MODUL
PROPOSAL
DAN
RANCANGAN
Pusbindiklat Peneliti
LEMBAGA ILMU PENGETAHUAN INDONESIA
2017
Diklat Jabatan
Tingkat Pertama
+ Kunci Jawaban
(IPS)
DAFTAR ISI
PROPOSAL DAN RANCANGAN PENELITIAN
Konsep Proposal dan Rancangan Penelitian 3
Pengertian dan Cakupannya 3
Aspek-aspek Penting Proposal dan Rancangan Penelitian 6
Kriteria dan Formulasi Proposal dan Rancangan Penelitian 8
Paradigma Penelitian 8
Kriteria Proposal 9
State of The Art 11
Formulasi Proposal dan Rancangan Penelitian 13
Bagian-bagian Utama Proposal dan Rancangan Penelitian 14
Strategi dan Teknik Penulisan Proposal dan Rancangan Penelitian 27
Beberapa Faktor Penolakan Proposal Penelitian 27
Faktor Perhatian dalam Penyusunan Proposal 28
Strategi Penulisan Proposal dalam Berbagai Tahapan 28
Berpikir Kritis (critical thingking) dan Teknik Pemecahan Masalah (problem solving)
37
Kritisisme: Modal Dasar Kehidupan Akademik 37
Analisa 38
Teknik Merumuskan Permasalahan/Pertanyaan Penelitian 43
Pengertian Permasalahan dan Rumusan Masalah 43
Konsep Pertanyaan Penelitian 43
Identifikasi Masalah 44
Menentukan Objek, Data, Teknik, Metode dan Pelibatan Personil dalam Penelitian
47
Penentuan Obyek dan Data Teknik 47
Metode 49
Pelibatan Personil 50
Pengelolaan Pendanaan Penelitian (Rencana Anggaran Biaya/RAB) 52 Rencana Anggaran Biaya: Penghubung antara Substansi dan Teknis
Penelitian
Tujuh Hal Perhatian Penyusunan RAB 52
Penyesuaian RAB dengan Skema-skema Pembiayaan 55
Tawar Menawar dalam Usulan RAB 61
Menyusun Mini Proposal dan Rancangan Penelitian 62
K
onsepp
roposal danr
ancanganp
enelitianIndikator keberhasilan
Peserta dapat memahami tujuan penyusunan sebuah proposal penelitian, sehingga mampu membahasakan latar belakang masalah, tujuan, hipotesis, metode penelitian, dan hasil penelitian yang diharapkan dalam sebuah usulan yang menarik dan layak didanai.
Peserta dapat menuangkan ide substansi proposal penelitian ke dalam rancangan penelitian yang berisi desain operasional teknis dari pelaksanaan penelitian yang akan dilakukan.
PENGERTIAN DAN CAKUPANNYA
Kegiatan penelitian akan dimulai dari serangkaian ide yang dituangkan dalam proposal penelitian, dan dilanjutkan dengan penyusunan rancangan penelitian untuk kepentingan teknis dalam pelaksanaan kegiatannya. Dalam bahasa sederhananya, proposal dimaksudkan untuk kepentingan “memamerkan ide”, dan rancangan penelitian dimaksudkan untuk “pegangan operasional” dari serangkaian rencana yang akan dilakukan dalam proses penelitiannya. Gambar 1 memperlihatkan kegiatan penelitian adalah suatu proses yang terbagi ke dua tahapan, yaitu pembuatan proposal dan rancangan penelitian dan pelaksanaan penelitian. Gambar 1 juga memperlihatkan suatu proposal yang baik perlu didukung oleh kerangka konsep atau teori yang akan menuntun jalannya suatu proses penelitian.
Proposal dan rancangan penelitian bermakna “usulan” suatu kegiatan di bidang penelitian. Penyusunan proposal dan rancangan berarti menunjukkan suatu upaya menyusun usulan atau rencana penelitian yang diajukan kepada suatu pihak untuk mendapatkan persetujuan dan pendanaan sebelum pelak-sanaan kegiatannya. Proposal selalu bertujuan untuk memberikan gambaran atau deskripsi tentang suatu rencana kegiatan secara lengkap, jelas, singkat, dan mudah dimengerti, sehingga ia menjadi dokumen yang menjadi pertimbangan penting bagi pihak pemberi persetujuan dan pendanaannya. Isi proposal dapat berupa rancangan kegiatan penelitian, dana, pelaksana, dan sebagainya. Hal yang penting diketahui, ilmu sosial memiliki pandangan yang berbeda dengan ilmu pengetahuan alam, dalam mendefinisikan proposal dan rancangan pene -litian.
Gambar 1. Penelitian Sebagai Suatu Proses
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia dan beberapa kementerian lain, memiliki teknik yang berbeda terkait dengan kegiatan awal persiapan peneli-tian, khususnya untuk kegiatan penelitian unggulan. Istilah acuan kerja (terms of reference/TOR), berisikan beberapa komponen penting seperti: abstrak, latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan, hipotesis, tahapan, sasaran, keluaran, metodologi, informasi terkait personil pelaksana kegiatan, lokasi penelitian, jadwal kegiatan, rincian kebutuhan anggaran, dan peralatan.
Dokumen lain yang juga biasa disiapkan bersama acuan kerja yaitu, doku-men rencana pelaksanaan kegiatan (DRPK). Secara substansi acuan kerja dan DRPK, tidak berbeda, namun dalam DRPK ada beberapa hal tambahan yang perlu dijelaskan seperti: konteks penelitian dengan agenda penelitian LIPI, kendala internal dan eksternal dari penelitian, dampak dan manfaat kegaitan, keluaran yang diharapkan, serta monitoring dan sistem evaluasi kegiatan.
Gambar 2. Rangkaian Usulan Dokumen Ilmiah
Proposal dan rancangan penelitian yang baik setidaknya mengemukakan dua hal pokok, yaitu (i) masalah yang akan diteliti, dan (ii) metodologi peneliti- an. Proposal dan rancangan penelitian untuk keperluan memperoleh dana dari pihak-pihak tertentu (lembaga pemerintah, lembaga donor, pihak swasta dan implementing partner) sedikit berbeda dengan penelitian untuk keperluan penulisan skripsi, tesis, dan disertasi. Perbedaan ini terletak dari ada atau tidak adanya rincian dana yang diperlukan dan sumber dana untuk penelitian yang diusulkan. Proposal untuk keperluan studi memenuhi persyaratan akademis dan tidak memuat rincian pembiayaan. Sementara proposal yang diajukan un-tuk keperluan suatu kegiatan penelitian non-studi, baik dalam pengembangan ilmu ataupun terapan akan menggunakan rincian dana.
Perbedaan lain, proposal dan rancangan penelitian yang menggunakan metode kuantitatif juga berbeda dengan penelitian yang menggunakan metode kualitatif. Hal ini terkait dengan format metode yang memerlukan keterangan mengenai variabel dan indikatornya. Demikian juga format proposal dan rancan-gan penelitian untuk penelitian eksperimen dapat berbeda denrancan-gan penelitian survei. Perbedaan itu sebenarnya hanya terletak pada persoalan metode dan instrumen penelitiannya. Pada bagian-bagian lain tidak akan terlalu berbeda, kecuali persoalan subject matter yang disesuaikan dengan disiplin keilmuannya.
Indonesia melalui program Kompetitif atau Unggulan, dan lainnya juga sering berbeda.
ASPEK-ASPEK PENTING PROPOSAL DAN RANCANGAN PENELITIAN
Proposal dan rancangan penelitian adalah (i) dokumen tertulis yang menjadi alat komunikasi kepada penyandang dana tentang rencana atau strategi yang digunakan untuk memecahkan masalah penelitian. Selain itu, proposal juga menjadi (ii) indikator kompetensi dan kepakaran dari pengusul; serta (iii) alat perencanaan dan evaluasi. Proposal dan rancangan penelitian yang disusun dengan baik (jelas, fokus, dan detil/terperinci) merupakan kunci keberhasilan suatu penelitian. Penyusunan proposal dan rancangan penelitian perlu dilaku-kan sematang mungkin. Hal ini dilakudilaku-kan untuk memenangdilaku-kan usulan kegia-tannya dalam berbagai kompetisi pendanaan penelitian.
Proposal Penelitian yang baik disusun secara sistematis, berdasarkan konsep ilmiah, terencana, serta menggunakan bahasa baku dengan kalimat yang ringkas, baik, dan benar. Secara umum, proposal penelitian harus dapat menjelaskan apa yang ingin dikerjakan dan bagaimana cara mengerjakannya. Perhatikan pula beberapa kriteria umum yang menjadi penilaian terpenting dari sebuah proposal, yaitu:
1. Proposal dapat mengatasi permasalahan yang dirumuskan;
2. Permasalahan yang akan dicari solusinya sangat penting dan menunjukkan manfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan, masyakarat, dan pemerin-tah;
3. Dana yang diusulkan benar-benar diperlukan untuk memecahkan permas-alahan;
4. Proposal yang diajukan merupakan penelitian yang memiliki nilai kebaruan. Nilai kebaruan bisa diartikan dalam konteks kontribusi terhadap pengem-bangan ilmu, kontribusi terhadap perbaikan atau usulan kebijakan, dan kontribusi terhadap teknik atau pendekatan baru dalam memecahkan suatu permasalahan.
Dengan demikian, proposal dan rancangan penelitian, selain untuk men-genalkan dan mentransferkan rasa penasaran dan rasa ingin tahu tentang per-soalan tertentu kepada orang lain, juga menjadi semacam pedoman penting “menyelesaikan” masalah penelitian yang diajukan.
RINGKASAN
LATIHAN
1. Diskusikan dengan teman sebelah anda, usulan dokumen apa yang biasanya banyak didiskusikan dalam tahapan awal perencanaan kegiatan penelitian? 2. Jelaskan apa yang ada ketahui tentang proposal dan apa perbedaannya
dengan rancangan penelitian?
JAWABAN
1. Usulan dokumen yang banyak diceritakan dalam tahapan awal penyusunan rencana penelitian yaitu: Idea Concept Paper (ICP), Acuan kerja (ToR)/kerang-ka acuan kerja, MKKL, Proposal, dan Rancangan Penelitian.
