3.4 Pelaksanaan Penelitian
3.4.2 Kritik Sumber
3.4.2.2 Kritik Internal
Kritik internal dilakukan terhadap aspek dalam sumber atau kesaksian sejarah dengan lebih menekankan pada isi yang terkandung dalam sumber sejarah. Kritik internal atau kritik dalam bertujuan untuk menilai kredibilitas sumber dengan mempersoalkan isinya, kemampuan pembuatannya, tanggung jawab dan moralnya (Ismaun, 2005 : 50). Dalam tahapan ini penulis melakukan kritik internal baik terhadap sumber-sumber tertulis maupun sumber lisan.
Kritik internal untuk sumber tertulis dilaksanakan peneliti dengan melakukan konfirmasi dan membandingkan berbagai informasi dalam suatu sumber dengan sumber yang lain yang membahas masalah yang serupa. Untuk sumber lisan, peneliti melakukan perbandingan antar hasil wawancara narasumber satu dengan narasumber yang lain (cross checking) dengan tujuan untuk mendapatkan kesesuaian dari fakta-fakta yang ada untuk meminimalisasi kesubjektivitasan dari narasumber. Tahapan ini bertujuan untuk memilah-milah data dan fakta yang berasal dari sumber primer dan sekunder yang diperoleh sesuai dengan judul penelitian. Dalam tahap kritik internal ini peneliti mendapatkan fakta-fakta yang berhubungan dengan perkembangan upacara adat mitembeyan di Desa Linggamukti Kabupaten Purwakarta.
Selain itu, kritik internal terhadap sumber-sumber tertulis dilakukan dengan cara membandingkan sumber-sumber tertulis berupa buku-buku yang akan dijadikan sebagai referensi penulisan skripsi. Perbandingan antara buku-buku tersebut dilakukan dengan cara melihat kesesuaian isi buku-buku dengan permasalahan yang menjadi kajian penelitian. Sehingga buku-buku yang sekiranya tidak relevan dengan permasalahan penelitian tidak digunakan.
Buku pertama yang diseleksi dalam tahapan kritik internal adalah buku Kebudayaan Sunda Suatu Pendekatan Sejarah Jilid I karya Edi S. Ekadjati berisi mengenai kebudayaan masyarakat Sunda. Penjelasan dalam buku ini dinilai masih terlalu umum, yaitu menjelaskan kebudayaan masyarakat Sunda secara umum dan tidak secara langsung membahas mengenai upacara adat. Namun, buku ini cukup layak dijadikan referensi dalam memahami kebudayaan Sunda secara umum.
Buku Ritus Peralihan di Indonesia karya Koentjaraningrat layak dijadikan sebagai referensi dalam penulisan karya ilmiah ini. Karena buku ini menjelaskan mengenai munculnya ritus atau upacara tradisional secara teoritis.
menganalisis hasil temuan di lapangan yang berkaitan dengan upacara adat mitembeyan. Selanjutnya, kritik internal juga dilakukan terhadap buku Adat Istiadat Sunda karya Hasan Mustafa. Buku ini memparkan secara jelas mengenai adat istiadat masyarakat Sunda mulai dari adat istiadat sehari-hari, adat istiadat kelahiran bayi, pernikahan, kematian, pertanian dan waktu-waktu baik dan yang dilarang dalam adat Sunda. Bagian yang sangat sesuai dengan kajian penelitian ini yaitu pada bagian pembahasan adat istiadat dalam pertanian. Pembahasan tersebut sangat sesuai dengan kajian penelitian penulis, sehingga layak untuk dijadikan referensi untuk memperkuat argumen-argumen dari narasumber.
Kritik internal terhadap sumber lisan dilakukan dengan cara melakukan kaji banding terhadap hasil wawancara dari narasumber yang satu dengan yang lainnya. Hal ini dilakukan karena mengacu pada pemikiran bahwa setiap orang memiliki pandangan berbeda terhadap suatu permasalahan. Di samping itu, kaji banding sangat penting dilakukan agar tidak melihat suatu permasalahan dari satu pihak saja sehingga dapat menghindarkan penulis dari unsur subjektifitas.
