Bab V – Konsep Ekonomi Syariah Persepektif Zaim Saidi dan M Umer Chapra
B. Konsep Ekonomi Syariah Perspektif M Umer Chapra
6. Kritik Terhadap Sistem Ekonomi Berdasar Sekularisme
Menurut Chapra, sekularisme adalah pandangan dunia yang dominan di dunia Barat. Sebagai akibat dari dominasi politik, intelektual, dan ekonomi Barat atas negara-negara lain, sekularisme akhirnya juga menjadi pandangan yang berlaku di
“dunia ketiga”. Sekularisme merupakan produk sekunder dari gerakan
enlightenment (pencerahan) yang mencoba menggeser kedudukan agama sebagai kekuatan kolektif dalam masyarakat dan menempatkan kepercayaan yang kuat akan kemampuan akal untuk menemukan kebenaran-kebenaran dalam mewujudkan tatanan kehidupan manusia. Sekularisme tidak selalu mengingkari keberadaan Tuhan, tetapi menganggap bahwa keberadaan-Nya tidak memiliki bobot pengaruh apapun bagi kehidupan manusia. Urusan kehidupan diselenggarakan dengan asumsi bahwa tidak ada kehidupan setelah kematian dan tidak ada pertanggungjawaban di hadapan Tuhan. Tidak seperti agama, pandangan sekularisme hanya mementingkan
182 Ibid., 83-84.
aspek kehidupan yang bersifat materi. Prinsip pokoknya adalah bahwa kebahagiaan dapat dicapai hanya dengan sarana-sarana materi.183
Permusuhan terhadap agama dalam masyarakat modern Barat telah membuatnya menentang penilaian yang didasarkan pada pertimbangan- pertimbangan moral. Perbuatan baik dilihat dari kacamata utilitarianisme, yaitu
yang menurutnya “benar” dan “salah”, “baik” dan “buruk” ditentukan oleh sensasi “kesenangan”atau “kesakitan”. Dengan demikian, sebuah penalaran telah dibangun setidaknya secara psikologis untuk satu tujuan, yaitu memperoleh kekayaan dan kesenangan sensual/jasmaniah.184
Dampaknya adalah bangkitnya suatu konsep “manusia ekonomi” yang berperan sebagai pelaku ekonomi modern. Kepentingan pribadi merupakan sumber gerakannya. Konsumsi adalah tujuan tertinggi dari kehidupannya, sumber utama kebahagiaannya, dan dasar pembenaran dari segala usahanya. Memaksimalkan penghasilan dan memenuhi segala keinginan telah menjadi kebajikan tertinggi. Segala usaha yang dilakukan oleh individu dalam rangka memenuhi sasaran ini adalah dibenarkan. Karena itu, individu harus dibiarkan bebas untuk memenuhi kepentingan pribadinya. Segala wacana tentang memenuhi hak-hak sosial dipandang sekedar omong kosong semata. Kehidupan ekonomi dipandang sebagai suatu arena persaingan yang diatur oleh sebuah sistem pasar bebas yang menjamin hukum rimba, pihak yang kuat akan menang. Dengan demikian, Darwinime sosial telah masuk ke dalam dunia ekonomi.185
183 Ibid., 13.
Pandangan sekularisme di atas merupakan pangkal kapitalisme, atau dikenal sebagai laisses faire, atau setelah diperbaharui menjadi sistem pasar yang memasukkan konsep welfare state (negara kesejahteraan). Secara prinsip sistem pasar memiliki beberapa karakteristik sebagai berikut: a) adanya kebebasan individu yang tidak dibatasi untuk memenuhi kepentingan pribadi, kepemilikan, dan pengelolaan kekayaan secara privat; b) Pengembangan kekayaan yang dipercepat dan produksi maksimum serta pemenuhan kebutuhan menurut pilihan selera individual; c) Lebih mengutamakan kekuatan-kekuatan pasar dalam alokasi dan distribusi sumber-sumber daya dan meminimalkan peran pemerintah maupun penilaian kolektif.186
Chapra mengkritik beberapa aspek dalam kapitalisme sebagai berikut. Asumsi kapitalisme yang menyatakan bahwa kepentingan individu dan kepentingan sosial pasti selaras adalah sesuatu yang salah. Dalam masyarakat sekuler, tidak ada motivasi baik pada produsen maupun konsumen untuk memenuhi kepentingan sosial manakala hal tersebut bertentangan dengan kepentingan pribadinya. Contohnya, pencegahan polusi air sungai adalah kepentingan masyarakat, tetapi tidak selalu memberikan kepuasan material kepada produsen, karena hal itu akan berdampak peningkatan biaya dan mengurangi keuntungan.187
Dalam sistem kapitalis yang berdasarkan prinsip utilitarian, diasumsikan bahwa konsumen akan membatasi klaim-klaimnya atas sumber-sumber daya pada pemuasan kebutuhan saja. Pada kenyataannya asumsi ini keliru. Tanpa keinginan