K
riteria danF
ormulasip
roposal danr
ancanganp
enelitianIndikator Keberhasilan
Peserta mampu memahami kriteria dalam menyusun proposal dan ran-cangan penelitian. Peserta mampu memposisikan kekuatan pembeda dari proposal yang disiapkan dengan studi-studi sebelumnya. Peserta diharapkan dapat memiliki rujukan tentang kriteria proposal yang menjadi bahan evaluasi seleksi.
Peserta dapat memahami berbagai ketentuan yang ada dalam proses pe- nulisan proposal dan rancangan penelitian, sehingga proposal yang disusun- nya dapat memiliki tingkat akademik yang tinggi dan bisa mendapatkan dukungan dari pihak pemberi dana penelitian.
PARADIGMA PENELITIAN
Latar belakang pendidikan peneliti akan menentukan bagaimana arah suatu proposal akan bergerak. Namun demikian, perbedaan keduanya bukanlah hal yang perlu dipertentangkan. Paradigma penelitian kualitatif dan kuantitatif dapat bergerak secara bersamaan untuk memecahkan masalah yang sama. Keduanya bisa saling melengkapi dan menyempurnakan.
Tabel 1 Paradigma Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif
Paradigma
Penelitian Maksud/Tujuan Contoh
Kualitatif Memahami
Menjelaskan Menggambarkan Mengembangkan
Tujuan penelitian ini adalah untuk meneliti faktor afektif, sosial dan pendidikan yang mungkin memengaruhi perkembangan ketidakmampuan
membaca empat orang dewasa. Studi ini juga mencari penjeleasan mengapa ketidakmampuan
membaca siswa tetap ada meski belajar berta
-hun-tahun. Ini bukan merupakan studi intervensi dan, meskipun kemampuan membaca sejumlah
siswa sudah meningkat, peningkatan kemam
-puan membaca bukanlah fokus penelitian.
Kuantitatif Sangat berbeda dari kualitatif, maksud/tujuan menunjukkan
variabel yang akan diuji
Tujuan penelitian ini adalah untuk meneliti hubungan antara karakteristik pribadi dan motivasi kerja para pendidik bersertifikat yang mengajar di lembaga-lembaga rehabilitasi orang
dewasa di Amerika Serikat yang sudah dipilih (Dapat merujuk pada bahan berikut: https://cals.
arizona.edu/classes/aed615/documents/Chap
-ter_One_of_your_thesis.PDF) Maksud survei……. adalah……(untuk)……… Contoh: Maksud survei ketahanan rumah tangga miskin terhadap
perubahan harga bahan pokok adalah untuk menguji hubungan antara program bantuan pemerintah yang diberikan kepada orang miskin
KRITERIA PROPOSAL
Krug (1967) mengatakan proposal adalah rencana aksi yang terorganisir, yang dipresentasikan atau diberikan kepada suatu organisasi untuk dapat diterima, dan jika tidak, tentu ditolak. Dengan demikian proposal akan melalui suatu proses review dan jika berhasil akan mendapatkan pendanaan. Dalam pro- ses seleksi proposal untuk diterima atau ditolak, reviewer memiliki beberapa kriteria.
Cavers (1970) mengatakan dasar penilaian suatu proposal tidak hanya pada kualitas proposal, namun juga dalam konteks perbandingan suatu proposal dengan proposal lainnya dalam kondisi aggaran yang sudah tertentu. Cavers (1970) menyebutkan donor biasanya menimbang tiga kriteria berikut sebelum mendanai suatu proposal yaitu: (i) social significant, (ii) practical significant, dan (iii) theoretical significant.
Dalam terminologi lain yang tidak jauh berbeda, ketiga kriteria tersebut, bisa disebut juga sebagai (i) science for science, (ii) science for stakeholders, and (iii) science for community. Tentu saja, menonjolkan ketiga kriteria tersebut bukanlah hal yang mudah. Terlebih jika sumber daya yang tersedia, belum memungkinkan ketiganya dapat dicapai secara berimbang. Namun demikian, hal yang perlu dicermati yaitu arah atau kontribusi apa yang diharapkan dari penyandang dana terhadap ketiga kriteria tersebut.
Aspek substansi proposal mendapat perhatian paling penting dalam pros-es seleksi proposal. Salah satu penanda yang paling penting yaitu, bagaimana peneliti dalam merumuskan pertanyaan penelitian. Paling tidak ada empat per-tanyaan yang perlu dipikirkan secara baik dalam merumuskan suatu rancangan penelitian. Pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah:
1. Apa tujuan dari penelitian ini?
2. Hal apa yang akan dicapai atau diketahui? 3. Bagaimana cara melakukannya?
4. Pelajaran apa yang didapat dan mengapa bernilai untuk melakukan studi ini?
Hal penting lain yang perlu diperhatikan yaitu menentukan tujuan peneliti- an. Tujuan penelitian berisikan atau mendeskripsikan ekspektasi peneliti akan hasil yang hendak dicapai (www.soas.ac.uk). Tujuan penelitian biasanya disam-paikan dalam bentuk komunikasi yang mudah dipahami oleh masyarakat pada umumnya (lay terms). Tentu saja tujuan penelitian juga harus menunjukkan harapan yang diinginkan dari penyandang dana atau mitra penelitian (client). Tujuan penelitian dapat terhubung secara langsung pada hipotesis yang akan diuji atau dapat juga berupa suatu penyataan atas tujuan yang tidak memiliki hipotesis.
untuk membuat mobil listrik, maka membuat baterai kendaraan merupakan tujuan antara yang perlu dicapai.
Dalam pertanyaan penelitian, penting juga untuk menyampaikan bagaima-na cara yang akan dilakukan untuk menjawab pertanyaan. Dengan kata lain, metode apa yang akan digunakan untuk menjawab pertanyaan penelitian secara tepat, efektif, dan efisien.
Dengan mempertimbangkan, kondisi sumber daya yang terbatas khusus-nya finansial dan personil penelitian, maka penting untuk disampaikan bahwa studi ini sangat bernilai untuk dilakukan. Output dan dampak studi perlu untuk disampaikan untuk menunjukkan bahwa studi ini sangat berguna untuk dilaku-kan.
Lebih jauh output, outcome, dan dampak, kerap kali dipandang sebagai hal yang sama, padahal ketiganya memiliki perbedaan. Output biasanya dikaitkan dengan luaran yang bisa dihitung secara cepat atau langsung. Misalkan ketika diselenggarakan kegiatan pelatihan instalasi pembangkitan dan pengelolaan listrik berbasis energi terbarukan, maka output dapat dilihat dari jumlah sistem yang bisa dipasang, jumlah partisipan, dan jumlah pelatihan yang dapat dilaku-kan.
Sementara itu, outcome jangka pendek atau menengah, biasanya diukur dalam bentuk persentase warga yang mendapatkan akses listrik, tingkat ke-mampuan membeli listrik, efisiensi operasi, dan kinerja keuangan pengelolaan. Dalam jangka waktu yang lebih panjang outcome dapat diukur dari jumlah aktivitas baru yang tercipta, perubahan produktivitas, kenaikan jumlah waktu belajar, akses terhadap informasi, kunjungan ke rumah sakit, dan seterusnya. Akhirnya, dampak dapat dilihat dari indikator agregat seperti pendapatan, pen-didikan, pemberdayaan perempuan, kesehatan, dan lingkungan hidup.
Tentu saja penyandang dana ataupun penilai proposal, sangat berkepent-ingan untuk mengevaluasi proposal yang disampaikan dengan kriteria tertentu. Para evaluator, biasanya pihak yang memahami akan konteks studi yang dilaku-kan dan mereka memiliki banyak pengalaman pada bidang tersebut. Dengan demikian, evaluator juga akan mempertimbangkan empat aspek berikut ini, yaitu:
1. Apakah proposal penelitian ‘feasible’ dan ‘doable’? 2. Apakah berharga untuk melakukannya?
3. Apakah saya/peneliti dapat melakukannya?
4. Apakah ini akan menghasilkan tesis yang berharga?
‘feasible’ dan ‘doable’, penting untuk mempertimbangkan segala keterbatasan yang dimiliki khususnya terkait dengan waktu dan kemampuan yang dimiliki.
Setelah aspek substansi disampaikan secara baik, maka sisi teknis juga penting untuk diperhatikan. Secara teknis Krug (1967) menyebutkan lima (5) poin yang penting diperhatikan yaitu: (i) akurasi, (ii) ringkas namun informatif, (iii) jelas, (iv) detail, dan (iv) tata bahasa yang baik.
Salah satu sumber pendanaan riset yang dapat dimanfaatkan bersumber dari Dana Ilmu Pengetahuan Indonesia (DIPI). DIPI adalah lembaga otonom yang berada di bawah Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI). Dalam skema Dana Ilmu Pengetahuan Indonesia, beberapa kriteria berikut menjadi kriteria penting dalam proses seleksi proposal atau yang diistilahkan sebagai scientific merit criterias (diambil dari Grant Manual DIPI version 1.0 April 22, 2016):
1. Secara keilmuan relevan. Fokus pada upaya mengisi kekosongan pengeta-huan (gaps in knowledge)
2. Dampak yang besar. Fokus pada kemanfaatan riset untuk ilmu pengetahuan, pemangku kepentingan dan masyarkat.
3. Kualifikasi investigasi. Latar belakang peneliti harus menyakinkan untuk melakukan penelitian yang dimaksud.
4. Keberlanjutan. Terkait pada kemanfaatan keilmuan dari studi yang dilaku-kan. Kemandirian untuk mendapatkan pendanaan.
5. Pendekatan yang inovatif. Menggunakan pendekatan terbaru (novelty) da-lam menguji hipotesis atau kesenjangan ilmu yang ada (knowledge gaps)
Jika proposal diartikan sebagai bentuk rencana aksi, maka rancangan pe-nelitian (research design), akan menjadi penuntun untuk memastikan data dan informasi yang telah dikumpulkan dapat diolah secara baik untuk menjawab pertanyaan penelitian dengan cara yang paling jelas (www.nyu.ed/classes).
