Dalam mengukur tingkat likuditas di perusahaan go publik dan perusahaan bukan go publik peneliti menggunalan analisa rasio, yaitu rasio likuiditas. Rasio likuiditas menunjukkan hubungan antara kas perusahaan dan aktiva lancar lainnya dengan hutang lancar. Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban-kewajiban keuangannya yang harus segera dipenuhi atau kewajiban jangka pendek. Dalam rasio likuiditas terdapat unsure aktiva lancar dan hutang lancar. Jika aktiva lancar dapat membiayai hutang lancar dengan baik maka kondisi likuiditas perusahaan berada pada tingkat aman.
Untuk menukur tingkat likuiditas perusahaan go publik dan perusahaan bukan go publik, alat ukur yang digunakan adalah dengan menghitung current ratio (rasio perbandingan aktiva lancar dengan utang lancar), quick ratio (rasio perbandingan antara aktiva lancar dikurangi persediaan dengan utang lancar) dan
Tingkat likuiditas bukan go publik selama 2 tahun dimulai dari tahun 2013 sampai dengan 2014 tercermin pada dalam tabel di bawah ini :
Tabel 4.10 Current Ratio
Perusahaan Bukan Go Publik Tahun 2013 - 2014
Tahun Aktiva Lancar Utang Lancar Current
Ratio Selisih Kinerja
2013 21.793.486.580 22.100.444.734 98,61% - -
2014 16.047.341.119 21.887.360.290 73,32% (25,29%) menurun
Sumber : Laporan Keuangan Perusahaan Bukan Go Publik priode 2013-2014 (data diolah) a. Perhitungan tahun 2013 Aktiva Lancar Current Ratio = X 100 % Utang Lancar = 21.793.486.580 X 100% 22.100.444.734 = 98,61 % b. Perhitungan tahun 2014 Aktiva Lancar Current Ratio = X 100 % Utang Lancar = 16.047.341.119 X 100% 21.887.360.290
= 73,32 %
Tabel 4.11 Current Ratio Perusahaan Go Publik
Tahun 2013 – 2014 dalam jutaan rupiah
Tahun Aktiva Lancar
Utang Lancar
Current
Ratio Selisih Kinerja
2013 6.479.783 2.260.956 286,59% - -
2014 7.416.805 3.574.129 207,51% (79,08%) menurun
Sumber : Laporan Keuangan Perusahaan Go Publik (data diolah) c. Perhitungan tahun 2013 Aktiva Lancar Current Ratio = X 100 % Utang Lancar = 6.479.783 X 100% 2.260.956 = 286,59 % d. Perhitungan tahun 2014 Aktiva Lancar Current Ratio = X 100 % Utang Lancar = 7.416.805 X 100% 3.574.129
= 207,51 %
Berdasarkan perhitungan current ratio perusahaan bukan go publik menunjukkan bahwa pada tahun 2013 perusahaan mempunyai kemampuan untuk membayar hutang dengan segera harus dilunasi (hutang lancar) dengan menggunakan aktiva lancar adalah setiap Rp. 1 hutang dijamin dengan menggunakan aktiva lancar sebesar Rp. 0,98. Untuk tahun 2014 mengalami penurunan menjadi Rp. 0,73. Perusahaan dari tahun 2013 sampai 2014 hanya mempunyai current ratio dibawah Rp. 1, maka perusahaan dianggap belum aman untuk jangka pendek, karena batas likuid adalah Rp. 1. Pada perusahaan go publik tahun 2013 sebesar 286,59% dan tahun 2014 sebesar 207,51%. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan likuid, yaitu pada posisi aman karena memiliki current ratio di atas 200%.
