• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.8 Uraian kromatografi

2.8.5 Kromatografi eksklusi

Kromatografi eksklusi adalah metode pemisahan yang tergantung pada pertukaran molekul terlarut di antara pelarut fase gerak dan pelarut yang sama dalam pori-pori bahan pengisi kolom. Rentang ukuran pori bahan pengisi kolom menentukan rentang ukuran molekul pada pemisahan yang terjadi. Alat terdiri

dari kolom kromatografi berisi bahan yang mampu melakukan fraksinasi pada rentang ukuran molekul yang sesuai dan dapat dikendalikan suhunya. Fase gerak melewati kolom pada laju aliran yang tetap, baik oleh gravitasi atau menggunakan pompa yang sesuai (Ditjen POM., 1995).

BAB III

METODE PENELITIAN

Metodologi penelitian adalah metode eksperimental laboratorium, meliputi pengumpulan dan pengolahan sampel, pemeriksaan karakteristik simplisia, skrining fitokimia, pembuatan ekstrak etanol 80%, fraksinasi menggunakan pelarut n-heksan dan etilasetat, uji aktivitas antioksidan dengan metode DPPH dan analisis kandungan kimia untuk mengetahui pola kromatografi dengan KLT dan KKt. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Fitokimia dan Laboratorium Penelitian Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara

3.1 Alat dan Bahan 3.1.1 Alat

Alat yang digunakan pada penilitian ini adalah alat-alat gelas laboratorium, botol timbang, cawan penguap, chamber (Desaga), kaca objek, kaca penutup, krus porselin, lemari pengering, mikroskop (Olympus), neraca analitik (Vibra), neraca kasar (O’haus), oven listrik (Memmert), penangas air, rotary evaporator (Stuart), tanur (Gallenkamp), dan spektrofotometer UV-Vis

(Shimadzu).

3.1.2 Bahan

Bahan tumbuhan yang digunakan pada penelitian ini adalah buah senduduk (Melastoma malabathricum L.). Bahan kimia yang digunakan berkualitas pro analisis kecuali dinyatakan lain yaitu : amil alkohol, asam asetat, asam asetat anhidrida asam klorida (HCl), asam nitrat, asam sulfat (H2SO4), besi (III) klorida, bismut nitrat, butanol, etilasetat, kalium iodida (KI), kloralhidrat,

kloroform, isopropanol, magnesium, metanol, natrium hidroksida (NaOH), natrium sulfat anhidrat, n-heksan, raksa (II) klorida, timbal (II) asetat, toluen, -naftol, 1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl (DPPH). Akuades dan etanol hasil destilasi.

3.2 Penyiapan Bahan Tumbuhan 3.2.1 Pengambilan bahan tumbuhan

Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah buah tumbuhan senduduk (Melastoma malabathricum L.) yang masih segar, berwarna ungu diambil dari daerah Sidikalang, Provinsi Sumatera Utara. Pengambilan sampel dilakukan secara purposif tanpa membandingkan dengan tumbuhan yang sama dari daerah lain.

3.2.2 Identifikasi tumbuhan

Tumbuhan yang digunakan pada penelitian ini diidentifikasi di Herbarium Bogoriense, Bidang Botani, Pusat Penelitian Biologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan

Indonesia (LIPI).

3.2.3 Pembuatan simplisisa buah senduduk

Buah senduduk (Melastoma malabathricum L.) dibersihkan dari pengotoran, dicuci, ditiriskan, dan dikeringkan di udara terbuka (diangin-anginkan) terlindung dari cahaya matahari langsung. Sampel yang telah kering dan rapuh diserbuk. Kemudian dilakukan karakterisasi simplisia.

3.3 Pembuatan Pereaksi

Pembuatan larutan pereaksi di bawah ini menurut: Depkes R.I. (1995), yaitu larutan air-kloroform, asam klorida 2 N, besi (III) klorida 1%, kloralhidrat,

Bouchardat, Dragendorf, Mayer, Mollish dan timbal asetat 0,4 N; Merck (1978) yaitu pereaksi Liebermann-Burchard; Molyneux (2004) yaitu larutan pereaksi DPPH 0,5 mM (konsentrasi 200 ppm); Markham (1998) yaitu larutan asam asetat 5%, asam klorida 1% dan larutan BAA.