Dengan demikian, secara praktis rancangan penelitian adalah bentuk ekstensi dari proposal, namun dengan penekanan dari sisi metode penelitian yang jauh lebih rinci. Rancangan penelitian akan termanifestasikan dalam bentuk rencana kerja yang bertitik tolak pada isu sampel penelitian, metode pengumpulan data, serta rancangan pertanyaan penelitian atau instrument penelitian. Rancangan penelitian, dapat diupayakan dalam bentuk-bentuk pal-ing sesuai untuk menjawab pertanyaan penelitian. Rancangan penelitian yang dimaksud, yaitu: rancangan penelitian eksperiment, disain longitudinal, disain cross section, dan disain studi kasus (De Vaus, 2001).
STATE OF THE ART
menentu-kan arena atau celah dimana ia dapat memberimenentu-kan kontribusi. Ketiga, peneliti mampu menunjukkan hal baru (novelty) yang akan disumbangkan. Melalui bukti kebaruan dengan cara membandingkan penelitian yang telah dilakukan termasuk di dalamnya metode metode pendekatan yang digunakan serta hasil yang diperoleh. Dengan pembuktian ini akan jelas terlihat bahwa penelitian yang dilakukan menggambarkan kebaruan.
Keempat, terhindar jauh dari duplikasi dan replikasi yang dapat digolong-kan ke dalam plagiarism. Sikap demikian, tidak dapat dibenardigolong-kan dan tidak akan memberikan kontribusi kepada pengembangan ilmu pengetahuan. Sekiranya terdapat kemiripan dengan penelitian terdahulu, maka argumenta-si yang memadai perlu disampaikan, sehingga kebaruan yang diklaim dapat dipertanggungjawabkan. Dengan demikian dapat dibuktikan bahwa penelitian yang diajukan bukan merupakan duplikasi atau jiplakan dari penelitian lain.Jika dianggap perlu, penyandang dana dapat meminta Surat Pernyataan Keaslian Kegiatan. Untuk mencapai kondisi state of the art yang terbaik, maka peneliti perlu banyak membaca jurnal.
RANGKUMAN
Bagian ini telah membangun pemahaman kepada peserta diklat tentang apa itu proposal, serta apa kriteria yang perlu dimiliki oleh suatu proposal. Per-tanyaan-pertanyaan mendasar yang perlu ada dalam suatu proposal secara cermat penting untuk diperhatikan. Sistematika umum penulisan proposal dan rancangan penelitian telah disampaikan. Demikian juga kriteria kualifikasi seleksi proposal DIPI. Akhirnya, melakukan penguatan ataupun penambahan informasi dalam hal metode penelitian merupakan bentuk transformasi dari proposal menjadi suatu rancangan penelitian.
LATIHAN
1. Keterlibatan peneliti pertama dalam penyusunan proposal dan rancangan penelitian, biasanya belum terlalu intensif. Namun, dukungan dari peneliti pertama sangat penting untuk membuat proposal agar menjadi lebih berkualitas. Peneliti pertama dapat melakukan pemeriksaan atas tiga kriteria berikut yaitu: social significant, practical significant, dan theoretical significant. Diskusikan bersama teman di sebelah ada, akan maksud dari ketiga kriteria tersebut?
2. Dalam penelitian yang dirancang dalam konteks penelitian eksperimen, apa yang saudara dapat jelaskan tentang rancangan penelitian eksperimen?
KUNCI JAWABAN PERTANYAAN 1
2. Practical significant: menawarkan pendekatan baru (atau pengetahuan baru) dalam memecahkan permasalahan. Dengan demikian, identifikasi atas penerima manfaat dari studi perlu direncanakan.
3. Theoretical significant: memperhatikan kontribusi teoritis dari studi yang dilakukan.
KUNCI JAWABAN PERTANYAAN 2
Penelitian dalam rancangan eksperimen, makin mendapat perhatian besar. Pe-nelitian dalam rancangan eksperimen biasanya direncanakan untuk mengukur dampak atas suatu kebijakan. Rancangan penelitian eksperimen dimaksudkan untuk mendapatkan besaran dampak yang lebih menyakinkan dari suatu inter-vensi kebijakan atas kelompok treatment dengan komparasi kelompok kontrol.
FORMULASI PROPOSAL DAN RANCANGAN PENELITIAN
Suatu proposal penelitian pada hakikatnya mengandung dua unsur utama, yai-tu (1) masalah dan (2) metodologi. Pengembangan kedua unsur tersebut dalam proposal penelitian dapat berbeda, dan akan semakin rinci ketika ia dituangkan ke dalam rancangan penelitian. Kelayakan suatu proposal penelitian dapat dilihat sejauhmana kejelasan kedua unsurnya diuraikan.
Masalah penelitian adalah sesuatu yang ingin diketahui, dipecahkan atau diatasi oleh peneliti melalui prosedur ilmiah. Masalah penelitian perlu dirumus-kan secara jelas dan operasional. Agar menjadi jelas kedududirumus-kan dan pentingnya masalah itu, maka di dalam proposal perlu diberikan (i) latar belakang yang mencakup informasi pendahuluan tentang situasi tempat dan waktu, serta (ii) kerangka berpikir untuk mengidentifikasi dan menjawab masalah yang ada.
Latar belakang ini berupaya memberikan gambaran yang jelas tentang berbagai kesenjangan yang terjadi dan yang mungkin terjadi beserta akibatnya kalau masalah itu tidak dikatahui dan diatasi. Identifikasi masalah menjadi sangat penting dalam sebuah usulan penelitian. Kejelasan masalah yang diaju-kan juga adiaju-kan membantu peneliti untuk memilih dan menentudiaju-kan metodologi penelitian yang tepat.
Metodologi penelitian, ialah ilmu tentang kerangka berpikir dalam pelak-sanaan kegiatan penelitian. Juga dimengerti ilmu tentang metode-metode yang digunakan dalam penelitian. Metodologi penelitian menawarkan berbagai metode dalam melakukan suatu penelitian, sehingga peneliti perlu memilih metode yang tepat dalam arti efektif dan efisien untuk mencapai tujuan pene -litiannya. Acuan utama pemilihan metode penelitian adalah kemampuannya untuk menjawab masalah penelitian. Artinya, penentuan metode penelitian baru dilakukan setelah rumusan masalah penelitian telah jelas. Jika di dalam proposal, metode penelitian hanya menyebutkan poin-poin penting dari metode penelitiannya, maka di rancangan penelitian, penjabaran metode pe-nelitian dari persoalan pendekatan, instrumen pepe-nelitian, jumlah populasi, dan sebagainya harus sudah dituangkan sedetail mungkin.
dibagi menjadi tiga bagian, yaitu: (i) pendahuluan, (ii) metode dan (iii) target capaian. Ketiga bagian ini dapat disebut sebagai “jantungnya proposal dan rancangan penelitian”. Sementara unsur-unsur lain, berdasarkan ketentuan yang dipersyaratkan, maka bisa disebut sebagai “unsur pendukung” yang melengkapi dokumen yang dibutuhkan tersebut. Berikut adalah tiga unsur utama proposal dan rancangan penelitian.
Bagian Pendahuluan menjelaskan secara ringkas: (i) latar belakang ma-salah, (ii) mama-salah, (iii) teori yang berkaitan dengan mama-salah, (iv) variabel yang diteliti, dan (v) pertanyaan-pertanyaan spesifik yang diajukan dalam penelitian. Bagian metode dan sumber data, di dalamnya berusaha menjelaskan (i) metode penelitian yang akan digunakan termasuk populasi, responden, jum -lah informan, teknik pengumpulan data dan instrumen pengumpulan data, dan teknik analisis data; (ii) dalam penelitian eksperimen disebutkan desain eksper-imen, variabel bebas dan variabel terikat dan cara melakukan eksperimen itu; untuk penelitian kualitatif diuraikan konteks atau latar, orientasi, pemeriksaan validitas, dan tujuan; (iii) bahan dan alat serta teknik-teknik khusus yang diper-gunakan dalam penelitian; (iv) urutan langkah-langkah yang akan ditempuh termasuk urutan langkah-langkah dalam pengumpulan data; dan (v) jadwal kegiatan penelitian secara rinci, mulai dari penyusunan dan pengajuan propos-al, kajian teori, penyusunan instrumen, pengumpulaan data, pengolahan data, serta penyusunan laporan penelitian.
Pada bagian target capaian atau hasil penelitian, di dalamnya menge-mukakan secara singkat hasil serta manfaat yang diharapkan dari penelitian serta menunjukkan pentingnya dilakukan penelitian yang diusulkan. Termasuk di dalamnya, diskusi dan implikasi dari hasil penelitian yang akan dilakukan. Setidaknya ada penjelasan tentang keunikan penelitian serta perbedaannya dengan penelitian-penelitian sejenis sebelumnya serta implikasinya dalam penelitian yang pernah dilakukan.
BAGIAN-BAGIAN UTAMA PROPOSAL DAN RANCANGAN PENELITIAN
Bagian berikut merupakan perincian dari setiap aspek di dalam unsur-unsur utama di atas. Aspek-aspek di bawah ini harus ada di dalam penyusuan pro-posal dan rancangan penelitian. Di dalam setiap aspek juga disertai teknik dan strategi yang perlu diperhatikan.
1) Judul
Merupakan bagian yang pertama kali dibaca oleh panelis/penilai, sehingga sedapat mungkin langsung menarik perhatian. Apabila disajikan kurang menar-ik, besar kemungkinan sudah tidak akan diperhatikan, yang berarti ditolaknya proposal dari awal. Sebuah ide proposal penelitian yang brilian, dapat gagal un-tuk didanai hanya disebabkan oleh judul yang tidak menarik. Judul merupakan “abstrak mini”; dengan demikian sebaiknya judul ditulis dengan singkat, padat, dan jelas.
untuk menjelaskan apa maksud dari usulan penelitian tentang kuliner yang ada. Judul ini dapat digunakan sebagai judul buku tetapi tidak memberikan informasi yang diperlukan untuk judul sebuah Proposal Penelitian.
Demikian juga ada judul yang terlalu panjang untuk sebuah proposal penelitian pun tidak cukup baik. Judul panjang itu, misalnya: “Kuliner Analitik Indonesia: Kodifikasi dan Sistem Informasi Kuliner Khas Indonesia dalam Desain Aplikasi Internet dan Android Terbaru bagi untuk Pengembangan Ekonomi Kreatif yang dapat Menyejahterahkan Pelaku Kuliner”. Judul ini terlalu banyak pengulan-gan kata dan mendetailkan suatu tujuan yang bisa dikemas dalam bahasa yang lebih sederhana.
