• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV PERWATAKAN TOKOH UTAMA DALAM ROMAN

B. Perwatakan Tokoh Leyla dalam Roman Leyla Karya Feridun

3) Kritis

Kritis merupakan sikap tidak lekas percaya, bersifat selalu berusaha menemukan kesalahan atau kekeliruan serta tajam dalam penganalisisan

(Depdiknas 2001: 601). Leyla adalah seorang yang sangat kritis terhadap hal apapun yang sedang dialaminya, bahkan ketika masih kanak-kanak ia telah memiliki sikap kritis. Ia menganalisis setiap hal yang dialaminya dan super ego dalam dirinya memunculkan nilai-nilai yang berlaku di dalam masyarakat. Hal tersebut dapat dilihat melalui beberapa kutipan berikut ini. Dalam kutipan ini Leyla dan Selda berada di sebuah bioskop. Leyla sering mempertanyakan hal-hal yang dianggapnya aneh kepada Selda. Misalnya ketika seseorang datang ketika film telah diputar selama tiga perempat jam, serta keanehan lain yang tergambar melalui kutipan berikut ini

Ich kann es nicht glauben, eine Frau, die öffentlich Zigaretten raucht, sie hält die Zigarette wie ein Mann zwischen Zeige- und Mittelfinger, der Rauch zieht über ihren Kopf hinweg ab, und dann nimmt sie einen tiefen Zug, bläst den Rauch aus Mund und Nase heraus. (Zaimoglu 2006: 175) Tidak bisa dipercaya, seorang wanita, terang-terangan merokok, dia memegang rokok di antara jari telunjuk dan jari tengah seperti seorang laki-laki, asapnya menyembul di atas kepalanya, dan kemudian dia mengambil isapan dalam, asap berhembus dari mulut dan hidungnya.

Penulis secara tidak langsung (indirekte Charakterisoerung) mengungkapkan melalui pikiran tokoh Leyla bahwa Leyla adalah seorang yang kritis. Super ego dalam dirinya memunculkan pikiran bahwa sikap Ipek Hanim (wanita dalam kutipan tersebut) dinilai tidak wajar. Leyla menilai bahwa seorang wanita yang merokok secara terang-terangan seperti layaknya seorang laki-laki itu aneh dan bahkan tidak bisa dipercaya. Beberapa waktu kemudian, Leyla dan beberapa temannya melalukan perjalanan dan singgah di rumah Manolya selama beberapa hari. Di sana ia menemukan hal-hal baru yang selama ia tinggal di Istanbul tidak pernah ia temukan. Seperti yang tergambar melalui kutipan berikut ini.

Ihre Sitten sind uns fremd, denke ich, und bis wir uns mit ihnen vertraut gemacht haben, wird eine Ewigkeit vergehen, doch wir sind nur für kurze Zeit bei ihnen, also müssen wir einen Weg finden, sie nicht zu reizen oder zu beleidigen. (Zaimoglu 2006: 227)

Adat istiadatnya asing bagi kami, pikirku, dan sampai kami saling percaya, keabadian berlalu, toh kami juga hanya sebentar bersama mereka, maka kami harus menemukan jalan untuk tidak menarik perhatiannya atau menyinggung perasaannya.

Penulis menggambarkan tokoh Leyla secara tidak langsung (indirekte Charakterisierung) melalui pemikiran tokoh tersebut sendiri. Dalam kutipan tersebut Leyla berpikir bahwa ia berada dalam lingkungan adat istiadat yang berbeda dengan apa yang ia kenal selama ini di tempat tinggalnya. Tetapi ia tidak serta merta menolak adat istiadat tersebut, ia memiliki pengendalian diri yang sangat baik. Ia tahu bahwa ia tidak akan lama singgah di tempat itu, sehingga ia harus menemukan jalan untuk tidak menarik perhatian ataupun menyinggung perasaannya. Melalui sikap dan pemikiran Leyla tersebut dapat dilihat bahwa Leyla adalah seorang yang kritis menghadapi setiap situasi yang dihadapinya.

Saat Leyla dan teman-temannya singgah di desa tempat asal Manolya tersebut, mereka juga menyempatkan diri untuk berkeliling desa dan menikmati keindahan alam yang masih sangat alami. Melalui kutipan berikut ini penulis menunjukkan secara tidak langsung (indirekte Charakterisierung) sikap Leyla yang sangat kritis terhadap lingkungan.