Dalam kritik internal terhadap sumber lisan, penulis melakukan kaji banding terhadap hasil wawancara Abah Yaya dan Bapak Haji Jamal. Penulis mengkaji apakah terdapat perbedaan-perbedaan informasi yang dikemukakan oleh kedua narasumber tersebut. Apabila terdapat perbedaan penulis mencari dan mengumpulkan informasi dari narasumber yang lainnya untuk kemudian mencocokkan informasi yang didapatkan. Apabila kebanyakan narasumber memberikan informasi yang sama maka penulis menyimpulkan bahwa pendapat salah satu narasumber adalah benar.
Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa kritik sumber yang dilakukan penulis merupakan salah satu tahapan penting dalam serangkaian metode sejarah yang digunakan dalam penelitian ini. Kritik sumber, baik eksternal maupun internal, pada sumber tertulis maupun pada sumber lisan pada dasarnya
dilakukan untuk pengujian atau seleksi terhadap sumber-sumber yang akan digunakan sebagai referensi dan bahan dalam penulisan skripsi yang berjudul
“Perkembangan Upacara Adat Mitembeyan di Desa Linggamukti Kabupaten
Purwakarta Tahun 1984-2005 (Suatu Kajian Terhadap Tradisi Masyarakat)”. Sehingga dapat dihasilkan suatu karya ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan.
3.4.3 Interpretasi
Setelah melakukan kritik sumber, maka tahapan selanjutnya yaitu melaksanakan tahap interpretasi. Langkah-langkah yang dilakukan dalam tahapan ini adalah mengolah, menyusun, dan menafsirkan fakta-fakta yang telah teruji kebenarannya baik yang diperoleh dari sumber tertulis, maupun dari sumber lisan. Tujuan dilakukannya tahapan ini adalah untuk menghubungkan satu fakta dengan fakta yang lainnya menjadi sebuah rangkaian peristiwa yang saling berhubungan. Untuk mempertajam analisis terhadap permasalahan yang penulis kaji, maka pada tahap ini digunakan pendekatan interdisipliner.
Menurut Kuntowijoyo yang dikutip oleh Abdurahman (2007: 73) interpretasi sejarah atau yang biasa disebut juga dengan analisis sejarah merupakan tahap dimana peneliti melakukan sintesis atas sejumlah fakta yang diperoleh dari sumber-sumber sejarah dan bersama-sama dengan teori-teori disusunlah fakta itu dalam suatu interpretasi yang menyeluruh. Dalam hal ini ada dua metode yang digunakan yaitu analisis dan sintesis. Analisis berarti menguraikan sedangkan sintesis yang berarti menyatukan. Keduanya dipandang sebagai metode utama di dalam interpretasi (Kuntowijoyo, 2003: 100).
Fakta-fakta yang telah disusun dan ditafsirkan tersebut pada akhirnya diharapkan dapat menunjukkan suatu keterhubungan antara satu dengan yang lainnya. Sehingga dihasilkan suatu rangkaian peristiwa yang tersusun secara logis dan kronologis berdasarkan fakta-fakta yang didapatkan dalam penelitian. Dalam
melakukan interpretasi terhadap fakta-fakta yang diperoleh, penulis menggunakan bantuan dari ilmu-ilmu sosial lainnya yaitu ilmu sosiologi dan antropologi atau disebut dengan pendekatan interdisipliner. Penggunaan konsep-konsep dari ilmu sosiologi dan antropologi dalam tahapan interpretasi dimaksudkan untuk lebih mempertajam analisis penulis berkaitan dengan masalah yang dikaji. Sehingga interpretasi terhadap fakta-fakta yang diperoleh dilakukan secara lebih ilmiah.
Adapun konsep-konsep dalam ilmu sosiologi yang digunakan diantaranya adalah perubahan sosial, peranan sosial dan mobilitas sosial. Sedangkan konsep-konsep dalam ilmu antropologi yang digunakan dalam penulisan ini diantaranya adalah konsep mengenai kebudayaan dan religi dapat melihat suatu permasalahan dari berbagai sudut pandang. Sehingga analisis yang dilakukan lebih mendalam dan jelas.