Oleh karena itu, beberapa kata pada judul di atas dapat dihilangkan tanpa menghilangkan maknanya menjadi: “Kuliner Analitik: Kodifikasi dan Sistem In-formasi Kuliner Khas Indonesia untuk Pengembangan Ekonomi Kreatif”. Di dalam judul terakhir itu, ada makna yang cukup substansial dan menyiratkan suatu tujuan yang signifikan bagi ilmu pengetahuan dan pengembangan yang dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan bangsa.
Oleh karena itu, beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk menulis judul: • Berbentuk pernyataan (bukan pertanyaan)
• Kata-kata yang digunakan menggambarkan fokus dari isi proposal • Kata yang dianggap paling penting dapat ditulis di awal kalimat
• Rata-rata 12 s.d. 15 kata. Apabila penggunaan kalimat yang panjang tidak dapat dihindari, penulisan judul dapat disajikan dalam bentuk sub-judul
2) Abstrak
Setelah judul (yang menarik), abstrak adalah bagian yang akan dibaca pertama kali oleh penilai, merupakan gambaran dari keseluruhan isi proposal. Setidakn-ya, abstrak harus menggambarkan apa dan bagaimana sebuah kegiatan dilaku-kan. “Kesan” pertama dari abstrak dapat menentukan keberhasilan proposal untuk didanai. Walaupun merupakan gambaran proposal penelitian, abstrak harus dapat disusun dengan singkat dan padat tanpa mengurangi esensi kes-eluruhan proposal. Pada umumnya, abstrak terdiri dari 100 sampai 150 kata, dan diakhiri dengan kata-kata kunci.
Secara umum, abstrak memuat:
• Latar belakang: menuliskan masalah yang paling pokok yang menjadi alasan utama dilakukannya penelitian. Dapat ditulis sebanyak dua s.d. tiga kalimat • Tujuan: menuliskan tujuan dari kegiatan penelitian
• Temuan/Target/Sasaran: merupakan bagian yang penting di dalam proposal penelitian. Untuk menarik perhatian Penilai, Temuan/Target/Sasaran yang akan dicapai, dapat ditulis di bagian paling atas dari Abstrak
• Manfaat dari penelitian dan perlunya kegiatan penelitian didanai, juga dis-ampaikan di bagian abstrak.
Strategi penulisan abstrak
Walaupun abstrak adalah bagian awal dari proposal penelitian, sebaiknya ditu-lis paling akhir karena abstrak merupakan rangkuman atas rangkuman. Untuk memulainya, dapat dilakukan dengan mengambil beberapa kalimat penting dari tiap bagian (latar belakang, tujuan, metode, target, dan sasaran) kemudian mengatur/memperbaikinya sedemikian rupa sehingga menjadi bagian terpa-du, sekaligus merangkum keseluruhan isi proposal. Setelah selesai, pastikan bahwa informasi yang dituliskan di dalam abstrak sesuai dengan yang telah diungkapkan di dalam proposal penelitian.
Contoh Abstrak: Contoh 1:
Penelitian ini merupakan studi lanjutan tahun kelima (terakhir). Selama dua tahun (2013-2014), studi ini fokus di kabupaten Manggarai, Provinsi NTT. Di tahun ketiga lokus penelitian bergeser ke kabupaten Bengkayang, Provinsi Kali-mantan Barat yang berbatasan langsung dengan wilayah perbatasan Malaysia (2015). Di tahun ke empat (2016) penelitian tetap dilanjutkan di kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat serta dilakukan penambahan lokasi di Pulau Tunda, Kabupaten Serang, Provinsi Banten. Penelitian ini memiliki arti startegis untuk memberikan akses listrik secara berkelanjutan dengan berbagai berbagai tipologi daerah seperti pedalaman, perbatasan, dan pulau terpencil. Penelitian ini juga akan sangat membantu perintah tidak hanya untuk mencapai target rasio elektrifikasi sebesar 97,2% di tahun 2019, namun juga untuk meningatkan kondisi ketahanan sosial masyarakat di wilayah terpencil. Metode penelitian dilakukan secara mixed method. Penelitian kuantitatif dilakukan dengan teknik quasi experiment untuk mengukur dampak akses listrik terhadap kesejahter-aan masyarakat. Sementara itu penelitian kualitatif dilakukan dengan teknik observasi, wawancara mendalam, dan diskusi terfokus. Karena tahun 2017, merupakan tahun akhir penelitian, maka fokus kajian di tahun ini mengarah pada pematangan konsep, strategi, model dan pembulatan bagi peningkatan akses listrik masyarakat di wilayah terpencil.
Contoh 2:
Kuliner Analitik: Kodifikasi dan Sistem Informasi Kuliner Khas Indonesia untuk Pengembangan Ekonomi Kreatif
kand-ungan makna dan perspektif kebudayaan terhadap kekayaan kuliner itu pun belum tergali dengan baik. Padahal potensi dan tantangan yang muncul dari perspektif pengembangan industri kreatif, diversifikasi produk kuliner untuk meningkatkan ketahanan pangan, preservasi tradisi kuliner, dan pengemban-gan riset memberikan arahan pada kebutuhan adanya sebuah Sistem Informasi Kuliner Indonesia, baik sistem informatika ataupun sistem budaya di dalamnya. Lebih dari sekedar pusat data, Sistem Informasi Kuliner Indonesia didesain sebagai wahana interaksi antara 4 kategori publik, yaitu para pebisnis kuliner, relawan pendataan, publik umum dan periset. Melalui sistem ini publik dapat mencari informasi yang lengkap tentang sebuah produk kuliner, kandungan makna dan perspektif kebudayaan dari setiap jenis kuliner, berbagi informasi/ promosi resep baru, lokasi jual, evaluasi dan komentar, serta mendapatkan rekomendasi produk kuliner yang sesuai dengan preferensi pengguna. Oleh karenanya, sistem ini dilengkapi dengan informasi data produk kuliner yang besar dan lengkap seperti bahan penyusun, proses pembuatan dan lokasi pen-jualan, juga perangkat analitik berupa sistem rekomendasi produk yang secara cerdas memahami preferensi pengguna, fitur analitik untuk prediksi klasifikasi hidangan berdasarkan bahan penyusun serta fitur untuk rekomendasi menu hidangan.
Kata kunci: Sistem informasi, perspektif kebudayaan, kuliner, analitik, sistem rekomendasi
3) Pendahuluan
Pada bagian Pendahuluan, yang harus disampaikan adalah Latar Belakang (Kajian Pustaka), Permasalahan, dan Tujuan Penelitian.
2. Permasalahan: Permasalahan merupakan justifikasi atau alasan dilakukann -ya penelitian. Penentuan masalah dalam penelitian merupakan bagian -yang penting karena akan terkait dengan topik penelitian dan berdampak pada langkah-langkah selanjutnya. Pada bagian ini diidentifikasi permasalahan yang sumbernya dapat diperoleh dari hasil/laporan penelitian, makalah ilmiah, buku, majalah, seminar, diskusi, pengamatan/pengalaman pribadi. 3. Tujuan: Setelah permasalahan dapat diidentifikasi, tujuan penelitian disam
-paikan secara umum
Strategi Perumusan Ide untuk bagian Pendahuluan
Perumusan ide bisa dilakukan dengan cara brainstorming terhadap mas-alah-masalah sekitar. Brainstorming atau penyerbuan dengan ide-ide sebanyak mungkin terhadap suatu masalah dilangsungkan dalam suatu pertemuan. Teknik ini pada dasarnya adalah menerapkan diadakannya suatu pertemuan gagasan dalam memecahkan masalah, yang sebenarnya juga nama lain dari identifakasi masalah. Penggalian ide dengan teknik ini bermula dari pemikiran Osborn yang menganggap bahwa aliran ide spontan yang muncul dari banyak orang lebih baik daripada gagasan seorang diri.
Brainstorming mengacu pada penggalian ide berdasarkan kreativitas berpikir manusia. Seluruh individu yang terlibat dapat secara bebas menyam-paikan pendapat tanpa rasa takut terhadap kritik dan penilaian sebab selama tahap pengumpulan ide semua gagasan akan ditampung tanpa terkecuali. Dalam prosesnya, tidak boleh dilangsungkan perdebatan atau diberikan kritik terhadap sesuatu ide yang dilontarkan.
Oleh karena itu, identifikasi permasalahan untuk proposal penelitian dapat dilakukan secara berkelompok. Selain mengalirkan ide baru untuk identifikasi permasalahan, brainstorming juga dapat dilakukan untuk menganalisis ide-ide, menentukan alternatif pemecahan masalah, dan merencanakan langkah dan kegiatan yang akan dilakukan untuk memperbaiki masalah.
Namun demikian, identifikasi permasalahan dan tujuan dari brainstorming yang dilakukan secara berkelompok di atas, sebenarnya juga dapat dilakukan secara individual. Hal ini mempertimbangkan bahwa tidak semua orang bisa mencurahpikirkan gagasan dan identifikasi permasalahan secara bersama. Ada orang tertentu yang hanya bisa menuangkan gagasannya secara individual. Curah pikir tersebut berhubungan dengan identifikasi permasalahan yang hen -dak diajukan sendiri, dan kemudian setelah proposal penelitiannya disetujui untuk dibiayai, maka proses pelaksanaannya akan dilakukan secara kelompok.
Empat Aspek Penting dalam Identifikasi Masalah untuk Bagian Pendahuluan Identifikasi terhadap masalah, baik yang bersifat individual ataupun bersama, perlu mempertimbangkan empat aspek.
• Aspek kedua, masalah harus jelas, yaitu semua orang memberikan persep-si yang sama terhadap masalah tersebut.
• Aspek ketiga, masalah harus signifikan, dalam arti jawaban masalah yang diberikan harus memberikan kontribusi terhadap pengembangan ilmu dan pemecahan masalah kehidupan manusia.
• Aspek keempat, masalah bersifat etis, yaitu tidak bertentangan dengan hal-hal yang bersifat etika, moral, nilai-nilai keyakinan dan agama.