...da wir jetzt am Ufer des Fluβbetts reiten, höre ich das schöne Rauschen, eine Weile das schöne Rauschen, und hinter meinem Rücken nur noch als Nachhall die wilde Vereinigung. Manolya pustet mir in den Nacken, und für einen Augenblick bin ich ihr böse, weil sie mich nicht läβt, soll sie mich doch für ein ergriffenes Bürgermädchen halten. (Zaimoglu 2006: 230)

... Karena kami sekarang menunggang kuda di tepi sungai, aku mendengar gemuruh yang merdu, sejenak gemuruh yang merdu dan di belakang punggungku seperti sebuah kumandang yang liar. Manolya meniup

tengkukku, dan untuk sesaat aku marah padanya, karena dia tidak melepaskanku. Dia menganggapku sebagai gadis dari kalangan rakyat biasa.

Dalam kutipan tersebut disebutkan bahwa Leyla dan Manolya sedang menunggang kuda menikmati keindahan alam di tepi sungai. Pemandangan alam yang indah serta suasana yang nyaman tersebut membuat Leyla merenungkan permasalahan hidupnya yang berat. Ketika Leyla sedang menikmati waktunya berdiam diri dan merenung, tiba-tiba Manolya meniup tengkuknya, sehingga ia marah sesaat. Ia merasa terganggu dengan sikap Manolya. Leyla berharap Manolya akan membiarkannya untuk menikmati keadaan di sekitarnya sambil merenung. Namun Manolya malah mengganggu keasyikannya. Tetapi beberapa saat kemudian Leyla kembali bersikap seperti biasa.

Leyla adalah seorang yang peduli terhadap orang-orang di sekitarnya. Ia seorang gadis yang peka terhadap lingkungan sekitarnya dan memiliki penganalisisan yang baik terhadap suatu permasalahan yang ia hadapi. Seperti pada saat seorang laki-laki mendatangi Manolya dan mengungkapkan bahwa ia menyukai Manolya, namun Manolya menolak laki-laki tersebut. Sikap kritis Leyla muncul ketika ia mulai menasehati Manolya, seperti dalam kutipan berikut ini.

Er liebt dich doch, sage ich, und weil du ihn nicht beachtest, ist er verzweifelt. (Zaimoglu 2006: 243)

Dia mencintaimu, kataku, dan karena kamu tidak memperhatikannya, dia putus asa.

Melalui kutipan tersebut, secra tidak langsung (indirekte Charakterisierung) dapat dilihat bahwa Leyla tidak hanya kritis terhadap masalah-masalah yang ia hadapi, tetapi ia juga perduli kepada permasalahan orang

lain. Dalam kutipan di atas Leyla menganalisis suatu kejadian melalui sebab akibatnya. Ada suatu kondisi ketika seorang laki-laki mencintai Manolya, tetapi ia tidak memperhatikan laki-laki dan menolaknya, sehingga laki-laki tersebut putus asa. Melalui kutipan tersebut dapat dilihat bahwa, meskipun secara jasmani ia masih dinilai kecil atau belum dewasa, namun ia memiliki cara berpikir atau penganalisisan yang tajam. Ia juga tidak lekas percaya kepada apa yang diucapkan seseorang. Ia selalu berpikir dahulu sebelum ia menyetujui pendapat orang lain, seperti dalam kutipan berikut ini. Pada saat itu Leyla masih berusia remaja. Sebenarnya ia bertemu dengan Ipek Hanim untuk memberitahukan bahwa ia tidak menyukai Soldat, lelaki yang mencintai Leyla. Tetapi Ipek Hanim malah membicarakan hal lain di luar topik yang akan Leyla bahas.

Ich nicke stumm und lächele bei dem Gedanken, daβ sie uns kostenlosen Nachhilfenunterricht im Dirnenverhalten gibt, Ipek Hanim versteht meine kleine Schadenfreude als Zustimmung und strahlt mich an. (Zaimoglu 2006: 272)

Aku mengangguk dan diam-diam berpikir bahwa dia memberikan kepada kami kursus gratis tentang perilaku pelacur. Ipek Hanim mengerti rasa senangku yang kecil atas kesusahan orang lain sebagai persetujuan dan menatapku.