3.3.1 Larutan air-kloroform

Sebanyak 2,5 ml kloroform dikocok dengan 900 ml air suling, encerkan dengan air suling hingga 1000 ml.

3.3.2 Larutan asam asetat 5%

Asam asetat glasial sebanyak 5 ml diencerkan dengan air suling sebanyak 100 ml dan dibiarkan selama 12 jam.

3.3.3 Larutan asam klorida 1%

Asam klorida pekat sebanyak 2,7 ml diencerkan dalam air suling hingga 100 ml, dibiarkan selama 12 jam.

3.3.4 Larutan asam klorida 2 N

Sebanyak 17 ml asam klorida pekat diencerkan dengan air suling sampai 100 ml.

3.3.5 Larutan BAA (butanol:asam asetat:air)

n-butanol–asam asetat–air suling dengan perbandingan 4:1:5 dicampur di

dalam corong pisah. Campuran dikocok dan dibiarkan selama 17 jam sampai memisah sempurna, kemudian diambil lapisan atas.

3.3.6 Laruran besi (III) klorida 1%

Sebanyak 1 g besi (III) klorida dilarutkan dalam air suling sampai 100 ml.

3.3.7 Larutan kloralhidrat

Sebanyak 50 g kloralhidrat ditimbang lalu dilarutkan dalam 20 ml air suling.

3.3.8 Larutan pereaksi DPPH 0,5 mM (konsentrasi 200 ppm)

Sebanyak 19,7 mg DPPH ditimbang, kemudian dilarutkan dalam metanol hingga volume 100 ml.

3.3.9 Pereaksi Bouchardat

Sebanyak 4 g kalium iodida dilarutkan dalam air suling secukupnya kemudian ditambahkan 2 g iodida dan dicukupkan dengan air suling.

3.3.10 Pereaksi Dragendorff

Larutan bismut nitrat P 40% b/v dalam asam nitrat P sebanyak 20 ml dicampur dengan 50 ml kalium iodida P 54,4% b/v, didiamkan sampai memisah sempurna. Lalu diambil lapisan jernih dan diencerkan dengan air suling secukupnya hingga 100 ml.

3.3.11 Pereaksi Liebermann-Burchard (LB)

Campur secara perlahan 5 ml asam asetat anhidrida dengan 5 ml asam sulfat 97%, kemudian tambahkan campuran tersebut ke dalam 50 ml etanol.

3.3.12 Pereaksi Mayer

Larutan raksa (II) klorida P 2,27% b/v sebanyak 60 ml dicampur dengan 10 ml larutan kalium iodida P 50% b/v, kemudian ditambahkan air suling secukupnya hingga 100 ml.

3.3.13 Pereaksi Mollish

Sebanyak 3 g α-naftol dilarutkan dalam asam nitrat 0,5 N hingga diperoleh volume 100 ml.

3.3.14 Pereaksi timbal (II) asetat 0,4 N

Timbal (II) asetat sebanyak 15,17 g dilarutkan dalam air suling bebas karbondioksida hingga 100 ml.

3.4 Pemeriksaan Karakteristik Simplisia

Pemeriksaan karakteristik simplisia meliputi penetapan kadar air (WHO, 1992), pemeriksaan makroskopik, dan mikroskopik, penetapan kadar sari yang larut dalam air, penetapan kadar sari yang larut dalam etanol, penetapan kadar abu total dan penetapan kadar abu yang tidak larut dalam asam (Depkes R.I., 1995).

3.4.1 Pemeriksaan makroskopik

Pemeriksaan makroskopik dilakukan dengan cara mengamati simplisia meliputi bentuk, warna, ukuran, dan ketebalan dari simplisia buah senduduk.