Ketika masalah yang ada dapat memenuhi empat kriteria di atas, maka dim-ulailah menyusun latarbelakang dan masalah secara jelas dan mentransferkan rasa penasaran pengusul kepada orang lain. Caranya bisa menggunakan teknik identifikasi masalah yang akan diteliti, ditinjau dari aspek umum, kemudian diarahkan kepada aspek-aspek yang lebih khusus. Juga sebaliknya, dari suatu kasus kecil kemudian ditingkatkan menjadi masalah umum yang ada pada kehidupan sekeliling kita.
Ada hal yang tetap diperhatikan ketika brainstorming tersebut dilakukan, yaitu ide-ide yang dituangkan harus memperhatikan etika ilmiah, khususnya dalam persoalan reduplikasi ide dan permasalahan yang tidak bersifat streotyp-ing terhadap kelompok tertentu.
4) Rumusan Masalah
Rumusan masalah berbeda dengan masalah penelitian. Masalah merupakan kesenjangan atau perbedaan antara teori dan praktik, antara harapan dan kenyataan, atau antara rencana dan realisasi, sementara rumusan masalah merupakan pertanyaan yang akan dijawab melalui penelitian, yaitu dengan cara mengumpulkan data. Rumusan masalah memiliki peran yang sangat penting di dalam kegiatan penelitian, karena tanpa permasalahan, sebuah penelitian akan sulit untuk dilakukan.
Rumusan masalah merupakan pertanyaan yang akan dijawab melalui penelitian yaitu dengan cara mengumpulkan data. Rumusan masalah memiliki peran yang sangat penting di dalam kegiatan penelitian.Tanpa permasalahan yang dirumuskan secara baik dalam penelitian, maka sebuah penelitian akan sulit untuk dilakukan. Rumusan masalah berperan sebagai pedoman untuk implementasi kegiatan. Dengan kata lain, dapat pula dikatakan bahwa keber-hasilan kegiatan penelitian tergantung kepada keberkeber-hasilan merumuskan mas-alah. Dengan perumusan masalah yang tepat, penelitian akan dapat dilakukan dengan baik, terencana, dan fokus. Rumusan masalah dapat dikelompokkan menjadi:
• Rumusan masalah deskriptif/eksplanatoris: menggambarkan suatu variabel atau fenomena dengan variabel/fenomena yang lain. Contoh: Bagaimana respon masyarakat terhadap kebijakan pemerintah terhadap penggunaan biodiesel?
yang lain. Contoh: Adakah perbedaan motivasi belajar pada siswa Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama di desa dan di kota?
Rumusan masalah menjadi bahan dalam penentuan tujuan yang akan dicapai, dan penentuan kesimpulan sementara (hipotesis). Rumusan Masalah hendaknya:
• Dinyatakan dengan kalimat tanya
• Tidak tendensius terhadap isu suku bangsa, adat istiadat, ras, dan agama • Pemecahan masalahnya bermanfaat untuk kepentingan perkembangan
ilmu dan/atau keperluan praktis
Merumuskan masalah penelitian ini dapat dilakukan dalam bentuk per-nyataan (problema statement) dan juga dalam bentuk pertanyaan (research question).
• Contoh rumusan masalah dalam bentuk pernyataan
Pertumbuhan kendaraan bermotor yang tidak sebanding dengan pertumbuhan jalan, menjadi akar masalah kemacetan lalu lintas di Jakarta.
• Contoh rumusan masalah dalam bentuk pertanyaan
Mengapa rumah tangga miskin, sangat sulit untuk mendapatkan akses pen-danaan lewat lembaga bank?
5) Tujuan Penelitian
Merupakan penjelasan secara umum tentang apa yang ingin dicapai atau diharapkan dari hasil kegiatan penelitian. Tujuan penelitian dapat pula digu-nakan sebagai “pedoman” pelaksanaan penelitian. Tujuan penelitian disusun berdasarkan pertanyaan penelitian, dengan demikian menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari Rumusan Masalah. Tujuan penelitian biasanya dapat disampaikan secara umum dan spesifik.
6) Manfaat Penelitian
Menjelaskan manfaat yang diperoleh dari hasil kegiatan penelitian, baik man-faat teoritis yaitu untuk pengembangan ilmu pengetahuan, dan manman-faat praktis yaitu yang langsung dapat dirasakan oleh masyarakat luas sehari-hari.
7) Sasaran Penelitian
Penjelasan lebih spesifik dan teknis yang dijabarkan dari tujuan. Oleh sebab itu sangat dimungkinkan terdapat beberapa “sasaran” yang diperoleh dari satu kegiatan penelitian.
8) Tinjauan Pustaka dan Kerangka Teori/Landasan Teori/Kerangka Pikir
dari adanya tinjauan pustaka yang ada sebelumnya. Namun ada perbedaan yang cukup signifikan. Aspek-aspek yang perlu diperhatikan dalam tinjauan pustaka, yaitu (i) relevansi topik, (ii) substansi yang bisa diteliti atau diketahui, (iii) metode apa yang bisa diaplikasikan, dan (iv) data, yang bisa digunakan untuk perencanaan penelitian. Hal ini penting, karena tinjauan pustaka sebe-narnya dilakukan dengan dasar-dasar akademik yang cukup kuat. Dasar-dasar itu misalnya,
• Dengan membaca kepustakaan, peneliti akan mengetahui segi apa saja dari objek yang hendak diteliti telah diselidiki oleh peneliti lain. Tujuannya untuk dapat mengambil posisi penelitian dari penelitian-penelitian lain.
• Dunia ilmu pengetahuan adalah suatu komunitas yang bersifat internasi-onal, sehingga ia bersifat sebuah hubungan yang memiliki keterikatan kuat secara teoritis dan data, tanpa mengenal batas negara dan batas-batas lainnya.
• Secara akademis, pengetahuan tentang apa yang sudah dilakukan dalam penelitian sebelumnya, memungkinkan seorang peneliti merumuskan mas-alah penelitian dengan cara sedemikian rupa.
• Oleh karena itulah, ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu: • Upayakan membaca dan mengutip sumber bacaan asli.
• Perbanyak literatur, untuk memperluas wawasan dan ketajaman analisis. • Diskusikan beberapa teori relevan dengan permasalahan penelitian.
• Kaji hasil-hasil penelitian sejenis terutama terhadap bentuk hubungan antar variabel yang diamati.
• Ingat bahwa tujuan utama dari penelusuran literatur adalah untuk menjawab pertanyaan penelitian. Oleh karena itu salah satu tolok ukur dari tuntas atau tidaknya penelusuran literatur antara lain terletak pada kesanggupan pene-liti untuk menjawab pertanyaan penepene-litian tersebut dalam bentuk hipotesis (untuk penelitian kuantitatif).
• Bila jenis penelitiannya tidak bersifat menguji hipotesis (penelitian kualita-tif), maka fungsi dari penelusuran literatur adalah untuk merumuskan ke-rangka konseptual guna memecahkan masalah penelitian terutama dalam menemukan variabel dan indikator dari permasalahan yang diteliti, serta preposisi.
Dengan memperhatikan signifikansi penelusuran pustaka untuk memban -gun kerangka teori, maka peserta harus memperhatikan prinsip-prinsip dasar kepustakaan, yaitu:
• Relevansi (kecocokan antara hal-hal [variabel/aspek] dengan teori;
• Kelengkapan, asumsi yang dibangunnya adalah semakin banyak dibaca, maka semakin kuat kerangka konseptualnya, namun bukan berart bukan asal kutip saja.
• Kemutakhiran (dimensi waktu)
dengan judul penelitian, sehingga ada anggapan bahwa kerangka teorinya hanya berisi pengertian saja.
Untuk itu, maka dalam penelusuran pustaka untuk membangun sebuah kerangka teori, maka perlu dipertimbangkan pula mengenai cakupan aspek-as-pek penting lain, misalnya: (i) Siapa yang pernah meneliti topik atau masalah itu? (ii) Dimana penelitian itu dilakukan? (iii) Apa unit dan bidang studinya ?, (iv) Bagaimana pendekatan dan analisisnya? (v) Bagaimana simpulannya? (vi) Apa kritik terhadap studi itu? Dalam tinjauan pustaka, para peneliti dapat men-uangkan pemikiran kritisnya untuk merangkai teori dan hasil penelitian yang dirujuk olehnya, tentu dengan mencatatkan data sumber agar tidak dianggap melakukan plagiat. Tinjauan kritis dalam hal ini juga perlu dibedakan dengan resensi.
Tinjauan pustaka di atas akan sangat berguna dalam membangun kerang-ka teori, mengambil teori sebagai landasan penelitiannya ataupun membangun kerangka pikir, sehingga langkah-langkah mengkonstruksikan temuan dan analisis dapat dilakukan secara cermat, hati-hati, sistematis, logis, dan kontek-stual. Disebut-sebut bahwa tinjauan pustaka sebenarnya menjadi dasar dari proses penyusunan kerangka pikir, karena di dalamnya ada dua hal penting, yaitu: (i) membantu peneliti dalam memecahkan masalah penelitiannya; dan (ii) memperoleh gambaran kedudukan penelitiannya dengan penelitian lain.
Kerangka pemikiran diartikan sebagai hasil pemikiran atau refleksi abstrak -si peneliti berdasar teori/konsep yang ada tentang variabel/aspek yang diteliti dan dirumuskan dari masalah penelitian. Ada beberapa prinsip di dalamnya, yaitu:
• dirumuskan dalam bentuk kalimat pernyataan • sekurang-kurangnya terdiri dari 3 paragraf
• melansirkan diri pada pernyataan teoritis dan akan diterapkan dalam semua proses penelitiannya
• tetap mengarah pada rumusan masalah dan memberikan stimulus terha-dap penyusunan hipotesis/preposisi penelitian
• dapat diringkas dalam bentuk alur berpikir/skema (narasi menjadi penguat) Dengan demikian, kerangka pikir atau kerangka konseptual tersebut adalah suatu orientasi kausal (sebab-akibat) terhadap penelitian yang direncanakan. Oleh karena itu, kerangka konseptual juga menunjuk makna tentang suatu model terperinci dari masalah yang diteliti.
