• Tidak ada hasil yang ditemukan

KRITISISME: MODAL DASAR KEHIDUPAN AKADEMIK

Dalam dokumen Diklat Jabatan Tingkat Pertama (Halaman 38-42)

Menarik untuk dicermati mengapa, berpikir kritis masuk dalam materi mata ajar proposal dan rancangan penelitian. Pertimbangan apa yang melatarbelakangi urgensi berpikir kritis masuk dalam pokok bahasan ini?

Berpikir kritis akan memberikan daya ungkit yang besar bagi kualitas proposal dan rancangan penelitian yang lebih baik. Proposal yang dibangun dengan alur pemikiran yang kritis memiliki kemungkinan lebih besar untuk diterima oleh penyandang dana.

Apa itu berpikir kritis? Sebagaimana dikemukakan oleh Lai (2011), bahwa definisi berpikir kritis masih bersifat ‘Elusive’, namun terdapat unsur-unsur yang saling bersinggungan. Unsur-unsur tersebut yaitu: (i) menganalisis alasan/ argument, (ii) mengambil kesimpulan (baik secara induktif dan deduktif), (iii) menilai atau mengevaluasi, dan (iv) mengambil kesimpulan atau memecahkan masalah. Latar belakang pengetahuan adalah penting untuk memulai berpikir kritis, tetapi belumlah cukup (necessary but not sufficient).

Berpikir kritis memerlukan keahlian kognitif, atau kemampuan dan karakter atau personal (dispositions). Karakter tersebut dapat dilihat sebagai sikap atau kebiasaan berfikir, secara terbuka dan adil, penuh rasa keingintahuan, fleksibel, selalu mencari alasan, keinginan untuk mengetahui informasi secara lengkap, dan adanya keinginan untuk menghormati atau menanggapi pendapat yang berbeda.

Secara umum, dalam kehidupan sehari-hari, berpikir kritis, dimulai dengan tiga tingkatan (www.plymouthuniversity.edu).

1. mencari informasi yang tujuannya adalah untuk mendeskripsikan sesuatu, seperti dimulai dengan kata tanya apa, dimana, siapa, dan kapan.

2. dalam tingkatan pertanyaan analisis maka kata tanya berikut seringkali dipergunakan seperti bagaimana, mengapa, dan apa.

3. pertanyaan yang bersifat evaluasi seperti apa implikasinya atau apa selan- jutnya.

Dengan demikian, berpikir kritis ditandai oleh kemampuan untuk melaku- kan transformasi pemahaman dari yang bersifat deskriptif, menuju analisis dan akhirnya evaluatif.

Berpikir kritis, merupakan elemen sangat penting dalam suatu kegiatan penelitian dan hal ini dapat dimulai dengan membaca setiap literatur secara

kritis. Membaca secara kritis melibatkan paling tidak tujuh (7) unsure (www. qmu.ac.uk):

• Mengidenfitikasi argumen-argumen yang dikemukakan oleh penulis • Secara kritis mengevaluasi argumen yang disampaikan

• Mencari bukti-bukti dalam teks

• Mengevaluasi bukti-bukti yang diberikan

• Mempertanyakan motif penulisan dan asumsi-asumsi yang mendasarinya • Mengindentifikasi kesimpulan yang disampaikan penulis

• Memutuskan apakah bukti-bukti yang diberikan mendukung kesimpulan

ANALISA

Berpikir kritis artinya membuat penilaian secara hati-hati dan tepat.1 Dengan

demikian, berpikir kritis adalah seseorang yang memberikan penilaian melalui suatu proses analisis yang sistematis dan penuh dengan rasa keingintahuan. Berpikir secara kritis dimulai dengan kemampuan untuk melakukan analisis dan analisis secara kritis. Berikut dijelaskan akan analisis dan analisis kritis.

Analisis

Seorang peneliti selalu dihadapkan dalam sistem yang kompleks. Dengan de- mikian, seorang peneliti perlu memiliki kemampuan untuk menyederhanakan atau memilah-milah sistem yang kompleks, ke dalam subsistem. Melalui proses ini, masing-masing elemen dapat dipelajari secara terpisah dan selanjutnya dipelajari bagaimana hubungan antar elemen. Sehingga dengan proses anali- sis, seorang peneliti diasah kemampuannya dalam hal:

• Memiliah-milah elemen dari suatu sistem

• Menunjukkan bukti-bukti yang menyebabkan eksistensi masing-masing elemen

• Melihat bagaimana keterkaitan masing-masing elemen

• Menentukan seberapa penting posisi dari masing-masing elemen tersebut

Analisis kritis (Critical analysis)

Dalam proses analisis peneliti kerapkali dihadapkan pada banyak per- tanyaan. Namun demikian, secara umum ada dua jenis pertanyaan.

• pertanyaan yang dirancang untuk memperjelas fakta-fakta.

• pertanyaan yang dikaitkan dengan membuat penilaian akan sesuatu yang penting atau bernilai atau kebenaran atas suatu topik yang diteliti.

Bagi seorang sejarawan, tentu saja pertanyaan akan menjadi lebih kom- pleks. Penting bagi seorang sejarawan untuk mengetahui validitas sumber informasi, maka ada tiga aspek yang perlu digali lebih dalam yaitu: (i) dari mana sumber informasi didapat (sumber pertama, kedua, atau lainnya); (ii) apakah in-

formasi yang didapat didukung oleh sumber informasi lainnya; dan (iii) adakah kecurigaan atas informasi yang bias atau tidak akurat.

