RSUP H. Adam Malik- FK USU
PENYARINGAN SUBJEK PENELITIAN I. Kriteria penerimaan subjek penelitian ( Beri tanda √ )
II. Kriteria penolakan subjek penelitian ( Beri tanda √ )
Ya Tidak Kriteria
Menolak atau tidak mengikuti protokol penelitian secara lengkap oleh karena berbagai alasan
Reaksi alergi terhadap jarum akupunktur.
Infeksi pada kulit tempat penusukan jarum akupunktur.
Mendapat perawatan di ruang perawatan intensif karena berbagai alasan Menggunakan obat-obatan yang dapat memengaruhi pruritus yang diberikan oleh dokter yang merawat selama masa penelitian.
Menderita psoriasis dan atau dermatitis atopik selama masa penelitian Keadaan mental dan atau fisik yang memengaruhi kemampuan menjawab pertanyaan kuesioner
Jika ada jawaban”ya” maka pasien tidak memenuhi kriteria untuk menjadi subjek dalam penelitian.
III. Kesimpulan ( Beri tanda √ )
( ) Pasien memenuhi kriteria sebagai subjek penelitian ( ) Pasien tidak memenuhi kriteria sebagai subjek penelitian
Lampiran 4. Kuesioner The itch 5-D scale (Elman at al., 2010)
Lampiran 5. Kuesioner Skala Gatal 5 Dimensi (Wulandani et al., 2018)
Lampiran 6. Pemeriksaan IL-2 Serum
Pemeriksaan IL-2 serum
Pemeriksaan IL-2 serum menggunakan Human IL-2 ELISA kit (Fine Test®, Wuhan Fine Biological Technology Co., Ltd), katalog no. EH0189, dengan komponen : Micro ELISA Plate (Dismountable), Lyophilized Standard, Sample/Standard dilution buffer, Biotin- detection antibody (Concentrated), Antibody dilution buffer, HRP-Streptavidin Conjugate (SABC), SABC dilution buffer, TMB substrate, Stop solution, Wash buffer (25X), Plate Sealer.
1. Persiapan serum:
a. Darah vena di ambil sebanyak 2 mL dengan menggunakan vacuette, biarkan darah membeku dalam waktu 2 jam.
b. Sesudah bekuan terbentuk, dilakukan sentrifus 3.000 rpm selama 20 menit.
c. Cairan serum diambil dan disimpan dalam lemari pendingin dengan suhu -40
°C sampai jumlah sampel mencukupi untuk dilakukan pemeriksaan IL-2.
2. Persiapan reagen : a. Wash buffer.
Konsentrat wash buffer sebanyak 30 mL diencerkan dengan 750 mL air suling. Larutan disimpan pada temperatur kamar sebelum digunakan..
b. Standar.
i. 1000 pg/mL larutan standar: Tambahkan 1 ml sample/Standard dilution buffer pada satu standar tabung, biarkan pada suhu kamar selama 10 menit dan aduk.
ii. 500 pg/mL→15,6 pg/mL solusi standar: 6 tabung Eppendorf dilabel masing-masing dengan 500 pg/mL, 250 pg/mL, 125 pg/mL, 62,5 pg/mL, 31,25 pg/mL, dan 15,6 pg/mL. Alikuot 0.3 mL sample/Standard dilution buffer ke setiap tabung. Tambahkan 0,3 mL larutan standar 1000pg/mL di atas menjadi 1 tabung dan campuran saksama. Pindahkan 0,3 mL dari tabung 1 untuk tabung 2. Pindahkan 0,3 mL dari tabung 2 ke tabung 3 dan seterusnya.
c. Streptavidin-HRP.
Streptavidin-HRP konjugat (SABC) diencerkan 1:100 dengan SABC dilution buffer. (tambahkan 1 μL SABC kedalam 99 μL SABC dilution buffer).
d. Biotin- detection Antibody.
Biotin- detection Antibody diencerkan 1:100 dengan Antibody dilution buffer. (tambahkan 1 μL Biotin-detection Antibody kedalam 99 μL Antibody dilution buffer).
