METODE PENELITIAN
3.1. Persiapan Penelitian
3.2.2 Kritik Sumber
3.2.2.2 Kritik Internal
Kritik internal merupakan kebalikan dari kritik eksternal.Kritik internal
merupakan penilaian atau evaluasi terhadap aspek “dalam”, yaitu isi dari sumber
(kesaksian) sejarah setelah kesaksian tersebut sebelumnya disaring melalui kritik eksternal (Sjamsuddin, 2007: 143). Kritik internal untuk sumber tertulis dilaksanakan
peneliti dengan melakukan konfirmasi dan membandingkan berbagai informasi dalam suatu sumber dengan sumber yang lain yang membahas masalah yang serupa.
Sebagai contoh peneliti melakukan perbandingan isi dari buku Giyugun: Cikal
Bakal Tentara Nasional Indonesia karya Mestika Zed dan buku Perjuangan Kemerdekaan: Sumatera Barat Dalam RevolusiNasional Indonesia, 1945-1950 karya Audrey Kahin. Kedua penulis ini sepakat bahwa invasi Jepang di Indonesia difokuskan di wilayah Sumatera.Zed menjelaskan bahwa pulau Sumatera merupakan titik pusat perlintasan antara Timur dan Barat di kawasan Asia Tenggara. Agar hubungan tersebut dapat terputus maka Jepang harus menguasai wilayah Sumatera dan memusatkan pertahanannya di sekitar Selat Malaka ( Sumatera dan Malaya). Jepang juga khawatir akan adanya serangan balik dari Sekutu yang diperkirakan muncul dari arah Barat (Cylon, kini Srilanka), oleh karena itu pertahanan harus terletak di seputar wilayah Sumatera. Selain itu Sumatera memiliki kekayaan sumber daya alam berlimpah yang dibutuhkan untuk menunjang ekonomi perang.Untuk dapat memperkuat dan membantu pertahanan di daerah-daerah pendudukan, Jepang membentuk sebuah tentara cadangan dari pemuda daerah yaitu pusat pelatihan Giyugun.Senada dengan Zed, Kahin menjelaskan bahwa Jepang memusatkan awal invasinya di Sumatera dimaksudkan untuk menggagalkan usaha Sekutu untuk merusak instalasi minyak di daerah tersebut.Fokus utama pendudukan Jepang di Sumatera adalah untuk memanfaatkan sumber daya alam yang berlimpah secara efisien dalam kebutuhan perang. Untuk dapat membantu pertahanan tentara Jepang di kawasan pendudukan dari serangan Sekutu, maka Jepang membentuk tentara
Sukarela di wilayah tersebut yang dikenal dengan namaGiyugun.
3.2.3 Interpretasi (Penafsiran Sumber)
Interpretasi atau penafsiran terhadap sumber sejarah merupakan tahap ketiga dalam metode penelitian sejarah. Pada tahap ini, peneliti melakukan penafsiran
Utami Iskanti , 2013
terhadap fakta-fakta yang diperolah dari sumber tulisan. “... fakta-fakta tersebut
dihubungkan satu dengan yang lainnya, sehingga setiap fakta tidak berdiri sendiri dan menjadi sebuah rangkaian peristiwa yang saling berhubungan. Untuk kemudian
diolah dan dikritisi sehingga akan membentuk cerita baru dalam sebuah karya ilmiah”
(Sjamsuddin, 2007: 158).
Dalam melakukan interpretasi, peneliti menggunakan pendekatan
interdisipliner.Pendekatan ini merupakan pendekatan dalam ilmu sejarah dengan menggunakan bantuan dari berbagai disiplin ilmu yang serumpun (ilmu-ilmu sosial).Beberapa disiplin ilmu sosial yang dipakai sebagai ilmu bantu dalam pembahasan di antaranya antropologi, politik dan sejarah. Dari ketiga ilmu tersebut, peneliti menggunakan beberapa konsep seperti indoktrinasi, propaganda dan ekspansi.