Peneliti melakukan penafsiran terhadap data mengenai perkembangan upacara mitembeyan. Berdasarkan keterangan dari narasumber yaitu Bapak H. Jamal, Abah Yaya, dan Bapak Syafe’i yang menjelaskan bahwa upacara mitembeyan mengalami perkembangan dari waktu ke waktu yang menyesuaikan dengan karakteristik kondisi sosial-budaya masyarakat. Namun dari segi penyajiannya upacara mitembeyan masih mengandung hal-hal mistis, seperti adanya unsur animisme dan dinamisme.
Peneliti melakukan penafsiran terhadap data mengenai perkembangan upacara mitembeyan. Pada proses interpretasi ini, peneliti menggunakan pendekatan interdisipliner. Pendekatan interdisipliner adalah pendekatan dalam suatu pemecahan masalah dengan menggunakan tinjauan berbagai sudut pandang ilmu serumpun yang relevan. Dalam hal ini, ilmu sejarah dijadikan sebagai disiplin ilmu utama dalam mengkaji permasalahan penelitian.
Tahap terakhir dari penulisan skripsi ini adalah melaporkan seluruh hasil penelitian yang telah dilaksanakan sebelumnya. Dalam metodologi sejarah lazimnya disebut dengan “historiografi”. Pada tahapan ini seluruh daya pikir dan kemampuan dikerahkan untuk menuangkan segala hal yang ada dalam penelitian sehingga dapat menghasilkan sebuah tulisan yang memiliki standar mutu dan menjaga kebenaran sejarahnya. Seperti yang dinyatakan Sjamsuddin (2007: 156) yakni:
Penulis mengerahkan seluruh daya pikirannya, bukan saja keterampilan teknis pengguanaan kutipan-kutipan dan catatan-catatan tetapi yang terutama penggunaan pikiran-pikiran kritis dan analisis yang pada akhirnya menghasilkan sebuah sintesa dari seluruh hasil penelitian. Sedangkan menurut Abdurahman (2007: 76) historiografi merupakan cara penulisan, pemaparan atau laporan hasil penelitian sejarah yang telah dilakukan. Layaknya laporan penelitian ilmiah, penulisan hasil penelitian sejarah hendaknya dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai proses penelitian dari awal sampai dengan akhir (penarikan kesimpulan).
Tahap historiografi ini akan peneliti laporkan dalam sebuah tulisan berbentuk skripsi dan disusun berdasarkan pedoman penulisan karya ilmiah yang berlaku di lingkungan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Adapun tujuan dari laporan hasil penelitian ini adalah untuk memenuhi kebutuhan studi akademis tingkat sarjana pada Departemen Pendidikan Sejarah FPIPS UPI.
Untuk lebih sistematis, maka disusun kerangka tulisan dan pokok-pokok pikiran yang akan dituangkan dalam tulisan berdasarkan data-data dan fakta-fakta yang telah diperoleh, sedangkan tahap akhir penulisan dilakukan setelah materi atau bahan dan kerangka tulisan selesai dibuat, penulisannyapun dilakukan bab demi bab sesuai dengan proses penelitian yang dilakukan secara bertahap. Masing-masing bagian atau bab mengalami proses koreksi dan perbaikan berdasarkan bimbingan dari dosen pembimbing skripsi. Adapun dalam penulisan
skripsi ini, penulis membaginya ke dalam lima bab yaitu pendahuluan, tinjauan pustaka, metodologi penelitian, pembahasan dan terakhir adalah kesimpulan. Adapun sistematika penulisan skripsi ini dibagi menjadi lima bab yaitu:
Bab I Pendahuluan, menjelaskan tentang latar belakang penelitian yang memaparkan mengapa masalah yang muncul itu penting untuk diteliti. Pada bab ini juga berisi perumusan dan pembatasan masalah yang disajikan dalam bentuk pertanyaan untuk mempermudah peneliti mengkaji dan mengarahkan pembahasan, tujuan penelitian, metode penelitian serta struktur organisasi skripsi. Adapun yang menjadi uraian dari bab I ini yakni: Latar Belakang Penelitian, Rumusan Masalah, Tujuan Penelitian, Manfaat Penelitian, Metode Penelitian, dan Struktur Organisasi Skripsi.