3.4.2 Pemeriksaan mikroskopik

Pemeriksaan mikroskopik dilakukan terhadap serbuk simplisia buah senduduk dengan cara ditaburkan di atas kaca objek yang telah ditetesi dengan larutan kloralhidrat kemudian ditutup dengan kaca penutup, diamati di bawah mikroskop.

3.4.3 Penetapan kadar air simplisia

Penetapan kadar air dilakukan dengan metode azeotropi (destilasi toluen).

Alat-alatnya terdiri dari labu alas bulat 500 ml, alat penampung, pendingin, tabung penyambung, tabung penerima 5 ml, pemanas.

Cara kerja: sebanyak 200 ml toluen dan 2 ml air suling dimasukkan ke dalam labu alas bulat, didestilasi selama 2 jam, toluen didinginkan selama 30 menit dan volume air di dalam tabung penerima dibaca. Selanjutnya ke dalam labu dimasukkan sebanyak 5 g serbuk simplisia, dipanaskan hati-hati selama 15 menit, setelah toluen mendidih, kecepatan tetesan diatur 2 tetes untuk tiap detik sampai sebagian air terdestilasi, kemudian kecepatan destilasi dinaikkan sampai 4 tetes tiap detik. Setelah semua air terdestilasi, bagian dalam pendingin dibilas dengan toluen, destilasi dilanjutkan selama 5 menit, kemudian tabung penerima

dibiarkan mendingin pada suhu kamar. Setelah air dan toluen memisah sempurna, dibaca volume air, selisih kedua volume air yang dibaca sesuai dengan jumlah air yang terdapat di dalam bahan yang diperiksa. Kadar air dihitung dalam persen.

3.4.4 Penetapan kadar sari yang larut dalam air

Sebanyak 5 g serbuk yang telah dikeringkan di udara dimaserasi selama 24 jam dalam 100 ml air-kloroform (2,5 ml kloroform dalam air sampai 1 liter) dalam labu bersumbat sambil sesekali dikocok selama 6 jam pertama, kemudian dibiarkan selama 18 jam, disaring. Sejumlah 20 ml filtrat diuapkan sampai kering dalam cawan dangkal berdasar rata dan telah ditara dan sisa dipanaskan pada suhu 105ᵒC sampai bobot tetap. Kadar sari larut dalam air dihitung terhadap bahan yang telah dikeringkan di udara.

3.4.5 Pemeriksaan kadar sari yang larut dalam etanol

Sebanyak 5 g serbuk yang telah dikeringkan di udara dimaserasi selama 24 jam dalam etanol 96% dalam labu bersumbat sambil dikocok sesekali selama 6 jam pertama, dibiarkan selama 18 jam, kemudian disaring cepat untuk menghindari penguapan etanol, 20 ml filtrat diuapkan sampai kering dalam cawan dangkal berdasar rata yang telah ditara dan dipanaskan pada suhu 105ᵒC sampai bobot tetap. Kadar sari yang larut dalam etanol dihitung terhadap bahan yang telah dikeringkan di udara.

3.4.6 Penetapan kadar abu total

Sebanyak 2 g serbuk yang telah digerus dan ditimbang seksama dimasukkan ke dalam cawan porselin yang telah dipijar dan ditara, kemudian diratakan. Krus dipijarkan pada suhu 600ᵒC sampai arang habis, kemudian didinginkan dan ditimbang sampai diperoleh bobot tetap. Kadar abu dihitung terhadap bahan yang dikeringkan di udara.

3.4.7 Penetapan kadar abu yang tidak larut dalam asam

Abu yang diperoleh dalam penetapan kadar abu larut total dididihkan dalam 25 ml asam klorida 2 N selama 5 menit, bagian yang tidak larut dalam asam dikumpulkan disaring melalui kertas saring bebas abu kemudian dicuci dengan air panas. Residu dan kertas saring dipijarkan pada 600ᵒC sampai bobot tetap, kemudian didinginkan dan ditimbang. Kadar abu tidak larut dalam asam dihitung terhadap bahan yang dikeringkan.

3.5 Skrining Fitokimia

Pemeriksaan skrining fitokimia (uji pendahuluan) meliputi senyawa steroid/triterpenoid (Harborne 1987), alkaloid, glikosida, saponin, (Depkes RI 1995), Flavonoid dan tanin (Fransworth 1966).