9) Hipotesis (Wajib Ada untuk Penelitian Kuantitatif) atau Preposisi (jika ada untuk penelitian kualitatif)
eksplan-atoris, sedangkan penelitian yang bersifat kualitatif, eksploratif, dan deskriptif biasanya tidak memerlukan hipotesis. Namun, dalam aktivitas pengumpulan data, jawaban sementara atau asumsi dasar atau preposisi sudah menjadi ke-sadaran para penelitinya, sehingga analisanya pun akan mendukung preposisi tersebut.
Contoh hipotesis:
• Jika tingkat pendidikan ibu rumah tangga tinggi, pola pemberian makanan pada anak usia balita pun berkualitas (jika-maka)
• Ada hubungan antara komunikasi orang tua dengan kenakalan remaja (hi-potesis kerja)
• Tidak ada hubungan antara jenis kendaraan dengan kemacetan di jalan raya (hipotesis nol).
10) Metode Penelitian
Metode penelitian merupakan cara-cara yang dipakai untuk memecahkan per-masalahan secara ilmiah melalui serangkaian prosedur seperti menentukan tempat penelitian, mengumpulkan data, mengolah, menganalisis, dan meny-impulkannya secara ilmiah. Yang dimaksud secara ilmiah adalah bahwa (i)
metode yang digunakan di dalam kegiatan penelitian dapat diulang oleh orang lain dengan hasil yang sama, (ii) logis, dilakukan berdasarkan data empiris atau masuk akal, dan (iii) sistematis, yaitu dilakukan secara berurutan sesuai dengan aturan yang benar.
1. Metode Penelitian: Secara umum, metode penelitian dibedakan menjadi dua kelompok:
• Metode kuantitatif: disebut metode kuantitatif, karena data-data yang diper-oleh berupa angka-angka dan umumnya diolah dengan statistik. Pada pene-litian dengan metode, ini terdapat perlakuan yang diberikan pada variabel • Metode kualitatif: biasa disebut pula dengan metode yang bersifat
tive, karena data-data yang diperoleh umumnya berasal dari hasil interpre-tasi di lapangan. Kegiatan penelitian dengan metode ini tidak melakukan perlakuan pada variabel.
2. Teknik Pengumpulan Data: dapat dilakukan dengan berbagai cara berdasar-kan pada:
a. Sumber
• Primer: data yang diperoleh secara langsung dari peneliti yang bersangkutan yang melakukan kegiatan
• Sekunder: data diperoleh dari pihak lain, misalnya dari Balai Pusat Statistik, Badan Meteorologi dan Geofisika
b. Metode
detil antara lain memuat cara menentukan variabel, cara mengolah dan menganalisis data, cara menentukan/ menyusun peralatan;
• Wawancara: mengajukan pertanyaan kepada responden, baik secara langsung (tatap muka, telepon, dan internet/skype);
• Kuesioner: merupakan daftar pertanyaan tertulis yang disampaikan kepada responden;
• Observasi/pengamatan, diskusi; • Kajian pustaka.
• Diskusi terbatas (Focus Group Discussion) 3. Pengolahan dan Analisis Data
• Data yang diperoleh dapat bersifat kuantitatif dan/atau kualitatif untuk selanjutnya diolah menjadi tabel, grafik, atau diagram/gambar. Pengolahan data dapat dilakukan secara manual atau menggunakan pengolah data atau perangkat lunak
• Analisis data bergantung kepada jenis penelitian. Data yang bersifat kuali-tatif dianalisis dengan cara interpretasi atau deskripsi, sedangkan analisis data kuantitatif (berbasis pada angka) dianalisis dengan cara deskriptif (mendeskriptifkan data) dan inferensial (pengambilan kesimpulan induktif). 4. Instrumen Penelitian: merupakan alat bantu yang diperlukan untuk mem-peroleh, mengumpulkan, dan mengolah data, baik data kuantitatif maupun kualitatif.
• Kuantitatif • Kualitatif
5. Pembiayaan, Lokasi, dan Waktu Penelitian
a. Pembiayaan: menguraikan tentang besarnya dana yang diperlukan untuk melakukan kegiatan yang relevan. Besarnya biaya yang diajukan akan ber gantung kepada permasalahan yang akan dipecahkan dan waktu penelitian. Pembiayaan antara lain dapat dialokasikan untuk:
• Pembelian bahan habis dan peralatan. Untuk pembelian bahan habis dan peralatan harus diperhitungkan pajak
• Sewa peralatan atau kendaraan
Perjalanan melakukan koordinasi, diskusi, survei, pengumpulan/pengolahan data, dan mengikuti seminar
b. Lokasi Penelitian: Menerangkan tempat dilakukannya penelitian. Lokasi penelitian akan terkait dengan biaya dan waktu penelitian.
11) Hasil yang diharapkan
Menerangkan target atau capaian yang diharapkan pada akhir kegiatan. Untuk penyampaian capaian, sebaiknya tidak terlalu ambisius dengan mempertim-bangkan semua faktor terkait. Untuk capaian hasil, dapat menggunakan pe-doman SMART (Spesific Measurable Achievable Reasonable Time), yaitu
• Spesific, keluaran bersifat khas, berbeda dari yang lain yang telah dihasilkan terlebih dahulu, terkait dengan kebaruan
• Measurable, capaian terukur, yang dapat dinyatakan dengan jumlah
• Achievable, dipastikan target keluarannya tercapai, terkait dengan sumber permasalahan, dana, personalia, sarana/prasarana, dan waktu yang tersedia • Reasonable, masuk akal, mempertimbangkan faktor dana, personalia,
sara-na/prasarana, dan waktu yang tersedia
• Time, salah satu faktor penting dalam pencapaian target adalah waktu Contoh hasil capaian: prototype, paten, publikasi ilmiah, standar, pengemban-gan metode.
12) Pustaka Acuan
Merupakan pustaka yang relevan yang diacu untuk menunjang teori dan metode dari penelitian yang akan dilakukan. Pustaka acuan dapat diperoleh dari buku, jurnal, disertasi, tesis, atau semacamnya. Contoh cara penulisan pustaka acuan selalu mengacu pada gaya selingkung yang ada. Ada beberapa model sistem penulisan pustaka acuan.
• Buku:
Pimentel, D.; Kirby, C.; Shroff, A. The relationship between “cosmetic” standards for foods and pesticide use. In The Pesticide Question: Environment, Economics, and Ethics; Pimentel, D., Lehman, H., Eds.; Chapman and Hall: New York, 1993; 85-105.
• Makalah di Jurnal:
Grande, C.J.; Torres, F.G.; Gomez, C.M.; Bañó, M.C. Nanocomposites of bacterial cellulose/hydroxyapatite for biomedical applications. Acta Biomater. 2009, 5, 1605–1615.
• Pertemuan Ilmiah:
Garrone, E.; Ugliengo, O. In Structure and Reactivity of Surfaces, Proceedings of the European Conference, Trieste, Italy, Sept 13-20, 1988; Zecchina, A., Costa, G., Morterra, C., Eds.; Elsevier: Amsterdam, 1988.
• Referensi elektronik:
RANGKUMAN
Formulasi proposal perlu diawali dengan state of the art dari suatu penelitian. Selanjutnya peneliti harus mampu dalam mengembangkan elemen-elemen proposal yang terdiri atas: judul, abstrak, Pendahuluan, Rumusan Masalah, Tujuan Penelitian, Manfaat Penelitian, Sasaran Penelitian, Hipotesis, Metode Penelitian, Hasil yang diharapkan, Pustaka Acuan
LATIHAN
1. Langkah awal sebelum memulai membuat proposal, peneliti perlu mema-hami apa yang dimaksud dengan state of the art, tolong jelaskan hal-hal apa saja yang perlu diperhatikan dalam menyampaikan stata of the art dari suatu penelitian?
2. Aspek-aspek apa saja yang harus masuk dalam sebuah abstrak?
JAWABAN
1. State of the art mencerminkan kemampuan seorang peneliti untuk meletak-kan rencana penelitiannya dalam konteks studi-studi sebelumnya. Dengan demikian, state of the art merupakan bentuk ekspresi peneliti atas novelty studi yang dilakukan.
s
trategi dant
eKniKp
enulisanp
roposal danr
ancanganp
enelitianIndikator Keberhasilan
Peserta dapat mengetahui beberapa strategi dalam persoalan substansi dan teknis penulisan proposal dan rancangan penelitian yang dapat dibiayai oleh pihak penyantun dana.
BEBERAPA FAKTOR PENOLAKAN PROPOSAL PENELITIAN
Sebelum ke strategi penyusunan proposal dan rancangan penelitian, lebih dahulu dipaparkan beberapa faktor yang umumnya mempengaruhi ditolaknya Proposal Penelitian, yaitu:
• Tidak dapat meyakinkan bahwa tingkat keberhasilan penelitian yang diaju-kan sangat tinggi. Untuk menghindari hal ini, proposal wajib disusun dengan menyampaikan faktor-faktor pendukung keberhasilan, misal kompetensi dan pengalaman personel (dapat menunjukkan hasil sebelumnya atau pub-likasi makalah di jurnal internasional), serta fasilitas peralatan yang memadai • Tidak ada unsur kebaruan yang dapat dibuktikan. Sekalipun ada unsur
kebaruan yang disampakan tetapi pengusul tidak dapat memberikan per-encanaan teknis secara detil
• Perumusan masalah tidak fokus
• Tujuan penelitian tidak jelas, tidak memiliki relevansi dengan masalah yang ada
• Metode penelitian tidak jelas, tidak sesuai dengan masalah yang ingin dipecahkan
• Topik penelitian lebih sesuai didanai oleh pihak lain/industri. Apabila topik penelitian sudah hampir “jadi”, pihak industri lebih sesuai untuk mendanai kegiatan penelitian, tetapi apabila tidak ada pihak industri yang tertarik untuk mendanai, berarti produk yang diharapkan belum memiliki nilai komersial • Proposal tidak disusun secara komprehensif. Proposal yang baik adalah
proposal yang dapat dipahami panelis yang memahami bidang topik yang sama, atau berlainan sekalipun
• Tidak realistis atau terlalu banyak menyampaikan hasil yang ditargetkan karena tidak sesuai dengan dana atau waktu yang diperlukan. Hal ini dapat dianggap pengusul kurang memahami permasalahan atau minimnya peng-etahuang tentang metode penelitian
• Proposal yang diajukan sudah “hampir atau sudah selesai” sehingga dinilai tidak perlu didanai lagi
• Mengajukan dana yang terlalu mahal, tidak sesuai dengan permasalahan yang akan dipecahkan dan keluaran/capaian
Pada umumnya, lembaga pemberi dana penelitian dalam negeri melaku-kan penolamelaku-kan usulan penelitian dengan menggunamelaku-kan bahasa langsung, misalnya (i) “proposal tidak diterima dengan alasan sudah diteliti peneliti lain”; (ii) proposal tidak diterima dengan alasan substansi kurang menarik; dan (iii) proposal tidak diterima karena tidak memberi output yang cukup strategis, dan sebagainya.