3. Prosedur ELISA.
a. Pencucian: Tambahkan 200 ul larutan pencuci setiap sumur. Sedot cairan dari setiap sumur untuk menghilangkan cairan dan cuci plat 2 kali menggunakan 300 ul larutan pencuci per sumur. Sesudah mencuci selesai, balikkan plat untuk menghilangkan sisa larutan dan noda dengan handuk kertas
b. Reaksi: Tambahkan 100 ul standar dan serum untuk setiap sumur. Tutup plat dengan penutup plat. Diinkubasi selama 90 menit pada suhu 37°C.
c. Deteksi: Tambahakan 100 μL Biotin- detection Antibody yang telah diencerkan pada tiap sumur dan biarkan selama 60 menit pada suhu 37°C.
d. Sedot cairan setiap sumur dan cuci plat sebanyak 3 kali.
e. Konjugasi: Tambahkan 100 μL SABC yang telah diencerkan pada setiap sumur kemudian diinkubasi selama 30 menit
f. Sedot cairan setiap sumur dan cuci plat sebanyak 5 kali.
h. Pewarnaan: Tambahkan 90 uL TMB substrate pada setiap sumur kemudian diinkubasi selama 10-15 menit pada suhu 37°C.
g Tambahkan 50 uL stop solution setiap sumur.
i. Pembacaan: Densitas optik dari setiap sumur dibaca dengan menggunakan ELISA microplate reader, dengan panjang gelombang 450 nm. Kadar IL-2 selanjutnya dihitung menggunakan kurva standar.
Presisi.
Presisi Intra-assay (presisi dalam satu pengujian): 3 sampel dengan kadar IL-2 rendah, sedang dan tinggi, diuji 20 kali masing-masing pada plat yang sama.
Presisi Inter-assay Precision (presisi antar pengujian): 3 sampel dengan kadar IL-2 rendah, sedang dan tinggi diuji 3 kali pada plat yang berbeda, dengan 8 pengulangan pada tiap plat.
CV (%) = SD/meanX100 Intra-Assay: CV<8%
Lampiran 7. Pemeriksaan IL-31 Serum
Pemeriksaan IL-31 serum
Pemeriksaan IL-31 serum menggunakan Human IL-31 ELISA kit (Fine Test®, Wuhan Fine Biological Technology Co., Ltd), katalog no. EH018, dengan komponen : Micro ELISA Plate (Dismountable), Lyophilized Standard, Sample/Standard dilution buffer, Biotin- detection antibody (Concentrated), Antibody dilution buffer, HRP-Streptavidin Conjugate(SABC), SABC dilution buffer, TMB substrate, Stop solution, Wash buffer (25X), Plate Sealer.
1. Persiapan serum:
a. Darah vena di ambil sebanyak 2 mL dengan menggunakan vacuette, biarkan darah membeku dalam waktu 2 jam.
b. Sesudah bekuan terbentuk, dilakukan sentrifus 3.000 rpm selama 20 menit.
c. Cairan serum diambil dan disimpan dalam lemari pendingin dengan suhu -40
°C sampai jumlah sampel mencukupi untuk dilakukan pemeriksaan IL-31.
2. Persiapan reagen : a. Wash buffer.
Konsentrat wash buffer sebanyak 30 mL diencerkan dengan 750 mL air suling. Larutan disimpan pada temperatur kamar sebelum digunakan..
b. Standar.
i. 500 pg/ml larutan standar: Tambahkan 1 ml sample/Standard dilution buffer pada satu standar tabung, biarkan pada suhu kamar selama 10 menit dan aduk.
ii. 250 pg/ml→7,813 pg/mL solusi standar: 6 tabung Eppendorf dilabel masing-masing dengan 250 pg/mL, 125 pg/mL, 62,5 pg/mL, 31,25 pg/mL, 15,625 pg/mL, 7,813 pg/mL. Alikuot 0,3 mL sample/Standard dilution buffer ke setiap tabung. Tambahkan 0,3 mL larutan standar 500 pg/mL di atas menjadi 1 tabung dan campuran saksama. Pindahkan 0,3 mL dari tabung 1 untuk tabung 2. Pindahkan 0,3 mL dari tabung 2 ke tabung 3 dan seterusnya.
c. Streptavidin-HRP.
Streptavidin-HRP konjugat (SABC) diencerkan 1:100 dengan SABC dilution buffer. (tambahkan 1 μL SABC kedalam 99 μL SABC dilution buffer).
d. Biotin- detection Antibody.
Biotin- detection Antibody diencerkan 1:100 dengan Antibody dilution buffer. (tambahkan 1 μL Biotin-detection Antibody kedalam 99 μL Antibody dilution buffer).
