seltzer 29 , terlihat seperti pasangan biasa
7. Beat your son black and blue
4.8 Kritik Terjemahan
Kritik terjemahan yang dihasilkan penelitian ini dibagi menjadi dua, yaitu keberhasilan dan kegagalan penggunaan strategi penerjemahan untuk mencapai tujuan penerjemahan−untuk menyampaikan kisah Olive Kitteridge secara sesetia mungkin dengan maksud yang ingin disampaikan Elizabeth Strout melalui tulisannya, dengan tujuan memperkenalkan budaya sumber kepada pembaca sasaran, dan memenuhi kriteria tepat, wajar, dan mudah dibaca.
Keberhasilan pertama yaitu penerjemah menganggap bahwa fungsi terjemahan adalah sebagai terjemahan dokumenter yakni terjemahan digunakan untuk memperkenalkan budaya sumber kepada pembaca sasaran. Hal ini terlihat dari upaya penerjemah yang menerjemahkan TSu sesetia mungkin dengan maksud penulis TSu, dengan harapan memperkenalkan budaya sumber kepada pembaca sasaran.
Keberhasilan kedua yaitu penerjemah menyadari adanya perbedaan latar belakang pengetahuan dan budaya yang dimiliki pembaca TSu dan TSa. Hal ini terlihat dari upaya penerjemah yang menerapkan beberapa strategi penerjemahan untuk mengisi informasi yang dimiliki pembaca TSu namun tidak dimiliki pembaca TSa. Strategi yang terlihat jelas adalah pemberian catatan kaki dan penjelasan tambahan. Sebanyak dua belas jenis strategi penerjemahan yang digunakan penerjemah untuk menerjemahkan 180 istilah budaya dalam novel ini, yaitu: transferensi, naturalisasi, penerjemahan harfiah, modulasi, padanan budaya, kesepadanan deskriptif, kata generik, penjelasan tambahan, penerjemahan dengan pengurangan, terjemahan resmi, catatan kaki, dan parafrasa.
Sayangnya, di samping keberhasilan, beberapa strategi penerjemahan yang digunakan penerjemah dianggap gagal mencapai tujuan penerjemahan. Kegagalan yang pertama adalah demi menunjukkan kesetiaan pada maksud penulis TSu, penerjemah banyak menggunakan strategi transferensi dan penerjemahan harfiah untuk menerjemahkan istilah budaya yang akhirnya membuat terjemahan tidak tepat dan tidak wajar atau kaku.
Penggunaan strategi transferensi dianggap tepat apabila istilah budaya sumber itu sudah dikenal dan digunakan oleh pembaca TSa, misalnya sandwich,
belum dikenal oleh pembaca TSa, misalnya Plain Jane, Cheerios, dan cold cut, sebaiknya penerjemah menggunakan strategi lain yang dapat memberikan informasi tambahan mengenai istilah budaya itu kepada pembaca TSa.
Penerjemah juga sebaiknya tidak menggunakan strategi penerjemahan harfiah untuk menerjemahkan istilah budaya, terutama apabila konsep budaya sumber itu tidak ditemukan dalam budaya sasaran. Misalnya dalam menerjemahkan „baked beans‟ menjadi „kacang panggang‟, „Hells bells‟ menjadi „lonceng neraka‟, idiom „he was barking up the wrong tree‟ menjadi „Jack menggonggog pada pohon yang salah‟.
Secara umum dapat dikatakan bahwa jika dikaitkan dengan tujuan penerjemahan, yakni terjemahan yang sesetia mungkin pada maksud penulis TSu dengan tujuan memperkenalkan budaya sumber kepada pembaca sasaran dan memenuhi kriteria tepat, wajar, serta mudah dibaca, terjemahan istilah budaya dalam novel Olive Kitteridge ke dalam bahasa Indonesia tidak cukup berhasil mencapai tujuan itu.
BAB 5 KESIMPULAN
Penelitian ini menunjukkan bahwa ada proses yang cukup rumit di balik penerjemahan novel seperti Olive Kitteridge ini, karena banyak faktor yang memengaruhi penerjemah dalam menentukan strategi penerjemahan.
Dalam menentukan strategi penerjemahan, ada dua faktor yang perlu dipertimbangkan oleh penerjemah, yaitu faktor ekstratekstual (situasi komunikasi) dan intratekstual (unsur di dalam teks). Dengan pengalaman menganalisis dua faktor itu, penerjemah akan dapat secara cepat mengenali situasi, masalah, dan tujuan penerjemahan sehingga mampu menemukan strategi yang tepat untuk mengatasi masalah penerjemahan.