Sementara lembaga pemberi dana luar negeri melakukan penolakan terha-dap usulan penelitian tersebut dengan menggunakan bahasa yang lebih halus. Misalnya, (i) karena keterbatasan dana, kami tidak bisa menerima proposal anda; (ii) proposal ini menarik, tetapi karena tema kurang sejalan dengan misi lembaga, maka kami tidak menerimanya.
FAKTOR PERHATIAN DALAM PENYUSUNAN PROPOSAL
Ada hal-hal strategis yang perlu diperhatikan dalam proposal penelitian, yaitu: • mengenal dan mengerti konsep tematik yang diberikan;
• membuat judul menarik, tetapi tidak menghilangkan unsur permasalahan yang hendak dijawab;
• membuat abstrak yang sangat baik dengan mencakup secara jelas latarbe-lakang, rumusan masalah, metode, dan target capaian;
• mengikat satu kesatuan latarbelakang masalah, rumusan masalah dan metode dengan baik dan komprehensif; dan
• membuat paragraf-paragraf terpenting, dengan menggunakan bahasa yang jitu dan tepat dari persoalan mikro atau makro, kerangka berpikir, identifi-kasi permasalahan dan tujuan, penjelasan metode, dan target capaian. • memahami benar karakter lembaga pembiayanya;
STRATEGI PENULISAN PROPOSAL DALAM BERBAGAI TAHAPAN
Strategi dan teknik penulisan proposal dapat dipecah menjadi beberapa taha-pan, yaitu: tataran ide dalam mengidentifikasi masalah (sebagaimana disebut-kan di atas), tahapan menerka tujuan lembaga donor, dan tahapan penulisan atau penyusunan proposal penelitiannya.
1) Tahapan Pemahaman Karakter Tujuan Proposal
Penyusunan proposal penelitian perlu dilakukan sebaik mungkin dari berbagai sisinya. Dari sisi substansi, ide-ide menarik dan cerdas dituangkan sedemikian rupa sebagai bagian tidak terpisahkan dari state of the art. Sementara dari sisi teknis, pengusul harus berusaha meminimalkan kesalahan tata bahasa sampai pada nirkesalahan, dan bahkan membingkai proposal tersebut dengan sampul yang enak untuk dilihat dan terkesan menghargai pembaca.
lembaga memiliki ideologi atau kepentingan tertentu dari suatu proposal yang diterima, di samping persoalan guide line yang seringkali berbeda antara satu lembaga dengan lembaga lainnya.
Lembaga pembiayaan dalam negeri umumnya memiliki kesamaan, kalau-pun ada perbedaan tidak akan terlalu jauh, paling bantar pada persoalan susu-nan struktur proposal penelitian dan kaitannya dengan persoalan pembiayaan. Secara substansial tentu berbeda, berdasarkan tujuan program penerimaan proposal tersebut dilakukan. Misalnya, Kementerian Riset dan Teknologi akan menetapkan enam bidang prioritas pembangunan untuk setiap tema proposal penelitian yang diajukan. Bahkan untuk urusan substansi ini, mereka lebih rigid lagi, yaitu proposal penelitian yang diajukan harus memenuhi atau menye-suaikan diri dari target capaian dari poin-poin yang ditetapkan dalam buku panduan yang setiap tahunnya terus diubah.
Contoh, suatu proposal penelitian tentang obat, pasti akan masuk dalam bidang Kesehatan dan Obat. Tetapi, bukan hanya sampai di situ, proposal pe-nelitian itu harus masuk ke dalam suatu sub bidang tertentu, misalnya obat penyakit degeneratif, maka poin proposal harus benar-benar ditujukan untuk sub bidang itu. Bahkan, tidak jarang pula, subbidang obat penyakit degener-atif tersebut dipecah kembali berdasarkan jenis penyakitnya, seperti jantung, malaria dan diabetes. Seandainya pengusul hendak mengajukan “temulawak sebagai bahan baku obat malaria”, maka ia harus benar-benar menyesuaikan target capaian dari poin yang ada. Bila pengusul mengajukan tentang sejarah dan falsafah obat, maka ia harus mampu mencari celah atau membawa pada isu-isu yang berkembang pada sub-sub bidang itu. Bila tidak ada kesesuaian, maka pada seleksi awal (desk selection) saja, proposal itu akan segera dibuang ke “tong sampah”. Bila ada kesesuaian tema dan target capaian, maka proposal tersebut akan berlanjut pada seleksi berikutnya (substansi dan presentasi).
Program yang memiliki kemiripan dengan Insinas Ristek, adalah program Rispro LPDP, tema penelitian diarahkan pada tema-tema yang ditetapkan oleh panel pakar dari berbagai kementerian dan disetujui oleh manajemen LPDP. Setidaknya ada delapan bidang, seperti (i) pertahanan dan keamanan, (ii) te-knologi transportasi, (iii) industri kreatif, (iv) pelayanan dan manajemen publik, (v) material baju bahan obat, (vi) strategi budaya, (vii) agama dan deradikalisasi, dan (viii) permukiman dan lingkungan. Delapan bidang itu kemudian dibagi menjadi dua skema, yaitu skema impelementatif dan skema komersil-produktif.
soal penyesuaian substansi, teknis, dan lokasi kegiatan, juga diwajibkan untuk melakukan kerjasama lintas sektoral minimal tiga pihak.
Ada juga beberapa lembaga pembiaya kegiatan penelitian yang lebih me-nekankan pada aspek tematik penelitiannya. Misalnya, Kementerian Agama menyelenggarakan program penelitian kompetitif tentang harmoni kehidupan umat beragama, maka tema proposal penelitian yang diterima dan dibiayai pastilah akan berhubungan dengan hal itu. Asalkan temanya menarik, orisinil, dan memenuhi ketentuan yang disyaratkan panitia, baik secara online ataupun hardcopynya. Penelitian yang bersifat tematik kompetitif seperti ini juga dilaku-kan oleh Kementerian Kesehatan melalui Skema Intervensi¸ Riset Pembelajaran Kementerian Pendidikan Nasional, dan Pesona Indonesia Kementerian Pari-wisata yang mau menerima proposal penelitian yang berasal dari luar kemen-teriannya. Fokus utama pengusulan proposal secara tematik biasanya dimulai dari pembacaan tentang judul yang diajukan para pengusul. Seandainya sesuai dengan tema program, maka tidak jarang proposal yang masuk tersebut diikut-kan pada seleksi berikutnya.
Skema pembiayaan luar negeri, baik lembaga donor, implementing partner atau perguruan tinggi juga sebenarnya memiliki karakter yang mirip dengan pembiayaan dalam negeri. Namun, pada umumnya mereka menekankan aspek tematik saat penawaran pembiayaan proposal penelitian. Ausaid, Internasional Red Cross, International Humanitarian Forum, UN, dan Australia Indonesia Government Research Partnership (AIGRP), sebuah program yang diajukan oleh Murdoch University dan kemudian diinisiasi oleh Kementerian Luar Neg-eri Australia mengkhususkan diri pada tema-tema tata kelola pemNeg-erintahan, baik dari perspekstif kewarganegaraan ataupun dari perspekstif pengelola pemerintahannya. Tema proposal penelitian harus berkesesuaian dengan dua perspektif yang mengambil tema besar mengenai “tata kelola pemerintahan di Indonesia”. Jika tidak, maka proposal yang diproses secara online tersebut akan segera menolaknya, dengan alasan tidak sesuai tema.
UNDP, USAID dan AusAid juga memilih semua kegiatan pembiayaannya berbasiskan pada tematik yang bertujuan secara terapan. Tidak dapat ditemu-kan kasus, bahwa penelitian yang diharapditemu-kan mereka adalah benar-benar pengembangan ilmu. Wajar karena visi organisasi tersebut adalah advokasi, pendampingan, peningkatan partisipasi, serta penguatan masyarakat sipil dan masyarakat luas dalam mencari dan terwujudnya hak-hak kewarganega-raan. Model seperti ini diikuti oleh lembaga implementing partnernya, semua penyelenggaraan kegiatan pembiayaannya berhubungan dengan tema-tema yang ditetapkan lembaga donornya. Dalam menghadapi karakter pembiayaan seperti ini, pengusul bisa saja menyesesuaikan diri dari apa yang mereka mau. Tetapi, sebagai ilmuwan, pasti akan begitu “gatal” untuk tidak melahirkan suatu penelitian yang benar-benar berbasiskan pada pengembangan ilmu pengeta-huan.
kebijakan diberikan untuk keperluan itu. Namun, sebagai peneliti, pengusul ti-dak boleh berhenti sampai di situ saja, ia bisa saja kemudian mengembangkan lebih lanjut dari apa yang dimulai dari sesuatu yang bersifat terapan, menjadi suatu pengembangan ilmu pengetahuan. Niatan dan kerja lanjutannya dapat dilakukan kemudian hari, atau dilakukan bersamaan ketika penelitian tersebut dilakukan, asal benar-benar pembagian tugas dan komitmennya diwujudkan secara sahih dan berimbang.
2). Tahapan Mengemas Substansi
Menyusun Segitiga Strategis
Prinsip proposal penelitian adalah mentransferkan rasa ingin tahu terhadap permasalahan yang dicari jawabannya. Transfer keingintahuan itu akan mudah diterima, jika menggunakan bahasa yang mudah dipahami dan mengalir. Oleh karena itu, mengurangi bahasa atau istilah teknis yang belum tentu oleh se-bagian panel atau pihak administrasi lembaga pembiaya mengerti maksudnya adalah langkah bijak. Hal ini akan menambah kesempatan untuk diikutkan pada tahap seleksi berikutnya.