3.5.1 Pemeriksaan alkaloida

Serbuk simplisia ditimbang sebanyak 0,5 g kemudian ditambah 1 ml asam klorida 2 N dan 9 ml air suling, dipanaskan di atas penangas air selama 2 menit.

Dinginkan dan disaring. Filtrat digunakan untuk percobaan berikut :

 Filtrat sebanyak 3 tetes ditambah dengan 2 tetes larutan pereaksi mayer, akan terbentuk endapan menggumpal berwarna putih atau kuning

 Filtrat sebanyak 3 tetes ditambah pereaksi bouchardat, akan terbentuk endapan berwarna coklat sampai hitam.

 Filtrat sebanyak 3 tetes ditambah dengan 2 tetes pereaksi dragendorf, akan

terbentuk warna merah atau jingga.

Alkaloida positif jika terjadi endapan atau kekeruhan paling sedikit dua dari ketiga percobaan di atas.

3.5.2 Pemeriksaan glikosida

Sebanyak 3 g serbuk simplisia ditimbang, lalu disari dengan 30 ml campuran dari 7 bagian etanol 95% dan 3 bagian air. Direfluks selama 10 menit, didinginkan lalu disaring. Pada 20 ml filtrat ditambahkan 25 ml timbal (II) asetat 0,4 M dan 25 ml air, dikocok dan didiamkan selama 5 menit, disaring. Filtrat disari 3 kali, tiap kali dengan 20 ml campuran kloroform-isopropanol (3:2). Pada kumpulan sari di tambahkan natrium sulfat anhidrat, disaring dan diuapkan pada suhu tidak lebih dari 50ᵒC, sisanya dilarutkan dengan 2 ml etanol. Larutan sisa digunakan untuk percobaan berikut: 0,1 ml larutan percobaan dimasukkan dalam tabung reaksi selanjutnya diuapkan di atas penangas air, pada sisa ditambahkan 2 ml akuades dan 5 tetes pereaksi molisch, lalu ditambahkan hati-hati 2 ml asam sulfat pekat melalui dinding tabung, terbentuknya cincin ungu pada batas kedua cairan menunjukkan adanya ikatan gula (glikon).

3.5.3 Pemeriksaan flavonoida

Sebanyak 10 g serbuk simplisia ditambahkan air panas, dididihkan selama 5 menit dan disaring dalam keadaan panas, ke dalam 5 ml filtrat ditambahkan 0,1 g serbuk magnesium dan 1 ml asam klorida pekat dan 2 ml amil alkohol, dikocok dan dibiarkan memisah. Flavonoida positif jika warna merah, kuning, jingga pada lapisan amil alkohol.

3.5.4 Pemeriksaan saponin

Sebanyak 0,5 g serbuk simplisia, dimasukkan ke dalam tabung reaksi.

Ditambahkan air panas, didinginkan kemudian dikocok kuat-kuat selama 10 detik. Jika terbentuk buih yang mantap setinggi 1 sampai 10 cm, tidak kurang dari 10 menit dan tidak hilang dengan penambahan asam klorida 2 N menunjukkan adanya saponin.

3.5.5 Pemeriksaan tanin

Sebanyak 0,5 g serbuk simplisia, disari dengan 10 ml air suling.

Dipanaskan dan kemudian disaring. Filtratnya diencerkan dengan air sampai tidak berwarna. Larutan diambil sebanyak 2 ml dan ditambahkan 1-2 tetes pereaksi besi (III) klorida 1%. Jika terjadi warna biru atau hijau kehitaman, menunjukkan adanya tanin.

3.5.6 Pemeriksaan steroida/triterpenoida

Sebanyak 1 g serbuk simplisia dimaserasi dengan 20 ml n-heksan selama 2 jam, diasring, lalu filtrat diuapkan dalam cawan penguap. Pada sisa ditambahkan 20 tetes asam asetat anhidrida dan 1 tetes asam sulfat pekat (pereaksi Liebermann-Burchard), diteteskan pada saat akan mereaksikan sampel uji. Apabila terbentuk warna biru atau biru hijau menunjukkan adanya steroid, sedangkan warna merah, merah muda atau ungu menunjukkan adanya triterpenoid.