Ketika peneliti bergerak dalam ranah keingintahuan yang demikian, maka peneliti tersebut telah masuk ke dalam ranah analisis kritis. Berpikir kritis jangan diartikan sebagai sesuatu yang ‘negatif’. Namun lebih pada pertimbangan untuk melihat atau menilai hal yang baik dan kurang baik; atau menyaring informasi valid dan tidak valid; atau kelebihan dan kekurangan.

Berpikir kritis (critical thinking) membutuhkan analisis yang sistematis yang didasarkan pada tiga elemen penting. Pertama, mempertanyakan material yang digunakan dalam analisis. Kedua, mengevaluasi metode yang digunakan. Ketiga, mengevaluasi bagaimana pengelolaan dilakukan untuk mencapai suatu penilaian atau kesimpulan.

Dengan demikian tiga pertanyaan penting dibalik sikap kritis yaitu:

• Definisi. Apa yang sedang didiskusikan (ide, fakta, argumen, dan teori)?

• Perbandingan dan kontras. Bagaimana hal atau topic sama atau berbeda dari topik lain yang berhubungan.

• Penilaian. Seberapa baik fakta-fakta yang diberikan? Adakah cara pandang lain untuk mendiskusikan topik? Bagaimana urgensi topik secara keseluru- han?

Dengan demikian secara ringkas, berpikir kritis menghendaki adanya ke- mampuan dalam hal:

• Melakukan analisis: mereduksi hal yang kompleks menjadi sederhana serta memeriksa hubungan diantara masing-masing elemen

• Mengadopsi sikap kritis atas elemen-elemen tersebut: dengan memper- tanyakan arti, mengevaluasi bukti-bukti yang menyertainya, serta membuat penilaian atas urgensi atas masing-masing elemen

• Akhirnya, mempresentasikan penilaian dalam cara yang persuasif dan alasan-alasan yang logis (reasoned argument).

Berpikir kritis lahir melalui suatu proses pembelajaran (www.fd.unl.pt). Berpikir kritis adalah proses yang dibangun secara bertahap mulai dari unre- flective thinker-challenged thinker-beginning thinker-practicing thinker-advanced thinker-master. Dalam tingkatan master thinker, berpikir kritis sudah menjadi kebiasaan baik sehari-hari dan menjadi ‘second nature’.

Namun, demikian berpikir kritis haruslah didasarkan pada kesadaran in- telektual yang baik dan benar. Gambar di bawah ini memperlihatkan standar intelektual sebagai elemen-elemen penting untuk membangun intelektualitas yang handal. Bagian hulu dimulai dengan standar. Standar berisikan paling tidak 10 elemen yaitu: kejelasan, akurasi, relevansi, logis, ekstensif, ketepatan, signifikan, kelengkapan, keseimbangan, dan kedalaman.

Standar tersebut harus diaplikasikan dalam menggali elemen-elemen yang terdapat dalam tujuan, pertanyaan, pendapat, informasi, kesimpulan, konsep, implikasi dan asumsi. Elemen-elemen tersebut perlu dipelajari dalam mengem-

bangkan sifat-sifat seorang intelektual yang tidak angkuh, independen/bebas, berintegritas, penyemangat, konsisten, percaya diri, berempati, dan adil.

Elemen-elemen berikut penting diperhatikan sebagai check point apakah proposal penelitian yang disiapkan sudah sejalah dengan prinsip-prinsip ber- pikir secara kritis (www.fd.unl.pt).

• Setiap penelitian memiliki maksud yang utama dan tujuan

• Setiap peneltian menjawab pertanyaan utama, masalah atau isu

• Setiap penelitian mengidentifikasikan data, informasi, dan bukti-bukti yang relevan terhadap pertanyaan utama dan tujuan

• Setiap penelitian berisikan pengujian hipotesis atau interprestasi, sebelum mengambil kesimpulan

• Setiap penelitian dilakukan atas beberapa pandangan atau argumen atau kerangka referensi

• Setiap penelitian berdasarkan pada asumsi-asumsi

• Setiap penelitian diekspresikan dan dibentuk oleh suatu konsep dan berb- agai ide

• Setiap penelitian akan memberikan implikasi dan konsekuensi

Aplikasi dari pengembangan berpikir kritis ditandai oleh kemampuan yang semakin tajam untuk melihat akar permasalahan. Misalkan saja, ketika akan menganalisis rantai sebab (causal chain) dari polusi dan eksploatasi berlebihan atas suatu danau, maka metode causal chain analysis (CCA) menghendaki adan- ya pemahaman dalam beberapa arena, yaitu:

• kareakteristik sistem danau;

• identifikasi kegiatan sosial dan ekonomi yang dominan;

• mengidentifikasi dampak lingkungan paling utama, akibat aktivitas ekonomi; • mengidentifikasi sebab utama sosial dan ekonomi terhadap danau dan

keterkaitannya terhadap dampak lingkungan. Gambar 4. Contoh Siklus Berpikir Kritis dalam Kasus Danau

Secara sederhana langkah-langkah berpikir kritis dapat diaplikasikan dalam suatu sistematikan proposal sebagai berikut:

RUMUSAN

Dalam dokumen Diklat Jabatan Tingkat Pertama (Halaman 38-42)

Dokumen terkait