Hal strategis yang perlu diperhatikan adalah mengikat latar belakang ma-salah, rumusan masalah dan metode yang tepat secara jelas dan mudah dipa-hami. Jika tiga bagian ini benar-benar memukau panel, maka peluang proposal penelitian tersebut disetujui sangat besar. Cara paling efektif membuatnya adalah perhatikan judul secara baik, dan poin apa saja yang ada dalam judul selalu ditempelkan, bukan dengan kalimat persis sebuah judul.
Misalnya, “efektivitas peran kepemimpinan lokal dalam upaya penguran-gan resiko bencana”, maka setidaknya ada kata-kata kunci: 1) peran; 2) kepemi-mpinan lokal; dan 3) pengurangan resiko bencana. Tiga kata kunci itu selalu diterjemahkan dalam hubungannya dengan persoalan mikro atau makro yang terkait dengan aspek itu. Hal ini dicerminkan dalam latarbelakang masalah dan dikunci dengan landasan teori yang kuat.
Kaitan antara latar belakang dan rumusan masalah akan mudah dibuat, bila pengusul berhati-hati dan mampu mensistematiskan pemikirannya dalam sebuah tulisan. Persoalannya, banyak pengusul yang terlalu berpikir positivistik dan formal, sehingga permasalahan yang dibuat tidak jarang terkesan kaku dan memilih menggunakan poin (1, 2 dan 3) dengan pertanyaan yang “seolah hanya memberi kata sambung pertanyaan pada judul saja”.
Rumusan masalah bisa dibuat secara narasi, walaupun tetap kalimat tanya. Intisari dalam latar belakang yang menghantarkan pada identifikasi masalah dapat dituangkan ke bentuk kalimat tanya. Bedakan pula antara rumusan masalah dengan daftar pertanyaan, karena kalau pengusul terjebak pada pertanyaan penelitian, ia telah mereduksi identifikasi permasalahan kepada pertanyaan yang bersifat teknis untuk proses pengumpulan data di lapangan.
yang tepat dalam suatu perspektif yang diambil dalam menjawab masalah menjadi tugas utama pengusul. Dalam sebuah proposal, penulisan metode penelitian tidak boleh lebih dari 10 persen jumlah halaman proposal. Asalkan keterangan mengenai jenis penelitian, metode yang diambil, teknik pengumpu-lan data, instrumen penelitian, proses analisis data, dan lokasi penelitian telah dituangkan dalam bagian metode ini meskipun bersifat ringkas. Bagian metode yang seringkali dibaca oleh panel adalah bagian jenis penelitian dan teknik pengumpulan data. Kalau keduanya memiliki kesinambungan yang tepat, maka asumsi panel bahwa pengusul telah berpikir konsisten dalam menuangkan idenya dalam proposal penelitian.
Menampakkan Kualitas Lima Paragraf Penting Proposal
Ada lima paragraf utama yang dianggap sangat penting dan menjadi intisari dari proposal yang diajukan. Pembacaan ini dilakukan setelah abstrak penelitian yang kerap dianggap sebagai ringkasan proposalnya telah selesai dibaca. Lima paragraf terpenting itu terpisah pada tiga bagian dalam proposal penelitian, yaitu: tiga paragraf terdapat pada bagian pendahuluan, satu paragraf berada di bagian metode, dan satu paragraf lain berada di bagian target capaian.
1. Paragraf di bagian pendahuluan, yaitu paragraf pertama latar belakang ma-salah. Arti paragraf ini menunjukkan keresahan pengusul atas identifikasi masalahannya dari berbagai fenomena yang ditemukan sebelumnya.
2. Paragraf paling akhir latar belakang masalah. Arti paragraf ini mengantar-kan antara identifikasi masalah sebagaimana disebutmengantar-kan di atas dengan kontekstualisasi wilayah, dan posisi penelitian dibandingkan penelitian lain. 3. Paragraf termuat pada rumusan masalah, di mana umumnya terpisah
sendiri di bawah latar belakang masalah. Selain rumusan masalah yang dibuat dalam kalimat tanya dan dibahasakan secara narasi, pada paragraf ini disebutkan juga pertanyaan penelitian yang lebih rinci beserta tujuan penelitiannya. Paragraf ini menguji kesinambungan pemikiran antara apa yang dipersoalkan pada awal latarbelakang dan pengujian teori pada paragraf terakhir dari latarbelakang masalah, sehingga menghasilkan satu pernyataan yang mengikat.
4. Paragraf di bagian awal metode. Paragraf pertama pada bagian ini men-jadi sudut pandang penilaian tentang proposal penelitian ini benar-benar dilakukan secara komprehensif dalam mencari jawabannya dengan metode yang tepat atau tidak.
5. Paragraf pada target capaian. Umumnya paragraf pertama pada bagian akhir ini menjadi sudut pandang untuk menilai apakah proposal penelitian ini memiliki state of the art yang berguna bagi pengembangan ilmu ataupun bagi suatu kebijakan yang diharapkan lembaga pemberi pembiayanya.
mengikat identifikasi permasalahan, posisi penelitian, kerangka berpikir dan state of the art, maka proposal penelitian tersebut memiliki peluang besar untuk lolos dalam seleksi lanjutan. Apa yang dinyatakan ini tentu tetap mengedepank-an menariknya isu atau permasalahmengedepank-an ymengedepank-ang diajukmengedepank-an pada proposal penelitimengedepank-an yang tercermin pada judul dan keseluruhan isi proposal penelitiannya.
3) Tahapan Penulisan dengan Teknis Tata Bahasa yang Baik dan Benar
Selain persoalan substantif dan tema proposal yang memiliki state of the art yang bagus, pertimbangan apa lagi yang membuat suatu proposal penelitian dapat diterima dengan mudah? Walaupun sepertinya di luar yang substansial, namun bahasa penyampaian yang baik dan memenuhi standar ilmiah dalam penulisan proposal penelitian menjadi salah satu kunci keberhasilan usulan. Dalam aspek ini, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu; (i) pilihan diksi antara bahasa teknis ilmiah dengan semipopuler; (ii) penyesuaian teknis dan kerapihan tulisan; dan (iii) kehati-hatian menulis, khususnya terkait pada ketatabahasaan.
Kompromi antara Bahasa Teknis Ilmiah dan Semipopuler
Sering muncul perdebatan, apakah proposal penelitian harus benar-benar menggunakan bahasa ilmiah dengan serangkaian istilah teknisnya? Pertanyaan ini terkait pada persoalan bahwa sebagai tahap awal dari penulisan dan pe-mikiran ilmiah, maka menjadi suatu keharusan penggunaan istilah-istilah teknis dan formal ilmiah harus diletakkan pada proposal penelitian. Hal seperti ini dapat dipahami, terlebih ketika seluruh panel penguji terdiri dari satu bidang keilmuan yang sama. Namun, tidak jarang para penguji terdiri dari tiga atau lima orang itu memiliki bidang kepakaran yang berbeda. Dua di antaranya sesuai bidang kajian, dan satu diasumsikan memiliki bidang kepakaran lintas disiplin.
Suatu proposal penelitian bersifat ilmiah, benar adanya dan tercermin pada keseluruhan isi dan pendekatannya. Akan tetapi, apakah penyampaian-nya mempersyaratkan demikian? Apakah tidak mungkin menggunakan alur dan gaya bahasa semipopuler yang cenderung mudah dipahami dan bersifat mengalir. Perdebatan seperti ini terjadi juga pada pemilihan kata-kata (diksi) untuk judul, apakah tidak memungkinkan menggunakan bahasa-bahasa yang sedikit sastrawi atau semi populer?
Semi populer adalah penulisan dan struktur kalimat yang bersifat bebas dan tidak dibatasi oleh standar-standar yang terlalu rigid. Semi populer mengede-pankan aspek penerimaan pesan tulisan dengan bahasa-bahasa yang mudah dimengerti. Umumnya, selain menggunakan kalimat-kalimat pendek, jenis penulisan semi populer menekankan pada pemilihan kata-kata yang sudah dikenal banyak orang. Artinya, semi populer tidak menghendaki adanya keru-wetan berpikir dari adanya kata-kata yang multitafsir. Pola seperti ini biasanya dipraktikkan pada penulisan essay, baik surat kabar ataupun majalah.
semi populer. Hal ini didasarkan pada asumsi bahwa kekuatan bidang-bidang ilmu ini adalah pada penggunaan kata-kata dalam narasinya. Bahkan pemilihan kata yang tepat akan menjadi state of the art tersendiri bagi suatu usulan pene-litian. Pemilihan kata sastrawi yang multi-tafsir juga menjadi poin tersendiri bila rangkaian substansial memang memiliki kesulitan untuk memaknainya pada satu definisi saja.
Pemilihan kalimat seperti ini akan menjadi solusi pengaman, ketika gejala sosial tersebut tidak tergantung pada satu variabel atau satu faktor saja, tetapi banyak variabel dan faktor yang ikut mempengaruhi. Penggunaan pola semi populer akhirnya menjadi penting untuk membawa “alam bawah sadar” pemb-acanya dalam menginterpretasikan sendiri akan maksud kalimat-kalimat yang ada itu. Demikian juga judul yang sedikit sastrawi sebenarnya diperkenankan untuk masuk dalam sebuah proposal penelitian.
Meminimalisir Kesalahan Tulis dan Tata Bahasa
Kesalahan tulis dan tata bahasa ini menjadi indikator paling penting penilaian sikap kehati-hatian dan komitmen pengusul dalam melakukan penelitian dan penulisannya. Kesalahan yang disebabkan oleh kurang hati-hatinya penulis da-lam mengetik, misalnya: (i) hilangnya huruf dada-lam sebuah kata; (ii) tidak mem-perhatikan penggunaan huruf besar dan miring; (iii) salah ketik dari sebuah kata; (iv) penggunaan poin-poin yang keliru; (v) penggunaan kata sambung dan peletakan tanda-tanda baca yang salah; (vi) banyaknya kutipan; (vii) lay outer yang tidak jelas dan membingungkan, misalnya margin kanan atau kiri yang tidak konsisten; (viii) inkonsistensi penggunaan sistem pengutipan, apakah in text atau footnote; (ix) daftar pustaka yang terlalu sedikit atau terlalu banyak, sementara sumber rujukan dalam badan proposal tidak disebutkan, dan masih banyak hal lainnya.