Konsep indoktrinasi digunakan oleh peneliti untuk melakukan penafsiran mengenai sejarah pendidikan Jepang secara utuh di Indonesia. Indoktrinasi diartikan sebagai kegiatan yang dilakukan untuk membuat orang lain dapat percaya kepada nilai-nilai atau paham yang telah ditanamkan. Pada masa pendudukannya di
Indonesia, Jepang membentuk pusat pelatihan Giyugun di Sumatera.Pendidikan
militer yang diajarkan oleh Jepang kepada rakyat Sumatera telah mampu membentuk watak dan kepribadian para pemuda di Sumatera dan membentuk budaya militer yang khas. Dalam proses pendidikannya Jepang menanamkan rasa benci terhadap bangsa Barat dan menumbuhkan rasa nasionalisme yang tinggi sehingga semangat pemuda Indonesia menjadi menggebu-gebu dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
Hal tersebut diperkuat dengan ditanamkannya semangat Bushido terhadap pemuda
Sumatera sehingga jiwa pemuda Sumatera lebih percaya diri dan pantang menyerah. Dengan konsep propaganda, peneliti ingin mengkaji mengenai bentuk-bentuk usaha Jepang untuk mendapatkan kepercayaan pemuda Indonesia. Propaganda diartikan
sebagai proses mempengaruhi perilaku individu atau kelompok sehingga nantinya akan menjadi kebiasaan pada diri individu atau kelompok tersebut. Sejak awal kedatangannya di Indonesia, Jepang telah mengemukakan slogan-slogan mengenai bantuan untuk kemerdekaan Indonesia, mulai dari slogan gerakan 3A sampai dengan pembentukan organisasi-organisasi militer. Pembentukan pusat pelatihan Giyugun di Sumatera juga merupakan hasil dari propaganda yang dilakukan oleh kemiliteran
Jepang, dibentuknya pusat pelatihan Giyugunsemata-mata hanya untuk memperkuat
pertahanan wilayah pendudukan. Dengan konsep ekspansi, peneliti ingin mengkaji mengenai tujuan Jepang datang ke Indonesia. Ekspansi diartikan sebagai kegiatan perluasan wilayah suatu negara dengan menguasai daerah-daerah lain. Kedatangan Jepang di Indonesia dilakukan dengan tujuan untuk dapat menguasai wilayah Indonesia beserta seluruh sumber daya alam dan sumber daya manusianya. Sebagai negara industri, Jepang membutuhkan banyak pasokan sumber daya alam untuk kebutuhan industrinya. Disamping ingin menguasai sumber daya alam yang ada di wilayah pendudukan, Jepang juga menjadikan wilayah pendudukan tersebut sebagai daerah pemasaran industrinya.
Peneliti melakukan penafsiran terhadap rakyat Indonesia dari awal kedatangan Jepang hingga kemerdekaan Indonesia. Kedatangan Jepang ke Indonesia semata-semata adalah untuk melakukan perluasan wilayah, hal tersebut dikarenakan Jepang telah menjadi negara industri yang besar dan merasa perlu untuk menguasai wilayah lain dengan tujuan industrinya. Dalam tujuannya tersebut Jepang memberikan slogan-slogan yang dilakukan untuk dapat menarik kepercayaan rakyat di wilayah
pendudukan, salah satu slogannya adalah membentuk organisasi militer. Giyugun
merupakan organisai militer yang dibentuk Jepang dalam usahanya untuk
mendapatkan tentara militer yang kuat di wilayah pendudukan, Giyugun tersebut
medapatkan pendidikan militer layaknya yang dimiliki oleh militer Jepang, yaitu
Utami Iskanti , 2013
nasinalisme yang tinggi dan keinginan yang besar untuk dapat mencapai kemerdekaan Indonesia.