3.6 Pembuatan ekstrak dan fraksinasi 3.6.1 Pembuatan ekstrak

Ekstraksi simplisia buah senduduk dilakukan menurut Depkes R.I., 2010.

Cara kerja: Satu bagian serbuk kering simplisia dimasukkan ke dalam maserator, tambahkan 10 bagian etanol 80%. Rendam selama 6 jam pertama sambil sekali-sekali diaduk, kemudian diamkan selama 18 jam. Pisahkan maserat dengan cara pengendapan. Ulangi proses penyarian sekurang-kurangnya dua kali dengan jenis dan jumlah pelarut yang sama. Hasil maserasi disaring, kemudian dipekatkan dengan alat penguap vakum putar pada suhu ±40oC sampai diperoleh esktrak

etanol buah senduduk (EEBS) cukup kental dan dipekatkan di atas penangas air hingga menjadi kental.

3.6.2 Pemisahan secara fraksinasi

Pembuatan fraksi-fraksi dilakukan secara ekstraksi cair-cair (ECC) menggunakan pelarut n-heksan dan etilasetat. Sebanyak 10 g ekstrak etanol ditambahkan etanol 20 ml dan air suling 40 ml, lalu dimasukkan ke dalam corong pisah. Kemudian ditambahkan 40 ml n-heksan, dikocok lalu didiamkan sampai diperoleh 2 lapisan, n-heksan (lapisan atas) dipisahkan dan fraksinasi dilakukan sampai warna lapisan n-heksan jernih. Sisanya (lapisan bawah) kemudian ditambahkan 50 ml etilasetat, dikocok lalu didiamkan sampai terdapat 2 lapisan, lapisan etilasetat (lapisan atas) dipisahkan dan fraksinasi dilakukan sampai warna lapisan etilasetat jernih. Semua fraksi, termasuk fraksi sisa terakhir (fraksi air) yang diperoleh diuapkan sampai fraksinya kental.

3.7 Uji Aktivitas Antioksidan dengan Metode DPPH 3.7.1 Prinsip metode penangkapan radikal bebas DPPH

Kemampuan sampel uji dalam meredam DPPH (1,1-Diphenyl-2-Picryl-hidrazyl) sebagai radikal bebas dalam larutan metanol (sehingga terjadi

peredaman warna ungu DPPH) dengan nilai IC50 (konsentrasi sampel uji yang mampu meredam radikal bebas sebesar 50%) digunakan sebagai parameter untuk menentukan aktivitas antioksidan sampel uji tersebut (Molyneux, 2004).

3.7.2 Pembuatan larutan blanko

Larutan DPPH 0,5 mM (konsentrasi 200 µg/ml) dipipet sebanyak 5 ml, kemudian dimasukkan ke dalam labu tentukur 25 ml, dilarutkan dan dicukupkan volumenya dengan metanol sampai garis tanda (konsentrasi 40 µg/ml).

3.7.3 Penentuan panjang gelombang serapan maksimum

Larutan DPPH konsentrasi 40 ppm dihomogenkan dan diukur serapannya pada panjang gelombang 400-800 nm (Graham, 1976).

3.7.4 Pembuatan larutan induk sampel uji

Sebanyak 10 mg ekstrak etanol, fraksi etil asetat, fraksi n-heksan dan fraksi air buah senduduk ditimbang kemudian masing-masing dilarutkan dalam labu tentukur 10 ml dengan metanol lalu volumenya dicukupkan dengan metanol sampai garis tanda (konsentrasi 1000 µg/ml).