Tabel 4.12 Quick Ratio
Perusahaan Bukan Go Publik Tahun 2013 – 2014
Tahun Aktiva
Lancar Persediaan Utang Lancar
Quick
Ratio Selisih Kinerja
2013 21.793.486.580 3.096.924.919 22.100.444.734 84,60% - -
2014 16.047.341.119 4.911.659.695 21.887.360.290 50,88% -33,72% menurun
Sumber : Laporan Keuangan Perusahaan Bukan Go Publik priode 2013 - 2014 (data diolah)
a. Perhitungan tahun 2013
Aktiva Lancar – Persediaan
Quick Ratio = X 100% Utang Lancar 21.793.486.580 - 3.096.924.919 = X 100% 22.100.444.734 = 84,60 % b. Perhitungan tahun 2014
Aktiva Lancar – Persediaan
Quick Ratio = X 100% Utang Lancar 16.047.341.119- 4.911.659.695 = X 100% 21.887.360.290 = 50,88 %
Tabel 4.13 Quick Ratio Perusahaan Go Publik
Tahun 2013 – 2014 dalam jutaan rupiah
Tahun Aktiva
Lancar Persediaan
Utang Lancar
Quick
Ratio Selisih Kinerja
2013 6.479.783 901.952 2.260.956 246,70% - -
2014 7.416.805 1.033.360 3.574.129 178,60% (68,10%) menurun
Sumber : Laporan Keuangan Perusahaan Go Publik (data diolah)
c. Perhitungan tahun 2013
Aktiva Lancar – Persediaan
Quick Ratio = X 100% Utang Lancar 6.479.783 - 901.952 = X 100% 2.260.956 = 246,70 % d. Perhitungan tahun 2014
Aktiva Lancar – Persediaan
Quick Ratio = X 100%
7.416.805 – 1.033.360
= X 100%
3.574.129 = 178,60 %
Berdasarkan perhitungan quick ratio diatas (rasio perbandingan antara aktiva lancar dikurangi persediaann lalu dibagi dengan utang lancar) pada perlahan bukan go publik pada tahun 2013 adalah 84,60%. Quick ratio tahun 2014 menurun menjadi 50,88%. Penurunan dari tahun 2013 ke tahun 2014 adalah sebesar 33,72%. Pada perusahaan go publik pada tahun 2013 menunjukkan quick ratio sebesar 246,70% dan pada tahun 2014 sebesar 178,60%.
Tabel 4.14 Cash Ratio
Perusahaan Bukan Go Publik Tahun 2013 - 2014
Tahun KAS Utang Lancar Cash Ratio Selisih Kinerja
2013 9.207.003.552 22.100.444.734 41,66% - -
2014 1.696.941.782 21.887.360.290 7,75% -33,91% menurun
Sumber : Laporan Keuangan Perusahaan Bukan Go Publik priode 2013-2014 (data diolah) a. Perhitungan tahun 2013 Kas Cash Ratio = X 100% Utang Lancar
9.207.003.552 = X 100% 22.100.444.734 = 41,66 % b. Perhitungan tahun 2014 Kas Cash Ratio = X 100% Utang Lancar 1.696.941.782 = X 100% 21.887.360.290 = 7,75 % Tabel 4.15 Cash Ratio Perusahaan Go Publik Tahun 2013 - 2014 dalam jutaan rupiah
Tahun KAS Utang
Lancar Cash Ratio Selisih Kinerja
2013 3.343.905 2.260.956 147,90% - -
2014 4.039.267 3.574.129 113,01% -34,88% menurun
Sumber : Laporan Keuangan Perusahaan Go Publik (data diolah)
c. Perhitungan tahun 2013 Kas Cash Ratio = X 100% Utang Lancar 9.207.003.552 = X 100% 22.100.444.734 = 41,66 % d. Perhitungan tahun 2014 Kas Cash Ratio = X 100% Utang Lancar 1.696.941.782 = X 100% 21.887.360.290 = 7,75 %
Berdasarkan perhitungan cash ratio (rasio perbandingan antara kas dengan utang lancar) perusahaan bukan go publik pada tahun 2013 adalah sebesar 41,66% dan mengalami penurunan di tahun 2014 menjadi 7,75%. Pada perusahaan go publik pada tahun 2013 memiliki cash ratio sebesar 147,90% dan mengalami penurunan kinerja tahun 2014 adalah 113,01%.
D. Pembahasan
Pada sub bab ini akan diuraikan pembahasan dari hasil penelitian yang diperoleh, yaitu mengenai kinerja keuangan perlahan bukan go publik dengan perusahaan go publik untuk periode penelitian tahun 2013 sampai dengan 2014. Pengukuran kinerja piutang diukur dengan menggunakan analisa rasio, yaitu
receivable turn over, average collection period, rasio tunggakan, rasio penagihan. Sementara itu untuk mengukur tingkat likuiditas perusahaan
digunakan rasio likuditas yang terdiri dari current ratio, quick ratio, cash ratio. Analisis rasio keuangan berperan penting sebagai alat ukur kinerja keuangan perusahaan. Rasio keuangan menunjukkan kondisi keuangan perusahaan dalam periode tertentu. Untuk melakukan analisis rasio keuangan, diperlukan perhitungan rasio-rasio keuangan yang mencerminkan aspek-aspek tertentu.