Bab II Kajian Pustaka, memaparkan berbagai sumber literatur yang peneliti anggap memiliki keterkaitan dan relevan dengan masalah yang dikaji dan didukung dengan sumber tertulis seperti buku dan dokumen yang relevan. Dalam kajian pustaka ini, peneliti membandingkan, mengkontraskan dan memposisikan kedudukan masing-masing penelitian yang dikaji kemudian dihubungkan dengan masalah yang sedang diteliti. Hal ini dimaksudkan agar adanya keterkaitan antara permasalahan di lapangan dengan buku-buku atau secara teoritis, agar keduanya bisa saling mendukung, dimana dari teori yang sedang dikaji dengan permasalahan yang diteliti bisa berkaitan sedangkan fungsi dari kajian pustaka adalah sebagai landasan teori dalam analisis temuan.
Bab III Metode Penelitian, bab ini berisi mengenai tahap-tahap, langkah-langkah, metode penelitian yang digunakan oleh peneliti meliputi heuristik, kritik, interpretasi dan historiografi. Langkah-langkah dalam penelitian ini seperti tahap perencanaan, pengajuan judul penelitian, persiapan penelitian, proses bimbingan dan tahap pelaksanaan penelitian. Dalam bab ini juga peneliti mengungkapkan dan melaporkan pengalaman selama melaksanakan penelitian.
Bab IV Tradisi Mitembeyan pada Masyarakat Desa Linggamukti. Dalam bab ini akan dipaparkan mengenai latar belakang upacara mitembeyan di Desa Linggamukti Kabupaten Purwakarta, selain itu dalam bab ini juga akan dibahas mengenai proses pelaksanaan upacara mitembeyan, tanggapan masyarakat terhadap keberadaan upacara mitembeyan. Di samping itu, akan memaparkan upaya yang dilakukan untuk melestarikan upacara mitembeyan di Desa Linggamukti Kabupaten Purwakarta.
Bab V Simpulan dan Rekomendasi, merupakan inti jawaban serta analisis peneliti terhadap masalah-masalah secara keseluruhan yang merupakan hasil dari penelitian. Hasil akhir ini merupakan hasil penelitian serta interpretasi peneliti mengenai inti dari pembahasan. Pada bab ini peneliti mengemukakan beberapa kesimpulan yang didapatkan setelah mengkaji permasalahan yang telah diajukan sebelumnya. Selain itu peneliti mengemukakan saran-saran baik untuk masyarakat maupun pemerintah setempat.
Bab ini merupakan bab terakhir dalam penulisan skripsi yang berisi mengenai simpulan yang dikemukakan penulis sebagai analisis hasil temuan dalam permasalahan yang di kaji. Selain berupa simpulan, dalam bab ini juga memberikan suatu rekomendasi untuk beberapa pihak yang mempunyai kepentingan dalam bidang yang penulis kaji dengan tujuan untuk memberikan suatu pemecahan masalah dalam pengambilan keputusan selanjutnya agar diharapkan lebih baik kedepannya.
5.1 SIMPULAN
Berdasarkan uraian pada bagian sebelumnya mengenai perkembangan upacara adat mitembeyan di Desa Linggamukti dapat disimpulkan sebagai berikut. Pertama, upacara adat Mitembeyan merupakan salah satu tradisi turun temurun yang tumbuh dan berkembang pada masyarakat desa Linggamukti Kabupaten Purwakarta. Sebagai salah satu wujud kebudayaan, upacara adat mitembeyan merupakan kebudayaan yang dihasilkan oleh masyarakat pendukungnya sehingga keberadaan upacara adat mitembeyan sangat berhubungan dengan kondisi sosial masyarakatnya. Upacara adat ini berhubungan dengan kondisi lingkungan dan sosial masyarakat desa Linggamukti. Selain itu, upacara mitembeyan bukan upacara yang baru tetapi merupakan upacara yang turun temurun dari generasi sebelumnya. Upacara ini terlahir secara anonim artinya tidak diketahui dimana upacara mitembeyan dilahirkan, siapa penciptanya dan kapan upacara itu muncul. Tujuan dari upacara ini sebagai bentuk rasa syukur pada Tuhan Yang Maha Esa atas keberkahan panen yang diberikan kepada masyarakat desa Lnggamukti. Sekaligus juga sebagai sarana mentransfer ilmu pertanian kepada generasi muda
agar kelak di kemudian hari mereka tidak kesulitan dalam memberikan nafkah pada anak dan isteri melalui mata pencaharian pertanian.