186 Ibid., 15.
untuk mengendalikan diri yang didasarkan pada komitmen nilai-nilai moral, maka pilihan-pilihan yang diambil boleh jadi tidak mencerminkan prioritas sosial. Buktinya, mengapa orang-orang kaya tidak bersedia mengalihkan sumber-sumber daya yang terbatas untuk memenuhi kebutuhan orang-orang miskin. Sebaliknya justru dipergunakan untuk memuaskan selera mereka, sekedar sebagai simbol prestise dalam suasana lingkungan konsumtif yang kompetitif.188
Dalam sistem kapitalisme terjadi kesenjangan pendapatan dan kekayaan yang begitu besar. Orang kaya lebih mudah mendapatkan akses kepada kredit, maka merekalah yang dapat membeli apa saja yang diinginkan dengan harga yang berlaku di pasar. Dengan demikian mudah bagi mereka untuk mengarahkan alokasi sumber daya menurut kemauan mereka. Sebaliknya orang-orang miskin akan senantiasa berada dalam jeratan lingkaran kemiskinan. Chapra mengutip pendapat Samuelson, bahwa pasangan yang lapar hanya akan melahirkan anak-anak yang kekurangan gizi, di mana mereka akan tumbuh dan berkembang untuk kemudian melahirkan anak-anak yang kekurangan gizi kembali. Hal ini akan mengabadikan kondisi ketidakmerataan yang buruk dalam penghasilan dan kekayaan bagi generasi- generasi mendatang atau selama-lamanya.189
Kapitalisme berasumsi bahwa kesediaan konsumen untuk membayar sesuai harga pasar mencerminkan urgensi kebutuhan. Hal ini juga keliru, karena bagi orang kaya beban yang ditanggung saat membeli suatu komoditas yang meskipun sama-sama dibutuhkan, akan berdampak berbeda jika dibandingkan dengan orang
188 Ibid.
miskin. Contohnya, urgensi membeli susu adalah sama bagi semua anak-anak, namun jumlah uang yang dikeluarkan oleh orang miskin untuk membeli susu tidaklah sama dengan yang dikeluarkan oleh orang kaya untuk memperoleh status simbol. Bahkan, ada ilustrasi yang menggambarkan bahwa kapitalisme telah menciptakan pemenang-pemenang pasar, hingga mempu memberi makan anjing- anjing mereka dengan makanan yang lebih bergizi dari pada pihak yang kalah untuk memberi makan anak-anaknya.190
Asumsi bahwa dalam mekanisme pasar terjadi persaingan sempurna dengan ciri-ciri banyak pembeli, banyak penjual, tidak ada hambatan masuk, dan ada informasi sempurna, juga dibantah oleh Chapra. Hal ini hanya menjadi impian yang tidak dapat diwujudkan, dan mungkin akan tetap demikian. Terutama karena adanya tendensi dalam sistem kapitalisme menuju ke arah promosi bisnis besar berbentuk perusahaan-perusahaan multinasional serta pemusatan kekayaan dan kekuasaan pada kelompok-kelompok tertentu.191
Lebih jauh Chapra menyatakan bahwa sistem harga/pasar telah melahirkan Darwinisme sosial dalam alokasi dan distribusi sumber-sumber daya. Orang kaya dengan dukungan daya belinya yang begitu besar, mampu mengalihkan sumber daya-sumber daya nasional guna memproduksi atau mengimpor barang-barang mewah dan simbol-simbol prestise palsu, di mana barang-barang itu bukanlah termasuk kategori kebutuhan pokok. Chapra mengutip pendapat Thawney, yang berpendapat bahwa sebagian barang yang setiap tahun diproduksi dan dianggap