Rasio perputaran piutang mencerminkan cepat lambatnya piutang usaha berubah menjadi kas, yang akan digunakan perusahaan dalam membiayai kegiatan usahanya. Sedangkan rasio likuiditas mencerminkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya secara tepat waktu.
a. Analisis perputaran piutang usaha
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan sebelumnya terhadap laporan piutang, maka berikut ini akan disajikan rangkuman rasio piutang selama periode 2013 sampai dengan 2014.
Tabel 4.16
Rangkuman Rasio Piutang
Perusahaan Go Publik dan Bukan Go Publik Tahun 2013 – 2014
Tahun
RTO ACP Rasio
Tunggakan Rasio Penagihan Go Publik Bukan Go Publik Bukan Go Publik Bukan Go Publik Bukan
2013 8,579 kali 12,387 kali 42 hari 29 hari 11,19% 8,28% 88,81% 91,72%
2014 10,133 kali 13,694 kali 36 hari 26 hari 9,91% 7,60% 90,09% 92,40%
Sumber : Saldo Piutang Perusahaan Bukan Go Publik dan Laporan Keuangan Perusahaan Go Publik
(data diolah)
Dari hasil perhitungan receivable turn over (RTO), average collection period (ACP), rasio tunggakan maupun rasio penagihan berdasarkan rangkuman tabel diatas, dapat diketahui tingkat perputaran piutang usaha pada perusahaan go publik mengalami peningkatan sebesar 1,554 kali sedangkan perusahaan bukan go publik hanya memiliki peningkatan 1,307 kali. Walaupun dari peningkatan kinerja lebih tinggi perusahaan go publik, akan tetapi dilihat dari tingkat perputaran piutang lebih banyak perputaran perusahaan go publik. Semakin cepat syarat pembayaran semakin baik bagi perusahaan, karena semakin cepat modal kerja tertanam dalam bentuk piutang kembali menjadi modal atau kas, yang berarti semakin tinggi tingkat perputaran piutang.
Berdasarkan data perhitungan ACP, hasilnya tergantung pada hasil perhitungan RTO. Semakin besar RTO semakin baik bagi perusahaan, karena modal yang terikat dalam piutang dapat kembali dengan cepat menjadi kas. Dalam perusahaan go publik tingkat ACP diatas 30 hari dalam 2 tahun kinerja sedangkan
untuk perusahaan bukan go publik masih di bawah 30 hari dalam 2 tahun kinerja. Dari hal tersebut kinerja ACP perusahaan bukan go publik memiliki kinerja yang lebih baik karena untuk perusahaan go publik modal yang terikat dalam piutang berubah menjadi kas membutuhkan waktu lebih dari 30 hari sedangkan perusahaan bukan go publik hanya membutuhkan waktu menjadi kas kurang dari 30 hari.
Rasio tunggakan juga dapat dilihat dari perihitungan di dalam tabel, bahwa kinerja perusahaan bukan go publik masih lebih baik dari pada perlahan go publik. Dapat dilihat dari data di atas bahwa perusahaan go publik pada tahun 2013 memiliki rasio tunggakan 11,19% sedangkan perusahaan bukan go publik hanya 8,28%. Pada tahun 2014 perusahaan go publik mengalami peningkatan kinerja dengan memiliki rasio tunggakan sebesar 9,91%, akan tetapi masih lebih baik perusahaan bukan go publik yaitu sebesar 7,60%.tertinggi. Dari kedua perusahaan tersebut mengalami peningkatan kinerja, karena semakin kecil rasio tunggakan berarti semakin baik bagi perusahaan dalam pengelolaan piutangnya. Rasio penagihan pada perusahaan go publik mengalami peningkatan di tahun 2014 sebesar 1,28% sedangkan perusahaan bukan go publik hanya mengalami peningkatan 0,68%. Akan tetapi perusahaan bukan go publik berhasil melakukan penagihan sebesar 91,72 % di tahun 2013 dan 92,40% di tahun 2014 dari total piutang per tahunnya. Sedangkan untuk perusahaan go publik hanya berhasil melakukan penagihan 88,81% di tahun 2013 dan 90,09% di tahun 2014 dari total piutang per tahun nya. Semakin besar rasio penagihan maka akan semakin banyak
piutang yang dapat tertagih sehingga modal yang tertanam di dalam piutang akan dapat dengan cepat berubah menjadi kas.
b. Analisis tingkat likuiditas
Berdasarkan hasil perhitungan rasio likuiditas diatas terhadap laporan keuangan perusahaan go publik dengan perusahaan bukan go publik, maka berikut ini akan disajikan rangkuman rasio likuiditas selama periode 2013 sampai dengan 2014.