Kedua masyarakat Desa Linggamukti merupakan masyarakat agraris yang menggantungkan mata pencahariannya pada sektor pertanian. Mereka memiliki kepercayaan sendiri terhadap padi yang memandang bahwa padi merupakan sumber kehidupan manusia yang harus dijaga dan dimuliakan. Salah satu upaya untuk menghormati dan memuliakan padi adalah dengan jalan menyelenggarakan
upacara adat Mitembeyan. Selain sebagai sumber kehidupan manusia, padi juga
harus dihormati dan dimuliakan karena di kalangan masyarakat Desa Linggamukti masih terdapat kepercayaan bahwa padi merupakan jelmaan dari Dewi Sri atau disebut juga Nyi Pohaci.
Upacara adat mitembeyan hingga saat ini masih dilaksanakan oleh
masyarakat di Desa Linggamukti. Hal ini membuktikan bahwa masyarakat Linggamukti masih memegang teguh adat kebiasaan leluhur mereka, yaitu suatu kebudayaan yang telah turun temurun diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Mitembeyan merupakan upacara yang dilakukan sebelum atau sesudah
mengerjakan sesuatu, tetapi kebanyakan yang dikatakan adat mitembeyan adalah
pekerjaan atau ritual yang dikerjakan dan dimulai sebelum mengerjakan sesuatu
seperti menanam padi. Latar budaya munculnya adat mitembeyan dari pola
kehiduan masyarakat yang ada di Desa Linggamukti yang merupakan rasa syukur atau permisi dalam artian segala sesuatu yang akan dimulai harus pamit dulu dan
tanda syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Upacara mitembeyan mempunyai
pengaruh terhadap kehidupan masyarakat setempat sangat besar, yaitu menimbulkan kegotong royongan, saling mengasihi, memberi dan menyayangi serta musyawarah untuk mencapai mufakat.
satunya dilakukan oleh wali puhun atau ketua adat dengan cara mengajarkan bagaimana cara pelaksanaan upacara tersebut kepada sanak saudaranya atau pada masyarakat lain yang dianggap mampu menggantikannya jika ia sudah tutup usia. Wali puhun atau ketua adat merupakan orang yang paling memiliki peranan dalam melestarikan upacara mitembeyan tersebut. Selain itu, upaya yang dilakukan tidak hanya oleh masyarakat pelaksanaan upacara saja, melainkan dari pemerintah setempat. Mengingat bahwa melestarikan sebudah kebudayaan daerah adalah tanggung jawab bersama sebagai pendukung perkembangannya.
Upacara mitembeyan tidak mendapatkan pengaruh dari kebudayaan lain, karena setiap daerah atau tempat mempunyai adat mitembeyan yang berbeda-beda. Adat mitembeyan di Desa Linggamukti bisa dikatakan original atau tidak terpengaruh oleh budaya-budaya lain. Adapun sesajen itu karena mengikuti jaman dan mempunyai penyajian yang sama dengan budaya lain, hanya dulu kalau sesajen memakai daun sekarang karena modern menggunakan plastik atau kertas yang penting mengandung arti yang sama.
Upacara adat mitembeyan mempunyai beberapa fungsi bagi masyarakat Linggamuki, yaitu fungsi sarana pendidikandan fungsi wahana upacara (ritual). Upacara adat mitembeyan berfungsi sebagai sarana pendidikan, karena upacara adat mitembeyan dapat dijadikan sebagai media untuk mentransfer nilai-nilai budaya dalam menyampaikan masalah-masalah yang berkaitan dengan kebutuhan masyarakat. Melalui pendidikan, upacara adat mitembeyan berperan untuk memenuhi kebutuhan estesis, mengajak masyarakat untuk melestarikan ilmu pertanian melalui seperangkat alat pertanian yang diberikan secara simbolis dan menanamkan pada generasi muda.