3.2.4 Historiografi ( Penulisan Hasil Penelitian)
Tahap akhir dari proses penelitian ini adalah menulis hasil penelitian atau historigrafi. Tahap ini merupakan kegiatan akhir dalam penelitian setelah peneliti mengumpulkan sumber, menilai dan menafsirkan sumber. Dalam tahap historiografi ini penulis menggunakan daya pikir kritis dan analisisnya untuk menjelaskan segala hal yang ada dalam penelitiannya, seperti yang diungkapkan oleh (Sjamsuddin, 2007: 15) yaitu:
Ketika sejarawan memasuki tahap menulis, maka ia mengerahkan seluruh daya pikirannya, bukan saja keterampilan teknis penggunaan kutipan-kutipan dan catatan-catatan, tetapi yang terutama penggunaan pikiran-pikiran kritis dan analisisnya karena pada akhirnya ia harus menghasilkan suatu sintesis dari seluruh hasil penelitiannya atau penemuannya itu dalam suatu penelitian utuh yang disebut historiografi.
Dengan kata lain historiografi merupakan penulisan hasil penelitian yang dilakukan setelah selesai melakukan analisis dan penafsiran terhadap data dan fakta sejarah. Dalam historiografi penulis menceritakan hal-hal yang didapat disertai dengan penafsiran-penafsirannya sehingga hasil dari historiografi berupa rekonstruksi dari peristiwa sejarah.
Penulisan hasil penelitian ini dituangkan dalam sebuah karya tulis yang disebut skripsi dengan judulPengaruh Unsur Karakter Kemiliteran Jepang Terhadap Giyugun Di Sumatera Tahun 1942-1945 Dan Dampaknya Terhadap Pembentukan BKR/TKR Tahun 1945-1950. Penulisan skripsi ini ditujukan untuk kebutuhan studi akademis pada tingkat Sarjana Jurusan pendidikan sejarah FPIPSUPI. Laporan tersebut disusun dengan gaya bahasa sederhana, ilmiah dan menggunakan cara-cara penelitian atau teknik penelitian yang sesuai dengan pedoman penelitian karya ilmiah yang dikeluarkan oleh UPI sehingga sistematika yang digunakan
sesuai dengan panduan penulisan karya ilmiah yang dikeluarkan oleh Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).
Laporan penelitian ini disusun dalam lima bab yang terdiri dari Bab I Pendahuluan, Bab II Tinjauan Pustaka, Bab III Metode Penelitian, Bab IV Pembahasan, Bab V Kesimpulan Dan Saran.
Utami Iskanti , 2013
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Kesimpulan yang dipaparkan dalam bab ini merujuk pada jawaban atas permasalahan penelitian yang telah dikaji oleh penulis di dalam bab sebelumnya. Terdapat tigakesimpulan berdasarkan permasalahan yang dibahas, yaitu sebagai berikut:
Pertama, unsur karakter kemiliteran Jepang yang diterapkan dalam Giyugun di Sumatera tahun 1942-1945 merupakan tradisi yang dijunjung tinggi oleh Jepang
secara turun-temurun.Kaum Samurai dianggap sebagai kelas yang paling penting dan
menjadi ciri khas dalam kekuatan militernya.Para Samurai merupakan prajurit yang
mempunyai semangat tinggi dalam kehidupannya.Bushido atau jalan hidup Samurai
merupakan semangat yang dimiliki bangsa Jepang dalam melakukan setiap pekerjaannya, semangat tersebut telah memberikan cerminan atas sebagian besar
karakteristik dan kebiasaan peradaban Jepang.Semangat Bushido menekankan
tentang kesetiaan, keadilan, semangat perang, kehormatan dan pantang
menyerah.Para Samurai selalu menginginkan kemenangan dalam setiap
perang.Mereka lebih baik mati bunuh diri (Hara-Kiri) daripada harus kalah dan
tertangkap oleh musuhnya.Dalam melakukan rencana ekspansi ke wilayah Asia Tenggara, tentara Jepang pandai mempropagandakan janji-janji dan memberikan harapan kepada rakyat yang sedang mendambakan kemerdekaan.Pemerintah Jepang melakukan strategi untuk bertahan dengan memperkuat pertahanan di daerah pendudukan yaitu dengan mendirikan pusat pendidikan militer yang bertujuan untuk menjadi pertahanan Jepang di kawasan pendudukan.Jepang menerapkan tradisi
militer tersebut di setiap pelatihan militer yang dibentuk, sehingga semua pusat
pelatihan tersebut memiliki karakter disiplin dan Bushido seperti militer Jepang.