Kutipan tersebut merupakan penggalan kalimat yang terjadi pada saat Leyla bertemu dengan Ipek Hanim. Dalam kutipan tersebut dikatakan bahwa Leyla mengangguk-angguk sebagai tanda ia mengerti apa yang disampaikan Ipek Hanim. Tetapi dalam hatinya ia berpikir bahwa apa yang disampaikan Ipek Hanim adalah pelajaran atau kursus gratis tentang perilaku pelacur. Leyla sebagai seorang yang yang lebih muda bersikap menghormati orang yang lebih tua dari dirinya, meskipun ia tidak serta merta menerima apa yang disampaikan Ipek Hanim. Tetapi ia berpikir dan menyimpulkan sendiri apa yang baik dan apa yang tidak

baik dari apa yang disampaikan Ipek Hanim. Dalam hal ini super ego dalam diri Leyla berperan lebih besar sehingga ia dapat menyimpulkan hal yang baik dan yang tidak baik. Melalui kutipan tersebut secara tidak langsung (indirekte Charakterisierung) penulis menggambarkan tokoh Leyla yang kritis.

Ketika Leyla mulai beranjak dewasa, sikap kritisnya semakin berkembang. Pada saat Metin melamarnya, ia tidak serta merta menerimanya meskipun ia memang mengharapkan pernikahan itu untuk membawanya keluar dari permasalahan keluarganya yang berat. Dalam kutipan berikut ini secara tidak langsung (indirekte Charakterisierung) penulis menggambarkan tokoh Leyla yang selalu menganalisis dengan tajam setiap permasalahan yang dihadapinya.

Wir hüllen uns in Schweigen. Ich habe Metin nicht nach seinem Alter gefragt, ich habe das Wirtschaftsgymnasium abgeschlossen, und er ist Student. Kein groβer Alterunterschied, denke ich, auβerdem ist er ein junger Mann. Würde ich die Seelenverwandte anschreiben, und wenn ja, was würde ich wissen sollen? ... Ich kenne den Mann nicht, den ich heiraten will. Ist das ein Problem, sehr geehrte Frau Seelenverwandte? (Zaimoglu 2006: 319)

Kami menyelubungi diri kami dalam diam. Aku tidak menanyai Metin tentang usianya, aku sudah menyelesaikan sekolah ekonomi, dan dia seorang mahasiswa. Bukan perbedaan usia yang besar, pikirku, selain itu dia adalah seorang laki-laki muda. Akankah aku menulis pada Seelenverwandte dan jika ya, apa yang harus kuketahui? ... Aku tidak mengenal laki-laki yang akan kunikahi ini. Apakah ini sebuah masalah, nona Seelenverwandte yang terhormat?

Perbedaan usia yang cukup jauh, 11 tahun membuat keluarga Leyla berdebat mengenai hubungan Leyla dan Metin. Pada saat itu mereka membaca sebuah artikel konsultasi dalam sebuah majalah. Dalam rubrik tersebut ditampilkan sebuah surat yang dikirim oleh pembaca kepada Frau Seelenverwandte. Surat tersebut menyebutkan bahwa sang pengirim surat dan suaminya berbeda usia sangat jauh. Keluarga Leyla kemudian membandingkan

surat tersebut dengan masalah Leyla. Namun Leyla merasa bahwa itu bukanlah masalah besar. Ia mengetahui bahwa calon suaminya adalah seorang mahasiswa dan ia sendiri telah lulus sekolah menengah. Menurut Leyla perbedaan tersebut tidak terlalu jauh seperti yang dipermasalahkan ibu dan kakak-kakaknya. Ia memang belum terlalu mengenal Metin lebih jauh, namun ia sendiri bingung jika ia harus bertanya kepada Frau Seelenverwandte.

Pergolakan batin Leyla tidak lantas berhenti ketika Leyla dan Metin telah menikah. Permasalahan yang timbul dalam batin Leyla semakin kompleks, seperti yang terdapat pada kutipan berikut ini.

...Es kümmert sie wenig, daβ ich verwirrt bin, meine alte Familie habe ich verloren, eine neue Familie nicht dazugewonnen. Metin ist mir ein Rätsel-er trifft sich mit mir im Park, wir sind vor Gott und dem Recht vRätsel-erheiratet, aber wir treffen uns wie zwei Verliebte und Verborgene auβerhalb der Häuser, ...