Ada beberapa strategi yang digunakan penerjemah untuk mengatasi masalah penerjemahan dalam novel Olive Kitteridge ini, yaitu transferensi, naturalisasi, penerjemahan harfiah, modulasi, padanan budaya, kesepadanan deskriptif, kata generik, penjelasan tambahan, penerjemahan dengan pengurangan, terjemahan resmi, catatan kaki, dan parafrasa. Strategi penerjemahan itu digunakan untuk mengatasi masalah penerjemahan pada tataran kata, frasa, dan kalimat. Sejalan dengan masalah penerjemahan pada umumnya, dalam penerjemahan karya sastra seperti novel Olive Kitteridge, masalah yang muncul adalah perbedaan latar belakang pengetahuan dan budaya pembaca TSu dan TSa, terutama ketika berkaitan dengan konsep dan praanggapan yang tidak universal.
Dalam penerjemahan karya sastra, penerjemah harus mengingat bahwa terjemahan yang dihasilkan bersifat menyampaikan kembali maksud penulis TSu ke dalam BSa dengan sesetia mungkin. Dalam hal ini, strategi penerjemahan yang digunakan penerjemah untuk mengatasi masalah penerjemahan harus mampu menghadirkan terjemahan yang tetap setia pada maksud penulis TSu yakni tanpa melakukan penyimpangan dalam pengalihan makna, namun dianggap wajar dan mudah dipahami oleh pembaca TSa.
Secara garis besar terjemahan novel ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Salah satu kelebihan terjemahan novel ini adalah penerjemah menyadari bahwa TSu merupakan karya penulis lain sehingga berusaha
menerjemahkan TSu sesetia mungkin dengan maksud penulis TSu. Namun sayangnya, demi menunjukkan kesetiaan itu, penerjemah cenderung menerjemahkan TSu secara harfiah, yang dalam beberapa hal tidak berhasil menyampaikan maksud penulis TSu, terutama jika berkaitan dengan idiom dan metafora. Kekurangan ini mungkin disebabkan faktor penerjemah yang tidak memahami konsep penerjemahan sehingga tidak berhasil memilih strategi yang tepat untuk mengatasi masalah penerjemahan
Selain itu, banyak juga ditemukan terjemahan yang tidak tepat. Kesalahan terjemahan ini mungkin disebabkan oleh faktor penerjemah yang tidak jeli memahami TSu. Dalam novel ini juga ditemukan ketidakkonsistenan terjemahan beberapa istilah. Ketidakkonsistenan ini memunculkan dugaan bahwa walaupun dalam novel ditulis bahwa novel ini diterjemahkan oleh Novieta Christina, dalam praktiknya novel yang berupa kumpulan cerpen ini mungkin diterjemahkan oleh beberapa orang. Ketidakkonsistenan ini juga dapat disebabkan oleh editor yang kurang jeli saat mengedit terjemahan. Selain faktor penerjemah dan editor, kekurangan terjemahan novel ini tidak terlepas dari faktor waktu penerjemahan. Waktu penerjemahan yang singkat dapat memengaruhi keoptimalan penerjemahan dan terjemahan.
Apabila di masa mendatang novel ini akan dicetak lagi, saya menyarankan agar penerjemah lebih mempertimbangkan faktor ekstratekstual dan intratekstual untuk mencapai tujuan penerjemahan. Penerjemah juga diharapkan lebih jeli dalam memahami TSu dan dalam memilih strategi penerjemahan yang dapat mengisi perbedaan pengetahuan pembaca TSu dan TSa demi mencapai tujuan penerjemahan. Editor juga diharapkan lebih jeli melihat ketidaktepatan dalam pengalihan makna dan ketidakkonsistenan dalam terjemahan istilah.
Masih banyak aspek lain dalam novel Olive Kitteridge ini yang dapat diteliti. Dari aspek produk terjemahan, peneliti lain dapat meneliti unsur-unsur di dalam teks seperti praanggapan, terjemahan istilah kedokteran, penggunaan strategi catatan kaki, unsur suprasegmental, dan sebagainya. Melihat kekurangan yang ditemukan di dalam terjemahan seperti ketidaktepatan dan ketidakkonsistenen, akan menarik jika peneliti lain dapat meneliti aspek proses penerjemahan, yakni meneliti seluk beluk proses penerjemahan yang dilakukan
penerjemah dan proses penyuntingan yang dilakukan editor. Hasil penelitian tersebut akan lebih memperkaya penelitian di bidang kajian penerjemahan.
Akhirnya, saya menyadari bahwa penelitian ini memiliki banyak kekurangan. Oleh karena itu saya dengan senang hati menerima kritik dan masukan untuk melengkapi penelitian ini.