Kedua, karakter Giyugun di Sumatera tahun 1945-1950 merupakan hasil dari pendidikan kemiliteran yang dilatih langsung oleh Jepang selama masa pendudukan
di Indonesia.Sejak dibentuknya pusat pelatihan Giyugun, para perwira
Giyugundiberikan doktrin dan latihan dengan model militer Jepang yang bersifat
keras dalam segi fisik maupun mental.Tentara yang masuk menjadi anggota Giyugun
berasal dari orang-orang Indonesia yang sebelumnya belum pernah memiliki pengalaman militer.Pemuda Sumatera di doktrin dan dilatih oleh Jepang berdasarkan
budaya karakter militer yang mereka miliki (Bushido).Pelatihan pasukan Giyugun
dinilai sangatlah berat dan terasa kejam.Para pelatih dari tentara Jepang memberikan
tekanan yang besar terhadap para anggota Giyugun dengan pelatihan fisik yang
seringkali bisa menyebabkan cedera, kecatatan, maupun kematian. Bahkan ketika
seseorang ingin masuk menjadi anggota Giyugun, maka mereka harus bias mematuhi
peraturan yang dibuat oleh jepang. Apabila ada yang melanggarnya, maka mereka
harus menerima hukuman yang dinilai sangat berat.Semangat Bushidoyang bersifat
keras diberikan kepada prajurit Giyugun bertujuan untuk membentuk watak prajurit
Giyugun yang pemberani, pantang menyerah, cinta tanah air dan memiliki disiplin
tinggi seperti yang dimiliki oleh prajurit Jepang. Seorang prajurit Giyugun harus
selalu waspada dan siap bertempur, sehingga para prajuritnya dilatih untuk dapat menggunakan berbagai senjata. Apabila ada seorang prajurit yang melanggar dan melakukan kesalahan maka akan dihukum dengan seberat-beratnya. Indoktrinasi yang
diberikan kepada prajurit Giyuguntersebut pada akhirnya akan memiliki semangat
tempur yang tinggi, kepercayaan yang tinggi, disiplin tinggi dan memiliki rasa tanggung jawab.
Ketiga, dampak dari semangat Giyugun di Sumatera tahun 1942-1945 dalam pembentukan BKR/TKR tahun 1945-1950terlihat dari kehidupan militernya.
Utami Iskanti , 2013
BKR/TKR merupakan organisasi militer yang dibentuk sendiri oleh pemuda
Indonesia.Prajuritnya berasal dari mantan opsir Giyugun, PETA, Heiho maupun
KNIL.Dalam segi bentuk maupun susunannya, baik susunan persenjataan, kekuatan,
peralatan maupun dalam pimpinannya berbeda dengan Giyugun yang dibentuk oleh
Jepang.BKR cenderung kurang tegas dan disiplin dalam menentukan keputusan dan memberikan hukuman apabila ada prajurit yang melakukan kesalahan.Bentuk hukuman yang diberikan kepada prajurit BKR/TKR apabila melakukan kesalahan
tidaklah seperti hukuman yang ditekankan oleh Jepang kepada Giyugun sehingga
para prajuritnya kurang disiplin dan mematuhi peraturan.Hal tersebut dikarenakan dalam pembentukan BKR tidak ada unsur paksaan dan tekanan seperti pada Giyugun.BKR masih bersifat dualistis, karena merupakan organisasi campuran yang terdiri dari bermacam-macam organisasi militer (kelaskaran) serta organisasi pemuda yang bukan militer. Tetapi para pemimpin BKR/TKR yang merupakan mantan
prajurit Giyugun tersebut berusaha untuk mengajarkan kepada anggotanya mengenai
penyerangan pasukan secara gerilya, dan juga menanamkan semangat yang tinggi dalam membela negara, sehingga semangat nasionalisme dan patriotisme yang tinggi telah menjadi watak dan karakter pemuda Indonesia hingga mencapai kemerdekaan.