Berfungsi sebagai wahana upacara (ritual), karena upacara ini bagi masyarakat Desa Linggamukti dijadikan sebagai wahana ritual untuk memohon kesuburan. Keselamatan dan keberkahan bagi lahan pertanian mereka. Upacara ini
juga, bertujuan untuk menyampaikan rasa terima kasih atau ungkapan rasa syukur masyarakat Desa Linggamukti kepada Tuhan Yang Maha Esa atas keberkahan panen yang melimpah. Selain itu dikatakan sebagai wahana ritual karena dapat membangkitkan emosi keagamaan, menimbulkan rasa aman, dan selamat bagi masyarakat pendukungnya.
Keempat, dalam tatanan masyarakat Linggamukti mempunyai pengaruh yang cukup besar dalam kemajuan pertaniannya. Keberadaan upacara mitembeyan dirasakan bagi masyarakat Linggamukti mempunyai nilai-nilai yang berguna bagi pedoman hidup, diantaranya gotong royong, moral, religi, sosial-budaya dan sejarah. Keberadaan upacara mitembeyan sampai saat ini masih bertahan dan berfungsi sebagai sarana upacara penduduk Desa Linggamukti dalam mewujudkan ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas keberhasilan masyarakat Linggamukti dalam bercocok tanam. Dilaksanakannya upacara tersebut juga bertujuan untuk memberi motivasi bagi para petani agar lebih giat bekerja di musim tanam berikutnya.
Selama kurun waktu 1984-2005, upacara adat mitembeyan mengalami
beberapa perubahan yaitu dahulu upacara mitembeyan menggunakan daun
mamangkokan (daun yang berbentuk seperti mangkok) sebagai wadah menyimpan alat-alat sesajen, namun sekarang sudah diganti dengan wadah lain yaitu mangkok atau gelas tetapi masih mempunyai makna yang sama.
5.2 SARAN
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, penulis mengemukakan beberapa rekomendasi berkaitan dengan pelaksanaan upacara adat mitembeyan di Desa Linggamukti Kabupaten Purwakarta, diantaranya adalah sebagai berikut. 1. Bagi Pemerintah Kabupaten Purwakarta
Kemajuan dan kemandirian sebuah upacara adat tradisional khususnya upacara mitembeyan, kiranya tidak dapat lepas dari peranan kebijakan pemerintah daerah setempat. Sehubungan dengan itu, Pemda Kabupaten Purwakarta hendaknya senantiasa terus menggalangkan promosi-promosi wisata budaya ke daerah lain dan juga memberikan dukungan untuk perkembangan upacara-upacara tradisional yang mendukungnya yang masih bertahan sampai saat ini.
2. Bagi Masyarakat Pendukung Upacara Mitembeyan
Sebagai masyarakat yang berkebudayaan sudah seharusnya masyarakat Purwakarta umumnya dan khususnya masyarakat Desa Linggamukti sebagai masyarakat pendukung upacara adat mitembeyan berkewajiban untuk tetap melestarikan budaya tradisional mitembeyan. Dengan adanya upacara adat ini akan membawa nama baik Purwakarta ke wilayah lain, sebagai salah satu bentuk keanekaragaman sosial budaya masyarakat Purwakarta. Dengan pelaksanaan yang rutin setiap musim panen, diyakini akan dapat melestarikan upacara adat mitembeyan bahkan juga dapat memungkinkan untuk dikembangkan secara lebih profesional lagi mengikuti perkembangan zaman dengan syarat tidak menghilangkan identitas asli dari tradisi tersebut.
Bandung: Kiblat.
Cohen, B. (1992). Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Rhineka Cipta.
Ekadjati, E. (1984). Masyarakat Sunda dan Kebudayaannya. Bandung: Girimukti Pasaka.
Ekadjati, E. (2007). Kebudayaan Sunda Suatu Pendekatan Sejarah Jilid I. Jakarta: PT Dunia Pustaka Jaya.
Garna, J.K. (2008). Budaya Sunda; Melintasi Waktu Menantang Masa Depan. Bandung: Lembaga Penelitian UNPAD.