Tabel 4. 17
Rangkuman Rasio Likuiditas
Perusahaan Go Publik dan Perusahan Bukan Go Publik Tahun 2013 – 2014
Tahun
Current Ratio Quick Ratio Cash Ratio Go Publik Bukan Go Publik Bukan Go Publik Bukan 2013 286,59% 98,61% 246,70% 84,60% 147,90% 41,66% 2014 207,51% 73,32% 178,60% 50,88% 113,01% 7,75%
Sumber : Laporan Keuangan Perusahaan Go Publik dan Perusahaan Bukan Go Publik
(data diolah)
Current Ratio dalam tabel diatas dapat dilihat kedua perusahaan tersebut mengalami penuruman kinerja dari tahun sebelumnya. Akan tetapi perusahaan go publik masih memiliki kinerja baik dengan ingat rasio yang dimiliki masih melebihin 200% yaitu batas perusahaan dianggap likuid yang berarti Rp. 1 hutang dapat dijamin dengan Rp. 2 harta yang dimiliki perusahaan. Sedangkan pada perusahaan bukan go publik memiliki rasio likuiditas dibawah 100 % yaitu pada
tahun 2013 sebesar 98,61% dan 2014 sebesar 73,32%. Hal ini menunjukkan current ratio sebesar 98,61% yang berarti setiap Rp. 1 hutang dijamin dengan aktiva lancar Rp. 0.98. Sedangkan untuk tahun 2014 memiliki current ratio 73,32% yang berarti setiap Rp. 1 hutang dijaminkan dengan aktiva lancar Rp. 0,73. Dari kondisi diatas perusahaan dianggap tidak aman dalam jangka pendek, karena perusahaan dianggap likuid jika rasio nya adalah Rp. 2
Quick ratio pada tabel diatas menunjukkan perusahaan go publik memiliki kinerja yang lebih baik, karena perusahaan go publik memiliki quick ratio di atas 100% yaitu standar aman dalam perhitungan rasio tersebut sedangkan perusahaan bukan go publik memiliki quick ratio masih di bawah 100%. Dari kedua perusahaan tersebut sama-sama mengalami penurunan kinerja dari tahun sebelumnya. Semakin besar nilai quick ratio maka semakin cepat perusahaan dapat memenuhi segala kewajiban jangka pendeknya.
Cash ratio dari perhitungan tabel di atas kedua perusahaan juga mengalami penurunan kinerja. Akan tetapi perusahaan go publik masih memiliki rasio yang lebih besar dibandingkan dengan perusahaan bukan go publik. Akan tetapi perusahaan go publik mengalami penurunan kinerja yang lebih besar yaitu sebesar 34,88% sedangkan perusahaan go publik hanya 33,91%. Dari perhitungan rasio diatas diketahui bahwa rasio kas menunjukkan seberapa uang kas atau setara kas yang dimiliki perusahaan benar-benar dapat digunakan untuk memenuhi kewajiban jangka pendek. Penurunan rasio yang terjadi akan berdampak pada tersedianya kas perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya.
Dari analisis menggunakan rasio likuiditas, kedua perusahaan tersebut sama-sama mengalami penurunan kinerja dari tahun sebelumnya. Banyak hal yang mempengaruhi penurunan kinerja tersebut, diantaranya alah sebagai berikut : 1. Krisis keuangan global yang bermuara dari krisis keuangan Eropa telah
menimbulkan dampak berganda bagi perekonomian dunia. Dampak berganda negatif telah merambah ke sektor industri termasuk sektor bisnis pertambangan, jasa kontraktor dan keuangan dunia di Indonesia.
2. Terdapat kecenderungan menurunnya harga jual batubara dan nikel di pasar dunia.
3. Beban biaya pada sektor usaha yang menggunakan alat berat sebagai alat produksi utama mengalami kenaikan. Hal ini disebabkan dengan naiknya harga suku cadang, transportasi, biaya upah dan biaya overhead lainnya, yang tidak berbanding lurus dengan peningkatan pendapatan perusahaan.
4. Semakin ketatnya pengucuran kredit oleh perbankan dan lembaga keuangan nun bank, termasuk pembiayaan oleh vendor.