1.2Saran
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dan rekomendasi bagi berbagai pihak. Khususnya bagi mahasiswa, karya ilmiah ini diharapkan dapat menambah wawasan tentang asal-usul militer di Sumatera yang berperan dalam pembentukan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan sebagai jajaran militer untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Bagi pembelajaran sejarah di sekolah khususnya pada tingkat Sekolah Menengah Atas, penelitian ini diharapkan dapat menambah materi pmbelajaran sesuai dengan Standar Kompetensi dan Kompetensi
Dasar (SKKD) kelas XI program IPS semester II yaitu dengan SK menganalisis
pendudukan Jepang dan KD menganalisis proses interaksi Indonesia-Jepang dan dampak pendudukan militer Jepang terhadap kehidupan masyarakat di Indonesia. Selain itu SKKD kelas XI program IPA semester I dengan SK menganalisis perjalanan bangsa Indonesia dari negara tradisional, kolonial, pergerakan kebangsaan, hingga terbentuknya negara kebangsaan sampai Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dan KD membandingkan perkembangan masyarakat Indonesia di bawah penjajahan: dari masa VOC, Pemerintahan Hindia Belanda, Inggris, sampai Pemerintahan Pendudukan Jepang.
Adapun nilai-nilai yang dapat diambil dari sejarah kemiliteran Giyugun dan
BKR/TKR diantaranya: pertama, semangat nasionalisme tinggi yang dimiliki mantan
prajurit Giyugun di Sumatera dalam perjuangan kemerdekaan bangsa. Kedua, watak
dan karakter militer yang dimiliki oleh Giyugun merupakan hasil dari gemblengan
pendudukan Jepang.Sikap pantang menyerah, kedisiplinan yang tinggi, cinta tanah
Utami Iskanti , 2013
Daftar Pustaka
a. Sumber Buku:
Berg, H. J. V. D. (1952). Dari Panggung Peristiwa Sedjarah Dunia. Jakarta: J. B.
Wolters.
Budiardjo, Prof. M. (2008). Dasar-Dasar Ilmu Politik. Jakarta: PT Gramedia Pustaka
Utama.
Depdikbud. (1977). Sejarah Daerah Propinsi Daerah Istimewa Aceh. Jakarta: Proyek
Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah.
Gottschalk, L. (2008). Mengerti Sejarah (Terjemahan: Nugroho Notosusanto). Jakarta:
Universitas Indonesia Press.
Harjono, Dr. Anwar, S. H. (1997). Perjalanan Politik Bangsa: Menoleh Kebelakang
Menatap Masa Depan. Jakarta: Gema Insani Press.
Irsan, A. (2007). Budaya dan Perilaku Politik Jepang di Asia. Jakarta: Grafindo
Khazanah Ilmu.
Ismaun. (2005). Pengantar Sejarah Sebagai Ilmu dan Wahana Pendidikan. Bandung:
Historia Utama Press.
Jong, Dr. L. De. (1987). Pendudukan Jepang di Indonesia. Jakarta: Kesaint Blanc.
Kahin, A. (1997). Perjuangan Kemerdekaan: Sumatra Barat Dalam Revolusi Nasional
Indonesia, 1945-1950. Terjemahan. Jakarta: MSI [Masyarakat Sejarawan
Indonesia] Cabang Sumatra Barat dan CTP [Coprs Tentara Pelajar] Sumatera
Tengah.