Was tust du mir an? sage ich, wenn du dich mir verweigern wolltest, wieso hast du mich zu deiner Frau genommen? Ist das eine Scheidung auf Raten? In den Augen meiner Geschwister, in der Augen der Bekannten, in den Augen wildfremder Menschen bin ich fast so etwas wie ein gefallenes Mädchen. (Zaimoglu 2006: 434)

...Mereka sedikit peduli tentang hal itu, bahwa aku bingung, aku kehilangan keluargaku yang dulu, sebuah keluarga baru tidak nyaman. Bagiku Metin adalah suatu hal yang susah dimengerti- dia menemuiku di taman, kami menikah di hadapan Tuhan dan hukum, tetapi kami bertemu seperti dua orang yang saling mencintai dan yang tersembunyi di luar rumah...

Apa yang kamu lakukan kepadaku? kataku, kalau kamu ingin menolakku, mengapa kamu mengambil aku sebagai istrimu? Apakah ini perceraian karena nasehat? Di mata saudara-saudaraku, di mata para kerabat, di mata orang asing aku hampir seperti gadis yang terpuruk.

Sikap kritis Leyla selalu muncul ketika ia menghadapi permasalahan dalam rumah tangganya bersama Metin, dalam kutipan di atas diungkapkan secara tidak langsung (indirekte Charakterisierung). Ia merasa bingung ketika ia telah menikah dengan Metin. Ia merasa belum nyaman dengan kondisinya saat itu. Ia

telah menikah dan meninggalkan orang tua. Tentu itu bukan suatu hal yang mudah dan memerlukan penyesuaian diri yang cukup lama. Ia merasa telah kehilangan keluarganya yang dahulu namun ia belum juga merasa nyaman dengan keadaan keluarga barunya. Leyla merasa bahwa dirinya belum bisa memahami Metin. Ia belum mengerti sikap Metin yang dirasa tidak seperti layaknya pasangan suami istri lainnya. Metin bersikap tidak seperti suami pada umumnya meskipun mereka telah menikah di hadapan hukum dan Tuhan. Berbagai pertanyaan kemudian muncul dalam benak Leyla yang akhirnya dia tanyakan kepada Metin.

Sikap kritis Leyla juga ditunjukkan dalam menghadapi masalah kehidupan rumah tangganya, seperti dalam kutipan berikut ini. Secara tidak langsung (indirekte Charakterisierung) penulis mengungkapkan bahwa Leyla adalah seorang yang kritis dan peka. Kutipan berikut ini merupakan penggalan percakapan antara Leyla dan Fulya. Setelah beberapa saat tidak bertemu, Fulya mengunjungi Leyla ke rumahnya. Ia mengatakan bahwaia melihat Metin bersama perempuan lain di stasiun.

Ich will ihn nicht mit anderen Frauen teilen.

Wieso solltest du? Er hat dich zur Frau genommen.

Man hält mich für eine eifersüchtige Hexe, sage ich, und weiβt du wieso? Weil ich wie ein Schieβhund über ihn wache... Bist du dir wirklich sicher? War es nicht doch ein Kuβ auf den Mund? (Zaimoglu 2006: 451)

Aku tidak ingin membaginya dengan perempuan lain. Bagaimana bisa? Dia mengambilmu sebagai istri.

Orang menganggapku sebagai seorang penyihir yang cemburu, kataku, dan tahukah kamu mengapa? Karena aku menjaganya dengan sangat waspada... Apakah kamu benar-benar yakin? Itu bukan ciuman bibir?

Ketika Leyla mendengar kabar bahwa suaminya berselingkuh ia tidak langsung mengambil tindakan ataupun marah-marah kepada Metin. Tetapi ia mengintrospeksi diri lebih dahulu. Ia mengungkapkan bahwa orang-orang

menganggapnya sebagai penyihir yang pencemburu dan ia menjaga suaminya dengan waspada, kemudian mengkonfirmasi kebenaran berita itu. Hal tersebut membuktikan bahwa Leyla seorang yang kritis, yang tidak lekas percaya pada orang lain dan menganalisis suatu masalah dengan baik.