3. Prosedur ELISA.
a. Pencucian: Tambahkan 200 ul larutan pencuci setiap sumur. Sedot cairan dari setiap sumur untuk menghilangkan cairan dan cuci plat 2 kali menggunakan 300 ul larutan pencuci per sumur. Sesudah mencuci selesai,
balikkan plat untuk menghilangkan sisa larutan dan noda dengan handuk kertas
b. Reaksi: Tambahkan 100 ul standar dan serum untuk setiap sumur. Tutup plat dengan penutup plat. Diinkubasi selama 90 menit pada suhu 37°C.
c. Deteksi: Tambahakan 100 μL Biotin- detection Antibody yang telah diencerkan pada tiap sumur dan biarkan selama 60 menit pada suhu 37°C.
d. Sedot cairan setiap sumur dan cuci plat sebanyak 3 kali.
e. Konjugasi: Tambahkan 100 μL SABC yang telah diencerkan pada setiap sumur kemudian diinkubasi selama 30 menit
f. Sedot cairan setiap sumur dan cuci plat sebanyak 5 kali.
h. Pewarnaan: Tambahkan 90 uL TMB substrate pada setiap sumur kemudian diinkubasi selama 10-15 menit pada suhu 37°C.
g Tambahkan 50 uL stop solution setiap sumur.
i. Pembacaan: Densitas optik dari setiap sumur dibaca dengan menggunakan ELISA microplate reader, dengan panjang gelombang 450 nm. Kadar IL-31 selanjutnya dihitung menggunakan kurva standar.
Presisi.
Presisi Intra-assay (presisi dalam satu pengujian): 3 sampel dengan kadar IL-31 rendah, sedang dan tinggi, diuji 20 kali masing-masing pada plat yang sama.
Presisi Inter-assay Precision (presisi antar pengujian): 3 sampel dengan kadar IL-31 rendah, sedang dan tinggi diuji 3 kali pada plat yang berbeda, dengan 8 pengulangan pada tiap plat.
CV (%) = SD/meanX100
Intra-Assay: CV<8%
Inter-Assay: CV<10%
Lampiran 8. Pemeriksaan Pruritus
Pemeriksaan Pruritus
Pemeriksaan pruritus dengan menggunakan kuesioner Skala Gatal 5 Dimensi merupakan jenis wawancara terpimpin dimana pewawancara sudah dibekali dengan daftar pertanyaan lengkap dan terinci dan dilakukan dengan 3 tahap yaitu:
1. Persiapan pewawancara
a. Pewawancara menyiapkan kuesioner Skala Gatal 5 Dimensi (Wulandani et al., 2018) dan alat tulis yang diperlukan.
b. Memastikan subjek yang akan diwawancarai sesuai dengan subjek yang ditetapkan oleh peneliti.
c. Memastikan keadaan mental dan atau fisik dalam keadaan baik sehingga tidak memengaruhi kemampuan menjawab pertanyaan kuesioner.
2. Wawancara dan pengisian kuesioner
Saat melakukan wawancara, pewawancara harus dapat menciptakan suasana agar tidak kaku sehingga subjek mau menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan.
Untuk itu, sikap-sikap yang harus dimiliki seorang pewawancara adalah sebagai berikut:
Netral; artinya, pewawancara tidak berkomentar untuk tidak setuju terhadap informasi yang diutarakan oleh subjek karena tugasnya adalah merekam seluruh keterangan dari subjek, sesuai dengan pilihan jawaban yang tersedia pada kuesioner.
Ramah; artinya pewawancara menciptakan suasana yang mampu menarik minat si subjek.
Adil; artinya pewawancara harus bisa memperlakukan semua subjek dengan sama. Pewawancara harus tetap hormat dan sopan kepada semua subjek bagaimanapun keberadaannya.
Hindari ketegangan; artinya, pewawancara harus dapat menghindari ketegangan, jangan sampai subjek sedang dihakimi atau diuji. Kalau suasana tegang, subjek berhak membatalkan wawancara tersebut dan meminta pewawancara untuk tidak menuliskan hasilnya. Pewawancara harus mampu mengendalikan situasi dan pembicaraan agar terarah.