3.7.5 Pembuatan larutan uji

Masing-masing larutan induk dipipet sebanyak 0,03 ml; 0,06; 0,125 ml;

0,25 ml; 0,5 ml. kemudian masing-masing dimasukkan ke dalam labu tentukur 10 ml (untuk mendapatkan konsentrasi 3,125 µg/ml, 6,25 µg/ml, 12,5 µg/ml, 25 µg/ml, 50 µg/ml), ke dalam masing-masing labu tentukur ditambahkan 2 ml larutan DPPH 0,5 mM (konsentrasi 40 µg/ml) lalu volume dicukupkan dengan metanol sampai garis tanda, didiamkan di tempat gelap selama 60 menit, lalu diukur serapannya pada spektrofotometer UV-Visible.

3.7.6 Pembuatan larutan induk vitamin C

Sebanyak 10 mg vitamin C ditimbang kemudian dilarutkan ke dalam labu tentukur 10 ml dengan metanol, lalu dicukupkan dengan metanol sampai garis tanda (konsentrasi 1000 µg/ml ).

3.7.7 Pembuatan larutan uji vitamin C

Larutan induk dipipet sebanyak 0,02 ml; 0,04 ml; 0,06 ml dan 0,08 ml kemudian dimasukkan ke dalam labu tentukur 10 ml (untuk mendapatkan konsentrasi 2 µg/ml, 4 µg/ml, 6 µg/ml dan 8 µg/ml), kemudian dalam

masing-masing labu tentukur ditambahkan 2 ml larutan DPPH 0,5 mM (konsentrasi 40 µg/ml). Lalu volume dicukupkan dengan metanol sampai garis tanda, didiamkan di tempat yang gelap selama 60 menit lalu diukur serapannya pada spektrofometer UV-Visible.

3.7.8 Penentuan persen peredaman

Kemampuan antioksidan diukur sebagai penurunan serapan larutan DPPH (peredaman warna ungu DPPH) akibat adanya penambahan larutan uji. Nilai serapan larutan DPPH sebelum dan sesudah penambahan larutan uji tersebut dihitung sebagai persen peredaman.

% Peredaman = ontrol- Sampel

ontrol

x

100%

Keterangan : A Kontrol = Absorbansi tidak mengandung sampel A Sampel = Absorbansi sampel

3.7.9 Penentuan nilai IC50

Nilai IC50 merupakan bilangan yang menunjukkan konsentrasi sampel uji (μg/ml) yang memberikan peredaman DPPH sebesar 50% (mampu meredam proses oksidasi DPPH sebesar 50%). Nilai 0% berarti tidak mempunyai aktivitas antioksidan, sedangkan nilai 100% berarti peredaman total dan pengujian perlu dilanjutkan dengan pengenceran larutan uji untuk melihat batas konsentrasi aktivitasnya. Hasil perhitungan dimasukkan ke dalam persamaan regresi dengan konsentrasi ekstrak (μg/ml) sebagai absis (sumbu X) dan nilai % peredaman (antioksidan) sebagai ordinatnya (sumbu Y) (Molyneux, 2004).

Secara spesifik, suatu senyawa dikatakan antioksidan sangat kuat jika nilai IC50 kurang dari 50 μg/ml, kuat untuk IC50 bernilai 50-100 μg/ml, sedang jika IC50

bernilai 100-150 µg/ml, dan lemah jika IC50 bernilai 151-200 µg/ml (Molyneux, 2004)

3.8 Analisis Kandungan Kimia

3.8.1 Analisis dengan kromatografi lapis tipis (KLT)

Pemeriksaan secara KLT ekstrak etanol dan fraksi buah senduduk dilakukan menggunakan fase gerak n-heksan-etil asetat dengan berbagai perbandingan, fase diam plat pra lapis silika gel 60 F254 dan sebagai penampak bercak digunakan pereaksi Lieberman-Burchard.

Cara kerja: larutan ekstrak ditotolkan pada plat pra lapis silika gel 60 F254 yang sebelumnya telah diaktifkan, kemudian dimasukkan ke dalam chamber yang telah jenuh dengan uap pengembang dan ditutup rapat, setelah elusi selesai plat dikeluarkan dari chamber dan dikeringkan di udara, kemudian plat disemprot dengan larutan penampak bercak. Warna bercak yang terjadi diamati dan dihitung harga Rf-nya.