Lebra, J. C. (1988). Tentara Gemblengan Jepang. Terjemahan. Jakarta: Pustaka Sinar
Harapan.
Nasution, A. H. (1970). Tentara Nasional Indonesia, Djilid 1. Djakarta: Seruling
Masa.
Nurudin. (2008). Komunikasi Propaganda. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Notosusanto, N. (1970). Tentara PETA pada masa Djepang di Indonesia. Jakarta: PT
Gramedia.
Notosusanto, N., et al. (1993). Sejarah Nasional Indonesia VI. Jakarta: Balai Pustaka.
Pedoman Penulisan Karya Ilmiah. (2012). Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.
Pusat Sejarah ABRI. (1988). Ikhtisar Sejarah Perang Kemerdekaan Di Sumatera (1945
1949). Jakarta: Pusjarah ABRI
Rahardjo, P. (1995). Badan Keamanan Rakyat (BKR): Cikal Bakal Tentara Nasional Indonesia. Jakarta: Majalah PETA.
Reid, A. (1987). Perjuangan Rakyat: Revolusi dan Hancurnya Kerajaan di Sumatra.
Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
Ricklefts, M. C. (2008). Sejarah Indonesia Modern 1200-2008. Jakarta: PT Serambi Ilmu
Semesta.
Rudy, T. M. (2003). Pengantar Ilmu Politik: Wawasan Pemikiran & Kegunaannya
Bandung: PT Refika Aditama.
Shigesuke, T. (2009). Bushido Shoshinsu: Spirit Hidup Samurai, Filosofi Para
Ksatria. Surabaya: Selasar Surabaya Publishing.
Sjamsuddin, H. (2007). Metodologi Sejarah. Yogyakarta: Ombak.
Soekadijo, R. G. (1987). Antropologi Politik. Jakarta: Erlangga.
Sundhaussen, U. (1986). Politik Militer Indonesia: Menuju Dwifungsi ABRI. Terjemahan.
Jakarta:LP3ES.
Supardan, Dr. H. D., M.Pd. (2007). Pengantar Ilmu Sosial: Sebuah Kajian Pendekatan
Struktural. Jakarta: Bumi Aksara.
Suwondo, P. S. (1996). PETA: Tentara Sukarela Pembela Tanah Air. Jakarta:
Pustaka Sinar Harapan.
Syam, F. (2007). Pemikiran Politik Barat: Sejarah, Filsafat, Ideologi dan Pengaruhnya
Terhadap Dunia Ke-3. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Zed, M. (2005). Giyugun: Cikal Bakal Tentara Nasional Indonesia. Jakarta: LP3ES.
b. Sumber Internet:
Hasudungan P. S. (2011). BKR-TKR-ABRI. [Online]. Tersedia: http://laklakliklik.
wordpress.com/2011/06/06/bkr-tkr-abri/ [8 Desember 2012].
Hidayanto, Y. (2011). Bushido Spirit. [Online]. Tersedia: Error! Hyperlink reference
not valid. [21Oktober 2012].
Sungaitatang. (2008). Tidak Adanya Tradisi Militer. [Online]. Tersedia: Error!
Hyperlink reference not valid..blogspot.com/2008/12/tidak-adanya-tradisi-militer.html [25
Utami Iskanti , 2013
Wikipedia bahasa Indonesia. (2012). Indoktrinasi. [online]. Error! Hyperlink reference
not valid. [25 November 2012].
Way R. (2011). Prinsip Bushido , Etos Kerja Bangsa Jepang. [Online]. Tersedia:
http://rasimunway.blogspot.com/2011/05/prinsip-bushido-etos-kerja-bangsa.html [21Oktober 2012].
c. Sumber Jurnal:
Zed, M. (2004). ”Giyugun: Tentara Sumatera Gemblengan Jepang, 1942-1945”. Dalam