190 Ibid., 19.
sebagai kekayaan, pada hakikatnya adalah kemubaziran, karena meskipun barang- barang itu menjadi bagian dari pendapatan nasional, namun sebenarnya tidak perlu diproduksi sebelum barang-barang yang memenuhi kebutuhan pokok dapat diproduksi dalam jumlah yang cukup banyak.192
Ketidakmerataan kesejahteraan sebagai akibat dari kapitalisme sistem pasar telah mendorong dijalankannya konsep negara kesejahteraan. Namun pada hakikatnya tidak terdapat perbedaan mendasar di antara keduanya, hanya sekedar adanya peran pemerintah yang lebih besar untuk menjamin pertumbuhan, stabilitas, dan pemerataan yang lebih besar. Pengeluaran pemerintah untuk dana kesejahteraan yang semakin meningkat, betapa pun juga telah gagal untuk mengentaskan kemiskinan, memenuhi kebutuhan pokok, dan mengurangi kesenjangan sosial di negara-negara paling kaya sekalipun. Lebih jauh, pengeluaran pemerintah untuk menyediakan layanan kesejahteraan bagi orang kaya dan miskin, justru membantu orang kaya lebih banyak dari pada membantu orang miskin, sebab pengeluaran orang kaya ternyata begitu besar sementara mereka juga memiliki kemudahan untuk mendapatkan fasilitas, contohnya pada penerapan subsidi (BBM) bahan bakar minyak nasional di Indonesia. Defisit anggaran yang begitu besar dalam negara kesejahteraan menjadi tekanan agar melepaskan batasan-batasannya. Strategi berupa defisit financing (pembiayaan defisit), ekspansi kredit yang besar, dan pinjaman luar negeri telah mengakibatkan ketidakseimbangan ekonomi makro
yang telah menggerogoti perekonomian negara-negara yang mengikuti sistem ekonomi pasar.193
Menurut Chapra, sosialisme tidak berbeda dalam hal pandangan dunianya, yaitu sekulerisme. Prinsip dalam sosialisme adalah secara implisit terdapat ketidakpercayaan terhadap manusia untuk mampu bekerja demi kepentingan masyarakat. Karena itu, sangat tergantung pada pengekangan kebebasan individu, penghapusan motif memperoleh keuntungan, serta penghapusan hak kepemilikan atas harta kekayaan. Dengan demikian, kepemilikan negara atas semua sumber daya produksi serta perencanaan hingga pengendalian terpusat menjadi strategi utama untuk mencapai efisiensi dan pemerataan penggunaan sumber daya-sumber daya.194
Penghapusan keuntungan sebagai imbalan langsung bagi usaha individu telah menghapus motivasi dan inisiatif yang merupakan syarat bagi suatu pertumbuhan ekonomi. Pembuatan keputusan yang terpusat juga menyebabkan seluruh perangkat ekonomi nasional tidak efisien dan lambat. Lebih jauh Chapra mengkritik, bahwa merupakan suatu hal yang tidak realistis jika pada tataran individu saja seorang manusia tidak dapat dipercaya untuk mengelola bisnis mereka dalam batas-batas kesejahteraan sosial. Maka, bagaimana mungkin individu-individu yang berada di tataran pemerintahan dapat dipercaya untuk mengelola alat-alat produksi seluruh bangsa. Dengan asumsi bahwa seluruh aparat pemerintah berasal dari manusia- manusia yang tidak dapat dipercaya. Tidak ada jaminan bahwa mereka tidak akan
193 Ibid., 20-22.
mengeksploitasi kekuasaan yang begitu besar yang dimilikinya sebagai pengendali semua alat produksi.195
Rapor sosialisme bahkan jauh lebih buruk daripada sistem pasar. Sosialisme telah gagal di semua negara yang mempraktekkannya. Meskipun memiliki sumber daya yang melimpah ruah, sistem sosialisme tidak dapat memenuhi kebutuhan- kebutuhan pokok atau mengurangi secara substansial ketidakmerataan sosioekonomi masyarakatnya. Kurangnya motivasi di kalangan pekerja dan eksekutif serta ketidakmampuan sistem ini untuk merespon realitas masyarakat yang senantiasa berubah membuat ekonomi sosialisme mengalami stagnasi. Berbagai problem ekonomi seperti inflasi, pengangguran, dan hutang luar negeri, bahkan lebih parah dari yang dialami oleh negara-negara pengikut ekonomi pasar.196
C. Relevansi Konsep Ekonomi Syariah Perspektif Zaim Saidi dan M. Umer