3.8.2 Analisis dengan kromatografi kertas (KKt)

Pemeriksaan secara KKt dari ekstrak dan fraksi buah senduduk dilakukan dengan menggunakan fase gerak BAA (4:1:5), HCl 1% dan asam asetat 5%

dengan fase diam kertas saring Whatmann nomor 1 dan sebagai penampak bercak digunakan pereaksi AlCl3, NH3 dan FeCl3.

Cara kerja: larutan fraksi ditotolkan pada kertas Whatmann, kemudian dimasukkan ke dalam chamber yang telah jenuh dengan uap pengembang dan ditutup rapat, setelah elusi selesai plat dikeluarkan dari chamber dan dikeringkan di udara, kemudian disemprot dengan pereaksi AlCl3, NH3 dan FeCl3. Warna bercak yang terjadi diamati dan dihitung harga Rf-nya.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Identifikasi Tumbuhan

Hasil identifikasi tumbuhan yang dilakukan di Herbarium Bogoriense, Bidang Botani, Pusat Penelitian Biologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Bogor menunjukkan bahwa sampel termasuk suku Melastomaceae, spesies Melastoma malabthricum L. Hasil identifikasi, gambar tumbuhan senduduk,

gambar simplisia dan serbuk simplisia serta bagan kerja dapat dilihat pada Lampiran 1, 2, 3, 4, 5 dan 6 halaman 54-58.

4.2 Hasil Karakterisasi Simplisia

Hasil pemeriksaan makroskopik simplisia buah senduduk dicirikan: buah terdiri dari 5 ruas, namun karena ketika masih berbentuk buah segar cukup lembek maka kebanyakan bentuk simplisia sudah tidak beraturan. Pada daging buah terdapat biji-biji yang berukuran sangat kecil berwarna coklat dan mudah terlepas, buahnya kecil dengan ukuran garis rentang lebih kurang 1,5 cm, berwarna ungu kemerahan (gelap), dengan rasa sepat-sepat manis.

Hasil pemeriksaan mikroskopik serbuk simplisia diperoleh adanya sel batu dengan bentuk berombak. Mesokarpium yang terdiri dari sel-sel parenkhim, dan serabut sklerenkhim. Epikarpium merupakan epidermis kulit buah. Gambar hasil pengamatan dapat dilihat pada Lampiran 6 halaman 59.

Hasil pemeriksaan kadar air, kadar sari larut air, kadar sari larut etanol, kadar abu total dan kadar abu yang tidak larut asam dapat dilihat pada Tabel 4.1.

Tabel 4.1 Hasil karakterisasi serbuk simplisia buah senduduk

No Karakteristik Simplisia Hasil (%)

1 Kadar air 5,31%

2 Kadar sari larut air 24,23%

3 Kadar sari larut etanol 29,82%

4 Kadar abu total 3,17%

5 Kadar abu tidak larut asam 0,67%

Hasil penetapan kadar air dari simplisia buah senduduk diperoleh 5,31 %, yang menunjukkan bahwa kandungan air yang ada masih dalam batas minimal yang dapat ditolerir karena kandungan air yang tinggi menyebabkan ketidakstabilan ekstrak. Penetapan kadar air dilakukan untuk memberi batasan atau rentang besarnya kandungan air di dalam simplisia atau ekstrak, karena tingginya kandungan air dapat mempercepat pertumbuhan bakteri dan jamur (Ditjen POM R.I., 2000).

Kadar sari yang larut dalam etanol adalah 29,82% dan kadar sari yang larut dalam air adalah 24,23%. Kadar sari larut air dan etanol merupakan pengujian untuk penetapan jumlah kandungan senyawa yang dapat larut dalam iar dan kandungan senyawa yang dapat larut dalam etanol (Ditjen POM R.I., 2000).