Pengisian kuesioner:
a. Pewawancara mengajukan pertanyaan sesuai dengan pertanyaan pada masing-masing dimensi dimulai dengan dimensi durasi rasa gatal hingga dimensi lokasi rasa gatal.
b. Pewawancara membacakan pilihan-pilihan jawaban pertanyaan yang tersedia kepada subjek.
c. Pewawancara dapat mengulang dan memberikan penjelasan terhadap pertanyaan maupun jawaban jika subjek belum memahami.
d. Pewawancara memberikan tanda “√” pada kotak yang tersedia sesuai pilihan jawaban subjek.
3. Penilaian skala (Elman, 2010)
Penilaian skala pruritus dilakukan sesudah seluruh jawaban dari masing-masing pertanyaan setiap dimensi telah diberikan tanda “√”.
a. Skala masing-masing dimensi dinilai secara terpisah dan kemudian seluruh skala dijumlahkan untuk mendapat Skala Gatal 5 Dimensi antara 5 (tidak gatal) hingga 25 (gatal paling parah)
b. Skala dimensi durasi, intensitas dan perkembangan rasa gatal dinilai sesuai dengan pilihan subjek, masing-masing skala antara 1 hingga 5.
c. Skala dimensi gangguan beraktivitas akibat gatal dinilai sebagai dampak terhadap empat jenis kegiatan sehari-hari: tidur, bersantai/bersosialisasi, pekerjaan rumah tangga/urusan rumah tangga dan bersekolah/bekerja. Skala pada dimensi ditentukan oleh skala tertinggi diantara empat jenis kegiatan sehari-hari yang dipilih oleh subjek, masing-masing skala antara 1 hingga 5.
d. Skala dimensi lokasi rasa gatal dinilai dengan menjumlahkan lokasi bagian badan yang gatal kemudian ditentukan skalanya sebagai berikut:
Jumlah lokasi bagian badan yang gatal Skala
0-2 1
3-5 2
6-10 3
11-13 4
14-15 5
Lampiran 9. Pemeriksaan nyeri dengan VAS
Pemeriksaan Nyeri (VAS)
Pemeriksaan nyeri dengan menggunakan visual analog scale (VAS) adalah suatu instrumen yang digunakan untuk menilai intensitas nyeri dengan menggunakan sebuah garis 10 cm dengan pembacaan skala 0–10.
Cara penilaiannya adalah subjek menyebut atau menunjukkan angka pada nilai skala yang sesuai dengan intensitas nyeri yang dirasakannya setelah diberi penjelasan dari peneliti tentang makna dari setiap skala tersebut. Penentuan skala VAS dilakukan dengan mengukur jarak antara ujung garis yang menunjukkan tidak nyeri hingga ke titik yang ditunjukkan subjek.
Persyaratan melakukan pengukuran nyeri dengan menggunakan skala VAS:
a. Subjek sadar atau tidak mengalami gangguan mental/kognitif sehingga dapat berkomunikasi dengan baik.
b. Subjek dapat melihat dengan jelas, sehingga subjek dapat menyebut atau menunjukkan angka pada skala VAS berkaitan dengan kualitas nyeri yang dirasakannya.
c. Subjek kooperatif, sehingga pengukuran nyeri dapat terlaksana.
Agar pengukuran dapat berjalan sebagai mestinya, sebelum dilakukan pengukuran subjek diberi penjelasan mengenai pengukuran yang akan dilakukan beserta
prosedurnya. Kemudian subjek diminta untuk memilih atau menyebut angka pada garis sesuai dengan intensitas nyeri yang dirasakan.
Prosedur Pemeriksaan
1. Menjelaskan kepada subjek tentang tujuan pengukuran dilakukan.
2. Menjelaskan kepada subjek bahwa angka “0” berarti tidak nyeri, angka “1”
sampai “3” berarti nyeri ringan, angka “4” sampai “6” berarti nyeri ringan, dan angka “7” sampai “10” berarti sangat nyeri.
3. Menyuruh subjek menyebut atau menunjukkan angka pada skala nyeri sesuai dengan intensitas nyeri yang dirasakan saat penusukan jarum akupunktur.
4. Mencatat lalu menginterpretasikan makna nyeri yang dinyatakan oleh subjek
pada alat ukur nyeri yang tersedia.
Lampiran 10. Data Subjek Penelitian
Lampiran 11. Output SPSS 1. Uji Normalitas
2. Uji Perbandingan.
3. Uji Korelasi
Lampiran 12. Persetujuan Komisi Etik