Gottschalk, L. (1986). Mengerti Sejarah (Terjemahan Nugroho Notosusanto). Jakarta: UI Press.
Haryanto, T. (2007). Menuju Masyarakat Swadaya dan Swakelola. Klaten: Cempaka Putih.
Ismaun. (2005). Pengantar Sejarah Sebagai Ilmu dan Wahana Pendidikan. Bandung: Historia Utama Press.
Kayam, U. (1981). Seni, Tradisi Masyarakat. Jakarta: Sinar Harapan.
Koentjaraningrat. (1990). Ritus Peralihan di Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. Koentjaraningrat. (1994). Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan. Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama.
Koentjaraningrat. (2008). Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Jakarta: Djambatan.
Koentjaraningrat. (2009). Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: PT. Rineka Cipta. Kuntowijoyo. (2003). Metodologi Penelitian Sejarah. Yogyakarta: Tiara Wacana. Lauer, R. H. (1993). Perspektif Tentang Perubahan Sosial. Jakarta: Rineka Cipta.
Octaviany Maulida , 2015
Mustafa, H. (2010). Adat Istiadat Sunda Edisi Ketiga Terjemahan Maryati Sastrawijaya. Bandung: PT. Alumni.
Nazsir, N. (2008). Sosiologi: Kajian Lengkap Konsep dan Teori Sosiologi Sebagai Ilmu Sosial. Bandung: Widya Padjadjaran.
Prasetya, J. (2011). Ilmu Budaya Dasar. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Rachmat, K. (2001). Materi Dasar Ilmu Budaya Sunda. Bandung: Universitas Pasundan.
Rohidi, R. T. (2000). Kesenian dalam Pendekatan Kebudayaan. Bandung: STSI. Rosidi, A. (1984). “Ciri-ciri Manusia dan Kebudayaan Sunda” dalam Ekadjati,
E. Masyarakat Sunda dan Kebudayaannya. Bandung: Girimukti Pasaka. Rostiyanti, A. (1995). Fungsi Upacara Tradisional Bagi Masyarakat
Pendukungnya Masa Kini. Yogyakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Scott, J.C. (1983). Moral Ekonomi Petani. Jakarta: LP3S.
Sjamsuddin, H. (2007). Metodologi Sejarah. Yogyakarta: Ombak.
Soekanto, S. (1983). Teori Sosiologi Tentang Perubahan Sosial. Jakarta: Chalia Indonesia.
Soekanto, S. (2009). Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Raja Grafindo.
Soemardjan, S danSoemardi, S. (1964). Setangkai Bunga Sosiologi. Jakarta: Lembaga Penerbit FE-UI.
Subagjo. (1981). Agama Asli Indonesia. Jakarta: Sinar Harapan.
Suparlan, P. (1982). Kebudayaan, Masyarakat, dan Agama Dalam Pengetahuan Budaya Ilmu-ilmu Sosial. Jakarta: PLPA.
Surjadi. (2010). Masyarakat Sunda Budaya dan Problema. Bandung: Alumni. Sutrisno dan Putranto. (2007). Teori-Teori Keudayaan. Yogyakarta: Kanisius
Tim Penyusunan Karya Ilmiah. (2013). Pedoman Penulisan Karya Ilmiah. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.
Yoeti, O.A. (1985). Komersialisasi Seni Budaya dalam Pariwisata. Jakarta: Angkasa.
Jurnal:
Ardana, I. M. (2003). “Budaya Lokal dalam Konteks Globalisasi”. Jurnal Dinamika Kebudayaan. Denpasar: universitas Uudayana. 5. (1), 38-48. Soedarsono. (1995). “Transformasi Budaya”.Jurnal Seni Budaya. Denpasar:
STSI. (3). 20-30.
Walujo, K. (2000). “Pola Perilaku Menonton Wayang Kulit”. Jurnal Seni Budaya. Denpasar: STSI. (8), 56-76.
Sumber Skripsi:
Hodijah. (2006). Upacara Adat Ruwatan Bumi di Kampung Banceuy Kabupaten Subang: Suatu Kajian Historis Terhadap Tradisi Masyarakat. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.
Rakhmawati, Y. (2011). Upacara Adat Ngarot Dalam Menghadapi Tantangan