Penetapan kadar sari larut air untuk mengetahui kadar senyawa yang bersifat polar dalam simplisia dan kadar sari larut etanol untuk mengetahui kadar senyawa yang bersifat non polar dan polar. Senyawa senyawa yang dapat larut dalam air adalah glikosida, tanin, gula, enzim, zat warna dan asam organik. Senyawa-senyawa yang larut dalam etanol adalah glikosida, flavonoid, sterioid/triterpenoid, karotenoid dan dalam jumlah sedikit yang larut yaitu lemak (Depkes R.I., 1986).

Kadar abu total dengan bobot 3,17% dan kadar abu tidak larut dalam asam adalah 0,67%. Penetapan kadar abu untuk mengetahui kandungan mineral internal yang terdapat di dalam simplisia yang diteliti, serta senyawa anorganik yang

tersisa selama pembakaran. Kadar abu tidak larut asam untuk menentukan jumlah silika, khususmya pasir yang ada pada simplisia (WHO, 1992).

4.3 Hasil Skrining Fitokimia

Hasil skrining fitokimia dari serbuk simplisia buah senduduk dilihat pada Tabel 4.2.

Tabel 4.2 Hasil skrining fitokimia serbuk simplisia dan esktrak buah senduduk

No Parameter Hasil

Hasil skrining fitokimia simplisia dan esktrak buah senduduk menunjukkan adanya senyawa alkaloid, glikosida, flavonoid, steroid/triterpenoid dan tanin. Menurut Syafitri, dkk., (2014), hasil uji fitokimia esktrak buah senduduk mentah maupun esktrak buah masak menunjukkan kandungan kimia yang sama yaitu alkaloid, triterpenoid, flavonoid, tanin dan fenol.

Buah senduduk mengandung senyawa polifenol yang memiliki sifat sebagai antioksidan. Menurut Fachraniah (2012), antioksidan merupakan zat yang mampu memperlambat atau mencegah oksidasi. Zat ini secara nyata mampu memperlambat atau menghambat oksidasi zat yang mudah teroksidasi meskipun dalam konsentrasi yang rendah.

4.4 Hasil Ekstraksi dan Fraksinasi

Hasil ekstraksi simplisia buah senduduk dengan pelarut etanol 80%

diperoleh ekstrak etanol buah senduduk sebanyak 66,17 g dari 300 g simplisia.

Persen rendemen diperoleh sebesar 22,06 %. Penggunaan pelarut etanol 80%

adalah untuk menarik semua senyawa metabolit sekunder pada buah.

Hasil fraksinasi dari ekstrak etanol buah senduduk dengan pelarut n-heksan diperoleh 0,2 g dari 15 g ekstrak dan rendemennya 1,33%. Sedangkan dengan pelarut etil asetat diperoleh 1,68 g dari 15 g ekstrak dengan rendemen 11,20%.

4.5 Hasil Pengujian Antioksidan

4.5.1 Hasil penentuan panjang gelombang serapan maksimum

Hasil pengukuran serapan maksimum larutan DPPH 40 µg/ml dalam metanol dengan menggunakan spektrofotometer UV-Vis dapat dilihat pada Gambar 4.1.

Gambar 4.1. Kurva serapan maksimum larutan DPPH 40 µg/ml dalam metanol secara spektrofotometri visibel

4.5.2 Hasil analisis peredaman radikal bebas DPPH oleh sampel uji

Hasil uji aktivitas antioksidan dengan metode DPPH diperoleh serapan yang diukur pada spektrofotometri dengan panjang gelombang 516 nm. Aktivitas antioksidan ekstrak etanol, fraksi etil asetat, fraksi n-heksan dan fraksi air buah senduduk diperoleh dari hasil pengukuran absorbansi dengan metode DPPH pada menit ke-60 dengan adanya penambahan larutan uji dengan konsentrasi 3,125

Hasil uji aktivitas antioksidan dengan metode DPPH diperoleh serapan yang diukur pada spektrofotometri dengan panjang gelombang 516 nm. Aktivitas antioksidan ekstrak etanol, fraksi etil asetat, fraksi n-heksan dan fraksi air buah senduduk diperoleh dari hasil pengukuran absorbansi dengan metode DPPH pada menit ke-60 dengan adanya penambahan larutan uji dengan konsentrasi 3,125