamin pelaksanaan strategi perusahaan, mengawasi manajemen dalam mengelola perusahaan, serta mewajibkan terlaksananya akuntabilitas. Pada intinya, Dewan Komisaris merupakan suatu
101 Ibid
mekanisme mengawasi dan mekanisme untuk memberikan petunjuk dan arahan pada pengelola perusahaan.102
Untuk menjamin pelaksanaan Good Corporate Governance (GCG) diperlukan anggota Dewan Komisaris yang memiliki integritas, kemampuan, tidak cacat hukum dan independen serta tidak memiliki hubungan bisnis ataupun hubungan lainnya dengan pemegang saham mayoritas dan Dewan Direksi baik secara langsung maupun tidak langsung.103
Tantangan yang mendasar dalam reformasi Good Corporate Governance ini adalah rendahnya independensi komisaris. Independensi merupakan persoalan penting dalam penerapan Good Corporate Governance. Hilangnya Independensi Komisaris dalam proses pengambilan keputusan bisnis akan menghilangkan objektivitasnya dalam mengambil keputusan tersebut. Kejadian ini akan sangat fatal bila ternyata harus mengorbankan kepentingan perusahaan yang seharusnya mendapat prioritas utama.
Dalam mengelola perusahaan menurut kaedah umum GCG, peran Komisaris Independen berfungsi untuk mengawasi jalannya perusahaan dengan memastikan bahwa perusahaan tersebut telah melakukan praktek transparansi, kemandirian, akuntabilitas, dan kewajaran.104
102
Retno Murdaningsih,Loc.Cit. 103
Forum for Corporate Governance in Indonesia, Seri Tata Kelola Perusahaan(Corporate Governance) Jilid II; Peranan Dewan Komisaris dan Komite Audit dalam Pelaksanaan Corporate Governance,Op.Cit., hlm.5.
104
Fungsi dan peran Komisaris Independen dalam meningkatkan prinsip-prinsip GCG tergambar dalam misi Komisaris Independen. Adapun misi Komisaris Independen adalah mendorong dan menempatkan kesetaraan (fairness) di antara berbagai kepentingan termasuk kepentingan perusahaan dan kepentingan stakeholder sebagai prinsip utama dalam pengambilan keputusan oleh Dewan Komisaris.105
Jadi, dapat dikatakan bahwa Perlunya Komisaris Independen dalam perseroan terbuka adalah untuk menciptakan prinsip kesetaraan di antara berbagai kepentingan perusahaan dengan tetap melindungi kepentingan pemegang saham minoritas yang mana dilakukan dengan pengungkapan secara terbuka (berdasarkan prinsip keterbukaan) adanya informasi atau transaksi yang berbenturan kepentingan) sehingga tercipta akuntabilitas dari Dewan Komisaris itu sendiri.